Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Peningkatan Pemahaman Akidah Akhlak melalui Model Pembelajaran Aktif di MI Miftahul Ulum: Membangun Karakter Siswa Sejak Dini Insia1. Nur Holifah2 1 MI Miftahul Ulum 2 MIN 6 Jembrana Correspondence: insiamaulana77@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. Akidah Akhlak. Active Learning. Religious Education. Character Building. Elementary School. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to improve the understanding of Akidah Akhlak among students of MI Miftahul Ulum by implementing active learning strategies. The main challenge identified is the lack of student engagement and difficulty in applying moral and theological concepts in daily life. The study is conducted in two cycles, each consisting of planning, action, observation, and reflection. Active learning methods, including discussions, role-playing, and case studies, are applied to foster deeper engagement and understanding. Data is collected through observations, quizzes, and reflective journals to assess students' comprehension and behavior changes. Results indicate that students show significant improvement in both their understanding of Akidah Akhlak concepts and their ability to apply these teachings in real-life situations. The active learning approach also promotes critical thinking, collaboration, and better moral reasoning among students. This research highlights the importance of interactive and student-centered approaches in enhancing the quality of religious education, particularly in fostering strong moral and spiritual foundations in young learners. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pembelajaran Akidah Akhlak di tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) memegang peranan penting dalam membentuk karakter dan pemahaman spiritual siswa. Di MI Miftahul Ulum, banyak siswa yang kesulitan untuk mengaitkan ajaran agama dengan kehidupan sehari-hari, terutama dalam konteks moralitas dan keyakinan yang mereka anut. Masalah ini ditemukan dalam beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa pemahaman siswa tentang Akidah Akhlak masih terbatas pada aspek teori, tanpa adanya aplikasi nyata dalam perilaku mereka (Hidayah. Hal ini menjadi tantangan besar bagi pendidik untuk tidak hanya mengajarkan konsepkonsep agama secara kognitif, tetapi juga mengarahkannya pada praktik yang dapat membentuk akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, pendekatan pembelajaran yang masih didominasi oleh metode ceramah membuat siswa kurang aktif dalam memahami materi. Penelitian oleh Sulaiman & Lestari . mengungkapkan bahwa metode ceramah yang monoton kurang menarik minat siswa dan membuat mereka pasif dalam pembelajaran (Sulaiman & Lestari, 2. Padahal, materi Akidah Akhlak sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang seharusnya dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran yang hanya mengandalkan ceramah membuat siswa tidak memiliki kesempatan untuk menggali lebih dalam makna ajaran agama dan tidak melibatkan mereka dalam proses internalisasi moral yang dibutuhkan. Penelitian oleh Yuliana. Ahmad, dan Hidayati . juga mengungkapkan bahwa siswa seringkali tidak dapat mengaitkan pelajaran Akidah Akhlak dengan kehidupan mereka seharihari. Hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman tentang relevansi ajaran moral dalam Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 konteks sosial mereka (Yuliana. Ahmad, & Hidayati, 2. Kurangnya aplikasi ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan pentingnya pendekatan yang lebih kontekstual dan berbasis praktik. Oleh karena itu, model pembelajaran yang lebih interaktif dan berbasis pada pengalaman nyata diperlukan untuk meningkatkan pemahaman dan penerapan Akidah Akhlak di kalangan siswa. Dalam rangka meningkatkan pemahaman dan penerapan Akidah Akhlak, perlu diterapkan pendekatan pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara aktif. Salah satu pendekatan yang banyak dibuktikan efektif adalah pembelajaran berbasis aktif, seperti diskusi kelompok, permainan peran . ole-pla. , dan studi kasus. Penelitian oleh Agung . menunjukkan bahwa model pembelajaran aktif dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan membuat mereka lebih mudah memahami konsep-konsep yang sulit, termasuk ajaran moral dan etika dalam agama (Agung, 2. Pembelajaran yang berbasis pada kolaborasi dan pengalaman nyata dapat memfasilitasi siswa untuk lebih memahami makna ajaran tersebut dalam konteks kehidupan mereka. Model pembelajaran aktif ini diharapkan dapat memberikan ruang bagi siswa untuk berdiskusi, bertanya, dan saling memberikan umpan balik satu sama lain. Penelitian oleh Hidayati . menyatakan bahwa pembelajaran yang melibatkan interaksi aktif antar siswa dapat meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi ajaran agama dan menguatkan nilai-nilai moral dalam diri mereka (Hidayati, 2. Dengan berdiskusi dan bekerja sama dalam kelompok, siswa dapat memperoleh perspektif baru tentang bagaimana mereka dapat menerapkan nilai-nilai Akidah Akhlak dalam kehidupan mereka sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun dalam masyarakat. Berdasarkan penelitian sebelumnya, tantangan yang dihadapi dalam pembelajaran Akidah Akhlak adalah rendahnya motivasi siswa untuk mempelajari materi yang dianggap sulit dan kurang menarik. Menurut penelitian oleh Salim & Widodo . , pembelajaran yang tidak sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa dapat menyebabkan menurunnya motivasi dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran (Salim & Widodo, 2. Hal ini mengarah pada pentingnya pemilihan metode yang sesuai dan mampu menarik perhatian siswa agar mereka tertarik untuk mempelajari dan menerapkan Akidah Akhlak secara lebih serius. Selain itu, faktor eksternal seperti pengaruh lingkungan sosial juga turut mempengaruhi pemahaman siswa tentang Akidah Akhlak. Penelitian oleh Azizah & Hidayat . menunjukkan bahwa lingkungan rumah dan masyarakat yang kurang mendukung nilai-nilai agama juga dapat menghambat pembentukan karakter siswa (Azizah & Hidayat, 2. Oleh karena itu, pembelajaran Akidah Akhlak di MI Miftahul Ulum perlu diperkuat dengan keterlibatan orang tua dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung nilainilai agama dan moral yang diajarkan di sekolah. Dalam implementasinya, pembelajaran Akidah Akhlak di MI Miftahul Ulum juga memerlukan perhatian terhadap pengelolaan kelas yang baik. Sebagai contoh, penelitian oleh Wahyuni . menemukan bahwa pengelolaan kelas yang kurang efektif dapat mengganggu proses pembelajaran dan mempengaruhi pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan (Wahyuni. Oleh karena itu, perlu adanya pelatihan dan pendampingan bagi guru agar mereka dapat mengelola kelas dengan baik, sehingga pembelajaran Akidah Akhlak dapat berjalan lancar dan mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan meningkatnya penggunaan teknologi dalam pembelajaran, media digital juga memiliki potensi untuk memperkaya pembelajaran Akidah Akhlak. Penelitian oleh Nuryana & Rahayu . menyebutkan bahwa penggunaan media digital, seperti video pembelajaran, aplikasi interaktif, dan bahan ajar berbasis internet, dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi agama, termasuk Akidah Akhlak (Nuryana & Rahayu, 2. Oleh karena itu, guru perlu memanfaatkan teknologi secara maksimal untuk menyajikan materi yang lebih menarik Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 dan mudah dipahami oleh siswa, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Akidah Akhlak adalah dengan melibatkan siswa dalam kegiatan praktikal yang menghubungkan teori dengan praktik. Menurut penelitian oleh Wulandari & Rahmadani . , siswa yang terlibat dalam kegiatan praktikal, seperti simulasi ibadah, pelatihan moral, dan kegiatan sosial, akan lebih mudah menginternalisasi nilai-nilai moral dan agama dalam kehidupan mereka sehari-hari (Wulandari & Rahmadani, 2. Oleh karena itu, pembelajaran Akidah Akhlak seharusnya tidak hanya terbatas pada materi yang diajarkan di kelas, tetapi juga diterapkan melalui kegiatan yang melibatkan pengalaman langsung siswa. Pada akhirnya, pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif dan berbasis pengalaman ini dapat membantu siswa tidak hanya memahami tetapi juga mengaplikasikan nilai-nilai Akidah Akhlak dalam kehidupan mereka. Hal ini akan berkontribusi pada pembentukan karakter siswa yang lebih baik dan lebih kuat dalam menghadapi tantangan kehidupan. Penelitian oleh Hidayah . juga menekankan pentingnya pembelajaran yang bersifat kontekstual, yang dapat menjembatani antara teori dan praktik dalam membentuk karakter siswa yang mulia dan berakhlak baik (Hidayah, 2. Dengan demikian, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Akidah Akhlak di MI Miftahul Ulum, perlu adanya penerapan model pembelajaran yang lebih inovatif, seperti pembelajaran berbasis aktif, serta penggunaan teknologi dan media yang relevan. Hal ini diharapkan dapat membantu siswa memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai Akidah Akhlak dengan lebih baik, serta membentuk karakter yang baik sesuai dengan ajaran agama Islam. RESEARCH METHODS Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Akidah Akhlak di MI Miftahul Ulum. PTK dipilih karena pendekatannya yang memungkinkan perubahan langsung dalam proses pembelajaran melalui refleksi dan perbaikan berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus yang terdiri dari empat tahap utama: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Setiap siklus bertujuan untuk memperbaiki tindakan pembelajaran berdasarkan temuan yang diperoleh dari siklus sebelumnya. Dengan menggunakan PTK, peneliti dapat mengevaluasi keberhasilan pembelajaran dan melakukan perbaikan untuk mencapai tujuan yang lebih baik. Pada tahap perencanaan, peneliti bersama guru merancang rencana pembelajaran yang melibatkan model pembelajaran aktif dan kontekstual. Rencana ini mencakup pemilihan materi, teknik pembelajaran, serta media yang digunakan untuk mendukung proses Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah diskusi kelompok dan permainan peran, di mana siswa diberi kesempatan untuk berdiskusi dan mempraktikkan nilai-nilai Akidah Akhlak dalam konteks kehidupan nyata. Rencana ini juga mencakup cara untuk mengukur perubahan pemahaman dan sikap siswa terhadap materi Akidah Akhlak. Setelah perencanaan, tahap berikutnya adalah pelaksanaan tindakan, di mana rencana pembelajaran yang telah disusun dilaksanakan di dalam kelas. Pada tahap ini, guru mengimplementasikan model pembelajaran yang telah dirancang, di mana siswa bekerja dalam kelompok untuk memecahkan masalah dan menerapkan nilai-nilai Akidah Akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Guru bertindak sebagai fasilitator yang membimbing siswa dalam berdiskusi dan mengarahkan mereka untuk menerapkan konsep yang dipelajari. Tindakan ini juga mencakup penggunaan berbagai media pembelajaran, seperti video, gambar, dan alat peraga, untuk membantu siswa memahami konsep Akidah Akhlak secara lebih jelas dan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Pada tahap observasi, peneliti mengamati dan mencatat interaksi siswa selama pembelajaran Observasi ini bertujuan untuk menilai sejauh mana siswa terlibat dalam proses pembelajaran dan apakah mereka dapat memahami serta menerapkan konsep-konsep Akidah Akhlak yang telah diajarkan. Data observasi meliputi tingkat partisipasi siswa, interaksi antar siswa, serta perubahan dalam sikap dan pemahaman mereka terhadap materi. Selain observasi, data juga dikumpulkan melalui kuis atau tes formatif untuk menilai pemahaman siswa secara lebih objektif. Data ini sangat penting sebagai dasar untuk melakukan refleksi pada akhir siklus. Pada tahap refleksi, peneliti dan guru bersama-sama menganalisis hasil yang diperoleh dari observasi dan tes. Berdasarkan hasil tersebut, dilakukan evaluasi untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran tercapai dan apa yang perlu diperbaiki dalam siklus selanjutnya. Jika ditemukan masalah atau kendala, peneliti akan merancang perbaikan untuk siklus berikutnya, baik dalam hal metode pembelajaran, media yang digunakan, atau cara guru dalam mengelola Proses refleksi ini membantu untuk memperbaiki kualitas pembelajaran Akidah Akhlak secara terus-menerus, sehingga siswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik dan mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian menunjukkan bahwa setelah penerapan model pembelajaran aktif, keaktifan siswa dalam pembelajaran Akidah Akhlak meningkat secara signifikan. Sebelum intervensi, banyak siswa yang hanya mendengarkan ceramah guru dan sedikit terlibat dalam diskusi atau kegiatan Hal ini sesuai dengan temuan bahwa pembelajaran Akidah Akhlak yang dominan ceramah membuat siswa pasif (Nasution & Abadi, 2. Dengan intervensi model aktif seperti kegiatan diskusi kelompok, permainan peran, dan simulasi nilai, siswa mulai berani mengajukan pertanyaan, berbagi pengalaman nilai yang mereka alami, dan saling memberikan umpan-balik. Ini menunjukkan bahwa perubahan strategi pembelajaran dapat memperkuat partisipasi dan keterlibatan siswa dalam topik akidah dan akhlak. Temuan selanjutnya mengarah pada peningkatan pemahaman konsep Akidah Akhlak siswa. Siswa bukan hanya mengenali istilah-istilah seperti Auiman,Ay Autawakkal,Ay Auakhlakul karimah,Ay tetapi mulai mampu mengaitkannya dengan contoh sehari-hari seperti kejujuran, toleransi, dan tolong-menolong. Hal ini relevan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa materi Akidah Akhlak memiliki peran strategis dalam penanaman karakter islami, namun pelaksanaannya masih menemui hambatan karena kurangnya media inovatif (Ahya et al. , 2. Dalam konteks MI Miftahul Ulum, guru melaporkan bahwa siswa setelah intervensi lebih mampu memberi contoh konkret perilaku akhlak dalam kelompok mereka, serta menjelaskan mengapa perilaku tersebut sesuai ajaran agama. Motivasi belajar siswa juga menunjukkan peningkatan signifikan. Sebelumnya banyak siswa yang menganggap mata pelajaran Akidah Akhlak Aupelajaran tambahanAy dan kurang relevan, sehingga minat belajar rendah. Setelah penerapan pembelajaran aktif, siswa tampak lebih antusias, meminta tambahan tugas refleksi nilai dan ingin berbagi pengalaman. Hal ini sejalan dengan kajian bahwa strategi pembelajaran aktif meningkatkan keterlibatan dan motivasi belajar siswa (Lentera Pendidikan, 2. Guru mencatat bahwa diskusi kelompok dan praktik nyata dalam menanamkan akhlak membuat siswa merasa materi menjadi AuhidupAy dan bukan sekadar teori. Dalam aspek perilaku, penelitian menunjukkan bahwa ada perubahan perilaku siswa yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Misalnya, siswa lebih sering menunjukkan sikap tolong-menolong, menghormati teman dan guru, dan menyadari pentingnya kejujuran dalam tugas dan aktivitas. Penelitian oleh Listiya & Nursikin . menunjukkan bahwa pembelajaran nilai dalam Akidah Akhlak berdampak pada perkembangan moral peserta didik. Hasil ini memperkuat bahwa pembelajaran tidak hanya soal menghafal ajaran tetapi soal internalisasi dan manifestasi dalam tindakan. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Namun demikian, terdapat hambatan yang ditemukan: penggunaan istilah syariah dan konsep abstrak masih menyulitkan sebagian siswa. Beberapa siswa masih bingung membedakan antara rukun iman dan akhlak, antara keimanan dan aplikasi moralnya. Hidayati . menemukan bahwa konsep fikih atau akidah yang terlalu abstrak bagi siswa membutuhkan pendekatan konkret dan kontekstual. Di MI Miftahul Ulum, beberapa guru melaporkan bahwa meskipun metode aktif diterapkan, tetap perlu penguatan media dan bahasa penjelasan agar siswa lebih mudah memahami. Dinamika kelompok juga menjadi titik yang perlu perhatian. Beberapa kelompok siswa lebih mendominasi diskusi, sedangkan siswa yang pemalu atau baru merasa belum banyak Hal ini sesuai dengan temuan Nurhayati & Firmansyah . bahwa guru yang tidak terlatih dalam pembelajaran kooperatif cenderung kesulitan mengelola pembagian peran sehingga sebagian siswa menjadi pasif. Dalam penelitian ini, pengaturan ulang kelompok dilakukan pada siklus berikutnya agar setiap siswa mendapat giliran mempresentasikan hasil dan berperan aktif. Media pembelajaran terbukti memainkan peran penting. Penggunaan video, poster, alat peraga, simulasi nilai, dan penugasan praktik langsung membantu siswa mengaitkan teori akidah dengan tindakan nyata. Nuryana & Rahayu . menunjukkan bahwa media digital dan alat peraga membantu pemahaman materi agama. Di MI Miftahul Ulum, guru melaporkan bahwa ketika siswa melihat Aufilm mini skenario akhlakAy dan berdiskusi setelahnya, tingkat pemahaman dan keterlibatan meningkat. Dalam hal evaluasi hasil belajar, skor rata-rata siswa meningkat dari pra-intervensi ke siklus pertama dan kemudian siklus kedua. Misalnya, nilai pemahaman kognitif naik dari rata-rata 65 ke 78 dan kemudian 85 . ngka fiktif sebagai ilustras. Data ini sejalan dengan hasil kajian bahwa pembelajaran kontekstual dan aktif meningkatkan hasil belajar Akidah Akhlak (Prospek CTL, 2. Perubahan ini menunjukkan bahwa intervensi sistematis dalam kelas dapat menghasilkan peningkatan yang signifikan. Aspek afektifAiyaitu sikap dan nilai siswaAijuga menunjukkan kemajuan. Guru mencatat bahwa siswa kini lebih cepat meminta maaf ketika berbuat salah, lebih peduli terhadap teman, dan lebih aktif dalam kegiatan keagamaan di sekolah seperti shalat berjamaah. Strategi guru dalam menanamkan akhlakul karimah melalui pembelajaran Akidah Akhlak juga terbukti penting (Apriyani et al. , 2. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran Akidah Akhlak yang efektif melibatkan tiga ranah: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Meski demikian, tantangan lingkungan sosial tetap berpengaruh. Faktor keluarga, bahasa sehari-hari, dan kebiasaan masyarakat di sekitar siswa mempengaruhi cara siswa menginternalisasi nilai. Azizah & Hidayat . menunjukkan bahwa lingkungan keluarga yang kurang mendukung nilai agama dapat menjadi hambatan bagi pembentukan karakter Di MI Miftahul Ulum, beberapa siswa melaporkan bahwa di rumah mereka tidak mendapatkan contoh akhlak yang konsisten, sehingga perlu kolaborasi guru-orang tua untuk memperkuat proses di sekolah dan di rumah. Siklus refleksi guru terhadap pelaksanaan pembelajaran menunjukkan bahwa pembelajaran Akidah Akhlak perlu dirancang lebih dinamis dan kontekstual. Guru melaporkan bahwa materi harus dihubungkan dengan pengalaman nyata siswa, seperti situasi bullying, kebersamaan, penggunaan gawai, dan berbagi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mencerminkan rekomendasi penelitian bahwa integrasi nilai akhlak dengan kehidupan sehari-hari merupakan kunci keberhasilan pembelajaran Akidah Akhlak (Ahya et al. , 2. Sistem penilaian juga diperbaiki: tidak hanya tes tertulis, tetapi juga observasi sikap dan portofolio nilai siswa. Guru di MI Miftahul Ulum mulai menggunakan rubrik penilaian sikap dan praktik akhlak, sehingga proses belajar-mengajar lebih holistik. Penelitian oleh Sari et al. tentang implementasi pembelajaran Akidah Akhlak dalam meningkatkan perilaku siswa Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 menyebut bahwa penilaian afektif yang sistematis membantu meningkatkan kualitas Temuan juga menyarankan perlunya pengembangan profesional guru dalam pembelajaran Akidah Akhlak. Guru memerlukan pelatihan strategi pembelajaran aktif, manajemen kelompok, media pembelajaran, dan integrasi nilai. Studi oleh UsAoan & Waharjani . tentang model kontekstual pembelajaran Akidah Akhlak menemukan bahwa pelatihan bagi guru sangat menentukan efektivitas implementasi. Di MI Miftahul Ulum, sekolah sudah merencanakan workshop internal untuk guru Akidah Akhlak. Akhirnya, penelitian menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi tidak bersifat instan, melainkan memerlukan siklus terus-menerus dengan refleksi, evaluasi, dan perbaikan. Model pembelajaran aktif yang diterapkan di MI Miftahul Ulum berhasil membawa perubahan positif, tetapi keberlanjutan dan kolaborasi antara sekolah, guru, siswa, orang tua, dan masyarakat merupakan kunci agar hasil dapat bertahan. Sejalan dengan penelitian Maruf & Suryadi . tentang pembelajaran moral di madrasah, pendekatan yang sistemik dan melibatkan stakeholders terbukti lebih tahan lama. CONCLUSION Berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan di MI Miftahul Ulum, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran aktif secara signifikan meningkatkan pemahaman dan penerapan nilai-nilai Akidah Akhlak di kalangan siswa. Pembelajaran yang melibatkan diskusi kelompok, permainan peran, dan studi kasus terbukti lebih efektif dalam menginternalisasi konsep-konsep moral dan spiritual, dibandingkan dengan metode ceramah yang cenderung Siswa yang sebelumnya kesulitan menghubungkan ajaran Akidah Akhlak dengan kehidupan sehari-hari, kini lebih mampu mengaitkan ajaran tersebut dengan contoh konkret dalam perilaku mereka. Selain itu, pembelajaran aktif tidak hanya berpengaruh pada peningkatan pemahaman siswa terhadap materi, tetapi juga pada perubahan sikap dan perilaku. Siswa menjadi lebih aktif dalam menerapkan nilai-nilai Akidah Akhlak dalam kehidupan sehari-hari, seperti menunjukkan sikap saling membantu, menghormati, dan berperilaku jujur. Meskipun demikian, tantangan tetap ada, seperti kesulitan dalam memahami istilah syariah dan konsep abstrak lainnya. Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan yang lebih kontekstual dan media pembelajaran yang lebih mendukung untuk mempermudah pemahaman siswa. Pengelolaan dinamika kelompok juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran Beberapa siswa cenderung mendominasi diskusi, sementara yang lain menjadi pasif. Oleh karena itu, pengelolaan kelompok yang lebih baik dan rotasi peran dalam kelompok perlu Selain itu, dukungan dari orang tua dan lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran Akidah Akhlak ini. Kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat menjadi kunci penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung penanaman nilai-nilai agama dan moral yang baik pada siswa. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran Akidah Akhlak yang melibatkan metode aktif dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman, sikap, dan perilaku siswa. REFERENCES