HYMNOS Jurnal Teologi Dan Keagamaan Kristen Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Ambon Volume 2 No. : 38-56 e-ISSN 3109-2586 DOI: https://doi. org/10. 64533/hymnos. Submitted, 25 September 2025. Revised, 27 Oktober 2025. Accepted, 21 Desember 2025. Published, 30 Desember 2025 STUDI INTERTEKS: NUBUAT TENTANG MESIAS DALAM YESAYA 9:5-6 DAN KELAHIRAN YESUS DALAM MATIUS 1:20-23 Agustinus Joni Priwinata Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Batam jonireey@gmail. Abstract: This study stems from confusion among churches and believers regarding who is referred to as the owner of the identity in Isaiah 9:5-6. This study aims to provide a deeper theological understanding, present sound teaching, and offer clarification for the confusion that arises regarding the identification of the character's identity in the text. To achieve this goal, this study uses a qualitative method which shows that Jesus is the owner of the identity described in Isaiah 9:5-6. The Gospel of Matthew theologically presents Jesus as the fulfillment of Isaiah's prophecy, particularly through His identity as Immanuel and His task to save His people from sin. Thus, the Messianic identity in Isaiah 9:5-6 finds its full fulfillment in Jesus. Through this intertextual study, a strong theological continuity between the Old Testament and the New Testament is revealed, which also confirms Jesus' identity as the promised Messiah. This research is expected to contribute to the development of intertextual studies in biblical theology and serve as a methodological reference for future intertextual research. Keywords: Isaiah 9:5-6. Matthew 1:20-23. Intertextuality. Prophecy. Messiah Abstrak: Penelitian ini berangkat dari adanya kebingungan dalam kalangan gereja dan orang percaya mengenai siapa yang dimaksud sebagai pemilik identitas dalam Yesaya 9:5-6. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman teologis yang lebih mendalam, menyajikan pengajaran yang sehat, serta menawarkan klarifikasi bagi kebingungan yang muncul terkait identifikasi identitas tokoh dalam teks tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang menunjukkan bahwa Yesus adalah pemilik identitas yang digambarkan dalam Yesaya 9:5-6. Injil Matius secara teologis menghadirkan Yesus sebagai penggenapan nubuat Yesaya, khususnya melalui identitas-Nya sebagai Imanuel dan tugas-Nya untuk menyelamatkan umatNya dari dosa. Dengan demikian, identitas Mesianik dalam Yesaya 9:5-6 menemukan pemenuhannya secara penuh dalam diri Yesus. Melalui studi interteks ini, terungkap kesinambungan teologis yang kuat antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang sekaligus menegaskan identitas Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi bagi pengembangan kajian interteks dalam teologi biblika serta menjadi rujukan metodologis dalam pelaksanaan penelitian interteks di masa mendatang. Kata Kunci: Yesaya 9:5-6. Matius 1:20-23. Interteks. Nubuat. Mesias Copyright A2025 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license. Pendahuluan Penelitian terhadap identitas tokoh dalam Yesaya 9:5-6 telah dilakukan oleh sejumlah sarjana terdahulu, terutama Alec J. Motyer dan McKay Niall. Motyer1 menegaskan bahwa Yesaya 9 ditulis pada masa kerajaan Yehuda ketika bangsa itu berada di bawah ancaman Asyur, sehingga identitas dalam Yesaya 9:5-6 lebih tepat dipahami sebagai identitas simbolis bagi raja Israel pada zaman itu, bukan sebagai nubuat literal tentang Mesias yang akan datang. Michael Wade Martin2 juga menambahkan bahwa Matius tidak mengutip secara langsung teks Yesaya 9:5-6 dalam membahas kelahiran Yesus, sehingga bagian ini tidak dapat secara otomatis ditafsirkan sebagai rujukan kepada Yesus sebagai Mesias. Sementara itu. McKay Niall3 melalui penjelasan Daniel Kim4 menyatakan bahwa nubuat Perjanjian Lama tidak boleh dipasangkan begitu saja dengan peristiwa Perjanjian Baru tanpa analisis kontekstual yang mendalam. Menurutnya, sebagian besar penggunaan PL dalam PB merupakan bentuk tipologi, pesher, atau aplikasi teologis, bukan nubuat literal. karena itu penafsir modern tidak memiliki otoritas untuk menyimpulkan bahwa suatu teks PL merujuk kepada Yesus apabila konteks aslinya tidak menunjukkan demikian. Kedua pandangan ini telah menimbulkan diskusi baru dan kebingungan di kalangan gereja mengenai kepemilikan identitas dalam Yesaya 9:5-6. Dari kajian para peneliti terdahulu, muncul sejumlah problem penting yang memerlukan penelaahan lebih lanjut. Pertama, terdapat problem konteks historis mengenai apakah identitas dalam Yesaya 9:5-6 merujuk pada raja sezaman itu atau pada Mesias yang disebut Imanuel dalam Matius 1:20-23. Kedua, terdapat problem hermeneutik terkait keabsahan penafsiran mesianik yang dilakukan oleh penulis PB terhadap teks PL. Ketiga, terdapat problem interpretasi yang muncul akibat perbedaan antara teks Ibrani dan teks Yunani (LXX). Keempat, terdapat problem teologis mengenai apakah penerapan identitas dalam Yesaya 9:5-6 kepada Yesus melampaui maksud historis teks asli. Kelima, terdapat problem intertekstual karena Yesaya 9 tidak dikutip secara langsung oleh Matius tetapi dianggap paralel secara teologis dengan narasi kelahiran Yesus. Permasalahan-permasalahan ini menunjukkan perlunya penelitian yang lebih mendalam dan integratif. Di samping itu, penelitian terdahulu masih menyisakan sejumlah kesenjangan . yang belum terjawab. Belum ada penelitian yang secara komprehensif menghubungkan konteks historis Yesaya 9 dengan pemaknaan Imanuel dalam Matius 1:20-23 untuk menilai kesinambungan teologis antara keduanya. Penelitian sebelumnya juga cenderung memisahkan kajian konteks PL dari analisis kutipan PB, sehingga hubungan intertekstual antara Yesaya 9 dan Matius 1 belum dianalisis secara menyeluruh. Selain itu, belum ada kajian yang menelaah secara sistematis keterkaitan antara problem hermeneutik, problem bahasa (Ibrani-Yunan. , problem teologi, dan problem interteks dalam penafsiran Yesaya 9:5-6 sebagai nubuat Mesianik. Lebih Motyer. Alec J. The Prophecy of Isaiah: An Introduction & Commentary. Downers Grove. Illinois: InterVarsity Press, 1973, p. Martin. Michael Wade. On Authe NameAy as a Messianic Title for the Servant in LXX Isaiah. Zeitschrift fyr die Alttestamentliche Wissenschaft, 134. , 2022, pp. McKay. Niall. AuStatus Update: The Many Faces of Intertextuality in New Testament StudyAy. Religion and Theology, 2013. Volume 15 Daniel Kim. AuIntertextuality and New Testament Studies,Ay Currents in Biblical Research 20, no. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 jauh lagi, penelitian yang ada belum menjawab kebingungan gereja secara akademik tentang siapa pemilik identitas dalam teks tersebut. Dengan demikian, terdapat ruang kosong penelitian yang perlu diisi untuk menjembatani pemahaman antara konteks historis Yesaya dan penafsiran Matius, sekaligus memperjelas bagaimana kedua bagian itu dipahami dalam kerangka hermeneutik PL-PB. Melihat berbagai kesenjangan tersebut, penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan klarifikasi historis terhadap konteks Yesaya 9:5-6, menguji kembali metode hermeneutik modern dalam menafsirkan teks-teks Mesianik, mengisi celah penelitian terkait hubungan interteks antara Yesaya 9:5-6 dan Matius 1:20-23, serta meluruskan sejumlah kesalahpahaman akademik terkait perbedaan antara teks Ibrani dan LXX. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah yang signifikan bagi studi-studi selanjutnya mengenai nubuat Mesianik, relasi PL dan PB, serta penafsiran interteks dalam Alkitab. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif5 yaitu suatu pendekatan ilmiah yang berorientasi pada pemahaman mendalam terhadap fenomena, teks, dan konteks tertentu melalui proses interpretatif. Pendekatan ini dipilih karena penelitian bertujuan menggali makna, memahami dinamika penafsiran, serta menginterpretasikan teks Alkitab dalam konteks historis dan teologisnya. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat menelaah makna-makna yang tersembunyi di balik struktur bahasa, latar sejarah, maupun wacana teologis yang berkembang dalam penelitian biblika. Langkah awal dalam penelitian ini adalah menetapkan fokus penelitian6, yaitu menentukan secara jelas isu pokok yang hendak dikaji agar penelitian berjalan secara terarah dan tidak melebar. Fokus penelitian diarahkan pada identifikasi pemilik identitas dalam Yesaya 9:5-6 dan kelahiran Yesus dalam Matius 1:20-23 serta analisis terhadap teks, konteks historis, dan pemahaman penerima pertama terhadap teks tersebut. Penetapan fokus ini menjadi fondasi bagi keseluruhan proses penelitian, termasuk penetapan sumber data, teknik analisis, dan perumusan argumentasi akademik. Setelah fokus ditetapkan, peneliti kemudian merumuskan tujuan penelitian7 sebagai arah yang hendak dicapai. Karena penelitian ini bersifat kualitatif, tujuan yang dirumuskan bersifat deskriptif, eksploratif, dan interpretatif. Penelitian ini bertujuan menjelaskan makna identitas dalam Yesaya 9:5-6, memahami konteks historis-teologisnya, serta mengevaluasi berbagai penafsiran akademik yang diberikan oleh para ahli Alkitab. Tujuan ini selanjutnya menjadi tolok ukur dalam menentukan keberhasilan analisis yang dilakukan. Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif: Untuk Penelitian yang Bersifat Eksploratif. Interpretatif. Interaktif dan Konstruktif. Alfabeta, 2022, hlm. Hasan Sutanto. Hermeneutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab. Malang: Literatur SAAT, 2007, hlm. Sitompul & Ulrich Beyer. Metode Penafsiran Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008, hlm. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 Dalam pendekatan kualitatif, subjek penelitian lebih dipahami sebagai sumber data daripada individu8 oleh karena penelitian ini termasuk penelitian biblika, sumber data terdiri dari sumber primer dan sekunder. Sumber primer berupa teks Alkitab, khususnya Yesaya 9:5-6 dalam bahasa Ibrani, yang dianalisis secara linguistik, literer, dan teologis. Sumber sekunder meliputi komentar-komentar teologi, jurnal akademik, buku-buku tafsiran, dan pemikiran para sarjana seperti Motyer. Childs. Goldingay, serta akademisi lainnya yang relevan. Pemilihan sumber data menggunakan teknik purposive, yaitu dipilih secara sengaja berdasarkan relevansi dan bobot akademiknya terhadap masalah penelitian. Dalam penelitian kualitatif, peneliti berperan sebagai instrumen utama9 karena kualitas interpretasi sangat ditentukan oleh kemampuan peneliti dalam membaca, memahami, serta menafsirkan data secara kritis. Selain itu, penelitian ini juga memanfaatkan sejumlah instrumen pendukung untuk menunjang ketepatan analisis. Pedoman analisis teks digunakan sebagai acuan dalam menelaah teks Alkitab. khususnya teks Yesaya 9 dalam bahasa Ibrani yang diambil dari Biblia Hebraica Stuttgartensia (BHS), serta teks Matius dalam bahasa Yunani yang diacu melalui Nestle-Aland Novum Testamentum Graece edisi ke-28 (NA. Instrumen pendukung lainnya meliputi tabel pencatatan data, catatan kategorisasi tema, dan perangkat lunak studi biblika seperti PC Study Bible 5 dan BibleWorks 10. Keseluruhan instrumen tersebut berfungsi membantu peneliti mengorganisasi data secara sistematis, meminimalkan kekeliruan, dan memastikan bahwa proses analisis berlangsung secara metodologis, cermat, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Tahap berikutnya adalah pengumpulan data10 yang dilakukan melalui beberapa teknik. Pertama, studi pustaka dengan membaca dan mengkaji literatur akademik seperti tafsiran, bukubuku teologi, jurnal ilmiah, dan penelitian terdahulu yang relevan. Kedua, analisis teks Alkitab yang melibatkan pengamatan terhadap struktur kalimat, analisis istilah Ibrani, konteks literer, dan konteks historis masa penulisan kitab Yesaya. Melakukan perbandingan tafsiran dari berbagai ahli untuk melihat variasi, perbedaan, dan kecenderungan interpretatif yang muncul. Seluruh data yang terkumpul kemudian dicatat, dikelompokkan, dan dikategorikan sesuai tematema yang relevan dengan fokus penelitian. Untuk memastikan bahwa data yang diperoleh sahih dan dapat dipertanggungjawabkan, penelitian ini menerapkan pemeriksaan keabsahan data11 melalui beberapa teknik. Triangulasi sumber digunakan untuk membandingkan pandangan para komentator dan literatur akademik sehingga diperoleh gambaran yang lebih objektif. Triangulasi teori dilakukan dengan menguji hasil temuan menggunakan pendekatan atau teori hermeneutika yang berbeda. Selain itu, peneliti menjaga konsistensi analisis dengan memastikan bahwa setiap interpretasi selalu Loraine Busetto. Wolfgang Wick, dan Christoph Gumbinger. AuHow to Use and Assess Qualitative Research Methods,Ay Neurological Research and Practice. London: Springer Nature/BioMed Central, 2020 Olmos-Vega et al. AuA Practical Guide to Reflexivity in Qualitative Research,Ay Medical Teacher. Abingdon: Taylor & Francis, 2023. Virpi Timonen. AuQuality in Qualitative Research: A Relational Process,Ay Qualitative Research. Bingley: Emerald Publishing, 2024. Loraine Busetto. Wolfgang Wick, dan Christoph Gumbinger. AuHow to Use and Assess Qualitative Research Methods,Ay Neurological Research and Practice. London: Springer Nature, 2020 HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 disandarkan pada teks dan konteks, bukan pada asumsi subjektif. Langkah-langkah ini membantu mempertahankan kredibilitas dan integritas hasil penelitian. Tahap selanjutnya adalah analisis data12 yang dilakukan secara berkelanjutan sejak awal pengumpulan data. Analisis ini meliputi reduksi data untuk memilih informasi yang paling relevan, kategorisasi dan pengkodean untuk mengelompokkan data ke dalam tema-tema tertentu seperti konteks sejarah, struktur teks, gelar-gelar ilahi, atau pandangan para sarjana, serta analisis isi dan analisis teks untuk menelaah setiap elemen linguistik maupun teologis dalam Yesaya 9:5-6. Melalui proses ini, peneliti berupaya mengenali pola, hubungan, dan makna teologis yang terkandung dalam teks. Tahap terakhir adalah penafsiran dan penarikan kesimpulan13 yaitu mengintegrasikan hasil analisis dan menafsirkan makna keseluruhan teks berdasarkan data yang telah diolah. Pada tahap ini, peneliti menghubungkan temuan analitis dengan tujuan penelitian, merumuskan makna identitas dalam Yesaya 9:5-6 sesuai konteks teks dan konteks historisnya, serta menegaskan implikasi teologis yang dapat diambil. Kesimpulan disusun secara sistematis untuk menjawab fokus penelitian dan memberikan kontribusi bagi kajian biblika, khususnya dalam diskursus mengenai identitas tokoh dalam Yesaya 9. Temuan dan Pembahasan Kitab Yesaya merupakan salah satu kitab yang penting dalam Perjanjian Lama yang memuat nubuat-nubuat nabi Yesaya. Kitab ini memiliki signifikansi teologis yang besar dalam tradisi Yahudi14 karena pesannya yang relevan, baik pada masa penulisannya maupun dalam konteks kehidupan umat manusia pada masa kini. Yesaya15 hidup pada abad ke-8 SM, sekitar tahun 740-700 SM, di kerajaan Yehuda, dan dikenal sebagai nabi yang menyampaikan peringatan terhadap dosa umat Israel sekaligus janji penyelamatan melalui kedatangan Mesias. Penulisan kitab ini16 berlangsung pada masa pemerintahan raja Yehuda, yakni raja Uzia. Yotam. Ahas, dan Hizkia, dan berlangsung pada kondisi politik, sosial, dan spiritual bangsa Israel dan Yehuda pada abad ke-8 hingga ke-7 SM. Sementara itu. Kitab Matius17 adalah Injil pertama dalam Perjanjian Baru dan merupakan salah satu dari empat Injil yang mencatat kehidupan, pengajaran, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Tradisi gereja awal menyebutkan bahwa Injil ini ditulis oleh Matius, seorang Tenny. Brannan, dan G. Brannan. AuQualitative Study,Ay dalam StatPearls. Treasure Island. FL: StatPearls Publishing, 2022. Denny. AuQualitative Research: What It Is and What It Is Not,Ay BJOG: An International Journal of Obstetrics & Gynaecology Hoboken. NJ: Wiley-Blackwell, 2019. Nggebu. Sostenis & Agustina. Viceta Pomida. AuKesetiaan Nabi Yesaya dan Relevansinya Bagi Pengabdian Hamba Tuhan Masa Kini. Ay Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi. Vol. No. , hlm. Brown. Jeannine K. Jesus Messiah as IsaiahAos Servant of the Lord: New Testament Explorations. Journal of the Evangelical Theological Society, 63. , 51-69. Tarigan. Wahyu Triwira. AuPanggilan dan Tugas Yesaya: Eksegesa Yesaya 6:1-13. Ay Kerugma: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. , hlm. Sualang. Farel Yosua. AuStudi Eksegesis Mengenai Kerajaan Mesias Menurut Yesaya 2:1-4. Ay HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol. No. , hlm. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 pemungut cukai yang dipanggil menjadi murid Yesus (Mat 9:. Injil Matius diperkirakan ditulis 18 antara tahun 70-100 M, kemungkinan setelah kehancuran Bait Suci Yerusalem pada tahun 70 M. Secara umum. Injil ini ditujukan kepada komunitas Kristen Yahudi19 yang telah mengakui Yesus sebagai Mesias. Oleh karena itu. Matius sering mengutip Perjanjian Lama untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah penggenapan nubuat-nubuat Mesianik. Berkenaan dengan nubuat Yesaya 9:5-6, teks ini ditulis pada masa penuh tekanan dan penderitaan bagi bangsa Israel akibat ancaman politik dan militer. Di tengah situasi tersebut. Yesaya mengumumkan20 harapan akan hadirnya seorang pemimpin yang membawa damai dan Pernyataan AuSeorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra diberikan kepada kitaAy menunjuk pada hadirnya raja yang diurapi dan diberi otoritas oleh Tuhan. identitas seperti AuPenasihat Ajaib. Allah yang Perkasa. Bapa yang Kekal. Raja DamaiAy menggambarkan harapan Israel akan pemimpin ideal yang akan membawa pembaruan radikal dan menegakkan pemerintahan yang adil dan benar. Dalam konteks Matius 1:20-23. Matius menekankan kelahiran Yesus melalui penampakan malaikat kepada Yusuf. Kutipan yang digunakan Matius untuk menegaskan identitas Yesus sebagai Mesias lebih tepat merujuk kepada Yesaya 7:14, yang berisi nubuat mengenai kelahiran seorang anak dari seorang perawan dan akan dinamai (Imanuel: Allah menyertai kit. Dengan demikian. Matius 1:23 menunjukkan hubungan langsung antara nubuat Yesaya 7:14 dan peristiwa kelahiran Yesus sebagai pemenuhan harapan Mesianik. Sementara Yesaya 9:5-6 sering dipahami sebagai gambaran figuratif21 mengenai raja ideal dalam tradisi Israel, teologi Kristen memandang identitas dalam teks tersebut sebagai referensi terhadap keilahian Yesus. Hal ini didasarkan pada karakterisasi yang melampaui kemampuan manusia biasa, seperti (Allah yang Perkasa dan Bapa yang Keka. , serta pernyataan bahwa pemerintahan-Nya tidak berkesudahan (Yes. Identitas tersebut secara teologis hanya dapat dikenakan pada pribadi Mesias yang memiliki natur Ilahi. Dalam teologi Kristen. Yesus dipahami sebagai Firman Allah yang menjadi manusia (Yoh. 1:1,. , sehingga Ia memenuhi kualifikasi ilahi Keterkaitan antara Yesaya 7:14 dan Matius 1:23 melalui nama (Imanue. memberikan penegasan kristologis22 bahwa melalui kelahiran Yesus. Allah menyatakan kehadiran-Nya secara nyata di tengah-tengah umat-Nya. Yesaya 9:5-6 memperkuat pemahaman bahwa Mesias yang dijanjikan bukan sekadar raja politis, melainkan Raja Ilahi yang membawa pemerintahan kekal berdasarkan keadilan dan kebenaran. Kalis. AuBukti Keilahian Yesus Menurut Injil. Ay Jurnal Teruna Bhakti. Vol. No. Putra. Adi. AuMemahami Bangsa-bangsa Lain dalam Injil Matius. Ay BIAAo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual. Vol. No. , hlm. Jeannine K. Brown. AuJesus Messiah as IsaiahAos Servant of the Lord: New Testament Explorations,Ay Journal of the Evangelical Theological Society 63, no. : 51-69. Arnold Zawadzki. AuNowe tCumaczenie i interpretacja Iz 55,3-5. Studium egzegetyczno-historyczne [A New Translation and Interpretation of Isaiah 55:3-5. An Exegetical and Historical Stud. ,Ay BibAn 7, no. : 49-85. Michael Wade Martin. AuOn Aothe NameAo as a Messianic Title for the Servant in LXX Isaiah,Ay Zeitschrift fyr die alttestamentliche Wissenschaft 134, no. : 362-369 HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 Dengan demikian, baik Yesaya 9:5-6 maupun Matius 1:20-23 menampilkan sosok Mesias sebagai pemimpin yang diurapi Allah, pembawa damai, keselamatan, dan pembaruan radikal dalam kehidupan umat Allah. Perbedaannya terletak pada fokus masing-masing teks: Yesaya23 menggambarkan karakter dan pemerintahan Mesias, sementara Matius menegaskan penggenapan nubuat Mesianik melalui kelahiran Yesus. Penekanan Matius24 pada nama (Imanue. menunjukkan bahwa misi Mesias bukan hanya memerintah sebagai raja, tetapi juga menghadirkan kehadiran Allah yang tinggal di tengah-tengah umat-Nya. Implikasi teologisnya adalah bahwa Yesus, sebagai Mesias yang dijanjikan, merupakan wujud nyata kehadiran Allah dan pembawa keselamatan yang kekal bagi umat manusia. Analisis leksikal dan gramatika Analisis leksikal dan gramatika dalam bagian ini sangat diperlukan untuk mencari tahu, makna dan konteks dari kata dan frase yang terdapat dalam teks yang diteliti, sehingga mempermudah dalam analisisi study interteks dan menghidari kesalahan tafsir. Eksegesis Yesaya. Yesaya. 9:5 merupakan nubuatan Yesaya terhadap sosok seorang raja yang akan membawa damai dan keselamatan bagi Israel. Frasa nubuatan itu adalah sebagai berikut (Lambang pemerintahan ada di atas bahunya. namanya disebut orang penasehat ajaib. Allah yang perkasa. Bapa yang Kekal. Raja Dama. `A. v'-rf. yy bi. rAByGI laey Ao#. Ay al,P,y Amyv. ar"Aoq. YIw: Am k. vi-l[. hr"yf. Mih. w: Wnl'y-!T. nI !BeA Wnl'A-dL. yU dl,y AodwId" aSeyuKi-l[. #qe-A !yae( Alyuv'l. W hr"yf. Mih. yahBeAor>m. ya AhB'r:mol'yA28 s `taZO*-hf,[T] . tAayb'c. hw"yhy> ta. An>qi l'Ay [-d[. w> AohT'[. me hq"d "c. Makna kata-kata dalam ayat ini dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Tabel. 2: Analisis Leksikal dan Gramatikal Yesaya. 9:629 Bahasa Parsing Terjemahan Particle preposition Atas / Kepada hB,r>m. Noun common masculine singular Takhta . Particle preposition Atas / Kepada Software BibleWork 10 dan PC Stady Bible Software BibleWork 10 Dan PC Stady Bible HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 Noun masculine singular construct Particle article Noun feminine singular absolute Particle conjunction Particle preposition Noun masculine singular absolute Particle adverb Noun masculine singular absolute Particle preposition Noun masculine singular construct noun proper no gender no number no particle conjunction particle preposition Noun feminine singular construct 3rd person masculine singular Particle preposition Verb hiphil infinitive construct Particle direct object marker 3rd person feminine singular Particle conjunction Particle preposition Verb qal infinitive construct 3rd person feminine singular Particle preposition Noun masculine singular absolute Particle conjunction Particle preposition Noun feminine singular absolute Particle preposition Particle adverb Particle conjunction Particle preposition Noun masculine singular absolute noun feminine singular construct oun proper no gender no number no noun plural absolute verb qal imperfect 3rd person feminine adjective feminine singular absolute hB,r>m. hr'f. Alv' !yIa. #qe aSeKi dwID' hk'lm' . !wk jP'v. hq'd'c. !mi hT'[. l'A[ ha'n>qi ab'c' Takhta . Sang / itu . ata sandang AutheA. Pemerintahan / Kekuasaan Dan Atas / Kepada Damai Tidak akan ada / tidak ada Akhir / batas Atas Kursi . Daud Dan Atas Kerajaan nya Dengan/Untuk Menegakkannya (Penanda objek langsung Ae tidak diterjemahkan langsun. Dan Dengan/Untuk Mendasarkannya / Menopangnya Dengan Keadilan Dan Dengan Kebenaran Dari Sekarang/Saat ini Dan Sampai Selama-lamanya / Kekekalan Kecemburuan . TUHAN Semesta alam / Tentara . Akan melakukan / Ia akan melaksanakan Hal ini / perkara ini Analisis leksikal dan gramatikal30 terhadap Yesaya 9:6 menunjukkan bahwa setiap unsur bahasa Ibrani dalam ayat ini tersusun secara cermat untuk menegaskan karakter dan kualitas Analysis Teks Dalam Software Bible Work 10 Dan Parsingan Dalam Software PC Study Bible HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 pemerintahan tokoh yang dinubuatkan. Penggunaan berulang partikel A( uAatas/kepad. pada beberapa konstruksi awal menunjukkan adanya relasi arah yang kuat, yaitu bahwa takhta, kekuasaan, dan keseluruhan struktur pemerintahan diarahkan kepada dan berpusat pada sosok yang dimaksud. Dengan demikian, partikel ini berfungsi menegaskan orientasi pemerintahan kepada figur utama yang menjadi subjek nubuat. Nomina seperti A( iApemerintahan/kekuasaa. serta A( u A aAtakht. menunjukkan bahwa teks ini berbicara mengenai sebuah pemerintahan yang sah dan memiliki legitimasi penuh. Bentuk konstruksi absolut maupun konstruksi majemuk dalam kata-kata tersebut memberi penekanan pada stabilitas dan kesinambungan otoritas tokoh tersebut. Dalam konteks Israel kuno, pemerintahan dan takhta selalu berkaitan erat dengan mandat ilahi. karena itu, pilihan diksi ini tidak hanya menunjukkan kekuatan politis, tetapi juga legitimasi teologis. Lebih jauh, kata A( uiyAdama. muncul sebagai salah satu istilah kunci yang menunjukkan nuansa pemerintahan tokoh ini. Shalom tidak sekadar mengacu pada kondisi tanpa konflik, tetapi pada keadaan kesejahteraan menyeluruh stabilitas sosial, harmoni moral, dan tatanan yang benar. Dengan demikian, konsep damai yang dikemukakan Yesaya memuat gagasan pemulihan total yang mencakup seluruh aspek kehidupan umat. Penggunaan partikel adverbial seperti A eAdan A( A uAhingga/akhir/bata. mengisyaratkan bahwa pemerintahan ini bersifat berkelanjutan dan tidak terbatas oleh waktu. Secara gramatikal, penanda temporal ini mempertegas sifat kekekalan pemerintahan sang tokoh. Dalam kerangka teologis, hal ini memperlihatkan bahwa pemerintahan tersebut tidak tunduk pada dinamika sejarah manusia, tetapi ditopang oleh ketetapan ilahi yang bersifat abadi. Nomina seperti A( uuiAkerajaa. A( e Akeadila. , dan A( e iAkebenara. selanjutnya memperluas gambaran pemerintahan tokoh ini. Ketiga istilah ini membangun hubungan semantik yang menekankan bahwa kerajaan yang akan ditegakkan memiliki fondasi moral yang kuat: keadilan, kesetiaan, dan standar etis yang benar. Dengan memilih kosakata yang berakar pada konsep moralitas. Yesaya menyampaikan bahwa karakter pemerintahan tokoh ini bukan hanya kuat secara politis, tetapi juga benar secara etis dan spiritual. Verba infinitif seperti A( ui u oAmenegakkan/mengokohka. dan A( u e iAmenopangny. digunakan untuk menggambarkan tindakan aktif dan berkesinambungan yang menyertai pemerintahan tersebut. Kedua verba ini memberi kesan bahwa pemerintahan tokoh ini tidak hanya dimulai, melainkan juga terus dipertahankan dan dikuatkan. Secara teologis, hal ini menunjukkan bahwa pemerintahan tersebut tidak bersifat sementara atau rapuh, melainkan ditopang oleh tindakan ilahi yang berkelanjutan. Partikel temporal A( A iAsejak sekarang/ dari saat in. menjadi titik penting dalam peralihan antara masa kini dan masa depan. Penanda ini membuka perspektif eskatologis bahwa era pemerintahan penuh damai dimulai dari suatu momen tertentu dalam sejarah namun meluas hingga kekekalan. Penggunaan frasa ini memperlihatkan bahwa nubuat Yesaya menyentuh aspek historis sekaligus masa depan umat. Akhirnya, frasa A( oi a Asemangat/keghairahan TUHAN) menempati posisi teologis yang sangat penting. Istilah A a iAmenggambarkan komitmen Allah yang kuat dan penuh kesungguhan dalam menegakkan rencana-Nya. Dalam konteks ini, keberhasilan pemerintahan HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 tokoh yang dinubuatkan bukan bergantung pada kemampuan manusia, tetapi dijamin oleh tindakan Allah sendiri. Dengan demikian, frasa ini menjadi fondasi teologis yang memastikan terlaksananya seluruh rangkaian janji dalam ayat tersebut. Secara keseluruhan, analisis ini memperlihatkan bahwa struktur leksikal Yesaya 9:6 tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga argumentatif. Setiap unsur bahasa dipilih untuk menyampaikan pesan bahwa tokoh yang dinubuatkan adalah pemimpin ideal: ia memerintah dengan damai, keadilan, dan kebenaran. ia memiliki kekuasaan yang sah dan stabil. dan seluruh pemerintahan yang dijalankannya ditopang oleh inisiatif serta komitmen Allah sendiri. Dengan demikian, ayat ini menjadi landasan teologis yang kuat mengenai hadirnya pemerintahan ilahi yang kekal dan membawa pemulihan bagi umat. Eksegesis Matius. 1:21 (Teks NA. 31 te,xetai de. ui`o,n( kai. kale,seij to. noma auvtou/ VIhsou/n \ j ga. r sw,sei to. n lao. n auvtou/ avpo. tw/n a`martiw/n auvtw/nyI Makna kata-kata dalam ayat ini dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Bahasa VIhsou/n\ sw,sei Tabel. 3: Analisis Leksikal dan Gramatikal Matius. 1:2132 Parsingan Terjemahan Verb, future active indicative, 3rd Ia akan melahirkan / akan melahirkan person singular Particle . Dan / tetapi / maka Noun, accusative singular Seorang anak laki-laki / anak Conjunction Dan Verb, future active indicative, 2nd Engkau akan memanggil / engkau akan person singular Article, accusative singular neuter Nama . ata sandan. Noun, accusative singular neuter Nama Personal pronoun, genitive singular Nya / dia . ilik di. rd perso. Noun, accusative singular Yesus masculine . roper nam. Pronoun, nominative singular Dia . endiri / i. Particle . onjungsi kausa. Karena / sebab Verb, future active indicative, 3rd Ia akan menyelamatkan person singular Article, accusative singular (Kata sandan. orang / bangsa Noun, accusative singular Bangsa / umat Software BibleWork 10 dan PC Stady Bible Software BibleWork 10 dan PC Stady Bible HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 Personal pronoun, genitive singular Nya /dia . ilik di. Preposition Dari / dari pada Article, genitive plural (Kata sandan. dari masculine/neuter a`martiw/n Noun, genitive plural feminine Dosa-dosa auvtw/n Personal pronoun, genitive plural Mereka / mereka punya . rd perso. Matius. 1:21 teks NA2833 te,xetai de. ui`o,n( kai. kale,seij to. noma auvtou/ VIhsou/n\ auvto. r sw,sei to. n lao. n auvtou/ avpo. tw/n a`martiw/n auvtw/nyI menampilkan struktur argumen yang erat, di mana tiap unsur leksikal berperan menyusun pesan teologis secara progresif dan Bentuk futur dari te,xetai . a akan melahirka. memulai pernyataan dengan menetapkan tindakan ilahi yang pasti terjadi, sekaligus membuka ruang bagi hubungan sebab-akibat yang berkembang dalam klausa berikut. Nomina ui`o,n . eorang anak laki-lak. tidak hanya berfungsi sebagai objek dari verba tersebut, melainkan juga sebagai titik fokus identitas yang nantinya dijelaskan lebih rinci melalui pemberian nama. Partikel de, menyambungkan pernyataan pertama dengan informasi lanjutan sehingga tercipta kesinambungan logis. Verba kale,seij dalam bentuk future active indicative second person singular menempatkan penerima amanat sebagai pelaksana tindakan penamaan, yang dalam konteks naratif menunjuk pada partisipasi manusia dalam penggenapan rencana ilahi. Frasa to. noma auvtou/ menegaskan bahwa nama yang akan diberikan bukan sekadar label, tetapi representasi identitas dan misi. Penegasan tersebut mencapai puncaknya pada nama VIhsou/n, yang secara etimologis terkait dengan makna (YHWH menyelamatka. Partikel kausal ga,r kemudian menghubungkan penamaan ini dengan alasan teologis yang mendasarinya, sehingga terdapat hubungan semantik yang eksplisit antara sebutan dan fungsi mesianis yang menyertainya. Verba kunci sw,sei . a akan menyelamatka. berada dalam bentuk future active indicative yang menandai kepastian tindakan penyelamatan di masa depan. Objeknya, to. n lao. n auvtou/ . mat-Ny. , memperluas cakupan makna dengan menunjukkan relasi kepemilikan dan komitmen perjanjian antara tokoh yang dinamai Yesus dan umat Allah. Klausa penutup avpo. tw/n a`martiw/n auvtw/n menjadi penjelasan final yang sangat penting: keselamatan yang dijanjikan bukan bersifat politis, melainkan pemulihan spiritual yang membebaskan umat dari dosa-dosa mereka. Melalui struktur ini, relasi argumentatif ayat tersebut membentuk pola yang jelas. Tesis yang ditegaskan adalah bahwa kelahiran seorang anak laki-laki adalah tindakan yang telah ditetapkan Allah. Antitesisnya muncul dalam implicit contrast terhadap harapan-harapan mesianis yang bersifat politis. tindakan penyelamatan yang akan dilakukan bukanlah pembebasan militer atau sosial, melainkan penyelamatan dari dosa, yang bersifat lebih fundamental dan radikal. Sintesisnya ialah bahwa identitas dan misi tokoh ini dipahami melalui hubungan organik antara kelahiran, penamaan, dan tindakan penyelamatan yang definitif. Analysis Teks Dalam Software Bible Work 10 Dan Parsingan Dalam Software PC Study Bible HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 semuanya menyatu dalam nama Yesus yang secara linguistik dan teologis menegaskan bahwa inisiatif penyelamatan berasal dari Allah sendiri. Dengan demikian, setiap unsur leksikal dalam ayat ini berfungsi membangun argumen teologis bahwa tindakan Allah dalam sejarah diwujudkan secara konkret dalam kelahiran seorang anak yang dinamai Yesus, di mana nama tersebut sekaligus mengungkapkan hakikat dan tujuan kedatangan-Nya: menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka. Struktur gramatikal, pilihan diksi, dan hubungan semantik antar unsur semuanya diarahkan untuk memperlihatkan bahwa misi keselamatan bukanlah hasil tafsir manusia, melainkan realitas yang tertanam dalam identitas yang diberikan Allah kepada-Nya sejak awal Eksegesis Matius. 1:23 (Teks: NA. 34 ivdou. h` parqe,noj evn gastri. ei kai. te,xetai ui`o,n( kai. kale,sousin to. noma auvtou/ VEmmanouh,l( o[ evstin meqermhneuo,menon meqV h`mw/n o` qeo,jyI Tabel. 4: Analisis Leksikal dan Gramatikal Matius. 1:2335 Bahasa parqe,noj e. ei te,xetai ui`o,n( kale,sousin VEmmanouh,l( Parsingan Interjection / particle . mperative Article, nominative singular Noun, nominative singular Preposition Noun, dative singular feminine Verb, future active indicative, 3rd person singular Verb, future middle/passive indicative, 3rd person singular Noun, accusative singular Conjunction Verb, future active indicative, 3rd person plural Article, accusative singular neuter Noun, accusative singular neuter Personal pronoun, genitive singular Proper noun . Relative pronoun, nominative singular neuter Verb, present active indicative, 3rd person singular Software BibleWork 10 dan PC Stady Bible Software BibleWork 10 dan PC Stady Bible HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 Terjemahan Lihatlah / sesungguhnya Yang / itu Perawan / gadis perawan Di / dalam Rahim / kandungan Ia akan mempunyai / memiliki Dan Ia akan melahirkan / Anak laki-laki / anak Dan Mereka akan menyebut / (Kata sandan. yang / nama Nama Nya / dia . ilik di. Imanuel Yang / yang A Participle, present passive participle, nominative singular meqermhneuo,menon Preposition . engan elision dari AE) Personal pronoun, genitive plural . st perso. h`mw/n Article, nominative singular Article, nominative singular qeo,jyI Noun, nominative singular Adalah / ialah Diartikan / diterjemahkan Dengan / bersama Kami / kita Tuhan / allah Allah / tuhan Matius. 1:23 teks: NA2836 ivdou. h` parqe,noj evn gastri. ei kai. te,xetai ui`o,n( kai. kale,sousin to. noma auvtou/ VEmmanouh,l( o[ evstin meqermhneuo,menon meqV h`mw/n o` qeo,jyI menampilkan makna yang tersusun dengan cermat untuk menegaskan intervensi Allah dalam sejarah manusia. Partikel pembuka ivdou. memanggil perhatian pembaca kepada suatu realitas yang luar biasa dan bersifat revelatoris. Identifikasi tokoh sebagai h` parqe,noj . ang perawa. yang evn gastri e. edang mengandun. menciptakan ketegangan semantik antara kondisi biologis yang mustahil dan tindakan ilahi yang nyata, sehingga menggarisbawahi bahwa kelahiran ini bukan produk proses alamiah biasa. Bentuk present e. ei menandai keadaan yang sedang berlangsung, sedangkan verba future middle te,xetai menegaskan kepastian peristiwa kelahiran itu sekaligus tetap menyertakan peran manusia sebagai instrumen kehendak Allah. Progresi leksikal dari . kemudian berlanjut pada kale,sousin suatu bentuk future plural yang menunjukkan bahwa identitas anak tersebut akan diakui bukan hanya oleh seorang individu, tetapi oleh komunitas sebagai kesaksian kolektif akan tindakan Allah. Penamaan VEmmanouh,l menjadi titik penting dalam struktur argumentatif ayat ini. Nama tersebut tidak sekadar berfungsi sebagai identifikasi, tetapi sebagai penyingkapan teologis mengenai hakikat dan misi anak yang akan lahir itu. Penjelasan eksplisit o[ evstin meqermhneuo,menon meqV hmw/n o qeo,j . ang berarti: Allah bersama kit. menunjukkan bahwa keberadaan anak ini menyatukan dua realitas: keterbatasan manusia dan kehadiran Allah yang Dengan demikian, ayat ini membangun sebuah pola argumentatif yang dapat dirumuskan dalam relasi tesis-antitesis-sintesis. Tesisnya ialah bahwa Allah sedang bertindak dalam sejarah melalui kelahiran seorang anak dari perawan. Antitesisnya muncul dari realitas biologis yang bertentangan dan dari ekspektasi politis Israel yang tidak membayangkan bahwa kehadiran Allah akan dinyatakan melalui seorang bayi. Sintesisnya terwujud dalam nama Immanuel, yang memperdamaikan kedua kutub tersebut dengan menegaskan bahwa Allah hadir secara nyata di tengah umat melalui jalan yang bersifat supranatural namun diekspresikan melalui proses manusiawi. Analysis Teks Dalam Software Bible Work 10 Dan Parsingan Dalam Software PC Study Bible HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 Seluruh unsur leksikal dalam ayat ini bekerja bersama untuk memperlihatkan bahwa inkarnasi tidak hanya dipahami sebagai peristiwa kelahiran seorang anak, tetapi sebagai pewahyuan identitas ilahi yang memasuki sejarah manusia. Dari perbandingan kata-kata yang menonjolkan ketegangan antara yang ilahi dan yang manusiawi, dari implikasi gramatikal yang menegaskan kepastian tindakan Allah, hingga hubungan semantik yang mengalir dari proses biologis menuju pemaknaan teologis, teks ini membangun argumen kuat bahwa kelahiran Immanuel adalah wujud kehadiran Allah yang mendampingi umat-Nya sebagai dasar dan puncak pengharapan eskatologis. Berdasarkan hasil analisis leksikal dan gramatikal terhadap teks Yesaya 9:5-6 dan Matius 1:20Ae23 dapat ditemukan beberapa poin penting yang memiliki signifikansi teologis dan Pertama, dari sisi konteks historis, harapan Israel pada masa Yesaya sesungguhnya tertuju kepada seorang raja yang mampu menghadirkan pemerintahan damai dan adil pada zaman itu. Ekspektasi tersebut lahir dari situasi bangsa Israel yang sedang mengalami tekanan dan berada di bawah dominasi Asyur. Namun secara faktual, tidak ada raja Israel pada periode tersebut yang memenuhi kriteria ideal sebagaimana digambarkan dalam Yesaya 9:5-6. Kegagalan historis ini membuka ruang bagi penafsiran bahwa nubuat tersebut menunjuk kepada figur yang melampaui realitas politik waktu itu, yakni Mesias yang dalam Matius 1:20-23 disebut Imanuel. Dengan demikian, meskipun teks tersebut berakar dalam konteks sejarah tertentu, pemenuhannya menemukan kepenuhannya dalam pribadi Yesus. Kedua, terkait problem hermeneutik, memang benar bahwa Matius tidak mengutip Yesaya 9:5-6 secara literal sebagai rujukan eksplisit. Namun, seluruh kredibilitas teologis dan karakteristik mesianik yang disampaikan dalam Yesaya hanya dapat diaplikasikan secara utuh kepada pribadi yang memiliki natur ilahi, yakni Yesus Kristus. Dengan kata lain. Matius menggunakan pendekatan hermeneutik yang tidak bersifat literalistik, tetapi teologis-tipologis, di mana kualitas-kualitas dalam Yesaya 9:5-6 menemukan kesesuaiannya hanya dalam inkarnasi Allah dalam diri Yesus. Ketiga, dari aspek bahasa dan terjemahan, perbedaan antara teks Ibrani dan Yunani tidak menghasilkan persoalan tekstual yang signifikan. Tidak ditemukan perbedaan substantif yang dapat menimbulkan distorsi terjemahan ataupun perubahan makna teologis. Karena itu, kedua tradisi teks tersebut justru saling memperkaya pemahaman terhadap makna asli nubuat tersebut tanpa menciptakan kontradiksi. Keempat, dari sudut teologi, muncul pertanyaan apakah penyematan identitas ilahi dalam Yesaya 9:5-6 kepada Yesus merupakan bentuk penafsiran yang melebihi maksud awal Pendapat ini tidak dapat diterima sepenuhnya karena, secara teologis, tidak ada figur lain dalam sejarah Israel yang benar-benar memenuhi standar dan karakteristik ilahi yang disebutkan dalam teks tersebut. Hanya Yesus yang, melalui penyataan hidup-Nya, memperlihatkan otoritas, keadilan, dan damai sejahtera yang sejalan dengan deskripsi dalam Yesaya. Kelima, dalam ranah intertekstual, meskipun Yesaya 9 tidak dikutip secara langsung oleh Matius, kedua teks tersebut tetap dianggap memiliki hubungan paralel secara teologis. Relasi ini muncul karena seluruh istilah dan identitas dalam Yesaya 9:5-6 secara konseptual selaras HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 dengan identitas Yesus sebagaimana dipaparkan dalam Matius 1. Dengan demikian, kesesuaian teologis bukan kesesuaian tekstual literal yang menjadi dasar keterhubungan antara kedua perikop tersebut. Secara keseluruhan, kelima aspek ini menunjukkan bahwa baik secara historis, hermeneutik, linguistik, teologis, maupun intertekstual, teks Yesaya 9:56 menyampaikan gambaran mesianik yang secara penuh dan final terealisasi dalam diri Yesus Kristus. Kesimpulan Bagian ini menyajikan kesimpulan komprehensif dari keseluruhan penelitian mengenai studi interteks antara nubuat tentang Mesias dalam Yesaya 9:5-6 dan kelahiran Yesus dalam Matius 1:20-23. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, penelitian ini menegaskan bahwa Yesus merupakan Mesias yang dijanjikan dalam tradisi kenabian Israel. Kelahiran-Nya bukan sekadar peristiwa historis, melainkan realisasi konkret dari nubuat ilahi yang menunjukkan kesetiaan Allah terhadap janji-Nya. Melalui penggenapan ini, karakter Allah sebagai Pribadi yang setia, benar, adil, dan kudus dinyatakan secara nyata dalam sejarah keselamatan. Identitas Yesus sebagai (Imanuel dan penyelamat dari dos. menunjukkan korespondensi yang erat dengan identitas Mesianik dalam Yesaya 9:5-6. Keselarasan ini memperkuat pemahaman bahwa Yesus bukan hanya figur historis, tetapi Pribadi yang memikul otoritas ilahi, memerintah dengan kuasa kerajaan, dan membawa misi penyelamatan universal sebagaimana yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya. Dengan demikian, identitas tersebut berfungsi sebagai jembatan teologis yang menghubungkan ekspektasi Mesianik dalam Perjanjian Lama dengan pemenuhannya dalam Perjanjian Baru. Selain itu, injil Matius secara khusus mengajak pembaca Yahudi untuk memahami Yesus sebagai pemenuhan dari harapan Mesianik yang telah diwariskan oleh tradisi kenabian. Dengan mengutip Yesaya. Matius menyusun argumen teologis bahwa seluruh rangkaian peristiwa dalam kehidupan Yesus berada dalam kesinambungan dengan karya Allah yang telah dinyatakan Strategi hermeneutik ini memperlihatkan bahwa Matius tidak hanya menafsirkan Yesaya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana Yesus mengaktualisasikan esensi nubuat tersebut dalam realitas sejarah. Akhirnya, penelitian ini merekomendasikan agar studi interteks dalam bidang biblika terus dikembangkan secara metodologis dan aplikatif. Penelitian-penelitian berikutnya diharapkan tidak hanya memperluas penggunaan metode interteks sebagai pendekatan akademik, tetapi juga melakukan kajian yang lebih mendalam mengenai hermeneutik pengunaan Perjanjian lama oleh Perjanjian Baru, terutama terkait dengan validitas penafsiran Mesianik. Dengan demikian, penelitian lanjutan dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan bagi pengembangan keilmuan biblika, khususnya dalam memahami hubungan teologis antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Daftar Pustaka