Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Pelatihan dan Pendampingan Integrasi HOTS dalam Pembelajaran Kebijakan Fiskal bagi Guru Ekonomi MGMP Kota Tangerang. Provinsi Banten Rakhmat Prabowo*1. Eeng Ahman2. Ikaputera Waspada3. Rahma Andriani4. Saskia Nurul Fadhillah5. Aisy Azzahra6 1,2,3,4,5,6Pendidikan Ekonomi. Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. Universitas Pendidikan Indonesia. Indonesia *e-mail: rakhmatp17@upi. Abstrak MGMP Ekonomi Kota Tangerang menghadapi keterbatasan dalam mengintegrasikan HOTS dan mengontekstualisasikan materi kebijakan fiskal dalam pembelajaran. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memperkuat kapasitas guru melalui pelatihan dan pendampingan implementatif. Metode yang digunakan meliputi analisis kebutuhan, workshop penguatan materi, pendampingan penyusunan perangkat ajar, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test serta penilaian kertas kerja. Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman guru dan perubahan praktik pembelajaran, ditandai dengan kemampuan menyusun soal analitis dan studi kasus kontekstual. Program ini berdampak pada meningkatnya kesiapan pedagogis guru dalam menerapkan pembelajaran berbasis HOTS. Kata Kunci: APBN. HOTS. Kebijakan Fiskal. Pelatihan Guru. Pendampingan Abstract The Tangerang City Economics MGMP faces limitations in integrating HOTS and contextualizing fiscal policy material in learning. This community service activity aims to strengthen teacher capacity through training and implementative mentoring. The methods used include needs analysis, material reinforcement workshops, mentoring in the preparation of teaching tools, and evaluation through pre-tests and post-tests as well as paper assessments. The results show an increase in teachers' understanding and changes in learning practices, marked by the ability to compile analytical questions and contextual case studies. This program has an impact on increasing teachers' pedagogical readiness in applying HOTS-based learning. Keywords: Fiscal Policy. HOTS. Mentoring. State Budget. Teacher Training PENDAHULUAN Peningkatan kualitas pembelajaran ekonomi di tingkat sekolah menengah sangat ditentukan oleh kapasitas guru dalam memahami materi dan mengelola proses pembelajaran secara kontekstual. Dalam forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), guru memiliki ruang kolaboratif untuk saling berbagi praktik, memperbarui pemahaman materi, serta menyesuaikan strategi pembelajaran dengan tuntutan kurikulum. Namun demikian, efektivitas MGMP sangat bergantung pada program penguatan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan nyata guru. Hasil komunikasi awal dan pemetaan kebutuhan yang dilakukan bersama pengurus MGMP Ekonomi SMA Kota Tangerang menunjukkan adanya beberapa permasalahan utama. Pertama, terdapat variasi penguasaan guru terhadap materi esensial ekonomi, khususnya pada topik kebijakan fiskal dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebagian guru masih menyampaikan materi secara konseptual dan berbasis hafalan, sehingga belum sepenuhnya mengaitkan kebijakan fiskal dengan data aktual dan konteks ekonomi lokal. Kedua, penerapan pembelajaran berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) belum optimal. Guru masih mengalami kesulitan dalam menyusun soal analitis, merancang studi kasus kontekstual, serta mengembangkan rubrik penilaian yang mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa implementasi HOTS dalam pembelajaran ekonomi masih menghadapi tantangan pada aspek desain asesmen, kesiapan pedagogis guru, serta kemampuan mengintegrasikan konteks aktual ke dalam soal analitis (Sari et al. , 2025. Acheampong, 2. P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Selain itu, penguatan profesionalisme guru melalui komunitas belajar seperti MGMP dan forum kolaboratif terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis analisis dan refleksi praktik (Soraya, 2022. Thoharudin et al. , 2. Kondisi tersebut semakin menantang mengingat Kota Tangerang merupakan salah satu pusat pertumbuhan industri dan jasa di Provinsi Banten (BPS Kota Tangerang, 2. Karakteristik wilayah yang dinamis menuntut pembelajaran ekonomi yang lebih kontekstual dan responsif terhadap isu-isu aktual. Di sisi lain, keterbatasan pelatihan yang bersifat praktis dan berkelanjutan menyebabkan guru belum memperoleh pendampingan yang cukup dalam mengintegrasikan materi kebijakan fiskal dengan pendekatan HOTS secara aplikatif di kelas. Beberapa program pelatihan guru telah menunjukkan bahwa pendampingan yang terstruktur dan berbasis praktik mampu meningkatkan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran yang lebih analitis (Widana, 2020. Sari & Putra, 2. Namun, model pendampingan yang berfokus pada integrasi materi kebijakan fiskal dengan strategi HOTS secara spesifik belum dilaksanakan secara sistematis di lingkungan MGMP Ekonomi Kota Tangerang. Model pelatihan berbasis praktik dan pendampingan berkelanjutan dinilai lebih efektif dibandingkan pelatihan satu arah karena memungkinkan terjadinya refleksi profesional dan perbaikan berkelanjutan dalam praktik pembelajaran (Pujiastuti, 2024. Hasmidyani, 2. Pendekatan ini juga sejalan dengan temuan bahwa coaching clinic dan lesson study mampu meningkatkan kompetensi pedagogis guru secara lebih aplikatif (Murad et al. , 2022. Agustina. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang tidak hanya memberikan penguatan materi, tetapi juga mendampingi guru dalam menyusun perangkat ajar dan instrumen evaluasi yang aplikatif. Berdasarkan permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian ini dirancang dalam bentuk pelatihan dan pendampingan integratif yang bertujuan untuk: . memperkuat pemahaman guru terhadap materi kebijakan fiskal dan APBN secara kontekstual, serta . meningkatkan kapasitas guru dalam mengembangkan pembelajaran dan instrumen penilaian berbasis HOTS. Melalui pendekatan: workshop partisipatif dan pendampingan implementatif, program ini diharapkan dapat mendorong perubahan praktik pembelajaran ekonomi di kelas serta memperkuat peran MGMP sebagai komunitas belajar profesional yang berkelanjutan. METODE Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dilaksanakan melalui kemitraan antara tim dosen dan MGMP Ekonomi SMA Kota Tangerang. Provinsi Banten. Mitra kegiatan berjumlah 47 guru ekonomi yang berasal dari SMA negeri dan swasta di Kota Tangerang. Program dilaksanakan pada 25 September 2025 di Universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS) Tangerang. Desain Kegiatan Kegiatan dirancang menggunakan pendekatan pelatihan partisipatif dan pendampingan Pendekatan ini menekankan pada transfer pengetahuan yang disertai praktik langsung, diskusi reflektif, serta umpan balik berkelanjutan terhadap perangkat pembelajaran yang disusun guru. Model ini dipilih untuk memastikan bahwa penguatan materi tidak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi berlanjut pada perubahan praktik pembelajaran di kelas. Pendekatan ini juga mempertimbangkan karakteristik guru sebagai pembelajar dewasa yang memiliki pengalaman dan konteks sekolah yang berbeda-beda. Oleh karena itu, proses pelatihan dirancang fleksibel dan dialogis, sehingga peserta dapat menyesuaikan materi dan praktik yang diperoleh dengan kondisi nyata di kelas masing-masing. Dengan cara ini, kegiatan tidak hanya memperkuat pemahaman teoritis, tetapi juga membangun kesiapan guru untuk mengimplementasikan hasil pelatihan secara realistis dan berkelanjutan dalam pembelajaran Pendekatan partisipatif dalam pelatihan guru telah banyak direkomendasikan dalam studi pengembangan profesional karena mampu meningkatkan keterlibatan peserta serta memperkuat transfer praktik ke kelas secara nyata (Ganendra et al. , 2. Dengan keterlibatan aktif dalam proses refleksi dan penyusunan perangkat ajar, guru tidak hanya memahami konsep P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. HOTS secara teoritis. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan dilaksanakan dalam empat tahapan utama sebagai berikut: Analisis Kebutuhan Tahap awal dilakukan untuk memetakan kondisi dan kebutuhan mitra. Analisis kebutuhan dilaksanakan melalui: - Kuesioner tertutup untuk mengidentifikasi tingkat penguasaan materi kebijakan fiskal dan pemahaman HOTS. - Wawancara singkat dengan perwakilan pengurus MGMP. - Diskusi awal untuk menggali kendala pembelajaran yang sering dihadapi guru. - Data dianalisis secara deskriptif untuk menentukan fokus materi pelatihan dan bentuk pendampingan yang sesuai. Pelatihan Penguatan Materi Tahap ini berupa workshop interaktif yang berfokus pada: - Penguatan materi kebijakan fiskal dan APBN berbasis data aktual. - Strategi integrasi Higher Order Thinking Skills (HOTS) dalam pembelajaran ekonomi. - Penyusunan soal analitis dan studi kasus kontekstual. - Penyusunan rubrik penilaian berbasis HOTS. Metode pelatihan meliputi paparan materi, diskusi kelompok, analisis contoh kasus, dan praktik penyusunan perangkat ajar secara langsung. Pendampingan Penyusunan Perangkat Pembelajaran Setelah sesi pelatihan, peserta didampingi dalam: - Mengembangkan soal berbasis analisis dan evaluasi. - Menyusun kertas kerja . - Merancang rubrik penilaian yang mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi. Pendampingan dilakukan melalui diskusi kelompok kecil dan umpan balik langsung dari tim Evaluasi dan Refleksi Evaluasi dilakukan untuk mengukur dampak kegiatan terhadap mitra melalui: - Pre-test dan post-test untuk melihat peningkatan pemahaman materi. - Penilaian kualitas perangkat pembelajaran yang dihasilkan guru. - Refleksi bersama untuk mengidentifikasi perubahan praktik dan hambatan implementasi. Hasil evaluasi dianalisis secara deskriptif untuk melihat tren peningkatan dan perubahan kapasitas pedagogis guru. Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan kegiatan meliputi: - Meningkatnya pemahaman guru terhadap materi kebijakan fiskal dan APBN. - Kemampuan guru menyusun soal dan instrumen penilaian berbasis HOTS. - Tersusunnya perangkat pembelajaran kontekstual yang siap diimplementasikan. Gambar 1. Tahapan Pelaksanaan Program P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian ini berfokus pada penguatan kapasitas profesional guru ekonomi melalui pelatihan dan pendampingan integratif. Hasil kegiatan tidak hanya dilihat dari peningkatan pengetahuan, tetapi juga dari perubahan praktik pembelajaran yang dilakukan guru setelah mengikuti program. Pendekatan ini dipilih karena karakter pengabdian kepada masyarakat menekankan pada perubahan kapasitas dan praktik nyata mitra, bukan semata-mata pada capaian akademik. Oleh karena itu, keberhasilan kegiatan tidak hanya diukur dari skor evaluasi, tetapi juga dari keterlibatan aktif peserta selama pelatihan, kualitas diskusi reflektif, serta kemampuan guru dalam menghasilkan perangkat pembelajaran yang lebih kontekstual. Indikator perubahan tersebut diamati melalui dinamika partisipasi, hasil kertas kerja, dan umpan balik yang disampaikan peserta selama sesi refleksi bersama. Peningkatan Pemahaman Materi Kebijakan Fiskal dan APBN Berdasarkan hasil evaluasi awal, sebagian guru telah memiliki pemahaman konseptual yang cukup baik mengenai kebijakan fiskal dan APBN. Namun, materi masih cenderung disampaikan secara deskriptif dan belum sepenuhnya dikaitkan dengan data aktual maupun konteks ekonomi lokal. Gambar 2. Materi APBN Gambar 3. Materi Kebijakan Fiskal Gambar 4. Penyampaian Materi Gambar 5. Dokumentasi Kegiatan Dalam diskusi awal, beberapa guru menyampaikan bahwa keterbatasan waktu pembelajaran sering membuat mereka memilih pendekatan penyampaian materi yang lebih ringkas dan berbasis buku teks. Akibatnya, siswa kurang memperoleh kesempatan untuk mengeksplorasi isu-isu ekonomi aktual yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan mereka. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan utama bukan pada kurangnya materi, melainkan pada strategi pengemasan materi agar lebih aplikatif dan relevan. Setelah pelatihan, terjadi peningkatan rata-rata skor post-test dibandingkan pre-test. Meskipun peningkatan tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik, hasil ini mengindikasikan adanya penguatan pemahaman materi, khususnya dalam aspek analisis kebijakan dan interpretasi data APBN. Lebih penting dari sekadar angka, diskusi reflektif menunjukkan bahwa guru mulai memahami APBN sebagai instrumen kebijakan yang berdampak pada kehidupan masyarakat, bukan sekadar daftar pos anggaran yang harus dihafal. P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Pada sesi refleksi, guru menyampaikan bahwa pendekatan berbasis data aktual memberikan perspektif baru dalam mengajarkan materi fiskal. Mereka mulai menyadari bahwa pembahasan APBN dapat dikaitkan dengan isu-isu yang sering muncul di media, seperti subsidi energi, pembangunan infrastruktur, atau bantuan sosial. Dengan demikian, pembelajaran tidak lagi berhenti pada aspek konseptual, tetapi berkembang menjadi diskusi yang lebih kritis dan Perubahan ini terlihat dari kemampuan guru dalam mengembangkan studi kasus berbasis data aktual, seperti analisis dampak belanja infrastruktur terhadap kesempatan kerja atau implikasi defisit anggaran terhadap stabilitas ekonomi. Pendekatan ini menunjukkan pergeseran dari pembelajaran berbasis hafalan menuju pembelajaran berbasis analisis. Pergeseran tersebut juga tercermin dari meningkatnya partisipasi guru dalam merancang skenario pembelajaran berbasis masalah . roblem-based learnin. Dalam latihan kelompok, guru mampu mengidentifikasi isu ekonomi aktual dan menyusunnya menjadi pemicu diskusi kelas. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan tidak hanya meningkatkan pemahaman materi, tetapi juga membuka ruang kreativitas pedagogis yang sebelumnya belum banyak dieksplorasi. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa integrasi data aktual dalam pembelajaran ekonomi dapat meningkatkan kualitas diskusi kelas dan memperkuat kemampuan analitis siswa (Acheampong, 2. Studi lain juga menegaskan bahwa pelatihan berbasis praktik berkontribusi terhadap peningkatan kemampuan guru dalam menyusun instrumen HOTS secara kontekstual (Sari et al. , 2. Penguatan Kapasitas dalam Integrasi HOTS Salah satu fokus utama kegiatan adalah meningkatkan kemampuan guru dalam mengintegrasikan Higher Order Thinking Skills (HOTS) ke dalam pembelajaran ekonomi. Pada tahap awal, sebagian guru masih kesulitan membedakan soal tingkat pemahaman dengan soal tingkat analisis atau evaluasi. Instrumen evaluasi yang digunakan di kelas masih didominasi oleh soal pilihan ganda berbasis definisi. Sebagian guru juga mengakui bahwa mereka belum terbiasa menyusun soal berbasis analisis karena khawatir siswa akan mengalami kesulitan. Kekhawatiran ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk memperkuat kepercayaan diri guru dalam merancang pembelajaran yang menantang namun tetap terarah. Melalui pendampingan, guru didorong untuk memahami bahwa kemampuan berpikir kritis siswa justru berkembang ketika diberikan ruang untuk menganalisis dan mengevaluasi permasalahan ekonomi. Melalui sesi praktik dan pendampingan, guru dilatih untuk: - Merumuskan pertanyaan berbasis analisis sebab-akibat. - Mengembangkan studi kasus kontekstual. - Menyusun rubrik penilaian yang mengukur kemampuan argumentasi dan penalaran Hasil kertas kerja yang dikumpulkan menunjukkan adanya peningkatan kualitas perangkat pembelajaran. Guru mulai menyusun soal yang menuntut siswa menganalisis data, mengevaluasi kebijakan, serta memberikan solusi alternatif terhadap permasalahan ekonomi. Rubrik penilaian yang disusun juga lebih terstruktur dan mengukur aspek berpikir kritis secara lebih jelas. Kualitas perangkat yang dihasilkan menunjukkan bahwa guru mulai memahami pentingnya keselarasan antara tujuan pembelajaran, aktivitas kelas, dan instrumen penilaian. Kesadaran ini merupakan langkah penting dalam membangun pembelajaran yang lebih sistematis dan bermakna. Guru tidak lagi memisahkan antara materi dan evaluasi, melainkan melihat keduanya sebagai satu kesatuan dalam proses pembelajaran. Perubahan ini menunjukkan bahwa pendampingan langsung dan umpan balik terarah lebih efektif dalam membangun kepercayaan diri guru dibandingkan pelatihan satu arah. Peningkatan kualitas perangkat pembelajaran tersebut konsisten dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pendampingan implementatif dan umpan balik terarah mampu meningkatkan kepercayaan diri serta kompetensi asesmen guru (Pujiastuti, 2024. Jupri, 2. P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Hal ini memperkuat argumentasi bahwa perubahan praktik lebih efektif dicapai melalui proses kolaboratif dibandingkan pelatihan berbasis ceramah semata. Dampak terhadap Praktik Pembelajaran dan Komunitas MGMP Selain peningkatan kemampuan individual, kegiatan ini juga berdampak pada dinamika kolaborasi di lingkungan MGMP. Diskusi kelompok selama workshop mendorong guru untuk saling berbagi pengalaman dan tantangan implementasi HOTS di sekolah masing-masing. Proses ini memperkuat fungsi MGMP sebagai komunitas belajar profesional. Selama diskusi kelompok, terjadi pertukaran praktik baik antar guru dari sekolah yang Guru dari sekolah negeri berbagi pengalaman mengenai pengelolaan kelas besar, sementara guru dari sekolah swasta berbagi strategi pembelajaran yang lebih fleksibel. Interaksi ini memperkaya wawasan peserta dan memperkuat solidaritas profesional dalam forum MGMP. Beberapa guru menyampaikan bahwa mereka mulai merevisi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)/Modul Ajar dengan memasukkan studi kasus aktual dan aktivitas diskusi berbasis data. Pendekatan ini dinilai lebih menarik bagi siswa dan membantu mengaitkan konsep ekonomi dengan realitas di sekitar mereka. Beberapa guru menyampaikan bahwa siswa menunjukkan respons yang lebih aktif ketika diberikan tugas berbasis studi kasus dibandingkan soal konvensional. Meskipun kegiatan ini belum mengukur dampak langsung terhadap hasil belajar siswa, indikasi awal tersebut menunjukkan potensi perubahan positif dalam dinamika pembelajaran di kelas. Hambatan yang muncul selama pendampingan antara lain keterbatasan waktu pembelajaran dan variasi kemampuan siswa. Namun, melalui diskusi reflektif, guru menemukan alternatif strategi seperti penggunaan data sederhana, pembagian tugas analisis kelompok, dan penyesuaian tingkat kompleksitas soal. Penguatan MGMP sebagai komunitas belajar profesional juga didukung oleh studi yang menyatakan bahwa kolaborasi guru dalam forum komunitas praktik berperan penting dalam menjaga keberlanjutan inovasi pembelajaran (Rizqi, 2024. Laia, 2. Interaksi reflektif antar guru memungkinkan terjadinya pertukaran praktik baik yang berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran di tingkat sekolah. Refleksi Program dan Implikasi Keberlanjutan Hasil kegiatan menunjukkan bahwa kebutuhan utama guru bukan hanya pada penguatan konten pengetahuan, tetapi pada kemampuan menerjemahkan pengetahuan tersebut ke dalam praktik pembelajaran yang menantang dan kontekstual. Oleh karena itu, pendampingan implementatif menjadi komponen penting dalam program ini. Selain evaluasi kualitatif, kegiatan ini juga didukung oleh pengukuran kuantitatif untuk memberikan gambaran umum mengenai perubahan pemahaman guru. Pengukuran ini dimaksudkan sebagai alat refleksi, bukan sebagai dasar pengujian hipotesis eksperimental. Oleh karena itu, hasil analisis statistik ditafsirkan secara proporsional dalam konteks penguatan kapasitas, bukan semata-mata pada signifikansi matematis. Tabel 1. Hasil Analisis Data Anova: Single Factor SUMMARY Groups Pre-test Post-test ANOVA Source of Variation Between Groups Within Groups Total Count 8393,75 8793,75 P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Sum Average 87,188 92,188 Variance 162,802 107,964 135,383 2,955 P-value 0,091 F crit 3,996 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Meskipun peningkatan kuantitatif belum signifikan secara statistik, transformasi kualitatif dalam cara guru merancang pembelajaran menjadi capaian utama kegiatan. Tersusunnya kertas kerja dan perangkat ajar berbasis HOTS merupakan luaran konkret yang dapat direplikasi dalam pertemuan MGMP selanjutnya. Program ini juga memperlihatkan bahwa pendekatan kolaboratif dan reflektif lebih efektif dalam membangun kapasitas profesional guru dibandingkan pelatihan yang bersifat satu arah. depan, model pendampingan ini dapat dikembangkan dalam bentuk lesson study atau forum praktik berbagi berkelanjutan di lingkungan MGMP. Keberlanjutan program menjadi aspek penting agar dampak kegiatan tidak berhenti pada satu kali pertemuan. Komitmen MGMP untuk mengagendakan sesi berbagi praktik dan refleksi berkala menunjukkan bahwa kegiatan ini telah menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya pengembangan profesional berkelanjutan. Dengan demikian, pengabdian ini tidak hanya menghasilkan luaran berupa perangkat ajar, tetapi juga memperkuat budaya kolaboratif di antara guru ekonomi Kota Tangerang. KESIMPULAN Kegiatan pelatihan dan pendampingan integrasi HOTS dalam pembelajaran kebijakan fiskal bagi guru ekonomi MGMP Kota Tangerang. Provinsi Banten, secara umum telah mencapai tujuan yang direncanakan. Program ini berhasil memperkuat pemahaman guru terhadap materi kebijakan fiskal dan APBN secara lebih kontekstual, serta meningkatkan kapasitas pedagogis dalam mengembangkan soal, studi kasus, dan instrumen penilaian berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS). Keberhasilan kegiatan tidak hanya ditunjukkan oleh adanya peningkatan skor pemahaman secara deskriptif, tetapi terutama oleh perubahan praktik pembelajaran yang mulai dilakukan guru. Guru menunjukkan kemampuan menyusun perangkat ajar berbasis analisis, mengintegrasikan data aktual dalam diskusi kelas, serta merancang rubrik penilaian yang mengukur kemampuan berpikir kritis siswa. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat fungsi MGMP sebagai komunitas belajar profesional melalui proses diskusi, refleksi, dan berbagi praktik baik antar guru. Meskipun peningkatan kuantitatif belum signifikan secara statistik, transformasi kualitatif dalam pendekatan pembelajaran menjadi capaian utama kegiatan ini. Luaran berupa kertas kerja dan perangkat ajar berbasis HOTS menjadi aset bersama yang dapat direplikasi dan dikembangkan pada pertemuan MGMP berikutnya. Sebagai tindak lanjut, diperlukan pendampingan berkelanjutan dalam bentuk lesson study, forum refleksi rutin, atau coaching clinic agar perubahan praktik pembelajaran dapat semakin menguat dan berdampak lebih luas. Dengan keberlanjutan tersebut, kegiatan pengabdian ini diharapkan mampu mendukung pengembangan profesional guru ekonomi secara sistematis dan berkelanjutan di Kota Tangerang. Rekomendasi pendampingan berkelanjutan ini sejalan dengan temuan studi terbaru yang menekankan pentingnya lesson study dan coaching berbasis komunitas dalam menjaga konsistensi perubahan praktik pembelajaran guru (Murad et , 2022. Agustina, 2. DAFTAR PUSTAKA