Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 12 No. 1 Tahun 2024 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 UJI BEBERAPA EKSTRAK TEPUNG DAUN SIRIH (Piper sp. TERHADAP JAMUR AKAR PUTIH (Rigidoporus lignosu. SECARA IN VITRO Muhammad Yusuf Dibisono1. Makhrani Sari Ginting2. Nurliana3. Syarifa Mayly4. Habi Juhari5 1,2,3 Prodi Proteksi Tanaman. Institut Teknologi Sawit Indonesia Jln. Willem Iskandar Medan, . 6637060 Prodi Budidaya Perkebunan. Institut Teknologi Sawit Indonesia. Jln. Willem Iskandar Medan, . 6637060 Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Al Washliyah Jl. Raja KM 5,5 No 10 Medan Telp/Fax : 061-7851881 * Email: myusufdibisono22@gmail. ABSTRAK Penelitian uji beberapa ekstrak tepung daun sirih (Piper sp. ) terhadap jamur akar putih (Rigidoporus lignosu. secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekstrak daun sirih yang tepat untuk menghambat pertumbuhan Jamur Akar Putih (Rigidoporus lignosu. secara in vitro. Daun Sirih (Piper ) mengandung senyawa-senyawa seperti heksana, sianida, saponin, tanin, flafonoid, steroid, alkanoid dan minyak atsiri yang diduga dapat berfungsi sebagai pestisida nabati. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Institut Teknologi Sawit Indonesia. Penelitian dilakukan dari bulan Maret sampai Mei 2022. Penelitian ini menggunakan Metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial. Dengan perlakuan S0 = Kontrol. S1 = Sirih Hutan. S2 = Sirih Hijau dan S3 = Sirih Merah. Parameter yang diamati adalah kecepatan pertumbuhan Jamur, diameter koloni Jamur dan uji daya hambat Jamur. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak tepung sirih hutan dapat menghambat pertumbuhan Jamur Akar Putih (R. Lignosu. dengan konsentrasi 50gr/l aquades secara in vitro melalui media PDA dengan daya hambat pertumbuhan 80,88%. Kata kunci : Piper sp. Piper aduncum. Biofungisida. Rigidoporus lignosus ABSTRACT Research testing some testing extracts of better leaves (Piper sp. ) on white root Fungus (Rigidoporus lignosu. in vitro. Betel leaf (Piper sp. ) This study aims to determine the right betel leaf extract to inhibit the growth of white root fungus (Rigidoporus lignosu. in vitro. Contains compounds such as hexane, cyanide, saponins, tannins, phonofloids, steroids, alkanoids and essential oils which are thought to function as vegetable pesticides. This research was conducted at the Laboratory of the Indonesian Institute of Palm Oil Technology. The study was conducted from March to May 2022. This study used a non-factorial completely randomized design method (CRD). With the treatment S0 = Control. S1 = Betel Forest. S2 = Betel Green and S3 = Betel Merah. The parameters observed were the growth rate of fungi, the diameter of the fungi colonies and the inhibition test of fungi. The results of this study indicate that the provision of forest betel flour extract can inhibit the growth of white root fungus (R. with a concentration of 50gr / l aquades in vitro through PDA media with 80. 88% inhibition of growth. Key words: Piper sp. Piper aduncum. Biofungicide. Rigidoporus lignosus Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 12 No. 1 Tahun 2024 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 PENDAHULUAN Pada tahun 2016, luas areal Perkebunan Besar Negara (PBN) karet Indonesia tercatat 230,65 ribu hektar, meningkat 1. 06 persen menjadi 233,09 ribu hektar pada tahun 2017. Tahun 2018, luas areal menjadi 189,58 ribu hektar atau mengalami penurunan sebesar 18,67 persen. Sedangkan luas areal Perkebunan Besar Swasta (PBS) karet Indonesia pada tahun 2016 tercatat 316,03 ribu hektar, meningkat 2,12 persen menjadi 322,73 ribu hektar pada Pada tahun 2018 luas areal menjadi 246,05 ribu hektar atau terjadi penurunan sebesar 23,76 Perkembangan produksi karet kering Perkebunan Besar (PB) dari tahun 2016 sampai dengan 2018 cenderung berfluktuatif. Pada tahun 2016 produksi karet kering PBN sebesar 238,02 ribu ton, meningkat menjadi 249,29 ribu ton pada tahun 2017 atau terjadi peningkatan sebesar 4,73 persen. Tahun 2018 produksi karet kering PBN menurun menjadi 230,36 ribu ton atau sebesar 7,59 persen (Badan Pusat Statistik. Permasalahan utama pada perkebunan karet adalah pengolahan lahan bekas kebun karet, pemupukan, dan pengendalian penyakit. Jamur akar putih (JAP) merupakan salah satu pathogen yang menyumbangkan kerugian besar bagi bidang perkebunan. Di Indonesia, kerugian finansial akibat kematian tanaman mencapai 1,8 triliun rupiah per tahun dengan perkiraan keparahan penyakit sebesar 3% di perkebunan besar dan 5% di perkebunan rakyat (Situmorang et al. Umumnya tanaman yang diserang oleh jamur akar putih adalah tanaman karet (Hevea brasiliensis Muel-Agr. Pada budidaya tanaman karet akar putih merupakan penyakit yang paling merugikan dibandingkan dengan penyakit akar lainnya (Semangun,2. Upaya pencegahan penyakit yang dianggap efektif dan sesuai bagi petani karet adalah dengan cara penggunaan fungisida kimia, namun pengendalian dengan fungisida kimia relatif sangat mahal. Akibatnya banyak para petani yang hanya menebang dan membuang tanaman yang terserang, akan tetapi cara ini juga tidak efektif karena serangan jamur akar putih ini sangat cepat menular kepada tanaman di sekitarnya. Di samping dampak penggunaan bahan kimia yang terus menerus juga memberikan efek yang tidak baik terhadap lingkungan dan kesehatan (Adfa dkk. Dan akhir-akhir ini perhatian terhadap pestisida nabati semakin besar, berbagai macam tumbuhan dan tanaman obat dapat dijadikan pestisida nabati, salah satu tanaman obat yang memiliki zat anti cendawan adalah daun sirih (Soedibyo, 1991 dalam Ariyanti dkk, 2. Menurut Wijayakusuma 1992 dalam Wulandari . , tumbuhan sirih hutan memiliki kandungan Eugenol lebih dari 42%. Eugenol merupakan senyawa yang mampu menghambat pertumbuhan jamur bahkan dapat mematikan. Dan (Johnson, 1972 dalam Wulandari, 2. menyatakan bahwa senyawa eugenol dapat menyebabkan lisis pada miselium jamur. Ekstrak daun sirih juga berfungsi sebagai anti cendawan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan konodia cendawan (Nalina dan Rahim, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekstrak daun sirih yang tepat untuk menghambat pertumbuhan Jamur Akar Putih (Rigidoporus lignosu. secara in vitro. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Institut Teknologi Sawit Indonesia Ae Medan. Waktu penelitian selama 3 bulan dari bulan Maret sampai dengan Mei 2022. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial. Perlakuan pada penelitian ini adalah dengan pemberian jenis ekstrak yang berbeda dan konsentrasi yang sama setiap cawan petri yang terdiri dari : : PDA Murni (Kontro. : PDA Ekstrak daun Sirih hutan : PDA Ekstrak daun Sirih hijau : PDA Ekstrak daun Sirih merah Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan pada peneltian ini adalah : daun sirih hutan, merah dan hijau. Isolat Rigidoporus lignosus, aquades steril. Potato Dextrose Agar (PDA). Alkohol Alat Ae alat yang digunakan pada penelitian ini adalah : aluminium foil, cork borer . emotong aga. , plastik wrap, gelas piala Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 12 No. 1 Tahun 2024 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 000 ml, kertas tisu gulung, erlenmeyer 500 ml, kapas, gelas ukur, kain kassa, batang pengaduk kaca. kertas saring, timbangan digital, kertas stensi, ayakan, kertas label, stoples, kertas millimeter dan kertas label, lampu bunsen, cawan petri berdiameter 9 cm. Blender, pinset. Jarum osel, pipet tetes, autoclave, beaker glass. Diameter Koloni Jamur R. Lignosus. Pengamatan diameter koloni Jamur dengan mengukur diameter semua cawan petri dan dilakukan 16 hari setelah aplikasi (Ravika dkk, 2. Uji daya hambat ekstrak tepung daun sirih secara in vitro terhadap pertumbuhan jamur R. lignosus (%). Pelaksanaan Penelitian Daya hambat ekstrak daun sirih terhadap pertumbuhan R. lignosus in-vitro diamati 16 hari setelah inokulasi. Kemudian dilakukan perhitungan persentase penghambatan kontrol, dengan rumus sebagai berikut: Uji in vitro konsentrasi ekstrak tepung daun sirih terhadap pertumbuhan jamur R. Lignosus PDA. dimasukkan kedalam cawan petri sebanyak 10 ml lalu dimasukkan ekstrak daun sirih sebanyak 1 ml dari PDA dan di aduk dengan cara cawan petri di taruh di meja lalu diputar angka delapan sampai ekstrak tercampur dengan PDA lalu PDA dibiarkan sampai memadat setelah itu miselium dari biakan murni jamur R. lignosus diambil dengan cork borer berdiameter 5 mm. Miselium jamur diinokulasi pada PDA dan ditaruh di tengah. Isolat diinkubasi dengan memasukkan cawan petri kedalam inkubator pada suhu kamar dan diamati setiap hari hingga koloni telah memenuhi salah satu cawan petri. yuoycoycuycuycycycuycoOeyuoycyyceycycoycaycoycycaycu x 100% yuoycoycuycuycycycuyco Keterangan: = Persentase Penghambatan (%) U kontrol = diameter koloni R. lignosus pada media kontrol . U perlakuan = diameter R. lignosus pada media perlakuan . (Ariyanti dkk, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil kecepatan pertumbuhan Jamur akar putih (R. Lignosu. dengan pemberian ekstrak sirih hutan (P. ,sirih hijau (P. bettle L) dan sirih merah (P. , pengamatan dilakukan selama 16 hari dan diukur setiap 2 hari sekali. Maka hasil dari pengamatan kecepatan pertumbuhan jamur . dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini: Parameter Pengamatan Kecepatan Pertumbuhan Koloni Jamur R. Pengamatan dilakukan 1 hari setelah aplikasi dan diukur setiap jam 10 siang, kemudian dicatat berapa mm pertumbuhan jamur setiap harinya sampai 16 hari setelah (Ravika dkk, 2. Tabel 1. Rataan Kecepatan Pertumbuhan Jamur Akar Putih (R. Lignosu. Hari Setelah Aplikasi (HSA) . Perlakuan HSA 19,15 b 28,45 c 39,5 c 51,85 c 63,85 b 76,2 b 84,65 b 3,6 a 15,2 a 16,7 a 17,2 a 6,8 ab 10,45 ab 13,7 ab 16,8 a 18,05 b 30,65 c 42,38c 75,05 b 79,65 b 81,35 b 9,5 a 66,3 b Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom sama menunjukkan berbeda nyata pada uji DuncanAs Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Berdasarkan Tabel 1 pada pengamatan pertama sampai hari terakhir setelah aplikasi ekstrak Daun sirih hutan, hijau dan merah terlihat pada perlakuan S1 berbeda nyata terhadap perlakuan S0 dan S3 tetapi, berbeda tidak nyata terhadap perlakuan S2. Perlakuan Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 12 No. 1 Tahun 2024 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 S2 berbeda nyata terhadap perlakuan S0 dan S3 tetapi, berbeda tidak nyata terhadap perlakuan S1. Perlakuan S3 berbeda nyata terhadap perlakuan S1 dan S3 tetapi, berbeda tidak nyata terhadap perlakuan perlakuan S0. Perlakuan S0 berbeda nyata terhadap perlakuan S1 dan S2 tetapi, berbeda tidak nyata terhadap S3. dilihat bahwa Perlakuan terbaik dalam menekan pertumbuhan Jamur Akar Putih tertinggi terdapat pada perlakuan S1 dan S2 karna banyak jamur pada cawan petri yang tidak tumbuh berbeda halnya dengan perlakuan S0 dan S3. Hal ini sesuai dengan penjelasan dari Nazip . pada ekstrak daun sirih dengan konsentrasi 0,15 % mampu menghambat kecepatan tumbuh jamur patogen capsici pada tanaman cabai. Menurut Pelczar dan Chan . , minyak atsiri memiliki mekanisme antimikroba yaitu menghambat pertumbuhan mikroba melalui perusakan dinding sel yang mengakibatkan lisis, menghambat proses pembentukan dinding sel, mengubah permeabilitas membran sitoplasma yang menyebabkan kebocoran nutrien dari dalam sel, mendenaturasi protein sel dan merusak sistem metabolisme di dalam sel dengan menghambat cara kerja enzim Hasil diameter pertumbuhan Jamur Akar Putih (R. Lignosu. dengan pemberian eksrak sirih hutan, hijau dan merah setelah 16 hari pengamatan dan didapatkan diameter akhirnya. Maka diameter akhirnya dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini. Berdasarkan Tabel 2 diketahui diameter 16 hari setelah pengaplikasian ekstrak sirih hutan, hijau dan merah terlihat bahwa perlakuan S1 memiliki diameter Jamur 17,2mm berbeda nyata dengan perlakuan S0 dan S3 tetapi, berbeda tidak nyata dengan perlakuan S2. Perlakuan S2 memiliki diameter 18mm berbeda nyata dengan perlakuan S0 dan S3 tetapi, berbeda tidak nyata dengan perlakuan S1. Perlakuan S3 memiliki diameter 81,35mm berbeda nyata dengan perlakuan S1 dan S2 tetapi, berbeda tidak nyata terhadap perlakuan S0. Hal ini sesuai dengan penelitian dari Mahera dkk . perlakuan dengan konsentrasi ekstrak tepung daun sirih hutan 50 g/l air memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghambat pertumbuhan jamur G. Pemberian ektrak daun sirih dengan konsentrasi 40% paling efektif menghambat pertumbuhan C fragariae secara in-vitro pada media PDA, dengan daya hambat pertumbuhan sebesar 58,57%. (Ariyanti dkk, 2. Ekstrak daun sirih juga berfungsi sebagai anti cendawan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan konodia cendawan (Nalina dan Rahim, 2. Hal ini sesuai dengan pendapat Semangun . terganggunya metabolisme sel akan berdampak pada pertumbuhan koloni suatu jamur. Hasil pengamatan daya hambat (%) ekstrak tepung daun sirih hutan, hijau dan merah memberikan pengaruh terhadap koloni jamur Akar Putih (%) pada medium PDA. Dapat dilihat pada Tabel 3, dibawah ini : Tabel 2. Diameter Koloni Jamur Akar Putih pada Medium PDA dengan Pemberian Ekstrak Sirih Hutan. Hijau dan Merah 16 Hari Setelah Aplikasi (HSA) Tabel 3. Rataan Daya Hambat Ekstrak Tepung Daun Sirih Secara In Vitro Terhadap Pertumbuhan Jamur Akar putih (%) Perlakuan Perlakuan Rataan diameter koloni . 17,2 a 81,35 b Rataan diameter koloni . 80,88a 9,61b Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom sama menunjukkan berbeda nyata pada uji DuncanAs Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom sama menunjukkan berbeda nyata pada uji DuncanAs Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Berdasarkan Tabel 3. menunjukkan bahwa perlakuan S0 tidak terjadi penghambatan terhadap pertumbuhan Jamur Akar Putih dan Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 12 No. 1 Tahun 2024 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 berbeda nyata dengan perlakuan S1 dan S2 tetapi, berbeda tidak nyata dengan perlakuan S3. Perlakuan S1 berhasil menghambat Jamur Akar Putih 80,88% berbeda nyata dengan perlakuan S0 dan S3 tetapi, berbeda tidak nyata dengan S2. Perlakuan S2 berhasil menghambat pertumbuhan Jamur Akar Putih 80% berbeda nyata dengan perlakuan S0 dan S3 tetapi, berbeda tidak nyata dengan perlakuan S1. Perlakuan S3 berhasil menghambat Jamur Akar Putih 9,61% berbeda nyata dengan perlakuan S1 dan S2 tetapi, berbeda tidak nyata dengan perlakuan S0. Hasil penelitian ini sesuai dengan tingginya konsentrasi ekstrak dalam medium tumbuh PDA dapat menyebabkan senyawasenyawa aktif yang bersifat fungistatik akan lebih banyak berdifusi ke dalam sel jamur pertumbuhan jamur (Mahera dkk, 2. Menurut Prindle dan Wright . dalam Ariyanti dkk . jika sel mikroba tersebut rusak maka racun dari luar sel dapat masuk dan esensial yang dibutuhkan oleh mikroba. Setelah berada di dalam sel, fenol akan merusak sistem kerja sel. Senyawa fenol dapat menyebabkan inaktivasi enzim esensial dalam sel. Senyawa fenolik sebagai antimikroba bersifat aktif terhadap sel vegetatif bakteri, virus, fungi dan sebaliknya inaktif terhadap sporabakteri. Ariyanti EL. Jahuddin R. Yunus M. Potensi ekstrak daun Sirih (Piper betle lii. sebagai biofungisida penyakit busuk buah Stroberi (Colletotrichum fragariae brook. secara in-vitro. Jurnal. Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar. Makassar. Badan Pusat Statistik Jakarta Pusat , 2018. Statistik Karet Indonesia 2018. Jakarta Pusat : Badan Pusat Statistik. Mahera R. Elfina Y. Rustam R. Uji beberapa konsentrasi ekstrak tepung daun Sirih hutan (Piper aduncum L. terhadap jamur Ganoderma boninense Pat. secara in vitro. Jurnal. Fakultas Pertanian. Universitas Riau. Pekanbaru. Nalin Nalina T. Rahim ZHA. Effect of Piper betle L. Leat extract the Virulence Actvity of Streptococcus Mutans in Vitro Study. Pak. Biol. Nazip K. Uji aktivitas elstrak daun sirih (Piper betl. terhadap mikroba patogen tanaman cabai (Capsicum annu. , jamur Colletotrichum capsici dan bakteri Xanthomonas pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman cabai. Situmorang. Suryaningtyas. Pawirosoemardjo. 2007 Current status of white root disease (R. and the disease control management in rubber plantation of Indonesia. In: Pawirosoemardjo. et al. Proceedings International Workshop on White Root Disease of Hevea Rubber. Salatiga. Indonesian Rubber Research Institute, pp. 82Ae96. KESIMPULAN Pemberian ekstrak tepung sirih hutan dapat menghambat pertumbuhan Jamur Akar Putih (R. Lignosu. dengan konsentrasi 50gr/l aquades secara in vitro melalui media PDA dengan daya hambat pertumbuhan 80,88%. DAFTAR PUSTAKA