AL-MUHITH JURNAL ILMU AL-QURAoAN DAN HADITS E-ISSN : 2963-4024 . edia onlin. P-ISSN : 2963-4016 . edia ceta. DOI : dx. org/10. 359331/am. KONSEP WAKTU DALAM AL-QURAoAN DAN TANTANGANNYA TERHADAP BUDAYA AoSCROLLINGAo GENERASI MUDA Muhammad Fatih Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin muhammadfatih374@gmail. Bashori Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin bashori@uin-antasari. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep waktu dalam Al-QurAoan dan relevansinya dalam merespons tantangan budaya scrolling yang marak di kalangan generasi muda. Dalam konteks digital saat ini, fenomena scrolling tidak hanya mencerminkan perubahan perilaku, tetapi juga menunjukkan pergeseran mendalam dalam kesadaran akan makna waktu, produktivitas, dan spiritualitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif-kritis terhadap ayat-ayat Al-QurAoan yang memuat konsep waktu serta dikaji secara kontekstual melalui perspektif tafsir, spiritualitas Islam, dan fenomena budaya digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu dalam Al-QurAoan dimaknai sebagai entitas sakral yang menuntut kesadaran, tanggung jawab moral, dan orientasi ruhani, yang sangat kontras dengan praktik scrolling yang bersifat instan, dangkal, dan melahirkan kelalaian . Budaya scrolling cenderung menciptakan disorientasi waktu, mengikis makna keberadaan, dan melemahkan nilai-nilai profetik. Oleh karena itu, perlu adanya rekonstruksi kesadaran waktu QurAoani di era digital melalui pendidikan spiritual, pengembangan teknologi yang etis, serta keterlibatan institusional dalam menanamkan nilai waktu sebagai amanah ilahiah. Penelitian ini memberikan kontribusi awal dalam membuka wacana etika digital berbasis spiritualitas Islam dan mengusulkan arah pengembangan riset multidisipliner untuk merespons transformasi digital secara lebih komprehensif. Kata Kunci: Waktu dalam Al-QurAoan. Budaya Scrolling. Generasi Muda. Spiritualitas Digital. Fenomena Media Sosial Abstract This study explores the concept of time as presented in the QurAoan and its relevance in confronting the growing challenge of scrolling culture among the younger generation in the digital age. Scrolling, as a digital behavior, is not merely a shift in daily habits, but a symptom of deeper transformations in how individuals perceive time, productivity, and spiritual meaning. Employing a qualitative approach with descriptive-critical analysis, this research investigates QurAoanic verses concerning time and interprets them through the lenses of Islamic spirituality, classical and modern QurAoanic exegesis . , and contemporary digital media The study reveals that the QurAoan conceptualizes time as a divine trust that demands awareness, moral responsibility, and purposeful action standing in stark contrast to the often passive, distracted, and fragmented experiences generated by scrolling culture. This digital habit contributes to temporal disorientation, existential detachment, and the weakening of prophetic consciousness. Therefore, reorienting the younger generation toward a QurAoan-based temporal awareness is a pressing ethical and educational The study recommends a holistic reconstruction of spiritual engagement with time through value-based education, the development of ethical digital technologies, and strategic institutional support. Ultimately, this Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Muhammad Fatih. Bashori: Konsep Waktu dalam Al-QurAoan dan Tantangannya Terhadap Budaya AoScrollingAo Generasi Muda research offers an initial contribution to the discourse on Islamic digital ethics and proposes directions for future interdisciplinary inquiry in addressing the spiritual and epistemological challenges of digital Keywords: QurAoanic Time. Scrolling Culture. Younger Generation. Digital Spirituality. Social Media Phenomenon. A Author. 2025 This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. PENDAHULUAN Fenomena perubahan pola perilaku manusia akibat kemajuan teknologi digital menjadi salah satu ciri khas peradaban kontemporer. Di antara perubahan paling mencolok adalah cara manusia memanfaatkan dan memaknai waktu. Kehadiran media sosial dan perangkat digital yang memungkinkan akses informasi instan telah menciptakan budaya baru yang disebut sebagai scrolling culture, yaitu kebiasaan menggulir layar secara terus-menerus untuk mengakses konten tanpa tujuan yang jelas. Budaya ini telah melekat terutama dalam kehidupan generasi muda, sehingga mengubah cara mereka mengelola waktu sehari-hari. Data dari laporan We Are Social dan Hootsuite tahun 2023 menunjukkan bahwa rata-rata waktu yang dihabiskan oleh generasi muda . sia 16-24 tahu. di Indonesia untuk menggunakan media sosial mencapai lebih dari 3 jam per hari. Bahkan, menurut survei yang dilakukan oleh Kominfo, 72% dari generasi muda mengakses media sosial setiap kali memiliki waktu luang, tanpa tujuan produktif yang jelas atau terstruktur. 1 Fenomena ini menunjukkan adanya kecenderungan waktu yang seharusnya bernilai ibadah dan refleksi diri, tergantikan oleh konsumsi konten yang dangkal dan terus-menerus. Di sisi lain. Al-QurAoan memberikan penekanan sangat besar terhadap konsep waktu sebagai sesuatu yang sakral, terbatas, dan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Ayat-ayat seperti AuDemi masa . l-AoAs. , sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugianAy (QS. al-AoAsr . : 1-. menjadi peringatan keras tentang pentingnya menjaga waktu. Para mufassir seperti alRAghib al-AfahAn menjelaskan bahwa waktu dalam Al-QurAoan sering dikaitkan dengan tanggung jawab dan amal saleh sebagai ukuran keberhasilan hidup manusia. Dalam Imam al-GhazAl dalam IuyA Ulm al-Dn menjelaskan bahwa waktu adalah Aumodal utama bagi manusiaAy, dan setiap detik yang berlalu tanpa amal adalah bentuk We Are Social & Hootsuite. Digital 2023: Indonesia, (Datareportal, 2. , 53-55. Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Survei Penggunaan Media Sosial di Kalangan Remaja, 2022, hlm. al-RAghib al-AfahAn, al-MufradAt f Gharb al-QurAn, ed. afwAn AdnAn DAwd (Damaskus: DAr al-Qalam, 2. , hlm. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Muhammad Fatih. Bashori: Konsep Waktu dalam Al-QurAoan dan Tantangannya Terhadap Budaya AoScrollingAo Generasi Muda kerugian eksistensial. 3 Hal ini senada dengan pandangan Sayyid Qutb dalam F eilAl al-QurAoAn yang menyatakan bahwa ayat-ayat tentang waktu bukan hanya bersifat informatif, melainkan juga normatif-menuntut tindakan dan kesadaran dari setiap Muslim untuk tidak lalai dalam Akan tetapi, dalam realitas sosial saat ini, makna spiritual dan eksistensial waktu tersebut mengalami erosi. Budaya scrolling menciptakan pola keterikatan digital yang mengarah pada digital addiction, menyebabkan penurunan kualitas perhatian, hilangnya fokus, serta terputusnya refleksi diri yang esensial dalam ajaran Islam. Nicholas Carr menyebut gejala ini sebagai Authe shallowing effectAy, di mana manusia kehilangan kedalaman berpikir karena distraksi yang terusmenerus dari dunia digital. 5 Ini tentu berseberangan dengan prinsip QurAoani yang menuntut perenungan . dan kesadaran . dalam menjalani hidup. Konsep waktu dalam Al-Qur'an memberikan isyarat penting bahwa pemahaman terhadap wahyu ilahi tidak dapat dilakukan secara instan. Al-Qur'an sendiri diturunkan secara berangsurangsur selama kurang lebih dua puluh tahun, dua bulan, dan dua puluh hari, yang menunjukkan bahwa penerimaan dan internalisasi ajaran Islam memerlukan proses waktu yang panjang dan 6 Proses ini mengajarkan pentingnya kesabaran, pendalaman, dan penghayatan yang berkelanjutan dalam memahami teks suci. Namun, hal ini berbanding terbalik dengan realitas generasi muda saat ini yang cenderung terjebak dalam budaya AoscrollingAo di media sosial, di mana informasi dikonsumsi secara cepat, singkat, dan tanpa pendalaman makna. Fenomena ini menjadi tantangan besar dalam mengintegrasikan konsep waktu dalam Al-Qur'an ke dalam pola pikir dan perilaku generasi muda yang serba instan. Selain itu. Al-Qur'an menggunakan berbagai perangkat linguistik, salah satunya adalah istifham atau gaya bertanya yang tidak hanya berfungsi sebagai alat retoris, tetapi juga sebagai sarana untuk mengajak pembaca merenung dan melakukan perenungan mendalam terhadap pesanpesan Ilahi. 7 Penggunaan istifham ini secara tidak langsung menuntut interaksi aktif dan reflektif dari pembaca, bukan sekadar konsumsi teks secara cepat tanpa pemaknaan. Budaya AoscrollingAo yang marak di kalangan generasi muda saat ini cenderung mengabaikan pentingnya keterlibatan kritis dalam membaca dan merenungkan isi bacaan. Hal ini menimbulkan tantangan serius dalam membentuk kesadaran waktu dan kedalaman berpikir sebagaimana diajarkan oleh Al-Qur'an. Oleh Ab Amid al-GhazAl. IuyA Ulm al-Dn. Jilid 1 (Beirut: DAr al-Marifah, n. ), hlm. Sayyid Qutb. F eilAl al-QurAoAn. Jilid 6 (Kairo: DAr al-Shurq, 2. , hlm. Nicholas Carr. The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (New York: W. Norton & Company, 2. , hlm. Hamli. Haji. "Implementasi Turunnya Al-QurAoan Secara Beransur-Ansur dalam Pendidikan dan Pengajaran. " Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits 3. Ramadani. Laili Maya, and Muhamad Ishaac. "Telaah Perangkat dan Makna Istifham dalam AlQurAoan Perspektif Moralitas dan Teologi Islam Kontemporer. " Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits 2. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Muhammad Fatih. Bashori: Konsep Waktu dalam Al-QurAoan dan Tantangannya Terhadap Budaya AoScrollingAo Generasi Muda karena itu, penting untuk menumbuhkan kembali kesadaran akan nilai waktu dan pentingnya pembacaan yang reflektif di tengah arus informasi yang begitu cepat. Dengan melihat fakta empiris tersebut, maka penting untuk mengkaji ulang konsep waktu dalam Al-QurAoan sebagai upaya mengkritisi dan memberi alternatif terhadap pola hidup generasi muda saat ini. Tujuan dari penelitian ini bukan sekadar menentang budaya digital, tetapi untuk menyelaraskan penggunaannya agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai spiritual yang diajarkan Al-QurAoan. Di sinilah nilai teologis waktu perlu direlevansikan kembali agar tidak hanya dipahami sebagai durasi, melainkan sebagai dimensi tanggung jawab. Fenomena ini juga menimbulkan pertanyaan mendalam mengenai perubahan nilai dan orientasi hidup generasi muda. Jika waktu dalam Islam merupakan ujian, maka bagaimana budaya scrolling berperan dalam mengalihkan perhatian manusia dari ujian tersebut? Apakah generasi muda hari ini menyadari waktu sebagai nikmat atau justru membuangnya secara pasif? Dalam pendekatan kualitatif, pertanyaan ini akan dijawab dengan menganalisis makna-makna waktu dalam Al-QurAoan dan menyandingkannya dengan data perilaku media digital. Dalam kerangka pendidikan karakter dan pembangunan spiritual, penelitian ini memiliki urgensi yang besar. Tanpa kesadaran terhadap nilai waktu, generasi muda akan mudah terjebak dalam gaya hidup hedonistik digital, yang berorientasi pada hiburan instan, menghindari kesunyian, dan menolak refleksi. Ini berlawanan dengan prinsip tazkiyah al-nafs . ensucian jiw. yang sangat menekankan kesadaran waktu sebagai sarana mendekat kepada Allah SWT. Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah berbasis data dalam penelitian ini adalah: Bagaimana budaya AoscrollingAo digital di kalangan generasi muda menggeser makna waktu sebagaimana diajarkan dalam Al-QurAoan, dan sejauh mana data empiris menunjukkan adanya krisis kesadaran waktu di era digital ini? Dengan demikian, penelitian ini akan menyelidiki makna waktu dalam Al-QurAoan melalui pendekatan tafsir tematik dan mengaitkannya dengan fenomena budaya scrolling melalui analisis data serta telaah konseptual untuk menemukan ketegangan nilai antara keduanya. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode analisis tematik . afsr mawsA. terhadap ayat-ayat Al-QurAoan yang berkaitan dengan konsep waktu, seperti al-AoAsr, ad-Dahr, layl, nahAr, serta ayat-ayat yang berbicara tentang waktu sebagai ujian, tanggung jawab, dan amanah. Metode ini memungkinkan peneliti menelusuri makna holistik dari tema waktu sebagaimana diungkapkan dalam berbagai konteks Al-QurAoan. Selain itu, sumber-sumber tafsir klasik seperti Tafsr al-abar, al-RAz, dan al-Qurub, serta tafsir kontemporer seperti F eilAl al- Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Muhammad Fatih. Bashori: Konsep Waktu dalam Al-QurAoan dan Tantangannya Terhadap Budaya AoScrollingAo Generasi Muda QurAoAn digunakan untuk memperkaya interpretasi teologis dan etis terhadap waktu. 8 Penelitian ini juga merujuk pada literatur etika digital dan sosiologi perilaku untuk mengaitkan fenomena scrolling culture dengan tantangan eksistensial generasi muda dalam memaknai waktu secara Islami. Sumber data sekunder berupa laporan survei nasional dan global mengenai kebiasaan penggunaan media sosial oleh generasi muda turut dijadikan pijakan dalam mengkaji dampak budaya digital terhadap pemahaman waktu. Teknik analisis data dilakukan melalui hermeneutika kontekstual, yakni membaca teks suci secara historis dan relevan dengan realitas sosial masa kini. Hasil temuan kemudian dianalisis secara deskriptif-kritis guna mengungkap ketegangan antara nilai QurAoani tentang waktu dan pola konsumsi waktu dalam budaya digital modern. Dengan pendekatan ini, penelitian berupaya membangun narasi alternatif berbasis Al-QurAoan untuk memperkuat kesadaran spiritual generasi muda terhadap waktu sebagai dimensi transendental, bukan sekadar durasi teknis. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Waktu dalam Al-QurAoan sebagai Realitas Transendental dan Moral Al-QurAoan memposisikan waktu bukan sekadar sebagai aspek kronologis, tetapi sebagai realitas yang mengandung dimensi moral dan spiritual. Waktu adalah bagian dari ciptaan Allah yang menjadi medan ujian bagi manusia, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-AoAsr . : 1-3. AoaO aIEaOA aoAA eOA aoAoa eA aoa e AaOEe aA a Ayoa acIoaeEIe a aIoaEaA eOA a AA eOoaa eaCoai aoaOa aOA a AoaEAE aoaOa aOA a AyoaaceEoaEacOe aIoa aIIa eOA AyA aonaoAEA eA ca a Artinya: AuDemi masa . , sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian . , kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran . Ay (QS. Al-AoAsr . : 1-. Muuammad ibn Jarr al-abar. JAmiAo al-BayAn Aoan TaAowl Ay al-QurAoAn, ed. Aumad ShAkir (Beirut: DAr al-MaAorifah, 2. Fakhr al-Dn al-RAz, al-Tafsr al-Kabr. Jilid 3 (Beirut: DAr IuyAAo al-TurAth al-AoArab, 1. , hlm. 102Ae105. Sayyid Qutb. F eilAl al-QurAoAn. Jilid 6 (Kairo: DAr al-Shurq, 2. Sherry Turkle. Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other (New York: Basic Books, 2. , hlm. 155Ae157. Nicholas Carr. The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (New York: W. Norton & Company, 2. , hlm. Paul Ricoeur. Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning (Fort Worth: Texas Christian University Press, 1. , hlm. 74Ae76. QurAoan Kemenag digital. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Muhammad Fatih. Bashori: Konsep Waktu dalam Al-QurAoan dan Tantangannya Terhadap Budaya AoScrollingAo Generasi Muda Dalam ayat ini. Allah bersumpah demi waktu, sebuah bentuk penguatan makna bahwa waktu memiliki nilai sakral. Sumpah tersebut diikuti pernyataan bahwa seluruh manusia dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan Ini menunjukkan bahwa waktu adalah alat ukur keberhasilan spiritual manusia dalam menjalani hidup yang bermakna. Tafsir al-RAz menjelaskan bahwa sumpah waktu dalam QS. al-AoAsr menunjukkan pentingnya setiap detik kehidupan sebagai kesempatan untuk mengabdi kepada Allah dan berbuat 13 Di sisi lain, dalam tafsir kontemporer seperti Sayyid Qutb, waktu dipandang sebagai entitas dinamis yang menuntut kesadaran kritis: manusia tidak cukup hanya AumengisiAy waktu, tetapi harus AumemaknaiAy dan AumengelolaAy waktu sebagai bentuk tanggung jawab hidup. Persepsi Waktu Generasi Muda dalam Budaya Digital Dalam budaya digital saat ini, khususnya pada generasi muda, terjadi pergeseran persepsi terhadap waktu. Waktu tidak lagi dipandang sebagai amanah atau potensi produktif, tetapi sebagai Auruang kosongAy yang harus diisi secara instan dan cepat dengan hiburan digital. Aktivitas seperti scrolling di media sosial secara terus-menerus sering dilakukan bukan karena kebutuhan fungsional, tetapi karena dorongan psikologis berupa dopamine craving, sebagaimana dijelaskan oleh Cal Newport. 15 Ini menyebabkan degradasi kapasitas untuk hidup dengan kesadaran utuh terhadap Studi empiris dari Kominfo tahun 2022 menunjukkan bahwa remaja Indonesia rata-rata menghabiskan lebih dari 6 jam per hari di dunia digital, dan lebih dari separuhnya mengaku tidak tahu pasti bagaimana waktu mereka habis setiap hari. 16 Hal ini mengindikasikan adanya ketidaksadaran kolektif terhadap makna waktu, sebagaimana dicemaskan dalam literatur klasik Islam ketika manusia terjebak dalam AughaflahAy atau kelalaian. Budaya Scrolling sebagai Gejala Disorientasi Waktu Budaya scrolling yang merajalela di era digital kontemporer adalah fenomena psiko-sosial yang mencerminkan disorientasi waktu secara sistemik, terutama pada generasi muda. Budaya ini menandai pergeseran besar dalam cara manusia mengalami waktu: dari pengalaman yang reflektif dan terukur menjadi pengalaman yang cair, dangkal, dan terus-menerus bergerak tanpa arah. Dalam QurAoan Kemenag digital, yang diakses pada tanggal 1 Mei 2025 Fakhr al-Dn al-RAz, al-Tafsr al-Kabr. Jilid 32 (Beirut: DAr IuyAAo al-TurAth al-AoArab, 1. , hlm. Sayyid Qutb. F eilAl al-QurAoAn. Jilid 6 (Kairo: DAr al-Shurq, 2. , hlm. Cal Newport. Digital Minimalism: Choosing a Focused Life in a Noisy World (New York: Portfolio/Penguin, 2. , hlm. Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Survei Literasi Digital Nasional, 2022, hlm. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Muhammad Fatih. Bashori: Konsep Waktu dalam Al-QurAoan dan Tantangannya Terhadap Budaya AoScrollingAo Generasi Muda hal ini, scrolling bukan hanya aktivitas fisik menggeser layar, tetapi simbol dari keterputusan antara manusia dan nilai-nilai spiritual serta sosial waktu. Fenomena ini sejalan dengan konsep Aupresent shockAy yang dikemukakan oleh Douglas Rushkoff, di mana manusia modern tidak lagi hidup dalam masa lalu atau merencanakan masa depan, tetapi terjebak dalam kekinian yang tidak pernah selesai. Menurutnya, kita hidup dalam kondisi "now-ist" yang kronis, yang menyebabkan waktu kehilangan makna historis dan 17 Dengan kata lain, budaya scrolling menciptakan manusia yang terjebak dalam eternal now sebuah kondisi mental yang terus berpindah perhatian namun tak pernah benar-benar hadir secara utuh. Disorientasi waktu ini diperparah oleh algoritma media sosial yang dirancang untuk mengoptimalkan waktu keterlibatan . ngagement tim. , bukan kualitas pengalaman. Algoritma ini memperpanjang waktu layar pengguna dengan menyuguhkan konten tak berujung, membentuk ilusi AukesibukanAy padahal sesungguhnya hanya pengulangan pasif. 18 Dalam konteks ini, waktu tidak lagi dirasakan secara kualitatif . , tetapi hanya secara kuantitatif . erapa lama pengguna Hal ini selaras dengan apa yang disebut oleh Byung-Chul Han sebagai AuinfocracyAy dunia yang dibanjiri informasi tanpa kedalaman, di mana waktu dipreteli dari struktur naratifnya. Dalam perspektif psikologi kognitif, scrolling yang repetitif memicu kondisi temporal dissociation, yaitu ketidakmampuan otak untuk menyadari durasi sebenarnya dari suatu aktivitas. Oleh karena itu, banyak generasi muda yang merasa "kehilangan waktu" setelah menghabiskan waktu berjam-jam di layar tanpa kesadaran. Ini adalah bentuk ghaflah kontemporer kelalaian bukan karena lupa kepada Tuhan secara eksplisit, tetapi karena waktu telah dibajak oleh pengalaman digital yang tidak sakral. Kondisi ini sangat bertentangan dengan konsep waktu dalam Al-QurAoan yang menuntut refleksi, kesadaran, dan tanggung jawab. Dalam Al-QurAoan, orang yang menyia-nyiakan waktu sering digambarkan sebagai mereka yang merugi (QS. Al-AoAs. , lalai (QS. Al-AAoraf . , atau bahkan seperti binatang yang tidak memiliki orientasi spiritual (QS. Al-Furqan . Artinya, kehilangan kendali atas waktu bukanlah sekadar masalah teknis, tetapi juga spiritual. Douglas Rushkoff. Present Shock: When Everything Happens Now (New York: Current, 2. Tristan Harris. AuHow Technology Hijacks PeopleAos Minds from a Magician and GoogleAos Design Ethicist,Ay Medium, 2016. Byung-Chul Han. The Burnout Society, trans. Erik Butler (Stanford: Stanford University Press, 2. , hlm. 19Ae21. Natasha Dow Schyll. Addiction by Design: Machine Gambling in Las Vegas (Princeton: Princeton University Press, 2. , hlm. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Muhammad Fatih. Bashori: Konsep Waktu dalam Al-QurAoan dan Tantangannya Terhadap Budaya AoScrollingAo Generasi Muda Menurut Erich Fromm, masyarakat modern menderita dari apa yang ia sebut Aubeing mode deficitAy, di mana orientasi kehidupan bergeser dari AomenjadiAo kepada AomemilikiAo dan AomelakukanAo. Dalam budaya scrolling, manusia lebih sibuk melakukan . crolling tanpa hent. daripada menjadi . akhluk sadar yang hidup dalam wakt. Hal ini menjauhkan manusia dari kontemplasi, dari makna, dan dari Tuhan. 21 Dalam hal ini, scrolling bukan sekadar tantangan psikologis, tetapi juga Dari perspektif pendidikan, budaya scrolling juga menciptakan fragmentasi atensi yang merusak daya fokus dan kedalaman berpikir generasi muda. Hal ini berdampak langsung pada kualitas waktu belajar, beribadah, dan berinteraksi. Daniel Goleman dalam Focus menyebut ini sebagai Auattention deficit traitAy suatu kondisi yang membuat individu secara mental selalu teralihkan dan tidak mampu bertahan dalam aktivitas bermakna dalam durasi yang cukup. Budaya scrolling, dengan demikian, tidak hanya mengganggu struktur waktu individual, tetapi juga struktur waktu sosial dan spiritual. Seseorang mungkin tidak lalai dalam kewajiban syariat secara formal, tetapi bila waktunya didominasi oleh scrolling, maka dimensi ruhani dan sosial dari waktu telah tergantikan oleh ilusi produktivitas digital. Inilah bentuk istidraj digital kenikmatan duniawi yang membawa kelalaian, sebagaimana disebut dalam QS. Al-AnAoam . :44: s AA EaIoaIOoaIoaaEOoaNnoaA IoaEaONIoa OoaEEA aoAoaN eIA a a a a ea e e a a e aa a aAoa Ocoaaoa a eOoaOoaaeOaeoaa a e IaeIoaa eaUoa e a a e a a ca a a Aoa eOA aoAacIeE a eO aIA Artinya: AuMaka, ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka. Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu . untuk mereka, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka. Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asaAy (Q. S Al-AnAoAm . Melalui analisis ini, menjadi jelas bahwa budaya scrolling merupakan tantangan besar bagi konsep waktu QurAoani. Ia mengancam integritas spiritual, daya reflektif, dan tanggung jawab sosial manusia atas waktu yang dikaruniakan kepadanya. Maka, perlu adanya narasi baru yang membangun kembali kesadaran waktu sebagai amanah dalam dunia digital yang penuh disorientasi. Erich Fromm. To Have or to Be? (New York: Harper & Row, 1. , hlm. Daniel Goleman. Focus: The Hidden Driver of Excellence (New York: Harper, 2. , hlm. QurAoan Kemenag Digital Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Muhammad Fatih. Bashori: Konsep Waktu dalam Al-QurAoan dan Tantangannya Terhadap Budaya AoScrollingAo Generasi Muda Krisis Makna Waktu dan Degradasi Spiritualitas Generasi Digital Krisis makna waktu dalam kehidupan generasi digital bukan sekadar persoalan teknis manajemen waktu, tetapi merupakan krisis eksistensial yang mengakar pada degradasi nilai spiritual dan keterputusan dari struktur makna ilahiah. Dalam dunia yang diwarnai hiperrealitas, waktu kehilangan dimensi ontologisnya dan berubah menjadi komoditas yang diukur dengan kecepatan konsumsi dan efisiensi kapital. Akibatnya, waktu tidak lagi dipahami sebagai karunia atau amanah dari Allah, tetapi sebagai "sumber daya" yang harus dioptimalkan untuk kepuasan Dalam epistemologi Islam, waktu memiliki nilai sakral karena terkait langsung dengan pertanggungjawaban manusia kepada Tuhan. Ibn Qayyim al-Jawziyyah menyebut waktu sebagai Aumodal terbesar seorang hamba,Ay yang apabila disia-siakan akan membawa penyesalan kekal. 24 Ia menulis bahwa Aumenyia-nyiakan waktu lebih berbahaya daripada kematian, karena menyia-nyiakan waktu memutus hubunganmu dengan Allah dan akhirat, sementara kematian hanya memutus hubunganmu dengan dunia. Ay25 Pernyataan ini menggambarkan bahwa waktu adalah poros antara dunia dan akhirat, dan mengabaikannya adalah bentuk pemutusan hubungan spiritual terdalam. Namun dalam era digital, makna waktu ini mengalami distorsi. Budaya multitasking, kecepatan, dan gratifikasi instan menciptakan generasi yang terbiasa hidup dalam ritme cepat dan Nicholas Carr dalam The Shallows menyebut bahwa internet mengubah struktur otak manusia: dari kemampuan kontemplatif menjadi reaktif, dari mendalam menjadi superfisial. Dalam kondisi ini, waktu tidak lagi menjadi wadah kontemplasi, melainkan sekadar latar kosong dari deretan aktivitas tanpa makna spiritual yang terhubung. Fenomena ini berdampak serius pada degradasi spiritualitas generasi muda. Mereka tidak lagi merasakan waktu sebagai ruang kehadiran Tuhan . usr ilA. , melainkan sebagai siklus aktivitas yang padat namun kosong. Dalam banyak studi, termasuk yang dilakukan oleh Jean Twenge, ditemukan peningkatan signifikan dalam angka kecemasan, depresi, dan rasa hampa pada remaja pasca ledakan penggunaan smartphone gejala yang menunjukkan hilangnya makna dan arah dalam hidup. 27 Gejala ini sejatinya berakar pada hilangnya pengalaman waktu yang mengandung nilai ruhani dan eksistensial. Al-QurAoan secara konsisten mengingatkan manusia untuk tidak menjadi lalai terhadap Dalam QS. Al-AoAsr. Allah bersumpah atas waktu, mengaitkannya dengan kerugian eksistensial bagi mereka yang tidak mengisinya dengan iman, amal saleh, dan saling menasihati Ibn Qayyim al-Jawziyyah, al-FawAAoid (Beirut: DAr al-MaAorifah, 2. , hlm. Ibn Qayyim al-Jawziyyah, hlm. Nicholas Carr. The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (New York: W. Norton & Company, 2. , hlm. Jean M. Twenge, iGen: Why TodayAos Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious. More Tolerant. Less Happy (New York: Atria Books, 2. , hlm. 92Ae96. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Muhammad Fatih. Bashori: Konsep Waktu dalam Al-QurAoan dan Tantangannya Terhadap Budaya AoScrollingAo Generasi Muda dalam kebenaran dan kesabaran. Ini menunjukkan bahwa waktu bukan hanya medium aktivitas, tetapi juga indikator kualitas iman dan spiritualitas seseorang. Ketika waktu diisi oleh aktivitas kosong seperti scrolling pasif, maka esensi waktu sebagai penentu keselamatan telah tergantikan oleh simulakra hiburan. Dalam kerangka tasawuf, waktu adalah medan muraqabah kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap detik kehidupan. Al-Ghazali menyebut bahwa setiap tarikan napas adalah Aupermata tak tergantikanAy yang hanya akan bermakna bila diisi dengan zikir, tafakkur, dan amal baik. 28 Oleh karena itu, hilangnya kesadaran waktu merupakan hilangnya kesadaran terhadap kehadiran Allah dalam hidup sehari-hari. Ketika waktu menjadi anonim, maka hubungan spiritual manusia ikut terputus. Krisis ini diperparah oleh sistem nilai kapitalisme digital yang mempromosikan gaya hidup konsumtif, serba instan, dan tanpa batas waktu. Dalam dunia ini, waktu bukan lagi wahana menuju kedewasaan ruhani, tetapi hanya AuslotAy yang diisi oleh konten, hiburan, atau pekerjaan. Michel Desmurget, dalam bukunya La Fabrique du Crytin Digital, menunjukkan bahwa kehidupan digital intensif telah menurunkan kapasitas kognitif, emosi empatik, bahkan kehidupan spiritual remaja Oleh karena itu, menghadapi tantangan ini memerlukan revitalisasi makna waktu sebagaimana yang diajarkan dalam Al-QurAoan sebagai amanah, bukan alat. sebagai ruang kontemplasi, bukan sekadar ruang konsumsi. Perlu adanya rekonstruksi kesadaran waktu berbasis nilai QurAoani yang menekankan tanggung jawab, keterikatan kepada Allah, dan orientasi ukhrawi. Dalam kata lain. Audigital fastingAy atau puasa media dapat menjadi salah satu bentuk tazkiyat al-nafs untuk mengembalikan kesucian waktu dari pencemaran disorientasi digital. Kesimpulannya, krisis makna waktu di era scrolling bukanlah fenomena sepele. Ia adalah manifestasi dari keretakan hubungan manusia dengan waktu, dengan makna, dan dengan Tuhannya. Maka, pembaruan spiritualitas generasi muda harus dimulai dengan membangun kembali kesadaran akan nilai waktu sebagai rahmat dan tanggung jawab ilahiah. Tantangan Budaya Scrolling terhadap Kesadaran Waktu Generasi Muda Fenomena budaya scrolling yang merebak di era digital tidak bisa dipandang sebagai sekadar kebiasaan harian atau kebosanan yang dimediasi oleh teknologi. Ia adalah gejala budaya dan spiritual yang kompleks, mencerminkan transformasi mendalam dalam cara generasi muda mengalami, menghayati, dan memahami waktu. Dari tiga sub-fokus sebelumnya, tampak jelas bahwa budaya scrolling tidak hanya menciptakan disorientasi waktu, tetapi juga menyerang dimensi terdalam kesadaran dan spiritualitas manusia modern. Abu Amid al-GhazAl. IuyAAo AoUlm al-Dn. Jilid 4 (Beirut: DAr al-Fikr, 1. , hlm. Michel Desmurget. La Fabrique du Crytin Digital (Paris: Seuil, 2. , hlm. 156Ae158. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Muhammad Fatih. Bashori: Konsep Waktu dalam Al-QurAoan dan Tantangannya Terhadap Budaya AoScrollingAo Generasi Muda Pertama, budaya scrolling menciptakan disorientasi waktu yang sistemik. Aktivitas yang tampak remeh ini justru menjerumuskan individu dalam pengalaman waktu yang datar dan Dalam istilah Douglas Rushkoff, generasi digital kini mengalami present shock hidup dalam kekinian yang terus bergerak tetapi tanpa arah. 30 Sementara itu, algoritma digital membentuk semacam Auhipnosis modernAy yang menjauhkan manusia dari ritme waktu spiritual dan membuat waktu kehilangan nilai kontemplatifnya. 31 Disorientasi ini bukan sekadar masalah teknis, tetapi merupakan distorsi epistemologis terhadap makna waktu yang seharusnya sarat tanggung jawab ilahiah . Kedua, budaya scrolling telah mengikis makna waktu itu sendiri, dari entitas sakral menjadi komoditas yang habis dikonsumsi. Ibn Qayyim al-Jawziyyah menegaskan bahwa waktu adalah modal terbesar manusia dalam perjalanan menuju Allah. 32 Namun dalam peradaban digital, waktu diperlakukan sebagai objek optimalisasi dan hiburan, bukan sarana tafakkur atau pendekatan diri. Ketika waktu kehilangan dimensi eksistensialnya, maka hilang pula arah hidup manusia. Hal ini berdampak langsung pada degradasi spiritualitas generasi muda, yang dalam banyak kasus mengalami kekosongan makna, kecemasan eksistensial, dan ketergantungan digital. Ketiga, budaya scrolling menciptakan fragmentasi kesadaran spiritual. Dalam tradisi Islam, waktu selalu terikat pada dzikr, pada kehadiran Tuhan dalam tiap momen kehidupan. Konsep alwaqt huwa al-Aoumr . aktu adalah hidup itu sendir. dalam literatur tasawuf menekankan pentingnya mengisi waktu dengan makna ilahiah. 34 Namun dalam era scrolling, waktu tercerai dari kehendak untuk hadir secara spiritual. Aktivitas scrolling menjadi bentuk ghaflah kontemporer kelalaian dalam kemasan digital yang secara halus namun konsisten menjauhkan manusia dari dimensi sakral 35 Ini adalah bentuk baru dari Auistidraj,Ay di mana kenikmatan terus mengalir justru sebagai bentuk ujian dan kelalaian yang membawa bencana spiritual. Dari ketiga aspek ini, tampak jelas bahwa budaya scrolling bukan hanya membentuk kebiasaan baru, tetapi menciptakan kondisi antropologis baru yang bertentangan secara diametral dengan konsep waktu dalam Al-QurAoan. Waktu, dalam perspektif wahyu, adalah dimensi moral dan spiritual yang menuntut refleksi, kesungguhan, dan orientasi ukhrawi. Dalam QS. Al-AoAsr. Allah bersumpah atas waktu karena begitu pentingnya ia sebagai penentu nasib eksistensial manusia. Douglas Rushkoff. Present Shock: When Everything Happens Now (New York: Current, 2. Byung-Chul Han. The Burnout Society, trans. Erik Butler (Stanford: Stanford University Press, 2. , hlm. Ibn Qayyim al-Jawziyyah, al-FawAAoid (Beirut: DAr al-MaAorifah, 2. , hlm. Jean M. Twenge, iGen: Why TodayAos Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious. More Tolerant. Less Happy (New York: Atria Books, 2. , hlm. Abu Amid al-GhazAl. IuyAAo AoUlm al-Dn. Jilid 4 (Beirut: DAr al-Fikr, 1. , hlm. Erich Fromm. To Have or to Be? (New York: Harper & Row, 1. , hlm. Al-QurAoan. QS. Al-AnAoam . :44. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Muhammad Fatih. Bashori: Konsep Waktu dalam Al-QurAoan dan Tantangannya Terhadap Budaya AoScrollingAo Generasi Muda Namun dalam budaya scrolling, waktu hanya menjadi ruang kosong yang dipenuhi oleh hiburan tanpa ujung, tanpa tanggung jawab, dan tanpa nilai akhirat. Krisis ini tidak dapat diselesaikan semata-mata dengan teknik manajemen waktu atau detoks digital jangka pendek. Ia menuntut rekonstruksi ulang kesadaran berdasarkan nilai-nilai QurAoani yang memuliakan waktu sebagai amanah. Kesadaran ini harus ditanamkan melalui pendidikan spiritual, kebiasaan dzikir, dan pola hidup yang menghargai waktu sebagai bagian dari Di sinilah pentingnya membangun ekosistem yang mengintegrasikan teknologi dan spiritualitas, bukan memisahkannya secara dualistik. Tantangan budaya scrolling bukan sekadar perang terhadap kebiasaan buruk, tetapi perjuangan membangun kembali makna hidup yang utuh dalam lanskap dunia digital. Upaya Rekonstruksi Kesadaran Waktu QurAoani di Era Digital Dalam menghadapi krisis makna waktu yang dipicu oleh budaya scrolling, upaya rekonstruksi kesadaran waktu menurut Al-QurAoan menjadi sangat mendesak. Rekonstruksi ini tidak sekadar mengembalikan nilai waktu dalam bingkai normatif, tetapi juga merancang pendekatan transformatif yang relevan dengan dinamika generasi muda digital. Kesadaran waktu QurAoani perlu ditanamkan kembali dalam bentuk praksis yakni cara hidup yang berakar pada nilai spiritual dan diarahkan pada misi profetik . azkiyah al-nafs dan AoimArat al-waq. Al-QurAoan tidak hanya memberi konsep abstrak tentang waktu, tetapi juga memberi landasan moral dan eksistensial yang menuntut keseriusan dalam setiap detik kehidupan. Sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-add ayat 20: aoAoaOeEaeOaeE soaoa aE aIaEoa aeOA ca UAoaOOeIaA ca AoaOaaEeUOA ca AA a AoaOa a U A eEa aIeoa acacIaoa eaOOaoaEacIeOaoa EaA a aoAoaOa aEaUoaoaeEa eI aOEA a AUoaaeO Ia aE eIA s aoAoaOaIeAaUoaI aIA AoaA AoaeEA a AoaOA ca AoaOe UA a U a a e AoaIA a AA aA UcoacoaOa aE eO aIA a acoaIaNnoacoaOaNeO aoa aONA a Aoaa UIA a AoaEe aEAA a Aa e aA aoAoaIaaoaEeaaeOA e A aO UIoaoa asOaIA e AcEE aoaOA a AoaeEaOOaoaEacIeOaOoaaceEA Artinya: Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adala. seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaanNya. Kehidupan dunia . agi orang-orang yang lenga. hanyalah kesenangan yang (Q. Al-add . Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Muhammad Fatih. Bashori: Konsep Waktu dalam Al-QurAoan dan Tantangannya Terhadap Budaya AoScrollingAo Generasi Muda AuKetahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan,A. Ay. Ini adalah kritik tajam terhadap gaya hidup digital yang menjadikan waktu sebagai ajang hiburan dan pelarian dari realitas. 37 Oleh karena itu, rekonstruksi kesadaran waktu harus dimulai dari reinterpretasi nilai waktu sebagai bentuk tanggung jawab moral. Langkah awal dalam rekonstruksi ini adalah pendidikan spiritual berbasis kesadaran waktu. Pendidikan tidak hanya mengajarkan konsep manajemen waktu secara teknis, tetapi juga mengintegrasikan nilai QurAoani tentang tanggung jawab, amal saleh, dan orientasi akhirat dalam keseharian digital. Dalam pendidikan Islam klasik, seperti yang ditulis oleh al-Zarnj dalam TaAolm al-MutaAoallim, waktu belajar dianggap bagian dari ibadah, dan menyia-nyiakan waktu merupakan bentuk pengkhianatan terhadap ilmu. 38 Hal ini bisa diadaptasi dalam kurikulum digital melalui praktik time journaling, meditasi dzikir, dan integrasi spiritual dalam penggunaan media. Selain itu, rekonstruksi ini menuntut pengembangan budaya digital yang lebih etis dan Munculnya fenomena slow tech atau penggunaan teknologi secara sadar dan terbatas bisa menjadi pintu masuk. Konsep puasa digital . igital deto. dalam konteks Islam dapat dikembangkan menjadi riyAsat al-nafs digital latihan spiritual yang menahan diri dari Kesia-siaan digital demi memulihkan orientasi hidup. Sejalan dengan pandangan Sayyed Hossein Nasr, modernitas telah mencabut manusia dari Ausumbu ilahiAy kehidupannya, dan satu-satunya jalan keluar adalah dengan mengembalikan waktu sebagai ruang pertemuan antara yang fana dan yang abadi. Rekonstruksi kesadaran waktu juga memerlukan keteladanan praksis dari para pemimpin, guru, dan tokoh publik. Sebab nilai waktu tidak akan mengakar jika tidak dilihat dalam bentuk Rasulullah SAW sendiri adalah teladan tertinggi dalam memaknai waktu secara efektif dan Dalam Sirah Nabawiyah, waktu beliau dibagi untuk ibadah, keluarga, dakwah, dan umat. Ini menunjukkan bahwa rekonstruksi bukan semata reformulasi konsep, melainkan pemulihan pola hidup profetik dalam konteks kekinian. Terakhir, rekonstruksi ini harus menjangkau level kebijakan. Negara dan lembaga pendidikan Islam perlu mendorong riset, kurikulum, dan kebijakan publik yang menyeimbangkan antara penggunaan teknologi dan perlindungan waktu ruhani. Al-QurAoan telah memberi kerangka etiknya, tinggal bagaimana umat Islam merumuskan langkah strategisnya. Seperti dikatakan oleh QurAoan Kemenag Digital. BurhAn al-Dn al-Zarnj. TaAolm al-MutaAoallim arq al-TaAoallum (Beirut: DAr al-Kutub alAoIlmiyyah, 2. , hlm. Seyyed Hossein Nasr. Knowledge and the Sacred (Albany: State University of New York Press, 1. , hlm. Ibn Hisham. Sirah Nabawiyah. Jilid 1 (Beirut: DAr al-MaAorifah, 1. , hlm. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Muhammad Fatih. Bashori: Konsep Waktu dalam Al-QurAoan dan Tantangannya Terhadap Budaya AoScrollingAo Generasi Muda Taha Abdurrahman, etika bukan sesuatu yang diajarkan belaka, tetapi harus ditransformasikan menjadi suluk ruhani dalam segala aspek hidup. KESIMPULAN Penelitian ini berangkat dari kegelisahan epistemologis sekaligus spiritual terhadap realitas generasi muda di era digital, khususnya dalam cara mereka memperlakukan waktu. Budaya scrolling yang semula tampak sebagai aktivitas biasa, ternyata menyimpan konsekuensi yang mendalam terhadap struktur kesadaran, makna eksistensial, serta orientasi spiritual manusia. AlQurAoan sebagai sumber utama ajaran Islam, memberikan fondasi ontologis, aksiologis, dan teleologis tentang pentingnya waktu, yang secara substansial bertentangan dengan cara hidup digital yang sering kali bersifat instan, dangkal, dan terfragmentasi. Terdapat beberapa temuan penting dari penelitian ini seperti menegaskan bahwa waktu dalam Al-QurAoan bukan hanya dimensi kronologis, melainkan ruang tanggung jawab moral . , kesaksian terhadap amal manusia, dan arena pertumbuhan spiritual. Konsep-konsep seperti al-Aoar, al-layl wa al-nahAr, serta pengingat tentang urgensi waktu yang terdapat dalam QS. Al-AoAsr. QS. Al-Mulk, dan QS. Al-Dahr, menunjukkan bagaimana Islam memandang waktu sebagai sesuatu yang harus diisi dengan makna dan amal saleh. Sebaliknya, budaya scrolling telah menimbulkan disorientasi waktu, reduksi makna, dan fragmentasi kesadaran spiritual yang berdampak langsung pada cara hidup generasi muda. Melalui pendekatan deskriptif-analitis dan kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa fenomena scrolling tidak sekadar gejala teknologi, tetapi juga gejala teologis dan antropologis. menggambarkan bentuk baru dari ghaflah . , di mana manusia semakin jauh dari nilainilai ilahiah karena waktu dijalani tanpa kesadaran eksistensial. Hal ini diperkuat oleh sistem algoritmik yang bekerja dalam platform digital yang secara tak sadar membentuk ulang preferensi, durasi atensi, dan bahkan nalar hidup manusia. Oleh karena itu, tantangan ke depan tidak hanya terletak pada kritik terhadap teknologi, tetapi lebih dalam lagi, pada upaya membangun ulang kesadaran ruhani yang integral dan kontekstual. Refleksi terhadap budaya scrolling di masa depan harus mencakup dimensi etik, spiritual, dan institusional. Dunia digital tidak bisa dihindari, tetapi bisa dikawal agar tidak menjauhkan manusia dari makna hidup. Generasi muda harus didorong untuk membangun relasi yang sadar dengan waktu bukan sekadar produktif secara ekonomi, tetapi juga bermakna secara ruhani. Pendidikan Islam, keluarga, dan institusi sosial perlu bekerja sama dalam menyemai kesadaran QurAoani tentang waktu sebagai jalan menuju kemuliaan hidup, bukan sekadar pengisi kekosongan. Taha Abdurrahman. Ru al-adAthah: F Tafsir al-adAthah al-IslAmiyyah (Beirut: al-Markaz alThaqAf al-AoArab, 2. , hlm. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Muhammad Fatih. Bashori: Konsep Waktu dalam Al-QurAoan dan Tantangannya Terhadap Budaya AoScrollingAo Generasi Muda Sebagai penutup, penelitian ini merekomendasikan beberapa arah lanjutan. Pertama, diperlukan riset empiris-kualitatif yang lebih mendalam tentang bagaimana budaya scrolling memengaruhi perilaku ibadah, produktivitas, dan relasi sosial generasi muda Muslim di berbagai konteks lokal. Kedua, perlu dikembangkan model pendidikan spiritual digital yang mengintegrasikan konsep waktu QurAoani ke dalam praktik harian generasi muda, misalnya melalui digital mindfulness berbasis dzikir dan tilawah. Ketiga, pengembangan aplikasi atau teknologi yang bersifat kontemplatif yang tidak hanya mengejar keterlibatan . , tetapi juga menghadirkan ruang jeda, refleksi, dan kesadaran ilahiah merupakan tantangan sekaligus peluang besar bagi inovasi keislaman di era digital. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menjadi catatan kritis terhadap kondisi zaman, tetapi juga seruan etis untuk membangun kesadaran baru tentang waktu sebuah kesadaran yang berakar pada wahyu, bernafas dalam realitas, dan mengarah pada kehidupan yang lebih bermakna dan bertanggung jawab di hadapan Allah SWT. DAFTAR PUSTAKA