Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X KONSEP PEMBELAJARAN DIGITALISASI PERSPEKTIF AL-QURAoAN Ahmad Sahronih Universitas PTIQ Jakarta Correspondence Author: ahmadalmaliki171@gmail. Abstract. The concept of digitalization from the perspective of the QurAoan is capable of creating alignment and harmony between: halb maAoan-nys . elationships among human. , halb maAoa usratih . elationships with famil. , and mashlahytun li an-nys . he welfare of humanit. The approach to applying the theory of theocentric connectivity digital learning is a theory that describes digital learning methods where learning can occur outside the individual within an organization or system and requires the ability to form connections and use networks to obtain the needed knowledge, all of which is guided by AllahAos instructions in the QurAoan, namely: practicing tabayyun in addressing news, whether it is news received or news to be conveyed to others, practicing qawlan in communication so that it aligns with prevailing ethics and norms, avoiding criticism, respecting each other, and not humiliating or harming others. In addition, adopting tazkiyyah, which purifies the mind and heart by maintaining positive thinking and a balanced attitude of mutual help in goodness, where in the learning process, all parties involved, both learners and educators, have a sense of helping each other in goodness. Keywords: Learning. Digitalization. Al-QurAoan. Abstrak. Konsep digitalisasi dalam perspektif Al-QurAan mampu keselarasan dan harmonisasi antara: halb maAoan-nys . ubungan antara manusi. , halb maAoa usratih . ubungan dengan keluarg. dan mashlahytun li an-nys . emaslahatan umat manusi. Cara mengusung teori digitalisasi pembelajaran konektivitas teosentris, yaitu teori yang menggambarkan tentang metode pembelajaran secara digital dimana pembelajaran dapat terjadi di luar individu dalam suatu organisasi atau sistem dan membutuhkan kemampuan untuk membentuk koneksi serta menggunakan jaringan untuk mendapatkan pengetahuan yang dibutuhkan, dimana keseluruhannya tidak terlepas dari petunjuk Allah Swt dalam Al-QurAan, yaitu: bersikap tabayyun dalam hal menyikapi berita-berita baik berita yang diterima maupun berita yang akan disampaikan kepada puhak lain, bersikap qawlan dalam hal berkomunikasi sehingga sesuai etika dan norma yang berlaku, tidak saling mencela, saling menghargai dan merendahkan serta menyakiti pihak lain. Selain, itu berikap tazkiyyah yang memurnikan pikiran dan hati dengan tetap berpikir positif dan sikap tawazun saling tolong-menolong dalam kebaikan, dimana dalam pembelajaran setiap pihak yang terlibat, baik peserta didik maupun pendidik memiliki rasa tolong menolong dalam kebaikan. Kata Kunci: Pembelajaran. Digitalisasi. Al-QurAan. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi di era digital telah mentransformasi banyak industri, termasuk Perubahan signifikan yang terjadi sebagai dampak dari integrasi teknologi dalam pembelajaran yaitu dalam cara penyampaian dan pengalaman pendidikan baik oleh pendidik maupun peserta didik. Salah satu aspek kunci dari transformasi ini adalah digitalisasi organisasi pembelajaran, yang melibatkan integrasi teknologi digital ke dalam berbagai aspek lembaga Konsep Pembelajaran Digitalisasi Perspektif Al-QurAan Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X pendidikan, seperti: pengajaran, pembelajaran, dan administrasi. Transformasi digital pada pendidikan menjadikan peserta didik mendapatkan akses yang lebih mudah untuk belajar tanpa batasan tempat dan waktu. Hal tersebut menjadi solusi dalam mengatasi hambatan seperti: sakit atau pekerjaan penuh waktu. Teknologi juga telah mengubah cara ruang kelas terlihat dan beroperasi. Ruang kelas modern dilengkapi dengan berbagai alat dan sumber daya digital yang memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan keterlibatan peserta Berbeda dengan para peserta didik yang terlahir sebagai digital native, para peserta didik dan orangtua merupakan digital imigrant atau bukan penduduk asli. Sehingga membutuhkan waktu untuk dapat memahami teknologi dengan segala perubahannya yang sangat cepat dikarenakan para pendidik harus memiliki kemahiran dalam menggunakan teknologi pendidikan di dalam kelas agar proses belajar-mengajar berjalan efektif dan tepat sasaran. Verdinandus Lelu Ngongo, et. , dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa kemajuan pesat dalam bidang teknologi dan informasi sangat berdampak pada dunia pendidikan. Dunia pendidikan dituntut untuk melakukan penyesuaian diri secara cepat dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Nitika Tolani-Brown et. , dalam penelitiannya yang berjudul. Analysis of The Research and Impact of ICT In Education In Developing Country Contexts, mengatakan bahwa pengembangan sumber belajar dan media pembelajaran merupakan dampak dari perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap proses pembelajaran. Komputer mulai digunakan sebagai alat untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis komputer (Information and Communication Technolog. atau yang lebih dikenal dengan istilah ICT menjadi perangkat yang penting dalam mempengaruhi kualitas pendidikan suatu negara. Teknologi yang digunakan dalam pembelajaran meliputi, diantaranya: komputer/notebook, smartphone, video, audio dan visual. Pengembangan rancangan pembelajaran selain menggunakan perangkat lunak . juga melibatkan penggunaan perangkat keras . , yaitu. alat-alat audio-visual dan media elektronik yang menjadikan pendidikan menjadi sangat efisien. Selain itu juga mekanisme pembelajaran secara daring diterapkan juga dengan metode digitalisasi seperti diantaranya: aplikasi zoom dan google-meet, didukung dengan aplikasi whatsapp-group untuk pemberian tugas agar terjadi keberlangsungan kegiatan belajar mengajar yang aktif dan interaktif. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan Gestalt kualitatif melalui studi pustaka, dengan seluruh data bersumber dari literatur otoritatif. Penelitian kualitatif itu mengeksplorasi struktur, pola, dan makna yang mendasari pertanyaan penelitian (Saefudin et al. , 2. Fokus kajian diarahkan pada konsep dan tujuan negara dalam Islam sebagaimana tercantum dalam Al-QurAan dan Hadis, serta penafsiran ulama klasik dan kontemporer. Metode utama adalah tafsir tematik . afsir maudhuAo. , yakni metode penafsiran al-QurAan dengan menghimpun ayat-ayat bertema sama untuk dianalisis Verdinandus Lelu Ngongo. Taufiq Hidayat dan Wiyanto Wiyanto. AuPendidikan di Era Digital,Ay dalam Prosiding Seminar Nasional Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang, 2019, hal. Konsep Pembelajaran Digitalisasi Perspektif Al-QurAan Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X secara menyeluruh sehingga menghasilkan pemahaman komprehensif (Alhakimi & Imawan, 2. Tahapan penelitian meliputi penentuan tema, pengumpulan ayat yang relevan, pengurutan sesuai konteks turunnya, telaah tafsir klasik dan kontemporer, serta penyusunan pemahaman integral dengan memperhatikan korelasi antar-ayat Al-QurAan dan Hadis. Analisis isi digunakan untuk mengidentifikasi pola makna dan relevansi prinsip kenegaraan. Validitas melalui triangulasi teori, yaitu membandingkan berbagai penafsiran dan memastikan hanya sumber terpercaya yang Dengan demikian, hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah sesuai kaidah metodologi tafsir tematik. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep, dan Indikator Pembelajaran Digital Konsep Pembelajaran Digital Indonesia merupakan negara dengan pengguna internet kelima terbesar di dunia. Berdasarkan data balai statistik Indonesia, setidaknya terdapat 50% dari keseluruhan penduduk Indonesia atau sekitar 132. 000 pengguna internet. Dari angka tersebut 6,3% . ,3 jut. adalah pengguna internet yang berasal dari pelajar. Dalam kurun waktu 17 tahun terakhir, pertumbuhan pengguna internet di Indonesia mencapai angka sebesar 6,535,0%. Fakta itulah yang menjadi potensi tumbuhnya beragam start up model pendidikan untuk mencapai pendidikan 4. Dari yang milik asing hingga buatan lokal. Secara konsep digitalisasi pembelajaran dalam dunia pendidikan, hingga kini masih bersifat mengalihkan sistem pengajaran, dan belum memaksimalkan animasi sebagai media utama dalam sistem pengajaran. Pengertian konsep pembelajaran era digital menurut Jakub Saddam Akbar, et. , adalah pendekatan dan strategi pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) secara umum untuk meningkatkan proses belajarmengajar. Konsep tersebut meliputi. pemanfaatan berbagai perangkat, aplikasi, platform, dan sumber daya digital untuk membantu pendidik dan peserta didik dalam mencapai tujuan Jakub Saddam Akbar, menambahkan bahwa dalam konsep pembelajaran era digital maka, teknologi merupakan alat bantu yang kuat untuk meningkatkan pengalaman belajar peserta didik, memperluas aksesibilitas, dan memberikan fleksibilitas dalam proses Konsep utama dalam pembelajaran di era digital yang mempengaruhi cara belajar dan mengakses informasi seperti yang diuraikan sebagai berikut: Teknologi sebagai alat pembelajaran era digital membawa kemajuan teknologi yang memungkinkan penggunaan berbagai alat pembelajaran, seperti: perangkat mobile, komputer, tablet, dan akses internet. Teknologi tersebut memberikan akses tak terbatas pada sumber daya pembelajaran, termasuk e-book, video pembelajaran, kursus daring, dan platform e-learning. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Huang-Yao Hong. PeiYi Lin, dan Yuan-Hsuan Lee, integrasi teknologi informasi dan komunikasi kedalam dunia pendidikan telah meningkatkan aksesibilitas pendidikan dan proses pembelajaran melalui bantuan teknologi. Pembelajaran daring . nline learnin. memungkinkan akses kedalam konten pembelajaran tanpa harus berada di lokasi fisik tertentu. Peserta didik dapat belajar tanpa ada batasan Konsep Pembelajaran Digitalisasi Perspektif Al-QurAan Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X tempat dan waktu sesuai dengan kenyamanan dan preferensi peserta didik. Tersedianya berbagai platform pembelajaran daring menjadikan peserta didik untuk dapat memilih metode pembelajaran sesuai dengan gaya belajar masing-masing. Kolaborasi dan komunikasi pada era digital memungkinkan kolaborasi dan komunikasi antara pendidik dan peserta didik secara real-time, baik dalam bentuk diskusi dalam kelas virtual maupun melalui alat-alat komunikasi lainnya. Dengan demikian, maka menungkinkan interaksi peserta didik dengan pendidik menjadi lebih aktif dan terlibat serta memfasilitasi diskusi dan pertukaran ide yang lebih mudah. Pembelajaran berbasis proyek yang menekankan pada pembelajaran melalui penerapan Peserta didik mendapat tugas untuk mengerjakan proyek atau tugas-tugas yang relevan dengan konten pembelajaran. Pembelajaran berbasis proyek menjadikan peserta didik untuk mengembangkan keterampilan praktis dan berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah nyata. Personalisasi pembelajaran dengan teknologi dan data yang berkembang. Pendidik dapat memahami kebutuhan dan gaya belajar setiap peserta didik secara lebih dalam. Hal tersebut memungkinkan penerapan pendekatan pembelajaran yang lebih personal dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta didik yang berdampak pada peningkatan efektivitas pembelajaran. Keterampilan pada abad ke-21 yang penting sebagai bekal bagi peserta didik dalam menghadapi tantangan dunia yang terus berkembang secara robust. Pembelajaran pada era digital menuntut pengembangan keterampilan abad ke-21, diantaranya: kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, pemecahan masalah, literasi digital, dan kecakapan teknologi. Pembelajaran seumur hidup. Era digital telah mengubah paradigma pembelajaran tentang pembelajaran sebatas tahapan akademis di masa muda menjadi proses belajar seumur Dengan akses tak terbatas pada sumber daya dan konten pembelajaran, individu dengan setiap usia dapat terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhan dan minat pribadi. Penggunaan kecerdasan buatan (AI). Penerapan teknologi kecerdasan buatan dalam pembelajaran digunakan untuk memahami perilaku belajar peserta didik, memberikan umpan balik secara personal, efisiensi dan memberikan rekomendasi konten pembelajaran yang sesuai. Berdasarkan uraian di atas. Penulis berpendapat bahwa dengan adanya konsep pebelajaran digital maka, akan memberikan dampak positif yang sangat signifikan bagi kemajuan dan kenyamanan dalam proses pembelajaran. Namun penulis tetap berpendapat bahwa, pendekatan pembelajaran tradisional dan interaksi langsung antara pendidik dan peserta didik tetap tidak dapat dihilangkan dikarenakan memiliki peran penting dalam proses pendidikan dan hal ini tidak dapat tergantikan. Strategi Membangun Digitalisasi Pembelajaran Perspektif Al-QurAoan Refleksi Nilai-nilai Al-QurAoan dalam Penggunaan Teknologi Penerapan nilai-nilai Al-Qur'an dalam penggunaan teknologi membantu umat Islam Konsep Pembelajaran Digitalisasi Perspektif Al-QurAan Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X memiliki landasan moral yang kuat dalam berinteraksi dengan dunia digital. Etika dan moral menjadi refleksi penting untuk mempertimbangkan tindakan yang diperbolehkan dan dilarang dalam menggunakan teknologi. Setiap era memiliki fenomena kekhawatiran moral yang khas yang muncul sejalan dengan perkembangannya. Kepanikan moral tersebut tercermin dalam penurunan moralitas di kalangan remaja dimana sangat rentan terhadap pengaruh negatif eksternal, dikarenakan ketidakstabilan emosional dan pencarian identitas diri remaja, walau secara nurani, para remaja sesungguhnya menyadari tindakan yang dilakukan adalah salah. Al-QurAan menekankan pentingnya untuk selalu bertindak dengan kejujuran dalam setiap interaksi, baik dalam kehidupan nyata maupun dalam ranah virtual. Al-Qur'an mendorong umat Islam untuk merahasiakan informasi pribadi, menghormati hak-hak individu, menjaga privasi online serta menghindari penyebaran informasi yang melanggar privasi orang lain. Dengan memahami dan menerapkan perspektif Al-Qur'an tentang privasi, umat Islam dapat menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dan menghormati hak-hak individu dalam lingkungan digital. Fadlil Yani Ainusyamsi dan Husni Husni dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa AlQur'an adalah kerangka nilai-nilai dalam Islam yang menjadi panduan dan arahan dalam kehidupan serta berperilaku. Dengan demikian, para pendidik maupun peserta didik pasti akan menemukan berbagai petunjuk dan tuntunan hidup dengan cara mendalami kajian Al-Qur'an lebih dalam yang akan berdampak pada penggunaan teknologi sesuai dengan syariat Islam. Asri Karolina berpendapat bahwa Al-Qur'an berfokus pada pembentukan masyarakat yang berakhlak mulia. Pembentukan karakter yang baik merupakan tema utama dalam Al-Qur'an. Bahkan, perintah-perintah ibadah seperti shalat, zakat, puasa, dan haji dimaksudkan untuk mengembangkan karakter yang positif dan membentuk manusia yang berakhlak mulia. Wawan Kurniawan dan Syafri Anwar menjelaskan dalam penelitiannya bahwa dengan adanya karakter dan akhlak yang mengacu pada Al-QurAan, maka diharapkan hadirnya pemikiran yang solutif untuk membuka pandangan, khususnya umat Islam dalam menyikapi hadirnya era digitalisasi dalam proses pendidikan Islam. Hal tersebut tidak terlepas dari peranan filsafat dalam ranah pendidikan Islam sebagai salah satu penentu kebijakan pendidikan umat Islam. Filsafat pendidikan Islam memiliki peranan penting dalam memberikan perencanaan dan tindakan dan melaksanakan serta meningkatkan kualitas pendidikan Islam. Senada dengan Moch Tolchah dalam jurnalnya menjelaskan bahwa pada dasarnya, filsafat pendidikan Islam merupakan gagasan tentang kependidikan yang bersumber atau berlandaskan pada ajaran agama Islam. Dengan demikian, orang Muslim dapat dibangun, dikembangkan, dan dibimbing untuk menjadi manusia yang dijiwai oleh ajaran Islam secara keseluruhan. Strategi Membangun Digitalisasi Pembelajaran Perspektif Al-QurAoan Refleksi Nilai-nilai Al-QurAoan dalam Penggunaan Teknologi Penerapan nilai-nilai Al-Qur'an dalam penggunaan teknologi membantu umat Islam memiliki landasan moral yang kuat dalam berinteraksi dengan dunia digital. Etika dan moral menjadi refleksi penting untuk mempertimbangkan tindakan yang diperbolehkan dan dilarang dalam menggunakan teknologi. Setiap era memiliki fenomena kekhawatiran moral yang khas yang muncul sejalan dengan perkembangannya. Kepanikan moral tersebut tercermin dalam Konsep Pembelajaran Digitalisasi Perspektif Al-QurAan Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X penurunan moralitas di kalangan remaja dimana sangat rentan terhadap pengaruh negatif eksternal, dikarenakan ketidakstabilan emosional dan pencarian identitas diri remaja, walau secara nurani, para remaja sesungguhnya menyadari tindakan yang dilakukan adalah salah. Al-QurAan menekankan pentingnya untuk selalu bertindak dengan kejujuran dalam setiap interaksi, baik dalam kehidupan nyata maupun dalam ranah virtual. Al-Qur'an mendorong umat Islam untuk merahasiakan informasi pribadi, menghormati hak-hak individu, menjaga privasi online serta menghindari penyebaran informasi yang melanggar privasi orang lain. Dengan memahami dan menerapkan perspektif Al-Qur'an tentang privasi, umat Islam dapat menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dan menghormati hak-hak individu dalam lingkungan digital. Fadlil Yani Ainusyamsi dan Husni Husni dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa AlQur'an adalah kerangka nilai-nilai dalam Islam yang menjadi panduan dan arahan dalam kehidupan serta berperilaku. Dengan demikian, para pendidik maupun peserta didik pasti akan menemukan berbagai petunjuk dan tuntunan hidup dengan cara mendalami kajian Al-Qur'an lebih dalam yang akan berdampak pada penggunaan teknologi sesuai dengan syariat Islam. Asri Karolina berpendapat bahwa Al-Qur'an berfokus pada pembentukan masyarakat yang berakhlak mulia. Pembentukan karakter yang baik merupakan tema utama dalam Al-Qur'an. Bahkan, perintah-perintah ibadah seperti shalat, zakat, puasa, dan haji dimaksudkan untuk mengembangkan karakter yang positif dan membentuk manusia yang berakhlak mulia. Wawan Kurniawan dan Syafri Anwar menjelaskan dalam penelitiannya bahwa dengan adanya karakter dan akhlak yang mengacu pada Al-QurAan, maka diharapkan hadirnya pemikiran yang solutif untuk membuka pandangan, khususnya umat Islam dalam menyikapi hadirnya era digitalisasi dalam proses pendidikan Islam. Hal tersebut tidak terlepas dari peranan filsafat dalam ranah pendidikan Islam sebagai salah satu penentu kebijakan pendidikan umat Islam. Filsafat pendidikan Islam memiliki peranan penting dalam memberikan perencanaan dan tindakan dan melaksanakan serta meningkatkan kualitas pendidikan Islam. Senada dengan Moch Tolchah dalam jurnalnya menjelaskan bahwa pada dasarnya, filsafat pendidikan Islam merupakan gagasan tentang kependidikan yang bersumber atau berlandaskan pada ajaran agama Islam. Dengan demikian, orang Muslim dapat dibangun, dikembangkan, dan dibimbing untuk menjadi manusia yang dijiwai oleh ajaran Islam secara keseluruhan. Moralitas Digital dan Urgensi Menerapkan Nilai-nilai Al-QurAoan dalam Perilaku Online Era digital membawa perubahan signifikan terhadap etika dan interaksi sosial dikarenakan adanya kemudahan dalam mengakses konten digital yang tidak layak dan konten-konten video yang viral. Hal tersebut dapat mempengaruhi nilai-nilai spiritual dan moralitas, terutama pada anak-anak. Dampak yang terjadi pada anak-anak mencakup perubahan dalam cara berinteraksi, berpikir, dan memandang nilai-nilai spiritual dan moral. Paparan konten-konten yang tidak sesuai dengan norma dan moral etika dapat menghilangkan batasan benar dan salah yang menyebabkan hilangnya sensitivitas terhadap isu-isu etika. Penerapan nilai-nilai Al-Qur'an dalam perilaku online sangat penting untuk mempertahankan integritas dan martabat umat Islam. Al-Qur'an mengajarkan nilai-nilai moral Konsep Pembelajaran Digitalisasi Perspektif Al-QurAan Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X yang dapat membimbing umat Islam dalam menggunakan teknologi, seperti: ,memiliki takwa kepada Allra dengan jujur dan benar. Dengan memahami dan menerapkan nilai-nilai ini, umat Islam dapat menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dan etis. Salah satu contoh dalam QS. al-Ahzab/33: 70 dimana Allah Swt memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa memiliki ketakwaan dan berbicara dengan jujur dan benar. Hal tersebut relevan dalam penggunaan media sosial, di mana individu harus berhati-hati dalam menyebarkan informasi dan berbicara dengan jujur dan benar. Berikut QS. al-Ahzab/33: 70: e aAO acCA e aAOeaOacNa Eac aOIa a aIIA ca AOA AacEEa aOCaOEaOe Ca O E a a OA Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Tafsyr Kemenag menafsirkan bahwa pada ayat ini. Allah Swt memerintahkan orang-orang beriman agar tetap bertakwa kepada Allah Swt. Selain itu. Allah Swt memerintahkan pula orangorang beriman untuk selalu berkata benar, selaras antara niat dan ucapan, karena seluruh kata yang diucapkan akan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid serta akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Hal tersebut juga selaras dengan firman Allah dalam QS. Qaf/50: 18 dimana tidak ada satu kata yang luput dari catatan malaikat pengawas. Selaras dengan Tafsyr Kemenag. Muhammad Quraish Shihab dalam Tafsyr al-Mishbyh menjelaskan ayat tersebut bahwa Allah Swt memerintahkan orang-orang beriman untuk mengucapkan perkataan yang benar dan sesuai sasaran. Allah Swt memerintahkan orang-orang beriman untuk bertakwa kepada Allah Swt dengan cara menjauhkan diri dari siksa Allah Swt, yaitu dengan menjalankan semua perintah-Nya semaksimal mungkin dan menjauhi laranganNya. Allah Swt juga akan memperbaiki amalan-amalan dengan cara mengilhami dan mempermudah orang-orang beriman untuk melakukan amal-amal yang tepat dan benar dan juga Allah Swt akan mengilhami manusia untuk bertaubat atas dosa-dosa orang-orang beriman. Berdasarkan penjelasan dari ayat tersebut. Penulis menyimpulkan bahwa relevansi dengan media sosial dan komunikasi, maka penyebaran berbagai informasi harus diiringi dengan Secara prinsip, banyak ayat Al-Qur'an yang dapat dijadikan pedoman dalam bermedia online pada era saat ini. Dalam Al-Qur'an terdapat juga ayat-ayat yang terkait dengan kebenaran, dalam hal ini dikaitkan dengan penggunaan media online, bahwa setiap individu harus menggunakan secara bijaksana. Dengan demikian maka, akan menjadi ladang amal bagi individu terkait dimana tujuan akhir adalah surga di akhirat kelak. Digitalisasi Pembelajaran di Era Revolusi Industri 4. Abad ke-21 merupakan abad keterbukaan atau globalisasi yang disebut juga era revolusi Oleh karena itu, muatan pembelajaran diharapkan mampu memenuhi 21st century skills, yaitu: pertama, pembelajaran dan keterampilan inovasi meliputi. penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang beraneka ragam, pembelajaran dan inovasi, berpikir kritis dan penyelesaian masalah, komunikasi dan kolaborasi, dan kreatifitas dan inovasi. Kedua, keterampilan literasi digital meliputi. literasi informasi, literasi media, dan literasi ICT. Ketiga, karir dan kecakapan hidup meliputi fleksibilitas dan adaptabilitas, inisiatif, interaksi sosial dan budaya, produktifitas dan akuntabilitas, dan kepemimpinan dan tanggung jawab. Dunia telah memasuki era revolusi industri generasi 4. 0 yang ditandai dengan Konsep Pembelajaran Digitalisasi Perspektif Al-QurAan Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X meningkatnya konektivitas, interaksi serta perkembangan sistem digital, kecerdasan artifisial, dan virtual. Dalam menghadapi perubahan era tersebut dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang memadai dimana sesuai dan mampu bersaing dalam skala global. Peningkatan kualitas SDM melalui jalur pendidikan mulai dari pendidikan dasar dan menengah hingga ke perguruan tinggi sebagai kunci agar mampu mengikuti perkembangan Revolusi Industri 4. 0 yang dikenal juga dengan era digitalisasi. Pendidikan 4. 0 adalah respons terhadap kebutuhan revolusi industri 4. 0 dimana manusia dan teknologi diselaraskan untuk menciptakan peluang-peluang baru dengan kreatif dan inovatif. Pendidikan pada era digital perlu dipandang sebagai pengembangan kompetensi yang terdiri dari 3. komponen besar, yaitu: kompetensi berpikir, bertindak, dan hidup di dunia. Komponen berpikir meliputi. berpikir kritis, berpikir kreatif, dan pemecahan masalah. Komponen bertindak komunikasi, kolaborasi, literasi digital, dan literasi teknologi. Komponen hidup di dunia meliputi. inisiatif, mengarahkan diri . elf-directio. , pemahaman global, serta tanggung jawab sosial. Cut Isma, et. , menjelaskan bahwa digitalisasi pendidikan pada era pendidikan 4. merupakan suatu kemampuan untuk mengubah paradigma, perspektif, dan aktivitas pendidikan dengan menggunakan berbagai jenis inovasi digital yang bertujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia. Selain itu, inovasi juga memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk berkreasi, meningkatkan struktur dan kualitas pendidikan serta meningkatkan proses pembelajaran dalam praktik. KESIMPULAN Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep digitalisasi pembelajaran berdasarkan perspektif Al-Qur'an sebagai suatu konsep pembelajaran yang didukung oleh teknologi digital berlandaskan pada syariAat Islam yang bersumberkan pada Al-QurAan dan hadyts. Pihak yang terlibat di dalam pembelajaran ini, yaitu: pendidik, peserta didik dan orangtua/ wali peserta didik terikat dengan norma-norma dan etika ketika menggunakan teknologi dalam berinteraksi soisal. Selain itu juga memiliki mental dan moral yang baik serta pemahaman tentang teknologi, seperti yang terkandung dalam surat dan ayat Al-QurAan yang relevan. Beberapa temuan lainnya yang dihasilkan Disertasi ini diuraikan sebagai berikut: Kajian teoritis tentang pembelajaran digital berupa ruang lingkup dan digitalisasi pembelajaran dalam perspektif psikologis, hukum dan agama. Berdasarkan pendapat berbagai ahli, maka Penulis menyimpulkan bahwa secara terminologis digitalisasi pembelajaran merupakan suatu model pembelajaran yang didukung oleh teknologi digital, berupa: alat-alat teknologi gawai, laptop/komputer, internet dan aplikasi-aplikasi yang mendukung dalam proses pembelajaran, seperti: zoom, google-meeting, whatsapp. Pembelajaran digital ini mengubah sistem pembelajaran konvensional menjadi pembelajaran modern dimana metode pembelajaran menjadi tanpa batas dan tanpa ruang, student-centris dimana pendidik memposisikan diri sebagai fasilitator. Dengan demikian diperlukan kesiapan mental bagi semua pelaku dan peranan pendidikan etika dan moral sangat penting dikarenakan era digital merupakan era dimana komunikasi dan informasi Konsep Pembelajaran Digitalisasi Perspektif Al-QurAan Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X berkembang tanpa batas. Analisis tentang definisi dari digitalisasi pembelajaran. Berdasarkan pendapat para peneliti. Penulis menyimpulkan bahwa secara terminologis digitaliasi pembelajaran merupakan transformasi metode pembelajaran konvensional kearah pembelajaran dengan dukungan teknologi digital yang tanpa dibatasi oleh waktu dan tempat yang juga mengubah cara pembelajaran pendidik kepada peserta didik. Hal tersebut membutuhkan kesiapan dari semua pihak, baik peserta didik, pendidik, media pendukung dan orang lain yang terlibat. Terdapat diskursus lainnya, bahwa digitalisasi pembelajaran juga menimbulkan problematika dan dilematisasi yang menimbulkan sisi positif dan negatif serta peluang dan tantangan. Penulis berkesimpulan bahwa dibutuhkan kematangan moral, etika dan karakter semua pihak yang terlibat dalam menghadapi transformasi digital ini. Term Al-QurAan yang berhubungan dengan pembelajaran adalah, yaitu: Atarbiyyah, allamayuAoallimu, yuwari, yatafakkaru, tallaqi. Sedangkan term Al-QurAan yang berhubungan dengan digital yaitu: tabayyun, qawlan, tazkiyyah, taAoawun, tawazun dan iAotidal. Sedangkan isyarat Al-QurAan yang berhubungan dengan digitalisasi pembelajaran, yaitu: pendidikan karakter untuk mempersiapkan generasi QurAani yang terkandung dalam QS. Al-Rum/30: 30 dan QS. Al-Mumtahanah/60: 4-6, membangun generasi digital dengan pembelajaran kooperatif yang terkandung dalam QS. Al-Ahzab/33: 70 serta posisi dan keutamaan sains dan teknologi dalam Al-QurAan yang terkandung dalam QS. al-Baqarah/2: 133 dan QS. Hud/11: 123. Indikator dari digitalisasi pembelajaran adalah etika dalam berkomunikasi secara Islami di media sosial dalam moderasi agama, moralitas dan perilaku dalam berinteraksi dan belajar menggunakan digital, serta moderasi beragama melalui penguatan literasi media. Sedangkan strategi membangun digitalisasi pembelajaran adalah merefleksikan nilai-nilai Al-QurAan dalam penggunaan teknologi, urgensi pembentukan moralitas dengan menerapkan nilai-nilai Al-QurAan agar agar perilaku dari semua pihak terkait dalam pembelajaran selaras dengan nilai-nilai dalam Al-QurAan yang diharapkan akan terwujud generasi madani yang didukung oleh teknologi. DAFTAR PUSTAKA