ISSN 2774-6895 SCIENING: Science Learning Journal Journal homepage: http://ejurnal. id/index. php/sciening Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa SMP Menggunakan Model Construction Deconstruction Reconstruction-Provocation (CDRP. Pada Pembelajaran Unsur. Senyawa, dan Campuran Judith Christi Pelenkahu1*. Fransiska Harahap2. Jovialine Albertine Rungkat3 1,2,3Jurusan Pendidikan IPA. FMIPAK. Universitas Negeri Manado. Tondano. Indonesia *e-mail: judithchristipelenkahu@gmail. Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan keterampilan berpikir kreatif siswa SMP menggunakan model Construction Deconstruction ReconstructionAeProvocation (CDRAeP. pada pembelajaran topik Unsur. Senyawa, dan Campuran. Penelitian menggunakan desain quasiexperimental dengan pendekatan one group pretest posttest pada siswa kelas VII Semester Genap tahun ajaran 2024/2025. Instrumen yang digunakan berupa tes uraian untuk mengukur ide kreatif siswa berdasarkan tiga indikator: fluency . , flexibility . , dan originality . Hasil penelitian menunjukkan peningkatan skor rata-rata pretest ke posttest: fluency dari 12,75 menjadi 19,75, flexibility dari 12,75 menjadi 23,5, dan originality dari 24,75 menjadi 41,5. Hasil pengukuran peningkatan berpikir kreatif menggunakan nGain diperoleh pola urutan peningkatan: originality > flexibility > fluency. Simpulan penelitian ini adalah terdapat peningkatan berpikir kreatif siswa SMP menggunakan model CDR-Po pada pembelajaran topik Unsur. Senyawa, dan Campuran. Kemampuan fluency dengan kategori rendah, kemampuan flexibility dengan kategori sedang, dan kemampuan originality dengan kategori tinggi. Kata kunci: campuran, keterampilan berpikir kreatif, model CDR-Po, senyawa. Abstract. The purpose of this study was to determine the improvement of Junior High School studentsAo creative thinking skills using the Construction Deconstruction Reconstruction-Provocation (CDR-P. model in learning the topic of Elements. Compounds, and Mixtures. The study used a quasi-experimental design with a one group pre-test approach on grade VII students. Even Semester of the 2024/2024 academic year. The instrument used was a descriptive test to measure studentsAo creative ideas based on three indicators: fluency, flexibility, and originality. The results showed an increase in the average score from pre-test to post-test: fluency from 12. 75 to 19,75, flexibility from 75 to 23,5, and originality from 24. 75 to 41. The results of measuring the increase in creativity thinking using n-Gain obtained a pattern of increasing order: originality > flexibility > fluency. The conclusion of this study is that there is an increase in creative thinking of Junior High School students using the CDR-Po model in learning the topic of Elements. Compounds, and Mixtures. Fluency ability is in the low category, flexibility ability is in the medium category, and originality ability is in the high category. Keywords: CDR-Po model, compounds, creative thinking skills, elements, mixtures Diterima 03 Juni 2025 | Disetujui 17 Juni 2025 | Diterbitkan 30 Juni 2025 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sengaja dan SCIENING: Science Learning Journal. Vol. 6 No. Juni 2025, 17-23 setiap orang kemampuan potensial agar hasilnya dapat Pelenkahu. Harahap. Rungkat. , 2025 masyarakat (Abd Rahman. Munandar. Fitriani. Karlina, & Yumriani, 2. Beberapa keterampilan berpikir dapat sekaligus dilatih dalam pelaksanaan Salah satu keterampilan berpikir yang dapat dilatihkan adalah keterampilan berpikir kreatif (Hairiyah. Suartini, & Al Farizi, 2. Banyak berbagai bidang yang ditandai dengan pengembangan ide-ide inovatif dan pendidikan (Pontoh. Paat. Harahap, & Rungkat. Ini pembelajaran inovatif. Menurut Umamy. Ridha, & Fatharani . , siswa umumnya menunjukkan ruang untuk mempelajari ide-ide baru yang akan meningkatkan kreativitas mereka dalam Hal ini menegaskan eksplorasi seperti model Construction Deconstruction ReconstructionAe Provocation. Hasil observasi peneliti selama melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata - Merdeka Belajar (KKN-MB) di SMP Negeri 14 Kota Manado pada Semester Genap Tahun Ajaran 2024/2025, menunjukkan belum ada informasi mengenai keterampilan Umumnya, penguasaan pengetahuan. Selain itu, belum cukup tersedia model pembelajaran yang dapat melatih keterampilan berpikir kreatif siswa. Suatu model pembelajaran inovatif untuk melatih keterampilan berpikir kreatif siswa telah digagas oleh Harahap. Yuanita, & Ibrahim . , dimana model ini diterapkan dalam pembelajaran materi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SMP, dan diberi nama model pembelajaran Construction Deconstruction ReconstructionAeProvocation (CDR-P. Model CDR-Po . ibaca AosidiarpowA. memiliki empat tahapan sintaks. Tahap pertama menciptakan suasana kreatif . elalui humor dan motivasi intrinsi. Tahap kedua mengonstruksi konsep. Tahap ketiga mendekonstruksi konsep dengan memberikan provokasi untuk membangkitkan ide. Tahap keempat merekonstruksi konsep dengan menerima ide-ide siswa. Penentuan keterampilan berpikir kreatif model CDRPo melalui aspek berpikir kreatif fluency, flexibility, dan originality. Aspek fluency . elancaran id. merujuk pada banyaknya ide relevan yang dihasilkan. Aspek flexibility . eluwesan id. merujuk pada banyaknya variasi ide yang dihasilkan. Aspek originality . merujuk pada banyaknya ide unik dan baru yang Oleh karena model pembelajaran CDR-Po belum pernah diterapkan di SMP Negeri 14 Kota Manado, dengan demikian peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di lokasi ini, dengan tujuan keterampilan berpikir kreatif siswa SMP menggunakan model CDR-Po pada pembelajaran topik unsur, senyawa, dan campuran. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 14 Kota Manado dengan subjek penelitian yaitu siswa kelas Vi. Sampel penelitian berjumlah 15 orang siswa menggunakan teknik purposive sampling. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan quasiexperimental design menggunakan one group pretest posttest sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Desain penelitian one group pretest posttest design Nilai Treatment Nilai Berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat bahwa O1 adalah nilai pretest berpikir kreatif. O2 adalah nilai posttest berpikir kreatif, dan X adalah perlakuan berupa pembelajaran menggunakan model CDR-Po. Pengumpulan data diawali dengan instrumen Lembaran Penilaian Berpikir SCIENING: Science Learning Journal. Vol. 6 No. Juni 2025, 17-23 Pelenkahu. Harahap. Rungkat. , 2025 Kreatif berupa tes uraian yang telah Tes terdiri dari 4 butir soal uraian bergambar yang dilengkapi kolom isian jawaban. Soal terkait topik pembelajaran ini sebelumnya sudah divalidasi dengan kriteria sangat valid dan Usai pembelajaran menggunakan CDR-Po, menggunakan instrumen tes yang sama. Pengolahan data, rubrik penilaian berpikir kreatif dalam penelitian ini diadaptasi dari DeHaan . , yang flexibility, dan originality. Keefektifan rubrik tersebut telah didukung oleh beberapa penelitian, termasuk penelitian oleh Harahap. Yuanita, & Ibrahim . yang menerapkannya dalam konteks model pembelajaran CDR-Po di tingkat SMP, sebagaimana ditampilkan pada Tabel 2. Tabel 3, dan Tabel 4, secara klasikal maupun secara individual. Tabel 2. Rubrik kemampuan berpikir kreatif fluency Ou20 ide Skor dan deskripsi 10-19 ide 1-9 ide Tidak ada ide Tabel 3. Rubrik kemampuan berpikir kreatif flexibility Ou14 Skor dan deskripsi Hanya Tabel 4. Rubrik kemampuan berpikir kreatif originality Ide O10% Skor dan deskripsi Ide Ide O19% 20-49% Ide Ou90% Pengolahan data secara deskriptif dengan menghitung persentase, skor ratarata, dan n-Gain untuk setiap indikator untuk mengetahui kategori kemampuan berpikir siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Implementasi model CDR-Po telah menghasilkan sejumlah besar ide dengan Peningkatan ide terjadi untuk semua soal yang ditanyakan. Setelah dipilah untuk diambil ide-ide relevan maka diperoleh ide-ide hasil pretest sebanyak 211 ide dan melonjak menjadi 409 ide sebagai hasil posttest. Jumlah ide-ide yang relevan dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Ide-ide relevan Nomor Rerata Jumlah ide Pretest Posttest Berdasarkan Tabel 5, persentase kenaikan jumlah ide antara sebelum dan sesudah pembelajaran CDR-Po adalah sebesar Secara klasikal terdapat kenaikan keterampilan berpikir kreatif untuk semua aspek berpikir kreatif. Kenaikan skor posttest dibandingkan skor pretest terjadi pada semua indikator, yakni skor Kenaikan skor ini ditampilkan pada Gambar 1. Gambar 2, dan Gambar 3. Keterampilan berpikir kreatif diukur seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1. Keterampilan berpikir kreatif siswa CDR-Po, menggunakan model tersebut. Berdasarkan Tabel 2. Tabel 3, dan Tabel 4, dapat dilihat bahwa ide-ide yang dianalisis hanya ide-ide siswa yang relevan dengan pertanyaan dalam butir SCIENING: Science Learning Journal. Vol. 6 No. Juni 2025, 17-23 Pelenkahu. Harahap. Rungkat. , 2025 Gambar 1. Histogram berpikir kreatif fluency klasikal Berdasarkan Gambar 1, rata-rata skor kemampuan berpikir kreatif fluency pada pretest sebesar 12,75 meningkat menjadi 19,75 pada posttest. Semua soal banyaknya ide yang dihasilkan siswa. Persentase peningkatan skor rata-rata untuk semua soal yang ditanyakan sebesar Gambar 3. Histogram berpikir kreatif originality klasikal Berdasarkan Gambar 3, rata-rata originality pada pretest sebesar 24,75 meningkat menjadi 41,50 pada posttest. Semua peningkatan ide-ide siswa yang unik, asli, dan baru yang dihasilkan siswa. Persentase peningkatan skor rata-rata sebesar 68% . Secara individual, juga terdapat kenaikan keterampilan berpikir kreatif untuk semua aspek berpikir kreatif. Indikator berpikir kreatif berupa fluency, flexibility, dan originality individual masing-masing ditampilkan pada Gambar 4. Gambar 5, dan Gambar 6. Gambar 2. Histogram berpikir kreatif flexibility klasikal Berdasarkan Gambar 2. Rata-rata flexibility pada pretest sebesar 12,75 meningkat menjadi 23,50 pada posttest. Semua peningkatan kategori atau jenis ide yang dihasilkan siswa. Persentase peningkatan skor rata-rata sebesar 84% . Gambar 4. Histogram kemampuan berpikir kreatif fluency individual SCIENING: Science Learning Journal. Vol. 6 No. Juni 2025, 17-23 Pelenkahu. Harahap. Rungkat. , 2025 Gambar 5. Histogram kemampuan berpikir kreatif flexibility individual Gambar 6. Histogram kemampuan berpikir kreatif originality individual Histogram kemampuan berpikir kreatif fluency individual menunjukkan semua siswa mengalami peningkatan skor (Gambar . Hasil perhitungan n-Gain rata-rata fluency semua siswa sebesar 0,26 berada pada kisaran kategori rendah. Histogram kemampuan berpikir kreatif flexibility individual menunjukkan semua siswa mengalami peningkatan skor (Gambar . Hasil perhitungan n-Gain rata-rata flexibility semua siswa sebesar 0,34 berada pada kisaran kategori sedang. Histogram kemampuan berpikir menunjukkan semua siswa mengalami peningkatan skor (Gambar . Hasil perhitungan n-Gain menegaskan adanya peningkatan originality dengan kategori Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan model pembelajaran CDR-Po sangat baik dalam memicu timbulnya ide-ide siswa. Besarnya kenaikan jumlah ide yang dihasilkan, baik secara total . %) maupun hanya untuk ide-ide yang relevan . %) menegaskan hal ini. Ditinjau dari aspek berpikir fluency, pembelajaran CDR-Po juga menunjukkan hasil yang signifikan. Ketiga aspek berpikir kreatif memperlihatkan adanya rata-rata . mengimplementasikan model CDR-Po . Berdasarkan kreatif fluency, model CDR-Po mampu memicu munculnya ide-ide siswa. Secara klasikal, persentase peningkatan skor rata-rata fluency sebesar 55% merupakan angka yang signifikan. Secara individual, ide-ide yang dihasilkan semua siswa juga pembelajaran menggunakan model CDRPo. Besarnya perhitungan n-Gain . kategori rendah, sehingga kemampuan berpikir fluency siswa tergolong cukup kreatif. Dibandingkan dengan kedua indikator lainnya . lexibility dan originalit. , perolehan fluency menggunakan model CDR-Po dalam penelitian ini menempati urutan terendah. Beberapa penelitian sejenis yang membelajarkan topik IPA dengan subjek siswa SMP menunjukkan perolehan fluency yang berbeda, yakni menempatkan fluency sebagai perolehan tertinggi dibanding perolehan indikator lainnya. Cahyani. Martini, & Purnomo . Pencemaran Lingkungan dan menemukan skor fluency tertinggi dibandingkan indikator berpikir kreatif lainnya yang diukur . lexibility, originality, dan elaboratio. Hasil sejalan banyak ditemukan dalam penelitian kemampuan berpikir kreatif, diantaranya oleh Hayat. Rita, & Roshayanti . Qiara . , dan Mulder & Siswanto . Temuan ini membuat model CDRPo memiliki kekhasan, yakni kurang memicu aspek fluency siswa sebagaimana hasil penelitian (Harahap, 2. Berdasarkan kreatif flexibility, model CDR-Po mampu memicu banyaknya variasi ide yang SCIENING: Science Learning Journal. Vol. 6 No. Juni 2025, 17-23 Pelenkahu. Harahap. Rungkat. , 2025 Secara persentase peningkatan skor rata-rata flexibility sebesar 84% merupakan angka yang sangat signifikan. Secara individual, variasi ide yang dihasilkan semua siswa juga mengalami peningkatan setelah pembelajaran menggunakan model CDRPo. Besarnya perhitungan n-Gain . kategori sedang, sehingga kemampuan berpikir flexibility siswa tergolong kreatif. Berbeda dengan fluency, perolehan persentase skor rata-rata flexibility dalam penelitian ini jauh lebih besar. Model CDRPo mampu memicu kemampuan siswa dalam memberikan ide-ide bervariasi atau dengan kategori berbeda. Keluwesan menghasilkan ide dengan kategori berbeda dalam penelitian ini yang menempatkan siswa kreatif dalam hal flexibility, terkonfirmasi juga melalui perhitungan nGain sedang. Beberapa menunjukkan perolehan skor flexibility umumnya tidak berbeda jauh dengan perolehan skor fluency, diantaranya penelitian Cahyani. Martini, & Purnomo . Kesamaan dengan penelitian ini adalah bahwa perolehan flexibility erat kaitannya dengan perolehan fluency, dan biasanya menempati posisi skor diantara fluency dan originality. Berdasarkan kreatif originality, model CDR-Po mampu memicu banyaknya ide unik dan baru yang Secara persentase peningkatan skor rata-rata originality sebesar 68% merupakan angka yang signifikan. Secara individual, ide-ide unik dan baru yang dihasilkan semua siswa juga mengalami peningkatan setelah pembelajaran menggunakan model CDR-Po. Besarnya peningkatan sesuai perhitungan n-Gain . kategori tinggi, sehingga kemampuan berpikir originality Dibandingkan dengan kedua indikator lainnya . luency dan flexibilit. , perolehan originality menggunakan model CDR-Po dalam penelitian ini menempati urutan Besarnya menggunakan model CDR-Po dalam penelitian ini merupakan keunggulan Beberapa penelitian sejenis yang membelajarkan topik IPA dengan subjek siswa SMP menunjukkan perolehan perolehan terendah dibanding perolehan indikator lainnya sebagaimana penelitian Cahyani. Martini, & Purnomo . dan Mufiannoor. Hidayat, & Soetjipto . Aspek originality termasuk kategori Menurut Mufiannoor. Hidayat, & Soetjipto . perolehan skor kecil biasanya terdapat merupakan kategori berpikir kreatif tingkat tinggi siswa. karena merupakan kekuatan mental yang jelas (Vidal, 2. Dalam CDR-Po, originality dipicu oleh suasana kreatif berupa humor di fase awal sintaks model dan fase ketiga sintaks berupa pemberian teknik provokasi. Keberhasilan model CDR-Po dalam meningkatkan aspek originality tampak dari kemunculan ideide siswa yang kontekstual dan tidak Bellard Delobbe . menyatakan bahwa tugas berbasis menghasilkan solusi orisinal. Teknik provokasi sendiri bertujuan utama untuk mendorong peserta didik berpikir secara kreatif melalui rangsangan berupa hasutan, pancingan, stimulus, dan pengarahan pemikiran, sehingga mereka dapat menghasilkan ide-ide baru atau unik (Wijaya & Harahap, 2. KESIMPULAN Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat peningkatan berpikir kreatif siswa SMP menggunakan model CDRPo pada pembelajaran topik Unsur. Senyawa. Campuran. Kemampuan fluency dengan kategori rendah, kemampuan flexibility dengan kategori sedang, dan kemampuan originality dengan kategori tinggi. Urutan aspek keterampilan berpikir kemampuan/keterampilan kreatif siswa adalah sebagai berikut: originality > flexibility > fluency. SCIENING: Science Learning Journal. Vol. 6 No. Juni 2025, 17-23 Pelenkahu. Harahap. Rungkat. , 2025 DAFTAR PUSTAKA