Volume 6 No. Tahun 2026 Halaman 58 Ae 70 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index Hubungan Antara Dukungan Sosial dari Pertemanan Offline dengan Motivasi Belajar Siswa SMP Kelas Vi di Lingkungan Kecamatan dan Wilayah Industri (Studi pada SMPN 2 Krembung Sidoarjo dan SMPN 1 Ngoro Mojokert. Inayatul IstifaAoiyah. Wiwik Sri Utami. Sukma Perdana P. Muhammad Ilyas Marzuqi. 1,2,3,. Program Studi S1 Pendidikan IPS Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya Abstrak Motivasi belajar yakni faktor esensial dalam proses pendidikan karena berperan mendorong keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu faktor yang dinilai berkontribusi terhadap motivasi belajar adalah dukungan sosial dari teman sebaya melalui interaksi pertemanan offline. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara dukungan sosial dari pertemanan offline dengan motivasi belajar siswa kelas Vi di SMPN 2 Krembung dan SMPN 1 Ngoro serta membandingkan tingkat kedua variabel tersebut pada sekolah yang berada di lingkungan kecamatan dan lingkungan industri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional melalui teknik pengambilan sampel secara random sampling dengan jumlah responden masing-masing 167 siswa di setiap sekolah. Hasil uji korelasi menunjukkan nilai signifikansi atau Sig. 2-tailed sebesar 0,000 di kedua sekolah, yang berartikan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dan motivasi belajar. Koefisien korelasi yang didapatkan sedikit berbeda di SMPN 2 Krembung sebesar 0,484. ategori hubungan sedang, sementara di SMPN 1 Ngoro sebesar 0,698. ategori hubungan kua. Uji perbedaan menggunakan Independent Sample T-test pada variabel dukungan sosial yang menghasilkan nilai Sig. -taile. sebesar 0,178 > 0,05, sedangkan variabel motivasi diukur menggunakan uji Mann-Whitney memperoleh nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,215 > 0,05 . Hasil tersebut mengindikasikan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua sekolah meski kekuatan hubungan antar variabel dan karakteristik wilayah berbeda. Kata Kunci: motivasi belajar, dukungan sosial, pertemanan offline, siswa SMP Abstract Learning motivation is an essential factor in the educational process because it plays a role in encouraging student involvement in learning One of the factors that is considered to contribute to learning motivation is social support from peers through offline friendship This study aims to analyze the relationship between social support from offline friendships and the learning motivation of grade Vi students at SMPN 2 Krembung and SMPN 1 Ngoro and compare the level of these two variables in schools in sub-district and industrial environments. This study uses a quantitative approach with a correlational design. The sampling technique was carried out by random sampling with the number of respondents each of 167 students in each school. The results of the correlation test showed a significance value or Sig. 2-tailed of 0. 000 in both schools, which means that there is a significant relationship between social support and learning motivation. The correlation coefficient obtained was slightly different at SMPN 2 Krembung at 0. edium relationship categor. , while at SMPN 1 Ngoro it was 0. trong relationship categor. The difference test used the Independent Sample T-test on the social support variable which produced a Sig. -taile. value of 0. 178 > 0. 05, while the motivation variable was measured using the Mann-Whitney test obtained an Asymp. Sig value. -taile. 215 > 0. These results indicate that there is no significant difference between the two schools even though the strength of the relationship between variables and regional characteristics is different Keywords : learning motivation, social support, offline friendship, junior high school students Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 58-70 PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya pendidikan, yang tidak hanya memengaruhi metode pembelajaran tetapi juga pola interaksi sosial siswa (Hakim & Yulia, 2024 : . Transformasi ini menggeser interaksi yang semula dilakukan secara langsung menjadi berbasis daring melalui berbagai platform digital (Assawal & Awaru, 2023 : . Siswa kini lebih sering menggunakan media sosial dan aplikasi pesan instan untuk berkomunikasi dengan teman sebaya. Perubahan ini membuat interaksi menjadi lebih fleksibel namun cenderung mengurangi intensitas tatap muka. Interaksi digital juga mengubah cara siswa membangun hubungan sosial di lingkungan sekolah (Agung Prasetyo et al. 2024 : . Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap penurunan kualitas hubungan Oleh karena itu, perubahan ini penting dikaji dalam kaitannya dengan aspek sosial dan akademik siswa. Kemudahan akses teknologi memungkinkan siswa tetap terhubung kapan saja, tetapi juga menyebabkan penurunan interaksi langsung secara bertahap (Ayub & Sulaeman, 2022 : . Siswa yang sebelumnya aktif berkomunikasi secara tatap muka kini lebih memilih komunikasi virtual. Hal ini berdampak pada berkurangnya kedekatan emosional antar individu. Interaksi berbasis teks dan video dinilai kurang mampu menggantikan kedalaman komunikasi langsung. Selain itu, kebiasaan ini berpotensi mengurangi kemampuan membaca ekspresi dan bahasa tubuh. Dampak tersebut dapat memengaruhi kualitas hubungan sosial siswa. Jika terus berlangsung, kondisi ini dapat berdampak pada kemampuan siswa dalam membangun dukungan sosial. Di sisi lain, teknologi juga memperluas jaringan sosial siswa hingga melampaui lingkungan sekolah (Rahmah et al. , 2025 : . Siswa dapat berinteraksi dengan individu dari berbagai latar belakang melalui dunia maya. Hal ini memberikan keuntungan berupa perluasan relasi sosial. Namun, hubungan daring sering kali kurang memiliki kedalaman emosional. Interaksi yang minim kualitas ini dapat memengaruhi dukungan sosial yang diterima siswa (Hidayati et al. , 2022 : 1. Dukungan sosial yang lemah berpotensi berdampak pada kondisi psikologis dan akademik. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana interaksi sosial memengaruhi motivasi belajar. Kajian ini menjadi relevan dalam konteks perubahan sosial akibat digitalisasi. Tingginya penggunaan smartphone di kalangan siswa mempercepat pergeseran pola komunikasi ke arah digital (Manurung et al. , 2024 : . Siswa lebih banyak berinteraksi melalui layar dibandingkan secara langsung. Hal ini berdampak pada menurunnya keterampilan sosial seperti empati dan komunikasi interpersonal. Interaksi digital yang dominan membuat siswa kurang terlatih dalam memahami situasi sosial nyata. Dampak ini dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam bekerja sama dan beradaptasi. Selain itu, perubahan ini juga berpotensi memengaruhi motivasi belajar siswa. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya keseimbangan antara interaksi online dan offline. Motivasi belajar merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan akademik siswa (Rahman, 2. Motivasi dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal, termasuk lingkungan sosial. Siswa dengan motivasi tinggi cenderung lebih aktif dan berprestasi. Sebaliknya, rendahnya motivasi dapat menghambat pencapaian akademik. Tekanan akademik dan perubahan pola interaksi menjadi faktor yang memengaruhi motivasi tersebut(Gani, 2019 : . Oleh karena itu, perlu adanya perhatian terhadap faktor sosial yang mendukung motivasi belajar. Salah satu faktor penting adalah dukungan sosial dari teman sebaya. Remaja SMP berada pada fase perkembangan yang rentan terhadap perubahan psikologis dan sosial (Situmorang, 2020 : . Pada tahap ini, siswa mulai mencari identitas diri dan membangun hubungan sosial yang lebih erat dengan teman sebaya. Interaksi dengan teman sebaya menjadi lebih dominan dibandingkan dengan keluarga. Dukungan sosial dari teman sebaya berperan penting dalam membantu siswa menghadapi tekanan akademik. Selain itu, dukungan ini juga meningkatkan rasa percaya diri dan kesejahteraan psikologis. Siswa yang mendapatkan Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 58-70 dukungan sosial cenderung memiliki motivasi belajar lebih tinggi. Oleh karena itu, hubungan sosial menjadi faktor penting dalam pendidikan. Berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara dukungan sosial dan motivasi belajar siswa (Isrofi & Affandi, 2025 : . Namun, sebagian besar penelitian masih berfokus pada satu konteks wilayah atau tidak membedakan jenis interaksi sosial. Padahal, karakteristik wilayah dapat memengaruhi dinamika hubungan sosial siswa. Perbedaan lingkungan sosial seperti wilayah kecamatan dan industri berpotensi menghasilkan hasil yang berbeda. Selain itu, penelitian sebelumnya belum secara spesifik mengkaji pertemanan offline. Hal ini menjadi celah penelitian yang perlu dikaji lebih lanjut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan dukungan sosial pertemanan offline dengan motivasi belajar serta membandingkannya pada dua sekolah dengan karakteristik wilayah yang berbeda. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional untuk menganalisis hubungan antara dukungan sosial dari pertemanan offline . ariabel independe. dan motivasi belajar . ariabel depende. siswa kelas Vi, sekaligus membandingkannya pada dua konteks wilayah berbeda, yaitu SMPN 2 Krembung Sidoarjo . ilayah kecamata. dan SMPN 1 Ngoro Mojokerto . ilayah industr. Penelitian dilaksanakan tahun 2025 dengan populasi seluruh siswa kelas Vi di kedua sekolah . asing-masing 320 sisw. , dan sampel sebanyak 167 siswa per sekolah yang dipilih melalui simple random sampling agar representatif. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert yang mengukur aspek dukungan sosial . mosional, instrumental, informasional, dan penghargaa. serta motivasi belajar, didukung dokumentasi dan observasi sebagai data sekunder. Instrumen diuji melalui uji validitas dan reliabilitas, kemudian dilakukan uji prasyarat berupa normalitas dan homogenitas sebelum analisis utama. Analisis data meliputi uji korelasi Pearson untuk mengetahui hubungan antar variabel, uji regresi sederhana untuk melihat kontribusi dukungan sosial terhadap motivasi belajar, serta uji Independent Sample t-Test untuk membandingkan perbedaan antar kedua sekolah, dengan pengolahan data menggunakan software SPSS dan dasar pengambilan keputusan berdasarkan nilai signifikansi . value O 0,. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Dari hasil penyebaran kuesioner ditemukan adanya perbedaan karakteristik responden yang diklasifikasikan berdasarkan usia, jenis kelamin, sekolah dan tempat tinggal. Berdasarkan jawaban yang diperoleh dari responden yang telah mengisi kuesioner yang sudah dibagikan, maka diperoleh gambaran sebagai berikut: Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin Karakteristik Kategori SMPN 2 Krembung SMPN 1 Ngoro Usia 12 Tahun 3 13 Tahun 71 14 Tahun 91 15 Tahun 2 16 Tahun 0 Total Jenis Kelamin Laki-laki 69 Perempuan 98 Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 58-70 Karakteristik Kategori SMPN 2 Krembung SMPN 1 Ngoro Total Berdasarkan tabel di atas, distribusi responden menunjukkan bahwa mayoritas siswa kelas Vi di kedua sekolah berada pada rentang usia 13Ae14 tahun, dengan jumlah yang relatif seimbang antara SMPN 2 Krembung dan SMPN 1 Ngoro. Hal ini menegaskan bahwa responden berada pada fase remaja madya yang identik dengan proses perkembangan sosial dan kebutuhan tinggi terhadap dukungan teman sebaya. Pada aspek jenis kelamin, responden didominasi oleh siswa perempuan di kedua sekolah, yaitu 98 orang di SMPN 2 Krembung dan 104 orang di SMPN 1 Ngoro, sementara jumlah laki-laki lebih sedikit. Kondisi ini mengindikasikan bahwa perempuan cenderung lebih aktif dalam membangun interaksi sosial dan berbagi dukungan dalam Selain itu, jumlah responden dari kedua sekolah sama . asing-masing 167 sisw. , sehingga perbandingan data menjadi lebih seimbang. Gambar 1. Diagram Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Wilayah Sekolah Jika ditinjau dari karakteristik wilayah. SMPN 2 Krembung berada di lingkungan kecamatan yang relatif homogen dan cenderung mendukung interaksi sosial yang lebih dekat, sedangkan SMPN 1 Ngoro berada di kawasan industri dengan mobilitas tinggi yang memungkinkan interaksi sosial lebih luas dan dinamis. Perbedaan konteks lingkungan ini berpotensi memengaruhi pola dukungan sosial dan motivasi belajar siswa. Oleh karena itu, distribusi responden ini relevan sebagai dasar analisis hubungan dukungan sosial pertemanan offline dengan motivasi belajar dalam penelitian ini. Deskripsi Data Penelitian Tabel 2. Deskripsi Data Penelitian Deskripsi Data Penelitian Statistic Minimum Statistic Maximum Mean Statistic Statistic Std. Deviation Std. Error Statistic Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 58-70 Dukungan Sosial Motivasi Belajar Valid N . Berdasarkan tabel 2, variabel dukungan sosial mempunyai skor minimun 18 dan maksimum 72, dengan nilai rata-rata sebesar 50,36 dan juga standar deviasi 10,151. Rata-rata tersebut menunjukkan bahwa secara umum tingkat dukungan sosial siswa berada pada kategori sedang hingga tinggi. Dari nilai standar deviasi yang relatif lebih besar mengindikasikan bahwa terdapat variasi tingkat dukungan sosial antar siswa, sehingga persepsi terhadap dukungan teman sebaya tidak sepenuhnya beragam. Variabel motivasi belajar mempunyai skor minimum 38 dan maksimum 72, dengan rata-rata 56,86 dengan standar deviasi 6,865. Nilai mean tersebut menunjukkan bahwa motivasi belajar cenderung berada pada kategori tinggi. Standar deviasi yang kecil dibanding variabel dukungan sosial menunjukkan bahwa tingkat motivasi belajar siswa relatif Maka dari itu, secara umum kedua variabel memperlihatkan kecenderungan yang positif meski tingkat variasi dukungan sosial lebih besar dibanding motivasi belajar. Uji Prasyarat Menurut Barlian dalam bukunya terkait metode kuantitatif dijelaskan bahwasanya validitas merupakan suatu standar ukuran yang menunjukkan ketepatan dan juga kesahihan suatu Pengujian validitas ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui suatu item kuesioner dari masing-masing variabel yang digunakan dalam penelitian ini valid atau tidak. Uji validitas dalam penelitian ini dengan bantuan aplikasi SPSS 22 akan diuraikan sebagai berikut Tabel 3. Uji Validitas Dukungan Sosial dari Pertemanan Offline(X) Variabel Indikator Pertanyaan Korelasi Sig Keterangan Dukungan Sosial(X) (Dukungan Emosiona. (Dukungan Instrumenta. (Dukungan Informasional (Dukungan Penghargaa. 0,484 0,673 0,451 0,565 0,449 0,669 0,540 0,445 0,590 0,411 0,540 0,590 0,570 0,403 0,797 0,603 0,754 0,586 0,007 0,000 0,012 0,001 0,013 0,000 0,002 0,014 0,001 0,024 0,002 0,001 0,001 0,027 0,000 0,000 0,000 0,001 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 58-70 Berdasarkan tabel 3, terlihat bahwa nilai r hitung > r tabel dengan tingkat signifikansi < . Adapun nilai r tabel dengan Df = n-2= 30-2=28 yaitu 0,361. Dapat diketahui bahwasanya seluruh item pertanyaan yang menyusun setiap variabel dukungan sosial(X) mempunyai nilai r hitung > r tabel, sehingga kesimpulannya yakni keseluruhan item pertanyaan pada variabel dukungan sosial(X) dapat dinyatakan valid dan dapat dilanjutkan ke tahap uji reliabilitas. Variabel Motivasi Belajar(Y) Tabel 4 Uji Validitas Motivasi Belajar( Y) Indikator Pertanyaan Korelasi Sig (Autonomy / Kemandiria. (Competence / Kompetens. (Relatedness / Keterhubung 0,682 0,508 0,389 0,422 0,522 0,467 0,578 0,552 0,520 0,428 0,442 0,508 0,600 0,592 0,515 0,557 0,687 0,605 0,000 0,004 0,033 0,020 0,003 0,009 0,001 0,002 0,003 0,018 0,015 0,004 0,000 0,001 0,004 0,001 0,000 0,000 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Uji reliabilitas bertujuan untuk mengukur tingkat konsistensi jawaban responden terhadap kuesioner, baik melalui reliabilitas eksternal . onsistensi tanggapa. maupun internal . onsistensi Pengujian dilakukan menggunakan nilai Alpha Cronbach, dengan kriteria: > 0,900 . angat tinggi/sempurn. , 0,700Ae0,900 . ukup tingg. , 0,500Ae0,700 . , dan < 0,500 . Nilai alpha yang rendah menunjukkan adanya item kuesioner yang kurang reliabel sehingga perlu ditinjau kembali. Variabel Dukungan Sosial(X) Motivasi Belajar(Y) Tabel 5. Uji Reliabilitas N of Items Alpha Cronbach (Jumlah Ite. 0,875 0,850 Keterangan Reliabel Reliabel Berdasarkan hasil uji reliabilitas menggunakan SPSS 22, variabel dukungan sosial (X) memperoleh nilai Alpha Cronbach sebesar 0,875 dan variabel motivasi belajar (Y) sebesar 0,850. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 58-70 yang keduanya berada pada kategori reliabilitas cukup tinggi . ,700Ae0,. Hasil ini menunjukkan bahwa seluruh instrumen penelitian reliabel dan dapat digunakan secara konsisten untuk mengukur kedua variabel tersebut. Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data penelitian berdistribusi normal sebagai prasyarat penggunaan uji statistik parametrik seperti korelasi Pearson dan uji t. Dalam penelitian ini, uji normalitas dilakukan menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan SPSS 22 pada 334 responden, dengan dasar pengambilan keputusan yaitu nilai Sig > 0,05 menunjukkan data berdistribusi normal, sedangkan Sig < 0,05 menunjukkan data tidak normal. Hasil uji ini digunakan untuk memastikan bahwa variabel dukungan sosial dan motivasi belajar memenuhi asumsi normalitas sebelum dilakukan analisis lanjutan. Tabel 6. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Normal Parameters Mean Std. Deviation 5. Most Extreme Absolute Differences Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Berdasarkan tabel uji normalitas melalui bantuan aplikasi SPSS 22 pada penelitian ini dapat diambil keputusan bahwa data yang diperoleh dari 2 variabel berdistribusi normal sebab terlihat dari nilai Asymp. Sig. -taile. > 0,05 yakni 0,066 . Maka dapat disimpulkan layak untuk dilanjutkan uji statistik parametrik baik uji korelasi maupun independent sample t-test Uji homogenitas sendiri bertujuan untuk mengetahui apakah varians data pada kedua kelompok yakni siswa kelas Vi SMPN 2 Krembung dan SMPN 1 Ngoro bersifat sama. atau berbeda. idak homoge. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan LeveneAos Test for Equality of Variances melalui bantuan SPSS 22. Hasil uji homogenitas untuk variabel X dan Y disajikan pada tabel di bawah ini Tabel 7. Uji Homogenitas Variabel Dukungan Sosial(X) Motivasi Belajar (Y) Levene Statistic 0,1065 Sig Keterangan 0,303 Homogen 0,7651 0,006 Tidak Homogen Berdasarkan tabel 7 , hasil LevenesAos Test pada variabel X menunjukkan nilai signifikansi > 0,05 yakni sebesar 0,303 sehingga data variabel X bersifat homogen, artinya varians kedua kelompok sampel adalah sama dan memenuhi asumsi homogenitas. Sedangkan, pada variabel Y diperoleh nilai signifikansi < 0,05 yakni sebesar 0,006 hal ini menunjukkan bahwa data variabel Y tidak homogen sehingga varians kedua kelompok penelitian berbeda secara signifikan sehingga tidak memenuhi asumsi homogenitas . Maka dari itu, pada uji t selanjutnya untuk variabel Y akan Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 58-70 digunakan uji statistik non parametrik yakni Mann Whitney. Hubungan Variabel Dukungan Sosial dan Motivasi Belajar Tabel 8. Uji Korelasi Pearson pada Siswa SMPN 2 Krembung Correlations Dukungan Sosial dari Pertemanan Motivasi Offline Belajar Dukungan Sosial dari Pearson Correlation Pertemanan Offline Sig. -taile. Motivasi Belajar Pearson Correlation Sig. -taile. **. Correlation is significant at the 0. 01 level . -taile. Berdasarkan tabel 8, uji hubungan pada siswa SMPN 2 Krembung, diperoleh nilai signifikansi (Sig. 2-taile. sebesar 0,000. Nilai tersebut lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05 . ,000 < 0,. , sehingga dapat dinyatakan bahwa variabel dukungan sosial dari pertemanan offline dengan motivasi belajar saling berhubungan. Besaran hubungan tersebut dapat dilihat dari nilai Pearson Correlation yang menunjukkan angka sebesar 0,484, apabila didasarkan pada pedoman interpretasi koefisien korelasi, nilai tersebut berada pada rentang 0,41 s/d 0,60 yang termasuk dalam kategori hubungan sedang serta memiliki arah yang positif. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan dukungan sosial yang diterima siswa cenderung diikuti oleh peningkatan motivasi belajar. Dengan demikian, hipotesis 1 diterima. Tabel 9. Uji Korelasi Pearson pada Siswa SMPN 1 Ngoro Correlations Dukungan Sosial dari Pertemanan Motivasi Offline Belajar Dukungan Sosial dari Pearson Correlation Pertemanan Offline Sig. -taile. Motivasi Belajar Pearson Correlation Sig. -taile. **. Correlation is significant at the 0. 01 level . -taile. Berdasarkan tabel 9, uji hubungan pada siswa SMPN 1 Ngoro, diperoleh nilai signifikansi (Sig. 2-taile. sebesar 0,000. Nilai tersebut lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05 . ,000 < 0,. , sehingga dapat dinyatakan bahwa variabel dukungan sosial dari pertemanan offline dengan motivasi belajar saling berhubungan. Besaran hubungan tersebut dapat dilihat dari nilai Pearson Correlation yang menunjukkan angka sebesar 0,698, apabila mengacu pada pedoman interpretasi koefisien korelasi, nilai tersebut berada pada rentang 0,61 s/d 0,80 yang termasuk dalam kategori hubungan Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 58-70 Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang didapatkan siswa dari pertemanan offline maka semakin tinggi pula motivasi belajar mereka. Dengan demikian, hipotesis 1 diterima. Kontribusi Dukungan Sosial dan Motivasi Belajar Untuk melihat besaran kontribusi dukungan sosial dari pertemanan offline terhadap motivasi belajar siswa kelas Vi SMPN 2 Krembung serta signifikansi kontribusi antar variabel digunakan uji regresi. Adapun hasil uji regresi tersebut disajikan pada tabel di bawah ini. Tabel 10. Uji Regresi Linier Sederhana pada Siswa SMPN 2 Krembung Coefficientsa Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Model Std. Error Beta Sig. (Constan. Dukungan Sosial dari Pertemanan Offline Dependent Variable: Motivasi Belajar Berdasarkan hasil analisis, diperoleh persamaan regresi linier sederhana Y = 41,681 0,311X, yang menunjukkan bahwa tanpa adanya dukungan sosial, motivasi belajar tetap berada pada nilai 41,681, sedangkan setiap peningkatan satu satuan dukungan sosial akan meningkatkan motivasi belajar sebesar 0,311. Koefisien positif ini menandakan adanya kontribusi positif antara dukungan sosial dari pertemanan offline terhadap motivasi belajar siswa, dan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 menunjukkan bahwa pengaruh tersebut signifikan secara statistik. Tabel 11. Hasil Koefisien Determinasi pada Siswa SMPN 2 Krembung Model Summary Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Nilai koefisien determinasi (R Squar. sebesar 0,235 menunjukkan bahwa dukungan sosial dari pertemanan offline memberikan kontribusi sebesar 23,5% terhadap motivasi belajar siswa, sementara sisanya sebesar 76,5% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. Hasil ini mengindikasikan bahwa meskipun terdapat pengaruh yang nyata, kekuatan kontribusinya masih tergolong lemah, sehingga motivasi belajar siswa tidak hanya ditentukan oleh dukungan sosial teman sebaya, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain seperti kondisi pribadi, lingkungan keluarga, maupun aspek akademik lainnya. Untuk melihat besaran kontribusi dukungan sosial dari pertemanan offline terhadap motivasi belajar siswa kelas Vi SMPN 1 Ngoro serta signifikansi kontribusi antar variabel digunakan uji regresi. Adapun hasil uji regresi tersebut disajikan pada tabel di bawah ini Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 58-70 Tabel 12. Uji Regresi Linier Sederhana Pada Siswa SMPN 1 Ngoro Coefficientsa Standardize Unstandardized Coefficient Coefficients Std. Error Beta Sig. Model (Constan. Dukungan Sosial dari Pertemanan . Offline Dependent Variable: Motivasi Belajar Berdasarkan hasil analisis regresi linier sederhana diperoleh persamaan Y = 31,379 0,493X yang menunjukkan bahwa jika dukungan sosial dari pertemanan offline bernilai nol maka motivasi belajar berada pada angka 31,379, sedangkan setiap peningkatan satu satuan dukungan sosial akan meningkatkan motivasi belajar sebesar 0,493. Koefisien yang bernilai positif mengindikasikan adanya kontribusi positif antara kedua variabel, dan nilai signifikansi sebesar 0,000 (< 0,. menunjukkan bahwa pengaruh tersebut signifikan secara statistik. Untuk melihat besarnya kontribusi secara keseluruhan digunakan nilai koefisien determinasi (R Squar. yang disajikan pada tabel terkait. Tabel 13. Hasil Koefisien Determinasi pada Siswa SMPN 1 Ngoro Model Summary Model R Square Adjusted R Std. Error of the Square Estimate Nilai koefisien determinasi (R Squar. sebesar 0,487 menunjukkan bahwa dukungan sosial dari pertemanan offline memberikan kontribusi sebesar 48,7% terhadap motivasi belajar siswa, sedangkan sisanya sebesar 51,3% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa kontribusi dukungan sosial berada pada kategori sedang, sehingga memiliki peran yang cukup kuat dalam meningkatkan motivasi belajar, meskipun tetap terdapat variabel lain yang turut memengaruhi. Uji perbedaan menggunakan Independent Sample T-Test menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan baik pada dukungan sosial dari pertemanan offline maupun motivasi belajar antara siswa SMPN 2 Krembung dan SMPN 1 Ngoro. Pada variabel dukungan sosial, hasil uji Levene menunjukkan varians homogen (Sig 0,303 > 0,. sehingga digunakan asumsi equal variances, dengan nilai Sig . -taile. 0,178 > 0,05 yang berarti tidak ada perbedaan signifikan meskipun rata-rata SMPN 2 Krembung sedikit lebih rendah. Sementara itu, pada variabel motivasi belajar, karena varians tidak homogen (Sig 0,006 < 0,. , digunakan uji Welch dengan hasil Sig 0,484 > 0,05 yang juga menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan. Dengan demikian, kedua sekolah memiliki tingkat dukungan sosial dan motivasi belajar yang relatif sama, sehingga hipotesis nol diterima. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 58-70 Pembahasan Hubungan Antara Dukungan Sosial dari Pertemanan Offline dengan Motivasi Belajar Siswa Kelas Vi di SMPN 2 Krembung Sidoarjo dan SMPN 1 Ngoro Mojokerto Hasil analisis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 . < 0,. pada kedua sekolah, yang berarti hubungan antara dukungan sosial dari pertemanan offline dengan motivasi belajar terbukti sangat signifikan dan tidak terjadi secara kebetulan. Temuan ini menegaskan bahwa hipotesis diterima, di mana semakin tinggi dukungan sosial yang diterima siswa maka semakin tinggi pula motivasi belajar mereka. Konsistensi hasil pada dua sekolah dengan karakteristik wilayah berbeda menunjukkan bahwa dukungan sosial bersifat universal dalam memengaruhi motivasi belajar. Hal ini sejalan dengan penelitian Gerungan & Tondatuon . yang juga menemukan signifikansi 0,000 dengan hubungan positif antara kedua variabel. Selain itu, penelitian Luthfiyah & Nastiti . menunjukkan hasil serupa meskipun dengan kekuatan hubungan yang lebih rendah. Dengan demikian, secara umum dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial teman sebaya memiliki peran nyata dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Meskipun sama-sama signifikan, kekuatan hubungan di kedua sekolah berbeda, di mana SMPN 2 Krembung memiliki korelasi sedang . = 0,. dan SMPN 1 Ngoro memiliki korelasi kuat . = 0,. Perbedaan ini dipengaruhi oleh karakteristik lingkungan sosial masing-masing sekolah, di mana di kawasan industri seperti SMPN 1 Ngoro, peran teman sebaya lebih dominan sebagai sumber dukungan karena keterbatasan interaksi dengan keluarga. Sebaliknya, di SMPN 2 Krembung yang berada di lingkungan lebih tenang, dukungan keluarga masih cukup kuat sehingga peran teman sebaya tidak sepenuhnya dominan. Hal ini didukung oleh teori Sidney Cobb yang menekankan bahwa kualitas dukungan lebih penting daripada sekadar intensitas hubungan sosial. Temuan ini juga sejalan dengan penelitian Pramana & Wilani . serta Fadillah et al. yang menunjukkan bahwa dukungan sosial kuat dapat meningkatkan motivasi belajar secara Dengan demikian, perbedaan konteks lingkungan turut memengaruhi kekuatan hubungan antar variabel. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial tidak hanya berhubungan secara statistik tetapi juga berkontribusi nyata terhadap motivasi belajar, terlihat dari kontribusi sebesar 23,5% di SMPN 2 Krembung dan 48,7% di SMPN 1 Ngoro. Temuan ini menguatkan bahwa interaksi sosial yang positif dapat menciptakan iklim belajar yang kondusif, meningkatkan kepercayaan diri, serta membantu siswa mengatasi tekanan akademik. Penelitian Isrofi & Affandi juga menegaskan bahwa siswa dengan dukungan teman sebaya yang baik cenderung memiliki motivasi belajar lebih tinggi. Selain itu, penelitian Fadillah et al. bahwa interaksi pertemanan mampu meningkatkan rasa nyaman dan keterikatan sosial siswa. Dengan demikian, dukungan sosial dari pertemanan offline berperan penting dalam membentuk motivasi belajar yang lebih stabil dan berkelanjutan. Pembahasan Perbedaan Dukungan Sosial dan Motivasi Belajar Siswa Kelas Vi yang Berada di Lingkungan Kecamatan(SMPN 2 Krembung Sidoarj. dan Lingkungan Industri(SMPN 1 Ngoro Mojokert. Penelitian ini tidak hanya menguji hubungan, tetapi juga membandingkan tingkat dukungan sosial dan motivasi belajar antara dua sekolah. Hasil uji Independent Sample T-Test menunjukkan nilai signifikansi 0,178 (>0,. , sehingga tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam dukungan sosial antara siswa SMPN 2 Krembung dan SMPN 1 Ngoro. Temuan ini dapat dijelaskan karena pola interaksi pertemanan di kedua sekolah relatif serupa, baik dari segi kedekatan emosional, bentuk dukungan, maupun aktivitas sosial sehari-hari. Selain itu, kesamaan struktur sekolah seperti jumlah kelas, program, serta kebijakan pembatasan penggunaan smartphone turut membentuk pola interaksi sosial yang hampir sama, sehingga dukungan sosial berkembang secara relatif setara. Hasil serupa juga ditemukan pada variabel motivasi belajar melalui uji Mann-Whitney dengan nilai signifikansi 0,215 (>0,. , yang menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan antar Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 58-70 kedua sekolah. Secara teoritis, hal ini dapat dijelaskan melalui konsep dukungan sosial dari Sidney Cobb yang menekankan bahwa persepsi individu terhadap penerimaan dan perhatian lebih menentukan dibandingkan konteks geografis. Selain itu, teori Self-Determination dari Edward Deci dan Richard Ryan menjelaskan bahwa motivasi dipengaruhi oleh pemenuhan kebutuhan autonomy, competence, dan relatedness yang dalam penelitian ini cenderung terpenuhi secara seimbang di kedua sekolah, sehingga tidak menimbulkan perbedaan motivasi belajar yang berarti. Temuan ini juga sejalan dengan penelitian Uyun . yang menyatakan bahwa perbedaan wilayah tidak selalu menghasilkan perbedaan signifikan pada aspek psikososial seperti motivasi belajar dan dukungan sosial, selama lingkungan sekolah dan pola interaksi siswa relatif serupa. Dengan demikian, sekolah berperan sebagai ruang sosial yang mampu AumenyetarakanAy pengalaman siswa melalui interaksi harian, budaya belajar, dan sistem pendidikan yang sama. Kesimpulannya, baik dukungan sosial maupun motivasi belajar di kedua sekolah berada pada tingkat yang relatif setara, sehingga strategi peningkatan keduanya dapat diterapkan secara umum tanpa perlu penyesuaian besar berdasarkan karakteristik wilayah. KESIMPULAN Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara dukungan sosial dari pertemanan offline dan motivasi belajar pada kedua sekolah (Sig. 0,000 < , dengan kekuatan hubungan berbeda, kategori sedang di SMPN 2 Krembung . =0,. dan kuat di SMPN 1 Ngoro . =0,. yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, peran teman sebaya, serta kondisi keluarga. namun demikian, tidak ditemukan perbedaan signifikan baik pada tingkat dukungan sosial (Sig. 0,178 > 0,. maupun motivasi belajar (Sig. 0,215 > 0,. antar kedua sekolah karena pola interaksi, budaya sekolah, dan faktor internal siswa yang relatif seragam. Oleh karena itu, disarankan agar orang tua dan masyarakat meningkatkan dukungan sosial secara konsisten, sekolah dan guru menciptakan lingkungan belajar yang suportif melalui pembelajaran kolaboratif dan penguatan relasi sosial, siswa menjaga pertemanan yang positif dan saling mendukung, serta peneliti selanjutnya mengembangkan variabel lain dan metode campuran agar diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi motivasi belajar. DAFTAR PUSTAKA