Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2963-2969 Motivasi Petani dalam Usahatani Padi di Kecamatan Singkawang Utara Kota Singkawang Farmers' Motivation in Rice Farming in Singkawang Utara Subdistrict. Singkawang City Restu Dwi Wardhana*. Novira Kusrini. Josua Parulian H Universitas Tanjungpura Jl. Prof. Dr. Hadari Nawawi. Pontianak. Kalimantan Barat. Indonesia, 78124 *Email: Restudw48@gmail. (Diterima 24-04-2025. Disetujui 04-07-2. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi motivasi petani dalam usaha tani padi di Kecamatan Singkawang Utara. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif, dengan data primer yang dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan kuesioner. Analisis menggunakan teori ERG (Existence. Relatedness. Growt. dari Alderfer . Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas lahan memiliki hubungan positif tetapi tidak signifikan dengan motivasi petani dalam dimensi hubungan sosial (Relatednes. , sementara status kepemilikan lahan dan pendapatan usahatani tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap dimensi motivasi lainnya. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun kepemilikan lahan memberikan rasa aman ekonomi, hal tersebut tidak cukup untuk meningkatkan inovasi dan pengembangan diri petani. Dukungan non-ekonomi, seperti pelatihan dan akses teknologi, diperlukan untuk meningkatkan motivasi petani. Kata kunci: Motivasi petani. Usaha tani padi. ERG ABSTRACT This study aims to analyze the factors influencing farmers' motivation in rice farming in Singkawang Utara Subdistrict. Singkawang City. The approach used is quantitative, with primary data collected through structured interviews and questionnaires. The analysis applies Alderfer's . ERG (Existence. Relatedness. Growt. The results show that land size has a positive but insignificant relationship with farmers' motivation in the social relationship (Relatednes. dimension, while land ownership status and farm income have no significant impact on other motivational dimensions. These findings indicate that although land ownership provides economic security, it is insufficient to enhance farmers' innovation and self-development. Non-economic support, such as training and access to technology, is necessary to improve farmers' key in increasing the production and usefulness of aloe vera farming in North Pontianak District. Keywords: Farmers' motivation. Rice farming. ERG PENDAHULUAN Pertanian padi merupakan salah satu sektor utama yang menopang perekonomian dan ketahanan pangan di Kecamatan Singkawang Utara. Kota Singkawang. Sebagai daerah agraris, sektor ini memiliki peran vital dalam menyediakan pasokan beras sebagai makanan pokok masyarakat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, jumlah petani padi terus mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kota Singkawang, jumlah petani padi menurun dari 1. 200 petani pada tahun 2019 menjadi hanya 800 petani pada tahun 2024. Penurunan ini memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan sektor pertanian, ekonomi lokal, dan ketahanan pangan Berbagai faktor memengaruhi penurunan jumlah petani, termasuk keterbatasan lahan, rendahnya pendapatan, mahalnya biaya operasional, dan ketidakstabilan harga jual hasil pertanian. Selain itu, kurangnya akses terhadap teknologi modern serta dukungan pelatihan menjadi kendala besar bagi petani. Susilowati . menyatakan bahwa sektor pertanian sering dipersepsikan sebagai pekerjaan yang tidak menjanjikan kesejahteraan, sehingga generasi muda cenderung memilih bekerja di sektor non-pertanian yang dianggap lebih menjanjikan secara finansial. Hal tersebut diperkuat oleh Republika . , yang mencatat bahwa profesi petani semakin kurang diminati karena dianggap hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar, sementara risiko usaha tani tetap tinggi Motivasi Petani dalam Usahatani Padi di Kecamatan Singkawang Utara Kota Singkawang Restu Dwi Wardhana. Novira Kusrini. Josua Parulian H akibat cuaca ekstrem, seperti banjir dan kekeringan. Fenomena ini juga dapat dilihat dalam konteks perubahan sosial dan demografis. Generasi muda di Kecamatan Singkawang Utara lebih memilih pekerjaan di sektor industri atau jasa yang menawarkan pendapatan lebih stabil dan prospek karier yang lebih baik. Akibatnya, banyak petani tua yang pensiun tanpa ada generasi penerus yang siap melanjutkan usaha tani mereka. Hal tersebut menciptakan kekosongan regenerasi petani, yang pada akhirnya mengancam keberlangsungan praktik pertanian di wilayah tersebut. Dalam konteks motivasi petani. Teori ERG (Existence. Relatedness. Growt. yang dikembangkan oleh Alderfer . memberikan kerangka kerja yang relevan untuk memahami tantangan ini. Teori ini mengelompokkan kebutuhan manusia ke dalam tiga kategori: kebutuhan eksistensi . endapatan dan keamanan panga. , kebutuhan hubungan . ukungan sosia. , dan kebutuhan pertumbuhan . esempatan untuk belajar dan berkemban. Berbeda dengan teori hierarki Maslow yang kaku. Teori ERG menekankan bahwa kebutuhan-kebutuhan ini dapat muncul secara bersamaan dan tidak harus dipenuhi secara hierarkis. Konsep frustrasi-regresi yang diperkenalkan oleh Alderfer menunjukkan bahwa jika kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi tidak terpenuhi, individu dapat kembali fokus pada pemenuhan kebutuhan tingkat lebih rendah. Dalam konteks petani padi, kebutuhan eksistensi sering kali tidak terpenuhi karena pendapatan yang rendah, sementara kebutuhan hubungan dan pertumbuhan terhambat oleh kurangnya dukungan sosial serta keterbatasan akses terhadap teknologi dan pelatihan (Alderfer, 1. Penurunan jumlah petani padi ini menjadi isu mendesak yang perlu ditangani, karena berdampak pada hilangnya pengetahuan dan keterampilan tradisional di sektor pertanian, serta ancaman terhadap ketahanan pangan lokal. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis tingkat motivasi petani padi dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi motivasi mereka dalam menghadapi berbagai tantangan, seperti alih fungsi lahan, ketidakstabilan harga hasil panen, dan kurangnya dukungan dalam pengembangan kapasitas petani. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dan korelasional. Pendekatan deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik petani dan tingkat motivasi mereka dalam usaha tani padi. Sementara itu, pendekatan korelasional digunakan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik petani dengan motivasi mereka berdasarkan teori ERG (Existence. Relatedness. Growt. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani padi di Kecamatan Singkawang Utara. Kota Singkawang, yang berjumlah 800 orang. Data ini diperoleh dari Dinas Pangan. Pertanian, dan Perikanan Kota Singkawang pada tahun 2023. Populasi tersebut terdiri dari petani yang tergabung dalam 14 kelompok tani dengan komoditas unggulan padi sawah. Sampel diambil menggunakan teknik probability sampling, dilanjutkan dengan simple random sampling. Perhitungan jumlah sampel menggunakan rumus Taro Yamane dengan presisi . sebesar 10%. Rumus yang digunakan adalah: ycu=ycA ycA . 2 1 Dengan ketetapan: n = jumlah sampel. N = jumlah populasi . D = presisi . Hasil perhitungan = 88,8 Jumlah sampel dibulatkan menjadi 89 responden. Analisis ini digunakan untuk menggambarkan karakteristik petani dan tingkat motivasi mereka berdasarkan hasil pengukuran skala Likert. Data disajikan dalam bentuk tabulasi distribusi responden dan kategori motivasi. Analisis korelasi rank spearman digunakan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik petani . mur, pendidikan, pendapatan, dll. ) dengan motivasi mereka dalam usaha tani padi. Korelasi dinyatakan dalam bentuk koefisien yang mengindikasikan arah dan kekuatan hubungan antar variabel. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2963-2969 HASIL DAN PEMBAHASAN Setiap petani memiliki motivasi berbeda-beda sebagai pendorong dalam berusahatani. Motivasi ini terdiri atas kebutuhan keberadaan . , kebutuhan hubungan . , dan kebutuhan perkembangan . Ketiga aspek tersebut merupakan bagian dari kebutuhan manusia yang dipenuhi melalui aktivitas berusahatani. Dalam penelitian ini, motivasi petani diukur melalui pernyataan yang diajukan kepada responden, diikuti dengan penghitungan skor dan pengelompokkan dalam kategori rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi untuk setiap indikator. Kategori tingkat motivasi berdasarkan rata-rata indikator dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kategori Tingkat Motivasi Berdasarkan Rata-rata Indikator Pengukuran Kategori Indikator 0,01Ae1,00 Rendah 1,01Ae2,00 Sedang 2,01Ae3,00 Tinggi 3,01Ae4,00 Sangat Tinggi Sumber: Data Primer (Diola. Motivasi petani dalam memenuhi kebutuhan keberadaan, hubungan, dan pertumbuhan di Kecamatan Singkawang Utara diuraikan sebagai berikut: Kebutuhan Keberadaan (Existenc. Kebutuhan keberadaan merupakan kebutuhan dasar manusia, seperti makanan, air, udara, dan kondisi kerja yang aman. Motivasi keberadaan diukur melalui lima indikator: pemenuhan kebutuhan konsumsi, tempat tinggal, biaya pendidikan, modal usaha baru, dan keperluan mendadak. Hasil pengukuran ditunjukkan pada Tabel 2. Tabel 2. Kategori Kebutuhan Keberadaan Berdasarkan Rata-rata Indikator Indikator Rata-rata Skor Kategori Usaha memenuhi kebutuhan konsumsi 2,79 Tinggi Usaha memenuhi kebutuhan tempat tinggal 2,64 Tinggi Usaha memenuhi biaya pendidikan 2,54 Tinggi Usaha sebagai modal usaha baru 2,65 Tinggi Usaha memenuhi keperluan mendadak 2,64 Tinggi Jumlah 13,26 Tinggi Rata-rata Skor 2,65 Tinggi Sumber: Data Primer . Berdasarkan Tabel 2, tingkat keberadaan berada dalam kategori tinggi . ata-rata skor 2,. Hal tersebut menunjukkan bahwa petani menganggap budidaya padi sebagai cara utama memenuhi kebutuhan dasar, terutama konsumsi dan pendidikan keluarga. Namun, luas lahan menjadi faktor penentu kesejahteraan petani. Kebutuhan Hubungan (Relatednes. Kebutuhan hubungan mencerminkan motivasi sosial manusia untuk berinteraksi, berkomunikasi, dan membangun kemitraan. Hasil analisis kebutuhan hubungan ditunjukkan pada Tabel 3. Tabel 3. Tingkat Kebutuhan Hubungan di Kecamatan Singkawang Utara Indikator Rata-rata Skor Kategori Membuka kesempatan bekerjasama dengan orang Tinggi Memungkinkan petani lebih sering berinteraksi Tinggi Memungkinkan petani membantu petani lain 2,75 Tinggi Usaha untuk dihargai oleh masyarakat 2,43 Tinggi Jumlah 10,38 Tinggi Rata-rata Skor Tinggi Sumber: Data Primer . Motivasi Petani dalam Usahatani Padi di Kecamatan Singkawang Utara Kota Singkawang Restu Dwi Wardhana. Novira Kusrini. Josua Parulian H Berdasarkan Tabel 3, kebutuhan hubungan berada dalam kategori tinggi . ata-rata skor 2,. Budidaya padi mempererat hubungan sosial melalui kerja sama kelompok tani, tukar informasi, dan saling membantu, misalnya dalam pemasaran hasil panen. Kebutuhan Pertumbuhan (Growt. Kebutuhan pertumbuhan berkaitan dengan pengembangan potensi individu. Analisis kebutuhan pertumbuhan ditunjukkan pada Tabel 4. Tabel 4. Tingkat Kebutuhan Pertumbuhan di Kecamatan Singkawang Utara Indikator Rata-rata Skor Kategori Usaha mengikuti pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan 2,27 Tinggi Usaha mengikuti pelatihan untuk meningkatkan keterampilan 2,54 Tinggi Usaha mengikuti penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan 2,65 Tinggi Usaha mengikuti penyuluhan untuk meningkatkan keterampilan 2,37 Tinggi Usaha berkontribusi dalam pertemuan kelompok tani 2,64 Tinggi Jumlah Rata-rata Skor 12,47 Tinggi 2,49 Tinggi Sumber: Data Primer . Tabel 4 menunjukkan bahwa kebutuhan pertumbuhan berada dalam kategori tinggi . ata-rata skor 2,. Petani aktif dalam pelatihan dan penyuluhan untuk meningkatkan keterampilan, meskipun kegiatan tersebut perlu pendekatan inovasi teknologi agar lebih relevan. Maka tingkat motivasi petani dalam usahatani tanaman padi di Kecamatan Singkawang Utara secara keseluruhan total ERG = 01 . ategori tingg. Hasil Analisis Korelasi Rank Spearman Gambar 1. Hasil Uji Faktor Yang Berhubungan dengan Motivasi Petani Usia Hasil analisis menunjukkan bahwa usia tidak memiliki hubungan signifikan terhadap dimensi motivasi petani (E. ERG). Koefisien korelasi sangat lemah dengan nilai p > 0,05. Hal tersebut mengindikasikan bahwa usia bukan faktor penentu utama dalam memengaruhi motivasi petani. Hasil serupa ditemukan oleh Supriyadi . , yang menunjukkan bahwa usia petani tidak berpengaruh signifikan terhadap motivasi mereka dalam pengelolaan lahan. Selain itu, usia sering kali hanya mencerminkan kondisi fisik dan pengalaman hidup tanpa menjelaskan secara langsung orientasi Penelitian oleh Wulandari . di sektor pertanian menunjukkan bahwa usia petani tidak Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2963-2969 signifikan terhadap motivasi, karena motivasi lebih dipengaruhi oleh faktor seperti dukungan eksternal . ubsidi atau pelatiha. Pendidikan Formal Pendidikan formal memiliki hubungan negatif signifikan dengan dimensi Growth . = -0,217, p = 0,. , namun tidak signifikan pada dimensi lainnya. Semakin tinggi pendidikan formal, semakin rendah motivasi petani untuk pengembangan diri. Hal tersebut menunjukkan bahwa petani dengan pendidikan lebih tinggi cenderung memiliki peluang di luar sektor pertanian. Rahmawati et al. juga menemukan bahwa petani dengan pendidikan formal lebih tinggi cenderung lebih memilih pekerjaan di sektor lain yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi. Dalam penelitian annisa . , semakin rendah tingkat pendidikan petani kakao maka semakin tinggi motivasi petani dalam mempertahankan tanaman kakao di Desa Banjaroya Kecamatan Kalibawang Kabupaten Kulon Progo. Pendidikan Nonformal Tidak ditemukan hubungan signifikan antara pendidikan nonformal . eperti pelatihan atau penyuluha. dan semua dimensi motivasi. Pelatihan yang kurang relevan terhadap kebutuhan petani dapat menjadi penyebab rendahnya efektivitas pendidikan nonformal. Setiawan . dalam penelitiannya menemukan bahwa pendidikan nonformal yang dilakukan melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan kepada petani kopi tidak memiliki pengaruh nyata terhadap motivasi Hal tersebut mungkin disebabkan oleh materi atau metode pelatihan yang kurang relevan dengan kebutuhan petani. Halim & Ali . juga menemukan bahwa pelatihan yang kurang interaktif atau tidak relevan sering kali gagal memotivasi petani untuk meningkatkan produktivitas. Maka petani, belum tentu memiliki motivasi yang tinggi. Pendapatan Usahatani Tidak ada hubungan signifikan antara pendapatan usahatani dan semua dimensi motivasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendapatan hanya memenuhi kebutuhan dasar petani tanpa meningkatkan motivasi intrinsik untuk berkembang. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Sari et . , ditemukan bahwa pendapatan usahatani tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi petani dalam berusahatani tebu. Hal tersebut menunjukkan bahwa tinggi rendahnya pendapatan yang diterima petani tidak mempengaruhi motivasi kebutuhan psikologis mereka, karena petani dengan pendapatan tinggi maupun rendah sama-sama memiliki keinginan untuk dihargai, dihormati, dan diakui oleh masyarakat atau petani lain. Begitu pula dengan Penelitian Suryana et al. juga menunjukkan bahwa pendapatan hanya memengaruhi kebutuhan dasar, seperti memenuhi kebutuhan hidup, tetapi tidak signifikan pada pengembangan usaha tani. Pengalaman Usahatani Hasil Analisis: Tidak ada hubungan signifikan antara pengalaman usahatani dan semua dimensi Hubungan campuran menunjukkan pengalaman saja tidak cukup untuk meningkatkan motivasi tanpa dukungan eksternal. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Khoirunisaka et al. ditemukan bahwa pengalaman usahatani tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi petani dalam penerapan sistem tanam jajar legowo. Hal tersebut ditunjukkan oleh koefisien regresi negatif sebesar -0,018 dengan nilai signifikansi 0,743, yang berarti pengalaman usahatani tidak berpengaruh signifikan terhadap motivasi petani. Luas Lahan Terdapat hubungan positif yang hampir signifikan pada dimensi Relatedness . = 0,201, p = 0,. Petani dengan lahan lebih luas cenderung memiliki kebutuhan sosial yang lebih tinggi, seperti interaksi dengan kelompok tani. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Suyitno et al. menyatakan bahwa petani dengan lahan luas lebih aktif dalam kelompok tani, karena mereka memiliki tanggung jawab ekonomi yang lebih besar dan kebutuhan untuk berinteraksi dengan sesama petani guna meningkatkan efisiensi usahatani. Penelitian oleh Usman dan Yanti . menyatakan bahwa semakin luas lahan yang dimiliki seorang petani, baik itu milik pribadi ataupun bukan, maka akan semakin tinggi motivasi usahatani yang akan dituai petani. Status Kepemilikan Lahan Status kepemilikan lahan tidak memiliki hubungan signifikan dengan dimensi motivasi. Kepemilikan lahan hanya memberikan stabilitas ekonomi tanpa mendorong pengembangan usaha atau inovasi. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Setiawan et al. menunjukkan bahwa meskipun Motivasi Petani dalam Usahatani Padi di Kecamatan Singkawang Utara Kota Singkawang Restu Dwi Wardhana. Novira Kusrini. Josua Parulian H kepemilikan lahan memberikan rasa aman, itu tidak cukup untuk memengaruhi motivasi secara Begitu pula Penelitian oleh Jamil et al. yang menunjukkan bahwa kepemilikan lahan sering kali lebih terkait dengan stabilitas finansial daripada dengan dorongan untuk inovasi. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa meskipun status kepemilikan memberi rasa aman, faktor lain seperti dukungan kebijakan, pendidikan, dan jaringan sosial lebih berperan dalam mempengaruhi motivasi untuk berinovasi. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi petani di Kecamatan Singkawang Utara berada pada kategori tinggi untuk kebutuhan Existence. Relatedness, dan Growth, dengan kebutuhan Existence sebagai yang paling dominan. Sebagian besar faktor seperti usia, pendidikan formal, pendidikan nonformal, pendapatan usahatani, pengalaman usahatani, luas lahan, dan status kepemilikan lahan tidak berhubungan signifikan dengan motivasi petani. Namun, pendidikan formal memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan dimensi Growth, sementara luas lahan hampir signifikan terhadap Relatedness. Secara keseluruhan, faktor-faktor tersebut bukan penentu utama motivasi petani, mengindikasikan bahwa aspek lain seperti akses pelatihan, dukungan sosial, atau kebijakan pemerintah mungkin lebih berpengaruh. DAFTAR PUSTAKA