JURNAL BASICEDU Volume 7 Nomor 5 Tahun 2023 Halaman 3018 - 3026 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Analisis Kesulitan Guru Selama Proses Pembelajaran pada Saat Pergantian Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar Anisya Al Husna1A. Henry Aditia Rigianti 2 Universitas PGRI Yogyakarta. Indonesia 1,2 E-mail: anisyaalhusna@gmail. com1, henry@upy. Abstrak Pergantian kurikulum adalah upaya pemerintah dalam memperbaiki kualitas pendidikan yang ada di indonesia, untuk itu setiap pergantian kurikulum harus di sesuaikan dengan perkembangan yang terjadi. Dalam artikel ini penulis akan menganalisa kesulitan yang di alami guru saat pergantian kurikulum selama proses pembelajaran dan kesulitan yang di alami guru saat dua kurikulum dijalankan secara bersamaan di sekolah dasar. Metode penelitian ini menggunakan metode kajian literatur dengan mengumpulkan beberapa artikel atau jurnal yang digunakan sebagai panduan dan informasi dalam melakukan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam proses penerapan Kurikulum Merdeka Belajar tentunya akan menimbulkan permasalahan dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran dikarenakan kurikulum ini baru saja diterapkan dan pasti pihak-pihak. Selain itu, terbatasnya buku siswa kurangnya kemampuan dan kesiapan guru dalam menggunkan metode dan media pembelajaran yang bervariasi, kurang mahir dalam mengaplikasikan teknologi dalam pembelajaran, materi ajar yang terlalu luas, serta dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek guru kesulitan dalam menentukan proyek kelas di kelas I dan IV serta kurangnya alokasi waktu untuk pembelajaran berbasis proyek, menentukan bentuk asesmen yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, dan menentukan bentuk asesmen pada saat pembelajaran berbasis proyek. Kesimpulannya adalah penerapan Kurikulum Merdeka Belajar pada siswa kelas I dan IV sudah berjalan cukup baik. Kata Kunci: kesulitan guru, pergantian kurikulum, kurikulum 2013, kurikulum merdeka. Abstract Changing the curriculum is the government's effort to improve the quality of education in Indonesia, therefore every change in the curriculum must be adjusted to current developments. In this article the author will analyze the difficulties experienced by teachers when changing curricula during the learning process and the difficulties experienced by teachers when two curricula are implemented simultaneously in elementary schools. This research method uses a literature review method by collecting several articles or journals which are used as guidance and information in conducting research. The results of the research show that in the process of implementing the Independent Learning Curriculum, it will certainly cause problems in the process of planning, implementing and assessing learning because this curriculum has just been implemented and the parties are certain. Apart from that, there are limited student books, lack of ability and readiness of teachers to use a variety of learning methods and media, lack of proficiency in applying technology in learning, teaching materials that are too broad, and in implementing project-based learning teachers have difficulty in determining class projects in class I and IV as well as the lack of time allocation for project-based learning, determining the form of assessment that is appropriate to the learning objectives to be achieved, and determining the form of assessment during project-based learning. The conclusion is that the implementation of the Independent Learning Curriculum for class I and IV students has gone quite well. Keywords: teacher difficulties, curriculum change, 2013 curriculum, independent curriculum. Copyright . 2023 Anisya Al Husna. Henry Aditia Rigianti A Corresponding author : Email : anisyaalhusna@gmail. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Analisis Kesulitan Guru Selama Proses Pembelajaran Pada Saat Pergantian Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar Ae Anisya Al Husna. Henry Aditia Rigianti DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Revolusi Industri 4. 0 dan peradaban 5. 0 berdampak besar pada berbagai aspek kehidupan yang mengakibatkan disrupsi teknologi dan inovasi, termasuk dalam dunia pendidikan (Angga et al. , 2. Pendidikan merupakan salah satu aspek penting yang memerlukan perhatian khusus, karena masa depan suatu bangsa tergantung pada kualitas generasi penerus yang dipersiapkan melalui pendidikan. Salah satu cara pemerintah untuk senantiasa memperbaiki mutu pendidikan yaitu dengan perubahan kurikulum, karena kurikulum harus sesuai dengan perkembangan zaman, zaman dulu yang mungkin sama sekali berbeda dengan zaman sekarang. Oleh karena itu, dunia pendidikan harus bisa menyesuaikan dengan perkembangan. Kemajuan suatu bangsa bisa dinilai dari keberhasilan pendidikannya, sedangkan keberhasilan pendidikan itu sendiri terletak pada kurikulum yang digunakan karena kurikulum berfungsi sebagai perencanaan, pelaksanaan, dan pengevaluasian pembelajaran (Anridzo et al. , 2022. Selain hal tersebut, juga harus mempertimbangkan kebutuhan belajar siswa. Oleh karena itu, kurikulum harus senantiasa dievaluasi. Pembicaraan masyarakat mengenai kegiatan belajar mengajar masih menjadi topik pembicaraan yang sering dijumpai dimanapun dan kapanpun berada. Hampir setiap hari, media massa khususnya media cetak baik harian maupun mingguan memuat berita tentang guru. Ironisnya berita-berita tersebut banyak yang cenderung melecehkan posisi guru, baik yang sifatnya menyangkut kepentingan umum sampai ke kepentingan pribadi sedangkan dari pihak guru sendiri nyaris tak mampu membela diri. Sebagai contohnya yaitu masyarakat atau orang tua siswa pun kadang mencemooh dan menuding guru tidak kompeten, tidak berkualitas dan masih banyak tudingan-tudingan lainnya, manakala putra/putrinya tidak bisa menyelesaikan persoalan yang ia hadapi sendiri atau memiliki kemampuan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Dari kalangan bisnis pun memprotes para guru karena kualitas para lulusan dianggapnya kurang memuaskan bagi kepentingan perusahaannya. Kurikulum merupakan hal yang penting dalam melaksanakan tujuan pendidikan nasional sebagai rumusan kualitas yang dimiliki setiap warga Negara Indonesia yang dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang pendidikan (Majir, 2. Kurikulum kaitannya dengan satuan pendidikan yaitu sebagai penentu arah, isi, dan proses pendidikan yang pada akhirnya menentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Dengan kata lain kurikulum menjadi syarat mutlak dari pendidikan dan kurikulum adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan dan pengajaran. Perkembangan kurikulum di Indonesia yang pesat juga membuat guru harus selalu berusaha mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan. Bagi sebagian guru yang professional dia akan selalu bersemangat mengikuti peraturan yang telah ditetapkan tapi tidak bagi sebagian guru yang tidak terlalu memperhatikan ketetapan peraturan yang ada. Di Indonesia perubahan kurikulum telah mengalami sepuluh kali perubahan pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 2004, 2006, 2013, dan saat ini menerapkan kurikulum merdeka. Hingga kurikulum yang terakhir yaitu kurikulum 2013 sebelum terjadinya covid-19, pandemi global ini juga mempengaruhi dunia pendidikan. Perubahan kurikulum yang terjadi bukan hanya terjadi karena terjadinya perubahan stuktural pemimpin dalam lembaga pendidikan namun juga karena kebutuhan dunia pendidikan ketika terjadinya perubahan Kalau dilihat lebih jauh masing-masing kurikulum ini memiliki kelebihan dan kekurangan dari kurikulum yang satu dengan lainnya oleh karenanya pemahaman dari pendidik dalam memahami dan menguasai sebuah kurikulum sangatlah dibutuhkan agar antara pendidik dengan tujuan kurikulum sejalan sehingga dapat tercapai tujuan kurikulum pendidikan saat itu. Kurikulum 2013 dipakai sejak tahun ajaran 2013 dalam Sistem Pendidikan Indonesia. Kehadiran kurikulum 2013 diharapkan mampu melengkapi kekurangan-kekurangan yang ada pada kurikulum Kurikulum 2013 disusun dengan mengembangkan dan memperkuat sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara berimbang. Penekanan pembelajaran diarahkan pada penguasaan pengetahuan dan Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Analisis Kesulitan Guru Selama Proses Pembelajaran Pada Saat Pergantian Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar Ae Anisya Al Husna. Henry Aditia Rigianti DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. keterampilan yang dapat mengembangkan sikap spiritual dan sosial sesuai dengan kerakteristik Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti diharapkan akan menumbuhkan budaya keagamaan . eligious cultur. di Implementasi kurikulum 2013 terdapat kendala teknis dalam proses kegiatan pembelajaran dengan permasalahan berkaitan terhadap perkembangan teori pembelajaran (Hutabarat et al. , 2. Cara upaya penerapan strategi yang dilakukan secara saintifik serta penerapan strategi penilaian yang dialami oleh guru mata pelajaran. Kurikulum 2013 merupakan tindak lanjut dari kurikulum berbasis kompetensi yang pernah di uji coba pada tahun 2014. KBK di jadikan acuan berbagai ranah pendidikan (Pengetahuan, keterampilan, dan sika. dalam semua jenjang pendidikan, khususnya pada jalur pendidikan sekolah. Dalam pendapat lain menyatakan bahwa Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang terintegrasi, maksudnya yaitu suatu model kurikulum yang dapat mengintegrasikan skill, themes, concepts, and topics baik dalam bentuk within single disciplines, across seveeal disciplines and within and across learners. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang berbasis pada pengembangan kompetensi siswa. Kurikulum berbasis kompetensi . utocomes-based curriculu. yaitu pengembangan kurikulum yang diarahkan pada pencapaian kompetensi seperti yang telah dirumuskan dalam Standar Kompetensi Kelulusan (Indrayana et al. , 2. Selain itu, masih ada juga sekolah yang belum sanggup mengembangkan pembelajaran dengan memanfaatkan Informasi Teknologi (IT) untuk mengoptimalkan hasil belajar siswa, baik karena faktor kompetensi guru itu sendiri maupun terbatasnya sarana dan prasarana Pengelolaan pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 memiliki perbedaan dengan kurikulum sebelumnya, perbedaan tersebut terletak pada kegiatan inti pembelajaran, yaitu diterapkannya pendekatan Imiah. Secara praktik pendekatan ini tidak sepenuhnya dapat dilaksanakan secara utuh pada setiap materi yang dibahas, sehingga pada saat melakukan pembahasan materi tertentu hanya menggunakan beberapa kegiatan dari pendekatan ilmiah. Perencanaan pembelajaran yang berupa silabus telah disusun oleh pemerintah dengan standar yang sama sedangkan kondisi setiap sekolah berbeda. Hal ini mengakibatkan guru harus menyesuaikan silabus yang telah ada dengan kondisi sekolah masing-masing. Buku pegangan guru dan buku pegangan siswa sebagai salah satu sumber belajar yang belum tersedia, keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran, serta pemahaman yang masih persial terhadap implementasi Kurikulum 2013 dalam pengelolaan pembelajaran menjadikan pengelolaan pembelajaran jauh dari ideal. Penerapan Kurikulum 2013 dengan asumsi bahwa sekolah-sekolah menerapkan kurikulum yang berdasar pada kondisi siswanya. Apa yang diharapkan oleh siswa atau lingkungan masyarakat. Maka dari itu diharapakan agar tujuan khusus yang ingin dicapai dalam proses belajar mengajar tersebut dapat efektif dan Kurikulum 2013 ini tidak bisa kita patok mati bahwa kurikulum inilah yang terakhir dan paling efektif penerapannya, karena kita tidak tahu seberapa jauh perkembangan masyarakat ke depan yang menuntut adanya perubahan, terutama dalam hal perubahan yang harus disesuaikan dengan zamannya. Melihat masifnya dampak pandemi Covid 19 yang melanda Indonesia sejak awal 2020 menjadikan pendidikan menjadi salah satu aspek yang mengalami dampak pandemi. Yaitu proses belajar mengajar yang terhambat tidak bisa dilakukan secara tatap muka . sehingga harus dilakukan secara jarak jauh . Kesulitan ini dirasakan oleh semua pihak antara pendidik, peserta didik, maupun pihak orang tua. Pasalnya,guru setiap hari harus menyediakan bahan materi yang harus disajikan dalam bentuk online secara mendadak tanpa ada persiapan pelatihan, seminar, maupun sosialisasi dalam jauh-jauh hari. Dampak yang dirasakan oleh peserta didik yaitu, mereka harus bisa mandiri belajar ditempat masing-masing yaitu dirumah sendiri-sendiri dengan pembelajaran kelas yang berbasis online. Peserta didik merasakan bosa, ketidaknyamanan, kesulitan dalam menirukan taua mempraktikkan. Selain dirasakan oleh guru dan siswa, kesulitan pembelajaran ini juga dirasakan oleh orang tua. Orang tua harus lebih banyak mengawasi anakanaknya selama penmbelajaran online berlangsung. Tersedianya fasilitas jaringan untuk mengakses online dan alat bisa berupa smartphone maupun laptop juga menjadi momok permasalahan dalam masyarakat. Terutama Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Analisis Kesulitan Guru Selama Proses Pembelajaran Pada Saat Pergantian Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar Ae Anisya Al Husna. Henry Aditia Rigianti DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. bagi masyarakat dengan ekonomi rendah menengah ke bawah dan masyarakat yang tinggal di pesedasaan pedalaman maupun daerah tertinggal atau terpencil. Kesulitan yang dihadapi jika guru tetap menjelaskan pelajaran menggunakan kurikulum 2013, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengumumkan penggunaan kurikulum darurat. Kurikulum ini cukup membantu guru untuk tetap memberikan pembelajaran kepada siswa, guru dapat memotong materi pembelajaran dan mengambil materi esensial yang penting bagi siswa. Seolah belajar dari masa awal pandemi covid-19. Pemerintah mencanangkan melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan kurikulum baru yang dikenal dengan nama kurikulum merdeka, yang diluncurkan pada Februari 2022 lalu. Sebagai salah satu program merdeka belajar, tujuan utamanya tak lain dan tak bukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kurikulum merdeka belajar berfokus pada materi intrakokurikuler dan kokurikuler, karna pada kurikulum sebelumnya yaitu kurikulum 2013 umumnya hanya terfokus pada intrakurikuler. Kurikulum merdeka ini menciptakan proses belajar yang berarti serta berintelektual untuk siswa. Kurikulum merdeka kini sudah banyak diterapkan di sekolah Ae sekolah baik sekolah dasar maupun sekolah menengah. Pergantian kurikulum memang tidaklah mudah bagi para guru di sekolah. Selain harus beradpatasi dengan kebijakan yang baru mereka juga harus mempelajari isi dari kurikulum tersebut. Setiap kurikulum mempunyai persamaan dan perbedaan. Sudah hampir sepuluh kali pendidikan di Indonesia mengganti Saat ini kurikulum 2013 diganti menjadi kurikulum merdeka. setiap kurikulum mempunyai perbandingan antara kurikulum sebelum diganti dengan kurikulum yang baru, hal ini jelas terlihat dari persiapan pembelajaran hingga penerapan pembelajaran di kelas. Banyak sekali perbandingan antara kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka, yakni perbandingan kerangka dasar, kompetensi, pembelajaran, penilaian, dan perangkat kurikulum . Terdapat penelitian terdahulu yang membahas mengenai kesulitan guru dalam menghadapi perubahan kurikulum 2013 menuju kurikulum merdeka. Penelitian oleh Abdul Khafid Anridzo1 dkk tahun 2022 di SDN 2 Jagong, dimana hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa SDN 2 Jagong. Kunduran. Blora. Jawa Tengah terkendala ketika pelaksanaan karena kurikulum merdeka masih terlalu dini untuk di terapkan dan rata-rata masih menggunakan kurikulum 13 sehingga diperlukan evaluasi untuk menindaklajut apa saja yang perlu diperbaiki (Anridzo et al. , 2022. Penelitian selanjutnya yaitu oleh Sunarni dkk pada tahun 2022 bahwa kendala implementasi Kurikulum Merdeka adalah dikarenakan kurang stabilnya akses internet, khususnya bagi sekolah terpencil yang letak geografisnya sulit mengakses internet dan tidak semua guru memiliki kemampuan IT sehingga belum semua guru di sekolah dasar menerapkan kurikulum merdeka (Sunarni & Karyono, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh angga tahun 2022 bahwa Kepala sekolah sebagai pemimpin menjadi penentu arah kebijakan dan pencapaian tujuan pendidikan di sekolah, serta Kepemimpinan kepala sekolah memiliki peran dan kedudukan penting dalam pencapaian sekolah, yaitu mewujudkan Merdeka (Angga & Iskandar, 2. Berdasarkan permasalahan tersebut, dilakukan penelitian yang mengkhusukan untuk mengetahui permasalahan kesulitan apa saja yang di alami oleh guru selama ini dalam masa pergantian dari kurikulum 2013 ke kurikulum merdeka. Sehingga untuk kedepannya kita bisa mengantisipasi hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan selama pergantian kurikulum. Hal ini tentunya menjadi pembeda antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya. Dimana belum adanya penelitian terkait yang membahas mengenai kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka yang sebelumnya sudah pernah mengimplementasikan kurikulm 2013 di sekolah dasar. Selain itu sekolah sedang menjalankan 2 kurikulum secara bersamaan yaitu kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka peneliti juga bertujuan mengeksplorasi kesulitan yang terjadi pada saat dua kurikulum dijalankan secara bersamaan di sekolah dasar. elihat latar belakang di atas, bahwa sangat penting melakukan penelitian lebih lanjut terkait dengandampak pergantian kurikulum pendidikan terhadap peserta didik Sekolah Dasar untuk menghasilkan data dan hasil yang valid Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Analisis Kesulitan Guru Selama Proses Pembelajaran Pada Saat Pergantian Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar Ae Anisya Al Husna. Henry Aditia Rigianti DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. berkaitan dengan masalah yang diteliti Artikel ini diharapkan berguna bagi guru dan calon-calon guru dalam mencapai tujuan pendidikan. METODE Metode penelitian ini menggunakan metode kajian literatur dengan mengumpulkan beberapa artikel atau jurnal yang digunakan sebagai panduan dan informasi dalam melakukan penelitian. Kajian literatur juga sering disebut dengan kajian pustaka . Kajian pustaka merupakan sekumpulan penjelasan dari berbagai ilmu pengetahuan yang digunakan sebagai panduan dan informasi dalam melakukan penelitian. KajianLiteratur atau kajian pustaka berisi deskripsi mengenai bidang atau topik tertentu. Menurut (Afifuddin & Saebani, 2. Kajian literatur merupakan alat yang penting sebagai contact review, karena literatur sangat berguna dan sangat membantu dalam memberikan konteks dan arti dalam penulisan yang sedang dilakukan serta melalui kajian literatur ini juga peneliti dapat menyatakan secara eksplisit dan pembaca mengetahui, mengapa hal yang ingin diteliti merupakan masalah yang memang harus diteliti, baik dari segi subjek yang akan diteliti dan lingkungan manapun dari sisi hubungan penelitian dengan tersebut dengan penelitian lain yang relevan. Jumlah keseluruhan literature yang dikaji adalah sebanyak 11 literatur baik dari jurnal atau artikel penelitian mengenai topik yang sedang dibahas maupun buku dan teori pendukung dalam memperkuat argument dalam hasil serta pembahasan. Pemilihan kajian literature tersebut didasarkan atas topik yang sama dan tahun terbit yang tidak melebihi 10 tahun terakhir agar penelitian ini dapat dikatakan kredibel. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi dua macam yaitu data primer dan data sekunder. Adapun sumber data primer yang digunakan dalam penelitian, yaitu data observasi. Observasi ialah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti. Sekunder Data sekunder merupakan data yang sudah tersedia sehingga kita tinggal mencari dan mengumpulkan. Teknik analisis data dilakukan dengan beberapa langkah yaitu mereduksi data dimana peneliti melakukan penyeleksian data yang diperlukan dan data mana yang tidak diperlukan. Kemudian, langkah selanjutnya yaitu menyajikan data yang sudah melalui proses reduksi data. Dan setelah itu, data-data yang sudah disajikan tadi kemudian akan ditafsirkan melalui proses analisis data. HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan yang guru rasakan secara signifikan dalam pergantian kurikulum 2013 ke kurikulum Naskah SK Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) No. 33 Tahaun 2022 Perubahan SK BSKAP No. 8 Tahun 2022 Capaian Pembelajaran PAUD dan Dasmen pada Kurikulum Merdeka (Kemendikbud, 2019. Pendidikan & Indonesia, 2. Capaian Pembelajaran (CP) adalah kompetensi minimum yang harus dicapai peserta didik untuk setiap mata pelajaran. CP dirancang dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi, sebagaimana Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) dalam kurikulum 2013. CP merupakan pembaharuan dari KI dan KD, yang dibuat untuk terus menguatkan pembelajaran yang fokus pada pengembangan kompetensi. Dalam CP strategi yang semakin dikuatkan untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan mengurangi cakupan materi dan perubahan tata cara penyusunan capaian yang menekankan pada fleksibelitas dalam pembelajaran (Indrastoeti & Istiyati. Dalam proses penerapan Kurikulum Merdeka Belajar tentunya akan menimbulkan permasalahan dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran dikarenakan kurikulum ini baru saja diterapkan dan pasti pihak-pihak masih kebingungan pengimplementasiannya sehingga menimbulkan problem-problem Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Analisis Kesulitan Guru Selama Proses Pembelajaran Pada Saat Pergantian Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar Ae Anisya Al Husna. Henry Aditia Rigianti DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. yang terjadi didalamnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti bahwa penerapan Kurikulum Merdeka Belajar sudah mulai berjalan sekitar satu tahun. Sedangkan penerapannya masih dilakukan secara bertahap yaitu baru untuk kelas I dan IV sedangkan kelas II, i. V dan VI masih menerapkan Kurikulum Tentunya banyak sekali kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan Kurikulum Merdeka Belajar. Dalam penerapannya sudah menerapkan berbagai hal yang berkaitan dengan Kurikulum Merdeka Belajar. Salah satunya adalah penerapan Profil Pelajar Pancasila dengan Pembelajaran Berbasis Projek. Dalam projek ini terbagi menjadi proyek kelas yang dilaksankan pada akhir bab pembelajaran dan proyek sekolah dilaksanakan persemester hal ini telah diterapkan. Dan juga sudah membuat perangkat pembelajaran seperti Tujuan Pembelajaran. Alur Tujuan Pembelajaran dan untuk Modul Ajar masih disusun secara berkelompok serta juga telah membuat raport walaupun masih masi memerlukan penyempurnaan dan revisi. Dalam penerapan Kurikulum Merdeka khususnya kelas I dan IV tidak lagi memakai pembelajaran tematik tetapi memakai pembelajaran berbasis Mata Pelajaran dan untuk kelas IV ada pembelajaran IPAS yaitu pelajaran IPA dan IPS digabungkan menjadi IPAS. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Angga. Cucu Suryana. Ima Nurwahidah, dkk dalam jurnalnya yang berjudul Komparasi Implementasi Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka Belajar menjelaskan bahwa kekhasan Kurikulum Merdeka Belajar yaitu jam belajar pertahun 144 jam, adanya Capaian Pembelajaran, adanya Alur Tujuan Pembelajaran. Modul Ajar, guru merancang pembelajaran perminggu dengan 20% project dari intrakulikuler contoh perminggu mata pelajaran PKn 4 jam, maka 3 jam intrakulikuler dan 1 jam kokulikuler, mata pelajaran IPA dan IPS disatukan menjadi IPAS, pembelajaran berbasis proyek tetapi tidak mengurangi intrakulikuler, mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya hanya bisa diajarkan satu bidang saja, dan setiap kelas dibagi menjadi beberapa fase. Melalui Kurikulum Merdeka Belajar, pemerintah mengajak guru untuk menciptakan berbgai kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran sehingga mampu melaksanakan konsep Merdeka Belajar untuk mecapai Profil Pelajar Pancasila. Sudah menerapkan berbagai konsep dari Merdeka Belajar dari pembuatan administrasi perencanaan pembelajaran meskipun masih dibuat secara berkelompok, menerapkan pembelajaran berbasis proyek kelas maupun proyek sekolah, dan penerapan Profil Pelajar Pancasila meskipun masih perlu adanya perbaikan dan pengembangan karena baru satu tahun proses implementasinya. Hal ini agar konsep Kurikulum Merdeka Belajar yang ingin dicapai dapat terealisasikan dengan baik (Muin et al. , 2. Kemudian kesulitan yang sampai saat ini di rasakan guru dalam menyesuaikan kurikulum baru Perencanaan Pembelajaran Guru dihadapkan dengan kesulitan saat menyusun perencanaan pembelajaran yaitu pada saat menganalisi Capaian Pembelajaran yang akan dicapai oleh siswa dikarenakan dibuat per fase, kemudian merumuskannya dalam bentuk Tujuan Pembelajaran (TP) dan menyusunya dalam bentuk Alur Tujuan Pembelajaran (ATP). Tidak hanya demikian, guru yang tidak bisa menggunakan teknologi dengan baik, maka akan mengalami kesulitan-kesulitan dalam pembuatan RPP. Hal ini yang dialami oleh salah satu guru yang mengaku kesulitan dalam menyusun Modul Ajar. Selain itu permasalahan yang dialami guru yaitu masih kesulitan dalam menentukan metode dan strategi pembelajaran yang tepat bagi anak agar proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan juga siswa ikut aktif dalam prose pembelajaran (Wiguna & Tristaningrat, 2. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Khoirurrijal dalam bukunya yang mengatakan bahwa perencanaan pembelajaran merupakan gambaran umum tentang langkah-langkah yang akan dilakukan seorang guru didalam kelas pada waktu yang akan datang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien (Muin et al. , 2. Dengan demikian, sebagai seorang perancang pembelajaran, guru bertugas membuat rancangan program pembelajarannya . eliputi perorganisasian bahan ajar, penyajian, dan evaluas. yang menjadi tanggung jawabnya sesuai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Inti dari Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Analisis Kesulitan Guru Selama Proses Pembelajaran Pada Saat Pergantian Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar Ae Anisya Al Husna. Henry Aditia Rigianti DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. perencanaan pembelajaran ialah menetapkan metode pembelajaran yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan (Mulyasa, 2. Pelaksanaan Pembelajaran Keberhasilan dalam menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar tidak hanya dilihat dari perencanaan pembelajarannya saja, tetapi dilihat juga dari pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan perencanaan pembelajaraan yang telah dibuat (Nasution, 2. Terdapat beberapa permasalahan yang dialami guru saat melaksanakan pembelajaran yaitu permasalahan yang terjadi dikarenakan masih terbatasnya buku ajar berupa buku siswa, kurangnya kemampuan dan kesiapan guru dalam menggunkan media pembelajaran dan belum mahir dalam mengaplikasikan teknologi dalam pembelajaran, permasalahan yang dialami guru juga dari materi ajar yang terlalu luas serta minimnya metode pembelajaran yang digunaan guru dalam mengajar (Zahirah et al. , 2. Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek guru juga mengalami beberapa kesulitan dalam menentukan proyek kelas untuk kelas I dan IV serta kurangnya alokasi waktu untuk pembelajaran berbasis proyek. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Mulyasa dalam bukanya yang berjudul Menjadi Guru Penggerak Merdeka Belajar mengatakan bahwa merdeka belajar mengedepankan proses belajar yang mampu menumbuhkan kreativitas peserta didik, melalui pendekatan dan metode yang dapat melatih kemampuan berfikir peserta didik tingkat tinggi. Metode yang digunanakan adalah scientific, problem based learning, project based learning, inquiry, observasi, tanya jawab, hingga presentasi. Efektivitas pendekatan dan metode-metode tersebut dalam pembelajaran sangat ditentukan oleh gurunya, yakni guru penggerak merdeka belajar Penilaian Pembelajaran Guru tidak begitu mengalami kesulitan dalam melakukan asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif hanya saja terkendala dalam menentukan asesmen yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, menentukan asesmen pada saat pembelajaran berbasis proyek hal ini membingungkan bagi guru dikarenakan banyaknya jenis atau bentuk asesmen seperti presentasi, proyek, produk, lisan, tulisan dan sebagainya (Susilowati, 2. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Jenny Indrastoeti dan Siti Istiyati dalam bukunya yang berjudul Asesmen dan Evaluasi Pembelajaran di Sekolah Dasar mengatakan bahwa secara garis besar asesmen dibagi menjadi dua, yaitu asesmen formatif dan asesmen sumatif dan ada juga yang mengatakan asessment for learning dan asessment of learning. Asemen formatif merupakan bagian integral dari proses pembelajaran yang dilakukan dengan maksud memantau sejauh manakah suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Sedangakan asesmen sumatif dilakukan diakhir satuan pembelajaran untuk menentukan kadar efektivitas program pembelajaran (SyafiAoi, 2. Upaya guru dalam menghadapi kesulitan tersebut. Perencanaan Pembelajaran Dalam mengatasi berbagai kesulitan atau kendala dalam Kurikulum Merdeka Belajar ini dibentuklah Kelompok Kerja Guru (KKG) untuk mengatasi berbagai persoalan dalam perencanaan pembelajaran, penerapakan, dan penilaian di Kurikulum Merdeka Belajar. Pelaksanaan Pembelajaran Mengikuti pelatihan Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar demi memperbaiki kualitas para guru. Penilaian Pembelajaran Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti maka solusi yang dilakukan guru adalah mencari lebih banyak informasi atau referensi tentang asesmen pembelajaran dan rutin mengikuti pelatihan. Adakah beberapa hal yang peru diperhatikan selama masa pergantian kurikulum. Upaya Guru untuk Mengatasi Problematika selama pergantian kurikulum pada Siswa Kelas I dan IV ialah dengan Melakukan Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Analisis Kesulitan Guru Selama Proses Pembelajaran Pada Saat Pergantian Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar Ae Anisya Al Husna. Henry Aditia Rigianti DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. pertemuan rutin dengan Kelompok Kerja Guru (KKG), pendampingan dengan PMO dan pendampingan dengan khusus coaching kepala sekolah, menggunakan buku abjad, menulis dipapan tulis, ketik sendiri, membuat lembar kerja sendiri, dan membuat format untuk proyek sendiri, melanjutkan proyek dirumah, membuat catatan, dan mengikuti pelatihan implementasi Kurikulum Merdeka Belajar. Tips yang bisa kami sebagai calon guru lakukan dalam menghadapi perubahan kurikulum nantinya. Supaya dapat meningkatkan kembali pemahaman tentang perubahan Kurikulum, sehingga dalam proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan kurikulum yang sedang diberlakukan. Selain itu, guru perlu menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan, dan guru perlu meningkatkan kreatifitasnya dalam menggunakan metode dan media pembelajaran supaya siswa lebih antusias dalam kegiatan pembelajaran didalam kelas dan suasana pembelajaran lebih hidup. Kajian pustaka di samping membekali peneliti dengan landasan yang diinginkan, juga mencerminkan kedalaman teori yang terlibat dalam penelitian. Jadi kedudukan kajian pustaka dalam penelitian menempati peranan yang strategis karena dapat merefleksikan kadar keilmiahan suatu penelitian. Tentunya hal ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang hanya berfokus pada pengimplementasian kurikulum tanpa mempetimbangkan dan melihat bagaimana guru mengalami kesulitan dalam proses perubahan kurikulum 2013 menuju kurikulum merdeka. KESIMPULAN Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar pada siswa kelas I dan IV sudah berjalan cukup baik, yaitu masih diterapkan secara bertahap yaitu baru untuk kelas I dan IV sedangkan kelas II, i. V dan VI masih menerapkan Kurikulum 2013. Hal-hal yang telah diterapkan yaitu pembelajaran berbasis proyek, melakukan asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif, /pembelajaran berbasis mata pelajaran, mata pelajaran IPA dan IPS digabungkan menjadi IPAS, membuat raport, sedangkan perangkat ajar seperti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) dan Modul Ajar masih dikerjakan secara berkelompok. Problematika Guru dalam Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar Pada Siswa yaitu pada perencanaan pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. Problematika yang dihadapi mulai dari menganalisis Capaian Pembelajaran (CP) menjadi Tujuan Pembelajaran (TP), menyusunya Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) dan membuatnya dalam bentuk Modul Ajar, kesulitan dalam menentukan metode dan strategi pembelajaran yang tepat serta masih minimnya kemampuan guru dalam menggunakan teknologi. Selain itu, terbatasnya buku siswa kurangnya kemampuan dan kesiapan guru dalam menggunkan metode dan media pembelajaran yang bervariasi, kurang mahir dalam mengaplikasikan teknologi dalam pembelajaran, materi ajar yang terlalu luas, serta dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek guru kesulitan dalam menentukan proyek kelas di kelas I dan IV serta kurangnya alokasi waktu untuk pembelajaran berbasis proyek, menentukan bentuk asesmen yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, dan menentukan bentuk asesmen pada saat pembelajaran berbasis proyek. Upaya Guru untuk Mengatasi Problematika terhadap Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar pada Siswa ialah dengan Melakukan pertemuan rutin dengan Kelompok Kerja Guru (KKG), pendampingan dengan PMO dan pendampingan dengan khusus coaching kepala sekolah, menggunakan buku abjad, menulis dipapan tulis, ketik sendiri, membuat lembar kerja sendiri, dan membuat format untuk proyek sendiri, melanjutkan proyek dirumah, membuat catatan, dan mengikuti pelatihan implementasi Kurikulum Merdeka Belajar. DAFTAR PUSTAKA