Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 10 No. 1 Tahun 2021 Analisis Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Inap BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosia. Terhadap Pelayanan Kefarmasian Di Rs X Sidoarjo Khurin In Wahyuni1. Nofrianti Melani Son2. Puspita Raras Anindita3. Departemen Farmasi Komunitas STIKES RS Anwar Medika Email: khurinain87@gmail. Article Info Abstrak Article history: Kepuasan pasien merupakan indikator pertama dari standar suatu rumah sakit dan suatu ukuran mutu pelayanan. Kepuasan pasien yang rendah akan berdampak terhadap jumlah kunjungan dirumah sakit, sedangkan sikap karyawan terhadap pasien juga akan berdampak terhadap kepuasan pasien. kepuasan pasien yang perlu diperhatikan oleh rumah sakit adalah kualitas layanan dengan indikator bukti fisik, kehandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati diberikan petugas kesehatan kepada pasien sehingga tercipta kepuasan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien rawat inap BPJS di Rumah Sakit Anwar Medika. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross-sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu 138 dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan pada bulan februari-maret 2020 dengan menggunakan kuisioner. Penelitian ini mendapatkan hasil persentase tingkat kepuasan yaitu kepuasan rendah 0%, kepuasan sedang 88%, dan kepuasan tinggi 18%. Hasil persentase tingkat pelayanan kefarmasian yaitu pelayanan rendah 12%, pelayanan sedang 78%, dan pelayanan tinggi 10%. Berdasarkan analisis korelasi Spearman Rank (Rh. antara tingkat kepuasan pasien dengan pelayanan kefarmasian didapatkan p value = 0,000 (<0,. yang berarti terdapat hubungan signifikan antara tingkat kepuasan pasien dengan pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit Anwar Medika. Submission September 2020 Accepted Desember 2020 Publish Januari 2021 Kata kunciAi Kepuasan Pasien. Kuisioner. Tingkat Pelayanan Kefarmasian Ucapan terima kasih: Abstract Patient satisfaction is the first indicator of a hospital standard and a measure of service quality. Low patient satisfaction will have an impact on the number of hospital visits, while employee attitudes towards patients will also have an impact on patient satisfaction. patient satisfaction that needs to be considered by the hospital is the quality of service with indicators of physical evidence, reliability, responsiveness, assurance, and empathy provided by health workers to patients so as to create patient satisfaction. This study aims to determine the level of satisfaction of BPJS inpatients at Anwar Medika Hospital. This research is a cross-sectional descriptive study. The number of samples in this study were 138 using a purposive sampling technique. Data collection was conducted in February-2020 using a questionnaire. This study results in the percentage of satisfaction levels that are 0% low satisfaction, 88% moderate satisfaction, and 18% high satisfaction. The results of the percentage of pharmacy service level are low service 12%, medium service 78%, and high service 10%. Based on the Spearman Rank (Rh. correlation analysis between the level of patient satisfaction with pharmaceutical services, p value = 0,000 (<0. means that there is a significant relationship between the level of patient satisfaction with Khurin In Wahyuni. Nofrianti Melani Son. Puspita Raras Anindita Vol 10 . 2021 pp 51-59 pharmacy services at Anwar Medika Hospital. Keywords: Patient Satisfaction. Questionnaire. Level of Pharmaceutical Services. DOI 30591/pjif. v%vi%i. A2021Politeknik Harapan Bersama Tegal Alamat korespondensi: Prodi Di Farmasi Politeknik Harapan Bersama Tegal Gedung A Lt. Kampus 1 Jl. Mataram No. 09 Kota Tegal. Kodepos 52122 Telp. E-mail: parapemikir_poltek@yahoo. p-ISSN: 2089-5313 e-ISSN: 2549-5062 Khurin In Wahyuni. Nofrianti Melani Son. Puspita Raras Anindita Vol 10 . 2021 pp 51-59 A. Pendahuluan Rumah Sakit adalah suatu organisasi melalui tenaga medis profesional yang berorganisasi serta menyelenggarakan pelayanan kesehatan, asuhan keperawatan yang memiliki kemampuan diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien (American Hospital Association, 1. Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat (Permenkes, 2. Unit Dose Dispensing (UUD) adalah suatu sistem distribusi obat kepada pasien rawat inap disiapkan dalam bentuk dosis terbagi siap pakai untuk pemakaian selama 24 jam. Sistem distribusi obat UUD merupakan tanggung jawab farmasis, juga terkait dengan staf medis, perawat, dan (Siregar, 2. Kepuasan pasien tergantung pada kualitas pelayanan yang diberikan. Pengguna jasa pelayanan rumah sakit dalam hal ini pasien menuntut pelayanan yang berkualitas tidak hanya menyangkut kesembuhan dari penyakit secara fisik atau meningkatkan derajat kesehatannya, tetapi juga menyangkut kepuasan terhadap sikap, selalu tersedianya sarana prasarana yang memadai dan lingkungan fisik yang dapat memberikan kenyamanan (Jacobis R, 2. Pelayanan adalah semua upaya yang dilakukan karyawan untuk memenuhi keinginan pelanggannya dengan jasa yang akan diberikan. Pasien merupakan salah satu indikator kualitas pelayanan yang kita berikan dan kepuasan pasien adalah suatu modal untuk mendapatkan pasien lebih banyak dan untuk mendapatkan pasien yang loyal . (Supriyanto dan Ernawaty, 2. BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosia. merupakan lembaga yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial di Indonesia menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011. BPJS bertujuan untuk mewujudkan terselenggaranya pemberian jaminan kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap peserta atau anggota keluarganya. Penyelenggarakan sistem jaminan sosial nasional berdasarkan prinsip : . kegotong-royongan. kehati-hatian. peserta dari peralihan ASKES (UU BPJS, 2. Semakin tingginya tuntutan masyarakat atas fasilitas kesehatan yang berkualitas dan terjangkau, maka berbagai upaya telah ditempuh untuk memenuhi harapan tersebut. Pelayanan kesehatan dituntutkan untuk memberikan kepuasan pada pasien. Pelayanan yang diberikan rumah sakit harus berkualitas dan memenuhi lima dimensi mutu utama yaitu tangibles, reliability, resvonsiveness, assurance, dan emphaty (Fahriadi. Pada penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Anwar Medika. Rumah Sakit Anwar Medika merupakan salah satu Rumah Sakit tipe C yang berada di wilayah Sidoarjo. Rumah Sakit tipe C merupakan rumah sakit yang didirikan di kotakota atau kabupaten sebagai fasilitas kesehatan . tingkat 2 yang menampung rujukan dari faskes tingkat 1 . uskesmas/ poliklinik atau dokter pribad. sehingga pasien yang dirujuk ke faskes tingkat 2 banyak, karena memiliki pasien BPJS rawat inap perbulan yang cukup banyak sehingga perlu diteliti tentang kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di RS Anwar Medika Metode Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah populasi sebanyak 384 sampel. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Jumlah sampel responden yaitu 138 responden, dengan kriteria inklusi Pasien yang bersedia mengisi kuisioner. Pasien BPJS yang mendapat pelayanan kefarmasian di rawat inap. Pasien BPJS yang berusia lebih dari 15 tahun. Kriteria eksklusi yaitu Pasien buta aksara. Pasien yang tidak dapat membaca tanpa alat bantu. Pasien pediatrik. Pasien tidak sadar. Alat ukur kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian menggunakan kuisioner. Uji normalitas yang digunakan menggunakan uji klomogrov smirnov, dan uji hubungan yang dignakan menggunakan uji non parametrik Spearman Rank (Rh. Hasil dan Pembahasan Penelitian ini dilakukan pada bulan februari sampai maret 2020 di Rumah Sakit Anwar Medika. Pada penelitian ini terdapat kendala yaitu adanya virus Covid-19 sehingga sedikit kesulitan dalam memperoleh perijinan sehingga hanya mendapatkan sampel sebanyak 138 responden dari total sampel yang seharusnya 200. Tabel 1. Karateristik Responden Berdasarkan Khurin In Wahyuni. Nofrianti Melani Son. Puspita Raras Anindita Vol 10 . 2021 pp 51-59 Usia. Jenis Kelamin. Pekerjaan, dan Pendidikan Terakhir No. Karakte Kelompok r-istik Jenis Laki-laki Kelamin Perempua Jumlah Umur >65 Jumlah Pendidi SMP SMA Tidak Sekolah Jumlah Pekerjaa IRT Karyawan PNS Petani Tidak Bekerja Lain-lain Jumlah Karateristik Demografi 68,84% 31,16% 1,44% 13,04% 10,14% 28,98% 25,36% 18,84% 2,17% 28,26% 18,84% 43,47% 5,79% 3,62% 24,63% 37,68% 1,44% 8,69% 24,63% 2,89% sebanyak 14 . ,14%), 36-45 sebanyak 40 . ,98%), 46-55 sebanyak 35 . ,36%), 56-65 sebanyak 26 . ,84%), dan > 65 sebanyak 3 . ,17%). Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa umur terbanyak yaitu responden yang berumur 3645 tahun sebanyak 40 . ,98%) kategori dewasa Penelitian ini sejalan dengan penelitian Hasan dkk . Dimana pada penelitian tersebut paling banyak pasien yang berumur 40 tahun keatas. Hal ini karena mengindikasikan bahwa kenaikan umur atau usia mempengaruhi seseorang memakai jasa kesehatan, khususnya rumah sakit karena peningkatan usia cenderung memperlihatkan penurunan kesehatan. Menurut Kartika dkk . juga menyatakan bahwa semakin tua umur seseorang maka semakin banyak fungsi organ tubuh yang banyak mengalami gangguan atau masalah yang berdampak pada kebutuhan akan pemeliharaan Pendidikan Berdasarkan data pada tabel 4. 1 diketahui bahwa pasien rawat inap BPJS berpendidikan SD sebanyak 39 . ,26%). SMP sebanyak 26 . ,84%). SMA sebanyak 60 . ,47%). S1 sebanyak 8 . ,79%). Tidak Sekolah sebanyak 5 . ,62%). Dari hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien BPJS rawat inap di Rumah Sakit Anwar Medika adalah SMA sebanyak 60 . ,47%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian Siswati . dimana pada penelitian tersebut paling banyak berpendidikan SMA yaitu 69 orang . ,3%). Pemilihan kelas pada ruang perawatan selain dipengaruhi oleh biaya, stigma dari pendidikan terakhir juga memberi pengaruh tersendiri pada pilihan mereka (Putri, 2. Hal ini sejalan dengan, bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan mempengaruhi pola pikir yang akan berdampak pada penilaian tingkat kepuasan. Tingkat pendidikan sangat berperan penting dalam pemilihan jasa kesehatan, dimana dari pendidikan terdapat proses belajar yang menghasilkan pengetahuan, kepercayaan dan sikap tertentu. Tingkat pendidikan seseorang mempengaruhi apakah orang tersebut akan menggunakan jasa atau tidak, sebagaimana dengan pertimbangan pengetahuan, sikap petugas, dan kepercayaan pasien terhadap pelayanan yang diberikan (Putri, 2. Pekerjaan Berdasarkan data pada tabel 4. 1 diketahui bahwa pasien rawat inap BPJS memiliki pekerjaan IRT sebanyak 34 . ,63%). Karyawan sebanyak 56 . ,57%). PNS sebanyak 2 . ,44%). Petani sebanyak 26 . ,84%). Tidak Bekerja sebanyak 20 Jenis Kelamin Dalam penelitian ini yang menjadi responden adalah 138 orang pasien yang mendapatkan pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit Anwar Medika. Berdasarkan data pada tabel 4. 1 diketahui bahwa pasien yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 43 . ,16%) dan laki-laki sebanyak 95 . ,84%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian Sihaloho dan herliana . dimana pada penelitian tersebut responden yang terbanyak yaitu berjenis kelamin laki-laki, hal ini karena responden laki-laki memiliki gaya hidup yang tidak baik, istirahat kurang, kebiasaan merokok dan beban aktivitas yang berlebihan yang menyebabkan mereka harus dirawat. Umur Berdasarkan data pada tabel 1 diketahui bahwa pasien yang berumur 12-16 sebanyak 2 . ,44%), 17-25 sebanyak 18 . ,04%), 26-35 Khurin In Wahyuni. Nofrianti Melani Son. Puspita Raras Anindita Vol 10 . 2021 pp 51-59 . ,49%). Dari hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien BPJS rawat inap di Rumah Sakit Anwar Medika adalah karyawan sebanyak 56 . ,57%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian Putri . dimana pada penelitian tersebut paling banyak pekerjaan karyawan swasta yaitu 20 orang . ,8%). Pasien yang memiliki pekerjaan sebagai karyawan swasta telah menggunakan sistem pembayaran asuransi perusahaan sehingga pada Rumah Sakit ini terbanyak yaitu berpekerjaan sebagai karyawan (Sihaloho dan Herlina, 2. Tabel 2. Distribusi Responden Kategori Kepuasan Pasien (Harapa. Variabel Kepuasan Pasien Kategori Rendah Sedang Tinggi Total Rendah Pelayanan Sedang Kefarmasian Tinggi Total Tingkat Kepuasan Pasien (Harapa. Terhadap Pelayanan Kefarmasian (Kenyataa. Berdasarkan 5 Dimensi Kepuasan Pasien merupakan suatu ukuran mutu pelayanan. Kepuasan pasien yang rendah akan berdampak terhadap jumlah kunjungan, sedangkan sikap petugas terhadap pasien juga akan berdampak terhadap kepuasan pasien dimana kebutuhan pasien dari waktu ke waktu meningkat, begitu pula tuntutan akan mutu pelayanan yang diberikan (Tjiptono, 2. Kebutuhan pasien secara umum adalah kebutuhan terhadap akses layanan kesehatan, layanan yang tepat waktu, layanan komunikasi yang efektif dan efisien, layanan yang layak dan tepat, lingkungan yang aman serta penghormatan. Hal-hal tersebut yang berhubungan dengan kepuasan pasien (Tjiptono, merupakan bagian dari penampilan pelayanan yang dilihat secara langsung oleh pasien seperti ruangan, kebersihan, kelengkapan sarana, dan penampilan petugas (Citraningtyas dkk, 2. Dimensi bukti langsung merupakan wujud nyata dari fasilitas fisik yang diberikan oleh pihak Rumah Sakit selama pasien BPJS mendapat pelayanan di rawat inap Rumah Sakit Anwar Medika, serta menilai kesiapan petugas farmasi dalam memberikan pelayanan untuk pasien adapun wujud nyata dapat berupa kelengkapan alat-alat kesehatan yang dipakai sehingga dapat meningkatkan kepercayaan pasien bahwa petugas berkompeten yang dapat mendukung kepuasan pasien rawat inap BPJS di Rumah Sakit Anwar Medika. Harapan pasien merupakan keyakinan pasien sebelum menerima pelayanan yang nantinya akan dijadikan standar atau acuan dalam menilai pelayanan (Parerawa dkk, 2. Dimensi ini juga sebagai bentuk perwujutan dari fasilitas yang ada serta petugas yang memberikan pelayanan jasa. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pemberian pelayanan kesehatan, diperlukan pengukuran tingkat kepuasan pasien (Handayani, 2. Hasil kuisioner pada dimensi bukti langsung memiliki kategori tinggi pada pernyataan 1, 2, dan 7 sedangkan kategori sedang pada pernyataan 3, 4, dan 6. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Mutiara dkk . dengan hasil nilai signifikansi . ,000 <0,. hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara tangible dengan kepuasan pasien BPJS di Unit Rawat Inap, dimana pada penelitian tersebut puas karena pelayanan yang diberikan sudah sesuai dengan harapan pasien seperti kenyamanan ruang rawat inap serta fasilitas yang ada di ruang rawat inap sudah memadai. sedangkan pada pernyataan 5 yaitu kondisi kamar mandi yang dipakai pasien memiliki kategori rendah, karena kurang kebersihan di kamar mandi rumah sakit anwar Pasien BPJS rawat inap 1 ruangan menampung 6 pasien beserta keluarga dimana 1 ruangan tersebut terdapat 1 kamar mandi yang digunakan bersama sehingga kamar mandi yang digunakan kurang perawatan dan memiliki bau yang kurang baik sehingga pasien tidak puas dalam pernyataan ini. Penelitian ini sejalan dengan penelitian siswati . dimana pada penelitian tersebut presepsi pasien yang merasa tidak baik terhadap kebersihan serta kurangnya perawatan di kamar mandi. Dimensi Kehandalan (Reliabilit. Dimensi (Reliabilit. merupakan kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan Berdasarkan hasil pada tabel analisis penilaian kuisioner pelayanan kefarmasian dengan metode penyebaran dari setiap dimensi yaitu dimensi bukti langsung (Tangibl. , dimensi kehandalan (Reliabilit. , dimensi ketanggapan (Responsivenes. , dimensi jaminan (Assuranc. , dimensi empati (Empath. diperoleh nilai rata-rata tingkat kepuasan pasien sebagai berikut : Dimensi Bukti Langsung (Tangibl. Dimensi bukti langsung . Khurin In Wahyuni. Nofrianti Melani Son. Puspita Raras Anindita Vol 10 . 2021 pp 51-59 memuaskan kepada pasien. Hasil penelitian yang Dimensi jaminan (Assuranc. merupakan didapat bahwa pasien memiliki kepuasan dengan pengetahuan, kesopanan petugas serta sifatnya kotegori tinggi pada pernyataan 10 dan 14 yang dapat dipercaya sehingga pasien terbebas sedangkan kategori sedang pada pernyataan 8, 9, dari resiko (Rangkuti, 2. Hasil penelitian ini 11, dan 13. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang didapat bahwa pasien memiliki kepuasan Mutiara dkk . dengan hasil nilai signifikansi pelayanan kefarmasian dengan kategori tinggi . ,027 <0,. hal ini menunjukkan bahwa ada pada pernyataan 23, 25, 26. Sedangkan kategori hubungan antara tangible dengan kepuasan pasien sedang pada pernyataan 22, 27, 28. Penelitian ini BPJS di Unit Rawat Inap. Dimana pada penelitian sejalan dengan penelitian Mutiara dkk . tersebut pelayanan yang diberikan sesuai dengan dengan hasil nilai signifikansi . ,000<0,. hal ini harapan responden. Sedangkan pada pernyataan menunjukkan bahwa ada hubungan antara nomor 12 memiliki kategori rendah, dikarenakan Assurance dengan kepuasan pasien BPJS di Unit apoteker tidak memberi informasi aktivitas apa Rawat Inap. Sedangkan pada pernyataan nomor 24 saja yang perlu dihindari berkaitan dengan memiliki kategori rendah dengan pernyataan penggunaan obat. Banyaknya pasien rawat inap penjelasan prosedur minum obat yang dilakukan BPJS di rumah sakit dan terbatasnya jumlah Penelitian ini sejalan dengan Isnindar apoteker yang tersedia melibatkan apoteker tidak dkk . dimana pada penelitian tersebut pasien dapat memberikan pengetahuan aktivitas apa saja tidak puas karena kurangnya perhatian pada item yang perlu dihindari saat mengkonsumsi obat, prosedur minum obat sesuai dengan resep. Aturan sehingga pada pernyataan ini membuat pasien pakai obat seharusnya menjadi kewajiban bagi tidak puas. petugas disetiap menyampaikan obat pada pasien agar pasien mengerti dan dapat menjalankan terapi Dimensi Ketanggapan (Responsivenes. Dimensi ketanggapan (Responsivenes. yaitu dengan benar. kemampuan untuk membantu kmonsumen dan Dimensi Empati (Empath. memberikan pelayanan dengan cepat kepada Dimensi empati (Empath. merupakan Dimensi ketanggapan bersifat dinamis, dimensi yang dapat menunjukkan suatu hal ini dipengaruhi oleh faktor perkembangan kemampuan untuk memberi perhatian kepada teknologi (Laeliyah & subekti, 2. Hasil pasien sehingga dapat memahami masalahpenelitian yang didapat bahwa pasien memiliki masalah pasien secara mendalam (Isnindar dkk, kepuasan dengan kategori tinggi pada pernyataan Hasil penelitian yang didapat bahwa pasien 19 dan 21 sedangkan kategori sedang pada memiliki kepuasan yang tinggi pada item pernyataan 15, 16 17, 20. Penelitian ini sejalan pernyataan 35, kategori sedang pada item dengan penelitian Siswati . dengan hasil pernyataan nomor 29, 30, 31, 32. Penelitian ini . ,001<0,. sejalan dengan penelitian Mutiara dkk . menunjukkan bahwa ada hubungan antara dengan hasil nilai signifikansi . ,003 <0,. hal ini Responsiveness dengan kepuasan pasien BPJS di menunjukkan bahwa ada hubungan antara Unit Rawat Inap RSUD Kota Makassar. Empathy dengan kepuasan pasien BPJS di Unit Sedangkan pada pernyataan nomor 18 memiliki Rawat Inap. Sedangkan pada pernyataan nomor 33 kategori rendah dengan pernyataan setiap keluhan memiliki kategori rendah dengan pernyataan pasien diatasi dengan cepat. Penelitian ini sejalan apoteker memberikan perhatian secara khusus dengan penelitian Isnindar dkk . dimana kepada setiap pasien. Penelitian ini sejalan dengan pada penelitian tersebut pasien mengharapkan penelitian isnindar dkk . dimana pada petugas instalasi farmasi selalu siap dalam penelitian tersebut pasaien tidak puas karena menangani setiap keluhan. Kurangnya kesiapan masih ada ketidaksesuaian yang dirasakan pasien farmasis dalam menangani keluhan pasien menuntut petugas di instalasi farmasi untuk bisa memberikan pelayanan yang mengedepankan kefarmasian sehingga pelayanan tidak optimal. perhatian secara pribadi kepada pasien, maka Seseorang pasien mengharapkan bahwa ia pasien secara tidak langsung menjadi antusias dan seharusnya juga dilayani dengan baik apabila patuh dalam menjalankan terapi. pasien yang lainnya dilayani dengan baik oleh Dari penyedia jasa. Disinilah diperlukan ketanggapan menggunakan program SPSS maka dapat dilihat petugas dalam memberikan sikap yang selalu siap nilai pada dimensi bukti langsung sebesar . ,000 dalam menangani setiap keperluan dan keluhan <0,. , dimensi kehandalan sebesar . ,027 <0,. , pasien dengan antusias. dimensi ketanggapan sebesar . ,001 <0,. Dimensi Jaminan (Assuranc. Khurin In Wahyuni. Nofrianti Melani Son. Puspita Raras Anindita Vol 10 . 2021 pp 51-59 dimensi jaminan sebesar . ,000 <0,. , dimensi empati sebesar . ,003 <0,. maka Ha ditolak, berarti ada hubungan secara bersama-sama antara variabel independent bukti langsung, kehandalan, ketanggapan, jaminan, dan empati terhadap variabel dependent (Kepuasan pasien rawat inap BPJS di Rumah Sakit Anwar Medik. Tingkat Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit Anwar Medika Pelayanan Kefarmasian adalah suatu tanggung jawab profesi apoteker dalam mengoptimalkan terapi dengan cara mencegah dan memecahkan masalah terkait obat. Pelayanan kefarmasian berperan meningkatkan penggunan obat rasional yang akan menentukan keberhasilan pengobatan (Permenkes RI, 2. Pelayanan kefarmasian yang merupakan bagian dari meningkatkan penggunaan obat yang rasional, keamanan penggunan obat, efisiensi biaya obat, dan meningkatkan kualitas hidup pasien (Kemenkes RI, 2. Pelayanan kefarmasian yang baik adalah pelayanan yang berorientasi langsung dalam proses penggunaan obat, bertujuan menjamin penggunaan obat dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan fungsi dalam perawatan pasien. Tuntutan pasien dan masyarakat akan mutu pelayanan kefarmasian dari paradigma lama yang berorientasi pada produk obat, menjadi paradigma baru yang berorientasi pada pasien (Bertawati. Berdasarkan tabel 4. 6 dapat dilihat bahwa 138 responden penilaian keseluruhan tingkat pelayanan kefarmasian di rumah sakit anwar medika termasuk kategori sedang karena memiliki persentase yang paling tinggi yaitu 7,97% . , kategori sedang sebesar 81,89% . , dan kategori rendah atau kurang sebanyak 10,14% . Penelitian in sejalan dengan penelitian Nugrahaheni dkk . dimana pada penelitian tersebut terbanyak memiliki kepuasan sedang 26 orang . ,22%). Kekurangan pelayanan kefarmasian di rumah sakit anwar medika tersebut dikarenakan terbatasnya jumlah apoteker yang Berdasarkan Permenkes No 56 tahun 2014 tenaga kefarmasian paling sedikit 5 apoteker di rawat inap yang dibantu oleh paling sedikit 10 tenaga teknik kefarmasian. Di rumah sakit anwar medika jumlah apoteker yang tersedia di rawat inap yaitu 4 apoteker dan 7 Asisten apoteker, dimana dalam hal ini jumlah tenaga kefarmasian di rumah sakit anwar medika tidak sesuai dengan standar dan terlalu sedikit untuk pasien rawat inap yang banyak. Tabel 4. Uji Normalitas Uji Normalitas Klomogrov smirnov Asymp. Sig. -taile. 0,000 Tabel 7. Uji Korelasi Spearman Rank (Rh. Uji Korelasi Uji Spearman Rank (Rh. Asymp. Sig. -taile. 0,000 Correlation Coefficient 0,617 Hubungan Analisis Tingkat Kepuasan Pasian Rawat Inap BPJS Terhadap Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit Anwar Medika Berdasarkan hasil uji korelasi spearmen rank (Rh. dari 138 responden, diperoleh nilai Sig 0,000 (<0,. Sehingga dapat dinyatakan bahwa ada hubungan signifikan antara tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian. Semakin baik pelayanan yang diberikan akan meningkatkan kepuasan pasien dalam memperoleh obat. Dari hasil Correlation Coefficient didapatkan nilai yaitu 0,617, dimana nilai tersebut termasuk kategori positif sehingga dapat ditarik arah hubungannya yaitu semakin tinggi tingkat pelayanan kefarmasian semakin tinggi pula kepuasan pasien. Dari nilai tersebut dapat dilihat keeratan hubungan dua variabel ini yaitu berkorelasi kuat, l hal ini sesuai dengan literatur jika nilai Correlation 0,610,80 maka berkorelasi kuat (Hasan, 2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Rahmawati dan Wahyuningsih . dimana pada penelitian tersebut didapatkan nilai signifikansi . 0,006 < 0,05, sehingga pada penelitian tersebut dinyatakan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara pelayanan farmasi dengan kepuasan pasien. Semakin baik pelayanan yang diberikan akan memperoleh obat. Pelayanan yang berkualitas tinggi akan menghasilkan reputasi baik bagi karyawan sehingga mendorong karyawan untuk meningkatkan kinerja. Pelayanan yang berkualitas juga akan memberikan kepuasan pelanggan yang menerima pelayanan tersebut. Kualitas pelayanan Khurin In Wahyuni. Nofrianti Melani Son. Puspita Raras Anindita Vol 10 . 2021 pp 51-59 yang rendah dapat menyebabkan banyaknya keluhan pelanggan, bila hal ini tidak diatasi dengan baik maka perusahaan akan kehilangan pelanggannya (Tjiptono, 2. Sebagian besar responden menyatakan puas terhadap pelayanan yang diberikan di rawat inap BPJS Rumah Sakit Anwar Medika. Kepuasan pasien berhubungan dengan pemasaran rumah Pasien yang puas akan memberitahu teman, keluarga, dan tetangga, pasien yang puas akan datang lagi kontrol, atau membutuhkan pelayanan yang lain (Sabarguna, 2. Pelayanan yang memuaskan akan menghasilkan loyalitas pelanggan terhadap perusahaan. Hal ini akan menguntungkan perusahaan karena untuk mencari pelanggan baru memerlukan biaya yang lebih mahal dibandingkan mempertahankan pelanggan lama (Zulian, 2. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh ada hubungan antara kualitas pelayanan rawat inap BPJS dengan tingkat kepuasan pasien. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan Tjiptono . bahwa kualitas berhubungan dengan tingkat kepuasan pasien. Upaya pelayanan haruslah memberi kepuasan, tidak semata-mata sembuh belaka. Kualitas juga berhubungan dengan prioritas meningkatkan mutu dan dana yang terbatas, pelayanan harus selektif, dan sesuai dengan kebutuhan pasien (Sabarguna, 2. Hasil penilaian tersebut akan mempengaruhi perilaku pasien selanjutnya. Hubungan kualitas pelayanan dan kepuasan tidak terlepas dari kreativitas pelayanan yang ditawarkan. Untuk mewujudkan suatu pelayanan yang berkualitas yang mampu menciptakan kepuasan pasien, harus mampu memahami tingkat presepsi dan harapan Hal ini dikarenakan kepuasan pasien merupakan perbandingan antara presepsi dengan harapan pasien terhadap kualitas pelayanan yang Simpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa berdasarkan hasil uji korelasi spearman rank (Rh. dari 138 responden diperoleh nilai sig 0,000 (<0,. sehingga dapat dinyatakan bahwa ada hubungan signifikan antara tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Harijanto . yang menyatakan ada hubungan antara kualitas pelayanan terhadap kepuasan pasien di instalasi farmasi rumah sakit paru dungus madiun dengan nilai Sig 0,048 (<0,. Pustaka