TheJournalOf MuhammadiyahMedicalLaboratoryTechnologist Voll7No22025 ANALISIS PENGARUH DURASI PENYIMPANAN SAMPEL URIN TERHADAP TOTAL BAKTERI PADA PENDERITA DIABETES MELITUS ANALYSIS OF THE EFFECT OF URINE SAMPLE STORAGE DURATION ON TOTAL BACTERIA IN DIABETES MELLITUS PATIENTS Niken Rositasari1. Dita Artanti2. Ainutajriani1. Vella Rohmayani1* . Sarjana Terapan Teknologi Laboratorium Medis Fakultas Ilmu Kesehatan UMSurabaya . D3 Teknologi Laboratorium Medis Fakultas Ilmu Kesehatan UMSurabaya Universitas Muhammadiyah Surabaya. Kampus FIK UMSurabaya, 60113. Telp. E-mail: vella_rohmayani@um-surabaya. ABSTRAK Latar belakang : Diabetes Melitus (DM) merupakan gangguan metabolik kronik dengan ditandai hiperglikemia. Penderita DM rentan mengalami infeksi saluran kemih (ISK) karena tingginya kadar glukosa dalam urin yang mendukung pertumbuhan bakteri. Pemeriksaan urin yang tertunda dapat mempengaruhi akurasi hasil, khususnya dalam pemeriksaan total bakteri. Tujuan : Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hasil pemeriksaan total bakteri pada urin pasien DM berdasarkan penyimpanan sampel pada suhu ruang dengan perlakuan lama waktu penyimpanan sampel 0 jam, 3 jam, 5 jam, dan 7 jam. Metode : Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorium dengan desain crosectional. Sampel urin pasien DM diambil secara midstream, lalu dilakukan pemeriksaan total bakteri menggunakan teknik kultur kuantitatif . olony counting/teknik may. Hasil uji berupa jumlah koloni yang tumbuh pada media MacConkey Agar dikalikan 102 CFU/mL. Data dianalisis menggunakan uji statistik non-parametrik menggunakan uji Spearman sesuai distribusi data. Hasil : Berdasarkan hasil penelitian pada pemeriksaan segera . didapatkan rata-rata jumlah koloni sebesar 3,78 x 10 2 CFU/mL, setelah dilakukan penyimpanan pada suhu ruang dengan waktu penundaan pemeriksaan 3 jam didapatkan rata-rata jumlah koloni sebesar 22,72 x 10 2 CFU/mL, pada penundaan pemeriksaan 5 jam sebesar 41,89 x 102 CFU/mL, dan pada penundaan pemeriksaan 7 jam sebesar 69,83 x 102 CFU/mL. Sedangkan hasil uji spearman menunjukkan nilai koefisien korelasi lebih besar dari nilai signifikansi . 000 yaitu 0. 973, yang berarti lama penundaan pemeriksaan berpengaruh terhadap jumlah koloni Kata kunci: Diabetes Melitus, pemeriksaan total bakteri, waktu penyimpanan, suhu ruang ABSTRACT Background: Diabetes Mellitus (DM) is a chronic metabolic disorder characterized by The DM patients are susceptible to urinary tract infections (UTI. due to high glucose levels in the urine, which support bacterial growth. Delayed urine tests can affect the accuracy of results, particularly for total bacteria tests. Objective: This study aimed to determine the results of total bacteria tests in urine of DM patients based on sample storage at room temperature, with sample storage times of 0, 3, 5, and 7 hours. Methods: This was a laboratory experiment with a cross-sectional design. Urine samples from DM patients were collected midstream, then total bacteria were examined using quantitative culture techniques . olony counting/Mayo techniqu. The test results were the number of colonies grown on MacConkey Agar media multiplied by 102 CFU/mL. Data were analyzed using nonparametric statistical tests using the Spearman test based on the data distribution. Results: Based on the results of the study, the immediate examination . yielded an average colony count of 3. 78 x 102 CFU/mL. After storage at room temperature with a 3-hour delay, the average colony count was 22. 102 CFU/mL. After a 5-hour delay, it was 41. 89 x 102 CFU/mL, and then after a 7-hour delay, it was 83 x 102 CFU/mL. The Spearman test showed a correlation coefficient greater than the significance level . 000, indicating that the length of the delay affected the number of bacterial colonies. Keywords: Diabetes Mellitus, total bacterial examination, storage time, room temperature Voll7No22025 TheJournalOf MuhammadiyahMedicalLaboratoryTechnologist PENDAHULUAN (Simanjuntak et al. , 2. Dalam profil kesehatan Jawa Timur 2021. Surabaya menempati kota dengan jumlah penderita DM terbanyak se-Provinsi Jawa Timur dengan angka mencapai 96. 280 penderita. Angka tersebut menyumbang sekitar 10,3% dari keseluruhan kasus diabetes di Jawa Timur yang terdiri dari 38 Kab/Kota (DinkesJatim, 2. Semakin kejadian DM, maka semakin besar pula mengalami komplikasi kronik melalui adanya perubahan pada sistem vaskuler. Pada tingkat pembulu darah kecil . , komplikasi DM dapat berupa kelainan pada mata, glomerulus ginjal, syaraf dan otot jantung. Sedangkan pada pembulu darah besar . , komplikasi DM dapat terjadi pada pembulu darah serebral, jantung, dan pembulu darah perifer (Triyani et al. , 2. Pada penderita DM yang terkena paparan hiperglikemia terlalu lama dan tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan komplikasi salah satunya neuropathy otonom pada ginjal yang dapat menyebabkan kolonisasi bakteri pada urin dan berujung pada infeksi di bagian saluran Hal tersebut terjadi karena adanya kandungan glukosa pada urin yang menjadi sumber nutrisi penting bagi pertumbuhan bakteri khusunya proses pembelahan Karena glukosa mengandung banyak unsur karbon dan nitrogen, sehingga bakteri pada urine penderita DM lebih banyak daripada bakteri pada urin normal (Ray et al, 2. Infeksi (ISK) merupakan jenis infeksi akibat berkembang biaknya mikroorganisme berupa bakteri dan jamur di dalam saluran kemih yang Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit gangguan metabolik menahun dengan karakteristik hiperglikemia atau peningkatan konsentrasi glukosa dalam darah lebih dari 200 mg/dl atau kadar HbA1C lebih dari 5,9% yang disebabkan akibat pankreas yang tidak memproduksi insulin secara cukup atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif (Triyani et al. , 2. Penyakit ini sangat berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia dan akan berdampak pada peningkatan biaya kesehatan yang cukup besar (Widiatmoko et al. , 2. Pada umumnya. DM diklasifikasikan menjadi 2 tipe yaitu DM tipe 1 yang disebabkan oleh faktor keturunan dan DM tipe 2 yang disebabkan oleh gaya hidup. Kasus DM di seluruh dunia umumnya didominasi oleh DM tipe 2 yakni sekitar 90-95% dari keseluruhan pasien DM (Astutisari et al. , 2. Prevalensi atau angka kejadian DM mengalami peningkatan setiap tahunnya. Menurut International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2021, prevalensi DM secara global mencapai 10,5% dari populasi dewasa . sia 20-79 tahu. atau sekitar 537 juta jiwa dan diperkirakan akan meningkat menjadi 783 juta jiwa pada tahun 2045. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan penderita DM terbanyak ke 5 dengan jumlah sebanyak 19,47 juta jiwa (Kemenkes, 2. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur mencatat ada sekitar 929 ribu kasus DM di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2021 dan dari jumlah tersebut diestimasikan sebanyak 93% atau sekitar 867 ribu penderita telah terdiagnosis dan Voll7No22025 TheJournalOf MuhammadiyahMedicalLaboratoryTechnologist terdiri dari ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra (Anggreini et al. , 2. Bakteri uniseluler yang tidak mempunyai membran inti sel dan besifat merugikan karena dapat menyebabkan penyakit atau infeksi bagi manusia (Febriza et al. , 2. Bakteri patogen yang umum ditemukan pada urin bersumber dari bakteri Escherichia coli. Enterobacter aerogenes. Staphylococcus aureus, (Fitri et al. , 2. Seseorang dapat diindikasikan mengalami ISK jika ditemukan bakteri dalam urin dengan tingkat keparahan ringan berjumlah 103 CFU/mL, tingkat sedang sekitar 104 CFU/mL, dan tingkat berat sekitar 105 CFU/mL (Fitri et al, 2. Pada penelitian yang dilakukan Erpi . diperoleh rerata angka bakteri urin penderita diabetes sebesar 6,3 x 103 CFU/mL dengan interpretasi kemungkinan ISK dan 6,0 x 101 CFU/mL dengan interpretasi tidak ISK. Mengetahui merupakan faktor yang sangat penting untuk menentukan kinerja dari bakteri Hitung jumlah bakteri pada sampel urin dapat dilakukan dengan menggunakan metode konvensional seperti teknik kultur kuantitatif . olony countin. atau teknik mayo dengan menghitung jumlah koloni bakteri yang tumbuh pada suatu media pembiakan (Aziza et al. , 2. Laboratorium memiliki peran penting Pemeriksaan urin yang tertunda tentunya akan memberikan hasil yang tidak akurat. Namun, tidak semua laboratorium dapat melakukan pemeriksaan kultur urin sendiri karena keterbatasan sarana dan prasarana sehingga harus merujuk ke laboratorium lain yang melayani pemeriksaan tersebut. Hal ini menyebabkan sampel urin tidak dapat diperiksa dengan segera akibat proses pengiriman sampel. Faktor lain yang dapat menyebabkan penundaan pemeriksaan laboratorium diantaranya yaitu sampel yang membludak, keterbatasan tenaga medis dan keterlambatan pada saat pengiriman sampel urin (Septiani. , 2. Idealnya, bahan pemeriksaan urin yang baik yaitu menggunakan sampel urin segar 1 jam setelah pengeluaran spesimen dan pemeriksaan harus segera dilakukan tidak lebih dari 4 jam. Apabila pemeriksaan dilakukan lebih dari 4 jam maka akan menyebabkan perubahan dan kerusakan unsur-unsur di dalam sedimen urin (Naid et , 2. Penelitian dilakukan oleh Septiani . pada sampel urin ISK menyatakan terdapat korelasi positif pada variasi waktu penundaan Pada pemeriksaan segera . didapatkan jumlah bakteri sebesar 3,4 x 104 CFU/mL, penundaan 2,5 jam pada suhu ruang . 5oC) sebesar 4,6 x 104, dan penundaan 5 jam pada suhu ruang . -25oC) sebesar 5,3 x 104 CFU/mL. Hal ini menunjukkan semakin lama waktu penyimpanan maka jumlah bakteri semakin meningkat. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Fitri et al . juga menunjukkan terdapat peningkatan jumlah bakteri dengan penundaan pemeriksaan selama 0-4 jam pada suhu ruang dengan satuan 105 CFU/mL. Peningkatan tersebut disebabkan karena adanya pengaruh suhu, tekanan perkembangbiakan bakteri. Selain itu, bakteri yang tumbuh dan berkembangbiak akan menguraikan NH3 untuk bereaksi terhadap H2O membentuk NH4OH yang Voll7No22025 TheJournalOf MuhammadiyahMedicalLaboratoryTechnologist bersifat basa sehingga terjadi kenaikan pH urin menjadi basa dan berdampak pada peningkatan bakteri serta kualitas unsur padat urin (Apriyani et al, 2. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, belum banyak penelitian yang mendalami tentang jumlah bakteri pada urin DM berdasarkan lama waktu penyimpanan sampel. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai analisa hasil pemeriksaan hitung jumlah bakteri pada urin penderita DM dengan menggunakan variasi lama waktu penyimpanan urin 0 jam . , 3 jam, 5 jam, dan 7 jam pada suhu ruang. bakteri pada urin pasien DM yang dilakukan pemeriksaan segera dan ditunda dengan penyimpanan pada suhu ruang . oC) yang diberi perlakuan penundaan pemeriksaan 3 jam, 5 jam, dan 7 jam. Sampel diinokulasikan pada media MacConkey Agar (MCA) dengan 3 kali pengulangan pada masing-masing sampel untuk memastikan konsistensi jumlah koloni bakteri yang tumbuh. Hasil perhitungan jumlah koloni bakteri pada urin pasien DM tercantum pada tabel berikut. Tabel 1 Hasil pemeriksaan hitung jumlah koloni Rata-rata Jumlah Koloni (CFU/mL) Waktu Penundaan Berdasarkan Pengulangan Pemeriksaan Berdasarkan Perlakuan (Ja. Waktu Pengulangan Penundaan METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan menggunakan desain Cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien Diabetes Melitus (DM) di RSUD Haji Provinsi Jawa Timur. Sampel yang digunakan sebanyak 6 sampel urin pasien DM yang memenuhi kriterian inklusi berupa pasien dengan kadar HbA1C > 5,9% dengan menggunakan teknik Data menggunakan uji Spearman dengan SPSS . Statistical Program Social Scienc. HASIL PENELITIAN Penelitian ini dilakukan selama periode tanggal 3-23 Juni 2025 di Laboratorium Mikrobiologi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surabaya dengan menggunakan sampel pemeriksaan berupa urin sebanyak 6 sampel yang didapatkan dari pasien Diabetes Melitus (DM) RSUD Haji Provinsi Jawa Timur. Sampel urin yang diperoleh dapat dinyatakan sebagai urin pasien DM jika hasil pemeriksaan HbA1C pasien memiliki kadar >5,9%. Penelitian mengetahui hasil pemeriksaan hitung jumlah 11,33 20,50 26,17 21,50 48,33 49,67 27,67 69,83 75,00 64,67 3,78 22,72 41,89 69,83 Berdasarkan hasil penelitian yang tercantum pada Tabel 1 dapat diketahui ratarata jumlah koloni bakteri pada pemeriksaan segera . pengulangan ke-1 adalah sebesar 11,33 x 102 CFU/mL, pada pengulangan ke-2 dan ke-3 memperoleh rerata sebesar 0,00. Sampel yang disimpan pada suhu ruang . oC) dengan perlakuan waktu penundaan selama 3 jam pada pengulangan ke-1 memperoleh rerata jumlah koloni bakteri sebesar 20,50 x 10 2 CFU/mL, pada pengulangan ke-2 sebesar 26,17 Voll7No22025 TheJournalOf MuhammadiyahMedicalLaboratoryTechnologist x 102 CFU/mL, dan pada pengulangan ke-3 50 x 102 CFU/mL. Sampel yang disimpan pada suhu ruang . C) dengan perlakuan waktu penundaan selama 5 jam pada pengulangan ke-1 memperoleh rerata jumlah koloni bakteri sebesar 48,33 x 102 CFU/mL, pada pengulangan ke-2 sebesar 49,67 x 102 CFU/mL, dan pada pengulangan ke-3 sebesar 27,67 x 102 CFU/mL. Sampel yang disimpan pada suhu ruang . oC) dengan perlakuan waktu penundaan selama 7 jam pada pengulangan ke1 memperoleh rerata jumlah koloni bakteri sebesar 69,83 x 102 CFU/mL, pada pengulangan ke-2 sebesar 75,00 x 102 CFU/mL, dan pada pengulangan ke-3 sebesar 64,67 x 102 CFU/mL. Rata-rata jumlah koloni bakteri berdasarkan perlakuan lama waktu penundaan sampel seperti yang tercantum pada Tabel 5. disajikan dalam grafik berikut : peningkatan tertinggi dengan jumlah koloni sebesar 69,83 x 102 CFU/mL. Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang signifikan pada rata-rata hitung jumlah bakteri urin pasien DM pada pemeriksaan segera dan ditunda 3 jam, 5 jam, dan 7 jam pada suhu ruang 23 oC maka perlu dilakukan uji korelasi antara rata-rata jumlah koloni dan waktu penundaan pemeriksaan. Untuk menentukan jenis uji statistik yang tepat, dilakukan terlebih dahulu uji normalitas terhadap data yang tersedia untuk mengetahui distribusi data menggunakan uji Shapiro-Wilk. Jenis uji ini digunakan karena jumlah data yang didapat <50 data. Distribusi data dikatakan normal apabila (Si. >0,05. Sedangkan distribusi data dianggap tidak normal jika nilai Sig <0,05. Adapun hasil uji normalitas data disajikan pada tabel berikut : Tabel 2 Hasil Uji Normalitas Jumlah Koloni (CFU/mL) Rata-Rata Jumlah Bakteri 80,00 60,00 40,00 20,00 0,00 69,83 41,89 22,72 3,78 Waktu Penundaan Pemeriksaan (Ja. Gambar 1 Grafik pertumbuhan bakteri Uji Normalitas Shapiro-Wilk Waktu Penundaan Pemeriksaan (Ja. Rata-Rata Jumlah Koloni . 102 CFU/mL) 3,78 22,72 41,89 69,83 Sig. Keterangan Tidak Normal Normal Normal Normal Berdasarkan Tabel 2, diperoleh nilai signifikan pada rata-rata hitung jumlah bakteri pemeriksaan segera . , yang menunjukkan bahwa data tersebut tidak berdistribusi normal. Sementara itu, pada rata-rata hitung jumlah bakteri dengan penundaan pemeriksaan 3 jam, 5 jam, dan 7 menunjukkan hasil Sig > 0,05, yang secara individual mengindikasikan distribusi normal. Namun, karena terdapat 3 variabel dengan distribusi normal dan 1 variabel dengan distribusi tidak normal, maka secara keseluruhan distribusi data dianggap tidak Oleh karena itu, uji statistik yang digunakan untuk analisis selanjutnya adalah uji Berdasarkan Gambar 1 diketahui grafik pemeriksaan dengan rata-rata jumlah koloni bakteri yang terdeteksi pada masing-masing interval waktu. Pada waktu 0 jam . emeriksaan seger. , rata-rata jumlah koloni adalah 3,78 x 102 CFU/mL. Setelah 3 jam penundaan, jumlah koloni meningkat menjadi 22,72 x 10 2 CFU/mL. Pada waktu 5 jam penundaan, jumlah koloni kembali meningkat signifikan menjadi 41,89 x 102 CFU/mL. sedangkan penundaan pemeriksaan selama 7 jam menunjukkan Voll7No22025 TheJournalOf MuhammadiyahMedicalLaboratoryTechnologist non-parametrik, yaitu uji korelasi Spearman. Adapun hasil uji Spearman ditunjukkan pada tabel berikut : Diabetes Melitus terkena ISK yaitu 11 orang . %) dengan rerata jumlah bakteri urin 6,3 x 103 CFU/mL dan interpretasi tidak ISK sebanyak 21 orang . %) dengan rerata jumlah bakteri urin 6,0 x 101 CFU/mL. Pada tabel 5. 1 dapat diketahui rerata jumlah koloni bakteri pada urin pasien DM yang dilakukan pemeriksaan segera . adalah sebesar 3, 78 x 102 CFU/mL, rerata jumlah koloni pada sampel yang disimpan pada suhu ruang 23oC dengan perlakuan waktu penundaan selama 3 jam sebesar 22,72 x 102 CFU/mL, rerata jumlah koloni pada sampel yang disimpan pada suhu ruang 23oC dengan perlakuan waktu penundaan selama 5 jam sebesar 41,89 x 102 CFU/mL, dan rerata jumlah koloni pada sampel yang disimpan pada suhu ruang 23oC dengan perlakuan waktu penundaan selama 7 jam sebesar 69,83 x 102 CFU/mL. Nilai kecenderungan peningkatan jumlah bakteri seiring dengan lamanya waktu penundaan Dengan kata lain, semakin lama waktu penyimpanan sampel maka jumlah bakteri yang terdeteksi cenderung semakin Peningkatan tersebut terjadi karena pada dasarnya, urin yang berada di dalam tubuh manusia bersifat steril, artinya tidak mengandung bakteri. Namun, setelah urin dikeluarkan dari tubuh, urin dapat mengalami kontaminasi bakteri dari lingkungan luar. Kontaminasi ini dapat menyebabkan urin yang awalnya steril menjadi medium yang mendukung pertumbuhan bakteri, terutama jika disimpan dalam kondisi suhu yang tidak sesuai. Temuan dalam penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fitri et al . dalam studi berjudul AuPengaruh Variasi Lama Penundaan Pemeriksaan Terhadap Enumerasi Bakteri Pada Urin Penderita Infeksi Saluran Kemih (ISK)Ay Penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat peningkatan jumlah bakteri dengan penundaan pemeriksaan selama 0-4 jam pada suhu ruang dengan jumlah koloni mencapai 105 CFU/mL, hal ini mengindikasikan bahwa Tabel 3 Hasil Uji Spearman Variabel Rata-rata Jumlah Koloni Bakteri Keterangan Uji Waktu Penundaan Spearman Pemeriksaan Koefisien Nilai Signifikansi 0. Korelasi sangat kuat Signifikansi Dari Tabel 5. 3 dapat diketahui pemeriksaan dan rata-rata jumlah koloni bakteri memiliki nilai koefisien korelasi 0. menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang sangat kuat dan signifikan antara waktu penundaan pemeriksaan dan jumlah koloni Dengan demikian. H0 ditolak dan hal ini berarti semakin lama penundaan pemeriksaan, maka akan semakin tinggi jumlah koloni bakteri yang terbentuk. Korelasi ini signifikan pada tingkat 0. -taile. , yang ditandai dengan tanda bintang ganda (**). PEMBAHASAN Dalam penelitian ini digunakan 6 sampel urin pasien Diabetes Melitus (DM) yang memenuhi kriterian inklusi berupa pasien dengan kadar HbA1C > 5,9%. Dari 6 sampel urin pasien Diabetes Melitus yang digunakan, hanya terdapat 1 sampel yang menunjukkan kemungkinan adanya infeksi yang ditandai adanya pertumbuhan koloni sebanyak 68 x 102 CFU/mL di pemeriksaan tanpa penundaan dan konsisten mengalami peningkatan jumlah bakteri sampai perlakuan penundaan terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa pasien Diabetes Melitus memiliki resiko terkena Infeksi Saluran Kemih (ISK), namun interpretasi pasien DM yang terkena ISK lebih rendah dibandingkan dengan interpretasi pasien DM tanpa ISK. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Erpi Nurdin . yang menunjukkan interpretasi kemungkinan pasien Voll7No22025 TheJournalOf MuhammadiyahMedicalLaboratoryTechnologist semakin lama waktu penundaan pemeriksaan, maka semakin tinggi pula jumlah koloni bakteri yang terbentuk akibat pertumbuhan bakteri yang terus berlangsung selama penyimpanan. Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 5. 3 menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang sangat kuat dan signifikan antara waktu penundaan pemeriksaan dan rata-rata jumlah koloni bakteri. Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Septiani . yang menyatakan adanya korelasi positif antara variasi waktu penundaan pemeriksaan dan penyimpanan sampel urin penderita ISK pada suhu ruang . Ae27AC) terhadap peningkatan jumlah bakteri. Jika pertumbuhan bakteri, data dari Tabel 5. menunjukkan bahwa rata-rata jumlah koloni bakteri pada pemeriksaan segera sebesar 3,78 x 102 CFU/mL dan pada penundaan selama 3 jam meningkat menjadi 22,72 x 102 CFU/mL. Jumlah pertumbuhan tersebut mencerminkan fase lag . ag phas. atau fase bakteri beradaptasi dengan lingkungan baru dan akan mensintesis enzim-enzim yang diperlukan untuk memanfaatkan nutrisi yang tersedia. Selanjutnya, pada penundaan 5 jam dan 7 jam, rata-rata jumlah koloni meningkat menjadi 41,89 x 102 CFU/mL dan 69,83 x 102 CFU/mL secara berurutan. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa bakteri telah memasuki fase eksponensial . xponential phas. yaitu bakteri mulai membelah diri secara aktif dan teratur sehingga jumlah bakteri akan meningkat (Kadarsih, 2. Peningkatan jumlah bakteri tersebut dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, tekanan osmosis, dan nutrisi pada perkembangbiakan bakteri. Selain itu, bakteri yang tumbuh dan berkembangbiak akan menguraikan NH3 untuk bereaksi terhadap H2O membentuk NH4OH yang bersifat basa. Reaksi ini menyebabkan peningkatan pH urin menjadi basa dan berdampak pada peningkatan bakteri serta kualitas unsur padat urin (Apriyani et al. Hasil pemeriksaan yang tidak tepat, mungkin terjadi karena ketidakakuratan pada suhu, maupun prosedur pemeriksaan. Pada penelitian ini, perlakuan yang diberikan berupa penundaan pemeriksaan dan penyimpanan suhu ruang termasuk kategori kesalahan acak dalam laboratorium (Lathifah, 2. Idealnya, bahan pemeriksaan urin yang baik yaitu menggunakan sampel urin segar 1 jam setelah pengeluaran spesimen dan pemeriksaan harus segera dilakukan tidak lebih dari 4 jam agar tidak memengaruhi dan mengurangi validitas hasil. Apabila pemeriksaan dilakukan lebih dari 4 jam maka perlu disimpan dalam lemari es dengan suhu 2-4oC. Suhu penyimpanan sampel menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi ketahanan hidup bakteri (Sulaimah et al. Spesimen urin yang dibiarkan pada suhu ruang dalam waktu yang cukup lama akan menyebabkan perubahan dan kerusakan unsurunsur di dalam sedimen urin (Naid et al. , 2. Ketika urin yang awalnya steril terpapar lingkungan yang mendukung pertumbuhan multiplikasi bakteri dalam sampel tersebut. Hal ini dapat menyebabkan hasil pemeriksaan perhitungan jumlah koloni menjadi tidak valid. Dengan kata lain, pertumbuhan bakteri tersebut belum tentu mencerminkan kondisi infeksi pada pasien, melainkan bisa merupakan hasil kontaminasi pasca-pengambilan. Dengan pemeriksaan dan suhu penyimpanan pada sampel urin dapat memengaruhi hasil pemeriksaan hitung jumlah bakteri sehingga perlu memperhatikan kesesuaian prosedur pada setiap proses pemeriksaan mulai dari tahap praanalitik, analitik, dan pasca analitik, khususnya pada tahap pra analitik berupa persiapan dan penanganan sampel sebagai bentuk pencegahan dalam mengurangi terjadinya penyimpangan agar mendapatkan hasil pemeriksaan yang (Hani et al. , 2. Kegiatan laboratorium pada tahap pra analitik merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum melakukan pemeriksaan. Dimulai dari Voll7No22025 TheJournalOf MuhammadiyahMedicalLaboratoryTechnologist persiapan pasien, pengambilan sampel, penanganan sampel, penyimpanan sampel, termasuk pemberian label pada setiap sampel. Tahap pra analitik termasuk tahap yang sulit dipantau dan dikendalikan karena memiliki risiko tingkat kesalahan sekitar 60% - 70% dari total kesalahan yang terjadi di laboratorium (Maria. , 2. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa prosedur pengambilan, penyimpanan, dan transportasi sampel urin dilakukan sesuai dengan standar operasional yang telah ditetapkan. Hal ini bertujuan untuk menjaga kualitas dan keakuratan hasil pemeriksaan, terutama pada pemeriksaan kultur urin atau analisa jumlah total bakteri. SARAN KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut : Hasil pemeriksaan hitung jumlah bakteri urin pada pasien Diabetes Melitus (DM) pada pemeriksaan segera didapatkan ratarata jumlah koloni sebesar 3, 78 x 102 CFU/mL, setelah dilakukan penyimpanan pada suhu ruang 23oC dan diberikan perlakuan penundaan pemeriksaan 3 jam didapatkan rata-rata jumlah koloni sebesar 22,72 x 102 CFU/mL, pada penundaan pemeriksaan 5 jam didapatkan rata-rata jumlah koloni sebesar 41,89 x 102 CFU/mL, pemeriksaan 7 jam didapatkan rata-rata jumlah koloni sebesar 69,83 x 102 CFU/mL. Waktu penundaan yang menunjukkan jumlah bakteri urin tertinggi pada pasien Diabetes Melitus adalah penundaan pemeriksaan selama 7 jam, dengan ratarata jumlah koloni sebesar 69,83 x 10 2 CFU/mL Bagi Analis Laboratorium Disarankan pengiriman dan pemeriksaan spesimen sesegera mungkin untuk memperoleh hasil pemeriksaan yang tepat dan akurat. Bagi Institusi Temuan dari penelitian ini disarankan untuk dijadikan acuan pembelajaran mengenai pentingnya memperhatikan Bagi Peneliti Lain Diperlukan riset lain menggunakan jumlah sampel yang lebih banyak dengan perlakuan waktu penundaan yang lebih lama serta membandingkan dengan 2 suhu penyimpanan untuk memperkuat hasil DAFTAR PUSTAKA