Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. Penguatan Gerakan Literasi Baca-Tulis dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Kartasura Umu Hafiza Izzah1*. Rosalia Arofatul Ihsani 2. Laili Etika Rahmawati 3 1-3Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Indonesia INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK Histori Artikel: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan serta merefleksikan implementasi literasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas Vi SMPN 2 Kartasura, sekaligus mengidentifikasi faktor pendukung dan hambatan dalam pelaksanaannya. Pengabdian dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui pendampingan kegiatan literasi yang telah berjalan di sekolah. Teknik pengumpulan data meliputi observasi kegiatan literasi, wawancara reflektif dengan guru Bahasa Indonesia sebagai mitra pengabdian, serta dokumentasi berupa jurnal membaca dan aktivitas siswa. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa implementasi literasi dilakukan melalui pembiasaan membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran, penggunaan jurnal membaca, kegiatan membaca bergiliran, serta presentasi isi bacaan di depan kelas. Praktik tersebut berkontribusi dalam meningkatkan pemahaman bacaan, keterampilan menulis ringkasan, serta kemampuan berbicara siswa. Faktor pendukung utama pelaksanaan literasi meliputi komitmen dan peran aktif guru, pembiasaan membaca yang konsisten, serta dukungan sarana sekolah. Adapun hambatan yang ditemukan meliputi rendahnya minat baca sebagian siswa, keterbatasan waktu pembelajaran, serta kurang variatifnya bahan bacaan. Kegiatan pengabdian ini menegaskan bahwa penguatan literasi memerlukan pendampingan berkelanjutan serta sinergi antara guru, sekolah, dan keluarga agar budaya literasi dapat berkembang secara efektif dan berkelanjutan. Submit: 11 Juli 2025 Revisi: 10 Desember 2025 Diterima: 20 Desember 2025 Publikasi: 29 Desember 2025 Periode Terbit: Desember 2025 Kata Kunci: gerakan literasi sekolah, literasi baca-tulis, pembelajaran bahasa indonesia, pembiasaan membaca Correspondent Author: Umu Hafiza Izzah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Indonesia Email: a310220020@student. Pendahuluan Literasi merupakan salah satu keterampilan dasar yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Sering kali orang hanya menganggap literasi sebatas kemampuan membaca dan menulis, padahal maknanya jauh lebih luas. Literasi mencakup kemampuan memahami menggunakannya untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari (Oktarina et al. Dengan literasi yang baik, seorang siswa tidak hanya mampu menyerap pelajaran, tetapi Penguatan Gerakan Literasi Baca Tulis dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia diA. e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. juga lebih kritis, kreatif, dan mampu berpikir logis (Harmadi et al. , 2. Dalam kehidupan modern seperti sekarang, literasi menjadi bekal utama untuk menghadapi arus informasi yang begitu cepat (Minsih et al. , 2. Siswa yang terbiasa membaca dan memahami bacaan dengan baik akan lebih siap bersaing, baik dalam bidang akademik maupun dalam kehidupan sosial (Prayitno. Oleh karena itu, literasi tidak bisa dipandang sebagai keterampilan tambahan, melainkan sebagai fondasi utama bagi keberhasilan belajar di sekolah dan keberhasilan hidup di masyarakat (Yanti et al. , 2. Menurut Harahap, dkk . pemahaman yang paling umum dari literasi adalah keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis, padahal literasi bukan hanya sebatas mampu membaca dan menulis. Education Development Center (EDC) menegaskan bahwa literasi menggunakan segenap potensi dan keterampilan . yang dimiliki dalam hidupnya untuk membaca kata dan membaca dunia. Bagian dari keterampilan literasi adalah ketrampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis yang berkembang melalui pembiasaan. Menurut Apriani . dimensi literasi yang paling awal adalah literasi baca dan tulis. Kemampuan baca-tulis bagi siswa sangat penting karena literasi dasar ini akan berpengaruh besar terhadap keberhasilan mereka dalam proses belajar, baik di dalam maupun di luar ruang kelas. Saat ini, minat membaca siswa masih kurang dan memerlukan dukungan serta peran dari lingkungan di sekitarnya termasuk dari para guru. Menurut Putri . minat baca masyarakat Indonesia masih menjadi persoalan Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 penting karena tingkatnya tergolong rendah dibandingkan negara lain. Rendahnya minat baca ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kurangnya kebiasaan membaca sejak kecil, akses pendidikan yang belum merata, kualitas sarana pendidikan yang masih terbatas, kurikulum dan metode pembelajaran yang kurang mendukung, serta minimnya ketersediaan bahan bacaan (Prayitno & Wicaksono, 2. Menurut Aziz, dkk . melalui membaca, peserta didik mampu menangkap informasi yang disampaikan guru sekaligus menjadikannya sarana untuk mengenali, memahami, serta menerapkan ilmu dan pengetahuan dari berbagai sumber. Aktivitas membaca juga membantu mempermudah proses pemahaman dan analisis terhadap beragam materi pengetahuan yang dipelajari. Menurut Rahayu . membaca dan menulis merupakan kegiatan yang hampir selalu hadir dalam dunia pendidikan. Karena itu, penting bagi setiap peserta didik untuk memiliki kemampuan sekaligus kesadaran literasi. Dengan literasi, siswa dapat mengenali, memahami, hingga mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh di sekolah. Literasi tidak hanya berguna di ruang kelas, tetapi juga berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun di lingkungan sekitar. Oleh sebab itu, budaya literasi perlu ditanamkan sejak dini. Menurut Riayanti . menumbuhkan budaya membaca merupakan sasaran dalam mewujudkan warga dan masyarakat yang literat, dan terbiasa dengan bahan-bahan bacaan dalam memecahkan suatu permasalahan dalam kehidupan. Dengan kata lain, tulisan merupakan bentuk rekam jejak dari sebuah sejarah yang diturunkan dari generasi ke generasi yang lain. Penguatan Gerakan Literasi Baca Tulis dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia diA. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 sebagai suatu sarana dalam memperoleh pengetahuan. Menurut Dewi, dkk . perkembangan zaman dan tuntutan mempengaruhi perkembangan aspek literasi, meliputi literasi digital, literasi budaya, dan literasi numerasi. Meskipun ada banyak jenis literasi, literasi baca dan tulis tetap menjadi dasar penting yang harus dikuasai dalam dunia pendidikan. Menurut Subandiyah . kemampuan literasi dapat ditingkatkan dengan berbagai cara, dan saat ini banyak sekolah sudah berusaha mengembangkannya. Salah satu langkah yang umum dilakukan adalah membiasakan siswa dengan kegiatan literasi atau yang sering disebut pembudayaan literasi. Bentuk pembiasaan ini biasanya terbagi menjadi dua, yaitu melalui pengembangan budaya literasi di lingkungan sekolah serta melalui pembelajaran di kelas pada berbagai mata pelajaran. Kedua upaya tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni menanamkan kebiasaan membaca dan menulis pada diri siswa. Menurut Wati, dkk . makna dan cakupan literasi meliputi: . literasi sebagai rangkaian kecakapan ini mencakup berbagai keterampilan dasar, seperti menulis, membaca, berbicara, berhitung dan mengakses informasi. literasi sebagai praktik sosial literasi bukan hanya tentang keterampilan individu, tetapi juga tentang bagaimana keterampilan tersebut diterapkan dalam konteks sosial. literasi sebagai proses pembelajaran ini menggarisbawahi bahwa literasi adalah proses yang terus berlangsung, bukan hanya sekadar pencapaian tertentu. Aktivitas membaca dan menulis adalah sarana penting untuk merenungkan, menyelidiki, menanyakan, dan mengkritisi ilmu dan gagasan yang dipelajari. literasi sebagai teks yang e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. variatif: Literasi tidak hanya terbatas pada satu jenis teks. Menurut Sari . salah satu pelajaran bahasa Indonesia yang lebih banyak melaksanakan kegiatan membaca. Oleh karena itu, kegiatan literasi sangat penting untuk meningkatkan minat baca siswa. Dengan tingginya minat membaca siswa, diharapkan dapat berpengaruh pada hasil belajar Bahasa Indonesia mereka. Penerapan gerakan literasi sekolah di SMPN 2 Kartasura dilaksanakan secara rutin pada siswa kelas Vi I dan IX A. Kegiatan ini dilakukan selama 15 menit sebelum pembelajaran Bahasa Indonesia dimulai. Program tersebut bertujuan untuk menumbuhkan minat baca sekaligus membiasakan siswa berinteraksi dengan berbagai bahan Dengan adanya program ini, sekolah berharap siswa mampu meningkatkan keterampilan literasi yang akan menunjang proses belajar mereka di kelas. Namun, dalam praktiknya masih terdapat beberapa kendala. Tidak semua siswa membawa buku bacaan, terutama buku fiksi, sehingga mereka tidak dapat mengikuti kegiatan literasi dengan optimal. Meskipun demikian, sebagian siswa menunjukkan antusiasme yang baik. Mereka rajin membawa dan membaca buku fiksi, seperti novel, cerpen, maupun karya sastra Metode Pelaksanaan Kegiatan ini dilaksanakan dalam kerangka pengabdian kepada masyarakat dengan menggunakan pendekatan kualitatif Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk menggambarkan secara sistematis dan mendalam proses pelaksanaan serta dinamika Penguatan Gerakan Literasi Baca Tulis dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia diA. e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. kegiatan literasi yang berlangsung di sekolah mitra tanpa adanya manipulasi variabel. Pendekatan pengabdian bertujuan untuk memaparkan fenomena sebagaimana adanya, sekaligus menjadi dasar refleksi bersama antara tim pengabdi, guru, dan siswa terhadap praktik literasi yang telah dijalankan. Lokasi bertempat di SMPN 2 Kartasura, khususnya pada ruang kelas pembelajaran Bahasa Indonesia. Sekolah ini telah menerapkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) secara rutin, yaitu selama 15 menit sebelum pembelajaran Kegiatan pengabdian difokuskan pada kelas Vi, yang secara konsisten melaksanakan kegiatan literasi sebagai bagian dari pembiasaan belajar. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada kebutuhan sekolah untuk mengoptimalkan pelaksanaan literasi agar lebih efektif dan berkelanjutan. Subjek kegiatan pengabdian meliputi guru Bahasa Indonesia yang berperan sebagai fasilitator utama kegiatan literasi serta siswa kelas Vi yang terlibat secara langsung dalam pelaksanaan program. Guru berperan sebagai mitra pengabdian yang berkolaborasi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi kegiatan literasi, sedangkan siswa menjadi sasaran utama penguatan literasi melalui pembiasaan membaca, diskusi, dan presentasi hasil bacaan. Pelaksanaan melalui beberapa tahapan, yaitu observasi awal, pendampingan kegiatan literasi, serta refleksi dan evaluasi. Observasi awal bertujuan untuk memperoleh gambaran awal mengenai kondisi pelaksanaan literasi di kelas, termasuk Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 keterlibatan siswa, peran guru, serta kendala yang dihadapi. Tahap pendampingan dilakukan dengan mendukung guru dalam mengelola kegiatan literasi, mendorong partisipasi aktif siswa, serta memfasilitasi kegiatan lanjutan seperti diskusi dan presentasi isi bacaan. Tahap refleksi dan evaluasi dilakukan bersama guru untuk mengidentifikasi faktor pendukung dan merumuskan upaya perbaikan ke depan. Teknik pengumpulan data dalam kegiatan pengabdian ini meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan secara langsung selama kegiatan literasi berlangsung di kelas dengan menggunakan lembar observasi Observasi ini difokuskan pada keterlibatan siswa, pola interaksi antara guru dan siswa, serta pelaksanaan tahapan kegiatan Observasi berfungsi sebagai sarana pendampingan yang dilakukan dalam konteks Wawancara dilakukan secara semiterstruktur dengan guru Bahasa Indonesia sebagai mitra pengabdian. Wawancara ini menggunakan pedoman pertanyaan terbuka yang disusun sesuai dengan tujuan kegiatan pengabdian, yaitu untuk menggali pengalaman, persepsi, serta pandangan guru terhadap pelaksanaan literasi dan dampak pendampingan yang diberikan. Wawancara dalam kegiatan pengabdian tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis, melainkan untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai praktik literasi dan kebutuhan nyata di lapangan. Selain itu, dokumentasi dilakukan sebagai data pendukung melalui pengambilan foto kegiatan literasi, catatan lapangan, serta arsip pendukung lainnya. Dokumentasi ini digunakan Penguatan Gerakan Literasi Baca Tulis dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia diA. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 untuk memperkuat deskripsi pelaksanaan kegiatan serta menjadi bukti nyata keterlibatan siswa dan guru dalam program literasi yang Penggunaan dokumentasi dalam pengabdian berfungsi sebagai sarana verifikasi data sekaligus refleksi visual terhadap proses Instrumen meliputi lembar observasi, pedoman wawancara, dan alat dokumentasi. Lembar observasi berisi indikator pelaksanaan literasi, seperti minat baca siswa, keterlibatan dalam kegiatan membaca, partisipasi dalam diskusi, serta kemampuan menyampaikan kembali isi bacaan. Pedoman mengarahkan dialog dengan guru terkait pelaksanaan literasi, kendala yang dihadapi, serta perubahan yang dirasakan setelah adanya Alat dokumentasi digunakan untuk merekam aktivitas sebagai data pendukung yang bersifat deskriptif. Data yang diperoleh dari kegiatan pengabdian kemudian dianalisis secara kualitatif deskriptif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan Reduksi data dilakukan dengan menyeleksi dan memfokuskan data yang relevan dengan tujuan pengabdian. Data yang telah direduksi selanjutnya disajikan dalam bentuk narasi deskriptif yang menggambarkan proses pelaksanaan, keterlibatan peserta, serta hasil pendampingan kegiatan literasi. Tahap penarikan kesimpulan dilakukan dengan menginterpretasikan data secara reflektif untuk memperoleh pemahaman mengenai efektivitas kegiatan pengabdian serta implikasinya bagi penguatan literasi di sekolah. Melalui metode pelaksanaan ini, kegiatan e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. mendeskripsikan pelaksanaan literasi di sekolah mitra, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam bentuk pendampingan, penguatan praktik literasi, serta rekomendasi perbaikan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh guru dan pihak sekolah. Hasil Pelaksanaan dan Pembahasan Hasil kegiatan diperoleh melalui proses observasi selama pendampingan, wawancara reflektif dengan guru Bahasa Indonesia sebagai mitra pengabdian, serta telaah dokumentasi kegiatan literasi yang berlangsung di kelas. Pembahasan difokuskan pada dua aspek utama, yaitu: . bentuk implementasi literasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, dan . faktorfaktor pendukung serta hambatan dalam pelaksanaan literasi di sekolah. Uraian hasil dan pembahasan ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang komprehensif mengenai praktik literasi yang telah berjalan, efektivitasnya dalam mendukung kemampuan membaca dan menulis siswa, serta aspek-aspek yang perlu diperkuat agar program literasi dapat dilaksanakan secara lebih optimal dan berkelanjutan dalam konteks pengabdian. Bentuk Implementasi Literasi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Berdasarkan hasil wawancara reflektif dengan guru Bahasa Indonesia kelas Vi SMPN 2 Kartasura, literasi dimaknai bukan sekadar aktivitas membaca teks, melainkan proses pemahaman yang mendalam terhadap isi Guru menyampaikan bahwa kegiatan literasi tidak dapat disebut berhasil apabila siswa hanya membaca secara cepat tanpa memahami makna bacaan. Pemahaman terhadap isi bacaan, kemampuan menemukan Penguatan Gerakan Literasi Baca Tulis dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia diA. e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. gagasan utama, serta menarik kesimpulan menjadi indikator utama keberhasilan literasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Pandangan ini sejalan dengan pendapat Sitepu dan Nainggolan . yang menyatakan bahwa program literasi pagi selama 15 menit berfungsi sebagai sarana pembiasaan untuk menumbuhkan minat baca serta meningkatkan kemampuan literasi peserta didik. Dalam konteks pengabdian ini, kegiatan literasi yang dilaksanakan sebelum pembelajaran Bahasa Indonesia dimanfaatkan sebagai momen mengarahkan siswa agar tidak hanya membaca, tetapi juga memahami bacaan secara kritis. Hal ini penting mengingat masih terdapat siswa yang mengalami kesulitan dalam membaca dan pendampingan berkelanjutan agar mereka tidak Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa guru memiliki peran sentral dalam memotivasi siswa agar gemar membaca dan Salah satu strategi motivasi yang digunakan adalah dengan menyampaikan kondisi literasi Indonesia yang masih berada pada peringkat rendah secara global. Guru menanamkan kesadaran kepada siswa bahwa rendahnya tingkat literasi merupakan persoalan serius yang perlu diatasi bersama. Selain itu, guru menerapkan aturan dan kesepakatan kelas yang tegas dalam pelaksanaan literasi, termasuk kewajiban membawa buku bacaan dan jurnal Pendekatan disiplin ini bertujuan membangun tanggung jawab dan konsistensi siswa dalam menjalankan pembiasaan literasi. Refleksi dari guru juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam mendukung literasi siswa. Menurut guru, kebiasaan menulis Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 dan membaca yang ditanamkan sejak dini di keterampilan literasi siswa di sekolah. Oleh karena itu, keberhasilan literasi tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga memerlukan sinergi antara guru, siswa, dan orang tua. Temuan ini sejalan dengan Sholichah dan Suhartono . yang menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Data UNESCO menunjukkan bahwa tingkat minat baca masyarakat Indonesia berada pada urutan kedua dari bawah, dengan persentase sebesar 0,001%, yang berarti dari 000 orang hanya satu orang yang memiliki kebiasaan membaca. Kondisi ini berdampak pada rendahnya kemampuan memahami informasi, sehingga isi bacaan kerap Dalam konteks pengabdian, data tersebut menjadi dasar penting untuk memperkuat urgensi pendampingan literasi di Adapun tujuan utama penerapan literasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas Vi, sebagaimana disampaikan oleh guru mitra, adalah untuk membantu siswa memahami bacaan, menemukan kata kunci, serta melatih kemampuan berpikir logis dalam menyimpulkan informasi penting dari teks yang dibaca. Tujuan ini menunjukkan bahwa literasi diposisikan sebagai sarana pengembangan kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar aktivitas rutin. Secara praktis, implementasi literasi di SMPN 2 Kartasura dilakukan melalui pembiasaan membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran Bahasa Indonesia dimulai. Bahan bacaan yang digunakan tidak terbatas pada buku teks Bahasa Indonesia, tetapi juga mencakup novel, ensiklopedia, dan buku mata Penguatan Gerakan Literasi Baca Tulis dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia diA. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 pelajaran lain. Variasi bahan bacaan ini bertujuan memperluas wawasan siswa serta meningkatkan minat baca mereka. Untuk mendukung keterlibatan siswa, guru menerapkan teknik membaca bergiliran di depan kelas tanpa membawa rangkuman. Teknik ini menuntut siswa untuk fokus menyimak bacaan teman serta memahami isi teks secara aktif. Siswa yang tidak memperhatikan akan diminta melanjutkan bacaan, sehingga mereka belajar disiplin sekaligus menghargai proses membaca sebagai aktivitas bersama. Gambar 1. Jurnal Membaca 1 Salah satu bentuk implementasi literasi yang penting dalam kegiatan ini adalah penggunaan jurnal membaca, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1. Jurnal membaca merupakan catatan wajib yang harus diisi siswa setiap selesai membaca buku. Jurnal ini memuat identitas bacaan, seperti judul dan pengarang, serta ringkasan isi bacaan. Jurnal membaca selalu dibawa saat pembelajaran Bahasa Indonesia untuk diperiksa dan diberi paraf oleh guru sebagai bentuk validasi. Selain menulis ringkasan, siswa juga diminta mempresentasikan isi bacaan di depan kelas tanpa melihat jurnal. Dengan demikian, jurnal membaca tidak hanya berfungsi sebagai e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. dokumentasi kegiatan literasi, tetapi juga sebagai sarana evaluasi pemahaman bacaan, pengembangan keterampilan berbicara. Selain itu. Gambar 2 memperlihatkan kegiatan membaca yang berlangsung di kelas. Dokumentasi ini menunjukkan keterlibatan siswa dalam kegiatan literasi serta peran aktif guru dalam mengarahkan dan mengelola Guru tidak hanya mengandalkan buku teks, tetapi juga sesekali membawa bacaan tambahan atau merekomendasikan buku lain kepada siswa. Strategi ini bertujuan menanamkan pemahaman bahwa membaca bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan kebiasaan yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil pendampingan dan refleksi bersama guru, implementasi literasi di kelas Vi SMPN 2 Kartasura dapat disimpulkan telah berjalan cukup baik melalui tiga strategi utama, yaitu pembiasaan membaca di kelas, latihan memahami isi bacaan, dan pemanfaatan bacaan tambahan. Strategi ini sejalan dengan pendapat Prayitno et al. yang menyatakan bahwa literasi yang efektif menuntut keterlibatan aktif siswa sebagai pembaca dan pendengar. Selain itu, keteladanan guru sebagai pembaca juga berperan penting dalam menumbuhkan minat baca siswa (Dewi et al. , 2. Penguatan Gerakan Literasi Baca Tulis dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia diA. e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. Gambar 2. Kegiatan Membaca Meskipun demikian, hasil pengabdian menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi literasi masih sangat dipengaruhi oleh motivasi internal siswa serta dukungan keluarga di Oleh karena itu, kegiatan pengabdian berkelanjutan antara sekolah dan orang tua Pendampingan literasi tidak hanya berhenti pada praktik di kelas, tetapi juga perlu diperluas melalui komunikasi dan sinergi dengan lingkungan keluarga agar tujuan literasi dapat tercapai secara optimal. Faktor Pendukung dan Hambatan Implementasi Literasi Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pendampingan implementasi literasi di SMPN 2 Kartasura menunjukkan adanya sejumlah faktor pendukung yang berperan penting dalam keberlangsungan program literasi, sekaligus beberapa hambatan yang perlu mendapat perhatian bersama. Identifikasi faktor pendukung dan hambatan ini Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 pendampingan, wawancara reflektif dengan guru Bahasa Indonesia, serta telaah dokumentasi kegiatan literasi yang dilaksanakan di kelas. Salah satu faktor pendukung utama dalam implementasi literasi di SMPN 2 Kartasura adalah antusiasme dan komitmen guru Bahasa Indonesia. Guru secara konsisten menjalankan kegiatan literasi sebagai bagian dari rutinitas pembelajaran, khususnya melalui pembiasaan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran Dalam konteks pengabdian, peran guru tidak hanya sebagai pelaksana, tetapi juga sebagai mitra yang aktif berdiskusi dan merefleksikan praktik literasi yang telah Guru berupaya merancang strategi pembelajaran berbasis teks serta menanamkan kebiasaan membaca dalam setiap pertemuan, sesuai dengan pandangan yang menempatkan guru sebagai teladan, motivator, dan fasilitator dalam membangun budaya literasi di sekolah. Selain peran guru, ketersediaan fasilitas pendukung juga menjadi faktor penunjang SMPN 2 Kartasura memiliki sarana seperti perpustakaan sekolah, buku paket pembelajaran, serta sudut baca di kelas yang dapat dimanfaatkan siswa. Fasilitas ini memberikan ruang bagi siswa untuk mengakses bahan bacaan, baik dalam kegiatan literasi terjadwal maupun di luar jam pelajaran. Kondisi ini sejalan dengan temuan Kartikasari . yang menyatakan bahwa keterlibatan guru yang tinggi serta dukungan sarana dan pendanaan buku perpustakaan merupakan faktor utama keberhasilan Gerakan Literasi Sekolah. Dalam kegiatan pengabdian ini, ketersediaan fasilitas tersebut mempermudah proses pendampingan dan memperkuat pelaksanaan literasi di kelas. Dukungan penggunaan jurnal membaca sebagai instrumen Penguatan Gerakan Literasi Baca Tulis dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia diA. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 pembiasaan literasi. Jurnal membaca yang ditunjukkan pada Gambar 3 merupakan salah satu bentuk dokumentasi kegiatan literasi siswa. Melalui jurnal ini, siswa dilatih untuk mencatat identitas bacaan, merangkum isi teks, serta mempertanggungjawabkan aktivitas membaca Jurnal membaca tidak hanya berfungsi sebagai alat administrasi, tetapi juga sebagai sarana refleksi dan evaluasi bagi guru untuk memantau perkembangan pemahaman bacaan Dalam konteks pengabdian, penggunaan jurnal membaca memperlihatkan praktik baik . est practic. yang dapat direkomendasikan untuk dipertahankan dan dikembangkan. e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. minat baca. Dengan strategi tersebut, guru tidak hanya mendorong kemampuan teknis membaca, tetapi juga membentuk kebiasaan membaca yang berkelanjutan. Peran guru sebagai motivator juga tampak dari upaya guru dalam menyampaikan pentingnya literasi melalui data dan fakta mengenai kondisi literasi nasional. Guru sering mengaitkan kegiatan membaca dengan realitas rendahnya tingkat literasi di Indonesia, sehingga diharapkan dapat membangkitkan kesadaran siswa akan pentingnya membaca dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan presentasi siswa setelah membaca, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 4, menjadi bukti bahwa literasi tidak hanya diarahkan pada pengembangan keterampilan berbicara dan kepercayaan diri siswa. Gambar 3. Jurnal Membaca 2 Selain itu, guru juga menerapkan berbagai strategi pembelajaran kreatif untuk menumbuhkan minat baca siswa. Hasil menggunakan metode membaca bergiliran di depan kelas, menyediakan bacaan tambahan di luar buku teks, serta melakukan penilaian berbasis proses melalui jurnal membaca. Pendekatan ini sejalan dengan temuan Kalsum . yang menyatakan bahwa pembiasaan membaca harian, metode membaca terpadu, dan pendekatan individual terhadap siswa yang mengalami kesulitan membaca terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi dan Gambar 4. Siswa Melakukan Presentasi Meskipun demikian, hasil pendampingan juga mengungkap adanya hambatan dalam implementasi literasi. Hambatan pertama adalah rendahnya minat baca sebagian siswa. Berdasarkan hasil wawancara, masih terdapat siswa yang memandang membaca sebagai beban dan kurang memanfaatkan waktu khusus membaca secara optimal. Kondisi ini selaras dengan temuan Kartikasari . yang menyebutkan bahwa rendahnya minat baca Penguatan Gerakan Literasi Baca Tulis dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia diA. e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. peserta didik merupakan salah satu kendala utama dalam pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah. Dalam konteks pengabdian, hambatan ini menjadi bahan refleksi untuk merancang strategi motivasi yang lebih variatif dan kontekstual sesuai dengan karakter siswa. Hambatan kedua adalah keterbatasan waktu pembelajaran. Guru mengakui bahwa padatnya tuntutan kurikulum membuat alokasi waktu untuk kegiatan literasi sering kali Dalam satu jam pelajaran, guru harus membagi waktu antara penyampaian materi inti dan kegiatan literasi, sehingga aktivitas membaca terkadang tidak dapat dilakukan secara maksimal. Temuan ini sejalan dengan Tahsinia . yang menegaskan bahwa keterbatasan waktu menjadi kendala umum dalam menumbuhkan kebiasaan membaca di sekolah, sehingga diperlukan kebijakan atau strategi khusus seperti alokasi waktu 15 menit membaca secara konsisten. Hambatan ketiga berkaitan dengan keterbatasan dan kurangnya variasi bahan Koleksi buku di perpustakaan sekolah masih didominasi oleh buku paket pelajaran, sementara buku fiksi atau bacaan populer yang sesuai dengan minat siswa jumlahnya relatif Kondisi ini membatasi pilihan bacaan siswa dan berdampak pada rendahnya minat Kartikasari . juga mencatat bahwa minimnya jumlah dan variasi buku bacaan di perpustakaan sekolah menjadi penghambat Dalam pengabdian, temuan ini menunjukkan perlunya pengayaan koleksi bacaan yang relevan dengan usia dan minat siswa. Secara keseluruhan, hasil analisis deskriptif kualitatif dalam kegiatan pengabdian ini menunjukkan bahwa antusiasme guru. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 pembiasaan membaca rutin, serta dukungan sarana sekolah merupakan faktor pendukung utama implementasi literasi di kelas Vi SMPN 2 Kartasura. Namun, hambatan berupa rendahnya minat baca siswa, keterbatasan waktu pembelajaran, dan kurang variatifnya bahan bacaan masih perlu mendapatkan perhatian serius. Temuan ini memperkuat pandangan dalam literatur bahwa penguatan motivasi siswa, penyediaan waktu khusus membaca, serta penambahan koleksi bacaan yang kreatif dan menarik merupakan langkah strategis untuk memperkuat implementasi literasi di sekolah. Dalam kerangka pengabdian kepada masyarakat, hasil ini menjadi dasar untuk berkelanjutan kepada guru, kolaborasi dengan pihak sekolah dan orang tua, serta pengembangan program literasi yang lebih adaptif terhadap kebutuhan siswa. Dengan mengoptimalkan faktor pendukung dan meminimalkan hambatan, keberlanjutan budaya literasi di kelas diharapkan dapat terwujud secara lebih efektif dan berdampak nyata bagi peningkatan kualitas pembelajaran. Simpulan Kegiatan implementasi literasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas Vi SMPN 2 Kartasura telah berjalan dengan cukup baik dan Literasi tidak hanya dipahami sebagai kegiatan membaca semata, tetapi sebagai proses komprehensif yang menekankan menemukan gagasan utama, serta keterampilan Penguatan Gerakan Literasi Baca Tulis dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia diA. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 Pendampingan yang dilakukan memperlihatkan bahwa kegiatan literasi yang terintegrasi dalam pengembangan kemampuan membaca, menulis, dan berbicara siswa secara simultan. Bentuk implementasi literasi yang dilaksanakan meliputi pembiasaan membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran, penggunaan jurnal membaca sebagai sarana refleksi dan evaluasi, kegiatan membaca bergiliran, serta presentasi isi bacaan di depan Praktik-praktik tersebut tidak hanya melatih keterampilan literasi dasar, tetapi juga membangun kedisiplinan, rasa tanggung jawab, serta kepercayaan diri siswa. Peran guru sebagai fasilitator, motivator, dan teladan membaca terbukti menjadi faktor kunci dalam keberhasilan pelaksanaan literasi di kelas. Hasil pengabdian juga mengidentifikasi sejumlah faktor pendukung, antara lain komitmen dan antusiasme guru, adanya pembiasaan membaca rutin, serta dukungan sarana sekolah seperti perpustakaan dan buku Namun demikian, masih terdapat beberapa hambatan yang perlu mendapat perhatian, yaitu rendahnya minat baca sebagian siswa, keterbatasan waktu pembelajaran akibat padatnya kurikulum, serta ketersediaan bahan bacaan yang masih terbatas dan kurang variatif. Hambatan-hambatan tersebut menunjukkan bahwa penguatan literasi tidak dapat hanya bergantung pada kegiatan di kelas, tetapi memerlukan dukungan berkelanjutan dari pihak sekolah dan keluarga. Secara pengabdian ini menegaskan bahwa penguatan literasi di sekolah menengah pertama memerlukan sinergi antara guru, siswa, sekolah, dan orang tua. Pendampingan literasi yang e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. dilakukan tidak hanya memberikan gambaran praktik literasi yang telah berjalan, tetapi juga menghasilkan refleksi dan rekomendasi perbaikan yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan program literasi yang lebih Dengan memaksimalkan faktor pendukung serta mengatasi hambatan yang ada, budaya literasi di sekolah diharapkan dapat terus tumbuh dan memberikan dampak positif terhadap kualitas pembelajaran dan pembentukan karakter siswa. Daftar Pustaka