Jurnal Pendidikan Islam DIRASAH Vol. 3, No. 2, November 2022 e-ISSN: 3025-1931 http://ejournal.iainkendari.ac.id/dirasah PERAN GURU DALAM MEMBENTUK KARAKTER RELIGIUS ANAK DI MADRASAH DINIYAH AWALIYAH DESA CIALAM JAYA KONAWE SELATAN Paramita1,*), Nurdin2, & Pairin3, & Hadi Machmud4 1,2,3,4 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari * Email: Faramita.Falah @gmail.Com Abstract This study aims to determine the religious character of children aged 7-12 years in MDA, and the role of teachers in shaping the religious character of children aged 7-12 years in MDA, as well as knowing the values of religious character instilled by teachers in children aged 7-12 years in MDA. MDA. This study uses a descriptive qualitative approach. Data were collected using observation, interview, and document study techniques. Data analysis was carried out using the Miles and Huberman model, namely data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results showed that: 1) The religious character of children aged 7-12 years in MDA was not completely good, because there were still 3 students whose behavior was not commendable, such as stealing money and friends' belongings, speaking rudely, playing in their prayers, while from in terms of good character there are 5 children who have good character; 2) The role of the teacher in shaping the religious character of children, namely, the role of the teacher as educator and teacher, the role of the teacher as a guide, the role of the teacher as an example, the role of the teacher as a motivator, 3) The values of religious character instilled by the teacher in children are the value of worship and moral values. Keywords: Teacher, Character, Religious Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter religius anak usia 7-12 tahun di MDA, dan peran guru dalam membentuk karakter religius anak usia 7-12 tahun di MDA, serta mengetahui nilai-nilai karakter religius yang ditanamkan guru pada anak usia 7-12 tahun di MDA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data di kumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan study dokumen. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) Karakter religius anak usia 7-12 tahun di MDA belum sepenuhnya baik, karena masih ditemukan 3 orang anak didik yang prilakunya kurang terpuji seperti mencuri uang dan barang-barang temannya, berkata kasar, bermain dalam sholatnya, sedangkan dari segi karakter yang baik ada 5 orang anak yang memiliki karakter yang baik; 2) Peran guru dalam membentuk karakter religius anak yaitu, peran guru sebagai pendidik dan pengajar, peran guru sebagai pembimbing, peran guru sebagai contoh tauladan, peran guru sebagai motivator, 3) Nilai-nilai karakter religious yang ditanamkan guru pada anak adalah nilai ibadah dan nilai akhlak. Kata Kunci: Guru, Karakter, Religius PENDAHULUAN Masyarakat saat ini menghadapi sebuah persoalan bahwa kehidupan maju tidak hanya berdampak positif tetapi juga berdampak buruk. Oleh karena itu, ditengah pesatnya perkembangan informasi dan inovasi serta data seseorang harus berubah dan menjadi pribadi yang cerdas, bertalenta dalam keyakinan dan taqwa. Hal ini sangat berkaitan dengan pembentukan karakter religius yang menjadikan anak didik mengembangkan potensinya sebagaimana pembentukan karakter religius lebih kepada membentuk watak, keimanan dan akhlak anak sesuai ajaran agamanya dan budaya bangsa. Dengan demikian pendidikan agama Islam menjadi gerbang alternatif bagi siswa dalam membentuk karakter religiusnya. Madrasah Diniyah Awaliyah merupakan salah satu tempat wadah pembinaan lembaga pendidikan keagamaan nonformal dan dapat dikatakan sebagai sekolah tambahan yang 58 berperang penting dalam pembentukan pribadi yang baik pada anak usia 7-12 tahun. Lembaga ini.dapat membentuk kepribadian atau sikap religius anak. Sehingga sesuai dengan tujuan pembentukan karakter religius di Madrasah Diniyah Awaliyah yaitu menambah pengetahuan ilmu agama anak-anak yang sangat kurang di sekolah pendidikan formal. Oleh karena itu, sekolah tambahan ini dapat menekankan pada kepercayaanya kepada Tuhan yang Maha Esa atau biasa disebut memperkuat akidah, dan menekankan pada detail praktek-praktek ibadah, mulai dari bersuci, sampai pada ibadah-ibadah lainnya, dan akhlak yang baik yakni dapat menjaga sikap jujur, disiplin, rendah hati, bermanfaat bagi orang lain dengan saling tolong menolong, serta bisa menjaga persaudaraan antar sesama manusia. Selain itu juga menanamkan karakter-karakter lain seperti suka bersedekah, tolong menolong, bertanggung jawab, rajin dan cinta kepada Nabi Muhammad Saw serta karakter lainnya. Berdasarkan hasil observasi awal peneliti lakukan di Madrasah Diniyah Awaliyah di Desa Cialam Jaya Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan, terdapat beberapa masalah mengenai sikap dan karakter religius anak seperti masih ditemukan karakter yang kurang terpuji. Seperti sifat nakal anak yang diperoleh dari lingkungan keluarga, misalnya anak yang memiliki latar belakang kurang mampu, karena kurangnya didikan karakter dari orang tuannya sehingga melakukan tindakan pencurian dan juga berkata kasar karena mencontoh orang tuannya yang juga terbiasa berkata kasar. Selain itu faktor dari lingkungan sosial, misalnya memilih bergaul dengan anak yang nakal sehingga ketika di lingkungan sekolah, anak sulit diatur, sering terjadi pertengkaran atau perselisihan antara sesama anak, sering menjahili atau menganggu temannya pada saat proses belajar berlangsung,kurang disiplin dengan datang tidak tepat waktu, dan juga rendahnya kesadaran anak untuk beribadah seperti sholat lima waktu, serta kurangnya kesadaran anak perempuan dalam menutup aurat seperti ditemukan tidak mengguanakan hijab di luar lingkungan sekolah. Sehingga perlu adanya peran guru Madrasah Diniyah Awaliyah dalam membentuk karakter religius anak. Mengingat gambaran dasar permasalahan diatas, maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih lanjut dalam penelitian kualitatif dengan judul Peran Guru Dalam Membentuk Karakter Religius Anak Di Madrasah Diniyah Awaliyah Desa Cialam Jaya Konawe Selatan. METODE Jenis penelitian yang digunakan yaitu peneitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, seperti ditunjukkan oleh Bogdan dan Taylor adalah sistem pemeriksaan yang menghasilkan informasi ekspresif berupa kata-kata yang disusun atau diungkapkan secara verbal dari individu dan prilaku yang diperhatikan. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan lebih mulai tanggal 17 Mei sampai 31 Agustus 2021. Adapun penambahan data yang kurang dilakukan setelah seminar hasil, yang berlokasi di Madrasah Dinyah Awaliyah tepatnya di Desa Cialam Jaya Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan strategi pengumpulan data observasi, wawancara dan study dokumen. Tehnik analisis data yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikann keseimpulan. Sedangkan pengecekan kebsahan data mnggunakan tiga dari triangulasi yakni, triangulasi waktu, triagulasi sumber, dan triangulasi tehnik. Wawancara dilakukan pada tiga informan yaitu kepala sekolah MDA, guru-guru MDA dan anak didik. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakter Religius Anak Usia 7-12 Tahun Di Madrasah Diniyah Awaliyah Desa Cialam Jaya Konawe Selatan Karakter religius anak didik di Madrasah Diniyah Awaliyah belum sepenuhnya baik, karena masih ditemukan perilaku yang kurang terpuji. Setiap anak didik pasti memiliki keragaman kepribadian dan berperilaku berbeda-beda, seperti halnya ada yang berkarakter baik, maupun yang kurang baik. Sejalan dengan hasil pengamatan peneliti lakukan di Madrasah Diniyah Awaliyah bahwa karakter yang dimiliki setiap anak didik mempunyai keragaman 59 karakter yang berbeda-beda. Namun dari segi karakter yang baik sudah banyak yang terlihat dari dalam diri anak didik, seperti dibuktikan dengan mengikuti beberapa kegiatan keagamaan dilingkungan Madrasah dari segi aspek ibadah : 1) Mengikuti sholat ashar berjamaah dengan tepat waktu. 2) Dibiasakan untuk menghapal surah-surah pendek dan doa sehari-hari.3) Kegiatan infaq 4) Membaca Doa Pulang 5) Bersolawat bersama 6) Kegiatan pengajian padam bulan. Sedangkan dari segi aspek akhlak : 1) Anak didik di beri tanggung jawab dalam hal menjadi imam sholat ashar berjamaah dan adzan bagi kaum laki-laki, seperti diberi jadwal. 2) Kegiatan 5s (senyum, salam, sapa, sopan dan santun) Kegiatan ini memperlihatkan bahwa anak didik miliki karakter religius adalah dengan menerapkan kegiatan 5s (senyum, salam, sapa, sopan dan santun). Dibalik karakter yang baik, masih ada ditemukan karakter religius anak yang kurang baik. Hal tersebut dikarenakan masih ditemukan perilaku kurang terpuji seperti sifat nakal anak yang diperoleh dari lingkungan keluarga, misalnya anak yang memiliki latar belakang kurang mampu, karena kurangnya didikan karakter dari orang tuannya sehingga melakukan tindakan pencurian dan juga berkata kasar karena mencontoh orang tuannya yang juga terbiasa berkata kasar. Selain itu faktor dari lingkungan sosial, misalnya memilih bergaul dengan anak yang nakal sehingga ketika di lingkungan sekolah, ada beberapa anak sulit diatur, terjadi pertengkaran atau perselisihan antara sesama anak,dan ada juga ditemukan beberapa anak bermain-main ketika dalam sholatnya atau mengganngu temannya yang lagi sholat. Ada juga beberapa anak perempuan yang kurang kesadaran dalam menutup aurat seperti ditemukan tidak menggunakan hijab di luar lingkungan sekolah. Sebagaimana yang ditambahkan oleh ibu guru Nia Ratna Dila mengatakan bahwa: “Karakter anak-anak disini sangat beragam seperti ada yang memiliki akhlak yang baik dan sopan, adapun yang prilakunya atau sifatnya yang kurang baik seperti berkata kasar pada guru maupun temannya. Dan saya pernah mendapatkan anak perempuan yang tidak mengenahkan jilbab ketika diluar lingkungan sekolah”. (hasil wawancara : 19 Mei 2021) Peran Guru Dalam Membentuk Karakter Religius Anak Usia 7-12 Tahun Di Madrasah Diniyah Awaliyah Desa Cialam Jaya Konawe Selatan Madrasah Diniyah Awaliyah adalah salah satu lembaga pendidikan non formal yang memiliki kegiatan keagamaaan yang dapat membentuk karakter religius anak didik, sehingga tugas pendidik disini sangatlah penting. Hal ini disebabkan guru adalah yang dapat bertanggungjawab dalam membentuk karakter religius dengan memberikan ilmu, iman, dan ketakwaannya. Untuk itu dalam mewujudkan hal tersebut sebagai guru perlu melakukan beberapa peranan dalam menbentuk karakter religius anak didik antara lain: 1) Peran Guru sebagai Pendidik dan Pengajar, Dalam menjalankan suatu perannya sebagai pengajar dan pendidik guru perlu membuat perencanaan pembelajaran terlebih dahulu agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. Selain itu seorang guru juga bukan hanya memberikan ilmu pengetahuan atau materi ajar akan tetapi guru juga dituntut untuk mendidik anak-anak dengan mengajarkan berbagai hal yang baik sesuai dengan ajaran agama islam. 2) Peran Guru Sebagai Pembimbing, anak didik untuk mencapai dan melaksanakan tugas perkembangan smereka seperti dalam membimbing anak didik melalui ibadah sholat serta kegiatan-kegiatan keagamaan, 3) Peran guru sebagai contoh tauladan, contohnya dalam bersikap, bertutur kata, dan berpakaian islami, 4) Peran guru sebagai motivator artinya guru memberikan motivasi maupun nasihat-nasihat agar mencapai target tujuan yang diharapkan untuk mendapatkan perubahan dalam diri anak didik. 60 Nilai-Nilai Karakter Religius Apa Saja Yang Ditanamkan Guru Pada Anak Usia 7-12 Tahun Di Madrasah Diniyah Awaliyah Desa Cialam Jaya Konawe Selatan Nilai karakter religius terlebih dahulu ditanamkan adalah nilai ibadah yaitu nilai yang menyerahkan diri kepada Allah yang tidak diragukan lagi penting dalam nilai ajaran islam yang ketat. Untuk itu dalam membentuk karakter religiusnya guru perlu menanamkan nilai ibadah anak didik di Madrasah Diniyah Awaliyah dengan cara bagaiamana berhubungann dengan Allah dan menanamkan keyakinan pada Allah Swt. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh ibu guru Salmi mengatakan bahwa:“Menanamkan nilai ibadah tentunya tidak terlepas dari mengajarkan tentang sholat, wudhu, berinfak, mengamalkan doa sehari-hari, membiasakan anak didik membaca al-qur’an serta menumbuhkan rasa kencitaanya kepada Allah Swt" ( hasil wawancara : 9 Juni 2021). Kedua nilai akhlak adalah segala sifat-sifat perbuatan manusia yang muncul disebabkan atas dorongan jiwa yang kuat untuk melakukannya. Sehingga sifat-sifat didalam perbuatan tersebut dilakukan lebih dari satu kali dan dapat berubah menjadi suatu kecenderungan karena mereka terbiasa untuk melakukannya dengan tujuan dapat menciptakan perbuatan yang baik dan buruk. Adapun nilai-nilai akhlak yang ditanamkan di Madrasah Diniyah Awaliyah yaitu bertanggung jawab, menghormati orang tua, guru maupun yang lebih tua dan teman sebaya, bertutur kata yang baik, jujur, sopan santun, disiplin, Mengucapkan salam ketika hendak bertemu dengan guru, dan kepada orang yang lebih tua,saling memaafkan dan lain sebagainya.sebagaimana yang diungkapkan oleh ibu Titing, bahwa: “Nilai akhlak yang kita tanamkan itu tentang tepat waktu dalam melaukan sholat lima waktu,tepat waktu datang disekolah, kita tanamkan juga 5s agar bertemu teman , guru ataupun orang lain diluar saling menyapa dan tidak sombong, kita juga menanamkan anak-anak untuk bertutur kata yang baik tentuhnya kita lebih menasehati saja, kemudian, kami juga melati anak-anak untuk infak setiap hari agar anak-anak bisa menyisikkan rezeki atau uangnya untu sedekah. Adapun mengenai tanggung jawab yang kami berikan kepada anak didik seperti jadwal untuk imam sholat, adzan dan piket kebersihan dan alhamdulillah anak-anak bisa bertanggung jawab dengan tugastugas yang diberikan” (hasil wawancara : 10 Juni 2021). Karakter Religius Anak Usia 7-12 Tahun Di Madrasah Diniyah Awaliyah Desa Cialam Jaya Konawe Selatan Dari hasil pemaparan data penelitian diatas peneliti akan membahas tentang Karakter religius anak didik di Madrasah Diniyah Awaliyah Desa Cialam Jaya Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan. Berdasarkan data yang telah dipaparkan oleh peneliti, bahwasannya karakter religius anak didik belum sepenuhnya baik, Seperti satu atau dua orang anak yang paling rentang berprilaku kurang baik yaitu dari umur, 9 tahun yang berinisial (Si) dan umur 10 tahun yang berinisial (Ca), dan umur 12 tahun yang berinisial (Gi) Masih ditemukan prilaku yang mencerminkan akhlak yang kurang terpuji. Seperti melakukan suatu tindakan pencurian uang atau barang-barang temannya, kurang disiplin, berkata kasar kepada gurunya maupun sesama temannya seperti mengatakan anjing atau setan, ada beberapa anak sulit diatur, terjadi pertengkaran antara sesama anak, ada juga ditemukan beberapa anak bermain-main dalam sholatnya atau mengganngu temannya yang lagi sholat, dan ada beberapa anak perempuan yang ditemukan tidak menggunakan hijab di luar lingkungan sekolah. Menurut Winnie Bahwa istilah karakter memiliki dua pengertian, pertama, ia menunjukkan betapa buruknya berprilaku. Sebaliknya apabilah asumsi seseorang bertindak dengan tulus, jujur, suka membantu, tidak diragukan lagi bahwa orang tersebut mempunyai karakter yang muliah. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan personality. Seorang individu yang berkarakter dengan asumsi cara berprilaku sesuai kodek etik individu yang bertindak baru bisa disebut orang yang berkarakter. Apabila seseorang berprilaku tidak jujur, 61 kejam atau sewenang-wenang, jelas orang tersebut memanifestasikan. (Heri Gunawan, 2012: 2). Namun dari segi karakter yang baik sudah banyak yang terlihat dari dalam diri anak didik, seperti dibuktikan dengan mengikuti beberapa kegiatan keagamaan dilingkungan Madrasah, misalkan pertama dari segi ibadahnya seperti mengikuti sholat ashar berjamaah dengan tepat waktu. Kegiatan infak yang dilakukan setiap hari terkecuali hari libur, pengajian padam bulan yang dilakukan setiap enam bulan seakali, menyetor hapalan surah-surah pendek, dan doa sehari-hari, membiasakan membaca doa belajar dan membaca doa keselamatan sebelum pulang sekolah, kegiatan 5S (salam senyum, sapa, sopa, dan santun), tolong menolong, dan bertanggung jawab dalam segala hal. Sebagaimana yang diungkapkan oleh M.Mahubbi, (2012:44) bahwa karakter religius adalah suatu pikiran, perkataan, tindakan seseorang yang selalu berlandaskan pada nilai ketuhanan. seperti diterapkan dengan nilai ibadah dan nilai akhlak. Sehingga dalam menghadapi perubahan zaman, perlu adanya karakter religius ini yang harus dimiliki setiap anak didik. Dengan tujuan mampu memiliki prilaku yang mulia yang didasarkan pada ketentuann dan ketetapan agama. Dimana tanda-tanda pencapaian keberhasilan pendidikan karakter, pencapaian nilai religius dalam proses pembelajaran pada umumnya meliputi, memberikan salam, berdoa sebelum dan sesudah belajar, melaksanakan ibadah keagamaan serta merayakan hari besar keagamaan (Asmani J, 2013: 37.) Peran Guru Dalam Membentuk Karakter Religius Anak Usia 7-12 Tahun Di Madrasah Diniyah Awaliyah Desa Cialam Jaya Konawe Selatan Seorang guru memegang peran yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Akan tetapi peran guru juga menjadi salah satu faktor utamadalam membentuk karakter religius anak didikyang Dipundaknya terpikul tanggung jawab utama di llingkungan Madrasah Diniyah Awaliyah. Peran yang diterapkan oleh guru di Madarasah Diniyah Awaliyah sama halnya seperti pada umumnya, namun peran yang diterapkan ini tidak semudah langsung diterimah oleh anak didiknya. Oleh karena itu tugas sebagai guru harus menjalankan perannya semaksimal mungkin agar anak didik juga dapat menerima peran itu dengan baik. Adapun Peran yang di jalankan guru di Madrasah Diniyah Awaliyah Desa Cialam Jaya Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan diantaranya: 1) Peran guru sebagai pendidik dan pengajar, menurut Adams dan Dickey dalam Oemar H (2001:123) peran guru sabagai pendidik adalah memberikan pendidikan di ruang belajar, guru menyampaikan pelajaran agar anak didik dapat mengerti dengan baik semua pengetahuann yang telah disampaikan. Selain itu guru juga berusaha agar anak didiknya terjadi sebuah perubahan sikap, kebiasaan, keterampilan, hubungan sosial, apresiasi dan sebagainnya melalui pengajaran yang dibereikan; 2) peran sebagai pembimbing, Menurut Juhji (2016: 55) Peran guru sebagai pembimbing adalah memberikan pertolongan kepada individu yang dilakukan secara terus-menerus dengan tujuan agar individu dapat memahami dirinya sendiri. Sebagai pembimbing, membantu anak didiknya yang mengalami kesulitan baik dalam hal (belajar, pribadi, dan sosialnya), melalui kegiatankegiatan ibadah maupun kegiatan keagamaan dalam lingkungan Madrasah; 3) peran sebagai contoh tauladan Seperti yang diungkapkan oleh Noviatri dan Mulyasa dalam (Karso, 2019: 387) bahwa keteladanan pendidik adalah hal-hal yang bermanfaat dari pengajar yang secara patuh ditiru atau ditiru oleh setiap anak didik; 4) peran sebagai motivator, Menurut Sanjaya (2008:52), peran guru sebagai motivator bahwa pendidik harus memiliki pilihan untuk menjadi penggerak, pengajar dan pendamping bagi anak didiknya untuk maju dan berkembang dalam sifat belajar anak didik. 62 Nilai-Nilai Karakter Religius Apa Saja Yang Ditanamkan Guru Pada Anak Usia 7-12 Tahun Di Madrasah Diniyah Awaliyah Desa Cialam Jaya Konawe Selatan Nilai ibadah adalah nilai yang menyerahkan dan mendedikasikan diri kepada Allah yang tidak diragukan lagi penting dalam nilai pelajaran agama islam. Nilai ini dipisahkan menjadi dua perspektif terhadap pelaksanaaannya yakni dari sudut pandang batin yang mengakui diriinya menerima atau percaya atas kehadiran Allah dan aspek perwujudan dilihat dari bentuk ucapan dan perbuatan (Maimun dan Fitri. 2010: 83) Adapun mengenai nilai ibadah yang ditanamkan pada anak didik di Madrasah Diniyah Awaliyah Selain itu didukung dengan adanya program-program kegiatan keagamaan yang sudah diagendakan dan dijadwalkan di Madrasah. diantaranya di ajarkan tata cara sholat, whudu dan berifanq, kemudian membaca surah-surah pendek, berdzkir dan bersolawat bersama, serta melakukan sholat azhar berjamaah, setoran hafalan surah-surah pendek atau doa-doa amalan lainnya, membaca asmaul husna. Seperti yang diungkapkan oleh Menurut M Faturahman nilai ibadah ketaatan manusia kepada Allah SWT diterapkan dalam kegiatan sehari-hari seperti sholat, zakat, puasa, dan lain sebagainya (Priyanto, 2018: 38). Adapun dalam perwujudannya pada proses pembelajaran antara lain yakni seperti berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran, perwujudan ini ditanamkan dalam bentuk aspek batin yang mana anak didik ditanamkan tentang keyakinan pada Allah. Dengan demikian akan ada sudut yang merupakan penghubung antara manusia dan Tuhannya. Dengan tujuan agar anak didik senantiasa bertawakal kepada Allah bahwa dengan memohon kepada Allah SWT dapat memudahkan jalannya proses pembelajaran yang dilakukan serta keinginan yang dinginkan oleh anak didik. Pada dasarnya akhlak adalah suatu kondisi atau sifat yang telah tertanam dalam jiwa dan menjadi suatu watak sehingga kegiatan-kegiatan tersebut segera terbingkai dan efektif tanpa diciptakan dan tanpa memerlukan pemikiran. Apabilah dari kondisi ini muncul cara berperilaku yang baik dan terpuji menurut pandangan hukum Islam, maka disebut orang yang budi pekerti mulia, begitu pula sebaliknya, dengan asumsi terjadi prilaku yang buruk maka disebut oarng yang keji. Imam al-Ghazali mengungkapkan bahwa: akhlak adalah suatu sikap yang mendalam dari jiwa seseorang yang darinya berbagai aktivitas dipahami secara efektif tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Jika sikapnya lebih perbuatan yang baik dan terpuji, entah dari segi akalnya maupun syara maka disebut akhlak mulia. Apabila lahir darinya perbuatan tercelah, maka sikap tersebut adalah sikap akhlak yang tidak baik (Abidin 2009:99). Sebagaimana nilai akhlak yang ditanamkan guru di Madrasah Diniyah Awaliyah sudah cukup baik seperti mengajarkan tentang bertanggung jawab, menghormati kedua orang tua maupun yang lebih tua, mengucapkan salam ketika hendak bertemu kapada guru maupun orang lain, disiplin, bertutur kata baik, jujur saling memaafkan serta dibiasakan untuk bersedekah dengan cara menginfak. Namun kembali pada anak didik itu sendiri, ada yang menerima dengan baik dan ada yang tidak menerima dengan baik. Sehingga disini guru perlu lebih berusaha lagi dan sabar dalam menghadapi karakter anak-anak. KESIMPULAN Setelah menganalisis data-data yang terkumpul melalui observasi, wawancara dan dokumentasi dalam penelitian, maka secara garis besar peneliti dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut: (1) Gambaran karakter Religius Anak Usia 7-12 Tahun Di Madrasah Diniyah Awaliyah pada umumnya belum sepenuhnya baik,karena masih ditemukan beberapa anak didik yang prilakunya yang mencerminkan akhlak yang kurang terpuji seperti melakukan suatu tindakan pencurian uang dan barang-barang temannya, kurang disiplin, berkata kasar kepada gurunya maupun sesama temannya, dan rendahnya kesadaran anak untuk beribadah maupun kurangnya kesadaran anak perempuan dalam menutup aurat. Namun dari segi karakter yang baik sudah banyak yang terlihat dari dalam diri anak didik, seperti dibuktikan dengan mengikuti beberapa kegiatan keagamaan dilingkungan Madrasah, seperti mengikuti sholat ashar 63 berjamaah dengan tepat waktu, membiasakan membaca doa belajar dan membaca doa keselematan sebelum pulang dari MDA, kegiatan infaq, mengahapal surah-surah pendek dan doa sehari-hari, bersolawat, berdzikir, membaca asmaul husna, bertanggung jawab dalam diberikan tugas, kegiatan 5S (salam,senyum, sapa,sopan dan santun), dan tolong menolong. (2) Peran Guru Madrasah Diniyah Awaliyah Dalam Membentuk Karakter Religius Anak Usia 712 Tahun Di Desa Cialam Jaya Kecamatan Konda adalah : 1) berperan sebagai pendidik dan pengajar, 2) berperan sebagai pembimbing, 3) berperan sebagai memberikan contoh tauladan, 4) dan berperan sebagai motivator. (3) Nilai-nilai karakter religius yang ditanamkan guru pada anak usia 7-12 tahun di Madrasah Diniyah Awaliyah Desa Cialam jaya Kecamatan Konda ada dua yaitu nilai ibadah dan nilai akhlak. Adapun nilai ibadah yang ditanamkan seperti di ajarkan tata cara sholat yang baik, whudu dan berifanq, berdzkir, bersolawat bersama, melakukan sholat azhar berjamaah, setoran hafalan surah-surah pendek, doa-doa sehari-hari, membaca Asmaul Husna. Sedangkan nilai akhlak akhlak yang ditanamkan seperti mengajarkan tentang bertanggung jawab, menghormati kedua orang tua maupun yang lebih tua, mengucapkan salam ketika hendak bertemu kapada guru maupun orang lain,disiplin, menutup aurat, bertutur kata baik, jujur, saling memaafkan serta dibiasakan untuk bersedekah dengan cara menginfak. DAFTAR PUSTAKA Abidin Ibnu Rusn (2009). Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan. Yogyakarta, Pustaka Pelajar. Asmani Jamal Ma’mur (2013). Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta: Diva Press. Gunawan Heri (2012). Pendidikan Karakter Islam. Bandung:Pustaka Setia. Hamalik Oemar (2001). Media Pendidikan. Bandung: PT.Citra Aditiyah Bakti Mahubbi M (2012). PENDIDIKAN KARAKTER Implementasi Aswaja Sebagai Nilai Pendidikan Karakter, Yogyakarta: Pustaka Ilmu. Juhji (2016). Peran Urgen Guru Dalam Pendidikan, Jurnal Ilmiah Pendidikan, 10(1), 55. Karso (2019). Keteladanan Guru Dalam Proses Pendidikan Di Sekolah, Core: Jurnal Online Universitas PQRI Palembang. Muhammad Agung Priyanto, (2018). Penanaman Nilai-Nilai Religius Melalui Kegiatan Keagamaan Pada Jamaah Di Mesjid Fatimatuzzahra Grendeng Purwokerto Maimun Agus dan Agus Zainul fitri, (2010). Madrasaah Unggulan Lembaga Pendidikan Alternatif di Era Kompetitif, Malang: UIN-Maliki Press. Sanjaya Wina (2008). Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajara, Jakarta: Kencana Prenada Media Grup. 64