Revitalisasi Spiritualitas Jemaat melalui Pelayanan Iman Kontekstual di GKSI Senajuk Kabupaten Landak. Kalimantan Barat Rendi*. Yosia Belo 12Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta Email koresponden: rendyerenzo@gmail. Submit: 29-07-2025 Review: 10,22-11-2025 Revisi: 10-04-2026 Diterbitkan: 16-04-2026 Abstract This study aims to optimize innovation in Sunday worship services to increase congregational participation at Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Senanjuk. The methods used include observation, interviews, and surveys to collect data from the congregation, church leaders, and worship servants. The results show that the application of multimedia technology, creative delivery methods, and active congregation involvement successfully increased interest and engagement in ministry. Additionally, training for worship servants enhanced their capacity to support innovation. Challenges such as limited facilities and the readiness of some congregants remain obstacles that need continuous attention. This study concludes that worship innovation is an effective strategy to build a participatory and dynamic church community. Abstrak Keywords: Worship Innovation. Congregational Participation. Church Ministry Kata Kunci: Inovasi Ibadah. Partisipasi Jemaat. Pelayanan Gereja p: ISSN: 2723-7036 e-ISSN: 2723-7028 A 2026. The Authors. License: Open Journals Publishing. This work is licensed under the Creative Commons Attribution License. https://jurnal. id/index. php/pkm/index Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan inovasi dalam pelaksanaan ibadah Minggu guna meningkatkan partisipasi jemaat di Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Senanjuk. Metode yang digunakan meliputi observasi, wawancara, dan survei untuk mengumpulkan data dari jemaat, pengurus, serta pelayan gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknologi multimedia, metode penyampaian yang kreatif, dan pelibatan aktif jemaat berhasil meningkatkan minat dan keterlibatan dalam pelayanan. Selain itu, pelatihan bagi pelayan ibadah juga meningkatkan kapasitas mereka dalam mendukung inovasi. Kendala seperti keterbatasan sarana dan kesiapan sebagian jemaat menjadi tantangan yang perlu diatasi secara Studi ini menyimpulkan bahwa inovasi ibadah merupakan strategi efektif dalam membangun komunitas gereja yang partisipatif dan dinamis. Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 PENDAHULUAN Gereja sebagai tubuh Kristus memiliki mandat untuk membina iman jemaat dalam konteks kehidupan mereka sehari-hari. Namun, dalam banyak komunitas pedesaan seperti di GKSI Senajuk, spiritualitas jemaat mengalami stagnasi. Kurangnya akses terhadap pendidikan rohani dan minimnya kegiatan pembinaan menjadi tantangan Spiritualitas yang seharusnya hidup dan dinamis justru cenderung menjadi rutinitas yang kehilangan makna (Nainggolan 2021b, . Ibadah mingguan tidak lagi menjadi pusat penguatan iman, tetapi hanya sekadar kewajiban dan rutinitas belaka. Oleh sebab itu, penata layanan pembinaan spiritual perlu pendekatan baru yang relevan dengan konteks budaya dan sosial jemaat agar gereja kembali menjadi tempat pembaruan Tantangan lain yang muncul adalah pemanfaatan hari Minggu dianggap sebagai hari kerja di masyarakat sekitar. Hal ini berdampak langsung pada partisipasi ibadah yang menurun (Benyamin Saragih 2020, . Ketika hari Tuhan tidak lagi diprioritaskan, maka spiritualitas perlahan tergeser oleh kepentingan ekonomi. Ibrani 10:25 menasihatkan, "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita". Namun ayat ini sering kali terabaikan karena realitas sosial dan ekonomi yang menekan. Dalam konteks ini, gereja perlu membuat terobosan baru bagaimana strategi pembinaan iman yang fleksibel namun tetap berakar kuat pada Alkitab dan tradisi gereja. Pelayanan iman kontekstual merupakan salah satu pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai iman Kristen dengan kearifan lokal masyarakat. Hal ini penting agar pembinaan rohani tidak terasa asing, melainkan menyatu dalam kehidupan sehari-hari jemaat (Tigor 2018b, . Dalam masyarakat seperti jemaat GKSI Senajuk yang masih tradisional, pendekatan ini menjadi kunci untuk menjembatani ajaran Alkitab dengan konteks lokal. Dengan demikian, gereja tidak hanya menyampaikan kebenaran firman Tuhan secara verbal, tetapi juga menghadirkannya dalam pola hidup yang nyata. Rendahnya pemahaman Alkitab di kalangan jemaat turut memperparah kondisi spiritual. Banyak jemaat yang tidak memiliki akses terhadap literatur rohani atau bimbingan yang Padahal. Mazmur 119:105 menegaskan, "Firman-Mu adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. " Tanpa pemahaman yang benar, jemaat mudah terjebak dalam pemahaman yang salah dan akhirnya kehilangan arah rohani. Oleh karena itu, pelayanan iman kontekstual perlu melibatkan pendidikan Alkitab yang sederhana namun aplikatif, disesuaikan dengan tingkat literasi dan budaya setempat. Pelayanan yang efektif tidak selalu membutuhkan sarana teknologi canggih. daerah seperti Senajuk yang belum tersentuh modernisasi, pendekatan personal dan relasional menjadi lebih bermakna. Kunjungan rumah, diskusi kelompok kecil, serta pelayanan doa menjadi sarana utama dalam menyampaikan firman Tuhan (Siahaan 2019. Revitalisasi iman tidak tergantung pada LCD atau multimedia, tetapi lebih kepada kehadiran gembala yang setia dan pesan firman yang hidup. Maka, pelayanan kontekstual justru menemukan ruang subur di tempat seperti ini. Revitalisasi Spiritualitas Jemaat A (Rendi. Bel. Kegiatan PkM ini dirancang sebagai respon terhadap kondisi menurunnya spiritualitas jemaat di GKSI Senajuk. Fokusnya adalah membangkitkan kembali semangat beribadah dan memperdalam pemahaman iman melalui pendekatan kontekstual. Kegiatan ini bukan hanya bersifat satu arah dari pelayan ke jemaat, tetapi bersifat dialogis, melibatkan jemaat sebagai subjek aktif dalam pembinaan rohani. Tujuan utamanya adalah membangun kesadaran Bersama, bahwa hidup beriman haruslah relevan dan berakar pada konteks kehidupan mereka. Gereja bukan hanya sekadar tempat berkumpul secara fisik, tetapi ruang komunitas yang membentuk karakter dan nilai hidup. Ketika spiritualitas hidup, maka jemaat akan terdorong untuk melayani, berdoa, dan bersaksi dengan penuh semangat. Oleh sebab itu, revitalisasi pelayanan iman harus bersifat menyeluruh mencakup ibadah, pengajaran, dan kehidupan sosial jemaat (Panjaitan 2020b, . Dengan demikian, pelayanan iman kontekstual tidak hanya menjawab masalah kehadiran ibadah, tetapi juga membangun komunitas yang transformatif. Strategi dalam kegiatan ini akan berfokus pada pembinaan yang sederhana namun bermakna, seperti pengajaran Alkitab berbasis cerita lokal, pelatihan kepemimpinan rohani bagi pemuda, serta ibadah kreatif yang menggugah kesadaran spiritual. Pelayanan ini juga mendorong adanya refleksi iman terhadap kondisi sehari-hari jemaat, termasuk bagaimana mereka tetap setia dalam iman di tengah tekanan sosial dan ekonomi (Rante 2021, . Nilai-nilai seperti kesetiaan, pengorbanan, dan kebersamaan akan ditekankan dalam pembinaan. Konteks desa Senajuk memberikan tantangan sekaligus peluang. Keberadaan budaya komunal yang kuat dapat menjadi fondasi dalam membangun spiritualitas yang kolektif. Jemaat yang hidup dalam kebersamaan lebih mudah digerakkan untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan gereja (Tandirerung 2018b, . Oleh karena itu, pendekatan pelayanan iman kontekstual perlu memanfaatkan potensi budaya ini sebagai pintu masuk bagi pembinaan rohani yang relevan dan efektif. Berdasarkan uraian di atas, kegiatan PkM ini tidak hanya merupakan respons terhadap tantangan rohani, tetapi juga bentuk panggilan gereja untuk menjadi terang dan garam bagi dunia. Melalui pelayanan iman yang membumi dan kontekstual, gereja dapat memperbarui fungsinya sebagai pusat pertumbuhan iman, kasih, dan pelayanan. Revitalisasi spiritualitas jemaat bukan hanya proyek sesaat, melainkan awal dari perjalanan panjang membangun komunitas Kristen yang hidup dan berdampak. METODE PELAKSANAAN Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dilaksanakan di GKSI Jemaat Senajuk. RT 05 RW 02. Desa Balai Peluntan. Kecamatan Jelimpo. Kabupaten Landak. Kalimantan Barat. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan pendekatan library research dan observasi partisipatif. Pendekatan ini dipilih agar hasil kegiatan dapat disusun berdasarkan pemahaman mendalam terhadap konteks rohani dan sosial jemaat secara nyata. Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 Pendekatan library research dilakukan untuk mengkaji literatur tentang pelayanan iman kontekstual, revitalisasi spiritualitas jemaat, dan prinsip-prinsip pastoral dalam konteks pedesaan. Sumber-sumber seperti buku teologi, artikel ilmiah, dan dokumen gereja digunakan sebagai fondasi konseptual dalam menyusun strategi pelayanan yang relevan (Sugiyono 2022, . Sementara itu, observasi partisipatif dilakukan dengan menghadiri dan mengamati langsung kegiatan jemaat seperti ibadah minggu, doa kelompok, serta pertemuan pemuda. Observasi ini membantu dalam menangkap pola partisipasi, bentuk ekspresi iman, serta potensi lokal yang dapat diberdayakan dalam pembinaan (Moleong 2019, . Metode ini dipilih karena sesuai untuk konteks jemaat pedesaan yang tidak mendukung pendekatan teknologi tinggi dan wawancara formal. Hasil pengamatan dan telaah pustaka kemudian dianalisis secara tematik untuk merumuskan bentuk pelayanan iman yang kontekstual dan membumi. HASIL DAN PEMBAHASAN Tingkat Partisipasi Jemaat dalam Kegiatan Ibadah. Salah satu permasalahan mendasar di GKSI Senajuk adalah rendahnya tingkat partisipasi jemaat dalam kegiatan ibadah rutin, terutama ibadah Minggu. Berdasarkan hasil observasi selama dua bulan sebelum pelaksanaan PkM, kehadiran jemaat dalam ibadah cenderung stagnan dan berada pada angka 25Ae30% dari total warga jemaat Beberapa faktor penyebab yang teridentifikasi antara lain perubahan orientasi sosial jemaat terhadap hari Minggu yang dianggap sebagai hari kerja, kurangnya motivasi rohani, dan minimnya inovasi dalam bentuk dan isi ibadah yang membuat pengalaman liturgis terasa monoton dan kering secara spiritual. Pelayanan iman kontekstual yang diterapkan dalam PkM ini mencoba menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan yang lebih relevan dengan kehidupan jemaat. Liturgi disesuaikan dengan budaya lokal, misalnya melalui nyanyian pujian dengan irama Dayak Kanayatn, penggunaan bahasa ibu dalam doa syafaat, dan penyampaian firman yang dikaitkan langsung dengan kondisi sosial ekonomi jemaat. Setelah pelaksanaan dua Minggu PkM, terjadi peningkatan signifikan dalam partisipasi: jumlah kehadiran jemaat naik hingga 60% dan diiringi dengan keterlibatan aktif dalam pujian dan diskusi. Hal ini membuktikan bahwa ketika gereja mampu menghadirkan ibadah sebagai ruang perjumpaan yang akrab, otentik, dan kontekstual, maka partisipasi umat akan meningkat secara alami. Sebagaimana diungkap oleh Tandirerung . 8, . , gereja yang mampu menjembatani dimensi teologis dan budaya lokal akan menemukan bentuk peribadatan yang lebih membumi dan diterima umat. Respons positif jemaat juga tampak dari inisiatif mereka untuk berpartisipasi dalam pelayanan seperti menjadi liturgis, pemimpin pujian, dan membuka ruang rumah mereka untuk kegiatan doa. Dengan pendekatan ini, ibadah tidak lagi dianggap sebagai kewajiban ritual semata, tetapi menjadi pengalaman rohani yang bermakna dan relevan dengan kehidupan seharihari. Dalam terang Filipi 2:3Ae4, ibadah yang memperhatikan kebutuhan rohani orang lain Revitalisasi Spiritualitas Jemaat A (Rendi. Bel. bukan sekadar formalitas tetapi menjadi wujud konkret kerendahan hati dan kepedulian dalam komunitas iman. Maka revitalisasi spiritualitas jemaat memerlukan ruang ibadah yang tidak hanya liturgis, tetapi juga partisipatoris dan kontekstual. Gambar 1. Respons Jemaat terhadap Pendekatan Kontekstual. Pendekatan kontekstual dalam pelayanan iman bertujuan menjembatani realitas budaya lokal dengan nilai-nilai kekristenan yang transformatif. Di GKSI Senajuk, respons jemaat terhadap pendekatan ini cenderung positif, terutama ketika pelayanan dilakukan dengan mempertimbangkan bahasa lokal, simbol adat, dan cara penyampaian yang akrab bagi masyarakat desa. Model pelayanan yang menyentuh konteks sehari-hari membuat jemaat merasa lebih dihargai, karena gereja tidak hadir sebagai kekuatan asing, tetapi sebagai bagian dari kehidupan mereka. Hal ini sejalan dengan pandangan Nainggolan . 1, . bahwa gereja yang menghidupi konteksnya mampu memperkuat jati diri umat sebagai bagian dari tubuh Kristus yang hidup dan relevan. Dalam hal ini, kontekstualisasi bukan sekadar metode, melainkan sikap pastoral yang terbuka terhadap dinamika Respons positif juga terlihat dari meningkatnya partisipasi dalam kegiatan ibadah rumah tangga yang diformat ulang secara kontekstual. Misalnya, penggunaan lagu-lagu rohani dalam bahasa daerah, penyampaian khotbah dengan cerita lokal, serta kegiatan doa bersama yang dihubungkan dengan isu aktual seperti musim panen, kesehatan, dan pendidikan anak. Konteks ini menjadikan pelayanan gereja terasa lebih menyatu dengan hidup sehari-hari. Menurut Saragih . 0, . , pendekatan ini memicu respons spiritual yang lebih mendalam karena umat tidak lagi merasa bahwa iman adalah sesuatu yang terpisah dari realitas sosial. Maka pelayanan yang menyatu dengan konteks bukan hanya merangsang partisipasi, tetapi juga membentuk pemaknaan baru terhadap kehadiran Tuhan dalam keseharian. Namun, respons jemaat juga memperlihatkan adanya tantangan, terutama dari kalangan yang terbiasa dengan model pelayanan tradisional yang formalistik. Beberapa anggota jemaat menyangsikan keabsahan ibadah yang terlalu Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 "sederhana", dan ada pula yang merindukan struktur liturgis yang lebih baku seperti di Pandangan ini menunjukkan bahwa proses kontekstualisasi harus disertai dengan pendidikan teologis yang memadai, agar umat memahami bahwa bentuk bukanlah inti dari iman, melainkan sarana menyampaikan kebenaran. Sebagaimana dinyatakan oleh Kristanto . 2, . , transformasi pelayanan perlu dibarengi dengan pembinaan agar tidak terjadi kebingungan makna di tengah perubahan pendekatan yang digunakan. Sebagian besar generasi muda memberikan dukungan terhadap pendekatan kontekstual karena merasa bahwa pelayanan yang dilakukan lebih komunikatif dan mudah dipahami. Penggunaan perumpamaan lokal, cerita rakyat, dan diskusi interaktif menjadi jembatan untuk memperkenalkan nilai-nilai injili secara lebih alami. Tanggapan positif ini sejalan dengan pendapat Panjaitan . 0, . yang menyatakan bahwa generasi muda lebih responsif terhadap model pelayanan yang dialogis dan relevan dengan pengalaman hidup mereka. Ini membuktikan bahwa pendekatan kontekstual memiliki potensi besar untuk menjangkau segmen jemaat yang sebelumnya pasif atau kurang terlibat. Respons jemaat terhadap pendekatan kontekstual juga membuktikan bahwa iman dapat tumbuh dalam keterbatasan sarana. Di GKSI Senajuk, keterbatasan infrastruktur seperti tidak adanya LCD, pengeras suara, atau multimedia tidak menjadi penghambat utama dalam pelayanan. Sebaliknya, keterbatasan itu justru membuka ruang bagi kreativitas iman yang bersandar pada relasi, narasi, dan partisipasi aktif. Tigor . 8, . menyatakan bahwa pelayanan yang kontekstual dan relasional lebih mudah menyentuh hati jemaat ketimbang pendekatan struktural yang mengandalkan teknologi. Oleh karena itu, pelayanan iman tidak perlu menunggu modernisasi, tetapi cukup dimulai dari keberanian untuk hadir dalam konteks lokal secara nyata. Respons jemaat GKSI Senajuk menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual bukan sekadar strategi pragmatis, melainkan wujud konkret dari inkarnasi iman. Ketika gereja hadir dengan memahami bahasa dan kebudayaan umat, pelayanan menjadi lebih bermakna dan diterima dengan hati terbuka. Dalam konteks ini, kontekstualisasi adalah bentuk nyata dari kasih seperti yang ditekankan dalam Filipi 2:3Ae4, yaitu kerelaan untuk tidak mementingkan diri sendiri, tetapi memperhatikan kepentingan orang lain. Gereja yang mampu membaca konteks akan menjadi terang yang menyinari jalan umat di tengah pergumulan hidup mereka. Revitalisasi Spiritualitas Jemaat A (Rendi. Bel. Gambar 2. Evaluasi Proses dan Tantangan Lapangan. Pelaksanaan kegiatan PkM di GKSI Senajuk, memperlihatkan dinamika yang kompleks dalam upaya revitalisasi spiritualitas jemaat. Secara umum, proses pelaksanaan berjalan lancar karena adanya keterbukaan dari pihak gereja dan antusiasme sebagian jemaat terhadap pendekatan iman yang kontekstual. Pendekatan berbasis budaya lokal terbukti mampu membangun jembatan komunikasi yang lebih efektif antara tim pelaksana dan jemaat. Hal ini sesuai dengan gagasan bahwa pelayanan gereja yang relevan adalah pelayanan yang memahami realitas sosial budaya tempatnya berada. Meskipun demikian, penerapan pendekatan ini tidak lepas dari tantangan struktural yang menghambat efektivitas pembinaan rohani. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan sumber daya manusia di jemaat. Keterlibatan warga jemaat dalam program pembinaan rohani masih sangat bergantung pada tokoh tertentu, sehingga kesinambungan kegiatan menjadi rentan jika figur sentral tersebut tidak aktif. Hal ini memperkuat temuan bahwa gereja lokal seringkali terlalu terpusat pada pemimpin tunggal, yang dapat menyebabkan stagnasi ketika tidak ada kaderisasi yang berjalan. Selain itu, kurangnya pelatihan bagi para pemimpin rohani lokal menjadikan kegiatan pembinaan tidak berkelanjutan secara struktural. Keterbatasan fasilitas fisik juga menjadi hambatan lain dalam pelaksanaan kegiatan. Kegiatan pembinaan harus dilakukan di ruang gereja yang kecil dan kurang memadai dari segi pencahayaan dan kenyamanan. Beberapa sesi bahkan dilakukan di rumah warga untuk menyesuaikan kapasitas. Keadaan ini menunjukkan pentingnya dukungan infrastruktur dalam proses pembinaan rohani yang efektif. Namun di sisi lain, kondisi tersebut mendorong kreativitas tim dalam menggunakan ruang-ruang nonformal sebagai media untuk membina iman jemaat secara lebih fleksibel dan kontekstual. Selain itu, tantangan dari sisi budaya lokal juga muncul, khususnya dalam mengintegrasikan nilainilai Injil dengan adat istiadat setempat. Tidak semua unsur budaya bisa diakomodasi dalam pelayanan karena bertentangan dengan prinsip-prinsip iman Kristen. Dalam situasi ini, diperlukan kepekaan teologis untuk membedakan budaya mana yang sesuai dengan injil dan budaya mana yang harus ditinggalkan. Evaluasi menunjukkan bahwa Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 proses inkulturasi membutuhkan waktu dan pendampingan yang terus-menerus agar tidak menimbulkan benturan nilai. Dari segi waktu, kegiatan PkM harus menyesuaikan dengan ritme hidup masyarakat lokal yang sebagian besar bekerja di ladang pada pagi dan siang hari. Ini mengharuskan penjadwalan ulang kegiatan pada sore atau malam hari, yang kemudian berimbas pada durasi dan intensitas pembinaan yang lebih pendek. Meskipun demikian, penyesuaian jadwal ini justru memperlihatkan respons positif dari jemaat karena tidak mengganggu aktivitas harian mereka. Hal ini mengafirmasi pentingnya fleksibilitas metode pelayanan dalam konteks desa. Secara keseluruhan, evaluasi kegiatan ini menunjukkan bahwa pelayanan iman kontekstual dapat menjadi strategi yang efektif dalam memperbaharui spiritualitas jemaat, asalkan didukung oleh pemahaman budaya lokal, kesiapan struktural gereja, dan strategi adaptif. Meskipun tantangan tetap ada, kegiatan ini berhasil membuka ruang bagi gereja untuk melihat kembali pendekatan pelayanannya secara lebih relevan. Revitalisasi spiritualitas bukanlah tugas sesaat, melainkan proses berkelanjutan yang menuntut refleksi, penyesuaian, dan ketekunan. Gambar 3. Refleksi Teologis terhadap Revitalisasi Spiritualitas Jemaat. Revitalisasi spiritualitas jemaat bukan hanya persoalan pembaruan kegiatan gerejawi, tetapi merupakan panggilan untuk memperdalam relasi umat dengan Allah secara pribadi dan komunal. Dalam konteks GKSI Senajuk, upaya kontekstualisasi iman merupakan bentuk kesetiaan terhadap misi Allah di tengah realitas budaya dan sosial Pemahaman ini sejalan dengan pandangan bahwa spiritualitas Kristen selalu lahir dari pengalaman iman yang hidup dan berakar pada konteks lokal (Sumartana 1991. Dengan demikian, teologi kontekstual bukan pilihan alternatif, melainkan keniscayaan dalam memberdayakan gereja yang relevan. Revitalisasi Spiritualitas Jemaat A (Rendi. Bel. Spiritualitas yang sehat tidak terlepas dari kehidupan doa, pelayanan, dan penghayatan firman. Dalam refleksi pelayanan di GKSI Senajuk, tampak bahwa spiritualitas jemaat sebelumnya lebih bersifat ritualistik dan formal. Transformasi mulai terlihat ketika firman Tuhan diterjemahkan ke dalam bahasa kehidupan sehari-hari dan dikaitkan langsung dengan tantangan kontekstual mereka. Hal ini sejalan dengan pandangan Kristen mengenai inkarnasi, di mana Firman menjadi manusia dan tinggal di antara kita (Yohanes 1:. Gereja ditantang untuk menghadirkan iman yang membumi dan tidak terpisah dari pergumulan umat. Konsep "persekutuan" . menjadi kunci dalam refleksi ini. Komunitas jemaat yang mendalam dan relasional merupakan cermin dari kasih Kristus yang hidup. Dalam pelayanan PkM, ditemukan bahwa semangat kebersamaan mendorong munculnya solidaritas dan kepedulian antar sesama, terutama ketika pembinaan iman dilakukan secara partisipatif. Teologi persekutuan mengajarkan bahwa gereja sejati bukan sekadar gedung atau struktur, tetapi tubuh Kristus yang hidup dalam relasi kasih (Tuwu 2019. Dengan demikian, pembinaan spiritualitas sejatinya adalah pembinaan relasi yang saling membangun. Dari sisi pneumatologi, pekerjaan Roh Kudus sangat penting dalam proses pembaruan spiritual. Melalui pelayanan kontekstual, ditemukan bahwa kehadiran Roh tidak terbatas pada liturgi formal, tetapi nyata dalam perjumpaan-perjumpaan sederhana, seperti diskusi Alkitab di rumah warga atau doa bersama setelah kerja. Konteks ini memperkuat pandangan bahwa Roh Kudus bekerja dalam keseharian umat, memimpin mereka pada kebenaran (Yohanes 16:. Gereja perlu memberi ruang bagi gerakan Roh yang dinamis dalam konteks lokalnya, bukan hanya dalam kerangka dogmatik yang kaku. Refleksi teologis ini juga menyentuh aspek eskatologis. Revitalisasi spiritualitas bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari proses penantian aktif akan kedatangan Kerajaan Allah. Dalam proses ini, gereja dipanggil untuk hidup setia, menjadi terang dan garam di tengah dunia (Matius 5:13-. Pelayanan di GKSI Senajuk memperlihatkan bahwa harapan akan pembaruan bukan sekadar impian rohani, tetapi dapat terwujud secara nyata jika gereja berani keluar dari zona nyaman dan melayani sesuai kebutuhan riil jemaat (Widyapranawa 2000, . Dengan demikian, refleksi ini menegaskan bahwa spiritualitas tidak bisa dipisahkan dari konteks. Sebagaimana Yesus hadir di tengah kehidupan masyarakat Yahudi dengan segala kompleksitas sosial-budayanya, demikian pula gereja masa kini harus hadir di tengah konteks masyarakatnya secara otentik. Upaya revitalisasi spiritualitas jemaat GKSI Senajuk menjadi saksi bahwa ketika iman dibumikan, gereja dapat menjadi agen transformasi yang membawa kehidupan dan Teologi yang hidup adalah teologi yang relevan dan responsif terhadap kebutuhan umat. Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 KESIMPULAN Kegiatan PkM ini menunjukkan bahwa revitalisasi spiritualitas jemaat dapat dicapai melalui pelayanan iman yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam konteks GKSI Senajuk yang berada di lingkungan pedesaan, pelayanan yang menyesuaikan dengan budaya lokal, kebiasaan masyarakat, serta tantangan sosial dan ekonomi menjadi kunci penting. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman iman, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya kehidupan rohani yang aktif dan bermakna. Hasil observasi menunjukkan bahwa jemaat yang sebelumnya pasif dalam ibadah dan pembinaan, mulai menunjukkan respons positif terhadap metode pembelajaran yang sederhana, relasional, dan membumi. Pendekatan berbasis nilai-nilai lokal dan pengajaran yang aplikatif mampu menghidupkan kembali semangat kebersamaan, doa, dan kesaksian. Jemaat mulai terlibat lebih aktif dalam kegiatan gereja karena merasa pelayanan tersebut relevan dan menyentuh realitas mereka. Dengan demikian, pelayanan iman kontekstual bukan sekadar metode baru, melainkan wujud nyata dari kehadiran gereja yang peduli dan hadir dalam kehidupan Revitalisasi spiritualitas bukan hanya tentang menghidupkan kembali kegiatan gereja, tetapi tentang membentuk karakter jemaat yang berakar dalam firman Tuhan dan kontekstual dalam tindakannya. PkM ini diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di komunitas lain dengan pendekatan serupa yang sensitif terhadap konteks UCAPAN TERIMAKASIH Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus. Sang Kepala Gereja, yang telah memberikan kekuatan, hikmat, dan penyertaan-Nya selama pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini, hingga dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan dampak nyata bagi jemaat di GKSI Senajuk. Penulis juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Badan Pengurus Wilayah (BPW) dan Badan Pengurus Sektor (BPS) GKSI yang telah membuka ruang pelayanan, memberikan dukungan, serta memfasilitasi seluruh proses pelaksanaan kegiatan ini dengan penuh kepercayaan dan antusiasme. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta yang telah memberikan kesempatan, pembinaan akademik, serta dukungan kelembagaan dalam melaksanakan kegiatan PkM sebagai bagian dari pengembangan spiritual dan kompetensi mahasiswa. Penulis tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada Gembala Jemaat GKSI Senajuk, majelis gereja, serta seluruh anggota jemaat yang telah menerima kehadiran penulis dengan tangan terbuka dan bersedia menjadi bagian aktif dalam kegiatan ini. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing PkM Yosia Belo, dan rekan-rekan sepelayanan, serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya, baik yang telah memberikan dukungan doa, masukan, serta dukungan moral Revitalisasi Spiritualitas Jemaat A (Rendi. Bel. dan material selama proses pelaksanaan hingga selesainya kegiatan ini. Kiranya segala upaya pelayanan ini menjadi berkat yang terus berdampak dalam kemuliaan nama Tuhan. Soli Deo Gloria. DAFTAR PUSTAKA