Moderasi Beragama dalam Ajaran Kristus Paulus Ajong Sekolah Tinggi Agama Kristen Abdi Wacana Pontianak email@stakaw. Abstrak Agama adalah sumber nilai-nilai luhur dan mulia. Semua agama mengandung nilai-nilai universal yang bisa menjadi dasar dan tolok ukur untuk mendukung kehidupan yang Semakin orang beragama dan taat pada ajaran agamanya, maka semakin kehidupan umat beragama semarak dengan nilai-nilai kemuliaan: kasih, berkat, hikmat dan Namun, sangat disayangkan, ada kecenderungan realitas kehidupan beragama justru memperlihatkan kenyataan yang berbeda. Agama yang sejatinya sumber keluhuran dalam cinta kasih dan berkat, justru menjadi sumber perpecahan dan konflik. Untuk mengetahui berbagai faktor penyebab, perlu dilakukan penelitian. Tujuan penelitian untuk menahami akar masalah munculnya sikap-sikap ekstrim dalam memahami agama. Sehingga dipandang perlu untuk mencari bentuk moderat dalam beragama. Untuk itu, metodologi yang dipergunakan dalam penenlitian ini adalah pendekatan hermeneutik-komparatif dengan teknik studi kepustakaan dan wawancara. Berdasarkan penelitian dimaksud: salah satu penyebab realitas prakek agama tidak sejalan nilai keluhuran agama adalah terkait bagaimana pendekatan terhadap teks kitab suci. Ada kecenderungan penganut agama bisa terjebak di antara dua pandangan ekstrim. Akibatnya pandangan keagamaan antara menjadi radikal atau liberal. Semua pandangan keagamaan ekstrim itu bersifat problematis. Diperlukan suatu pendekatan moderat atau jalan tengah, yang memungkinkan terjadinya dialog antara teks dan konteks di tengah realitas ciri khas masyarakat Indonesia yang majemuk. Pendekatan moderat bisa menjadi jembatan antara teks kitab suci dan konteks pembaca teks, serta perlunya menjadikan nilai-nilai universal dari teks kitab suci sebagai pondasi moderasi beragama dalam masyarakat Kata kunci: Moderasi. Agama. Exstrim. Pendekatan. Kasih Abstract Religion is resources of the values sublime and noble. All of religions having standart and bachmark universal values to support a human life. The more religious people adhere the teachings of their religion, the more religious peopleAos live are vibrant with noble values. bless, wisdom and wise. But, in reality, religious life trend more show contrast reality trend. Religion, which is actually a source of nobilty in love and blessing, becomes a sources of division and conflict. To find out the various causative factors, it is necessary to do research. The aim of this research is to understand the root cause of the emergence of extreme attitudes in understanding religion. So in the field it is necessary to look for a moderate form in religion. To that end, the methodology used is: the research used is a hermeneutic-comparative with approach to literature studies and interviews. Based on the research referred to one of the causes of the reality of religious practice not being in line with the noble values of a religion is related to how to approach the text of the scriptures There is a tendency for religious adherents to get caught between two extreme views. As a result, religious views between being radical or All these extreme religious views are problematic. A moderate approach or midle way is needed, which allows dialogue between the text and the context in the midst of the reality of the characteristics of a pluralistic Indonesian society. A moderate approach can be a bridge between the text of the scriptures and the context on the readers of the text, as well as the need to make the universal values of the texts of the scriptures the foundation of religious moderation in a pluralistic society. Keywords: Moderation. Religioun. Exstrim. Approach. Love A. Pendahuluan Moderasi beragama menjadi kebutuhan sosial dalam kehidupan semua umat beragama di Indonesia. Hal ini diperlukan, mengingat konteks masyarakat Indonesia ciri khas mendasar adalah majemuk ( Nico L. Kana, 2005: . Harus diakui, bahwa masyarakat majemuk bisa seperti pisau bermata dua. Bisa menjadi sumber kekuatan, tetapi juga bisa menjadi sumber ancaman dan Kemajemukan agama bisa menjadi sumber kekuatan, apabila masing-masing penganut keagamaan memiliki pandangan dan sikap keagamaan yang mengandung nilai-nilai saling menghormati, menghargai dan toleransi satu dengan yang lainnya. Sebaliknya kemajemukan agama menjadi ancaman bahkan sumber perpecahan jika masyarakat yang beraneka-ragam agama memiliki pandangan keagamaan masing-masing merasa paling benar dan ingin menang sendiri dan intoleransi (Aritonang. Jan. 2005: . Pertanyaannya adalah mengapa bisa muncul beragam pandangan keagamaan, baik yang bisa melahirkan sikap saling menghormati dan toleransi maupun pandangan yang radikal dan intoleransi? Jawaban atas pertanyaan tersebut sekaligus menjadi tujuan penulisan ini: Pertama, untuk menjelaskan akar masalah munculnya berbagai pandangan baik pandangan yang bisa mendukung kehidupan bertoleransi maupun pandangan yang radikal dan intoleransi. Kedua, tulisan ini untuk mengidentifikasi berbagai ragam pendekatan pembaca teks terhadap teks kitab Ketiga, memberikan contoh teks kitab suci yang bisa menjadi landasan mengembangkan pandangan moderasi dalam beragama. Untuk kepentingan tersebut di atas, penulis menggunakan metodologi hermeneutik komparatif dan teknik penelitian adalah studi kepustakaan dan wawancara. Pembahasan Penelitian hermeneutik. Gomar Gultom . mengatakan, salah satu persoalan yang dihadapi dalam kehidupan umat beragama adalah berkaitan dengan bagaimana membaca teks kitab suci masing-masing Karena semua agama pasti merujuk pada Kitab Suci masing-masing. Dalam memahami teks kitab suci inilah bisa muncul ragam masalah, karena pendekatan yang dilakukan. Berangkat dari pandangan di atas dan tujuan tulisan ini, maka penelitian lebih fokus terhadap ragam masalah berkaitan fokus umat beragama dalam memahami teks-teks kitab suci. Adapun metodologi penelitian yang digunakan adalah pendekatan hermeneutik - komparatif terhadap studi kepustakaan dan wawancara. Hermeneutik adalah upaya menafsirkan atau memberi pemahaman untuk menangkap pesan makna dalam teks (A. Sitompul dan U. Beyer. Hermeneutik adalah seni menafsirkan teks untuk mendapatkan atau memberikan makna teks (Ellisabet Anne Kinsela. Karena hermeneutik adalah seni menafsirkan, maka terbuka ruang kreatifitas penafsir untuk mempergunakan berbagai pendekatan Hermeneutik-Komparatif adalah tindakan membandingkan dua atau lebih pendekatan atau pandangan untuk menemukan sesuatu tentang satu atau lebih semua hal yang dibandingkan (Leo. Sutanto, 2022:. Penelitian komparatif berkaitan upaya membandingkan makna teks dalam tata ruang dan tata waktu tertentu dengan teks yang sama pada tata ruang dan tata waktu lainnya. Penelitian komparatif terhadap relasi teks kitab suci dan konteks pembaca teks, adalah upaya untuk memahami implikasi pandangan dan sikap keagamaan yang muncul, jika terjadi ketidakseimbangan antara memahami teks kitab suci dan makna teks kitab suci dalam konteks pembaca teks. Hermeneutik - komparatif di sini bukan bermaksud untuk membandingkan pandangan keagamaan dalam Kristen dengan pandangan keagamaan lainnya seperti Islam. Katolik. Hindu. Budha. Kong Hu Chu atau aliran kepercayaan lainnya. Komparatif yang dimaksud adalah perbandingan pandangan keagamaan dalam suatu agama. Sebenarnya ada banyak pandangan keagamaan, namun dalam hal ini penulis hanya membatasi pada tiga pendekatan keagamaan saja, yakni pendekatan ekstrim kiri, ekstrim kanan dan moderat. Selanjutnya, penelitian komparatif meneliti fokus pembaca teks, apakah: . hanya fokus pada teks secara rigid atau hurufiah lalu mengabaikan makna teks, baik dalam konteks teks dalam tata ruang dan tata waktu tertentu maupun konteks pembaca teks dalam tata ruang dan tata waktu lainnya? . Apakah pembaca teks lebih berfokus pada kepentingan konteks pembaca teks saat ini, lalu mengabaikan begitu saja makna teks dalam konteks teks saat teks ditulis atau diturunkan? . Mencari titik temu antara makna teks kitab suci dalam konteksnya dan relevansi kebermafaatan bagi konteks pembaca teks. Sebagai wujud pendekatan komparatif, maka peneliti juga melakukan selain studi kepustakaan juga mewawancarai beberapa tokoh lintas agama. Tujuannya sebagai data pembanding bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk saling melengkapi. Para tokoh agama yang dipilih secara acak, dengan kriteria para informan memiliki pandangan moderat. Biasanya penganut pandangan moderat lebih terbuka, toleransi, bahkan mau bekerjasama. Penelitian dengan pendekatan hermeneutik - komparatif studi kepustakaan dan wawancara, lebih menitik beratkan terhadap fokus pendekatan umat dalam membaca teks kitab suci dan hubungannya dengan konteks pembaca teks . eaders contex. Tujuannya untuk mengetahui apakah ada kecenderungan pendekatan hanya pada salah satu seperti teks dan mengabaikan konteks, atau sebaliknya hanya fokus pada konteks tetapi mengabaikan teks? Hasil Penelitian: Ada Dua Pendekatan Ekstrim Berdasarkan penelitian, terdapat dua pandangan ekstrim bagaimana membaca teks kitab Ada pandangan ekstrim kiri dan ada pandangan ekstrim kanan, terkait bagaimana memahami hubungan teks kitab suci dan konteks pembaca teks. Ekstrim Kiri : Teks Abai Konteks Pandangan ekstrim kiri adalah pendekatan yang fokus hanya pada teks secara rigid dan namun mengabaikan konteks. baik konteks teks maupun konteks pembaca teks. Pendekatan ini akan melahirkan munculnya pandangan yang sangat tekstual atau hurufiah. Pendekatan ini bisa melahirkan pandangan bersifat fundamentalis. Pandangan ini memahami teks yang tertulis tidak bisa diganggu-gugat, dan harus diakui kebenaran tekstual atau hurufiah secara absolut. Fundamentalisme merupakan cikal-bakal menjadi radikal. Pendekatan ini membuat penganut agama-agama menjadi sangat konservatif. Pendekatan ini cenderung memonopoli kebenaran, dan memiliki klaim tunggal atas kebenaran (Azyumardi Azra, dalam Jan Aritonang, 2005: x. Segala sesuatu di luar kebenaran yang diyakininya dianggap salah, keliru, sesat, kafir yang bisa disingkirkan, dimarginalkan bahkan dimusnahkan. Ketika penafsiran-penafsiran tertentu terhadap klaim-klaim kebenaran mutlak itu dipandang dan dipahami secara rigid dan sebagai satu-satunya kebenaran yang menuntut keseragaman, maka inilah awal agama bisa menjadi jahat dan akhirnya merusak kehidupan dalam masyarat majemuk (Jahenos Saragih, 2022:. Pendekatan hanya bertitik tolak pada teks secara rigid dan mengabaikan lintas konteks, sehingga menjadi fundamentalisme ada dalam semua agama. Penganut agama yang memiliki pandangan dan sikap radikal akan sulit untuk bersikap terbuka, menerima, menghormati dan toleransi terhadap realitas keaneka-ragaman baik antar agama dan kepercayaan lainnya, maupun di internal dalam satu agama. Jika pendekatan ekstrim ini yang mewarnai pandangan dan sikap keagamaan di negara yang beraneka-ragam, maka kemajemukan menjadi sumber ancaman bagi kehidupan berbangsa dan bernegara (Hussin Muhammad, 2014: . Sudah banyak contoh negara yang hancur karena warga yang beraneka-ragam pandangan keagamaan saling merasa paling benar dan ingin menang sendiri, lalu berusaha menjadikan pandangan keagamaannya sebagai standar dan menuntut keseragaman bila perlu dengan cara menyingkirkan dan memusuhi kelompok yang dianggap memiliki pandangan yang berbeda dengan kelompok, agamanya. Ekstrim Kanan: Konteks Abai Teks Gomar Gultom . mengatakan, pendekatan ekstrim yang lainnya atau ekstrim kanan adalah pandangan yang lebih fokus hanya pada kepentingan konteks dan mengabaikan teks. Pendekatan ini terlalu mendewakan konteks, dan mengabaikan teks, akibatnya menjadi sangat Seandaipun mencari pesan teks tetapi hanya untuk mendukung kepentingannya. Pendekatan ini menjadikan kepentingannya sebagai tolak ukur, lalu mengutip teks-teks kitab suci sesuai kepentingannya, yang belum tentu selaras dengan makna teks dalam konteks teks. Pendekatan kontekstual dan mengabaikan teks-teks kitab suci akan mengaburkan pesan teks kitab suci yang sejatinya bermakna atas setiap konteks. Itu berarti, pembaca teks bukan melakukan eksegese yaitu mengeluarkan makna teks dalam konteks teks agar menjadi acuan bagi pembaca teks dalam konteksnya. Sebaliknya, pembaca teks melakukan eisegese, yaitu berangkat dari persepktif yang telah dipengaruhi kepentingannya dan lalu mengambil teks-teks kitab suci untuk mendukung kehendaknya. Pendekatan ekstrim kanan kurang menghargai teks kitab suci dan makna teks yang Teks kitab suci bisa diperalat, bahkan disalahartikan untuk melengkapi dan mendukung kepentingannya. Karenanya, kehidupan umat beragama bisa tidak lagi sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama. Tetapi sangat tergantung pada kepentingan penganut agama dalam Pendekatan ini juga problematik, karena bisa menghalalkan segala cara sesuai dengan kepentingan dalam konteks, termasuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilainilai ajaran agama. Karenanya, pendekatan ini cenderung menjadi liberal, yang bisa sangat terlepas bahkan kontras dengan maksud teks-teks kitab suci dalam agama. Kewibawaan teks kitab suci sebagai firman Tuhan diragukan. Bahkan penganut ekstrim kanan ini menganggap Kitab Suci itu hanya buku karangan manusia sama halnya buku lainnya. Bagi penganut ekstrim ini, agama tidak penting, membaca kitab suci tidak menarik, berdoa hanya sia-sia, keberadaan Tuhan diragukan, manusia bebas menentukan apa saja yang ia inginkan, tanpa mempertimbangkan persoalan moral dan agama. Paham liberalisme tidak kalah bahayanya bagi kehidupan manusia. Manusia akan dituntun oleh hawa nafsunya dan bebas untuk mengekspresikannya kapanpun dan dimanapun. Bahkan liberalisme akan memisahkan nilai-nilai agama dengan kehidupan. Liberalisme akan mendorong setiap individu untuk berbuat mengikuti hawa nafsu, tanpa harus mengikuti dan patuh terhadap rambu-rambu agama. Paham liberalisme akan menjauhkan umat beragama dari prinsipprinsip keagamaannya. Apa bahayanya paham liberalisme di Indonesia? Liberalisme merupakan paham yang menganut kebebasan. Kebebasan termasuk tidak mau peduli lagi dengan standar dan nilai-nilai ajaran agama. Apabila rakyat Indonesia dipengaruhi oleh paham liberalisme, maka akan terjadi penghalalan segala cara: free sex, pernikahan sesama jenis, pelegalan narkotika, kebebasan yang Jika hal ini terjadi, sama juga bahayanya bagi semua masyarakat. kehidupan generasi muda, keluarga dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pendekatan Moderat: Jalan Tengah Kedua pendekatan keagamaan di atas sangat problematis. Oleh karena itu diperlukan sebuah pendekatan yang berupaya mendialogkan dan menjembatani antara pendekatan tekstual dan kontekstual secara proporsional. William Russel . Au context reader is about our response to the core of Gospel, then that makes the Gospel normative for all efforts at Pendekatan moderat memungkin terjadinya relasi ideal: bagaimana bisa hidup sesuai dengan tuntutan teks agama di satu pihak, tetapi di pihak lain dapat menempatkan diri secara seimbang dengan perkembangan-perkembangan kemanusiaan. Pendekatan moderat dinamis untuk bagaimana di satu pihak untuk terus menyesuaikan diri dengan perubahan dan tuntutan zaman, tetapi di pihak lain tetap menjadi penganut agamanya yang taat dan baik. Pandangan moderat di satu sisi sangat taat dan patuh pada norma agamanya, namun di sisi lain sangat dinamis dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Pandangan moderat selalu berusaha untuk bagaimana menjadi autentik tetapi sekaligus modern. Bagaimana bisa terus dinamis dalam setiap perubahan namun tetap berpegang pada prinsip-prinsip pokok dalam agamanya (Abdul Mukti, 2018: . Pandangan moderat di satu sisi sangat menekankan keyakinan kepada Tuhan, namun di sisi lain juga keyakinan kepada Tuhan harus nampak dengan semakin menghargai kehidupan dan Semakin ia taat dan percaya kepada Tuhan, semakin ia menghargai kehidupan dan keutuhan ciptaan. Semakin ia mendalami ajaran agamanya, maka saat bersamaan semakin ia mau dan mampu menerima dan menghargai orang lain yang berbeda agama dan keyakinannya. Semakin ia beriman kepada Tuhan melalui ajaran agamanya, semakin ia memperlihatkan kemuliaan dan keluhuran nilai-nilai agamanya melalui perilaku hidup dalam konteks bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Itu berarti moderasi beragama sangat cocok dan relevan untuk dikembangkan dan disebarluaskan di negara yang masyarakatnya majemuk seperti Indonesia. Semua agama diharapkan memiliki pandangan keagamaan yang bersifat moderat, termasuk penganut agama Kristen di Indonesia. Moderasi agama Kristen harus dikembangkan, karena selain pertimbangan konteks keberadaan orang Kristen di Indonesia di tengah masyarakat majemuk, tetapi juga karena ada banyak pesan teks-teks kitab suci yang mengajarkan orang Kristen harus moderat. Selanjutnya dalam tulisan ini, penulis akan menyampaikan salah satu teks kitab suci yang berisi pandangan Moderat Yesus yang bisa dijadikan landasan moderasi beragama. Moderasi Yesus diantara Dua Pandangan Ekstrim (Yohanes 4:20-. Dalam Yohanes 4:20-24. Yesus menyampaikan pandangan moderatNya. Hal itu nampak pada saat terjadinya percakapan dengan seorang perempuan Samaria di pinggir sumur Yakub (Yoh. Sebelumnya, bahwa Perempuan Samaria merasa heran, mengapa Yesus orang Yahudi tidak hanya mau melintasi daerah Sikhar wilayah orang Samaria, tetapi juga mau meminta air minum darinya. yang notabene dari kelompok Samaria Bukankah sejak lama orang Yahudi memiliki pandangan dan sikap yang merendahkan orang Samaria, dan tidak mau bergaul, termasuk berusaha menghindari melewati wilayah orang Samaria? Namun berbeda dengan Yesus, juga seorang Yahudi tetapi mau melewati wilayah orang Samaria, bahkan mau berbincang dengan seorang Perempuan Samaria. Tentu saja kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh si perempuan Samaria. Ia langsung menyampaikan kegelisahannya terkait pandangan-pandangan ekstrim yang tertanam baik dari kelompok Yahudi maupun kelompok Samaria diwariskan secara turun-temurun yang dampaknya telah merusak hubungan antar keduanya. Sebenarnya, baik orang Yahudi maupun orang Samaria berasal dari rumpun yang sama yaitu keturunan Abraham. Isak dan Yakub (Groenen, 1992:307-. Namun sejak Israel Raya terpecah menjadi dua bagian, yaitu Israel Selatan dengan ibu kota Yerusalem dan Israel Utara dengan ibu Kota Samaria (Jhon Bright, 1981: . Dalam sejarah selanjutnya baik Israel Utara maupun Israel Selatan semuanya jatuh dibawah taklukan bangsa asing (Groenen, 1992: . Israel Utara ditakluk oleh bangsa Asyur. Salah satu dampaknya adalah hilang kemurnian bukan hanya silsilah karena politik kawin campur tetapi juga tidak lagi murni keyakinan keagamaan . Sebaliknya, meskipun Israel Selatan juga pernah ditakluk oleh Babel, namun tetap mampu menjaga kemurnian agama Yahudi (J. Blommendaal, 1993: . Realitas ini juga yang membuat orang Yahudi merasa paling benar dan tidak mau bergaul, bahkan menganggap rendah orang Samaria (J. Blommendaal, 1993:. Salah satu letak kontras ekstrim antara kelompok Yahudi dan kelompok Samaria adalah pandangan ekstrim terkait tempat menyembah Allah yang dikehendaki Allah. Orang Yahudi meyakini dan mengklaim bahwa Yerusalem sebagai tempat ibadah yang dikehendaki Tuhan. Sementara bagi orang Samaria meyakini bahwa Allah hadir di gunung Gerizim (Yohanes 4:. Pandangan ekstrim saling klaim itulah yang diangkat oleh Perempuan Samaria di hadapan Yesus (Yohanes 4:20-. Menarik untuk disimak, bahwa ternyata Yesus tidak mau terjebak ke dalam salah satu pandangan ekstrim tersebut. Yesus tidak membenarkan atau menyalahkan salah satu atau keduanya. Yesus justru memperlihatkan pandangan jalan tengah atau Dalam pandangan Yesus, yang terpenting bukan tempat, apakah di Yerusalem sebagaimana diklaim kelompok Yahudi atau di gunung gerizim sebagaimana klaim kelompok Samaria. Yesus justru membongkar tembok pembatas yang membatasi ruang gerak Allah dalam tata ruang dan tata waktu tertentu. Bagi Yesus, bahwa Allah tidak bisa dibatasi oleh keterbatasan pandangan manusia, dengan membantasi Allah dalam ruang dan waktu tertentu. Yesus berkata, bahwa Allah adalah Roh. Allah itu Roh, dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam Roh dan Kebenaran (Yohanes 4:. Pandangan Yesus dalam teks Yohanes 4:20-24 merupakan jalan tengah. Bahwa kehadiran Allah tidak bisa dibatasi oleh klaim-klaim manusia, yang cenderung hanya membenarkan diri dan menyalahkan pihak lain yang berbeda. Allah adalah Roh dan Kebenaran, bisa hadir di mana saja, kapan saja. Siapapun yang menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran, maka Allah hadir di sana. Itu berarti, tidak boleh ada pihak-pihak yang mengklaim bahwa hanya ibadah atau agamanya yang dikehendaki Allah. Karena Allah adalah Roh dan Kebenaran. Semakin umat beragama beribadah kepada Allah yang adalah Roh dan Kebenaran, maka seharusnya semakin umat beragama memancarkan kehidupan yang penuh kebenaran(Douglas D. Webster, 1996: . Jelas sekali, bahwa moderasi pandangan Yesus menjembatani dua pandangan ekstrim saling klaim antara orang Yahudi dan orang Samaria. Sehingga orang Samaria tidak seharusnya kecewa dan berkecil hati ketika dianggap Tuhan jauh dari ibadah mereka. Sebaliknya orang Yahudi juga tidak perlu terlalu sombong seolah Allah hanya hadir di Yerusalem. Sebab. Allah bebas hadir di mana saja dan tidak bisa dibatasi oleh dan pandangan dan kepentingan manusia. Jika orang Yahudi di Yerusalem menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran. Allah hadir di Begitu juga sebaliknya, jika orang Samaria menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran. Allah juga hadir di sana. Pandangan Yesus melegakan orang Samaria yang direpresentasikan melalui seorang Perempuan Samaria. Pada saat bersamaan. Yesus juga membuka mata rohani orang Yahudi atau kelompok mana pun yang dalam pandangan keagamaan selalu membatasi karya Allah seakan hanya berpihak kepada mereka. Padahal Allah adalah Roh dan Kebenaran, bebas hadir di mana Saat bersamaan Yesus juga mengkritisi praktek-praktek keagamaan yang hanya menekankan sisi ibadah ritual di tempat tertentu pada waktu tertentu saja. tetapi mengabaikan ibadah sosial yaitu hidup dalam kebenaran, kasih yang memanusiakan sesama. Kesimpulan Moderasi beragama adalah pandangan dan sikap yang tidak ekstrim kiri dan tidak ekstrim Moderasi beragama selalu mengambil sikap moderat. Moderasi beragama perlu dikembangkan, supaya umat beragama tidak mabuk agama di satu sisi, dan tidak bersikap relatif saja di sisi lain (A. Yewangoe, 2. Apalagi memiliki anggapan bahwa semua agama sama saja. Moderasi beragama adalah sikap sungguh-sungguh meyakini kebenaran agamanya dan pada saat bersamaan terbuka untuk menghormati keyakinan dan agama orang lain. Sangat diharapkan, semakin umat beragama sungguh-sungguh meyakini kebenaran agamanya, maka semakin antar umat beragama hidup saling menghormati dan menghargai. Karena setiap orang, dari kelompok manapun mendambakan kehidupan yang rukun, damai dan harmonis. Hal tersebut merupakan cita-cita kemanusiaan, terlebih umat beragama dalam masyarakt yang majemuk, seperti di Indonesia. Sebenarnya semua agama mengandung pesan-pesan rukun, damai, kasih dan harmonis (Siti Musdah & Jimmy Soumin, 2020: . Nilai-nilai universal itu dapat menjadi titik temu sekaligus kekuatan yang dapat mempersatukan agama-agama (Banawiratma. Sitompul, 2005: 110 Sebaliknya, agama-agama tanpa nilai-nilai universal yang mendukung gerakan pro kehidupan, kemanusiaan, keadilan dan kebenaran, maka kiprah agama-agama cenderung hanya memperjuangkan kelompoknya sendiri, dengan kekuatan terpisah bahkan berpotensi menjadi sumber perselisihan. Moderasi beragama harus dijadikan kebutuhan bagi semua agama-agama yang ada. Agar di satu sisi agama tidak berwajah angker bagi kehidupan dan kemanusiaan. namun di sisi lain tidak ditinggalkan oleh pengikutnya, dan menjadi punah. Moderasi beragama akan membawa setiap penganut agama yang ada, dapat sungguh-sungguh yakin akan kebenaran agamanya. namun saat bersamaan tidak mengganggap rendah dan sesat agama dan kepercayaan orang lain yang berbeda dengannya. Moderasi beragama, dapat sungguh-sungguh menghargai dan menghormati keyakinan agama orang lain. namun saat bersamaan tidak lemah dan luntur keyakinan pada kebenaran agamanya. Semakin ia memahami dengan benar agamanya sendiri, semakin ia menghargai dan menghormati orang lain yang juga meyakini kebenaran agamanya. Pendekatan moderat seperti ini selain menciptakan ruang yang nyaman bagi perjumpaan dan dialog antar umat yang berbeda iman, juga membuka ruang dialog secara internal dalam lingkungan umat dalam satu agama. Karena dalam satu agama juga beragam paham dan pandangan, sehingga munculnya berbagai mazhab, sekte, denominasi. Karenanya, pandangan moderasi beragama juga diperlukan di tengah realitas keragaman mazhab, sekte dan denominasi yang ada. Tanpa pandangan moderasi, maka konflik juga sangat rentan terjadi bukan hanya antar tetapi juga internal umat dalam satu agama. Moderasi beragama mengembalikan wajah agama ke zona keluhuran dan kemuliaan. Karena agama-agama sesungguhnya adalah sumber cinta kasih, berkat dan kebijaksanaan bagi kemanusiaan dan kehidupan (Washinton Gladden. Handy . , 1986: . Sebagai sebuah agama yang datang dari Tuhan, pasti agama itu sempurna adanya. Namun karena keterbatasan yang ada dalam diri umat manusia, maka bisa jadi umat membaca dan memahami secara ekstrim teks-teks kitab suci sesuai pendekatannya. Akibatnya, lahirlah ekstrim kiri yang sangat tekstual-konservatif dan menghasilkan paham fundamentalisme dan radikalisme. Sebaliknya penganut agama juga bisa terjebak ke ekstrim kanan yang hanya fokus pada kontekstual, tetapi mengabaikan teks kitab suci, sehingga muncullah paham-paham liberal. Moderasi beragama adalah jalan tengah. Moderasi beragama akan menangkal pengaruh paham-paham transnansional yang cenderung ekstrim (Syamsul Hidayat, 2. Sebaliknya mengambil jalan tengah serta menjadikan teks-teks kitab suci yang mengandung nilai-nilai universal sebagai landasan dan rujukan. Nilai-nilai universal biasanya berisi penghargaan dan penghormatan terhadap kehidupan dan kemanusiaan tanpa pandang bulu. Itu berarti pandangan dan sikap moderasi beragama bukan hanya dapat menjebatani perjumpaan antar umat yang berbeda agama dan keyakinan tetapi juga akan tercipta sikap saling terbuka, menerima dan dapat bekerjasama untuk tujuan dan cita-cita bersama. Sikap saling terbuka, menerima, tenggang rasa dan dapat bekerjasama antar penganut agama-agama akan menjadi modal berharga dan kuat bagi masyarakat Indonesia yang majemuk. Dengan sikap moderat maka kemajemukan bukan menjadi sumber perpecahan dan disintegrasi Sebaliknya hubungan antar pemeluk agama bisa saling mengisi, menghormati, toleransi dan bersinergi. Dengan harapan cita-cita bersama dalam konteks Indonesia yang majemuk, yaitu melindungi segenap bangsa Indonsia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial bisa diwujudkan. Moderasi beragama sekaligus akan menjadi sumber energi besar bagi seluruh warga negara Indoensia untuk setia pada: Ideologi Pancasila, konstitusi UUD 1945, semboyan hidup Bhhineka Tunggal Ika dan NKRI. DAFTAR PUSTAKA