Journal of Elementary Education : Strategies. Innovations. Curriculum and Assessment Volume 2 . November 2025, pp. E-ISSN : 3047-9398. DOI: https://doi. org/10. 61580/jeesica. Open Access: https://journal. id/index. php/jeesica/index Pengaruh Penggunaan Metode Outdoor Learning Terhadap Hasil Belajar IPAS Winda Ayu Lestari1*. Nono Mulyono2. Eka Atika Sari3. 1,2,3 PGMI. STAI Putra Galuh Ciamis. Jawa Barat. Indonesia. *Email: ayuwinda609@gmail. INFO ARTIKEL ABSTRAK Article history Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode outdoor learning terhadap hasil belajar siswa kelas IV SDN 4 Sukamaju pada materi bagian tubuhtumbuhan. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain preeksperimental tipe one group pretest-posttest. Subjek penelitian berjumlah 25 siswa yang dipilih dengan teknik sampling jenuh. Instrument yang digunakan berupa soal pilihan ganda sebanyak 25 soal, disusun berdasarkan indikator capaian pembelajaran. Analisis data dilakukan menggunakan uji paired sampel t-test melalui perangkat lunak SPSS versi 30. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada rata-rata nilai siswa dari 55,04 saat pretest menjadi 79,96 saat posttest. Penurunan standar deviasi dari 13,63 menjadi 8,35 juga menunjukkan bahwa hasil belajar siswa menjadi lebih merata. Uji normalitas menunjukkan data berdistribusi normal, sedangkan uji hipotests menunjukkan nilai signifikan p<0,0001, yang mengindikasikan perbedaan yang sangat signifikan antara pretest dan posttest. Dengan demikian, penerapan metode outdoor learning berpengaruh secara signifikan dalam meningkatkan hasil belajar siswa secara kognitif, serta mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan kontestual. Received: 29 Mei 2025 Revised: 11 Juni 2025 Accepted: November Kata Kunci: outdoor learning, hasil belajar, ipas sekolah dasar Keywords: learning, learning outcomes, elementary school scince This study aims to determine the effect of the outdoor learning method on the learning outcomes of fourth-grade students at SDN 4 Sukamaju in the topic of plant body parts. The research employed a quantitative approach with a preexperimental design using the one-group pretest-posttest model. The research subjects consisted of 25 students selected through a saturated sampling The instrument used was a multiple-choice test consisting of 25 items, developed based on learning outcome indicators. Data analysis was conducted using a paired sample t-test with SPSS version 30. The analysis results showed a significant increase in students' average scores from 55. 04 in the pretest to 79. in the posttest. A decrease in standard deviation from 13. 63 to 8. 35 also indicated that studentsAo learning outcomes became more evenly distributed. The normality test indicated that the data were normally distributed, while the hypothesis test revealed a significant value of p < 0. 0001, indicating a highly significant difference between pretest and posttest scores. Thus, the implementation of the outdoor learning method significantly affects studentsAo cognitive learning outcomes and fosters a joyful and contextual learning atmosphere. PENDAHULUAN Pendidikan dasar merupakan tahap awal yang krusial dalam proses pembentukan pemahaman konseptual dan keterampilan dasar siswa. Pada jenjang ini, pembelajaran dirancang tidak hanya untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga untuk menanamkan cara berpikir ilmiah serta membangun pondasi logika yang akan mendukung pembelajaran pada jenjang pendidikan selanjutnya sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2023 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdikna. yang menekankan pentingnya Pendidikan dasar sebagai dasar pengembangan potensi peserta didik secara menyeluruh. Oleh karena itu, penting E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Winda Ayu Lestari. Nono Mulyono. Eka Atika Sari bagi guru untuk menyampaikan materi secara kontekstual dan bermakna agar siswa mampu mengaitkan konsep-konsep yang dipelajari dengan pengalaman sehari-hari. Salah satu materi fundamental dalam mata pelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosia. sekolah dasar adalah bagian tubuh tumbuhan, karena materi ini menjadi dasar bagi siswa untuk memahami fungsi organ tumbuhan dan karakteristiknya dengan kehidupan sehari-hari (Novina, 2. Materi ini tidak hanya memperkenalkan siswa pada struktur merfologi tumbuhan, tetapi juga membekali mereka dengan pemahaman mengenai fungsi setiap bagian serta perannya dalam keberlangsungan hidup tumbuhan itu. Melalui pembelajaran ini, siswa diharapkan mampu mengenali keteraturan alam sekaligus mengembangkan apresiasi terhadap keanekaragaman hayati di lingkungan sekitar. Menurut Harefa et al. , pemahaman terhadap struktur dan fungsi bagian tubuh tumbuhan ini tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga berdampak pada perkembangan afektif dan psikomotorik siswa. Dengan memahami keterkaitan antara bagian tubuh tumbuhan dan fungsi ekologisnya, siswa dapat memulai menumbuhkan kesadaran serta kepedulian terhadap lingkungan hidup. Oleh karena itu, materi ini memiliki potensi sebagai pintu masuk untuk menanamkan nilai-nilai konservasi dan keberlanjutan sejak dini melalui pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada lingkungan. Namun demikian, untuk mencapai tujuan tersebut secara optimal, pendekatan pembelajaran yang digunakan perlu diperhatikan. Dalam praktiknya, salah satu permasalahan yang kerap muncul dalam pembelajaran IPAS, khususnya pada materi bagian tubuh tumbuhan, adalah kurangnya keterlibatan langsung siswa dengan objek yang dipelajari. Menurut Harefa et al . pembelajaran yang terlalu berfokus pada penyampaian teori dan penggunaan media visual semata, seperti gambar atau video, sering kali membuat siswa kesulitan memahami konsep secara menyeluruh. Akibatnya, minat belajar menurun, pemahaman materi menjadi terbatas, dan kemampuan siswa dalam menghubungkan teori dengan realisasi di sekitarnya pun menjadi lemah, yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap hasil belajar. Hasil belajar siswa yang tercermin dari capaian nilai ulangan harian yang belum memenuhi standar ketuntasan. Berdasarkan observasi awal, diketahui bahwa sebanyak 60% siswa memperoleh nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Permasalahan ini terlihat pada mata pelajaran IPAS, khususnya pada materi bagian tubuh tumbuhan. Banyak siswa kelas IV mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep dasar, seperti fungsi akar, batang, dan daun, serta jenis-jenis akar dan batang. Rendahnya pemahaman terhadap materi tersebut akan berdampak pada hasil belajar siswa. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya capaian belajar siswa adalah penerapan metode pembelajaran yang masih bersifat tradisional. Dalam pendekatan ini, guru memegang peran dominan dalam proses pembelajaran, sementara siswa hanya menerima informasi secara pasif, model pembelajaran semacam ini cenderung menghambat partisipasi aktif siswa dalam kegiatan seperti diskusi, mengajukan pertanyaan, atau mengeksplorasi materi secara mandiri. Dampaknya, siswa menjadi mudah merasa jenuh, kurang termotivasi, serta mengalami kesulitan dalam memahami konsep yang dipelajari. Rendahnya keterlibatan siswa secara langsung berpengaruh terhadap pencapaian hasil belajar, karena proses pembelajaran tidak berlangsung secara bermakna maupun menyenangkan. Oleh karena itu, diperlukan pembaruan dalam strategi pembelajaran salah satunya melalui penerapan metode outdoor learning yang E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Winda Ayu Lestari. Nono Mulyono. Eka Atika Sari memungkinkan siswa belajar secara langsung di lingkungan sekitar. Dengan metode ini, siswa tidak hanya mendengar dan mencatat, tetapi juga mengalami, mengamati, dan berinteraksi langsung dengan objek pembelajaran. Melalui metode outdoor learning yang sangat sesuai dengan karakteristik anak usia sekolah yang aktif, suka bergerak, dan belajar melalui pengalaman konkret. Pendekatan ini mendukung perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotrik siswa secara holistik menurut Sehar Rashid. Ayesha Kiran . menyatakan bahwa pembelajaran berbasis kegiatan di luar kelas terbukti efektif dalam mendukung pengembangan kemampuan kognitif, afektif, serta psikomotorik peserta didik pada jenjang sekolah dasar. Kegiatan seperti berkebun, eksplorasi alam, dan permainan luar ruangan memberikan stimulasi langsung yang memperkaya pengalaman belajar anak (Nahiyah Faraz1, 2. Lebih lanjut, pembelajaran di luar kelas meningkatkan keterlibatan dan motivasi belajar Cahyanto et al . menemukan bahwa memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar. Dengan demikian, metode outdoor learning tidak hanya meningkatkan pemahaman konseptual, tetapi juga memperkuat aspek afektif dan psikomotorik, serta menumbuhkan keterampilan sosial kepedulian terhadap lingkungan pada siswa sekolah dasar. Beberapa penelitian terdahulu mendukung penelitian ini. Penelitian pertama dilakukan oleh Ramadhani . dengan judul AuPengaruh Penerapan Metode Outdoor Learning terhadap Hasil Belajar IPASAy, penelitian ini dilakukan di SDN Gunung Sari 1 Makasar, penelitian ini menemukan bahwa penerapan metode outdoor learning berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa kelas IB di SDN Gunung Sari 1 Makasar. Hal ini dilihat dari rata-rata skor pretest adalah 64,45 (SD=8,. , sedangkan rata-rata skor postest adalah 78,36 (SD=7,. Dengan haril uji-t hasil analisis menunjukkan adanya perubahan signifikan antara hasil pretest dan posttest dengan nilai . <0,. Selanjutnya, peneliti kedua yang relevan dilakukan oleh Juliana . dengan judul penelitian AuPengaruh Metode Pembelajaran Outdoor BerbasisLearning Together terhadap Hasil Belajar Siswa kelas IV SDN Johar Baru 09 PagiAy. Penelitian ini mengemukakan bahwa metode pembelajaran Outdoor berbasis learning together memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Johar Baru 09 pagi. Hal ini dilihat dari uji hipotesis penelitian yang menggunakan rumus t hitung= 5,83 dengan ttabel= 2,00. Maka H1 diterima dan H0 ditolak. Penelitian ketiga dilakukan oleh (Kurniawati & Mardiana, 2. dengan judul AuPengaruh Metode Outdoor Learning Berbantu Media Benda Konkret terhadap Hasil Belajar MatematikaAy. Penelitian ini merupakan jenis penelitian Pre Eksperimen dengan model One Group Pretest-Posttest Design. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode Outdoor Learning berbantu media benda konkret berpengaruh terhadap hasil belajar Matematika. Hal ini dibuktikan dengan analisis Uji Paired Sample T-test dengan probabilitas nilai sig . -taile. 0,000 < 0,05. Penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan dengan ketiga penelitian sebelumnya yang telah dijelaskan diatas. Perbedaan terletak pada subjek penelitian, tempat penelitian dan materi yang akan diteliti. Pada penelitian ini variable kesamaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang sekarang yaitu pada variabel metode outdoor learning dan hasil belajar siswa. E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Winda Ayu Lestari. Nono Mulyono. Eka Atika Sari Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: AuBagaimana Pengaruh Metode Outdoor Learning Terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa materi Bagian Tubuh Tumbuhan di kelas IV SDN 4 Sukamaju?Ay. Hal ini sejalan dengan tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis pengaruh metode outdoor learning terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas IV di SDN 4 Sukamaju, khususnya pada materi Bagian Tubuh Tumbuhan. Sehingga peneliti mengambil judul AuPengaruh Penggunaan Metode Outdoor Learning Terhadap Hasil Belajar IPASAy Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi peningkatan kualitas pembelajaran IPAS, selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pendidik dalam menentukan strategi pembelajaran yang lebih inovatif dan efisien untuk ditetapkan di tingkat sekolah dasar. II. KAJIAN PUSTAKA Pada bagian kajian pustaka ini membahas dua sub pembahasan yaitu hasil belajar siswa dan metode outdoor learning. Kedua sub pembahasan tersebut akan dijabarkan sebagai berikut: Hasil Belajar Hasil belajar merupakan salah satu indikator penting dalam menilai keberhasilan proses Menurut Sunarti . , hasil belajar mencerminkan pencapaian individu dalam mengembangkan berbagai potensinya melalui proses sadar dan terarah. Proses ini mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang berlangsung dalam jangka wktu tertentu, sehingga menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, sikap dan keterampilan berdasarkan pengalaman yang diperoleh. Pendapat ini sejalan dengan Sitanggang et al. , . yang menyatakan bahwa hasil belajar merupakan bentuk pencapaian yang diperoleh melalui aktivitas Sementara itu. Wayan . menambahkan bahwa hasil belajar dapat dilihat sebagai perubahan perilaku siswa dari yang semula tidak tahu menjadi tahu setelah melalui proses Dari ketiga pendapat di atas, dapat di elaborasikan bahwa hasil belajar merupakan wujud dari pencapaian individu setelah melakukan proses pembelajaran yang dilakukan secara sadar, terarah, dan sistematis. Hasil belajar mencerminkan perubahan yang terjadi dalam diri siswa dalam tiga domain utama, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Perubahan ini menunjukkan keberhasilan siswa dalam memahami serta mengintegrasikan materi yang Oleh karena itu, hasil belajar menjadi tolak ukur penting dalam menilai efektivitas pembelajaran secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga dari perkembangan sikap dan keterampilan siswa (Sunarti, 2024. Sitanggang et al. , 2023. Wayan, 2. Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh berbagai fktor, baik dari dalam diri siswa maupun dari lingkungan sekitarnya. Astiti et al. menyatakan bahwa pencapaian hasil belajar ditentukan oleh faktor utama: faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal mencakup karakteristik individu sedangkan faktor eksternal meliputi lingkungan belajar. Di antara faktor internal, gaya belajar memiliki peran penting karena preferensi setiap siswa dalam menyerap informasi berbeda-beda. Oleh karena itu, penting bagi siswa untuk memahami dan menggunakan gaya belajar yang paling sesuai agar proses pembelajaran menjadi lebih efektif. E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Winda Ayu Lestari. Nono Mulyono. Eka Atika Sari Menurut (Bloom, et al, 1. hasil belajar diklasifikasikan daalam ranah: kognitif, afektif, dan psikomotorik, yang saling melengkapi dalam mencerminkan pencapaian belajar secara holistik. Dalam penelitian ini, fokus diarahkan pada ranah kognitif, mengingat pentingnya kemampuan siswa dalam memahami dan mengingat materi secara konseptual. Samsiyah et al. , . menjelaskan bahwa ranah kognitif mencakup enam tingkatan, yaitu C1 (Menginga. C2 (Memaham. C3 (Menerapka. C4 (Menganalisi. C5 (Mengevaluas. , dan C6 (Menciptaka. Penelitian ini menggunakan lima tingkatan pertama (C1AeC. sebagai indikator pencapaian hasil belajar. Hubungan dengan penelitian sekarang yaitu, pentingnya hasil belajar sebagai indikator pencapaian siswa dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Rendahnya capaian belajar akibat penggunaan metode tradisional mendorong perlunya pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual. Metode outdoor learning dianggap relevan karena melibatkan siswa secara aktif melalui pengalaman langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas pembelajaran di luar kelas dalam meningkatkan hasil belajar IPAS, khususnya pada materi bagian tubuh tumbuhan, serta memberikan bukti empiris dan panduan praktis bagi guru sekolah Fokus penelitian ini selaras dengan Capaian Pembelajaran (CP) Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) Kelas 4 Fase B, di mana peserta didik diharapkan mampu mengeksplorasi alam sekitar dan mengaitkan pengetahuan ilmiah dengan kehidupan sehari-hari. Berdasarkan capaian tersebut. Tujuan pembelajaran yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah agar peserta didik mampu mengidentifikasi bagian-bagian tubuh tumbuhan dan mendeskripsikan fungsinya secara tepat. Oleh karena itu, indikator hasil belajar yang digunakan difokuskan pada kemampuan siswa dalam menyebutkan bagian-bagian tubuh tumbuhan secara benar, sesuai dengan konsep yang telah dipelajari. Metode Outdoor Learning Outdoor learning, atau pembelajaran di luar kelas adalah metode pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan luar sebagai sumber belajar untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik. Selain itu menurut Pokhrel, . metode outdoor learning adalah metode yang melibatkan guru untuk mengajak siswa belajar di luar kelas dan mengamati kegiatan secara langsung. Selanjutnya menurut (Nur et al. , 2. outdoor learning adalah merupakan strategi yang sangat baik karena dapat meningkatkan aktivitas siswa secara individu maupun kelompok, sehingga menghasilkan pembelajaran yang menarik dan berkesan, karena ide pembelajara dilakukan di luar kelas untuk menghindari kemonotonan dan kebosanan siswa dengan kegiatan di kelas. Sebagai tambahan (Rahmah, 2. menjelaskan bahwa metode outdoor learning melibatkan siswa dalam kegiatan berbasis pengalaman, seperti eksplorasi, observasi, dan interaksi langsung dengan lingkungan sekitar, dengan tujuan agar siswa dapat mengetahui, merasakan, dan mempraktikkan materi pelajaran secara langsung melalui pemanfaatan sumber-sumber di lingkungan mereka. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat di elaborasikan bahwa metode outdoor learning merupakan pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan alam dan sekitar sebagai sumber belajar langsung bagi peserta didik. Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami proses pembelajaran secara nyata melalui interaksi langsung E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Winda Ayu Lestari. Nono Mulyono. Eka Atika Sari dengan objek atau fenomena di luar kelas. Pembelajaran konkret ini memungkinkan siswa mengetahui, merasakan, dan mempraktikkan pengetahuan secara langsung, sehingga dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan secara holistik (Pokhrel, 2024. Nur et al. , 2023. Dini Adila Rahmah, 2. Sejalan dengan pemaparan mengenai konsep dan manfaat outdoor learning, penting juga untuk memahami bahwa setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, termasuk metode outdoor learning memiliki beberapa kelebihan yang dapat memberikan keuntungan baik bagi guru maupun siswa yang Sebagaimana dipaparkan oleh Ichsanuddin Abimanyu et al. , . terdapat beberapa kelebihan metode outdoor learning, diantaranya: Memperbesar minat dan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Memotivasi siswa untuk belajar di luar ruangan yang telah diubah menjadi ruang kelas yang ceria. Seseorang guru bisa lebih efektif dengan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan karena mengeksplorasi secara langsung di alam dengan bermain atau yang lain. Media pembelajaran dengan melihat dan memahami langsung sesuai kenyataannya. Meskipun memiliki banyak keunggulan, penerapan metode outdoor learning juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satu kendala utamanya adalah kebutuhan akan kesiapan yang matang dari pihak sekolah, termasuk pemilihan lokasi yang aman dan relevan, serta perlunya oengawasan ketat dari guru. Selain itu, pelaksanaan metode ini menuntut keterampilan guru dalam merancang kegiatan luar ruangan yang tetap selaras dengan tujuan pembelajaran. menurut (Anita, et al. , 2. , keberhasilan implementasi outdoor learning sangat dipengaruhi oleh dukungan institusional, ketersediaan fasilitas penunjang, serta adanya sinergi dan komitmen antara guru, peserta didik, dan pihak sekolah. Hubungan dengan penelitian sekarang yaitu, penelitian ini menyoroti efektivitas metode outdoor learning sebagai pendekatan pedagogis yang memberikan pengalaman belajar nyata, kontekstual, dan bermakna bagi siswa. Fokus utamanya adalah bagaimana metode ini dapat meningkatkan hasil belajar, khususnya pada materi bagian tubuh tumbuhan. Pendekatan ini sejalan dengan tujuan pembelajaran IPAS yang menekankan eksplorasi, pengamatan, dan keterlibatan aktif siswa, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan strategi pembelajaran yang partisipatif dan menyenangkan di sekolah dasar. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa metode outdoor learning merupakan pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan luar sebagai sumber belajar nyata. Pendekatan ini memungkinkan siswa mengalami, mengamati, dan mempraktikkan materi pelajaran secara langsung. Metode ini tidak hanya meningkatkan minat dan keaktifan siswa, tetapi juga menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan bermakna melalui interaksi langsung dengan alam. E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Winda Ayu Lestari. Nono Mulyono. Eka Atika Sari i. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil belajar siswa terhadap bagian tubuh tumbuhan melalui metode outdoor learning. Jenis penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dengan desain Pre-Eksperimental tipe One Group Pretest-Posttest. Dalam desain ini. Siswa akan diberikan tes awal . sebelum perlakuan dan tes akhir . setelah diberikan pembelajaran menggunakan metode outdoor learning. Penelitian dilakukan di SDN 4 Sukamaju pada bulan Mei 2025. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas IV SDN 4 Sukamaju yang berjumlah 25 siswa. Dengan mempertimbangkan jumlah populasi yang terbatas. Maka dalam penelitian ini teknik untuk penarikan sampel yang digunakan yaitu teknik sampling Dimana semua anggota populasi digunakan sebagai sampel tanpa pengecualian. Teknik ini digunakan ketika jumlah populasi relatif kecil atau peneliti ingin mendapatkan seluruh data anggota yang tersedia. Data. Instrument, dan Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini mengimplementasikan teknik tes untuk melihat ada tidaknya pengaruh penggunan metode outdoor learning terhadap hasil belajar IPAS. Pemberian tes, yaitu pretest sebelum perlakuan dan posttest setelah adanya perlakuan. Setelah data terkumpul, tahap selanjutnya adalah menganalisis data dengan menentukan skor minimum dan maksimum dari pretest dan posttest, perubahan skor tersebut kemudian dihitung menggunakan metode statistik dan dianalisis menggunakan perangkat lunak berupa SPSS versi 30. Instrument dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa yaitu dengan test pretest dan posttest yang terdiri dari 25 butir soal pilihan ganda empat option dengan materi bagian tubuh tumbuhan. Instrument pengumpulan data pretest-posttest merupakan suatu pendekatan yang melibatkan pengukuran variabel yang sama pada waktu yang Sebelum dan setelah perlakuan yang diberikan kepada peserta didik. Instrument ini memberikan gambaran tentang perubahan atau dampak yang mungkin terjadi setelah hasil dari suatu intervensi atau perlakuan. Instrument yang digunakan diuji terlebih dahulu kepada tiga validator untuk menguji Validitas dan Reabilitasnya. Teknik Analisis Data Untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini, digunakan beberapa Langkah analisis data sebagai berikut: Analisis Data Statistika Deskriptif Analisis ini bertujuan untuk memberikan gambaran umum mengenai karakteristik data. Hasil analisis disajikan dalam bentuk nilai rata-rata, skor maksinal dan minimum, serta distribusi frekuensi. Tujuannya adalah untuk mendeskripsikan penyebaran skor dari setiap variabel yang diteliti. Analisis Data Inferensial/Uji Prasyarat Uji Normalitas Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh terdistribusi normal atau Dasar pengambilan keputusan adalah jika nilai Lhitung > Ltabel maka H0 ditolak, dan jika nilai Lhitung < Ltabel maka H0 diterima. Hipotesis yang digunakan: E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Winda Ayu Lestari. Nono Mulyono. Eka Atika Sari H0 : sampel berdistribusi normal HA : sampel data berdistribusi tidak normal Meskipun demikian, apabila data suatu sebaran data penelitian yang mengungkapkan hasil belajar siswa ternyata diketahui tidak normal hal ini bukan bearti harus berhenti penelitian, itu sebab masih ada fasilitas ststistik nonparametrik yang dapat digunakan apabila data tidak berdistribusi normal. Uji Hipotesis Uji hipotesis dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pretest dan posttest siswa setelah diterapkan metode Karena data diketahui berdistribusi normal, maka digunakan teknik paired sampel t-test. Jika nilai signifikan > 0,05 maka H0 diterima, ditolak Ha Jika nilai signifikan < 0,05 maka H0 diterima, ditolak Ha IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Untuk ukuran banyaknya data yang diperoleh dari hasil nilai pretest dan posttest dicantumkan pada tabel: Tabel 1. Daftar Ukuran Data Statistik Pretest dan Posttest Ukuran Data Statistik Pretest Posttest Banyak Data . Data Terbesar . Data Terkecil . Rentang . Rata-rata . E) 55,04 79,96 Median (M. Modus (M. Standar Deviasi (S) 13,63 8,35 Berdasarkan data pada Tabel 1. Terdapat peningkatan pada nilai rata-rata peserta dari 55,04 saat pretest menjadi 76,96 pada posttest. Peningkatan ini menunjukkan adanya perubahan yang positif setelah diberikan perlakuan dalam penelitian. Tidak hanya pada rata-rata, nilai median juga meningkat dari 56,0 menjadi 76,0, yang menandakan bahwa nilai tengah dari keseluruhan distribusi data pun mengalami pergeseran ke arah yang lebih tinggi. Nilai modus sebagai nilai yang sering muncul, juga mengalami kenaikan dari 56 ke 76. Selain itu, nilai maksimum meningkat dari 80 ke 92, dan nilai minimum meningkat dari 32 ke 60. Meskipun nilai ekstrim meningkat, rentang nilai justru menyempit dari 48 menjadi 32, menunjukkan bahwa penyebaran nilai pada posttest lebih rapat dibandingkan dengan pretest. Hal ini semakin diperkuat oleh penurunan standar deviasi dari 13,63 menjadi 8,35, yang mengidikasikan bahwa nilai posttest cenderung lebih homogen dibandingkan saat pretest. Dari data tersebut kemudian dibuat tabel distribusi frekuensi nilai skor posttest dan Berikut tabel interpretasi data postest dan pretest: E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Winda Ayu Lestari. Nono Mulyono. Eka Atika Sari Tabel 2. Data Distribusi Hasil Frekuensi Pretest dan Posttest Pretest Pretest Posttest Posttest Kategori Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase Nilai >78 Sangat Tinggi Tinggi Cukup/Sedang Rendah <47 Sangat Rendah Oc Baik Berdasarkan hasil analisis data pretest dan posttest. Terlihat adanya peningkatan signifikan dalam capaian hasil belajar siswa setelah diterapkannya tindakan pembelajaran. Pada saat pretest, sebagian besar siswa berada pada kategori rendah, masing-masing sebanyak 7 siswa . %), sementara itu sebanyak 6 siswa . %), kategori tinggi sebanyak 4 siswa . %), dan hanya 1 siswa . %) yang berada pada kategori sangat tinggi. Namun, setelah dilakukan tindakan pembelajaran, hasil posttest menunjukkan perubahan yang sangat positif. Yaitu sebanyak 12 siswa . % berada pada kategori tinggi, dan 10 siswa . %) berada pada kategori sangat tinggi. Hanya 3 siswa . %) yang berada pada kategori cukup/sedang, sedangkan tidak ada siswa yang berada pada kategori rendah maupun sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh siswa telah mencapai kategori AubaikAy dan tidak ada lagi yang termasuk dalam kategori kurang baik setelah proses pembelajaran berlangsung. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa metode outdoor learning mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara Secar umum, terjadi pergeseran distribusi nilai dari kategori rendah dan sangat rendah pada pretest ke kategori tinggi dan sangat tinggi pada saat posttest. Hal ini mengindikasi bahwa pembelajaran yang diberikan memberikan dampak positif terhadap hasil belajar siswa. Untuk melihat kejelasan perbedaan ukuran statistik pretest dan posttest. Penulis menyajikan ukuran statistik keduanya sebagai berikut: >78 Pretest <47 Posttest Gambar 1. Data Perbedaan Hasil Pretest dan Postest E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Winda Ayu Lestari. Nono Mulyono. Eka Atika Sari Setelah mendeskripsikan setiap variable. Langkah selanjutnya jaitu menguji hipotesis untuk mengetahui adanya perubahan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan metode outdoor learning pada siswa kelas IV SDN 4 Sukamaju dengan Langkah sebagai Uji Normalitas Uji normalotas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh terdistribusi normal atau tidak. Dasar pengambilan keputusan adalah jika L hitung > Ltabel maka H0 ditolak, dan jika nilai Lhitung < Ltabel maka H0 diterima. Adapun hasil uji normalitasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 3. Hasil Uji Normmalitas Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic Sig Statistic Sig Pretest Posttest Lilliefors Significance Correction Berdasarkan tabel di atas diketahui nilai signifikan untuk data pretest dan posttest berdistribusi normal karena nilai (Sig. ) dari kedua uji tersebut semuanya lebih besar dari 0,05. Maka, asumsi normalitas terpenuhi dan data dapat dianalisis lebih lanjut menggunakan uji Parametrik Paired t-test. Uji Hipotesis Setelah dilakukan uji normalitas terhadap data pretest dan posttest, diketahui bahwa kedua data berdistribusi normal. Hal ini ditunjukkan oleh nilai Signifikansi pada KolmogorovSmirnov dan Shapiro-Wilk yang seluruhnya lebih besar dari 0,05. Dengan demikian, asumsi normalitas terpenuhi, dan analisis data dapat dilanjutkan menggunakan uji parametrikPaired Sa,pel t-test. Adapun hasil uji hipotesis dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 4. Hasil Uji Hipotesis Paired Sampel Test Pasangan Mean (Selisi. PRETEST -21. POSTTEST Std. Std. 95% CI 95% CI Error Deviasi (Lowe. (Uppe. Mean Sig. Sig. Berdasarkan uji Paired Sampel Test pada tabel, terdapat perbedaan yang signifikan antara pretest dan posttest . = -16. 748, p , 0,0. , dengan rata-rata peningkatan sebesar 21,920 Ini menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan berdampak positif terhadap hasil Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian, terjadi peningkatan yang signifikan pada capaian belajar siswa setelah penggunaan metode pembelajaran outdoor learning. Rata-rata siswa mengalami kenaikan 55,05 saat pretest menjadi 79,96 pada posttest. Kenaikan ini juga terlihat pada nilai median dan modus, yang masing-masing meningkat dari 56 menjadi 76, menandakan bahwa hampir seluruh peserta didik mengalami peningkatan hasil belajar secara merata. Hal ini sejalan E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Winda Ayu Lestari. Nono Mulyono. Eka Atika Sari dengan pendapat (Jazuli Yusup et al. , 2. yang menyatakan bahwa pendekatan kontekstual seperti outdoor learning mampu meningkatkan kemampuan konseptual siswa karena menggabungkan unsur kognitif dan afektif secara terpadu. Selain itu, nilai standar deviasi nilai menurun dari 16,63 menjadi 8,35, yang menunjukkan bahwa variasi nilai siswa menjadi lebih kecil dan distribusi nilai lebih homogen setelah penerapan metode outdoor learning. Kondisi ini mendukung pandangan (Mulyaningsih et al. , 2. pendekatan outdoor learning mendukung pembelajaran siswa melalui pemanfaatan lingkungan terbuka sebagai ruang kelas, yang dapat meningkatkan minat belajar serta memberikan dampak positif bagi seluruh siswa, tidak hanya mereka yang memiliki kemampuan tinggi, tetapi juga bagi siswa yang membutuhkan lebih banyak bimbingan. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran berbasis lingkungan ini dapat menjadi alternatif efektif untuk meningatkan hasil belajar secara menyeluruh. Perubahan signifikan juga terlihat dalam distribusi frekuensi hasil belajar, di mana pada saat pretest masih terdapat siswa dalam kategori AurendahAy dan Ausangat rendahAy, namun setelah pembelajaran dengan metode outdoor learning, seluruh siswa berpindah ke kategori AucukupAy. AubaikAy, dan Ausangat baikAy. Menurut Talib . menjelaskan bahawa pembelajaran kontekstual seperti outdoor learning mampu menjadikan materi lebih bermakna dan relevan bagi siswa, sehingga meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa secara menyeluruh. Pengujian lebih lanjut menggunakan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dan ShapiroWilk menunjukkan bahwa data pretest dan posttest berdistribusi normal . ilai signifikan > 0,. , sehingga dapat dilanjutkan dengan uji parametrik. Uji hipotesis menggunakan paired sample t-test menunjukkan hasil yang sangat signifikan, dengan nilai t = -16,748 dan nilai signifikansi 92-taile. <0,001. Rata-rata selisih nilai antara pretest dan posttest adalah 21,920 poin, yang mengindikasi bawha perlakuan berupa metode outdoor learning memberikan pengaruh positif yang nyata terhadap peningkatan hasil belajar siswa. (Izah & Prasetyo, 2. yang menyatakan bahwa aktivitas pembelajaran di luar kelas dapat mereduksi kesenjangan hasil belajar dengan memberikan pengalaman langsung yang bermakna. Secara teoritis, keberhasilan ini dapat dijelaskan melalui pandangan Ichsanuddin Abimanyu et al. , . yang menyatakan bahwa guru akan lebih efektif dalam menyampaikan pembelajaran apabila mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, salah satunya dengan mengajak siswa bereksplorasi langsung di alam melalui aktivitas bermain. Dalam penelitian ini, pembelajaran dilakukan secara langsung di luar kelas dengan pendekatan eksploratif, dimana siswa mengamati dan berinteraksi dengan objek nyata seperti tumbuhan di lingkungan sekitar. Aktivitas ini terbukti mendorong partisipasi aktif, meningkatkan motivasi belajar, dan mampu memperkuat pemahaman sisawa terhadap materi. Lebih lanjut, teori dari Astiti et al. , . pencapaian hasil belajar siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari dalam diri siswa sendiri maupun dari lingkungan Salah satu faktor eksternal yang sangat menentukan adalah lingkungan belajar. Dalam penelitian ini, penggunaan lingsungan sebagai sumber belajar terbukti memberikan kontribusi besar terhadap keberhasilan pembelajaran karena sesuai dengan gaya belajar siswa usia sekolah dasar yang lebih aktif dan menyukai pengalaman langsung. Dengan demikian, penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa metode outdoor learning secara signifikan mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada materi bagian tubuh E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Winda Ayu Lestari. Nono Mulyono. Eka Atika Sari Pendekatan ini memberikan ruang bagi siswa untuk terlibat langsung dengan objek pembelajaran, sehingga menumbuhkan rasa ingin tahu, motivasi, serta pemahaman konseptual yang lebih kuat. Hal ini selaras dengan teori kontruktivisme yang menerangkan pentingnya keterlibatan aktif siswa dan pengalaman yang nyata dalam membangun pengetahuan. Oleh karena itu metode outdoor learning tidak hanya relevan dalam konteks hasil belajar kognitif, tetapi juga menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan bermakna. Metode ini layak untuk dikembangkan lebih lanjut dan diimplementasikan secara luas, khususnya dalam pembelajaran IPAS yang erat kaitannya dengan lingkungan dan alam sekitar. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Simpulan dalam penelitian ini yaitu, bahwa penerapan metode outdoor learning memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada materi bagian tubuh tumbuhan di kelas IV SDN 4 Sukamaju. Hal ini ditunjukkan oleh peningkatan pretest dan posttest sebesar 55,04 menjadi 79,96 pada posttest. Serta peningkatan nilai median dan modus yang mengindikasikan peningkatan yang merata di antara peserta didik. Penurunan standar deviasi dari 13,63 menjadi 8,35 menunjukkan bahwa variasi nilai semakin homogen setelah penerpaan metode outdoor learning. Hasil uji statistik menunjukkan nilai signifikan p<0,0001, yang berarti terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara hasil pretest dan Sehingga dapat simpulkan bahwa terdapat pengaruh penggunaan metode outdoor learning terhadap hasil belajar IPAS. Metode ini direkomendasikan untuk diterapkan secara lebih luas dalam pembelajaran IPAS, khususnya pada materi yang dapat dikaitkan langsung dengan lingkungan sekitar siswa. Saran Bagi Guru Disarankan untuk mengimplementasikan metode outdoor learning secara rutin, terutama pada materi-materi yang berkaitan erat dengan lingkungan, seperti IPAS. Metode ini terbukti mampu meningkatkan hasil belajar sekaligus menumbuhkan minat dan motivasi siswa dalam belajar. Bagi Sekolah Hendaknya memberikan dukungan sarana dan prasarana yang memadai untuk menunjang pembelajaran luar kelas. Dukungan tersebut dapat berupa penyediaan area belajar luar ruangan yang aman dan nyaman serta kebijakan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran Bagi Peneliti Selanjutnya Disarankan untuk mengembangkan penelitian ini dengan memperluas lingkup dengan mencakup materi yang lebih beragam, jenjang kelas yang berbeda, serta melibatkan jumlah sampel yang lebih besar sehingga hasil penelitian dapat memiliki daya generalisasi yang lebih luas. Selain itu, penting juga untuk mengembangkan instrument penelitian yang lebih komprehensif, terutama yang mengukur aspek afektif dan psikomotorik secara E-ISSN: 3047-9398 JEESICA Vol. November 2025 Winda Ayu Lestari. Nono Mulyono. Eka Atika Sari mendalam, guna memberikan gambaran yang lebih menyeluruh tentang pengaruh metode outdoor learning. REFERENSI