Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 3784 Ae 3802 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Dekonstruksi Altman Z-Score: Dampak Individual Rasio Keuangan Terhadap Kapitalisasi Pasar Perusahaan Transportasi dan Logistik Era Post-Pandemi Ana Maulida1. Khoirul Fatah2 12 Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan anamaulida3001@gmail. ABSTRACT Post-pandemic transformation creates complexity in evaluating transportation industry financial health requiring deconstructive approaches toward conventional prediction This research aims to analyze individual influence of Altman Z-Score components on market capitalization of transportation and logistics companies in the post-pandemic era. Explanatory quantitative methodology was applied to 25 transportation companies listed on Indonesia Stock Exchange during 2020-2023 period, utilizing panel data regression techniques with random-effect model approach. Research findings reveal significant paradox: working capital to total assets ratio demonstrates negative influence . oefficient = -1. p = 0. contradicting theoretical expectations. Conversely, market value of equity to total liabilities ratio . oefficient = 0. p = 0. and asset utilization efficiency . oefficient = 1. p = 0. exhibit dominant positive contributions to firm valuation. Findings confirm insignificance of retained earnings and operational profitability in determining investor perception. The model 9% of market capitalization variability, indicating robustness of deconstructive Research concludes that investors prioritize operational efficiency and market confidence over traditional liquidity indicators, reflecting paradigm evolution in performance evaluation within structurally disrupted industries. Keywords: altman z-score deconstruction, market capitalization, financial distress, transportation sector, firm valuation ABSTRAK Transformasi pascapandemi menciptakan kompleksitas evaluasi kesehatan finansial industri transportasi yang memerlukan pendekatan dekonstruktif terhadap model prediksi Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh individual komponen Altman Z-Score terhadap kapitalisasi pasar perusahaan transportasi dan logistik era post-pandemi. Metodologi kuantitatif eksplanatori diterapkan pada 25 perusahaan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020-2023, menggunakan teknik regresi data panel dengan pendekatan random-effect model. Hasil penelitian mengungkapkan paradoks signifikan: rasio modal kerja terhadap total aset memberikan pengaruh negatif . oefisien = 1,056. p = 0,. , kontradiktif dengan ekspektasi teoretis. Sebaliknya, rasio nilai pasar ekuitas terhadap total liabilitas . oefisien = 0,196. p = 0,. dan efisiensi pemanfaatan aset . oefisien = 1,388. p = 0,. menunjukkan kontribusi positif dominan terhadap valuasi Temuan mengonfirmasi ketidaksignifikanan laba ditahan dan profitabilitas operasional dalam menentukan persepsi investor. Model menjelaskan 94,9% variabilitas kapitalisasi pasar, mengindikasikan robustitas analisis dekonstruktif. Penelitian menyimpulkan bahwa investor memprioritaskan efisiensi operasional dan kepercayaan pasar dibandingkan indikator likuiditas tradisional, mencerminkan evolusi paradigma evaluasi kinerja dalam industri yang mengalami disrupsi struktural. 3784 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 3784 Ae 3802 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Kata Kunci : dekonstruksi altman z-score, kapitalisasi pasar, financial distress, sektor transportasi, valuasi perusahaan PENDAHULUAN Sektor transportasi dan logistik memainkan peran fundamental dalam arsitektur ekonomi global, berfungsi sebagai infrastruktur kritis yang memfasilitasi mobilitas barang dan jasa lintas geografis. Karakteristik padat modal dan sensitivitas tinggi terhadap fluktuasi ekonomi makro menjadikan sektor ini barometer penting bagi stabilitas perekonomian nasional. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kontribusi sektor transportasi dan pergudangan terhadap struktur ekonomi Indonesia mencapai 5,56% dari total Produk Domestik Bruto pada tahun 2023, mencerminkan peran strategisnya dalam ekosistem bisnis kontemporer. Krisis sanitasi global yang dipicu pandemi COVID-19 menghadirkan unprecedented disruption terhadap lanskap operasional sektor transportasi dan Implementasi kebijakan pembatasan mobilitas sosial secara masif telah mentransformasi pola konsumsi dan distribusi secara fundamental. Kementerian Perhubungan Republik Indonesia mencatat kontraksi volume penumpang transportasi udara sebesar 58,4% sepanjang periode 2020, sementara eskalasi biaya operasional logistik melonjak hingga 30% akibat adaptasi protokol kesehatan dan restrukturisasi jalur distribusi. Kondisi ini mengakselerasi tekanan likuiditas yang berpotensi memicu financial distress pada entitas bisnis di sektor tersebut. Financial distress didefinisikan sebagai kondisi deteriorasi kemampuan finansial perusahaan dalam memenuhi obligasi keuangan jangka pendek maupun panjang, yang termanifestasi melalui penurunan profitabilitas, ketidakseimbangan struktur permodalan, dan degradasi arus kas operasional. Dalam perspektif teori keuangan korporat, fenomena ini berkorelasi negatif dengan persepsi investor dan berimplikasi pada volatilitas harga saham serta kapitalisasi pasar perusahaan. Model Altman Z-Score, yang dikembangkan melalui pendekatan multiple discriminant analysis, telah menjadi instrumen prediktif yang diakui secara akademik untuk mengidentifikasi probabilitas kebangkrutan perusahaan. Model ini mengintegrasikan lima komponen rasio keuangan yang merepresentasikan dimensi profitabilitas, likuiditas, leverage, efisiensi aset, dan aktivitas pasar. Meskipun demikian, mayoritas penelitian terdahulu mengaplikasikan Z-Score sebagai konstruk tunggal tanpa melakukan dekonstruksi terhadap kontribusi individual setiap komponen rasio. Penelitian kontemporer tentang nilai perusahaan dan krisis keuangan di Indonesia fokus pada industri manufaktur sebelum pandemi. Penelitian (Nafisah et , 2. dan (T. Kusumawati & Haryanto, 2. mengkonfirmasi korelasi negatif antara financial distress dengan nilai perusahaan, namun belum mengeksplorasi dinamika spesifik sektor transportasi pada era post-pandemic. Research gap yang teridentifikasi meliputi: pertama, keterbatasan analisis dekonstruktif terhadap komponen individual Altman Z-Score dan dampaknya terhadap kapitalisasi pasar. kedua, minimnya fokus penelitian pada sektor transportasi yang memiliki karakteristik risiko sistemik berbeda dengan sektor 3785 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 3784 Ae 3802 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. ketiga, belum adanya investigasi komprehensif mengenai dinamika hubungan financial distress dengan nilai perusahaan pada periode pemulihan ekonomi pasca COVID-19. Perbedaan yang muncul adalah paradoks antara pemulihan industri transportasi yang relatif cepat pada tahun 2022-2023 dan volatilitas harga saham perusahaan di industri tersebut, yang menunjukkan hubungan kompleks antara indikator kesehatan finansial dan persepsi pasar. Penelitian ini bertujuan untuk: . melakukan dekonstruksi komponen individual Altman Z-Score dan menganalisis kontribusi spesifik setiap rasio terhadap kapitalisasi pasar perusahaan transportasi. mengidentifikasi komponen rasio yang memiliki signifikansi prediktif tertinggi terhadap fluktuasi nilai pasar pada era post-pandemic. merumuskan model prediktif yang lebih akurat untuk sektor transportasi berdasarkan hasil dekonstruksi tersebut. Melalui pendekatan ini, riset diharapkan memberikan kontribusi teoritis bagi pengembangan literatur keuangan korporat dan implikasi praktis bagi strategi manajemen risiko finansial di sektor transportasi dan logistik Indonesia. TINJAUAN LITERATUR Landasan Teoretis Signaling Theory dalam Konteks Kapitalisasi Pasar Konsep signaling theory memberikan perspektif fundamental mengenai bagaimana transmisi informasi korporat mempengaruhi dinamika pasar modal. (Hartono, 2. mengungkapkan bahwa setiap komunikasi perusahaan kepada stakeholder eksternal, khususnya komunitas investor, memiliki potensi transformatif dalam proses evaluasi investasi. Kualitas informasi yang dikarakterisasi oleh akurasi, relevansi temporal, dan ketepatan waktu penyampaian menjadi determinan utama dalam pembentukan persepsi nilai perusahaan. Mekanisme interpretasi informasi korporat menciptakan fenomena polarisasi respons pasar, di mana disclosure positif memicu optimisme yang tercermin dalam peningkatan aktivitas perdagangan dan apresiasi harga saham. Sebaliknya, indikasi deteriorasi kondisi finansial, termasuk potensi kesulitan keuangan, menghasilkan sentimen bearish yang mempengaruhi keputusan alokasi kapital investor (Hartono, (Putri, 2. menekankan bahwa laporan tahunan berfungsi sebagai instrumen signaling komprehensif yang mengintegrasikan data kuantitatif dan naratif kualitatif. Transparansi dan komprehensivitas dalam penyajian laporan menjadi katalisator pembentukan ekspektasi stakeholder terhadap trajektori kinerja perusahaan di masa mendatang. Paradigma Trade-off Theory dalam Optimalisasi Struktur Modal Kerangka kerja trade-off theory yang dikembangkan (Myers & R. A, 2. menyediakan blueprint untuk memahami dinamika pembiayaan korporat melalui pendekatan cost-benefit analysis. Teori ini mengidentifikasi tax shield sebagai primary benefit dari utilisasi debt financing, sementara bankruptcy risk dan financial distress costs menjadi counterweight dalam equation optimalisasi struktur modal. (ClementeAlmendros & Sogorb-Mira, 2. menjelaskan bahwa equilibrium optimal tercapai 3786 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 3784 Ae 3802 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. ketika marginal benefit dari tax savings setara dengan marginal cost dari financial Ekskalasi leverage ratio melampaui titik optimal mengakibatkan amplifikasi risiko kebangkrutan yang berpotensi menggerus investor confidence dan menurunkan market valuation (Brigham & Daves, 2. Karakteristik capital-intensive dalam industri transportasi dan logistik menciptakan dependensi tinggi terhadap debt financing untuk mendanai fixed assets dan operational requirements. (Budyastuti & Supriatiningsih, 2. mengidentifikasi bahwa excessive leverage dalam sektor ini dapat memicu penurunan Altman Z-Score dan meningkatkan probabilitas financial distress, yang selanjutnya ditransmisikan menjadi negative market signals. Konseptualisasi Financial Distress sebagai Prekursor Kebangkrutan Financial distress merepresentasikan stadium kritis dalam lifecycle perusahaan yang dikarakterisasi oleh deteriorasi sistemik performa keuangan. Manifestasi kondisi ini meliputi erosi profitabilitas, disekuilibrium struktur modal, incapacity dalam pemenuhan short-term obligations, dan kontraksi operational cash flows (Brigham & Daves, 2. (Platt & plat Marjorie, 2. mengonseptualisasikan distress sebagai ketidakmampuan perusahaan dalam mempertahankan financial stability dalam horizon jangka panjang. Kondisi ini berfungsi sebagai early warning indicator terhadap potensi bankruptcy, sehingga memerlukan vigilance tinggi dari investor sebagai stakeholder utama. (Zulfah, 2. memperluas perspektif dengan menekankan bahwa vulnerability terhadap financial distress tidak terbatas pada skala atau sektor tertentu, namun dapat menjadi trigger bagi cascading financial crisis apabila tidak diantisipasi melalui proactive measures. Dekonstruksi Model Altman Z-Score sebagai Bankruptcy Predictor Model prediksi kebangkrutan (Altman, 1. menggunakan metodologi Multiple Discriminant Analysis untuk mengkonstruksi composite score yang mampu membedakan perusahaan sehat finansial dengan entitas berisiko bangkrut. Kelima komponen rasio dalam model ini memiliki kontribusi unik dalam assessment financial Working Capital to Total Assets Ratio (WCTA). Rasio ini mengkuantifikasi proposi net working capital terhadap total assets, memberikan indikasi liquidity position jangka pendek. Elevasi nilai WCTA mengindikasikan superior capability dalam memenuhi short-term obligations (Brigham & Daves, 2. (Altman, 1. Dalam konteks industri transportasi, (Nurasia et al. , 2. mengidentifikasi bahwa low WCTA ratio berkorelasi dengan liquidity stress akibat tingginya operational costs dan daily working capital HCA: WCTA berpengaruh positif signifikan terhadap Kapitalisasi Pasar Perusahaan Retained Earnings to Total Assets Ratio (RETA). Komponen ini mengukur proporsi asset financing melalui accumulated earnings versus external financing sources. High RETA ratio mengindikasikan financial stability dan managerial competency dalam profit retention (J. & T. , 2. (Nurasia et 3787 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 3784 Ae 3802 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. , 2. menjelaskan bahwa low RETA ratio pada perusahaan yang mengakumulasi historical losses berpotensi meningkatkan financial distress probability. HCC: RETA berpengaruh positif signifikan terhadap kapitalisasi pasar perusahaan Earnings Before Interest and Taxes to Total Assets Ratio (EBITTA). Rasio ini mengevaluasi operational profitability efficiency melalui asset (Jordan et al. , 2. mengkarakterisasi EBIT/TA sebagai barometer operational efficiency yang mencerminkan kemampuan perusahaan dalam generating earnings dari asset base. (Oktaviani & Purwanto, 2. menekankan bahwa low ratio values mengindikasikan suboptimal asset utilization dalam profit generation. HCE: EBITTA berpengaruh positif signifikan terhadap Kapitalisasi Pasar Perusahaan Market Value of Equity to Book Value of Total Liabilities Ratio (MVEBVTL). Komponen ini mencerminkan market perception terhadap debt coverage capability perusahaan. Elevasi market value equity relative to total liabilities mengindikasikan positive investor sentiment dan strong financial position (Altman, (Nurasia et al. , 2. mengidentifikasi bahwa deteriorasi stock price dengan high debt levels meningkatkan bankruptcy risk significantly. HCE: MVEBVTL berpengaruh positif signifikan terhadap Kapitalisasi Pasar Perusahaan Sales to Total Assets Ratio (STA). Rasio ini mengkuantifikasi asset turnover efficiency dalam revenue generation. (Purwanda & Yuniarti, 2. menjelaskan bahwa superior S/TA ratio mengindikasikan optimal asset utilization untuk sales creation. Dalam sektor transportasi, rasio ini menjadi critical metric untuk evaluasi productive utilization dari operational assets seperti fleet, infrastructure, dan facilities (Altman, 1. HCI: STA berpengaruh positif signifikan terhadap Kapitalisasi Pasar Perusahaan Justifikasi Urgensi Penelitian Era post-pandemic telah mengakselerasi transformasi fundamental dalam landscape bisnis transportasi dan logistik, menciptakan paradigma baru dalam assessment kinerja keuangan perusahaan. Volatilitas ekonomi global yang berkelanjutan, shifting dalam consumer behavior pattern, dan akselerasi digitalisasi supply chain telah menghasilkan complexity unprecedented dalam evaluasi financial health, khususnya pada sektor yang traditionally capital-intensive seperti Fenomena ini memunculkan urgensi akademis dan praktis untuk mendekonstruksi conventional bankruptcy prediction models, khususnya Altman ZScore yang telah menjadi standard metric selama dekade, guna mengeksplorasi individual contribution dari setiap komponen rasio terhadap market capitalization dalam konteks dinamika bisnis contemporary. Salah satu masalah utama yang muncul adalah bahwa pendekatan composite scoring tidak dapat memberikan informasi mendalam tentang elemen keuangan tertentu yang paling memengaruhi harga pasar. Proses konvensional yang menggunakan Z-Score agregat seringkali mengaburkan nilai informasi dari masingmasing rasio. Akibatnya, stakeholder tidak memiliki kesempatan untuk melakukan intervensi keuangan yang dimaksud. Kondisi ini diperparah oleh tantangan khusus 3788 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 3784 Ae 3802 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. setelah pandemi seperti penutupan rantai pasokan, pola permintaan logistik yang berubah, dan perubahan peraturan yang memerlukan struktur analisis keuangan yang lebih kompleks. Mengubah model yang sudah ada atau menggunakan metode ramalan yang benar-benar baru adalah solusi alternatif. Namun demikian, pendekatan analisis rasio individu menawarkan keseimbangan yang ideal antara rigor teoretis dan aplikasi praktis. Metode ini memberikan pemahaman mendalam yang memungkinkan investor, financial analyst, dan manajemen perusahaan untuk menemukan kekuatan keuangan tertentu yang paling memengaruhi persepsi pasar. Dalam era ketidakpastian yang menuntut pendekatan adaptif untuk evaluasi keuangan kesehatan transportasi, agregasi Altman Z-Score menjadi komponen individual memudahkan pembuatan strategi keuangan yang ditargetkan, pengambilan keputusan manajemen portfolio yang lebih baik, dan penilaian risiko yang lebih cerdas. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan desain eksplanatori yang bertujuan menganalisis hubungan kausal antara komponen individual rasio keuangan dalam formula Altman Z-Score terhadap kapitalisasi pasar perusahaan sektor transportasi. Studi ini menerapkan kerangka kerja longitudinal untuk mengkaji dinamika performa finansial perusahaan dalam konteks pemulihan ekonomi pasca pandemi COVID-19, dengan memanfaatkan data sekunder berkualitas tinggi yang bersumber dari laporan keuangan auditan perusahaan sampel selama periode 2020 hingga 2023. Target populasi penelitian mencakup keseluruhan entitas bisnis yang beroperasi dalam sub-sektor transportasi dan logistik di Indonesia. Melalui teknik purposive sampling, penelitian ini memfokuskan analisis pada 25 perusahaan transportasi dan logistik yang memenuhi kriteria seleksi ketat. Kriteria inklusi sampel yang ditetapkan meliputi status terdaftar berkelanjutan di Bursa Efek Indonesia sepanjang periode observasi, ketersediaan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit secara komprehensif, kelengkapan data finansial untuk semua variabel penelitian, tidak mengalami pemberhentian perdagangan . , suspensi berkelanjutan, atau reorganisasi korporat melalui merger dan akuisisi, serta konsistensi penggunaan denominasi mata uang Rupiah dalam pelaporan keuangan. Seluruh data diperoleh melalui portal resmi Bursa Efek Indonesia, memastikan akurasi dan reliabilitas informasi finansial yang dianalisis. Kapitalisasi pasar perusahaan dalam penelitian ini dikuantifikasi melalui rasio Price to Book Value (PBV) sebagai variabel dependen, yang menggambarkan perbandingan antara harga saham penutupan akhir tahun dengan nilai buku per lembar saham. Indikator ini mencerminkan persepsi pasar terhadap nilai intrinsik perusahaan relatif terhadap aset bersihnya. Sementara itu, komponen rasio keuangan yang diekstraksi dari formula Altman Z-Score berfungsi sebagai variabel independen. Model prediksi kebangkrutan (Altman, 1. mengintegrasikan lima dimensi kinerja finansial melalui formula multivariat Z = 1,2XCA 1,4XCC 3,3XCE 0,6XCE 0,99XCI, 3789 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 3784 Ae 3802 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. dimana XCA merupakan rasio Modal Kerja terhadap Total Aset. XCC adalah rasio Laba Ditahan terhadap Total Aset. XCE menunjukkan rasio Laba Sebelum Bunga dan Pajak terhadap Total Aset. XCE merepresentasikan rasio Nilai Pasar Ekuitas terhadap Nilai Buku Total Liabilitas, dan XCI mencerminkan rasio Penjualan terhadap Total Aset. Klasifikasi kondisi finansial perusahaan berdasarkan skor Z mengikuti threshold dimana nilai Z < 1,81 mengindikasikan zona distress finansial, 1,81 O Z O 2,99 menunjukkan area abu-abu dengan kondisi finansial tidak pasti, dan Z > 2,99 merepresentasikan zona sehat finansial. Proses pengumpulan data dilaksanakan melalui metode dokumentasi sistematis terhadap laporan keuangan auditan dengan menggunakan instrumen berupa database elektronik yang dirancang untuk mengekstraksi informasi finansial relevan secara konsisten dan terstruktur dari setiap perusahaan sampel sepanjang periode observasi. Tahap awal analisis melibatkan eksplorasi karakteristik statistik deskriptif untuk seluruh variabel penelitian, memberikan gambaran komprehensif tentang distribusi, tendensi sentral, dan variabilitas data. Validitas model ekonometrika dipastikan melalui serangkaian pengujian asumsi klasik yang mencakup uji normalitas menggunakan Jarque-Bera test untuk memverifikasi distribusi normal residual, uji multikolinearitas melalui penerapan Variance Inflation Factor (VIF) untuk mengidentifikasi korelasi berlebihan antar variabel independen, uji heteroskedastisitas dengan aplikasi Glejser test untuk mendeteksi ketidakhomogenan varians residual, dan uji autokorelasi menggunakan DurbinWatson test untuk mengidentifikasi korelasi serial dalam residual. Penelitian ini menerapkan metodologi regresi data panel . ooled regressio. sebagai kerangka analitis utama, dengan pemilihan model estimasi optimal dilakukan melalui uji Lagrange Multiplier untuk menentukan superioritas antara Ordinary Least Square (OLS) dengan Random Effect Model, serta uji Hausman untuk membandingkan kelayakan Random Effect Model versus Fixed Effect Model. Pendekatan analitis ini memungkinkan eksplorasi mendalam tentang bagaimana setiap komponen rasio keuangan dalam framework Altman Z-Score berkontribusi terhadap valuasi pasar perusahaan transportasi, memberikan perspektif dekonstruktif terhadap model prediksi kebangkrutan konvensional dalam konteks era pascapandemi. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Karakteristik Sampel dan Distribusi Data Investigasi terhadap perusahaan sektor transportasi dan logistik yang tercatat di Bursa Efek Indonesia menghasilkan sampel final sebanyak 25 entitas bisnis yang memenuhi kriteria penelitian selama periode 2020-2023. Proses seleksi sampel dilakukan melalui pendekatan purposive sampling dengan mempertimbangkan kelengkapan data keuangan dan konsistensi pelaporan. 3790 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 3784 Ae 3802 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Tabel 1. Komposisi Sampel Penelitian Kriteria Seleksi Populasi sektor transportasi dan logistik di BEI Eliminasi: Ketidaklengkapan laporan keuangan Eliminasi: Penggunaan denominasi mata uang asing Sampel final yang memenuhi syarat Total observasi . perusahaan y 4 tahu. Sumber: Data Penelitian Jumlah Entitas . Berdasarkan tabel komposisi sampel di atas, terdapat eliminasi signifikan terhadap perusahaan yang tidak menyediakan laporan keuangan lengkap selama periode observasi. Fenomena ini mencerminkan tantangan industri transportasi dalam mempertahankan transparansi pelaporan, terutama menghadapi volatilitas operasional pascapandemi. Penggunaan mata uang dolar pada tiga perusahaan menunjukkan orientasi internasional beberapa entitas, namun dieliminasi untuk menjaga konsistensi komparabilitas data. Profil Statistik Deskriptif Variabel Penelitian Analisis karakteristik distribusi data menunjukkan variasi substansial pada indikator keuangan yang diteliti. Kapitalisasi pasar perusahaan transportasi mengalami disparitas ekstrem, dengan rentang nilai antara 0,32 hingga 63,91, mencerminkan heterogenitas kinerja sektor ini dalam menghadapi disrupsi pandemi. Tabel 2. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian Variabel Kapitalisasi Pasar Modal Kerja/Total Aset Laba Ditahan/Total Aset EBIT/Total Aset Nilai Pasar Ekuitas/Total Liabilitas Penjualan/Total Aset Minimum Maksimum Rerata Std. Deviasi 0,32 63,91 2,68 6,57 -1,35 0,81 0,01 0,38 -5,01 2,07 -0,19 0,94 -0,45 1,98 0,03 0,23 0,10 295,62 10,69 100 0,04 2,37 Sumber: Data Penelitian 0,65 0,51 Berdasarkan tabel statistik deskriptif di atas, kapitalisasi pasar menunjukkan nilai rerata yang relatif rendah . dibandingkan dengan nilai maksimum ekstrem, mengindikasikan konsentrasi valuasi tinggi hanya pada segelintir perusahaan. Fenomena ini mencerminkan polarisasi pemulihan pascapandemi, di mana mayoritas entitas masih menghadapi tekanan valuasi, sementara minoriter berhasil memanfaatkan momentum digitalisasi dan restrukturisasi operasional. Rasio modal kerja terhadap total aset memperlihatkan rerata mendekati nol . , menandakan keseimbangan tipis antara aset lancar dan kewajiban jangka Nilai minimum negatif (-1,. mengungkapkan potensi liquidity crunch pada 3791 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 3784 Ae 3802 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. beberapa entitas, yang kemungkinan besar berkaitan dengan gangguan cash flow operasional akibat pembatasan mobilitas dan penurunan volume distribusi barang. Akumulasi laba ditahan menunjukkan rerata negatif (-0,. , mencerminkan prevalensi kerugian operasional atau deplesi cadangan laba. Kondisi ini sejalan dengan karakteristik industri transportasi yang memiliki struktur biaya tetap tinggi, sehingga ketika pendapatan mengalami kontraksi drastis, kerugian cenderung terakumulasi dengan cepat. Profitabilitas operasional yang direpresentasikan melalui rasio EBIT terhadap total aset menunjukkan rerata sangat rendah . , bahkan beberapa entitas mengalami kerugian operasional. Hal ini menggambarkan tantangan substansial yang dihadapi industri dalam mempertahankan efisiensi operasional, meskipun permintaan transportasi sudah mulai mengalami pemulihan. Rasio nilai pasar ekuitas terhadap total liabilitas memperlihatkan variabilitas ekstrem dengan standar deviasi mencapai 33,0. Nilai maksimum yang mencapai 295,62 mengindikasikan adanya perusahaan yang berhasil memperoleh kepercayaan investor luar biasa, kemungkinan melalui inovasi model bisnis atau penguatan infrastruktur logistik digital. Efisiensi pemanfaatan aset yang diukur melalui rasio penjualan terhadap total aset menunjukkan rerata 0,65, mengindikasikan bahwa secara agregat, perusahaan mampu menghasilkan pendapatan sebesar 65% dari basis asetnya. Variasi yang cukup signifikan mencerminkan perbedaan efisiensi operasional antarentitas, yang dipengaruhi oleh jenis layanan dan strategi adaptasi selama periode krisis. Validasi Asumsi Model Regresi Sebelum melakukan analisis inferensial, penelitian ini melakukan serangkaian pengujian untuk memastikan model regresi memenuhi asumsi klasik yang diperlukan. Distribusi Normalitas Data Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov Statistik Asymptotic Significance Nilai Signifikansi 0,065 Sumber: Data Penelitian Interpretasi Distribusi normal Berdasarkan tabel hasil uji normalitas di atas, nilai signifikansi KolmogorovSmirnov sebesar 0,065 > 0,05 mengonfirmasi bahwa residual model regresi terdistribusi normal. Pemenuhan asumsi normalitas ini memungkinkan penggunaan statistik parametrik untuk inferensi lebih lanjut. Deteksi Multikolinearitas Tabel 4. Hasil Diagnostik Multikolinearitas Variabel Modal Kerja/Total Aset 3792 | Volume 7 Nomor 11 2025 Tolerance 0,611 VIF 1,437 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 3784 Ae 3802 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Laba Ditahan/Total Aset EBIT/Total Aset Nilai Pasar Ekuitas/Total Liabilitas Penjualan/Total Aset Sumber: Data Penelitian 0,721 0,326 0,893 0,932 1,387 3,068 1,119 1,072 Berdasarkan tabel diagnostik multikolinearitas di atas, seluruh variabel independen menunjukkan nilai tolerance > 0,10 dan VIF < 10, mengonfirmasi bahwa model terbebas dari masalah multikolinearitas. Hal ini memastikan bahwa setiap variabel memberikan kontribusi unik terhadap variabilitas nilai perusahaan. Pengujian Autokorelasi Tabel 5. Hasil Uji Autokorelasi Durbin-Watson Model R Square 0,974 0,949 Adjusted R Square Std. Error 0,944 1,55026 Sumber: Data Penelitian Durbin-Watson 1,836 Berdasarkan tabel hasil uji autokorelasi di atas, nilai Durbin-Watson sebesar 1,836 berada dalam rentang acceptable . U < dW < 4-dU), yaitu 1,7582 < 1,836 < 2,4178, mengonfirmasi ketiadaan autokorelasi dalam model. Kondisi ini memastikan bahwa residual antarobservasi bersifat independen. Deteksi Heteroskedastisitas Tabel 6. Hasil Uji Heteroskedastisitas Glejser Variabel Konstanta Modal Kerja/Total Aset Laba Ditahan/Total Aset EBIT/Total Aset Nilai Pasar Ekuitas/Total Liabilitas Penjualan/Total Aset Koefisien Std. Error 7,323 2,189 0,453 0,373 -0,070 0,128 -0,138 0,122 0,012 0,010 3,345 1,214 -0,550 -1,125 1,182 Signifikansi 0,200 0,244 Sumber: Data Penelitian 0,819 0,415 0,001 0,228 0,583 0,263 0,240 Berdasarkan tabel hasil uji heteroskedastisitas di atas, seluruh variabel independen menunjukkan nilai signifikansi > 0,05, mengonfirmasi bahwa model tidak mengalami masalah heteroskedastisitas. Kondisi ini memastikan bahwa varians residual bersifat konstan sepanjang nilai prediksi. Pemilihan Model Estimasi Panel Data Penelitian ini menggunakan pendekatan panel data untuk mengoptimalkan informasi yang tersedia dari dimensi cross-section dan time series. Hasil uji Lagrange 3793 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 3784 Ae 3802 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Multiplier menunjukkan nilai probabilitas 0,00, mengindikasikan bahwa randomeffect model lebih superior dibandingkan ordinary least square. Sementara itu, uji Hausman menghasilkan probabilitas 0,059 > 0,05, mengonfirmasi bahwa randomeffect model merupakan pendekatan estimasi yang paling tepat untuk penelitian ini. Analisis Pengaruh Individual Komponen Altman Z-Score Hasil Estimasi Random-Effect Model Tabel 7. Hasil Regresi Random-Effect Model Variabel Koefisien Std. Error -6,932 2,945 -1,056 0,526 -0,138 0,194 -0,037 0,802 0,196 0,005 tStatistik -2,354 -2,006 -0,709 -0,046 39,294 Konstanta Modal Kerja/Total Aset Laba Ditahan/Total Aset EBIT/Total Aset Nilai Pasar Ekuitas/Total Liabilitas Penjualan/Total Aset 1,388 0,312 4,408 Adjusted R-squared 0,949 Keterangan: *signifikan pada = 5%, *** signifikan pada = 1% Sumber: Data Penelitian Probabilitas 0,021 0,048* 0,480 0,964 0,000*** 0,000*** Berdasarkan tabel hasil regresi di atas, model menunjukkan daya penjelas yang sangat tinggi dengan Adjusted R-squared mencapai 0,949, mengindikasikan bahwa 94,9% variabilitas kapitalisasi pasar dapat dijelaskan oleh komponenkomponen Altman Z-Score yang diteliti. Distribusi Klasifikasi Kesehatan Keuangan Implementasi formula Altman Z-Score terhadap sampel penelitian menghasilkan kategorisasi kesehatan keuangan yang mencerminkan kondisi heterogen industri transportasi pascapandemi. Tabel 8. Klasifikasi Altman Z-Score Perusahaan Sampel Kode Emiten ASSA BIRD BPTR JAYA LRNA SAFE TAXI TMAS WEHA AKSI 0,81 1,19 0,33 3,01 0,33 -0,24 -0,59 0,80 -0,33 3,04 2,64 1,92 1,00 8,78 0,71 -0,41 30,92 3,79 1,10 5,27 3794 | Volume 7 Nomor 11 2025 1,13 2,28 0,64 4,84 0,72 0,61 26,34 5,93 2,10 3,00 0,99 2,40 0,52 2,21 0,97 0,88 27,34 2,65 2,68 2,55 Kategori Dominan Financial Distress Grey Zone Financial Distress Sehat Financial Distress Financial Distress Sehat Sehat Financial Distress Sehat Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 3784 Ae 3802 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. CMPP HAIS HELI IMJS KJEN MIRA MITI NELY PPGL PURA SAPX SDMU TNCA TRJA TRUK -5,09 2,94 1,48 0,36 37,59 -4,51 18,85 4,43 3,15 11,47 18,53 -0,83 42,32 2,00 2,09 -5,91 -5,27 -4,33 4,03 4,29 3,55 1,31 -0,98 0,62 0,36 0,36 0,36 47,90 9,53 6,56 -4,79 -5,93 -1,91 54,66 5,23 8,38 8,59 8,30 9,42 4,25 4,54 2,54 5,02 2,94 2,77 11,36 7,44 6,37 -1,28 1,66 0,88 179,11 9,18 6,79 5,29 1,17 0,74 2,59 1,81 2,00 Sumber: Data Penelitian Financial Distress Sehat Financial Distress Financial Distress Sehat Financial Distress Sehat Sehat Sehat Grey Zone Sehat Financial Distress Sehat Grey Zone Grey Zone Berdasarkan tabel klasifikasi Altman Z-Score di atas, terdapat polarisasi signifikan dalam kesehatan keuangan perusahaan transportasi. Sebanyak 11 perusahaan . %) terklasifikasi dalam kategori financial distress, mencerminkan dampak berkepanjangan dari disrupsi pandemi. Di sisi lain, 10 perusahaan . %) berhasil mempertahankan kondisi sehat, mengindikasikan kemampuan adaptasi dan resiliensi yang superior. Sisanya, 4 perusahaan . %) berada dalam grey zone, menunjukkan kondisi transisional yang memerlukan perhatian khusus. Pembahasan Paradoks Modal Kerja dalam Valuasi Perusahaan Temuan penelitian menunjukkan bahwa rasio modal kerja terhadap total aset (WCTA) memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap kapitalisasi pasar perusahaan transportasi . oefisien = -1,056. p-value = 0,. Hasil ini mengonfirmasi hipotesis bahwa akumulasi modal kerja berlebihan justru merugikan persepsi investor terhadap efisiensi operasional perusahaan. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui perspektif teori trade-off yang menyatakan bahwa penahanan kas berlebihan mengurangi peluang investasi pada aset produktif, sehingga menurunkan ekspektasi pertumbuhan laba masa depan. Dalam konteks industri transportasi pascapandemi, perusahaan yang mempertahankan modal kerja tinggi tanpa disertai peningkatan kinerja operasional dipersepsikan sebagai indikasi ketidakoptimalan manajemen dalam mengelola Dari sudut pandang teori sinyal, tingginya WCTA tanpa peningkatan volume operasi memberikan sinyal negatif kepada pasar bahwa manajemen kurang agresif dalam menciptakan nilai tambah. Investor menginterpretasikan kondisi ini sebagai bentuk konservatisme berlebihan yang menghambat potensi pertumbuhan 3795 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 3784 Ae 3802 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Kole, 2. dan (Tipa et al. , 2. yang mengonfirmasi pengaruh negatif modal kerja terhadap valuasi perusahaan. Dalam konteks industri transportasi, akumulasi persediaan berlebihan, perpanjangan tenor piutang untuk mempertahankan pelanggan, dan penumpukan kas sebagai antisipasi ketidakpastian justru menekan profitabilitas dan efisiensi pemanfaatan aset. Relevansi Laba Ditahan dalam Era Volatilitas Rasio laba ditahan terhadap total aset (RETA) tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kapitalisasi pasar . oefisien = -0,138. p-value = 0,. Temuan ini mengindikasikan bahwa akumulasi laba historis tidak serta merta memberikan dampak positif terhadap persepsi investor mengenai nilai perusahaan. Ketidaksignifikanan RETA dapat dijelaskan melalui beberapa perspektif. Pertama, laba ditahan umumnya dialokasikan untuk kebutuhan internal seperti pembiayaan operasional rutin, investasi pemeliharaan aset, atau pelunasan kewajiban, sehingga tidak memberikan sinyal pertumbuhan yang kuat kepada Kedua, dalam industri transportasi yang mengalami disrupsi struktural pascapandemi, investor lebih fokus pada kemampuan adaptasi dan inovasi model bisnis dibandingkan dengan cadangan laba historis. Ketiga, mengingat nilai rerata RETA yang negatif (-0,. , mayoritas perusahaan sampel mengalami akumulasi kerugian atau deplesi cadangan laba, sehingga variabel ini kehilangan relevansinya sebagai indikator kekuatan finansial. Investor cenderung mengabaikan laba ditahan yang rendah atau negatif dan lebih memfokuskan evaluasi pada indikator forward-looking seperti proyeksi cash flow dan strategi transformasi bisnis. Hasil ini konsisten dengan temuan (Dahmash et al. , 2. yang menyatakan bahwa RETA tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap valuasi perusahaan, terutama pada perusahaan yang mengoperasikan bisnis padat modal dengan volatilitas tinggi. Ketidaktepatan Profitabilitas Operasional sebagai Prediktor Rasio earnings before interest and taxes terhadap total aset (EBITTA) tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kapitalisasi pasar . oefisien = -0,037. pvalue = 0,. Temuan ini mengejutkan mengingat profitabilitas operasional umumnya dianggap sebagai indikator fundamental kinerja perusahaan. Ketidaksignifikanan EBITTA dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, laba operasional dalam industri transportasi sangat rentan terhadap volatilitas eksternal seperti fluktuasi harga energi, regulasi pemerintah, dan kondisi ekonomi makro, sehingga investor menganggapnya sebagai indikator yang kurang reliable untuk proyeksi masa depan. Kedua, struktur biaya tetap yang tinggi dalam industri transportasi menyebabkan profitabilitas operasional menjadi sangat sensitif terhadap perubahan volume operasi, yang sulit diprediksi dalam era ketidakpastian Ketiga, laba operasional dapat tergerus oleh berbagai beban non-operasional seperti biaya restrukturisasi, investasi teknologi, atau provisi risiko, sehingga tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan fundamental perusahaan dalam 3796 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 3784 Ae 3802 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. menciptakan nilai. Investor mungkin lebih memperhatikan indikator operasional spesifik seperti load factor, utilisasi aset, atau efisiensi supply chain dibandingkan dengan profitabilitas akuntansi. Hasil ini sejalan dengan penelitian (Mysaka & Derun, 2. yang mengonfirmasi ketidaksignifikanan EBITTA terhadap Tobin's Q, mengindikasikan bahwa investor tidak mengandalkan profitabilitas operasional sebagai basis utama dalam mengevaluasi nilai perusahaan, terutama pada industri dengan karakteristik operasional yang kompleks dan volatil. Dominasi Nilai Pasar Ekuitas dalam Determinasi Valuasi Rasio nilai pasar ekuitas terhadap total liabilitas (MVEBVTL) menunjukkan pengaruh positif signifikan yang sangat kuat terhadap kapitalisasi pasar . oefisien = 0,196. p-value = 0,. Temuan ini menegaskan bahwa tingkat kepercayaan investor terhadap prospek perusahaan merupakan faktor dominan dalam pembentukan Signifikansi MVEBVTL dapat dijelaskan melalui perspektif teori sinyal yang menyatakan bahwa tingginya nilai pasar ekuitas relatif terhadap kewajiban mencerminkan optimisme investor terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan cash flow masa depan yang memadai untuk memenuhi obligasi finansial. Rasio ini juga menunjukkan tingkat leverage operasional yang terkendali, memberikan cushion yang memadai bagi investor terhadap risiko default. Dalam konteks industri transportasi pascapandemi, perusahaan dengan MVEBVTL tinggi umumnya adalah entitas yang berhasil melakukan transformasi digital, diversifikasi layanan, atau ekspansi ke segmen pasar baru yang lebih resilient terhadap shock eksternal. Investor memberikan premium valuasi kepada perusahaan yang menunjukkan kemampuan adaptasi dan inovasi model bisnis. Dari perspektif struktur modal, rasio ini mencerminkan keseimbangan optimal antara pendanaan ekuitas dan utang, di mana perusahaan tidak terlalu bergantung pada pendanaan eksternal namun tetap memanfaatkan leverage untuk mengoptimalkan return on equity. Kondisi ini memberikan fleksibilitas finansial yang diperlukan untuk navigasi dalam lingkungan bisnis yang tidak pasti. Temuan ini konsisten dengan penelitian (Lau & Haryadi, 2. yang mengonfirmasi pengaruh positif signifikan MVEBVTL terhadap nilai perusahaan, menegaskan relevansi kepercayaan pasar sebagai determinan utama valuasi Efisiensi Pemanfaatan Aset sebagai Value Creator Rasio penjualan terhadap total aset (STA) menunjukkan pengaruh positif signifikan terhadap kapitalisasi pasar . oefisien = 1,388. p-value = 0,. Temuan ini mengonfirmasi bahwa efisiensi operasional dalam memanfaatkan basis aset merupakan faktor krusial dalam penciptaan nilai perusahaan. Signifikansi STA mencerminkan kemampuan manajemen dalam mengoptimalkan produktivitas aset untuk menghasilkan pendapatan. Dalam industri transportasi yang memiliki intensitas modal tinggi, efisiensi pemanfaatan aset menjadi key performance indicator yang sangat diperhatikan investor. Perusahaan 3797 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 3784 Ae 3802 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. dengan STA tinggi menunjukkan kemampuan superior dalam mengelola armada, infrastruktur, dan aset operasional lainnya. Dari perspektif teori agensi. STA yang tinggi menunjukkan alignment yang baik antara kepentingan manajemen dan pemegang saham dalam memaksimalkan produktivitas aset. Investor menginterpretasikan efisiensi aset sebagai indikasi kualitas manajemen yang mampu menghasilkan return optimal dari investasi yang telah ditanamkan. Dalam konteks pascapandemi, perusahaan dengan STA tinggi umumnya adalah entitas yang berhasil melakukan right-sizing operasi, optimalisasi rute distribusi, atau implementasi teknologi untuk meningkatkan utilisasi aset. Kemampuan ini memberikan competitive advantage yang sustainable dalam industri yang menghadapi tekanan margin dan intensifikasi kompetisi. Hasil ini sejalan dengan temuan (Subur Karyatun, 2. yang mengonfirmasi pengaruh positif STA terhadap nilai perusahaan, menegaskan pentingnya efisiensi operasional sebagai value driver dalam industri yang kompetitif dan padat modal seperti transportasi dan logistik. Implikasi Teoretis dan Praktis Temuan penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap literatur keuangan perusahaan, khususnya dalam konteks aplikasi model prediksi financial distress pada industri spesifik. Dekonstruksi Altman Z-Score menunjukkan bahwa tidak semua komponen memiliki relevansi yang sama dalam menjelaskan valuasi pasar, terutama pada industri yang mengalami transformasi struktural. Dari perspektif praktis, hasil penelitian ini memberikan insight bagi manajemen perusahaan transportasi untuk memfokuskan perhatian pada optimalisasi efisiensi aset dan pengelolaan struktur modal yang mencerminkan kepercayaan investor. Sebaliknya, akumulasi modal kerja berlebihan, meskipun memberikan safety cushion likuiditas, justru dapat merugikan persepsi investor terhadap kinerja perusahaan. Bagi investor dan analis keuangan, temuan ini memberikan panduan bahwa evaluasi kesehatan finansial perusahaan transportasi tidak dapat mengandalkan indikator tunggal, melainkan memerlukan pendekatan holistik yang mempertimbangkan dinamika industri dan kondisi ekonomi makro. Prioritas evaluasi sebaiknya diberikan kepada efisiensi operasional dan kepercayaan pasar dibandingkan dengan indikator akuntansi tradisional. Dari sisi regulator dan pembuat kebijakan, hasil penelitian ini mengindikasikan perlunya dukungan yang lebih targeted kepada industri transportasi, terutama dalam hal akses pendanaan dan insentif untuk transformasi digital, mengingat pentingnya sektor ini dalam mendukung konektivitas ekonomi 3798 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 3784 Ae 3802 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini berhasil mengungkap dinamika kompleks pengaruh individual komponen Altman Z-Score terhadap kapitalisasi pasar perusahaan transportasi dan logistik pascapandemi, memberikan perspektif dekonstruktif yang menantang asumsi konvensional mengenai prediksi financial distress. Temuan empiris menunjukkan bahwa dari lima komponen yang diteliti, hanya tiga yang memiliki signifikansi statistik: modal kerja terhadap total aset memberikan pengaruh negatif . oefisien = -1,. , sementara nilai pasar ekuitas terhadap total liabilitas . oefisien = 0,. dan efisiensi pemanfaatan aset . oefisien = 1,. memberikan kontribusi positif terhadap valuasi perusahaan. Paradoks modal kerja mengonfirmasi bahwa akumulasi likuiditas berlebihan justru merugikan persepsi investor, mencerminkan ketidakoptimalan alokasi sumber daya dalam era transformasi digital. Sebaliknya, kepercayaan pasar yang tercermin melalui rasio nilai ekuitas dan efisiensi operasional menjadi determinan dominan dalam pembentukan kapitalisasi pasar, mengindikasikan shift paradigma investor dari fokus pada keamanan finansial tradisional menuju kemampuan adaptasi dan inovasi model bisnis. Ketidaksignifikanan laba ditahan dan profitabilitas operasional menggarisbawahi kompleksitas evaluasi kinerja dalam industri yang mengalami disrupsi struktural, di mana indikator akuntansi historis kehilangan relevansinya dibandingkan dengan metrik forward-looking. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada cakupan temporal yang relatif singkat . dan fokus pada satu sektor industri, sehingga generalisasi temuan memerlukan validasi lebih lanjut pada konteks industri dan periode yang berbeda, namun memberikan kontribusi signifikan dalam memahami dinamika valuasi perusahaan di era ketidakpastian ekonomi. Penelitian mendatang disarankan untuk memperluas horizon temporal investigasi hingga mencakup siklus ekonomi yang lebih komprehensif, termasuk periode pra-pandemi dan fase pemulihan ekonomi yang lebih matang, guna mengidentifikasi pola cyclical dalam relevansi komponen Altman Z-Score terhadap valuasi pasar. Eksplorasi cross-sectoral yang melibatkan industri dengan karakteristik operasional berbeda seperti manufaktur, teknologi, dan jasa keuangan akan memperkaya pemahaman mengenai universalitas atau spesifisitas temuan penelitian ini dalam konteks ekonomi Indonesia. Integrasi variabel moderating seperti tingkat digitalisasi, kualitas corporate governance, dan eksposur internasional dapat memberikan nuansa yang lebih kaya dalam memahami heterogenitas pengaruh rasio keuangan terhadap valuasi perusahaan. Pengembangan model prediksi yang lebih sophisticated dengan memanfaatkan machine learning techniques seperti random forest atau neural network dapat mengoptimalkan akurasi prediksi financial distress dengan mempertimbangkan non-linearity dan interaction effects Dari perspektif praktis, penelitian lanjutan sebaiknya mengeksplorasi dampak specific events seperti implementasi teknologi blockchain dalam supply chain, adopsi electric vehicle, atau perubahan regulasi lingkungan terhadap relevansi indikator keuangan tradisional. Investigasi mendalam mengenai timing effect dalam pengaruh rasio keuangan terhadap valuasi, termasuk lead-lag relationship dan persistence effect, akan memberikan insight berharga bagi timing 3799 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 3784 Ae 3802 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. keputusan investasi dan manajemen risiko portfolio. Selain itu, pengembangan composite index yang mengintegrasikan aspek ESG (Environmental. Social. Governanc. dengan komponen Altman Z-Score dapat mencerminkan evolusi preferensi investor menuju sustainable investing, memberikan framework evaluasi yang lebih holistik dan relevan dengan tren global contemporary capital market DAFTAR PUSTAKA