Vol. No. p-ISSN: 2502-8383 e- ISSN: 2808-3954 AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ PENERAPAN METODE BIN-NADLAR DAN BILGHOIB DALAM MENGHAFAL AL-QURAoAN 30 JUZ Luluk Mashluchah Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah. Universitas Islam Jember Email: lulukmashluchah@gmail. Abstrak: Al-qurAoan diturunkan untuk menjadi undang-undang bagi umat Al-QurAoan memperkenalkan dirinya dengan berbagai sifat. Salah satu sifatnya adalah keontentikannya dijamin langsung oleh Allah. Maka dari itu ia terus dibaca oleh jutaan bahkan ribuan orang meski tidak tau dalam maknanya. Banyak kalangan yang telah melestarikan al-QurAoan dengan cara menghafalnya, baik remaja, anak-anak, maupun orang dewasa. Dan tidak ada bacaan yang sempurna selain al-QurAoan. Al-QurAoan merupakan kitab yang teratur dalam membacanya, dari yang harus dibaca pendek, panjang, tebal, juga tempat yang dilarang atau bahkan dianjurkan dalam memulai membacanya. Dan terdapat banyak janji Allah agar dapat hidup bahagia dunia akhirat bagi para penghafalnya sehingga menjadi impian setiap insan untuk menjadi penghafal al-QurAoan dengan baik dan Key Words: Metode Bin Nadlar. Bil Ghoib Al-QurAoan PENDAHULUAN Al-QurAoan merupakan pedoman dan sumber pertama ajaran Islam. Agama islam yang mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntut umat manusia kepada kebahagiaan dan Semua dasar-dasar dan perundang-undangan dapat diketahui melalui Al-QurAoan yang merupakan sumber utama dan mata air yang memancarkan ajaran islam. Hukum-hukum Islam yang mengandung serangkaian pengetahuan dan akidah, pokok-pokok akhlak perbuatan dalam al-QurAoan: Artinya: Aumaha suci Allah yang telah menurunkan Al1 Vol. No. p-ISSN: 2502-8383 e- ISSN: 2808-3954 AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ FurAoqan (Al-QurAoa. kepada hamba-Nya. Agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. Ay1 Semua urusan agama selalu dikembalikan pada wahyu Allah SWT. Maka setiap muslim wajib mempelajari Al-QurAoan sesuai dengan kemampuannya. Dalam konteks keilmuan Islam, al-QurAoan tidak dapat ditinggalkan. Semakin mendalam pengetahuan seseorang tentang al-QurAoan semakin baik kemampuannya dalam memahami agama ini maka disinilah para ulama salaf meletakkan tahfidzul QurAoan sebagai tumpuan utama yang harus ditempuh sebelum mempelajari ilmu yang lain. Salah satu usaha nyata untuk menjaga kemurnian alqurAoan adalah dengan menghafalkannya, karena menghafal al-QurAoan adalah pekerjaan yang mulia di hadapan manusia dan di hadapan Allah SWT. Tidak ada suatu kitab di dunia ini yang dihafal oleh puluhan ribu orang di dalam hati mereka kecuali hanya al-QurAoan yang telah dimudahkan oleh Allah SWT. Artinya: AuSesungguhnya telah kami mudahkan QurAoan . agi manusi. untuk jadi pelajaran, adakah orang yang mengambil pelajaran . ari padanya?). Ay2 Maka tidak aneh jika ditemukan banyak orang baik laki-laki maupun perempuan bahkan anak-anak yang menghafal al-QurAoan. Karena alQurAoan dapat dihafalkan oleh siapapun bahkan dalam waktu yang singkat. Hal ini dapat ditemukan pada masa sekarang ini, dimana kondisi islam lemah namun tidak mengurangi jumlah penghafal al-QurAoan. Begitu juga dengan pembelajaran al-QurAoan yang sudah lama berlangsung sampai saat ini, bahkan lebih berkembang dan semakin pesat. Melihat banyaknya pondok pesantren yang muncul diberbagai tempat salah satunya di Pondok Pesantren Nurul Wajid Karangpring Sukorambi Jember yang juga menawarkan pembelajaran al-QurAoan sebagai salah satu ciri khas dari pondok pesantren tersebut. Program yang ditawarkan pondok pesantren ini yaitu menghafal al-QurAoan dengan melalui tahapan bin-nadlar dan bil-ghoib. Adapun yang melaksanakan program tersebut adalah para santri yang mempunyai komitmen besar Depag RI. Al-QurAoan dan Terjemahnya. Bandung: J. Art. Depag RI. Al-QurAoan dan Terjemahnya. Bandung: J. Art. Vol. No. p-ISSN: 2502-8383 e- ISSN: 2808-3954 AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ untuk menjaga dan memelihara kemurnian al-QurAoan dengan cara Dari latar belakang diatas, peneliti bermaksud mengetahui lebih lanjut proses pembelajaran tahfidz al-QurAoan dan ketuntasan hafalan santri, sekaligus mengetahui problem dan solusi dalam menghafalkan al-QurAoan. Ketuntasan hafalan dalam penelitian ini adalah tercapainya program tahfidz yang direncanakan oleh pondok pesantren yakni dapat menghafalkan al-QurAoan 30 juz dengan bilghoib . anpa melihat al-QurAoa. Sebagaimana istilah hafidz yang menunjukkan pada kemampuan menghafal al-QurAoan secara keseluruhan. Sehingga istilah tersebut tidak lazim disandangkan kepada seseorang yang hanya hafal beberapa surat dari al-QurAoan. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini yaitu penelitian kualitatif deskriptif dengan beberapa pertimbangan: pertama, lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda. Kedua, menyajikan secara langsung hubungan peneliti dengan responden. Ketiga, lebih mudah menyesuaikan diri dengan banyak pengaruh bersama pola-pola nilai yang Sedangkan dikatakan deskriptif, karena penelitian ini akan memberikan gambaran peristiwa dan kaitannya dengan situasi tertentu. Pendekatan Penelitian Adapun dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif yaitu penalitian yang mendasarkan analisisnya bukan dari perhitungan statistic. Pendekatan penelitian kualitatif menurut Bogdan dan Taylor adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat Sumber Data Penelitian ini menggunakan teknik sampel . urposive samplin. yaitu pengambilan sampel . yang dilakukan bukan berdasarkan atas Moleong. Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya. Moleong. Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya. Vol. No. p-ISSN: 2502-8383 e- ISSN: 2808-3954 AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ strata, random atau daerah tetapi berdasarkan atas adanya tujuan tertentu dalam mencapai tujuan. 5 Sehingga dalam penelitian ini diambil sampel dari bagian objek yang dianggap mewakili dari keseluruhan yang ada di Pondok Pesantren Nurul Wajid Karangpring Sukorambi Jember sebagai objek Dengan menggunakan teknik sampel di atas, yaitu dengan mengambil informan yang dianggap dapat memberikan informasi yang terkait seperti pemasalahan yang diangkat peneliti dengan ditak menghilangkan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Untuk penentuan informan atau sumber data dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan peneliti dalam mengumpulkan data, demi lengkapnya data sebuah penelitian. Sumber data yang diambil antara lain: Pengasuh pesantren. Ustadzah dan para pengurus pesantren. Santri, wali santri juga masyarakat yang ikut berperan memberikan keterangan mengenai berbagai keadaan pesantren dan Berbagai buku dan dokumen tentang metode bin-nadlar dan bil-ghoib yang berlaku di dalam pesantren Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data merupan suatu cara atau proses yang sistematis dalam pengumpulan, pencatatan, dan penyajian fakta untuk tujuan tertentu. 6 Untuk mendapatkan data-data yang valid dan dapat dipertanggung jawabkan, maka penelitian ini menggunakan beberapa metode untuk mengumpulkan data yang ingin diperoleh. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah: Obsevasi Observasi merupakan suatu teknik untuk mengamati secara langsung maupun tidak langsung terhadap aktivitas yang sedang Sedangkan Kerlinger dalam bukunya Arikunto mengatakan bahwa mengobservasi adalah suatu istilah umum yang mempunyai arti Arikunto. Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta. Rineka Cipta. Sumarsono. Soni. , 2004. Metode Riset Sumber Daya Manusia, (Yogyakarta: Graham Ilmu. Vol. No. p-ISSN: 2502-8383 e- ISSN: 2808-3954 AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ semua bentuk penerimaan data yang ditentukan dengan cara merekam kejadian, menghitungnya, mengukurnya dan mencatatnya. 7 Sedangkan Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa observasi adalah cara atau teknik pengumpulan data yang dilakukan secara sadar dan melakukan pengamatan secara sitematis, terhadap semua gejala atau peristiwa yang muncul dalam objek penelitian. Metode observasi ini digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data objek peneliti tentang AuMetode Bin-nadlar dan Bil-ghoib dalam Menghafal Al-QurAoan 30 Juz di Pondok Pesantren . Nurul Wajid Karangpring Sukorambi JemberAy. Adapun data yang diperoleh dalam observasi ini adalah: Proses menghafal al-QurAoan di Pondok Pesantren Nurul Wajid. Metode bin-nadlar dan bil-ghoib yang digunakan dalam proses menghafal al-QurAoan di Pondok Pesantren Nurul Wajid dan Faktor pendukung serta penghambat dalam proses menghafal al-QurAoan di Pondok Pesantren . Nurul Wajid Wawancara Wawancara merupakan percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan kedua belah pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawan carai yang memberikan jawabannya atas pertanyaan tersebut. Wawancara adalah sebuah interaksi dialogis yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara yang sudah Dapat diambil pengertian wawancara merupakn kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi atau data yang relevan dan konkrit secara langsung dengan mengajukan pertanyaan kepada terwawancara melalui proses yang sistematis. Data yang didapat menggunakan metode wawancara ini adalah: Latar belakang berdirinya Pondok Pesantren . Nurul Wajid Karangpring Sukorambi Jember. Kegiatan Ustadzah dalam pembelajaran menghafal alQurAoan 30 juz. Kegiatan santri dalam proses belajar menghafal al-QurAoan Arikunto. Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta. Rineka Cipta. Arikunto. Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta. Rineka Cipta. Vol. No. p-ISSN: 2502-8383 e- ISSN: 2808-3954 AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ 30 juz. Metode yang digunakan dalam menghafal al-QurAoan. Faktor pendukung dan penghambat dalam proses menghafal al-QurAoan Documentasi Menurut Arikunto metode dokumentasi adalah teknik mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa: catatan, transkip buku, surat, majalah, prasati, notulen agenda dan sebagainya dari objek penelitian. Hal ini dapat dipahami bahwa metode dokumenter dilakukan untuk masingmasing yang telah direkomendasikan. Adapun data yang diperoleh dengan metode ini adalah: Data pengasuh Pondok Pesantren. Nurul Wajid Karangpring Sukorambi Jember. Data santri Pondok Pesantren. Nurul Wajid Karangpring Sukorambi Jember. Sejarah berdirinya Pondok Pesantren. Nurul Wajid Karangpring Sukorambi Jember. Struktur organisasi Pondok Pesantren. Nurul Wajid Karangpring Sukorambi Jember. Sarana dan prasarana Pondok Pesantren. Nurul Wajid Karangpring Sukorambi Jember. Denah dan lokasi Pondok Pesantren. Nurul Wajid Karangpring Sukorambi Jember Analisis Data Analisa data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, memastikannya, mencari dan menemukan apa yang penting. Metode analisa data yang digunakan peneliti adalah deskriptif kualitatif, data dikumpulkan berupa kata-kata, sumber dan bukan angkaangka. hal ini disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif. Selain itu, semua yang dikumpulkan kemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti. Metode analisa data deskriptif kualitatif dilakukan melalui tiga jalur yaitu: a. Reduksi data, b. Penyajian data, dan c. Verifikasi dan kesimpulan Keabsahan Data Keabsahan data adalah konsep penting yang diperbaharui dari konsep keshahihan . dan keandalan . menurut versi positifisme dan disesuaikan dengan tuntunan pengetahuan, kriteria dan paragdimanya sendiri. Dalam uji keabsahan data ada beberapa tehnik diantaranya adalah trianggulasi sumber. Trianggulasi sumber berarti membandingkan dan Moleong. Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya. Vol. No. p-ISSN: 2502-8383 e- ISSN: 2808-3954 AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ mengecek kembali drajat kepercayaan suatu informasi ynag diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Data-data yang peneliti harus bisa dibuktikan dan divalidkan yaitu dengan trianggulasi sumber. Peneliti akan membuktikan bahwa data-data yang diperoleh berupa data-data riil. Data tersebut yang akan direlevansikan dengan berbagai sumber seperti dokumen dan beberapa literature yang ada. KAJIAN TEORI Metode bin-nadlar dan bil-ghoib dalam Menghafal Al-QurAoan 30 juz Kata metode berasal dari bahasa Yunani methodos yang berarti cara atau jalan. Dalam bahasa Inggris ditulis method, dalam bahasa Indonesia kata tersebut mengandung arti cara yang teratur dan berpikir baik untuk mencapai maksud dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya. Metode juga diartikan sebagai cara kerja yang sistematis untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai suatu yang ditentukan. Menghafal al-QurAoan merupakan suatu keutamaan yang besar, dan posisi itu selalu didambakan oleh semua orang yang benar, dan semua orang yang bercita-cita tulus, serta berharap pada kenikmatan duniawi dan ukhrawi agar manusia nantinya menjadi warga Allah yang tidak merugi. Sebagaimana firmannya dalam surat Faatir ayat 35. Artinya: sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah, dan mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian dari rizki yang kami anugrahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan Metode yang di maksud dan yang telah digunakan pada pondok pesantren ini yaitu dengan melalui tahapan yang telah ditetapkan oleh pesantren, meskipun banyak jalan terkait dengan menghafal al-QurAoan, dalam hal ini sesuai dengan cara yang telah digukan pada pondok pesantren tersebut terdapat dua cara yakni dengan cara bin-nadlar dan bil-ghoib yang membantu para calon hafidz dapat dengan mudah dalam menghafal al-QurAoan dengan jadwal atau waktu yang telah tersusun sebelumnya. Metode menghafal al-QurAoan 30 juz dengan bin-nadlar Depag RI. Al-QurAoan dan Terjemahnya. Bandung: J. Art. Vol. No. p-ISSN: 2502-8383 e- ISSN: 2808-3954 AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ bin-nadlar adalah suatu bentuk kegiatan yang dilakukan sebelum proses menghafal dimulai agar mendapat kemantapan dalam bacaan al-QurAoan yang hendak dihafal, karena menghafal al-QurAoan adalah proses mengulangngulang bacaan. Oleh karena itu, semakin sering mengulang bacaan akan semakin mudah menghafalnya. Sebagaimana seorang santri yang selalu membaca surah Yaasiin setiap malam jumAoat walaupun hanya satu kali, lama-kelaman dia akan dapat menghafalkan surat Yaasiin tersebut tanpa Maka seorang calon tahfidz pada ahfidzul QurAoan Nurul Wajid disarankan untuk menggunakan cara ini sebagai langkah awal proses pembelajaran menghafal al-QurAoan. Membaca Agar dapat mudah dalam menghafalkan al-QurAoan, maka seorang calon hafidz harus sudah mampu membaca al-QurAoan dengan bacaan yang benar, fasih serta lancer. 11 Dalam hal ini sebaiknya sebelum menghafal al-QurAoan calon hafidz sudah hatam mengaji al-QurAoan secara bin-nadlar kepada Dengan begitu calon hafidz tidak menemukan kesulitan membaca baik dari segi lafadz, ayat, maupun fashahahnya. Proses bin-nadlar dimulai dari melalui alat indra manusia, yaitu penglihatan dan pendengaran. Kedua alat indra tersebut memegang peranan penting dalam penerimaan informasi, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat alQurAoan bahwa penyebutan mata dan telinga selalu beriringan . smaAo wal Itulah sebabnya, sangat dianjurkan untuk mendengarkan suara sendiri pada saat menghafal al-QurAoan agar kedua alat sensorok ini bekerja dengan baik. Membaca dengan melihat mushaf atau dari bantuan orang yang lebih ahli dibidangnya dapat menjadikan proses menghafal menjadi lebih mudah. Memahami makna ayat penghafal al-QurAoan selain harus melakukan pengulangan secara rutin, juga diwajibkan untuk membaca tafsiran ayat yang dihafalkan. Dua hal ini menjadi inti dalam mencapai hafalan yang sempurna, pemahaman tanpa pengulangan tidak akan membuahkan pengetahuan, dan pengulangan tanpa pemahaman juaga membuat hafalan menjadi sekedar bacaan biasa. SaAodulloh, 9 Cara PraktisMenghafal Al-QuAoan. Jakarta: Gema Insani Press. Vol. No. p-ISSN: 2502-8383 e- ISSN: 2808-3954 AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ Terkait dengan yang dikemukakan diatas, cara seperti ini lebih efektif agar ayat-ayat yang dihafal tersebut dapat terorganisasikan dan diproses secara aktif, serta dikembangkan hubungannya satu dengan yang lainnya. Sehingga calon penghafal dapat lebih mudah menghafal dengan mengetahui maksud surat yang akan dihafal tersebut. Metode menghafal al-QurAoan 30 juz dengan bil-ghoib Bil-ghoib yaitu menghafal materi baru yang belum pernah dihafal. Menghafal sedikit demi sedikit ayat al-QurAoan yang telah dibaca berulangulang secara bin-nadlar. Misalnya menghafal satu baris, beberapa kalimat, atau sepotong ayat pendek sampai tidak ada kesalahan. Setelah satu baris atau beberapa kalimat tersebut dihafal dengan baik, lalu ditambah dengan merangkaikan baris atau kalimat berikutnya sehingga sempurna. Kemudian rangkaian tersebut diulang kembali sampai benar-benar hafal. Pada bagian ini, bilghoib berkaitan dengan proses enconding yakni suatu proses memasukkan data-data informasi kedalam ingatan. Adapun metode bilghoib ini terdapat tiga rangkaian cara untuk menghafal al-QurAoan yaitu: Talaqqi (Setora. talaqqi yaitu menyetorkan atau memperdengarkan hafalan kepada seorang guru atau instruktur yang telah ditentukan. Proses ini dilakukan untuk mengetahui hasil hafalan seorang hafidz dan mendapatkan bimbingan Seseorang yang ingin menghafal biasanya melihat pada mushaf dan tidak mengetahui tempat pada kesalahan bacaannya. Oleh karena itu, ia wajib memperdengarkan bacaan al-QurAoannya kepada orang lain sebagai media untuk mengetahui kesalahan-kesalahan dan sebagai peringatan terhadap pikiran dan hafalannya Takrir (Mengulan. takrir yaitu mengulang hafalan atau melakukan simaAoan terhadap ayat yang telah dihafal kepada guru atau orang lain. Takrir dimaksudkan agar hafalan yang pernah dihafal tetap terjaga dengan baik. Selain dengan guru, takrir juga dilakukan sendiri-sindiri dengan maksud melancarkan hafalan yang telah dihafal sehingga tidak mudah lupa. Zen, muhaimin. Tata Cara/Problematika Menghafal Al-QurAoan dan Petunjuk-petunjuknya, (Jakarta: Pustaka Al-Husna. Vol. No. p-ISSN: 2502-8383 e- ISSN: 2808-3954 AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ Mengenai hal ini Rasulullah saw. Bersabda: Artinya: sesungguhnya perumpamaan orang yang menghafal al-QurAoan, seperti pemilik unta yang Jika ia menjaganya, berarti ia telah mengikatnya. Namun, jika ia melepaskan ikatan itu niscaya unta akan pergi (HR. Bukhori Musli. TasmiAo tasmiAo yaitu memperdengarkan hafalan kepada orang lain, baik kepada perseorangan maupun kepada jamaAoah. Dengan tasmiAo. seseorang penghafal al-QurAoan akan dapat diketahui kekurangan hafalan pada dirinya, karena tidak menutup kemungkinan seorang penghafal lengah dalam mengucapkan huruf atau harokat. Agar seorang hafidz dapat lebih berhati-hati lagi dalam penjagaan hasil hafalan dan dapat lebih teliti lagi dalam pengucapan lafadz dan hukum bacaannya. Dengan demikian seseorang akan berkonsentrasi dengan hafalannya. Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa untuk dapat menghafal al-QurAoan seseorang haruslah melalui jalan untuk membantu memudahkan dalam proses menghafalnya hingga dapat menghafal seluruh ayat al-QurAoan yakni 30 juz dalam waktu yang relativ lebih cepat. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Metode menghafal al-QurAoan di Pondok Pesantren Nurul Wajid Karangpring Sukorambi Jember Bin-nadlar Apabila dikaji ulang dari semua pemaparan diatas mengenai metode menghafal al-QurAoan, maka akan didapatkan beberapa metode sebagai salah satu cara untuk mempermudah penghafalan. Penggunaan metode binnadlar menjadi sebuah awal dari proses menghafal al-QurAoan. Bukan hanya calon hafidz saja yang menggunakan metode ini, namun terdapat juga santri yang memang sengaja ingin belajar membaca alQurAoan dengan baik sehingga dalam proses bin-nadlar ini berlangsung bersamaan antara calon hafidz dan santri yang mengaji biasa, dan dalam hal BaqiAo. Muhammad Fuad Abdul. Terjemah Al-luAoluAo Wal Marjan. Surabaya: Bina Ilmu. Vol. No. p-ISSN: 2502-8383 e- ISSN: 2808-3954 AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ ini tingkatan umurpun tidak dipermasalahkan sehingga tidak adanya perbedaan antara yang dewasa maupun yang masih anak-anak. Gambaran di atas dapat diinterpretasikan bahwa, meskipun terdapat perbedan usia namun tidak menjadi permasahan bagi santri yang bersangkutan dengan menggunakan metode ini. Sehingga hal ini akan memjadi suatu pembelajaran yang mengarahkan terhadap adanya saling menghormati antar santri meskipun terdapat adanya jarak umur atau tingkatan yang lain. Membaca Untuk memulai menghafal, hendaknya terlebih dahulu dilakukan proses membaca, dalam hal ini yakni al-QurAoan sebagai objek utamanya. Sehingga patutlah untuk memperbaiki bacaan al-QurAoan sebelum memuali untuk menghafal. Hal ini di pertegas oleh SaAodulloh bahwa untuk memudahkan menghafal al-QurAoan, maka seorang calon hafidz harus sudah mampu membaca al-QurAoan dengan bacaan yang benar, fasih serta lancar. Dengan adanya bacaan yang baik akan mempermudah dalam proses menghafal al-QurAoan. Dalam hal ini juga di orientasikan pada perbaikan hukum-hukum bacaan serta pembenahan pada makhorijul hurufnya begitu juga dengan perbaikan dalam melagukan bacaan al-QurAoan. Pelaksanaan diatas dapat diinterpretasikan, bahwa santri memiliki kemampuan yang berbeda dalam membaca, oleh sebab itu pengasuh sedapat mungkin untuk memonitoring santri bin-nadlar untuk dapat terus berkembang dalam memperbaiki bacaan dari aspek manapun. Memahami Makna Ayat Untuk mengembangkan pengetahuan tentang al-qurAoan seseorang hendaknya memahami makna ayat yang membantu melancarkan Dengan begitu akan memperoleh keuntungan selain mengetahui makna ayat juga dapat mempermudah menghafal dengan lebih lancarnya ingatan ketika mengetahui makna ayat sebelum dan sesudahnya. Memahami makna ayat di PP Nurul Wajid Karangpring Sukorambi Jember terwujud dalam dilaksanakannya pengajian tafsir yang diajarkan langsung oleh pengasuh, sehingga sangat tidak mungkin untuk tidak memngetahui makna dan tafsir dari ayat yang dimaksud. Sedangkan dalam al-QurAoan terdapat ribuan ayat di dalamnya, jadi dapat disimpulkan bahwa hal ini tidak menunjang santri mengetahui semua ayat al-QurAoan bila mempelajari sendiri dengan mencari ayat yang diinginkan. Vol. No. p-ISSN: 2502-8383 e- ISSN: 2808-3954 AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ Gambaran diatas dapat di interpretasikan bahwa memahami makna ayat dalam menghafal al-QurAoan belum dapat dijadikan suatu hal yang terbilang mudah, karna perlu waktu yang tidak sedikit untuk dapat mengetahui atau memahami ayat yang dimaksudkan, namun dengan adanya pengajian tafsir dapat sedikit membantu kesulitan yang dialami santri, sehingga mengetahui keterkaitan antara sebagian ayat satu dengan yang Bil-ghoib Metode bil-ghoib digunakan untuk membantu dalam proses menghafal al-QurAoan, tanpa adanya suatu metode bisa jadi mempersulit proses penghafalan. Karena dengan adanya metode ini diharapkan dapat memberikan kemudahan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan mengikuti langkah didalamnya yaitu: Talaqqi . Talaqqi adalah menyetorkan hafalan kepada instruktur, dalam hal ini di PP Nurul Wajid Karangpring Sukorambi Jember setoran dilaksanakan setiap hari kecuali hari selasa dan jumAoat. Dapat diinterpretasikan bahwa, proses talaqqi yang diterapkan sangatlah sesuai karena dengan begitu calon hafidz dapat mengetahui kesalahan yang terdapat pada hasil hafalannya . Takrir . Proses mengulang juga menjadi suatu hal yang diwajibkan dalam proses menghafal al-QurAoan, mengingat tanpa adanya pengulangan seseorang kemungkinan besar akan mengalami kelupaan. Dengan demikian pengulangan materi dirasa menjadi kewajiban bagi para hafidz dalam menjaga dan memperkuat hafalannya. Dapat diinterpretasikan bahwa, pengulangan menghafal al-QurAoan haruslah dilakukan setiap hari tanpa mengenal rasa bosan, karena dengan begitu akan semakin kuatnya hasil hafalan meskipun penambahan ayat dilakukan secara intensiv tanpa adanya ayat yang terlupakan disetiap penambahan ayat sesudahnya. TasmiAo TasmiAo adalah memperdengarkan hafalan kepada banyak orang. Kegiatan ini juga digunakan sebagai evaluasi dan menguji keberanian menghafal al-QurAoan kepada banyak orang. Vol. No. p-ISSN: 2502-8383 e- ISSN: 2808-3954 AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ Kegiatan tasmiAo di PP Nurul Wajid dilakukan dengan menggunkan pengeras suara agar dapat di dengar oleh para penyimak yang ajak jauh dari tempat penghafal. Selanjutnya dapat diinterpretasikan bahwa, tasmiAosangatlah tepat menjadi salah satu cara untuk membantu proses menghafal serta penguatan mental seseorang dalam hal menghafal al-QurAoan. Sebab keberanian seseorang dalam membacakan al-QurAoan bisa saja hilang jika tidak pernah mencoba untuk memperdengarkan pada orang lain. SIMPULAN Bahwa metode yang digunakan dalam proses menghafal al-QurAoan di pondok pesantren tahfidzul qurAoan putri adalah dengan bin-nadlar dan bilghoib beserta urutan proses menghafal yang digunakan oleh semua santri dengan semua tingkatannya masing-masing, sehingga dapat membantu proses jalannya dari awal sampai khatamnya al-QurAoan. Di samping itu juga terdapat permasalahan yang dihadapi oleh santri baik internal maupun eksternal namun permasalahan tersebut ada yang dapat di atasi dengan usaha santri untuk membagi waktu dengan baik dan tetap istiqomah dalam menjalankan kewajiban, sehingga permasalahan itu menjadi tantangan yang menarik dan tidak di jadikan alasan untuk fakum dalam hafalannya masingmasing. Dalam proses menghafal al-QurAoan menggunakan metode bin-nadlar yakni dengan membaca berulang-ulang dengan melihat mushaf agar lancar bacaannya serta dapat mengucapkan dengan baik dan benar juga fasih dan memahami makna ayat agar menjadi tahfidz yang intelektual dengan mengaji tafsir. Proses menghafal al-QurAoan dengan metode bil-ghoib yaitu dengan langkah mengikuti talaqqi . , takrir . , hingga tasmi, yakni memperdengarkan hafalannya kepada majlis atau orang banyak. Faktor pendukung baik internal maupun eksternal merupakan faktor yang mendorong santri untuk dapat melakukan suatu hal dalam menghafal alQurAoan dengan baik dan benar. DAFTAR RUJUKAN Akhmadi. Abu. , dan Supriyono Widodo, 2004. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineke Cipta. Vol. No. p-ISSN: 2502-8383 e- ISSN: 2808-3954 AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ Arikunto. Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta. Rineka Cipta. Badwilan. Ahmad. Panduan Cepat Menghafal Al-QurAoan Dan Rahasiarahasia Keajaibannya. Yogyakarta: Diva Press. BaqiAo. Muhammad Fuad Abdul. Terjemah Al-luAoluAo Wal Marjan. Surabaya: Bina Ilmu. Chairani. Lisya. , dan M. Subandi, 2010. Psikologi Santri Penghafal Al-QurAoan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Depag RI, 2005. Al-QurAoan dan Terjemahnya. Bandung: J. Art. Depdikbud, 2000. Kamus BesarBahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Depdiknas, 2002. KamusBesar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Habibah. Ummu. , 2015, 20 HariHafal 1 Juz. Yogyakarta: Diva Press. Israri. Harun 2003. Tuhfatus Saniyah Fi Khutbah JumAoah. Surabaya. Koentjoroningrat, 1980. Metode-metodePenelitian Masyarakat. Jakarta: Gema Insani Press. Moleong. Lexy J, 2011. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Poerwadarminta, 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. SaAodulloh, 2008. 9 Cara PraktisMenghafal Al-QuAoan. Jakarta: Gema Insani Press. Sekretariat Negara RI. No. Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sukardi, 2008. Metodologi Penelitian pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Sumarsono. Soni. , 2004. Metode Riset Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Graham Ilmu. Syah. Muhibbin. , 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: Raja Gravindo Persada. Zen, muhaimin. , 1983. Tata Cara/Problematika Menghafal Al-QurAoan dan Petunjuk-petunjuknya. Jakarta: Pustaka Al-Husna.