Calvaria Medical Journal : 215-221, Desember 2025 e-ISSN 3031-092X Original Research Article Hubungan Tingkat Kepatuhan Penggunaan Obat terhadap Keberhasilan Terapi Hipertensi di RSUD Waru Pamekasan pada Tahun 2024 Diah Arrizah Putri1. Herni Suprapti2 Fakultas Kedokteran. Universitas Wijaya Kusuma. Surabaya. Indonesia Departemen Farmakologi. Fakultas Kedokteran. Universitas Wijaya Kusuma. Surabaya. Indonesia *Corresponding e-mail: diaharrizahputri2. 7@gmail. Abstrak Latar Belakang: Kepatuhan adalah salah satu syarat pasti guna meningkatkan efektivitas terapi dan kualitas hidup pasien. Rendahnya tingkat kepatuhan terhadap obat hipertensi yang diresepkan merupakan faktor utama terjadinya hipertensi yang tidak terkontrol. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengamati hubungan/korelasi antara kepatuhan minum obat antihipertensi dengan keberhasilan terapi hipertensi di RSUD Waru Pamekasan. Metode Penelitian: Studi observasional analitik ini menggunakan pendekatan Cross Sectional dengan populasi pasien yang menderita hipertensi dan dirawat di RSUD Waru Pamekasan sebanyak 32 Kepatuhan diukur menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-. Analisis hubungan antar variabel dianalisis melalui uji chi-square. Hasil: Ditemukan bahwa tingkat kepatuhan dalam mengonsumsi obat memiliki keterkaitan yang bermakna dengan keberhasilan terapi hipertensi, yang diperkuat oleh nilai p < 0. Kesimpulan: menunjukkan bahwa pasien yang patuh memiliki peluang keberhasilan terapi yang jauh lebih Kata Kunci: Hipertensi. Keberhasilan terapi. Kepatuhan The Relationship Between Medication Adherence and The Succes of Hypertension Therapy at RSUD Waru Pamekasan in 2024 Abstract Background: Adherence is one of the definite requirements for improving therapeutic effectiveness and the patientAos quality of life. Low adherence to prescribed antihypertensive medications is a major factor in uncontrolled hypertension. Objective: This study was conducted to determine whether there is a relationship between compliance with drug use and the success of hypertension therapy at RSUD Waru Pamekasan. Methods: This analytical observational study employed a cross-sectional design involving 32 hypertensive patients treated at Waru Pamekasan Hospital. Respondents were selected using a nonprobability sampling technique. The association between variables was analyzed using the chi-square test. Results: It was found that the level of compliance in taking medication has a significant relationship with the success of hypertension therapy, which is confirmed by a p-value < 0. Conclusion: The conclusion shows that patients who are compliant have a much higher chance of successful therapy. Keywords: Adherence. Hypertension. Therapeutic Success A R T I C L E H I S T O R Y: Received 12-12-2025 Revised 20-12-2025 Accepted 21-12-2025 Hubungan Kepatuhan Penggunaan Obat dengan Keberhasilan Terapi di RSUD Waru Pamekasan padaA Diah Arrizah Putri. Herni Suprapti PENDAHULUAN Hipertensi adalah keadaan ketika tekanan darah tetap berada di atas batas normal, dengan nilai sistolik melebihi 140 mmHg dan/atau diastolik lebih dari 90 mmHg berdasarkan pengukuran yang dilakukan pada beberapa kali pemeriksaan (PDHI, 2. Hipertensi kerap dikenal sebagai silent disease oleh karena tidak menimbulkan keluhan yang khas/spesifik, sehingga sering kurang disadari oleh penderita (AHA, 2. Menurut JNC Vi, target pengendalian tekanan darah berbeda sesuai kelompok usia serta ada tidaknya penyakit penyerta. Pada pasien tanpa komorbid dengan usia Ou60 tahun, target tekanan darah yang dikehendaki adalah <150/90 mmHg, serta target <140/90 mmHg pada individu usia <60 tahun. Sementara itu, pasien dengan diabetes melitus maupun penyakit ginjal kronik, batas yang direkomendasikan adalah tekanan sistolik <140 mmHg dan tekanan diastolik <90 mmHg (James et al. , 2. Peningkatan tekanan darah sekitar 180/120 mmHg atau lebih dapat menyebabkan berbagai gejala, seperti sakit kepala, nyeri dada, sesak napas, mual dan muntah, kebingungan, kecemasan, mimisan, serta aritmia. Tekanan darah tinggi yang tidak segera ditangani dapat bermanifestasi menjadi berbagai komplikasi terutama pada organ jantung, otak, mapun ginjal (WHO, 2. Berdasarkan klasifikasi etiologinya, hipertensi dapat dikelompokkan menjadi hipertensi esensial/primer, yang mencakup 90-95% kasus dan tidak memiliki etiologi yang jelas . , serta hipertensi sekunder yang merupakan salah satu manifestasi dari suatu penyakit tertentu dan umumnya dapat bersifat ringan hingga sedang (Princewel et al. , 2. Di Indonesia, prevalensi kasus hipertensi telah menyentuh angkat 34% dengan jumlah kasus pada tahun 2018 mencapai 63. 620 orang, dimana terdapat sekitar 427. 218 kematian berkaitan dengan kondisi tersebut (Handono, 2. Laporan Riskesdas tahun 2018 melaporkan bahwa Provinsi Jawa Timur memiliki prevalensi 36,3% dan menempati urutan ke-15 dengan 380 kasus hipertensi (Kemenkes RI, 2018. Praningsih et al. , 2. Di sisi lain. Kabupaten Pamekasan. Jawa Timur, turut mengalami peningkatan prevalensi hipertensi pada tahun 2017 sebesar 23,16% (Andria et al. , 2. Dalam hal ini, hipertensi telah dikaitkan sebagai salah satu faktor risiko utama penyebab mortalitas di wilayah Asia Tenggara, dan diperkirakan berkontribusi terhadap tingkat mortalitas sebesar 1,5 juta per tahun (Woodham et al. , 2. Meskipun tidak dapat sembuh secara total, pasien hipertensi tetap dapat mengendalikan tekanan darahnya melalui terapi yang tepat dan berkelanjutan (Dipiro et al. , 2. Klasifikasi faktor risiko hipertensi dapat dibagi menjadi 2 kelompok utama (Meher et al. Pertama, faktor yang dapat dimodifikasi, seperti pola makan tinggi lemak dan garam. rendah konsumsi sayur dan buah. perilaku merokok. konsumsi alkohol. rendahnya aktivitas fisik. serta obesitas (Ojangba et al. , 2. Kedua, faktor yang tidak dapat diubah . , seperti riwayat keluarga, faktor usia . , dan keberadaan penyakit komorbid seperti kencing manis atau diabetes maupun gangguan ginjal (WHO, 2. Secara umum pengobatan hipertensi diberikan golongan obat angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor, beta-blockers, alpha-blockers, calcium channel blockers (CCB), angiotensin II reseptor antagonis, dan diuretic. Masing-masing golongan obat tersebut terdiri dari beberapa jenis obat dengan sifat farmakologi dan farmakodinamik yang berbeda-beda. Selain itu, pengobatan hipertensi dilakukan dengan terapi non farmakologi atau perilaku hidup Baik terapi medis dan perilaku merupakan langkah efektif untuk mengobati hipertensi. Keberhasilan pengobatan sangat dipengaruhi oleh tingkat kepatuhan pasien terhadap terapi yang dijalani (Pristianty et al. , 2. Rendahnya kepatuhan terhadap obat hipertensi yang diresepkan merupakan faktor utama terjadinya hipertensi yang tidak terkontrol (Burnier, 2. Kepatuhan terapeutik ditentukan oleh kemampuan pasien hipertensi untuk mematuhi terapi antihipertensi dan terapi non-medis terkait (Ali et al. , 2. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan pengobatan berhubungan dengan prognosis pasien, dan kurangnya kepatuhan meningkatkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular (Chowdhury et al. , 2. Pada penyakit kronis, kebutuhan untuk menjalani terapi jangka panjang seringkali menyebabkan kebosanan, kejenuhan, dan pada akhirnya memicu ketidakpatuhan yang berpengaruh negatif baik bagi individu maupun masyarakat (Ali et al. , 2. Calvaria Medical Journal : 215-221, Desember 2025 e-ISSN 3031-092X Salah satu langkah penting untuk menurunkan persentase morbiditas hipertensi yaitu dengan rutin mengonsumsi obat antihipertensi, namun penderita hipertensi yang patuh dalam pengobatannya masih tergolong rendah. Maka dari itu, studi ini dilakukan untuk menilai sejauh mana kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat antihipertensi berhubungan dengan keberhasilan pengelolaan hipertensi di RSUD Waru Pamekasan. METODE Rancangan dan Sampel Studi ini dilaksanakan di RSUD Waru Pamekasan dengan periode pengumpulan data berlangsung pada bulan April hingga Mei 2024. Berdasarkan teori dari Kerlinger dan Lee untuk penelitian kuantitatif memerlukan sampel minimal sebanyak 30 responden karena distribusi nilai mendekati kurva normal (Dwiutami & Maheswari, 2. Pada studi ini, sebanyak 32 pasien hipertensi yang memenuhi seluruh kriteria inklusi maupun eksklusi ditetapkan menjadi responden penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan observasional analitik untuk menilai korelasi antar variabel yang diamati. Model studi yang diterapkan adalah desain cross sectional yang bertujuan untuk mengamati korelasi antara dua variabel, yaitu variabel independent (Bebas: kepatuhan penggunaan obat, jenis kelamin, usia, lama menderita hipertensi, dan kontrol secara ruti. dengan variabel dependent (Terikat: keberhasilan terap. , dimana pengukuran variabel dilakukan pada satu titik waktu. Pemilihan sampel dilakukan melalui teknik nonprobability sampling jenis purposive sampling, dengan cara memilih responden sesuai dengan kriteria inklusi: . pasien hipertensi yang sedang menjalani pengobatan di RSUD Waru Pamekasan, . bersedia berpartisipasi sebagai responden, dan . berusia di atas 18 tahun. Kriteria eksklusi meliputi ibu hamil serta responden yang tidak mengisi kuesioner atau data penelitian secara lengkap. Pengumpulan Data dan Definisi Operasional Prosedur pengumpulan data menggunakan kuesioner untuk mengetahui tingkat kepatuhan pengobatan pasien maupun melalui data sekunder rekam medik untuk mengetahui keberhasilan terapi di RSUD Waru Pamekasan. Analisis Data Uji statistik utama menggunakan analisis bivariat chi-square untuk melihat hubungan16. Analisis bivariat tambahan juga dilakukan untuk mengamati hubungan antara karakteristik demografi (Usia. Jenis Kelamin. Lama Menderit. dan keberhasilan terapi. HASIL Karakteristik Responden Tabel 1. Karakteristik Responden di RSUD Waru Pamekasan Karakteristik Responden Jumlah (N = . Usia >60 Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Lama Menderita O 1 tahun > 1 tahun Kontrol dan berhasil menurunkan tekanan darah Rutin dengan tekanan darah berhasil normal 120/80 Rutin dengan tekanan darah berhasil tidak normal yaitu di atas 120/80 Persentase (%) 6,25 15,63 28,13 59,38 40,63 59,38 40,63 31,25 68,75 Hubungan Kepatuhan Penggunaan Obat dengan Keberhasilan Terapi di RSUD Waru Pamekasan padaA Diah Arrizah Putri. Herni Suprapti Tabel 1 menampilkan gambaran karakteristik pasien hipertensi pada penelitian ini, dimana terdapat total 32 responden, dengan distribusi usia 31-40 tahun terdapat 2 orang . ,25%), 41-50 tahun terdapat 5 orang . ,625%), 51-60 tahun terdapat 9 orang . ,125%), dan usia >60 tahun sebanyak 16 orang . %). Dalam penelitian ini, laki-laki tercatat sebagai kelompok yang paling banyak menderita hipertensi mencapai 19 orang . ,375%), sedangkan pada pasien perempuan sebanyak 13 orang . ,625%). Berdasarkan durasi/lama menderita hipertensi memperlihatkan bahwa kelompok dengan lama sakit O1 tahun mendominasi dengan 19 responden . ,375%). Sementara itu, pasien yang menderita hipertensi lebih dari satu tahun sebanyak 13 orang . ,625%). Pada aspek kontrol rutin dan capaian penurunan tekanan darah, sebanyak 10 responden . ,25%) menunjukkan hasil kontrol dengan tekanan darah mencapai nilai normal . /80 mmH. Sebaliknya, 22 responden . ,75%) memiliki tekanan darah di atas nilai normal, namun tetap menunjukkan tren penurunan dibandingkan hasil pengukuran Analisis Bivariat Tabel 2. Analisis Kepatuhan Berobat dengan Keberhasilan Terapi Hipertensi di RSUD Waru Pameksan pada Tahun 2024 Keberhasilan Terapi Kepatuhan Hipertensi p-value Penggunaan Obat Sig Berhasil Tidak Berhasil Total Patuh Tidak Patuh Total 71,875 3,125 71,875 28,125 0,05* *Signifikan pada p-value < 0,05. Berdasarkan Tabel 2, semua pasien yang patuh . berhasil, sementara 8 dari 9 pasien yang tidak patuh gagal mencapai keberhasilan terapi. Hasil uji bivariat chi-square menunjukkan nilai signifikansi sebesar p < 0,05, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa bahwa kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat terbukti memiliki keterkaitan signifikan dengan pencapaian hasil terapi hipertensi pada pasien yang dirawat di RSUD Waru Pamekasan. PEMBAHASAN Usia Responden di RSUD Waru Pamekasan Temuan penelitian menemukan bahwa kelompok usia >60 tahun memiliki proporsi hipertensi terbesar, yakni sebanyak 16 responden . laki-laki dan 1 perempua. Temuan ini menggarisbawahi peran faktor usia dalam berkontribusi terhadap peningkatan risiko hipertensi karena proses penuaan memengaruhi elastisitas pembuluh darah dan regulasi tekanan darah. Hasil ini konsisten dengan laporan Kartikasari & Pramatama . , yang menjelaskan bahwa tekanan darah sistolik cenderung meningkat seiring bertambahnya usia hingga rentang 55Ae60 tahun dan dapat terus meningkat sampai usia 80 tahun. Sementara itu, tekanan darah diastolik dapat meningkat sebelum akhirnya menurun secara bertahap atau bahkan turun drastis pada usia lanjut. Jenis Kelamin pada Responden di RSUD Waru Pamekasan Berdasarkan jenis kelamin, mayoritas penderita hipertensi pada studi ini diderita oleh laki-laki dengan jumlah responden 19 orang. Temuan ini dipertegas dengan penelitian serupa oleh Aryatiningsih & Silaen . yang menemukan bahwa kelompok laki-laki menunjukkan kecenderungan lebih besar untuk mengalami hipertensi dibandingkan kelompok perempuan. Perbedaan ini antara lain dipengaruhi oleh peran hormon estrogen pada perempuan yang mampu menaikkan kadar High Density Lipoprotein (HDL), sehingga memberikan efek protektif terhadap terjadinya aterosklerosis dan penebalan dinding pembuluh darah (Aryantiningsih & Silaen, 2. Lama Menderita Hipertensi pada Responden di RSUD Waru Pamekasan Analisis terhadap lamanya menderita hipertensi mengungkap bahwa kelompok dengan durasi Calvaria Medical Journal : 215-221, Desember 2025 e-ISSN 3031-092X penyakit O1 tahun mendominasi jumlah responden, dimana 19 orang (Durasi 5 bulan - 12 bulan/1 tahu. , sedangkan 13 orang lainnya menderita hipertensi >1 tahun (Durasi 13 bulan 17 bula. Durasi penyakit menjadi faktor penting yang memengaruhi tingkat kepatuhan pasien. Literatur menyatakan bahwa semakin lama seseorang hidup dengan hipertensi, kecenderungan untuk menurunkan kepatuhan semakin besar, terutama karena munculnya rasa bosan maupun jenuh terhadap penggunaan obat jangka panjang (Ihwatun et al. , 2. Pada konteks penelitian ini, pasien yang telah menderita penyakit hipertensi <1 tahun cenderung menunjukkan kepatuhan yang lebih baik dibandingkan mereka yang telah menjalani terapi lebih dari satu tahun (Ihwatun et al. , 2. Kontrol Rutin dan Berhasil Menurunkan Tekanan Darah pada Responden di RSUD Waru Pamekasan Hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa sebagian besar responden . ,75%) melakukan kontrol rutin meskipun tekanan darah yang dicapai belum sepenuhnya normal. Namun terdapat penurunan signifikan dibandingkan hasil pengukuran sebelumnya. Sebaliknya, 31,25% responden menunjukkan tekanan darah yang telah mencapai nilai normal. Menurut literatur, keberhasilan penatalaksanaan terapi turut dipengaruhi oleh konsistensi pasien dalam melakukan pemeriksaan kontrol secara rutin (Istiqomah et al. , 2. Selain itu, pencapaian hasil terapi yang baik pada pasien hipertensi berkontribusi pada perbaikan kondisi kesehatan secara keseluruhan dan menurunkan peluang munculnya komplikasi (Arini & Ayuchecaria, 2. Tingkat Kepatuhan Penggunaan Obat Antihipertensi dengan Keberhasilan Terapi di RSUD Waru Pameksan pada Tahun 2024 Penelitian ini menemukan bahwa mayoritas pasien hipertensi di RSUD Waru Pamekasan berada dalam kategori patuh terhadap penggunaan obat. Sebanyak 23 responden menunjukkan kepatuhan yang baik, sementara 9 lainnya masih memiliki tingkat kepatuhan rendah. Faktor yang sering menjadi penyebab ketidakpatuhan antara lain keyakinan pasien bahwa mereka telah sembuh karena merasa lebih baik, kebiasaan lupa minum obat, serta rasa jenuh akibat konsumsi obat setiap hari. Hasil tersebut tidak sepenuhnya selaras dengan studi oleh Pratiwi & Perwitasari . yang melaporkan proporsi ketidakpatuhan yang lebih tinggi dibandingkan pasien yang patuh. Meski demikian, pada aspek keberhasilan terapi, temuan studi ini konsisten terhadap hasil penelitian Sumiasih et al. , yang melaporkan bahwa sebagian besar responden . %) turut berhasil mencapai penurunan tekanan darah. Analisis data statistik melalui uji bivariat chi-square menunjukkan nilai p-value < 0,05, yang diinterpretasikan sebagai korelasi yang bermakna antara tingkat kepatuhan penggunaan obat dan keberhasilan terapi hipertensi. Temuan ini mendukung hasil penelitian terdahulu yang turut menyatakan bahwa kepatuhan berpengaruh secara bermakna terhadap keberhasilan pengendalian tekanan darah (Jumhani & Mutmainah, 2. KESIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat kepatuhan penggunaan obat antihipertensi dan kebershasilan terapi hipertensi pada pasien di RSUD Waru Pamekasan tahun 2024. Pasien yang menunjukkan kepatuhan yang lebih baik cenderung memiliki peluang lebih tinggi untuk mencapai pengendalian tekanan darah yang DAFTAR PUSTAKA