AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 11-24 AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak Journal homepage: https://ejournal. edu/audiensi p-ISSN 2829-9353 e-ISSN 2829-8659 Upaya Meningkatkan Ketrampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Kolase Pada Kelompok B TK Salafiyah Moga I Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang Semester I Tahun 2021/2022 Diyah Andarini TK Salafiyah Moga I, diyahandarini99@gmail. INFO ARTIKEL Riwayat Artikel: Received: 2024-08-21 Revised: 2024-08-27 Accepted: 2024-08-27 Keywords: Fine Motor Skills. Children. Collage Technique Kata Kunci: Motorik Halus. Anak. Teknik Kolase ABSTRACT This study aims to improve the fine motor skills of Group B Children of Tk Salafiyah Moga I. Moga District. Pemalang Regency. Because of the problems that show that the fine motor skills of group B children at Salafiyah Moga I Kindergarten are still low. Learning strategies are less varied and learning to stimulate fine motor skills is less than perfect. This is because learning does not provide opportunities for children to express only follow the learning delivered by the teacher. This research uses Classroom Action Research (PTK). The subjects of this study were Group B students of Tk Salafiyah Moga I. Moga District. Pemalang Regency. The results of this study after taking action there is a change towards the better. Seen in each cycle in the learning stages of applying collage techniques from natural materials. The results of observations from the average assessment of fine motor skills tests as a whole class of children in the observation of the new pre-cycle of about 20% in class action research began to increase from cycle I to 40% and increased in cycle II to 80%. Based on the results of the study it can be concluded that through collage techniques can improve fine motor skills in early childhood in Group B Tk Salafiyah Moga I. Moga District. Pemalang Regency. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak-anak di Kelompok B TK Salafiyah Moga I. Kecamatan Moga. Kabupaten Pemalang. Hal ini didorong oleh masalah rendahnya kemampuan motorik halus anak di kelompok Strategi pembelajaran yang kurang bervariasi dan stimulasi yang kurang optimal terhadap kemampuan motorik halus menjadi penyebab utama, di mana pembelajaran cenderung tidak memberi anak kesempatan untuk berekspresi. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan subjek siswa Kelompok B TK Salafiyah Moga I. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbaikan yang signifikan setelah tindakan dilakukan. Setiap siklus pembelajaran yang menerapkan teknik kolase dari bahan alam menunjukkan Pengamatan terhadap rata-rata hasil tes kemampuan motorik halus anak secara keseluruhan menunjukkan bahwa pada observasi pra siklus, hanya sekitar 20% anak yang mencapai kemampuan motorik halus yang diharapkan. Persentase ini meningkat menjadi 40% pada siklus I, dan naik lagi menjadi 80% pada siklus II. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa teknik kolase efektif dalam meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia dini di Kelompok B TK Salafiyah Moga I. Kecamatan Moga. Kabupaten Pemalang. Upaya Meningkatkan Ketrampilan Motorik Halus Anak A (D. Andarin. PENDAHULUAN Tujuan pendidikan, khususnya pendidikan anak usia taman kanak-kanak (TK), difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Anak-anak dididik agar menjadi individu yang kreatif dan mandiri, siap menghadapi tantangan dan persaingan di masa depan. Oleh karena itu, penyelenggaraan pendidikan harus menekankan pada peningkatan efektivitas proses belajar mengajar di sekolah. Dalam pembelajaran, anak-anak memerlukan kegiatan yang menyenangkan, sehingga bermain menjadi sarana belajar yang penting. Bermain membantu anak mempersiapkan diri untuk menghadapi tahap kehidupan berikutnya dan merupakan cara untuk mengembangkan berbagai aspek perkembangan seperti kognitif, emosi, fisik, sosial, dan seni. Melalui kegiatan bermain dengan alat permainan atau pembelajaran, anak-anak distimulasi untuk berkembang dengan baik dan menjadi lebih kreatif (Putri & Harfiani, 2. Perkembangan anak secara keseluruhan, termasuk perkembangan fisik, sangat erat kaitannya dengan perkembangan motorik. Perkembangan motorik merupakan salah satu faktor penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Motorik adalah pengembangan kontrol gerak tubuh melalui kegiatan yang terkoordinasi antara sistem saraf, otot, otak, dan sumsum tulang belakang. Perkembangan motorik mencakup motorik kasar dan halus, yang akan mempengaruhi kemampuan sosial emosional, bahasa, fisik, dan seni anak. Keterampilan motorik halus umumnya memerlukan waktu yang relatif lama untuk berkembang dan menyesuaikan diri. Proses ini penting bagi seorang anak, karena motorik halus melibatkan koordinasi otot-otot kecil seperti tangan, jari, dan mata, yang sangat penting dalam kegiatan sehari-hari seperti menulis, menggambar, dan menggunakan alat-alat kecil (Listianingsih. Amalia & Joni, 2. Oleh karena itu, diperlukan intensitas kegiatan yang konsisten dan berkesinambungan untuk mengasah dan meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Tanpa latihan yang terus-menerus, perkembangan keterampilan ini bisa terhambat, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi kemampuan anak dalam aktivitas yang lebih kompleks di masa depan. Usia emas dalam perkembangan motorik terjadi pada masa kanak-kanak, terutama pada periode middle childhood atau usia prasekolah. Pada masa ini, anakanak berada dalam fase kritis di mana dasar-dasar penting untuk berbagai aspek perkembangan mulai terbentuk. Selain motorik halus, anak-anak juga mulai mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, konsep diri, disiplin, kemandirian, seni, moral, dan nilai-nilai agama (Muslihan & Akbar, 2. Ini adalah masa di mana otak anak berkembang pesat, dan pengalaman yang mereka peroleh selama periode ini akan sangat mempengaruhi bagaimana mereka belajar dan berinteraksi dengan dunia di sekitar mereka di masa depan. Dalam tahapan perkembangan, kemampuan motorik kasar biasanya AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 11-24 berkembang lebih awal daripada motorik halus. Ini terlihat jelas ketika seorang anak mulai bisa berjalan, menggunakan otot-otot kaki yang lebih besar dan kuat. Setelah kemampuan motorik kasar ini berkembang, barulah anak mulai mengembangkan kontrol yang lebih halus atas otot-otot kecil, seperti yang digunakan untuk menggambar, menulis, dan memotong dengan gunting (Shafina, 2. Proses ini menunjukkan bahwa perkembangan motorik kasar menjadi fondasi yang penting bagi perkembangan motorik halus. Dengan demikian, memberikan stimulasi yang tepat dan latihan yang cukup pada kedua jenis keterampilan motorik ini sangat penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal. Kemampuan motorik halus setiap anak bervariasi, ada yang berkembang dengan cepat, sementara yang lain mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk mencapai tingkat kematangan yang sama. Perbedaan ini bergantung pada berbagai faktor, termasuk kemampuan individu anak, lingkungan, dan dukungan yang mereka terima dari orang tua dan pendidik (Mustiani. MY, & Hayat, 2. Oleh karena itu, sangat penting bagi pendidik dan orang tua untuk memahami tantangan yang dihadapi anak dalam mengembangkan keterampilan motorik halus dan mencari solusi yang efektif untuk membantu mereka. Pendekatan yang tepat dapat mencakup pemberian perhatian khusus, penggunaan metode yang menarik, serta memberikan waktu dan kesempatan yang cukup bagi anak untuk berlatih. Proses pembelajaran yang menyenangkan dan menarik tidak hanya penting untuk perkembangan motorik halus, tetapi juga berpengaruh besar terhadap kemajuan anak dalam aspek akademik lainnya serta dalam menumbuhkan kreativitas. Masa kanak-kanak awal merupakan periode yang paling potensial untuk belajar, karena pada masa ini, otak anak berada dalam fase perkembangan yang sangat cepat. Memanfaatkan periode ini untuk memberikan stimulasi belajar yang efektif sangat penting dalam mendorong pertumbuhan dan perkembangan optimal anak (Setianingsih. Suzanti & Widjayatri, 2. Dengan memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bervariasi, kemampuan motorik halus anak dapat dioptimalkan sejak dini. Ini bisa dilakukan melalui berbagai kegiatan yang melibatkan penggunaan tangan dan jari, seperti bermain dengan blok, menggambar, atau melakukan kerajinan tangan. Proses ini bukan hanya tentang latihan fisik, tetapi juga melibatkan aspek kognitif dan emosional, yang semuanya berkontribusi pada perkembangan keseluruhan anak (Ndraha & Kurniawan, 2. Oleh karena itu, guru dan pendidik perlu merancang kegiatan belajar yang sesuai dengan tahap perkembangan anak untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan motorik halus mereka secara maksimal. Dengan pendekatan yang tepat, anak-anak dapat tumbuh menjadi individu yang tidak hanya cakap secara motorik, tetapi juga kreatif dan Upaya Meningkatkan Ketrampilan Motorik Halus Anak A (D. Andarin. mandiri dalam berpikir serta bertindak. Dalam konteks pembelajaran di sekolah, terdapat beragam pendekatan dan kegiatan yang dapat mendukung perkembangan motorik halus anak. Salah satu metode yang efektif adalah permainan kolase. Teknik kolase merupakan kegiatan menggambar yang tidak hanya dapat meningkatkan kemampuan motorik halus, tetapi juga memiliki manfaat lain yang signifikan. Metode ini dapat membantu anak dalam mengembangkan kemampuan logis-matematis, kreativitas, serta kemampuan berbahasa (Novanti & Wijaya, 2. Ketika anak terlibat dalam kegiatan kolase, mereka secara tidak langsung mengembangkan skemata, atau pola pengetahuan, yang membantu mereka dalam mengidentifikasi dan mengorganisir material yang digunakan dalam kolase. Kemampuan motorik halus anak terasah ketika mereka melakukan aktivitas seperti memotong, menempel, dan menyusun berbagai bahan untuk menciptakan gambar kolase. Proses ini memerlukan koordinasi yang baik antara mata dan tangan, yang merupakan inti dari perkembangan motorik halus. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong perkembangan kecerdasan logis-matematis, karena anak harus mencocokkan dan menyusun potongan-potongan material berdasarkan pengetahuan yang mereka peroleh dari observasi dan pengalaman sebelumnya (Anggraini. Sit & Basri, 2. Ketika anak-anak mengkonstruksi material tersebut, mereka belajar untuk berpikir kritis dan logis, yang merupakan dasar dari pemahaman matematis. Lebih jauh, kreativitas anak juga ditingkatkan melalui teknik kolase, karena mereka diberi kebebasan untuk mengkreasikan dan menggabungkan berbagai bentuk dan warna untuk menciptakan sebuah karya yang unik. Ini tidak hanya mendorong anak untuk berimajinasi, tetapi juga memungkinkan mereka untuk mengekspresikan diri mereka secara bebas. Dengan berimajinasi dan bereksperimen dalam menyusun gambar kolase, anak-anak belajar untuk mengembangkan ide-ide baru dan solusi kreatif, yang merupakan keterampilan penting dalam kehidupan mereka di masa Teknik kolase bagi anak-anak usia dini merupakan bentuk kegiatan bermain yang sarat dengan unsur pendidikan. Bermain adalah bagian integral dari perkembangan anak, dan melalui permainan seperti kolase, anak-anak tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga mematangkan berbagai aspek perkembangan mereka, termasuk kognitif, sosial, dan emosional (Telaumbanua & BuAoulolo, 2. Dengan demikian, kolase bukan hanya sekadar aktivitas seni, tetapi juga alat pembelajaran yang kompleks yang dapat mendukung pertumbuhan anak secara TK Salafiyah Moga I adalah sebuah lembaga pendidikan anak usia dini yang AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 11-24 sangat memperhatikan pentingnya kegiatan bermain serta upaya untuk mendorong kreativitas anak. Salah satu kegiatan yang menjadi fokus di sekolah ini adalah teknik kolase, yang dianggap mampu merangsang kreativitas anak-anak. Melalui kegiatan ini, diharapkan anak-anak dapat menjadi lebih kreatif, disiplin, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, yang pada gilirannya akan memicu mereka untuk berkreasi secara Namun, dalam praktiknya, kegiatan kolase yang dilakukan di kelompok B TK Salafiyah Moga I masih belum mencapai hasil yang diharapkan. Dari sampel 5 anak yang diteliti, hanya 1 anak . %) yang mampu membentuk kolase dengan baik, sementara 4 anak lainnya . %) hanya mampu menggambar kolase sesuai dengan bentuk yang telah didemonstrasikan oleh guru, dan hasilnya pun masih belum rapi. Ini menunjukkan bahwa keterampilan motorik halus anak-anak di kelompok ini masih memerlukan peningkatan. Berdasarkan hasil pengamatan ini, penulis tertarik untuk menerapkan kegiatan permainan dengan teknik kolase sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan motorik halus di TK Salafiyah Moga I. Kecamatan Moga. Kabupaten Pemalang. Oleh karena itu, peneliti memutuskan untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul "Upaya Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Kolase di Kelompok B TK Salafiyah Moga I Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang Tahun Pelajaran 2021/2022. " Penelitian ini bertujuan untuk menemukan strategi yang lebih efektif dalam menerapkan teknik kolase, sehingga dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak-anak secara keseluruhan. KAJIAN PUSTAKA Kata "motorik" berasal dari kata "motor," yang merujuk pada dasar mekanika yang memicu terjadinya suatu gerakan. Gerakan atau movement merupakan aktivitas yang didasari oleh proses motorik, yang melibatkan koordinasi sistem pola gerakan yang kompleks, mencakup otak, saraf, otot, dan rangka. Proses ini dikenal sebagai proses cipta gerak, di mana keempat unsur tersebut bekerja secara terpadu dan tidak dapat berfungsi secara terpisah. Kemampuan motorik halus, khususnya, merujuk pada keterampilan fisik yang melibatkan otot-otot kecil serta koordinasi antara mata dan Kemampuan ini dapat ditingkatkan melalui latihan dan rangsangan yang dilakukan secara rutin dan berkesinambungan (Listianingsih. Amalia & Joni, 2. Latihan yang dapat mengembangkan saraf motorik halus mencakup berbagai aktivitas seperti bermain kolase, menyusun puzzle, menyusun balok, memasukkan benda ke dalam lubang yang sesuai bentuknya, serta menggambar garis. Semua kegiatan ini membutuhkan koordinasi yang baik antara mata dan tangan, sehingga keterampilan motorik halus anak dapat berkembang dengan optimal. Perkembangan gerakan tangan yang baik memerlukan latihan yang terus-menerus. Upaya Meningkatkan Ketrampilan Motorik Halus Anak A (D. Andarin. Berdasarkan teori ini, pengembangan keterampilan motorik halus pada anakanak usia dini, khususnya anak-anak di taman kanak-kanak, memerlukan kegiatankegiatan yang melibatkan latihan otot-otot tangan. Pada usia ini, bermain sambil belajar menjadi metode yang efektif untuk melatih otot-otot tangan dan mengembangkan motorik halus anak. Dalam kurikulum dan bahan belajar taman kanak-kanak, kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan motorik halus sangat penting dalam mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Dengan demikian, mengintegrasikan aktivitas-aktivitas ini dalam pembelajaran sehari-hari dapat membantu anak mencapai perkembangan motorik yang optimal (Seftyani, 2. Kolase adalah salah satu bentuk seni rupa yang melibatkan kegiatan menempelkan potongan-potongan kertas atau material lain untuk membentuk desain atau pola tertentu. Dalam seni kolase, material yang digunakan, seperti kerangkerangan, potongan foto, atau benda-benda bekas lainnya, harus tetap mempertahankan bentuk aslinya, meskipun sudah disusun menjadi satu kesatuan. Ini berarti, meskipun material tersebut telah dirangkai bersama, bentuk aslinya masih dapat dikenali. Seni kolase ini sangat diminati oleh seniman terkenal seperti Pablo Picasso. Georges Braque. Max Ernst, dan Henri Matisse, yang sering menggunakannya untuk menciptakan karya-karya inovatif. Dalam pembuatan kolase, ada empat unsur utama yang perlu diperhatikan (Setiawan. Ardana & Koriawan, 2. , yaitu: Titik dan Bintik: Titik merupakan unit unsur terkecil yang tidak memiliki panjang atau lebar, sedangkan bintik adalah versi titik yang sedikit lebih besar. Dalam kolase, unsur titik dapat dihasilkan dari butiran pasir laut, sementara bintik bisa diwujudkan dari biji-bijian kecil seperti lada atau bahan lain yang berukuran serupa. Garis: Garis adalah perpanjangan dari titik yang memiliki panjang namun relatif tidak memiliki lebar. Ada berbagai jenis garis yang dapat digunakan dalam kolase, termasuk garis lurus, garis lengkung, garis putus-putus, dan garis Unsur garis dalam kolase dapat diwujudkan dengan menggunakan potongan kawat, lidi, batang korek api, benang, dan sebagainya. Garis-garis ini membantu menciptakan struktur dan bentuk dalam karya kolase. Bidang: Bidang adalah unsur rupa yang terbentuk dari pertemuan beberapa Bidang ini dapat bersifat horizontal, vertikal, atau melintang, dan dapat diaplikasikan dalam bentuk dua dimensi . D) maupun tiga dimensi . D). Misalnya, bidang datar dapat diciptakan dengan menggunakan potongan kertas, sementara bidang bervolume bisa diwujudkan dengan bahan yang memiliki ketebalan atau ketinggian. AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 11-24 Warna: Warna adalah unsur penting dalam kolase yang menambah keindahan dan daya tarik visual. Warna dapat dibagi menjadi tiga kategori utama: warna primer, sekunder, dan tersier. Dalam kolase, warna dapat diwujudkan melalui penggunaan cat, pita, kertas berwarna, kain, dan bahan-bahan lain yang memberikan variasi warna pada karya tersebut. Seni kolase juga memiliki manfaat tambahan, terutama dalam mendukung kebersihan lingkungan. Misalnya, anak-anak dapat diarahkan untuk menggunakan bahan-bahan bekas atau sampah yang telah dibersihkan sebagai material untuk kolase Ini tidak hanya membantu mengasah imajinasi mereka tetapi juga mengajarkan pentingnya daur ulang dan penggunaan ulang barang-barang yang sudah tidak terpakai. Selain itu, kegiatan ini dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak, karena mereka didorong untuk menjelaskan makna dari karya yang mereka buat kepada guru atau orang tua. Melalui kolase, anak-anak juga dilatih untuk mengembangkan kepekaan estetis serta rasa empati terhadap lingkungan dan bendabenda di sekitar mereka. Kegiatan kolase merupakan salah satu bentuk seni visual yang melibatkan menempelkan berbagai bahan seperti kertas, kain, atau benda-benda kecil lainnya ke dalam sebuah desain. Pada anak usia dini, kolase tidak hanya menjadi sarana ekspresi kreatif tetapi juga memiliki peran penting dalam menstimulasi perkembangan fisik, khususnya keterampilan motorik halus (Seftyani, 2. Motorik halus mencakup kemampuan anak dalam melakukan gerakan kecil yang melibatkan otot-otot halus, terutama pada tangan dan jari. Aktivitas seperti memotong kertas, menempelkan potongan-potongan kecil, dan menyusun material dalam kolase sangat efektif dalam melatih koordinasi mata dan tangan. Kemampuan motorik halus sangat penting bagi anak usia dini, karena menjadi dasar bagi berbagai keterampilan lain, seperti menulis, menggambar, dan menggunakan alat-alat kecil. Kegiatan kolase menuntut anak untuk melakukan serangkaian gerakan yang terkoordinasi, mulai dari memegang gunting, memotong kertas sesuai bentuk yang diinginkan, hingga menempelkan potongan-potongan tersebut pada media yang telah Proses ini membantu anak dalam mengembangkan kontrol tangan dan jari, serta meningkatkan ketelitian dan kesabaran. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat otot-otot tangan dan jari, yang merupakan dasar penting untuk keterampilan menulis dan aktivitas lainnya di masa mendatang. Lebih jauh, kolase juga berperan dalam mengembangkan keterampilan kognitif dan kreativitas anak. Melalui kolase, anakanak belajar mengenal bentuk, warna, dan tekstur, serta bagaimana menggabungkan elemen-elemen tersebut menjadi sebuah karya yang utuh (Muslihan & Akbar, 2. Ini tidak hanya merangsang imajinasi anak tetapi juga membantu mereka dalam mengembangkan kemampuan problem-solving dan berpikir kritis. Tersebut pun dapat dinilai sebagai alat pembelajaran yang holistik, yang tidak hanya menstimulasi perkembangan motorik halus anak, tetapi juga mendukung perkembangan kognitif. Upaya Meningkatkan Ketrampilan Motorik Halus Anak A (D. Andarin. emosional, dan sosial mereka. Dengan demikian, kolase adalah salah satu metode yang sangat dianjurkan untuk diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan anak usia dini. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research, yang dilakukan untuk mengamati dan mengevaluasi proses pembelajaran melalui tindakan yang sengaja dilakukan dalam suatu kelas. PTK bertujuan untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang muncul dalam pembelajaran melalui intervensi yang sistematis. Dalam penelitian ini, digunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang efek dari intervensi yang dilakukan. Subjek penelitian ini adalah murid kelas B2 di TK Salafiyah Moga I, yang terdiri dari 5 anak. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2021, pada semester 1 tahun ajaran 2021/2022. Proses penelitian dilakukan dalam dua siklus, dengan masing-masing siklus terdiri dari satu pertemuan yang berlangsung selama 60 menit. Setiap siklus dalam PTK mengikuti tahapan yang dikemukakan oleh Arikunto . , yang mencakup empat kegiatan utama: Perencanaan (Plannin. : Tahap ini melibatkan perencanaan yang matang mengenai tindakan apa yang akan dilakukan dalam pembelajaran, termasuk penyusunan materi, alat bantu, dan strategi yang akan digunakan. Pelaksanaan Tindakan (Actin. : Pada tahap ini, rencana yang telah disusun diimplementasikan dalam kelas. Tindakan ini dilakukan untuk melihat bagaimana intervensi tersebut mempengaruhi proses pembelajaran dan perkembangan siswa. Observasi (Observin. : Selama tindakan berlangsung, observasi dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai respons siswa dan efektivitas tindakan. Data yang dikumpulkan bisa berupa catatan lapangan, hasil kerja siswa, atau tes yang dilakukan untuk mengukur pencapaian siswa. Refleksi (Reflectin. : Tahap ini melibatkan analisis data yang telah dikumpulkan selama observasi. Peneliti mengevaluasi hasil tindakan, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan, serta merencanakan tindakan yang perlu diambil pada siklus berikutnya jika diperlukan. Analisis data dilakukan dengan menggabungkan data kualitatif dan kuantitatif untuk memberikan gambaran yang menyeluruh tentang dampak dari tindakan yang Data kualitatif, seperti catatan observasi dan refleksi guru, dianalisis dengan metode deskriptif, sementara data kuantitatif, seperti hasil tes atau penilaian siswa, dianalisis dengan statistik sederhana untuk melihat perubahan yang terjadi dari AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 11-24 satu siklus ke siklus berikutnya. Dengan demikian. PTK ini tidak hanya mengidentifikasi masalah, tetapi juga memberikan solusi praktis yang dapat langsung diterapkan dalam konteks pembelajaran. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian dari siklus I dan II menunjukkan bahwa penggunaan teknik kolase dengan berbagai media secara efektif dapat meningkatkan keterampilan motorik halus anak. Penelitian ini mengamati kemajuan kemampuan motorik halus peserta didik melalui kegiatan kolase yang diterapkan dalam dua siklus. Pada siklus I, meskipun penggunaan media kolase menunjukkan hasil yang menjanjikan, masih terdapat beberapa anak yang belum menunjukkan perkembangan yang memadai dalam keterampilan motorik halus mereka. Dari lima anak yang terlibat, hanya satu anak yang berhasil mencapai tingkat keterampilan yang memadai, dengan persentase ketuntasan sekitar 20%. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun kegiatan kolase mulai memberikan dampak positif, perlu dilakukan perbaikan dan penyesuaian untuk meningkatkan efektivitasnya. Beberapa anak menunjukkan kesulitan dalam mengkoordinasikan gerakan tangan dan jari mereka, yang menunjukkan bahwa teknik kolase pada siklus I belum sepenuhnya berhasil dalam meningkatkan keterampilan motorik halus secara optimal. Menanggapi hasil ini, pada siklus II dilakukan berbagai perbaikan. Guru berusaha untuk meningkatkan motivasi dan minat anak-anak sebelum memulai kegiatan dengan menyediakan alat dan bahan yang lebih menarik serta relevan. Selain itu, guru melakukan pendekatan yang lebih aktif, seperti memberikan motivasi tambahan, melakukan tanya jawab, dan menayangkan video yang berkaitan dengan tema kegiatan, yaitu binatang, khususnya binatang berkaki empat seperti domba. Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan keterlibatan anak-anak dalam kegiatan kolase. Perubahan yang dilakukan pada siklus II menunjukkan hasil yang signifikan. Dari lima anak, empat anak . %) menunjukkan kemampuan yang memadai dalam melaksanakan kegiatan kolase dengan hasil yang rapi dan tanpa memerlukan bimbingan intensif. Ini merupakan peningkatan yang jelas dibandingkan dengan siklus I, di mana hanya satu anak yang mencapai hasil yang diinginkan. Persentase keberhasilan yang meningkat pada siklus II menunjukkan bahwa perbaikan yang dilakukan efektif dalam merangsang keterampilan motorik halus anak. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan teknik kolase dengan media yang bervariasi dan strategi pengajaran yang diperbaiki dapat secara signifikan meningkatkan keterampilan motorik halus anak usia dini. Penerapan Upaya Meningkatkan Ketrampilan Motorik Halus Anak A (D. Andarin. metode yang lebih menarik dan melibatkan interaksi aktif antara guru dan siswa terbukti efektif dalam memperbaiki dan meningkatkan hasil keterampilan motorik halus anak-anak. Dengan demikian, kegiatan kolase dapat dianggap sebagai alat yang berharga dalam pengembangan keterampilan motorik halus anak dan sebagai metode yang layak untuk diterapkan dalam pendidikan anak usia dini. Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan kolase secara efektif meningkatkan kemampuan motorik halus anak-anak kelompok B di TK Salafiyah Moga I untuk tahun ajaran 2021/2022. Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi dengan teknik kolase tidak hanya meningkatkan keterampilan motorik halus tetapi juga membantu anak-anak dalam mengembangkan koordinasi tangan dan jari serta ketelitian dalam aktivitas kreatif. Refleksi yang dilakukan setelah setiap siklus memiliki peranan penting dalam mengidentifikasi dan memperbaiki kekuatan dan kelemahan dalam pelaksanaan kegiatan kolase. Proses refleksi ini bertujuan untuk memperoleh wawasan mendalam mengenai efektivitas tindakan yang telah diterapkan dan mengidentifikasi area yang masih memerlukan Refleksi dilakukan setelah melaksanakan perbaikan pembelajaran untuk menilai sejauh mana tindakan tersebut berdampak pada peningkatan kemampuan motorik halus anak-anak. Dalam hal ini, refleksi memberikan kesempatan untuk mengevaluasi hasil yang telah dicapai, serta merencanakan langkah-langkah berikutnya yang dapat lebih meningkatkan efektivitas pembelajaran. Pada siklus II, hasil penilaian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan siklus I. Hal ini tercermin dari keberhasilan empat anak dari lima yang mampu melaksanakan kegiatan kolase dengan baik dan tanpa bimbingan, yang menunjukkan peningkatan sebesar 60% dari siklus I. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai perubahan ini, penulis akan menyajikan data dalam bentuk tabel perbandingan antara nilai pra-siklus dan hasil pada hari ketiga siklus II. Tabel ini akan menggambarkan secara kuantitatif perbandingan hasil sebelum dan setelah implementasi perbaikan, serta menunjukkan dampak langsung dari intervensi yang dilakukan. Penting untuk dicatat bahwa tabel perbandingan ini tidak hanya menunjukkan kemajuan individual anak-anak, tetapi juga mencerminkan peningkatan keseluruhan dalam kelompok. Dengan menampilkan data secara terperinci, dapat diidentifikasi tren positif serta area yang masih memerlukan perhatian. Hal ini akan membantu dalam merumuskan strategi yang lebih efektif untuk kegiatan pembelajaran selanjutnya dan memberikan panduan bagi pengembangan metode pengajaran di masa depan. Secara keseluruhan, hasil ini memperkuat argumen bahwa kegiatan kolase adalah metode yang efektif untuk meningkatkan keterampilan motorik halus anakanak, asalkan dilakukan dengan perencanaan yang baik dan disertai dengan refleksi AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 11-24 yang mendalam untuk perbaikan berkelanjutan. Analisis data yang lebih mendalam dari tabel perbandingan ini diharapkan dapat memberikan wawasan tambahan dan mendukung pengembangan strategi pengajaran yang lebih baik dalam konteks pendidikan anak usia dini. Tabel 1. Tabel Perbandingan Nilai Pra Siklus dengan Siklus II KETERANGAN BAIK SEDANG KURANG Prasiklus 0 anak . %) 1 anak . %) 4 anak . %) Siklus I 1 anak . %) 1 anak . %) 3 anak . %) Siklus II 2 anak . %) 2 anak . %) 1 anak . %) Berdasarkan data yang disajikan, terdapat peningkatan yang signifikan dalam pencapaian nilai baik di antara para siswa selama dua siklus pembelajaran. Pada awalnya, tidak ada siswa yang memperoleh nilai baik . %), namun pada siklus pertama, terjadi peningkatan dengan satu siswa . %) yang mencapai kategori Peningkatan ini terus berlanjut pada siklus kedua, di mana jumlah siswa dengan nilai baik bertambah menjadi dua orang . %). Sementara itu, untuk nilai sedang, awalnya hanya ada satu siswa . %) yang berada dalam kategori ini. Pada siklus pertama, jumlah tersebut meningkat menjadi dua siswa . %) dan tetap stabil pada siklus kedua dengan persentase yang sama. Di sisi lain, jumlah siswa dengan nilai kurang mengalami penurunan yang cukup Pada awalnya, ada empat siswa . %) yang memperoleh nilai kurang, namun pada siklus pertama, jumlah tersebut menurun menjadi tiga siswa . %). Penurunan ini semakin terlihat pada siklus kedua, di mana hanya tersisa satu siswa . %) yang masih berada dalam kategori nilai kurang. Data ini menunjukkan adanya kemajuan yang signifikan dalam pencapaian nilai siswa, dengan penurunan jumlah siswa yang memperoleh nilai kurang dan peningkatan pada kategori nilai baik dan sedang. Untuk lebih jelasnya akan penulis tampilkan dalam bentuk grafik agar lebih mudah dilihat hasil perbaikannya. Grafik perbandingan pra siklus dan siklus II hari ketiga pada kegiatan membuat kolase dengan bahan alam. Upaya Meningkatkan Ketrampilan Motorik Halus Anak A (D. Andarin. Pra Siklus Siklus I Siklus II Gambar 1. Grafik Perbandingan Pra Siklus. Siklus I, dan Siklus II Kreativitas anak dalam kegiatan membuat kolase di TK Salafiyah Moga I tersaji pada Tabel 2 berikut ini. Tabel 2. Kemunculan kreativitas anak dalam kegiatan membuat kolase Hal Yang Di Observasi Muncul Tidak Muncul Anak mengerjakan tugas hanya sesuai perintah . Anak punya kreatifitas dalam membuat setelah diberi tugas . Anak kreatifitas setelah demonstrasi guru Dari hasil diatas terkait kegiatan membuat kolase, dapat disimpulkan bahwa presentase ketercapaian sudah tercapai dengan baik yaitu 80% dan sesuai dengan ketuntasan yang diharapkan maka perbaikan pembelajaran pada kegiatan membuat kolase dengan bahan alam ini dinyatakan berhasil dan selesai pada siklus kedua. SIMPULAN Berdasarkan hasil yang di peroleh di ketahui bahwa kegiatan pembelajaran dengan permainan kolase. Aktivitas membuat bentuk kolase dengan bahan alam mampu meningkatkan kemampuan motorik halus anak, pada pra siklus baru sekitar 20% pada penelitian tindakan kelas mulai meningkat dari siklus I menjadi 40% dan meningkat pada siklus II menjadi 80%. Melalui kegiatan ini, mampu meningkatkan ketrampilan peserta didik di TK Salafiyah Moga I. Kecamatan Moga. Kabupaten Pemalang naik secara signifikan. Kesempatan membuat, meralat dan mencoba yang telah di berikan oleh guru dalam pembelajaran menggunakan media yang dapat di bentuk ulang telah memicu kreatifitas anak. AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 11-24 DAFTAR PUSTAKA