Jurnal Penelitian Kesehatan Pelamonia Indonesia Volume 5. Nomor 1. Januari-Juni 2022 pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 HUBUNGAN KEPATUHAN PERAWAT DENGAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI DI MASA PANDEMI COVID-19 DI UNIT ISOLASI RSUD HAJI MAKASSAR ANALYSIS OF NURSE COMPLIANCE WITH THE USE OF PPE (PERSONAL PROTECTIVE EQUIPMENT) DURING THE COVID-19 PANDEMIC AT THE ISOLATION HAJI MAKASSAR HOSPITAL Afriyana Amelia Nuryadin1. Nur Anggi Praselia2 1,2Department of Hospital Administration. Institut Ilmu Kesehatan Pelamonia Makassar. Indonesia E-mail: afriyana. enho@gmail. com, praselianuranggi@gmail. ABSTRAK Ketersediaan APD untuk tenaga medis saat pandemi COVID-19 semakin sulit didapat. Pada pandemi COVID-19. APD tidak hanya digunakan oleh tenaga kesehatan tetapi juga pasien dan masyarakat. Kondisi tersebut memaksa tenaga kesehatan untuk menghemat penggunaan APD, seperti melakukan pelayanan kesehatan dengan tanpa melepas APD dengan durasi lama atau menggunakan APD seadanya. Alat pelindung diri seperti diantaranya sarung tangan, masker, kaca mata pelindung, apron/celemek, serta sepatu tertutup merupakan alternatif tindakan pencegahan bagi perawat dalam melindungi diri dari resiko penularan penyakit selama berinteraksi dengan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan, pengetahuan, sikap, tindakan, ketersediaan APD, dan sistem pola pengawasan perawat di unit isolasi pada masa pandemi Covid-19 di RSUD Haji Makassar tahun 2021. Metode penelitian ini menggunakan penelitian analitik observasional dengan metode cross sectional study. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif, dengan menggunakan analisi univariat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketersediaan APD perawat terhadap penggunaan APD terhitung kurang patuh . Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pola pengawasan perawat terhadap penggunaan APD terhitung kurang patuh. Penelitian ini dapat menjadi panduan bagi rumah sakit memperhatikan ketersediaan APD apalagi disaat masa pendemi seperti sekarang, agar dapat meminimalisir risiko terpapar Covid-19 pada perawat Kata Kunci : Kepatuhan. Perawat. Covid-19. ABSTRACT The use of personal protective equipment is one of the efforts to create occupational safety and health for nurses in several hospital treatment rooms. Personal protective equipment such as gloves, masks, protective eyewear, aprons/aprons, and shoe covers are alternative preventive measures for nurses in protecting themselves from the risk of disease transmission while interacting with patients. This study aims to determine the level of compliance, knowledge, attitudes, actions, availability of PPE, and the system of nurse supervision patterns in the isolation unit during the Covid-19 pandemic at the Haji Makassar Hospital in 2021. This research method uses observational analytic research with cross sectional study method. The approach used is a quantitative approach, using univariate analysis. The results of this study indicate that the availability of PPE for nurses to the use of PPE is considered less compliant. This research can be a guide for hospitals to monitor the availability of PPE, especially during a pandemic like now, so that nurses can be at risk of facing Covid-19. Keywords: Compliance, nurse. Covid-19 . Nuryadin, dkk : Hubungan KepatuhanA JPKPI Vol 5 No 1 Jan-Jun 2022 pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 PENDAHULUAN Kepatuhan berasal dari kata patuh yang berarti suka menurut, taat pada perintah, aturan. Kepatuhan adalah ketaatan dalam melakukan sesuatu yang dianjurkan (Depdikbud dalam Banda. I : 2. Kepatuhan adalah tingkat perilaku pasien yang tertuju terhadap intruksi atau petunjuk yang diberikan dalam bentuk terapi apapun yang ditentukan, baik diet, latihan, pengobatan atau menepati janji pertemuan dengan dokter (Stanley dalam Banda. I : 2. Beberapa terminologi yang bisa digunakan dalam literatur untuk mendeskripsikan kepatuhan pasien diantaranya compliance, adherence, dan Compliance adalah secara pasif mengikuti saran dan perintah dokter untuk melakukan terapi yang sedang dilakukan. Adherence adalah sejauh mana pengambilan obat yang diresepkan oleh penyedia layanan kesehatan. Tingkat kepatuhan . untuk pasien biasanya dilaporkan sebagai presentase dari dosis resep obat yang benar-benar diambil oleh pasien selama periode yang ditentukan (Osterberg & Blaschke dalam Nurina, 2. Dalam kepatuhan mengacu pada situasi ketika perilaku seorang individu dengan tindakan yang dianjurkan atau nasehat yang diusulkan oleh seorang praktisi kesehatan atau informasi yang diperoleh dari suatu sumber informasi lainnya seperti nasehat yang diberikan dalam suatu brosur promosi kesehatan melalui suatu kampanye media massa. Para psikolog tertarik pada pembentukan jenis-jenis faktor kognitif dan afektif apa yang penting untuk memprediksi kepatuhan dan juga penting perilaku yang tidak patuh. Pada waktu-waktu belakangan ini istilah kepatuhan telah digunakan sebagai pengganti bagi pemenuhan karena ia mencerminkan suatu pengelolaan pengaturan diri yang lebih aktif mengenai nasehat pengobatan (Ian & Marcus. Kepatuhan melaksanakan cara pengobatan dan perilaku yang disarankan oleh dokternya. Dikatakan lebih lanjut, bahwa tingkat kepatuhan pada seluruh populasi medis yang kronis adalah sekitar 20% hingga 60% (Sarafino dalam Yetti, dkk 2. Berdasarkan dari teori para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa Kepatuhan adalah tingkat ketaatan agar mematuhi instruksi yang diberikan atau disarankan. Menurut Permenker No. 08/Vi/2010. Alat Pelindung Diri (APD) adalah suatu alat yang seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi bahaya ditempat Berdasarkan pasal 14 ayat C UU No. 1 tahun 1970 tentang keselamtan kerja, perusahaan wajib menyediakan APD secara Cuma-Cuma terhadap tenaga kerja dan orang lain yang memasuki tempat kerja, apabila kewajiban tersebut tidak dipenuhi merupakan suatu pelanggaran undang-undang berdasarkan pasal 12 huruf b tenaga kerja diwajibkan memakai APD yang telah disediakan (Anizar dalam Nanda. R 2. Pemakaian alat pelindung diri merupakan salah satu upaya untuk menciptakan keselamatan dan kesehatan kerja bagi perawat di beberapa ruangan perawatan Rumah Sakit. Alat pelindung diri seperti diantaranya sarung tangan, masker, kaca mata pelindung, apron/celemek, serta sepatu tertutup merupakan alternatif tindakan pencegahan bagi perawat dalam melindungi diri dari resiko penularan penyakit selama berinteraksi dengan Alat pelindung diri harus digunakan pada saat melakukan tindakan yang berisiko misalnya kontak dengan darah pasien, cairan tubuh pasien, sekret, lendir, kulit yang tidak utuh dan benda yang terkontaminasi dengan pasiens (Herdiana Ningsih : Pada tanggal 31 Desember 2019. Tiongkok melaporkan kasus pneumonia misterius yang tidak diketahui penyebabnya. Dalam 3 hari, pasien dengan kasus tersebut berjumlah 44 pasien dan terus bertambah hingga saat ini berjumlah ribuan Pada menunjukkan 66% pasien berkaitan atau terpajan dengan satu pasar seafood atau live market di Wuhan. Provinsi Hubei Tiongkok. Sampel isolat dari pasien diteliti dengan hasil menunjukkan adanya infeksi coronavirus, jenis betacoronavirus tipe baru, diberi nama 2019 novel Coronavirus . 9-nCoV). Pada tanggal 11 Februari 2020. World Health Organization memberi nama virus baru tersebut Severa acute respiratory syndrome coronavirus-2 (SARS-CoV-. dan nama penyakitnya sebagai Coronavirus disease 2019 (COVID-. Pada mulanya transmisi virus ini belum dapat ditentukan apakah dapat melalui antara manusia-manusia. Jumlah kasus terus bertambah seiring dengan Akhirnya dikonfirmasi bahwa transmisi pneumonia ini dapat menular dari manusia ke Pada tanggal 11 Maret 2020. WHO mengumumkan bahwa COVID-19 menjadi pandemi di dunia (WHO, 2. Pandemi Covid-19 masih melanda berbagai wilayah di Indonesia. Hingga Agustus 2020, terdata 447 kasus baru sehingga secara akumulatif terdapat 157. 859 kasus Covid-19. Kasus sembuh bertambah 1. 807 pasien sehingga total pasien sembuh sebanyak 112. 867 orang (Infografis Covid-19 : 2. Petugas kesehatan adalah kelompok berisiko tinggi terpapar penyakit COVID-19. Dokter dan perawat menjadi rentan karena kontak langsung dengan pasien. Namun tenaga kesehatan di bidang lainnya juga berisiko terinfeksi COVID-19 jika tak sengaja terpapar virus di area bertugas. Kemudian dalam artikel penelitian oleh James RM Black di Rumah Sakit Royal Gwent di Newport. Wales, sekitar setengah dari tenaga kerja ruang gawat darurat juga telah dinyatakan positif COVID- Nuryadin, dkk : Hubungan KepatuhanA JPKPI Vol 5 No 1 Jan-Jun 2022 pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 Diketahui asimptomatik dan pre-asimptomatik terus berpindah ke tempat kerja dimana APD mungkin tidak optimal, baik ketersediaannya, jenisnya maupun cara penggunaannya (Baju. Dkk : 2. Angka Pentingnya keperawatan dalam pengendaliaan infeksi tentunya menuntut perawat menjalankan perannya dengan baik serta patuh terhadap standar operasional yang telah ditentukan. Peran perawat dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar profesi keperawatan dan bersifat konstan. Kepatuhan perawat terdiri dari faktor internal dan Faktor internal yang meliputi usia, jenis kelamin, masa kerja dan pengetahuan Serta faktor karakteristik kelompok dan beban kerja (Ulfa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada januari 2020, menyatakan bahwa wabah penyakit virus corona baru yang terjadi di Provinsi Hubei. Cina sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang merupakan Keprihatinan Internasional. Dua bulan, pada 11 maret 2020. Penyakit virus corona (Covid. adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona yang baru ditemukan dan dikenal sebagai sindrom pernapasan akut parah virus corona 2 (SARS-CoV-. Kasus manusia pertama Covid-19 diidentifikasi di Kota Wuhan. Cina pada Desember 2019 (WHO , 2. Wabah mengguncang masyarakat dunia, hingga hampir 200 Negara di Dunia terjangkit oleh virus ini termasuk Indonesia. Berbagai upaya pencegahan penyebaran virus Covid-19 pun dilakukan oleh pemerintah di negara-negara di dunia guna memutus rantai penyebaran virus Covid-19 ini, yang disebut dengan istilah lockdown dan social distancing (Nurjannah. Indonesia adalah negara berkembang dan terpadat keempat di dunia, dengan demikian diperkirakan akan sangat menderita dan dalam periode waktu yang lebih lama. Ketika Coronavirus Novel SARS-CoV2 melanda Cina paling parah selama bulan-bulan Desember 2019 Ae Februari Pada 27 Januari 2020. Indonesia mengeluarkan pembatasan perjalanan dari provinsi Hubei, yang pada saat itu merupakan pusat dari Covid-19 global, sementara pada saat yang sama mengevakuasi 238 orang Indonesia dari Wuhan. Presiden Joko Widodo melaporkan pertama kali menemukan dua kasus infeksi Covid-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020 (Djalante et al. , 2. Berdasarkan data yang diterima dari Satgas Covid-19 Sulawesi-Selatan di Makassar, kasus positif Covid-19 melonjak drastis dalam dua hari awal tahun 2021 hingga mencapai 1. 150 orang. Penambahan kasus Covid-19 Sulsel pada 1 Januari 550 kasus dari 3090 tes PCR yang dilakukan pada waktu yang sama, ada lima orang telah dinyatakan meninggal akibat Covid-19 dan 505 pasien juga dinyatakan telah sembuh dari Covid-19, sementara di hari ke dua tahun 2021 tepatnya 2 Januari, penambahan kasus kembali meningkat dari hari sebelumnya yakni sebanyak 600 kasus terkonfirmasi Covid-19 (Polhukam, 2. Pandemi Covid-19 masih melanda berbagai wilayah di Indonesia. Hingga Agustus 2020, terdata 447 kasus baru sehingga secara akumulatif terdapat 157. 859 kasus Covid-19. Kasus sembuh bertambah 1. 807 pasien sehingga total pasien sembuh sebanyak 112. 867 orang (Infografis Covid-19 : 2. Petugas kesehatan adalah kelompok berisiko tinggi terpapar penyakit COVID-19. Dokter dan perawat menjadi rentan karena kontak langsung dengan pasien. Namun tenaga kesehatan di bidang lainnya juga berisiko terinfeksi COVID-19 jika tak sengaja terpapar virus di area bertugas. Kemudian dalam artikel penelitian oleh James RM Black di Rumah Sakit Royal Gwent di Newport. Wales, sekitar setengah dari tenaga kerja ruang gawat darurat juga telah dinyatakan positif COVID19. Diketahui asimptomatik dan pre-asimptomatik terus berpindah ke tempat kerja dimana APD mungkin tidak optimal, baik ketersediaannya, jenisnya maupun cara penggunaannya (Baju. Dkk : 2. Berdasarkan penelitian Khaeriyah . menyimpulkan bahwa perawat dengan pengetahuan yang baik lebih banyak menggunakan alat pelindung diri dari perawat yang pengetahuannya cukup, hal ini sesuai teori yang menyatakan bahwa semakin baik pengetahuan seseorang maka semakin baik pula tingkat kesadaran dan kedisiplinan seseorang dalam hal menerima atau menerapkan suatu pesan atau informasi yang disampaikan. Ketersediaan APD untuk tenaga medis saat pandemi COVID-19 semakin sulit didapat. Pada pandemi COVID-19. APD tidak hanya digunakan oleh tenaga kesehatan tetapi juga pasien dan Kondisi tersebut memaksa tenaga kesehatan untuk menghemat penggunaan APD, seperti melakukan pelayanan kesehatan dengan tanpa melepas APD dengan durasi lama atau menggunakan APD seadanya. METODE Penelitian ini d lakukan di ruang isolasi AlFajar RSUD Haji Makassar. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan metode cross sectional study. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan Kuantitatif adalah penelitian yang banyak pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut serta penampilan dari hasilnya. Populasi dalam penelitian ini di ambil dari jumlah perawat di unit Isolasi pada masa pandemi Covid-19 di RSUD Haji Makassar yang berjumlah 41 Nuryadin, dkk : Hubungan KepatuhanA JPKPI Vol 5 No 1 Jan-Jun 2022 pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 HASIL Kepatuhan Jumlah . Patuh Tidak Patuh Total Sumber : Data Primer Penelitian ini berlangsung pada tanggal 06 bulan Juli Ae tanggal 30 bulan Juli 2021 di ruang isolasi Al-Fajar RSUD Haji Makassar. Berdasarkan tabel 4. diatas menunjukkan bahwan dari 41 perawat yang ada di ruang perawatan isolasi semuanya patuh . %) dalam penggunaan APD. Tabel 5. Distribusi Tingkat Pengetahuan Perawat Terhadap Penggunaan APD di Unit Isolasi RSUD Haji Makassar Tahun 2021 Pengetahuan Jumlah (%) . Baik Tidak Baik Total Sumber: Data Primer Karakteristik Responden Tabel 1. Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Laki-laki Jumlah Responden (%) Perempuan Total Sumber : Data Primer Berdasarkan tabel 4. 1 menunjukan bahwa dari 41 responden yang paling banyak adalah perawat berjenis kelamin perempuan sebanyak 37 orang, sedangkan perawat yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 4 orang. Berdasarkan tabel 4. 5 diatas menunjukkan bahwan dari 41 perawat yang ada di ruang perawatan isolasi semuanya berpengetahuan baik . %) dalam penggunaan APD. Tabel 2. Responden Berdasarkan Umur Umur (Tahu. 20 Ae 35 >35 Total Sumber : Data Primer Jumlah Responden Tabel 6. Distribusi Sikap Perawat Terhadap Penggunaan APD di Unit Isolasi RSUD Haji Makasar Tahun 2021 (%) Sikap Jumlah . Baik Tidak baik Total Sumber: Data Primer Berdasarkan Tabel 4. 2 diketahui bahwa dari 41 responden paling banyak berumur 20-35 tahun sebanyak 25 orang, sedangkan yang paling sedikit adalah perawat yang umurnya >35 tahun sebanyak 16 orang. Tabel 3. Responden Tingkat Pendidikan (%) Berdasarkan tabel 4. diatas menunjukkan bahwan dari 41 perawat yang ada di ruang perawatan isolasi semuanya bersikap baik . %) dalam penggunaan APD. Berdasarka Pendidikan Jumlah Terakhir Responden Keperawatan S1 Ners Total Sumber : Data Primer (%) Tabel 7. Distribusi Tindakan Perawat Terhadap Penggunaan APD Unit Isolasi RSUD Haji MakasarTahun 2021 (%) Tindakan Jumlah . Baik Tidak Baik Total Sumber: Data Primer (%) Berdasarkan tabel 4. 7 diatas menunjukkan bahwan dari 41 perawat yang ada di ruang perawatan isolasi semuanya bertindak baik . %) dalam penggunaan APD. Berdasarkan Tabel 4. 3 menunjukkan bahwa dari 41 responden yang mempunyai pendidikan terakhir S1 Keperawatan yaitu sebanyak 28 orang, sedangkan Keperawatan sebanyak 13 orang. Tabel 8. Distribusi Ketersediaan APD di Unit Isolasi RSUD Haji Makasar Tahun 2021 Hasil Analisis Data Tabel 4. Distribusi Kepatuhan Perawat Terhadap Penggunaan APD di Unit Isolasi RSUD Haji MakassarTahun 2021 Ketersediaan APD Baik Jumlah . (%) Nuryadin, dkk : Hubungan KepatuhanA Kurang Baik Total Sumber: Data Primer JPKPI Vol 5 No 1 Jan-Jun 2022 pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 kepala, kaki, mata atau wajah dan pernapasan sudah dapat dikatakan baik. Pekerja memiliki kepatuhan yang baik pada penggunaan APD, hal ini dapat dikarenakan tingkat pendidikan pekerja yang Tingkat mempengaruhi tingkat pengetahuan itu sendiri, sehingga pekerja tidak hanya mengetahui dan memahami tentang penggunaan APD namun penggunaan APD tersebut. Pengetahuan Menurut Notoatmodjo . pengetahuan adalah hasil AotahuAo dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang . vert behaviou. Sedangkan menurut Maulana . dalam Banda. I . sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga, berdasarkan pengalaman dan penelitian, diperoleh bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Berdasarkan pengetahuan pada perawat di ruang perawatan isolasi RSUD Haji Makassar tahun 2021 menunjukkan bahwan dari 41 perawat yang ada di ruang perawatan isolasi semuanya berpengetahuan baik . %) terhadap penggunaan APD. Hal tersebut didukung dengan deskripsi jawaban responden pada pertanyaan tentang pengetahuan perawat terhadap penggunaan APD saat bekerja atau saat berada di lingkungan kerja yang meliputi. Program penggunaan APD merupakan salah satu upaya perlindungan dari semua potensi yang dapat menimbulkan bahaya bagi perawat dan orang lain yang ada di tempat kerja agar selalu dalam keadaan selamat, sehat serta aman dan efisien. Bagian keperawatan merupakan pekerja yang memiliki risiko bahaya kecelakaan dan terjadinya paparan penyakit dalam penanganan pekerjaannya. Maka perlu penggunaan APD untuk meminimalisir risiko tersebut. Program penggunaan APD bertujuan untuk melindungi perawat agar tetap selamat dan sehat dalam bekerja. Penggunaan alat pelindung diri (APD) befungsi untuk melindungi perawat dari gangguan kesehatan yang mungkin terjadi sewaktu bekerja. Perilaku kepatuhan menggunakan APD merupakan semua kegiatan manusia yang disadari dengan keselamatan dan kesehatan, namun tidak dapat diamati atau dilihat oleh pihak luar. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yane Liswanti . yang menyatakan bahwa Hasil penelitian yang dilakukan pada 181 responden menunjukan bahwa responden memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi tentang APD. Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan arikunto . bahwa individu memiliki tingkat pengetahuan tinggi ketika mampu menjawab dengan benar diatas Hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa mahasiswa prodi Di Analis Kesehatan secara umum memiliki pengetahuan yang tinggi tentang APD. Tingkat pengetahuan yang tinggi tentang APD Berdasarkan tabel 4. 8 diatas menunjukkan bahwa dari 41 perawat yang ada di ruang perawatan isolasi ada 4 atau sebanyak . ,8%) perawat yang menjawab baik terkait ketersediaan APD, dan ada 37 atau sebanyak . ,2%) perawat yang menjawab kurang baik terkait ketersediaan APD di ruang perawatan Tabel 9. Distribusi Pola Pengawasan Penggunaan APD di Unit Isolasi RSUD Haji MakasarTahun Pola pengawasan Baik Kurang Baik Total Sumber: Data Primer Jumlah . (%) Berdasarkan tabel 4. 9 diatas menunjukkan bahwa dari 41 perawat yang ada di ruang perawatan isolasi ada 8 atau sebanyak . ,5%) perawat yang menjawab baik terkait pola pengawasan, dan ada 33 atau sebanyak . ,5%) perawat yang menjawab kurang baik terkait pola pengawasan di ruang perawatan isolasi. PEMBAHASAN Kepatuhan Kepatuhan adalah tingkat perilaku pasien yang tertuju terhadap intruksi atau petunjuk yang diberikan dalam bentuk terapi apapun yang ditentukan, baik diet, latihan, pengobatan atau menepati janji pertemuan dengan dokter (Stanley dalam Banda. I : 2. Kepatuhan adalah merupakan suatu perubahan perilaku dari perilaku yang tidak taat menaati peraturan ke perilaku yang menaati peraturan (Notoatmodjo, 2. Heynes et . dalam Efstathitio . mendefinisikan kepatuhan yang diterima secara luas dalam pelayanan kesehatan. Berdasarkan hasil analisis kepatuhan penggunaan APD pada perawat di ruang perawatan isolasi RSUD Haji Makassar tahun 2021 menunjukkan bahwa seluruh perawat yang ada di ruang isolasi sudah patuh dalam penggunaan APD, terkait mesker digunakan setiap melayani pasien dan harus menutupi hidung dan mulut, sarung tangan digunakan saat melakukan kontak langsung dengan pasien, menggunakan gaun atau pakaian kerja, menggunakan pelindung kaki, menggunakan pelindung mata, menggunakan kap . enutup kepal. , menggunakan Apron. Hal tersebut didukung dengan deskripsi jawaban responden pada pertanyaan tentang kepatuhan penggunaan APD saat bekerja atau saat berada di lingkungan kerja. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zerlina Prabawati . yang menyatakan bahwa penggunaan alat pelindung Nuryadin, dkk : Hubungan KepatuhanA JPKPI Vol 5 No 1 Jan-Jun 2022 pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 bukanlah jaminan responden memiliki kemampuan sesuai tingkat pengetahuannya. Menurut Bloom Notoatmodjo . menjelaskan bahwa tingkatan pengetahuan seseorang terdiri dari enam domain yaitu tahu, paham, aplikasi, analisis. Setiap memperlihatkan kemampuan individu. Tingginya domain pengetahuan responden dapat dilihat seberapa tinggi sikap dan perilaku responden menggunakan APD ketika praktik. Sikap Menurut Notoatmodjo merupakan reaksi atau respons seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Sedangkan menurut Koentjaraningrat . dalam Banda. I . sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan. Sikap merupakan kecenderungan yang berasal dari dalam diri individu untuk berkelakuan dengan polapola tertentu, terhadap suatu objek akibat pendirian dan perasaan terhadap objek tersebut. Berdasarkan hasil analisis sikap tentang penggunaan APD pada perawat di ruang perawatan isolasi RSUD Haji Makassar tahun 2021 menunjukkan bahwan dari 41 perawat yang ada di ruang perawatan isolasi semuanya bersikap baik . %) dalam penggunaan APD. Hal tersebut didukung dengan deskripsi jawaban responden pada pertanyaan tentang sikap perawat terhadap penggunaan APD saat bekerja atau saat berada di lingkungan kerja yang meliputi, responden tidak mengikuti semua program APD di tempat bekerja. APD bukan merupakan prioritas utama dalam bekerja agar tercapai kondisi kerja yang aman dan sehat, rekan kerja yang tidak menggunakan APD sewaktu bekerja perlu ditegur dan diingatkan, peduli terhadap penggunaan APD di tempat bekerja, responden ikut menjaga kebersihan, dan kerapian APD agar selalu dalam kondisi baik demi tercapainya lingkungan kerja yang minim dari risiko bahaya. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori perilaku Bloom dalam Notoatmodjo . yang menjelaskan bahwa perilaku merupakan fungsi dari faktor predisposisi yaitu faktor yang ada dalam diri individu yang didalamnya terdapat sikap dari Sikap responden dalam menggunakan APD di tempat praktik khususnya di laboratorium. Menurut teori sikap yang menyatakan bahwa sikap individu merupakan awal dari terwujudnya tindakan atau perilaku individu (Dayakisni dan Hudaniah, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Yane Liswanti . yang menyatakan bahwa hasil penelitian tentang sikap responden terhadap APD menunjukan mahasiswa dengan sikap positif lebih banyak. Hal ini menunjukkan bahwa belum sepenuhnya responden menggunakan APD yang dianjurkan selama praktik di laboratorium. Kondisi ini sesuai dengan pernyataan Sarlito . yaitu individu memiliki sikap negatif ketika individu tidak mampu menerima, menghargai dan bertanggungjawab terhadap stimulus dalam hal ini ketentuan menggunakan APD pada saat praktik di laboratorium. Tindakan Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain adalah fasilitas. Di samping faktor fasilitas juga diperlukan faktor dukungan . dari pihak lain, misalnya: orang tua, saudara, suami, isteri, dan lainlain, yang sangat penting untuk mendukung tindakan yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2003 dalam dalam Banda. I, 2. Berdasarkan hasil analisis Tindakan tentang penggunaan APD pada perawat di ruang perawatan isolasi RSUD Haji Makassar tahun 2021 menunjukkan bahwan dari 41 perawat yang ada di ruang perawatan isolasi semuanya bertindak baik . %) dalam penggunaan APD. Hal tersebut didukung dengan deskripsi jawaban responden pada pertanyaan tentang tindakan perawat terhadap penggunaan APD saat bekerja atau saat berada di lingkungan kerja yang meliputi, responden selalu menggunakan APD pada saat bekerja, responden tidak mengembalikan APD pada tempatnya, menggunakan APD pada saat bekerja, responden tidak menggunakan APD sesuai dengan SOP, responden selalu menggunakan APD pada saat Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fikra Wahyuni . menyatakan bahwa tindakan responden dalam menggunakan APD dikategorikan baik karena mereka telah memiliki pengetahuan yang baik tentang penggunaan APD sehingga mereka dapat menggunakan APD yang lengkap saat bekerja, adapun APD yang lengkap dimaksud pada saat bekerja di bagian apron adalah rompi, sepatu safety, earplug, ear muff. Ketersediaan APD Menurut Laurenta . yang dikutip oleh Banda. I, . keserasian perbandingan antara manusia dengan alat kerja sehingga turut menjamin adanya suasana kerja yang menggairahkan. Setiap alat dan perlengkapan harus diadakan sesuai dengan tingkat kemungkinan terjadinya kecelakaan. Menurut Maulana . dalam Banda. I . faktor yang memungkinkan terjadinya perilaku berupa lingkungan fisik, sarana kesehatan atau sumber-sumber khusus yang mendukung, dan keterjangkauan sumber dan fasilitas kesehatan. Menurut penelitian Hakim . dalam Banda. menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara fasilitas APD dengan penggunaan APD. Berdasarkan hasil analisis ketersediaan APD tentang penggunaan APD pada perawat di ruang perawatan isolasi RSUD Haji Makassar tahun 2021 menunjukkan bahwa dari 41 perawat yang ada di ruang perawatan isolasi ada 4 atau sebanyak . ,8%) perawat yang menjawab baik terkait ketersediaan APD, dan ada 37 atau sebanyak . ,2%) perawat yang menjawab kurang baik terkait ketersediaan APD di ruang perawatan isolasi. Hal tersebut didukung dengan deskripsi jawaban responden pada pertanyaan tentang ketersediaan APD saat bekerja Nuryadin, dkk : Hubungan KepatuhanA JPKPI Vol 5 No 1 Jan-Jun 2022 pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 atau saat berada di lingkungan kerja yang meliputi, selama pandemi Covid-19 APD kurang tersedia di RS seperti masker, sarung tangan dll. Selama pandemi Covid-19 APD sulit didapatkan. RS telah menyediakan APD sesuai dengan risiko bahaya dan jenis pekerjaan di tempat kerja. APD yang tersedia tidak cukup untuk semua pekerja. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rizka Afrilyani . ketersediaan APD di laboratorium sudah tersedia untuk semua pekerja yang dibutuhkan, mulai dari handscoon, masker, jas laboratorium tetapi untuk ketersediaan sepatu tertutup belum disediakan oleh pihak rumah sakit. Hal ini menunjukkan bahwa fasilitas yang diberikan RS termasuk kategori kurang baik, karena pihak rumah sakit tidak memenuhi standar persyaratan laboratorium alat pelindung diri dengan lengkap. Penelitian lain yang dilakukan oleh Ilham Setyo Budi . menyatakan bahwa ketersediaan APD terhadap kepatuhan dalam menggunakan APD tidak tersedia yaitu sebanyak . ,8%) dan perusahaan menyediakan APD dalam rangka mendukung kepatuhan dalam menggunakan APD yaitu sebanyak . ,2%). Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan APD termasuk kategori kurang baik karena responden yang menyatakan APD tidak tersedia lenih banyak dibandingkan responden yang menyatakan APD tersedia. Pola Pengawasan. Pengawasan adalah suatu proses untuk mengukur penampilan kegiatan atau pelaksanaan kegiatan suatu program yang selanjutnya memberikan pengarahan-pengarahan sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai (Notoatmodjo, 2007 dalam Banda. I, 2. Dilakukan pengawasan adalah untuk menjamin bahwa setiap pekerjaan dilaksanakan dengan aman dan mengikuti setiap prosedur dan petunjuk kerja yang telah ditetapkan (Sastrohadiwiry, 2003 dalam Banda. I, 2. Berdasarkan hasil analisis pola pengawasan terhadap penggunaan APD pada perawat di ruang perawatan isolasi RSUD Haji Makassar tahun 2021 menunjukkan bahwa dari 41 perawat yang ada di ruang perawatan isolasi ada 8 atau sebanyak . ,5%) perawat yang menjawab baik terkait pola pengawasan, dan ada 33 atau sebanyak . ,5%) perawat yang menjawab kurang baik terkait pola pengawasan di ruang perawatan isolasi. Hal tersebut didukung dengan deskripsi jawaban responden pada pertanyaan tentang pola pengawasan terhadap penggunaan APD saat bekerja atau saat berada di lingkungan kerja yang meliputi, pengawasan penggunaan APD perlu diadakan, selama responden bekerja sering diadakan pengawasan, dengan adanya pengawasan tersebut membuat responden termotivasi untuk selalu menggunakan APD saat bekerja. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sudarsono dalam Nasrulzaman . menyatakan bahwa 81 orang pekerja pada perusahaan yaku di Kalimantan Selatan, dimana didapatkan hasil 73,8% pekerja tidak menggunakan APD dengan lengkap saat bekerja dikarenakan pengawasan yang dilakukan oleh manejer masih sangat kurang serta tidak ada sanksi yang diberikan kepada pekerja yang tidak menggunakan APD saat bekerja. KESIMPULAN Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan dari hasil analisis secara keseluruhan dan dalam penentuan sampel dengan menggunakan total sampling, maka dapat di peroleh kesimpulan dari penelitian ini sebagai berikut: Hasil penelitian berdasarkan pengetahuan perawat terhadap penggunaan APD di unit isolasi RSUD Haji Makassar tahun 2021 menunjukkan bahwa pengetahuan perawat terhadap penggunaan APD termasuk kategori patuh. Hasil penelitian berdasarkan sikap perawat terhadap penggunaan APD di unit isolasi RSUD Haji Makassar tahun 2021 menunjukkan bahwa sikap perawat terhadap penggunaan APD termasuk kategori patuh. Hasil penelitian berdasarkan tindakan perawat terhadap penggunaan APD di unit isolasi RSUD Haji Makassar tahun 2021 menunjukkan bahwa tindakan perawat terhadap penggunaan APD termasuk kategori patuh. Hasil penelitian berdasarkan ketersediaan APD pada perawat terhadap penggunaan APD di unit isolasi RSUD Haji Makassar tahun 2021 menunjukkan bahwa ketersediaan APD perawat terhadap penggunaan APD termasuk kategori kurang patuh. Hasil pengawasan pada perawat terhadap penggunaan APD di unit isolasi RSUD Haji Makassar tahun 2021 menunjukkan bahwa pola pengawasan perawat 67 terhadap penggunaan APD termasuk kategori kurang patuh. Saran Pihak manajemen di unit isolasi Covid-19 disarankan lebih memperhatikan ketersediaan APD apalagi disaat masa pendemi seperti sekarang, agar dapat meminimalisir risiko terpapar Covid-19 pada Pihak manajemen di unit isolasi Covid-19 disarankan lebih maksimal dalam melakukan pengawasan terhadap perawat di unit isolasi agar perawat dapat lebih patuh dalam penggunaan APD baik pada saat bekerja maupun saat berada di lingkungan kerja. Nuryadin, dkk : Hubungan KepatuhanA JPKPI Vol 5 No 1 Jan-Jun 2022 pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 Idhom AM. Update Corona 8 April 2020 Indonesia dan Data Covid-19 Dunia Hari Ini. [Interne. 2020 May 12. Available from: https://tirto. id/update-corona-8-april2020indonesia-data-covid-19-dunia-hariini-eLSN Juliana. , & Berutu. Penggunaan Apd Untuk Pencegahan Penyakit Akibat Kerja 69 Pada Perawat. 1Ae10. Kementerian Kesehatan RI. Protokol Tatalaksana Pasien TB dalam Masa Pandemi COVID19. 23 Maret 2020. Available from : http://promkes. id/download/epfk/fil es53142Protokol TB dalam Pande mi Covid-19 2020. Kiswara. , & Prasetio. Penggunaan Alat Pelindung Diri pada Perawat Rawat Jalan dan Rawat Inap. 15(Novembe. , 47Ae51. Madyanti. Faktor-faktor Mepengaruhi Penggunaan APD pada Bidan Saat Menolong Persalinan Di RS Bengkalis. Riau: 2012 Notoatmodjo. Pendidikan dan perilaku Kesehatan. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta : 2003. Notoatmodjo S. Konsep Perilaku dan Perilaku Kesehatan. In : Notoatmodjo S. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Protokol Tatalaksana Pasien COVID-19. Jakarta, 3 April 2020. Sibarani. Penggunaan Alat Pelindung Diri (Ap. Dalam Upaya Pencegahan Penyakit Akibat Kerja. Sugiyono, 2012. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif, dan R&D. Alfabeta. Bandung. DAFTAR PUSTAKA