e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Jurnal Kebidanan. Keperawatan dan Kesehatan (J-BIKES) 2025. Vol. 4 (No. : Halaman : 148-154 Persepsi Bahaya Merokok Pada Remaja Di SMP Negeri 2 Kota Sabang Perception of the Dangers of Smoking Among Adolescents at SMP Negeri 2. Sabang City Noor Aznidar AldaniA. Aida KhairunisaA*. Nasruddin3 1,2*,3Akademi Keperawatan Ibnu Sina. Sabang. Aceh. Indonesia Disubmit: 17 Maret 2025. Diproses: 17 Maret 2025. Diaccept: 30 Maret 2025. Dipublish: 31 Maret 2025 *Corresponding *Corresponding author: E-mail: aida. khairunnisa86@gmail. Abstrak Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa sehingga rentan untuk mencoba banyak hal salah satunya adalah merokok. Persepsi tentang bahaya merokok adalah faktor yang sangat penting dalam pencegahan remaja untuk merokok dimasa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi bahaya merokok pada remaja di SMP Negeri 2 Kota Sabang. Metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan desain deskriptif Responden penelitian sebanyak 139 orang siswa yang terdiri dari kelas VII dan Vi. Penelitian dilakukan pada tanggal 12-15 Juni 2024 dengan teknik total Sampling. Instrument penelitian menggunakan kuisisoner dengan 21 pertanyaan yang terdiri dari masing masing 7 pernyataan kognitif, afektif dan konatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada komponen kognitif berada pada kategori positif sebesar 56,1% sedangkan pada komponen afektif dan konatif berada pada kategori negatif yaitu masing masing sebesar 60,4% dan 56,8%. Persepsi bahaya merokok pada siswa memperlihatkan hasil yang positif secara kognitif dan negatif secara afektif serta konatif. Sehingga perlu meningkatkan pelaksanaan program promosi kesehatan bagi institusi kesehatan terkait untuk mencegah terjadinya perilaku merokok dikalangan remaja SMP. Kata kunci: Persepsi. Bahaya Merokok. Remaja Abstract Adolescence is a transition period from childhood to adulthood so that it is vulnerable to trying many things, one of which is smoking. Perception of the dangers of smoking is a very important factor in preventing adolescents from smoking in the future. This study aims to determine the perception of the dangers of smoking in adolescents at SMP Negeri 2 Kota Sabang. This research method is quantitative research with a simple descriptive design approach. The respondents of the study were 139 students consisting of classes VII and Vi. The study was conducted on June 12-15, 2024 with a total sampling The research instrument used a questionnaire with 21 questions consisting of 7 cognitive, affective and conative statements each. The results of the study showed that the cognitive component was in the positive category of 56. 1% while the affective and conative components were in the negative category, namely 60. 4% and 56. 8% respectively. The perception of the dangers of smoking in students showed positive results cognitively and negative affectively and conatively. So it is necessary to increase the implementation of health promotion programs for related health institutions to prevent smoking behavior among junior high school adolescents. Keywords: Perceptio. Dangers of Smoking. Teenagers DOI: 10. 51849/j-bikes. v%vi%i. Rekomendasi mensitasi : Aldani. NA. Khairunnisa. Nasruddin. Persepsi Bahaya Merokok Pada Remaja Di SMP Negeri 2 Kota Sabang. Jurnal Kebidanan. Keperawatan dan Kesehatan (JBIKES), 4 . : Halaman. e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes PENDAHULUAN Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Masa peralihan ini sering kali menempatkan orang yang terlibat dalam kondisi yang tidak jelas, di mana di satu sisi mereka masih muda, tetapi di sisi lainnya mereka dituntut untuk bersikap seperti orang dewasa (Suryandari, 2. Menurut Sri Rahayu . , periode ini adalah tahap perkembangan dalam hidup seseorang, di mana individu tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai anak-anak, tetapi juga belum bisa dianggap sebagai orang dewasa. Secara mental, remaja sedang berada dalam fase mengeksplorasi diri dan pembentukan identitas. Saya akan mencoba hal-hal baru dalam hidup. Penemuan diri merupakan masa yang penting karena mereka sangat ingin tahu, mengambil risiko dalam tindakannya, seringkali tanpa pemikiran matang sebelumnya (Papalia. Olds, & Jones, 2. Situasi ini sering menempatkan generasi muda pada risiko masalah kesehatan (Stanhope & Lancaster, 2. Banyak gaya hidup yang mulai ditentukan sejak remaja dan banyak pula hal-hal yang berdampak panjang yang kita lakukan sedari remaja, salah satunya adalah merokok. Merokok dikalangan remaja dianggap wajar saat ini, padahal merokok memiliki resiko kesehatan yang tinggi baik untuk perokok pasif maupun Perilaku merokok banyak dijumpai dikalangan remaja khususnya ketika menginjak usia Sekolah Menengah Pertama, salah satunya siswa SMP Negeri 2 Kota Sabang. Hal ini sering dijumpai oleh masyarakat sekitar bahkan oleh pemilik warung yang menjual rokok, dimana mereka membeli, membakar dan menggunakan seragam sekolah, bahkan mereka merokok sambil berjalan pulang ke rumah dan ada juga yang sambil mengendarai sepeda motor. Menurut Tarwoto, dkk . , ada beberapa elemen yang berkontribusi terhadap perilaku merokok. Elemenelemen tersebut termasuk pengaruh dari teman sebaya, memiliki teman yang merupakan perokok di kelompok usia muda, kondisi sosial ekonomi yang kurang menguntungkan, adanya orang tua yang merokok, serta anggota keluarga dan kondisi lingkungan sekolah . yang merokok dan tidak percaya bahwa merokok mengganggu kesehatan. World Health Organization (WHO) mengungkapkan bahwa jumlah kematian akibat rokok mencapai 30%, yang setara dengan 17,3 juta individu. Angka kematian itu diprediksiakan terus bertambah hingga tahun 2030, menjadi total 23,3 juta Aktivitas merokok meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular yang banyak di derita oleh masyarakat di sejumlah negara berpendapatan rendah (WHO, 2. Pada 2015. WHO juga mengeluarkan riset bahwa lebih dari 3,9 juta anak dengan rentang usia 10 tahun hingga 14 tahun menjadi perokok aktif. Sementara itu, aktivitas merokok untuk pertama kalinya dilakukan oleh 239. anak di bawah umur 10 tahun. Selebihnya, terdapat 40 juta anak yang berumur di bawah 5 tahun terpapar asap rokok. WHO peningkatan risiko 20-30% bagi perokok pasif untuk mengalami kanker paru-paru, dan risiko timbulnya penyakit jantung e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes sebanyak 25-35%. Selain itu, merokok menambah kemungkinan tertinggi kedua untuk mengalami kematian dini dan kecacatan setelah hipertensi (Jeanne. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. , jumlah perokok di Indonesia Sejak tahun 2014. Indonesia telah menjelma menjadi negara dengan jumlah perokok di kalangan remaja tertinggi di ASEAN, dengan menyentuh angka 19,4% dibandingkan negara Saat ini, kebiasaan merokok di kalangan remaja Indonesia usia 10-18 tahun semakin meningkat yaitu sebesar 1,9% dari tahun 2013 . ,2%) ke tahun 2018 . ,1%). Sedangkan di Provinsi Aceh sebesar 24,01 % penduduk berusia Ou 10 tahun mengonsumsi rokok setiap hari, sedangkan di tingkat kabupaten kota khususnya kota sabang didapatkan 17,84% (Riskesdas, 2. Salah dikalangan remaja pada umumnya adalah pengaruh dari lingkungan sekitar serta motivasi yang muncul dari diri remaja itu sendiri. Faktor dari dalam diri remaja dapat dilihat dari kajian perkembangan remaja. Salah satu faktor yang menyebabkan perilaku merokok di perbedaan pandangan. Perspektif setiap individu bervariasi berdasarkan harapan, pengalaman, dan motivasi yang dimiliki oleh orang tersebut. Oleh karena itu, faktor persepsi inilah yang menyebabkan adanya perbedaan cara pandang remaja tentang bahaya merokok terhadap kesehatan mereka (Nurrahmah, 2. Hasil penelitian terdahulu yang didapatkan pada Jurnal Ilmu Kesehatan Insan Sehat Vol. 9 Nomor. Desember 2021 dengan judul AuPersepsi Remaja Tentang Bahaya Merokok. Tinjauan Perspektif Pencegahan Berbasis Model Keyakinan KesehatanAy yang dilakukan Oleh Taufik Hidayat, mahasiswa Program Studi Diploma Tiga Keperawatan Stikes Intan Martapura. Indonesia, dilakukan pada siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 01 Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan. Hasil peneltian menunjukkan yaitu sebesar 55 % berpersepsi positif dan 45 % berpersepsi kurang tentang bahaya Berdasarkan data yang telah diuraikan sebelumnya, penelitian ini penting dilakukan untuk mendapatkan bagaimana tingkatan persespsi siswasiswi tentang bahaya merokok, sehingga diharapkan dari hasil penelitian nantinya akan mengubah pandangan siswa/i bahwa merokok adalah sesuatu hal yang METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif, menurut Sugiyono . penelitian kuantitatif adalah metode yang berdasar menggambarkan dan menguji hipotesis yang dibuat peneliti. Penelitian kuantitatif memuat banyak angka-angka mulai dari pengumpulan, pengolahan, serta hasil yang didominasi angka. Sehingga pada penelitian ini diperoleh gambaran yang jelas mengenai persepsi bahaya merokok pada remaja. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi SMP Negeri 2 e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Kota Sabang kelas 1 dan 2 yang berjumlah mencari jati diri kepribadiannya, keinginan 139 orang dan menggunakan sampel total untuk merokok juga sering timbul karena Alat ukur yang digunakan dalam situasi yang tidak nyaman seperti sepi, penelitian ini menggunakan kuisioner galau, dingin, bosan, marah dan stress tentang persepsi bahaya merkok yang kemudian dengan merokok memberikan terdiri dari masing-masing 7 pernyataan rasa kenyamanan dan ketenangan, sehingga untuk kognitif, afektif dan konatif. memunculkan makna positif terhadap perilaku merokok (Pertiwi & Hamdan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian secara deskriptif Responden dalam penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi responden memiliki karakteristik sebagai berikut: tentang bahaya merokok sebagai berikut: Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden . Tabel 2. Distribusi Frekuensi Persepsi Bahaya Merokok Pada Remaja di SMP Negeri 2 Kota Karakteristik Jumlah Sabang . Demografi Postif Negatif Jenis Kelamin Persepsi Laki-laki Kognitif 56,1 61 Perempuan Afektif Usia Konotatif 12 Tahun Sumber Tabel: Data Primer . asil 13 Tahun kuisione. Sabang, 2024 14 Tahun Berdasarakan Tabel 2. 15 Tahun Kelas diketahui bahwa proporsi persespi remaja VII tentang bahaya merokok di SMP Negeri 2 Vi Sumber Tabel: Data Primer . asil pengisian Sabang sangat bervariasi yaitu bila dilihat secara kognitif . mayoritas kuisione. Sabang, 2024 berada pada kategori positif yaitu sebesar Pada Tabel 1 diatas dapat diketahui 56,1% hal ini sejalan dengan hasil bahwa usia responden mayoritasnya adalah penelitian Taufik . pada 100 orang 14 tahun sebesar 48,9% dan usia 13 tahun responden siswa SMA 1 Simpang Empat berada pada urutan kedua sebesar 34,5%. Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan pada distribusi jenis kelamin mayoritas Selatan melaporkan bahwa sebagian besar responden adalah Perempuan yaitu 54,7%. ,7%) berpengetahuan positif terhadap Menurut penelitian Mirnawati dkk . , bahaya merokok. Wulandari . juga bila dilihat dari usia pertama kali merokok melaporkan hasil penelitiannya yang banyak remaja laki-laki mulai merokok dilakukan pada 143 orang responden siswa sejak SMP yaitu umur 13-14 tahun, semakin SMP Negeri 2 Rambah Hilir Kabupaten muda usia mulai merokok akan semakin Rokan Hulu bahwa sebesar . ,3%) sulit untuk berhenti merokok. Perilaku berpengetahuan baik tentang bahaya merokok pada remaja berkaitan dengan merokok. Prautami dan Rahayu . juga krisis aspek psikologis yang dialami pada melaporkan hasil penelitiannya pada 120 masa perkembangannya yaitu masa orang responden siswa SMA PGRI 2 e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Palembang bahwa tingkat pengetahuan perasaan penasaran dan ingin coba-coba tentang bahaya merokok mayoritas dalam yang dapat berdampak kepada ketagihan. kategori positif sebesar 57,5%. Hal ini di Teman sebaya dapat menjadi pengaruh bagi dukung oleh banyaknya iklan tembakau remaja untuk merokok karena remaja ingin yang tersebar di berbagai saluran diakui oleh teman-temannya atau sebagai WHO . memaparkan bentuk kekompakan dalam anggota sebanyak 70,1 % remaja memperoleh kelompok sesama perokok (Parawansa & informasi tentang rokok melaui media. Nasution, 2. Survei Global Youth Tobacco Survey (GYTS) Kecerdasan Indonesia . melaporkan hampir 8 menstabilkan emosi, mengelola emosi dan dari 10 . ,9%) pelajar mengetahui adanya mengatur suasana hatinya. Apabila remaja pesan-pesan anti-rokok di media, hal ini memiliki kecerdasan emosi yang tinggi, dilakukan melalui survei kros-seksional di akan lebih kecil memiliki resiko untuk sekolah secara nasional untuk para pelajar memungkinkan terlibat dalam perilaku di kelas yang sesuai untuk usia 13 sampai kenakalan. Menghindari perilaku beresiko 15 tahun. GYTS menggunakan kuesioner seperti ini memperbesar peluang remaja inti, desain sampel, dan protokol untuk melalui masa remajanya dalam pengumpulan data standar (GYTS, 2. kondisi fisik dan kesehatan mental yang Survei Global Youth Tobacco Survey (GYTS) baik (Adibussholeh, 2. di Indonesia tahun 2014 juga melaporkan Pada komponen konatif dapat dilihat 8,9 % pelajar mencoba merokok dibawah bahwa 56,8% responden berpersespi usia 7 tahun. Jika dilihat data tersebut, negatif yang artinya persespi mereka secara maka sebagian remaja telah mulai mencoba perilaku merokok tidak berbahaya, merokok pada usia sekolah dasar. Jadi walaupun secara pengetahuan responden pengetahuan tentang perilaku merokok mengatakan tidak mau merokok namun dapat diperoleh remaja sebelum berumur 7 tidak menutup kemungkinan melakukan perilaku merokok. Hasil penelitian lain Pada komponen Afektif . pada yang dilakukan Prautami dan Rahayu siswa memperlihatkan hasil mayoritas . pada 120 orang responden siswa 60,4% negatif, atau menunjukkan suasana SMA PGRI 2 Palembang bahwa mayoritas psikologis yang memihak bahwa merokok merokok yaitu 76 responden . belum tentu berbahaya bagi kehidupan sedangkan tidak merokok 44 responden siswa remaja. Penelitian yang sama juga . 7%), padahal secara pengetahuan para dilakukan oleh Ryanda, dkk . di SMA respon mengatakan positif bahwa merokok 1 calang kabupaten Aceh Jaya pada berbahaya. Hasil ini juga diperkuat oleh responden 109 orang, hasil yang dilaporkan penelitian Taufik . pada 100 orang adalah . ,4%) responden yang kecerdasan responden siswa SMA 1 Simpang Empat emosional rendah sehingga dari hasil itu Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan diperoleh . ,8%) responden beranggapan Selatan menyebutkan sub persespi secara merokok belum tentu berbahaya. Didukung perilaku/pengalaman, 68,8% oleh penelitian yang dilakukan oleh Anwar responden pernah terpapar langsung et al . , remaja merokok dikarenakan dengan perilaku merokok, baik melakukan e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes pernah Lawrence Green menjelaskan bahwa mendapatkan informasi langsung tentang perilaku seseorang dipengaruhi oleh tiga bahaya merokok. faktor pokok, yaitu: Faktor Predisposisi Gabungan komponen . engetahuan, sikap, tindakan, psikologi. pengetahuan, emosi, dan pengalaman akan Faktor pemungkin . nabling factor. , membentuk persepsi individu. Menurut adalah faktor-faktor yang memungkinkan Walgito . , persepsi dibentuk melalui atau yang memfasilitasi perilaku seseorang. beberapa tahapan, yaitu pertama tahap Contohnya adalah sarana prasarana berupa pengenalan adalah proses fisik menangkap uang saku dan tersedianya pembelian kejadian oleh panca indera individu, rokok. Faktor pendorong . einforcing kemudian tahap kedua yaitu tahap factor. , adalah faktor yang menguatkan fisiologis, yaitu hasil tangkapan oleh panca seseorang untuk berperilaku sehat ataupun indera diteruskan ke otak untuk diproses berperilaku sehingga akan menghasilkan kesimpulan memperkuat terjadinya perilaku seperti yang dapat berupa pengetahuan, lalu dorongan dari lingkungan sosial seperti dilanjutkan ke tahap yang disebut tahap pengaruh keluarga, teman sebaya dan iklan Tahap ketiga ini akan atau idola yang menjadi panutan menimbulkan kesadaran akan stimulus (Susilaningsih et al. , 2. yang ditangkap oleh panca indera, dan akhirnya membentuk persepsi pada SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian pada Jadi dapat disimpulkan bahwa tiap variabel dapat dilihat bahwa persepsi bahaya merokok pada remaja di mayoritas responden berpersespsi positif SMP Negeri 2 Sabang adalah positif secara secara kognitif tentang bahaya merokok kognitif saja sedangkan secara afektif dan yaitu sebesar 56,1%, namun tidak konantif adalah negatif, hal ini juga terlihat menutup kemungkinan secara afektif dan ketika siswa mengatakan mereka tahu konatif mereka berpersepsi negatif bahwa merokok itu berbahaya tapi tetap terhadap bahaya merokok, bahkan secara melalukan perilaku merokok baik ketika perilaku ada yang sudah merokok. Apabila sedang bermain atau nongkrong dengan masing-masing tersebut secara terpisah, sehingga diperoleh bahwa dikhawatirkan akan menempatkan siswa komponen yang memiliki nilai positif dalam kelompok beresiko untuk melalukan adalah tentang persepsi pengetahuan perilaku melebihi dari merokok seperti terhadap bahaya merokok. Hasil ketiga komponen, ditemukan bahwa distribusi penggunaan narkoba. Perilaku merokok pada remaja jenis kelamin laki-laki memiliki potensi dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya lebih besar untuk merokok dibandingkan pengaruh orang tua, pengaruh teman perempuan. Persespi merokok pada sebaya, keterjangkauan terhadap rokok, remaja dan pengetahuan, orang tua merokok, teman pengetahuan terhadap perilaku merokok sebaya yang merokok dan iklan rokok pada pelajar (Purnomo et al. , 2. e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes di SMA PGRI 2 Palembang Tahun 2017. Nursing Inside Community. Purnomo. Roediyanto. Gayatri. hubungan faktor predisposisi, faktor pemungkin dan faktor penguat dengan perilaku merokok pelajar SMKN 2 Kota Probolinggo Tahun 2017. Preventia The Indonesian Journal of Public Health, 3. , 66. Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian RI. Jakarta Riyanda. Mulyani, et al. Hubungan Kecerdasan Emosional dengan Perilaku Merokok pada Remaja di Kabupaten Aceh Jaya. Jurnal Ilmu Keperawatan. Sugiyono . Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif. R&D. Bandung: Alphabet. Susilanignsih. Fitriana Timore. , & Siswanto. Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Merokok. 8, 46-56. Tarwoto. Ariyani R. Nuraeni A. Tauchi SN. Aminah S. Sumiati. Dinarti. Nurheni H. Saprudin. AE. Chairini. Kesehatan Remaja: Problem Dan Solusinya. Jakarta: Salemba Medika. Walgito. Bimo, . Pengantar Psikologi Umum, cetakan ke-6. Yogyakarta. Andi Offset. WHO. Global Youth Tobacco Survey (GYTS) Indonesia Report https://w. int/indonesia/news/ detail/30-05-2020 statement-worldnotobacco-day-2020 WHO, . Angka kematian Akibat Naik. Didapatkan https://komnaspt. id/berita/angka kematian-akibat rokok-naik. Wulandari. Pengetahuan Siswa Remaja Tentang Bahaya Merokok di SMP Negeri 2 Rambah Hilir Kabupaten Rokan Hulu. Jurnal Martenity and Neonatal. Stanhope & Lancaster. Community Health Nursing : Process and Practice for Promoting Health. St. luis : Mosby year book UCAPAN TERIMAKASIH