Kelola: Journal of Islamic Education Management April 2024. Vol. 9 No. 1 Hal 128-136 P-ISSN : 2548 Ae 4052 E-ISSN : 2685 Ae 9939 A2019 Manajemen Pendidikan Islam. https://ejournal. id/index. php/kelola KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN PAIRED STORYTELLING TERHADAP KETERAMPILAN MENYIMAK CERITA 1Nurhidayah R. , 2Aliem Bahri, 3Abd. Rajab Universitas Muhammadiyah Makassar E-mail: nurhidayahr01@gmail. Abstract The formulation of the problem in this study is whether the Paired Storytelling Type Cooperative Learning Model is Effective in Improving Listening Skills for Grade V Students of SDN 149 Buntu Dama. Baroko District. Enrekang Regency. This study aims to test the effectiveness of the Paired Storytelling Type Cooperative Learning Model on the Story Listening Skills of Class V Students. The sample in this study was 22 grade V students of SDN 167 Buntu Dama. Enrekang Regency. Data collection was carried out using the results of the assessment of listening skills to the story. The data obtained were then analyzed using statistical analysis techniques, namely descriptive statistics and inferential statistics, this research used statistical techniques t . -tes. The results proved that t count 14,339 and t table 1,721 then obtained tCount > tTable or 14,339 > 1,721. Based on the results of t Calculate and t Table, it can be concluded that H0 is rejected and H1 is accepted. This means that the use of the paired storytelling learning model is effectively used in learning story listening skills for grade V students of SDN 167 Buntu Dama. Baroko District. Enrekang Regency. Keywords: Model Paired Storytelling. Story Listening Skill Abstrak Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Paired Storytelling Efektif Meningkatkan Keterampilan Menyimak Cerita Murid Kelas V SDN 149 Buntu Dama Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang. Penelitian ini bertujuan untuk Menguji Tingkat Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Paired Storytelling Terhadap Keterampilan Menyimak Cerita Murid Kelas V. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan jenis One Group pretest-posttest Design. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 167 Buntu Dama Kabupaten Enrekang sebanyak 22 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan hasil penilaian keterampilan menyimak cerita. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistika, yaitu statistika deskriptif dan statistika inferensial ini penelitian ini menggunakan teknik statistik t. Hasil penelitian membuktikan bahwa t Hitung 14. 339 dan t tabel 1,721maka diperoleh tHitung > tTabel atau 14. 339 > 1,721. Berdasarkan hasil dari t Hitung dan t Tabel, dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 Ini berarti bahwa penggunaan model pembelajaran paired storytelling efektif digunakan dalam pembelajaran keterampilan menyimak cerita siswa kelas V SDN 167 Buntu Dama Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang. Kata Kunci: Model Paired Storytelling. Keterampilan Menyimak Cerita. Vol 9. No. April 2024 K e e f e k t i f a n . PENDAHULUAN Fungsi dan tujuan pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20. Tahun 2003. Bab II. Pasal 3, yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepadaTuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung Dari pengertian tersebut tergambar jelas bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk membina dan menggambarkan persatuan bangsa yang diawali dari pemberian bekal pengetahuan, sikap, dan keterampilan kepada peserta didik. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah agar tujuan pendidikan nasional dapat dicapai. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan memberlakukan kurikulum 2013. Dalam kurikulum tersebut tercantum mata pelajaran bahasa Indonesia yang memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Mata pelajaran bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: . berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku baik secara lisan maupun tulis. menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara. memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan. menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial. menikmati dan memanfa-atkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. menghargai dan mem-banggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Serta pada akhir pendidikan di SD/MI peserta didik diharuskan telah membaca sekurang-kurangnya sembilan buku sastra dan nonsastra Depdiknas. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia Depdiknas. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, terdapat empat keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa. Keterampilan tersebut meliputi: . menyimak, . berbicara, . membaca, dan . Keterampilan berbahasa yang harus dikuasai murid di SD salah satunya yaitu keterampilan menyimak. Haryadi dan Zamzami . mengungkapkan bahwa menyimak merupakan kegiatan paling Vol 9. No. April 2024 130 | Nurhidayah R dkk. awal yang dilakukan oleh anak manusia apabila dilihat dari proses pemerolehan bahasa. Sebelum anak dapat berbicara, membaca, dan menulis, kegiatan menyimaklah yang pertama kali dilakukan. Secara berturut-turut pemerolehan keterampilan berbahasa itu pada umumnya dimulai dari menyimak, berbicara, membaca, dan terakhir menulis. Tarigan menambahkan bahwa menyimak marupakan suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan, serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan sang pembicara melalui ujaran atau dalam bahasa lisan. Seorang penyimak harus mampu menangkap dan memahami maksud Menyimak memiliki peran penting dalam kegiatan pembelajaran. Kenyataan tersebut sejalan dengan hasil asesmen membaca siswa kelas awal (Early Grade Reading Assesment - EGRA) pada tahun 2013 di tujuh provinsi yang menyatakan bahwa siswa lancar membaca namun sulit menyimak. Hasil temuan menunjukkan bahwa keterampilan membaca siswa sudah cukup baik pada tingkat dasar, namun mereka belum tentu mengerti bahan bacaan yamg telah mereka baca. Data hasil asesmen menunjukkan siswa kelas tiga yang bisa membaca 80% pemahaman kurang dari setengahnya . ,2%). Siswa mengalami kesulitan dalam memahami makna dari suatu bahan bacaan. Tarigan berpendapat bahwa menyimak merupakan landasan belajar berbahasa bagi siswa, penunjang keterampilan berbicara, membaca dan Menyimak sebagai sarana memperlancar komunikasi lisan, dan melalui kegiatan menyimak dapat memperkaya informasi. Dalam peristiwa kehidupan sehari-hari di masyarakat dijumpai porsi kegiatan meliputi 45% untuk menyimak, 30% untuk berbicara, 16% untuk membaca, dan hanya 9% untuk menulis. Oleh karena itu, menyimak merupakan keterampilan dasar yang harus dikuasai seseorang agar mampu menguasai keterampilan berbahasa lainnya. Meskipun kegiatan pembelajaran menyimak merupakan kegiatan yang dominan dan memiliki peran yang besar, namun perhatian terhadap keterampilan menyimak peserta didik di sekolah sampai sekarang kurang mendapat perhatian dan dipandang sebagai sebuah keterampilan yang tidak mendasar. Hal tersebut peneliti jumpai dalam kegiatan observasi awal di SDN 167 Buntu Dama sebagian besar siswa kelas V di sekolah tersebut jarang mendapatkan pengalaman belajar untuk mengasah keterampilan menyimak, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam Tarigan. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa (Bandung: Angkasa, 2. , 31. 2 Ibid, 60. Kelola: Journal of Islamic Education Management K e e f e k t i f a n . mengungkapkan ide maupun gagasan yang dimilikinya baik secara lisan maupun tulisan. Kondisi tersebut sejalan dengan kondisi pembelajaran menyimak di sekolah saat ini. Pembelajaran menyimak yang saat ini dilaksanakan di SDN 167 Buntu Dama, masih jauh dari kondisi yang Beberapa kekurangan yang peneliti temukan di berbagai kelas dalam pelaksanaan pembelajaran menyimak meliputi: . pembelajaran menyimak dilakukan untuk menjawab pertanyaan. pembelajaran menyimak dilakukan sebagaimana layaknya pembelajaran membaca. pengukuran kemampuan menyimak masih bersifat biasa sebab guru menggunakan bahan simakan yang telah terlebih dahulu dibaca siswa. pembelajaran menyimak tidak diarahkan pada pengembangan karakter Salah satu upaya menciptakan suasana belajar untuk kegiatan menyimak yang interaktif, inspiratif, aktif dan menyenangkan hendaknya guru memberikan hendaknya guru memberikan 5 kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri, mencoba menganalisis serta berdiskusi melalui interaksi dengan kelas maupun dengan anggota kelompok sehingga akan tercipta kegiatan pembelajaran yang bermakna. 3 Hendaknya guru menggunakan model pembelajaran yang mampu mengaktifkan suasana kelas sekaligus memotivasi siswa dalam kemandirian belajar. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengatasi rendahnya tingkat kemampuan siswa terhadap keterampilan menyimak yaitu model pembelajaran kooperatif tipe paired storytelling. Perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran paired storytelling pada pembelajaran menyimak cerita murid SDN 167 Buntu Dama kelas V. Model pembelajaran kooperatif tipe paired storytelling diharapkan dapat menjadi inovasi baru yang lebih efektif dibandingkan dengan metode pembelajaran melalui penugasan dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia. Huda berpendapat bahwa model pembelajaran kooperatif tipe paired storytelling merupakan model pembelajaran yang tepat digunakan untuk pembelajaran menyimak. Pada prinsipnya, model pembelajaran kooperatif tipe paired storytelling merupakan model pembelajaran interaktif, karena menekankan pada keterlibatan aktif siswa selama proses pembelajaran. Melalui kegiatan ini, siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi. 4 Hasil pemikiran mereka akan dihargai sehingga 3Yunus Abidin. Pembelajaran Bahasa Berbasis Pendidikan Karakter. (Bandung: PT Refika, 2. , 60. 4Miftahul Huda. Cooperative Learning (Metode. Teknik. Struktur, dan Model Penerapa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Irwandi. 151-153 https://jurnal. id/index. php/Pionir/article/view/3320 61 Vol 9. No. April 2024 132 | Nurhidayah R dkk. siswa akan terdorong untuk terus belajar. Kegiatan pembelajaran menyimak di SD tidak hanya untuk menjawab pertanyaan dari bahan materi dengan benar, akan tetapi lebih ditekankan pada proses dalam upaya untuk memahami isi cerita yang didengar atau disimak, serta dilanjutkan dengan pencarian dan penemuan makna dari proses kegiatan pembelajaran tersebut. Sehingga siswa dapat menerapkan makna tersebut dalam kehidupan pribadi dan sosial mereka. Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, maka dapat dikaji suatu permasalahan melalui penelitian eksperimen yang berjudul AuKeefektifan Model Pembelajaran Paired Storytelling terhadap Keterampilan Menyimak Cerita Murid Kelas V SDN 167 Buntu Dama Kecamatan Baroko Kabupaten EnrekangAy. Keefektifan yang dimaksud di sini adalah sebuah usaha untuk mendapatkan tujuan, hasil atau target yang di harapkan dengan waktu yang telah di tentukan. Terhadap keberhasilan model pembelajaran paired storytelling pada keterampilan menyimak cerita murid kelas V SDN 167 Buntu Dama Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang. Alasan pengangkatan model pembelajaran paired storytelling ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk saling bertukar informasi mengenai sebuah cerita. Diharapkan melalui proses bercerita ini terjadi hubungan timbal balik Antara pembicara dengan penyimak. Sehingga dapat memudahkan murid memahami cerita yang di sampaikan. METODE Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif, yang mengacu pada jenis pendekatan penelitian eksperimen, yaitu jenis pre-experimental populasi yang diteliti oleh penulis adalah seluruh siswa kelas V SDN 167 Buntu Dama berjumlah 22 siswa. Pada penelitian ini dilakukan teknik pengambilan sampel dengan menggunakan simple random sampling, hal ini dilakukan karena anggota populasi yakni kelas V memiliki peluang yang sama untuk dipilih menjadi sampel. Peneliti menentukan kelas V sebagai sampel penelitian dengan beberapa pertimbangan, diantaranya: sebagian besar siswa kelas V di sekolah tersebut jarang mendapatkan pengalaman belajar untuk mengasah keterampilan menyimak, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam mengungkapkan ide maupun gagasan yang dimilikinya baik secara lisan maupun tulisan. Sampel yang telah dipilih dianggap paling memenuhi syarat untuk dijadikan objek penelitian dalam hal ini meneliti pengaruh model pembelajaran paired storytelling terhadap keterampilan menyimak sebanyak 22 orang yang terdiri 13 orang laki-laki dan 9 orang Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes awal dan tes akhir. Analisis data eksperimen dengan model eksperimen One Group Pretest Posttest Design adalah sebagai berikut: 1. Analisis statistik deskriptif Analisis data statistik deskriptif merupakan Kelola: Journal of Islamic Education Management K e e f e k t i f a n . statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul selama proses penelitian dan bersifat kuantitatif. Keefektifan Penggunaan Model Pembelajaran Paired Storytelling Terhadap Keterampilan Menyimak Cerita Penelitian yang bertujuan untuk menguji tingkat keefektifan penggunaan model pembelajaran paired storytelling terhadap keterampilan menyimak cerita siswa kelas V SDN 167 Buntu Dama Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang dengan memperhatikan mekanik dan kosa kata Pemberian tes sebelum perlakuan . diberikan kepada siswa untuk 54 mengetahui hasil analisis tanpa menggunakan model pembelajaran paired storytelling, kemudian siswa diberikan perlakuan . peneliti menerapkan model pembelajaran paired storytelling pada saat proses belajar mengajar. Kemudian peneliti kembali memberikan tes setelah perlakuan . untuk mengetahui hasil analisis dengan menggunakan model pembelajaran paired storytelling . Berdasarkan hasil penelitian yang diuraikan pada analisis data, secara deskriptif hasil rekapitulasi hasil keterampilan menyimak cerita siswa kelas V SDN 167 Buntu Dama Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang menggunakan model pembelajaran paired storytelling, pada pretest . ebelum perlakua. nilai maximum yaitu 85 dan nilai minimum yaitu 50. Sedangkan pada postest dapat dilihat nilai maximum yaitu 95 dan nilai minimum yaitu 75. Dari hasil uraian analisis data, diperoleh nilai mean . ata-rat. keterampilan menyimak cerita sebelum menggunakan model pembelajaran paired storytelling . Sedangkan hasil analisis data, nilai mean . ata-rat. keterampilan menyimak cerita setelah menggunakan model pembelajaran paired storytelling . Berdasarkan dari data diatas menunjukkan bahwa hasil posttest lebih tinggi dari nilai pretest. Hasil penelitian yang diuraikan diatas analisis statistik deskriptif, sedangkan untuk menguji hipotesis dari penelitian ini dapat di uraikan dengan hasil analisis data inferensial dengan menggunakan rumus uji t, diketahui bahwa nilai tHitung sebesar 14. Dengan frekuensi (D. sebesar 22-1 =21, pada taraf 05% diperoleh t tabel sebesar 1,721. Oleh karena tHitung > t tabel pada 55 taraf signifikan 0. 05, maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti bahwa penggunaan model pembelajaran paired storytelling efektif digunakan dalam pembelajaran keterampilan menyimak cerita siswa kelas V SDN 167 Buntu Dama Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran paired storytelling lebih efektif digunakan dalam proses pembelajaran keterampilan menyimak cerita siswa kelas V SDN 167 Buntu Dama Kecamatan Baroko Vol 9. No. April 2024 134 | Nurhidayah R dkk. Kabupaten Enrekang, siswa setelah perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran paired storytelling pada pembelajaran menyimak cerita memperoleh hasil yang lebih tinggi. Sehingga dapat dikatakan pembelajaran dengan model pembelajaran paired storytelling memberikan kesempatan kepada siswa untuk menuangkan ide, menarik perhatian siswa, termotivasi dalam proses pembelajaran serta dapat dijadikan sebagai sumber belajar. Hasil penelitian ini juga didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Erwan Puji Rahayu pada tahun 2015 dengan judul AuPeningkatan Keterampilan Menyimak Dongeng Melalui Model Paired Storytelling Dengan Media Wayang Kartun Pada Siswa Kelas II SD Ngebel Tamantirto Kasihan BantulAy. Penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang dilaksanakan yaitu persamaannya terletak pada keterampilan berbahasa dan model pembelajaran yang diteliti,yaitu kerampilan menyimak cerita melalui model pembelajaran paired storytelling sedangkan perbedaannya terletak pada jenis penelitian dan media pembelajaran yang dilakukan selama penelitian yaitu penelitian eksperimen 56 tanpa menggunakan media tambahan dan dalam penelitian Erwan melaksanakan PTK dengan berbantuan media wayang kartun. PENUTUP Berdasakan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran paired storytelling efektif digunakan dalam pembelajaran keterampilan menyimak cerita siswa kelas V SDN 167 Buntu Dama Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang. Keterampilan menyimak cerita siswa kelas V SDN 167 Buntu Dama Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang setelah menggunakan model pembelajaran paired storytelling efektif digunakan. Jadi keterampilan menyimak cerita dengan model pembelajaran paired storytelling dikategorikan tuntas dengan nilai rata-rata 83. Hasil secara inferensial, memperlihatkan terdapat pengaruh penggunaan model pembelajaran paired storytelling terhadap keterampilan menyimak cerita . Hal ini dapat dilihat dari perhitungan dengan menggunakan analisis uji t. Dari hasil analisis diperoleh t Hitung 14. 339 dan t tabel 1,721 maka diperoleh t Hitung > t Tabel atau 14. 339 > 1,721. dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Ini berarti bahwa penggunaan model pembelajaran paired storytelling efektif digunakan dalam pembelajaran keterampilan menyimak cerita siswa kelas V SDN 167 Buntu Dama Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang. DAFTAR PUSTAKA