Available at: https://stt-su. id/e-journal/index. php/immanuel/index Volume 7. No 1. April 2026 . DOI: https://doi. org/10. 46305/im. e-ISSN 2721-432X p-ISSN 2721-6020 Kepemimpinan Melayani dalam Perspektif Eklesiologi Komunio John Zizioulas bagi Gereja di Indonesia Thalia Srihati Br. Tarigan Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Jakarta tarigan@stftjakarta. Abstract: This paper analyzes servant leadership in the perspective of John D. ZizioulasAo ecclesiology of communion as a theological proposal for churches in Indonesia. This study is a qualitative library-based research employing normative and correlative theological approaches. The analysis engages ZizioulasAo thought on communion and perichoresis and places it in dialogue with ChristAos hospitality and servant leadership within the contemporary challenges faced by Indonesian churches. The discussion shows that the ecclesiology of communion understands the church as a fellowship rooted in the relational life of the Triune God, while perichoresis provides a dialogical, participatory, and non-dominative relational paradigm for ecclesial life. Within this framework. ChristAos hospitality functions as a bridge between the churchAos liturgical identity and its social praxis, whereas servant leadership becomes the practical embodiment of communion. In the Indonesian context, marked by religious and cultural plurality, social fragmentation, and pastoral challenges, this model offers a constructive direction for the church to become a community that welcomes, restores, and empowers. Therefore, this paper argues that servant leadership grounded in the ecclesiology of communion and enriched by ChristAos hospitality offers a relevant theological contribution to the renewal of the church in Indonesia. Keywords: Servant leadership. ecclesiology of communion. John D. Zizioulas. ChristAos hospitality. Abstrak: Tulisan ini menganalisis kepemimpinan melayani dalam perspektif eklesiologi komunio John D. Zizioulas sebagai tawaran teologis bagi gereja di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan teologis normatif dan korelatif. Analisis dilakukan terhadap pemikiran Zizioulas mengenai komunio dan perikoresis, serta dialognya dengan konsep hospitalitas Kristus dan kepemimpinan melayani dalam konteks tantangan gereja di Indonesia. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa eklesiologi komunio menempatkan gereja sebagai persekutuan yang berakar pada relasi Allah Tritunggal, sedangkan perikoresis memperlihatkan pola relasional yang dialogis, partisipatif, dan non-dominatif bagi kehidupan bergereja. Dalam kerangka tersebut, hospitalitas Kristus menjadi jembatan antara identitas liturgis gereja dan praksis sosialnya, sementara kepemimpinan melayani menjadi wujud praksis dari kehidupan komunio. Dalam konteks Indonesia yang ditandai oleh pluralitas agama dan budaya, fragmentasi sosial, serta berbagai tantangan pastoral, model kepemimpinan ini menawarkan arah bagi gereja untuk hadir sebagai komunitas yang menyambut, memulihkan, dan memberdayakan. Dengan demikian, tulisan ini menegaskan bahwa kepemimpinan melayani yang berakar pada eklesiologi komunio dan diperkaya oleh hospitalitas Kristus dapat menjadi kontribusi teologis yang relevan bagi pembaruan gereja di Indonesia. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 17 T. Br Tarigan: Kepemimpinan Melayani dalam Perspektif Eklesiologi KomunioA Kata kunci: Kepemimpinan melayani. eklesiologi komunio. John D. Zizioulas. hospitalitas Kristus. Pendahuluan Isu mengenai gereja selalu berhadapan dengan pertanyaan fundamental: apa hakikat gereja dan bagaimana gereja hadir secara bermakna di tengah dinamika zaman? Dalam tradisi gereja mula-mula, pemahaman mengenai gereja dibentuk oleh model hierarkis dan institusional yang menekankan struktur serta kewenangan. Model ini memiliki fungsi tertentu, tetapi sering kali membatasi terwujudnya kehidupan gerejawi yang dialogis, partisipatif, dan transformatif. Dalam konteks inilah eklesiologi komunio oleh John D. Zizioulas menjadi signifikan. Melalui karyanya Being as Communion. Zizioulas menegaskan bahwa keberadaan gereja tidak dapat dilepaskan dari ontologi relasional. manusia sungguh menjadi dirinya dalam persekutuan yang mencerminkan kehidupan Allah Tritunggal. Relasi Bapa. Anak, dan Roh Kudus yang hidup dalam perikoresis menjadi pola dasar bagi eksistensi gereja sebagai komunitas yang saling hadir, setara, dan saling menerima. Zizioulas memandang bahwa tanpa konsep komunio, keberadaan Allah tidak dapat dipahami secara tepat, karena natur Allah adalah relasional. 2 Penekanan ini memberikan landasan eklesiologis bagi gereja untuk memahami identitasnya sebagai ikon kasih Allah Tritunggal. Pemikiran ini sejalan dengan refleksi ekumenis yang menegaskan bahwa kesatuan dan keberagaman dalam gereja mendapatkan dasar teologisnya dalam kesatuan 3 Kesatuan tersebut tidak meniadakan perbedaan, melainkan meneguhkan keberagaman sebagai karunia yang perlu direngkuh oleh gereja dalam praksis hidup Namun demikian, teori Zizioulas tidak terlepas dari kritik. Beberapa teolog menilai bahwa eklesiologinya cenderung menonjolkan dimensi liturgis sehingga berisiko mengabaikan aspek sosial, politis, dan praksis konkret gereja. Dalam titik ini. Miroslav Volf menawarkan koreksi dengan menegaskan bahwa gereja dipahami sebagai citra Allah Tritunggal. Dengan demikian, gereja tidak sekadar memiliki sifat komunio sebagai atribut tambahan, melainkan hidup sebagai persekutuan yang mencerminkan kehidupan Allah Tritunggal dalam relasi yang partisipatif dan inklusif. Namun, korespondensi antara Tritunggal dan gereja tidak dipahami secara identik atau Oleh karena itu, dalam tulisan ini istilah eklesiologi komunio tetap dipertahankan sebagai kerangka utama, sedangkan perikoresis dipahami sebagai perspektif relasional yang memperkaya dan menajamkan dimensi komunio tersebut. Lebih lanjut. Travis Ables John D. Zizioulas. Being as Communion: Studies in Personhood and the Church (New York: St. VladimirAos Seminary Press, 1. , 15-17. 2 Ibid. , 17. 3 Gesa E. Thiessen. AuSeeking Unity: Reflecting on Methods in Contemporary Ecumenical Dialogue,Ay dalam Ecumenical Ecclesiology: Unity, diversity, and otherness in a fragmented world, ed. Gesa Elsbeth Thiessen (London: T&T Clark, 2. , 35-46. 4 Miroslav Volf. After Our Likeness: The church as the Image of the Trinity (Grand Rapids: William Eerdmans Publishing Company, 1. , 223-5. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 18 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 menyatakan bahwa penalaran Zizioulas berisiko menjadikan ontologi sebagai cara untuk menghindari tugas sulit untuk hadir bersama Auyang lain. Ay5 Namun, kritik ini memperkaya pemahaman eklesiologi komunio karena mengarahkan refleksi gereja pada integrasi antara liturgi, kehidupan sosial, dan praksis transformasional. Dalam konteks Indonesia yang plural dan dinamis, gereja berhadapan dengan tantangan berupa fragmentasi sosial, melemahnya solidaritas komunal, serta kebutuhan akan relasi lintas agama dan budaya yang lebih dialogis. Situasi ini menuntut gereja untuk menghadirkan bentuk kepemimpinan yang tidak dominatif, melainkan partisipatif, melayani, dan terbuka terhadap yang lain. Dalam kerangka inilah eklesiologi komunio menjadi relevan, sebab gereja dipahami bukan sebagai entitas yang tertutup, melainkan sebagai persekutuan yang hidup dari relasi, keterbukaan, dan tanggung jawab bersama. Literatur mengenai hospitalitas menunjukkan bahwa gereja yang berakar pada sambutan Allah dapat menjadi komunitas yang memulihkan, sedangkan kepemimpinan melayani menolong gereja menerjemahkan panggilan tersebut ke dalam pola pelayanan yang Keterkaitan antara perikoresis dan kehidupan eklesial juga diperkaya melalui kajian lintas konteks. Dalam teologi Afrika, perikoresis dipahami sebagai dasar rekonstruksi sosial, rekonsiliasi, dan solidaritas dengan kelompok terpinggirkan. 7 Pemahaman ini menegaskan bahwa relasi ilahi menantang segala bentuk relasi yang menindas atau hierarkis, sekaligus menggerakkan gereja untuk menghadirkan keadilan dalam komunitasnya. Pemikiran tersebut memberi kontribusi konstruktif bagi gereja di Indonesia yang berhadapan dengan isu-isu ketimpangan, kekerasan struktural, dan fragmentasi sosial. Di tengah dinamika tersebut, hospitalitas Kristus menjadi dimensi penting untuk menafsir ulang kepemimpinan gereja. 8 Dalam pelayanan-Nya. Kristus tidak hanya menyambut mereka yang terpinggirkan, tetapi juga menerima sambutan, perlindungan, dan jamuan dari orang lain. Hospitalitas Kristus menunjukkan bahwa kepemimpinan gerejawi tidak dijalankan dalam dominasi, melainkan dalam relasi timbal balik yang menyambut, memulihkan, dan memberdayakan. Travis E. Ables. AuBeing Church: A Critique of ZizioulasAo Communion Ecclesiology,Ay dalam Ecumenical Ecclesiology: Unity. Diversity, and Otherness in a fragmented world, ed. Gesa Elsbeth Thiessen (London: T&T Clark, 2. , 115-124. 6 O. Fred Liggin IV. AuHospitality as Witness and Power: The Role of Hospitality in Congregational Engagement and Embrace in a Culture of Displacement,Ay Missio Dei . , diakses 1 Desember 2025, https://missiodeijournal. com/issues/md-7/authors/md-7-liggin. 7 Nana Kwadwo Twumasi-Ankrah dan Isaac Boaheng. AuPerichoresis in African Context: EdwardsAo and BarthAos Critique for Reconciliation,Ay Ajobit 1, no. 1 (Mei 2. : 1-14, diakses 1 Desember 2025, https://doi. org/10. 63811/w0a6sd14. 8 Christine D. Pohl. Making Room: Recovering Hospitality as a Christian Tradition (Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1. , 27-43. 9 Liggin IV. Hospitality as Witness and Power: The Role of Hospitality in Congregational Engagement and Embrace in a Culture of Displacement, https://missiodeijournal. com/issues/md-7/authors/md-7liggin. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 19 T. Br Tarigan: Kepemimpinan Melayani dalam Perspektif Eklesiologi KomunioA Dalam kerangka ini, kepemimpinan melayani tidak dipahami sekadar sebagai teknik manajerial, melainkan sebagai praksis teologis yang berakar pada teladan Kristus, kehidupan gereja sebagai komunio, dan panggilan untuk membangun relasi yang 10 Pola kepemimpinan seperti ini menuntut keterbukaan terhadap yang lain, kesediaan untuk mendengar, serta tanggung jawab untuk menjaga persekutuan jemaat. Lebih lanjut, dalam ranah kepemimpinan, gagasan Robert K. Greenleaf dapat dibaca sebagai perumusan praktis atas pola pelayanan tersebut, terutama ketika kepemimpinan diukur dari kemampuannya menolong orang lain bertumbuh, dipulihkan, dan semakin mampu berpartisipasi dalam kehidupan bersama. 12 Dengan demikian, integrasi eklesiologi komunio, perikoresis, hospitalitas Kristus, dan kepemimpinan melayani menyediakan kerangka yang komprehensif bagi pembaruan gereja di Indonesia. Berdasarkan latar belakang tersebut, tulisan ini berupaya menjelaskan bagaimana eklesiologi komunio Zizioulas dapat menjadi dasar teologis bagi pembaruan gereja, bagaimana perikoresis memperkaya pemahaman tentang gereja sebagai persekutuan relasional, serta bagaimana hospitalitas Kristus dan kepemimpinan melayani dapat menjembatani identitas liturgis gereja dengan praksis sosialnya. Dengan bertolak dari kerangka tersebut, tulisan ini juga menelaah relevansi model kepemimpinan gerejawi yang dialogis, partisipatif, dan terbuka terhadap yang lain bagi konteks gereja di Indonesia. Tulisan ini menegaskan bahwa kepemimpinan melayani bagi gereja di Indonesia dapat dibangun secara teologis melalui eklesiologi komunio Zizioulas, dengan perikoresis sebagai dimensi relasional yang menajamkan pemahaman gereja sebagai persekutuan, dan hospitalitas Kristus sebagai wujud praksis gerejawi yang dialogis, partisipatif, dan II. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis studi pustaka. Jenis penelitian ini dipilih karena tujuan tulisan bersifat analitis-teologis, yakni menafsirkan eklesiologi komunio John D. Zizioulas dan menghubungkannya dengan hospitalitas Kristus serta kepemimpinan melayani dalam konteks gereja di Indonesia. Fokus penelitian ini tidak terletak pada pengukuran variabel empiris, melainkan pada analisis konsep-konsep teologis dan relevansi praksisnya. Studi pustaka dilakukan melalui pembacaan dan analisis mendalam terhadap sumber primer dan sekunder. Sumber primer meliputi karya-karya Zizioulas yang membahas eklesiologi komunio dan personhood, sedangkan sumber sekunder mencakup kajian-kajian kontemporer mengenai perikoresis, hospitalitas, kepemimpinan melayani, dan Letty M. Russell. Just Hospitality: GodAos Welcome in a World of Difference (Louisville: Westminster John Knox Press, 2. , 65-9. 11 Duane Elmer. Cross-Cultural Servanthood: Serving the World in Christlike Humility (Downers Grove: InterVarsity Press, 2. , 27-33. 12 Robert K. Greenleaf. Servant Leadership: A Journey Into the Nature of Legitimate Power & Greatness (New York: Paulist Press, 1. , 231-61. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 20 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 persoalan pastoral gereja di Indonesia. Selain itu, konteks sosial Indonesia dibaca sebagai medan korelasi teologis agar konstruksi yang dihasilkan tidak berhenti pada tataran abstrak. Penelitian ini menggunakan pendekatan teologis normatif dan korelatif. Pendekatan normatif digunakan untuk menelaah gagasan-gagasan teologis utama dalam eklesiologi komunio, perikoresis, hospitalitas Kristus, dan kepemimpinan melayani sebagai sumber normatif bagi pembaruan gereja. Sementara itu, pendekatan korelatif digunakan untuk mempertemukan konsep-konsep teologis tersebut dengan realitas konkret gereja di Indonesia, terutama dalam menghadapi krisis relasional, melemahnya partisipasi jemaat, serta berbagai tantangan sosial yang menuntut bentuk kepemimpinan yang lebih dialogis, partisipatif, dan memulihkan. Prosedur penelitian dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu pengumpulan literatur, klasifikasi konsep-konsep utama, analisis teologis terhadap relasi antarkonsep, korelasi dengan konteks gereja di Indonesia, dan penyusunan sintesis teologis. Melalui langkahlangkah tersebut, tulisan ini berupaya menunjukkan bahwa kepemimpinan melayani yang berakar pada eklesiologi komunio dan diperkaya oleh hospitalitas Kristus dapat menjadi tawaran teologis yang relevan bagi kehidupan gereja di Indonesia. Hasil dan Pembahasan Bagian ini membahas hasil analisis teologis atas eklesiologi komunio Zizioulas dalam kaitannya dengan perikoresis, hospitalitas Kristus, dan kepemimpinan melayani. Pembahasan menunjukkan bahwa gereja dipahami sebagai persekutuan yang berakar pada relasi Allah Tritunggal, sehingga identitas gereja tidak dapat dilepaskan dari pola relasional yang dialogis, partisipatif, dan saling menerima. Dari kerangka tersebut, perikoresis ditempatkan sebagai paradigma relasional yang memperkaya pemahaman tentang kehidupan bergereja, sedangkan hospitalitas Kristus dan kepemimpinan melayani menjadi bentuk praksis yang menjembatani identitas liturgis gereja dengan tanggung jawab Keseluruhan pembahasan ini mengarah pada suatu tawaran teologis bagi gereja di Indonesia untuk menata kepemimpinan dan kehidupan jemaat secara lebih kontekstual, partisipatif, dan transformatif. Eklesiologi Komunio sebagai Fondasi Teologis Gereja Perkembangan eklesiologi dalam sejarah gereja bergerak dari model klasik yang menekankan kesatuan iman dan struktur hierarkis menuju pemahaman kontemporer yang lebih relasional dan partisipatif. Konsili-konsili awal seperti Nicea dan Konstantinopel merumuskan pengakuan iman akan Allah Tritunggal dan menegaskan gereja sebagai satu, kudus, katolik, dan apostolik dengan struktur episkopal sebagai penjaga kesatuan ajaran. Seiring perkembangan sejarah gereja, konsentrasi kuasa pada lembaga dan struktur Hughes Oliphant Old dan Letty M. Russell. AuWhy Bother with Church? The Church and Its Worship,Ay dalam Essentials of Christian Theology, ed. William C. Placher (Louisville: Westminster John Knox Press, 2. , 222-3. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 21 T. Br Tarigan: Kepemimpinan Melayani dalam Perspektif Eklesiologi KomunioA hierarkis kemudian dikritik oleh Reformasi, yang menekankan kembali otoritas Firman dan iman, sekaligus memunculkan keragaman bentuk gereja. Gerakan ekumenis abad ke-20 mendorong lahirnya eklesiologi komunio sebagai upaya mencari kesatuan yang tidak meniadakan perbedaan, tetapi justru mengakuinya dalam kerangka persekutuan. Dalam kerangka ini. Scot McKnight menekankan bahwa eklesiologi berakar pada narasi Alkitab. setelah pembicaraan tentang Allah, tiga istilah penting yang membentuk narasi tersebut adalah Israel, kerajaan, dan gereja. Gereja dipahami berbeda oleh setiap tradisi: Katolik menekankan komuni mistik dan sakramen. Ortodoks melihatnya sebagai ikon Allah Tritunggal, sementara Protestan menekankan umat Allah yang berpusat pada Firman dan misi. Lebih lanjut. McKnight merumuskan empat pertanyaan klasik: apa itu gereja, di mana ia hadir, bagaimana dimediasi, dan mengapa ia ada. Esensi gereja baginya adalah the dwelling-place of God, kediaman Allah melalui Roh Kudus, yang dihidupi dalam kerangka eskatologis Wahyu 21-22. Identitas gereja berakar pada Kristus Anak Domba (Lamb-shaped ecclesiolog. , menjadikannya ikon Allah di dunia: umat yang ditebus, dipulihkan, dan diberdayakan Auin Christ. Ay15 Ia juga menolak pandangan yang mengecilkan gereja dibandingkan Kerajaan Allah, sebab keduanya merupakan istilah sosio-politik yang menantang tatanan dunia. Dengan demikian, gereja dipahami sebagai komunitas politik baru, kediaman Allah yang nyata, melampaui sekat etnis, gender, dan status sosial (Gal. , serta hadir secara partikular dan Dalam konteks tersebut, eklesiologi komunio berkembang sebagai salah satu arus utama eklesiologi kontemporer. Berbagai refleksi ekumenis menunjukkan bahwa gereja dipahami sebagai tanda dan sarana persekutuan Allah dengan manusia serta persekutuan antarumat beriman, sehingga tugas gereja bukan hanya menjaga identitas internal, tetapi juga membenahi dan merawat komunio di dalam dan di luar batas-batas gerejawi. Gagasan ini diperdalam oleh Jean-Marie Tillard. Radu Bordeianu, dan para teolog lain yang menegaskan keterkaitan antara kesatuan gereja dan persekutuan yang terwujud dalam Ekaristi, kesatuan ajaran, serta ikatan kasih sebagai unsur yang tidak terpisahkan dari kehidupan gereja. 18 Perspektif ini sejalan dengan pembacaan terhadap tradisi klasik yang Radu Bordeianu. AuRetrieving Eucharistic Ecclesiology,Ay dalam Ecumenical Ecclesiology: Unity, diversity, and otherness in a fragmented world, ed. Gesa Elsbeth Thiessen (London: T&T Clark, 2. , 136-8. 15 Scot McKnight. AuEcclesiology,Ay dalam The Routledge Companion to Modern Christian Thought. Chad Meister dan James Beilby (London: Routledge, 2. , 445-9. 16 Ibid. , 449. 17 Paul M. Collins. AuThe Church and the AoOtherAo: Questions of Ecclesial and Divine Communion,Ay dalam Ecumenical Ecclesiology: Unity. Diversity, and Otherness in a Fragmented World, . Gesa Elsbeth Thiessen (London: T&T Clark, 2. , 102-6. 18 Gesa E. Thiessen. AuIntroduction,Ay dalam Ecumenical Ecclesiology: Unity, diversity, and otherness in a fragmented world, ed. Gesa Elsbeth Thiessen (London: T&T Clark, 2. , 7. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 22 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 melihat gereja sebagai Aucommunio sanctorumAy yang berakar pada hidup Allah Tritunggal, bukan sekadar struktur keagamaan. Eklesiologi komunio bertumpu pada pemahaman teologis bahwa Allah Tritunggal adalah persekutuan kasih. Herman Punda Panda menegaskan bahwa meskipun Allah Tritunggal terdiri dari tiga pribadi ilahi: Bapa. Anak, dan Roh Kudus, ketiga-Nya hidup dalam relasi timbal balik yang mendalam, sehingga saling mendiami tanpa saling Relasi timbal balik ini diungkapkan dengan istilah perikoresis, yang menggambarkan saling tinggal satu di dalam yang lain sehingga ketiga pribadi memiliki satu hakikat ilahi tanpa kehilangan pembedaan pribadi. 20 Dengan demikian. Trinitas adalah satu persekutuan kasih yang tidak dapat dipisahkan. Berdasarkan kerangka tersebut, eklesiologi komunio memandang gereja sebagai persekutuan yang berakar pada relasi Allah Tritunggal. Zizioulas menegaskan bahwa keberadaan tidak dapat dipahami tanpa persekutuan, sehingga manusia dan gereja tidak dilihat sebagai entitas yang terisolasi, melainkan sebagai pribadi yang hidup dalam relasi. Dalam gereja, pembentukan pribadi itu berlangsung melalui baptisan, yang menghadirkan manusia ke dalam bentuk keberadaan baru, dan mencapai wujud historisnya secara nyata dalam Ekaristi sebagai persekutuan yang melampaui eksklusivisme biologis maupun sosial. Oleh karena itu, gereja dipahami sebagai ruang persekutuan yang membentuk manusia menjadi pribadi dalam relasi dengan Allah dan sesama. Dalam arah yang sejalan. Volf menegaskan bahwa gereja dipahami sebagai citra Allah Tritunggal. 24 Penekanan ini memperlihatkan bahwa gereja tidak hanya berbicara tentang persekutuan sebagai konsep, tetapi sungguh hidup sebagai komunitas yang dibentuk oleh relasi. Namun, relasi antara Tritunggal dan gereja tetap perlu dipahami secara 25 Oleh karena itu, perikoresis dalam tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai istilah baru yang menggantikan eklesiologi komunio, melainkan sebagai penajaman teologis atas dimensi relasional gereja sebagai persekutuan. Keterkaitan antara Trinitas dan gereja diperjelas melalui pendekatan eklesiologi Hansel Augustan, yang mengembangkan eklesiologi ekaristik dalam terang Alexander Schmemann, evangelikalisme pada gereja yang tidak kelihatan sering kali membuat gereja yang kelihatan hanya diperlakukan secara fungsional sebagai alat untuk mengemas pertobatan, sehingga Miriam Haar. AuThe Struggle for an Organic. Conciliar and Diverse Church: Models of Church in Earlier Stages of the Ecumenical DialogueAy dalam Ecumenical Ecclesiology: Unity. Diversity, and Otherness in a Fragmented World, ed. Gesa Elsbeth Thiessen (London: T&T Clark, 2. , 52. 20 Herman Punda Panda. AuPenerapan Trinitas sebagai Persekutuan Perspektif Leonardo Boff bagi Komunitas Basis Gerejawi,Ay Fidei 7, no. 1 (Juni 2. : 58-9, diakses 1 Desember 2025, https://doi. org/10. 34081/fidei. 21 Ibid. , 64. 22 Zizioulas. Being as Communion: Studies in Personhood and the Church, 17-8. 23 Ibid. , 53-61. 24 Volf. After Our Likeness: The church as the Image of the Trinity, 191-2. 25 Ibid. , 188-200. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 23 T. Br Tarigan: Kepemimpinan Melayani dalam Perspektif Eklesiologi KomunioA persekutuan konkret jemaat menjadi kurang diperhatikan. 26 Ia mengusulkan reorientasi eklesiologi melalui pengakuan bahwa gereja pada dasarnya adalah komunitas penyembahan yang terbentuk oleh Firman dan Ekaristi, serta tubuh gerejawi dibentuk secara sakramental oleh tubuh ekaristik melalui karya Roh Kudus. 27 Dengan demikian, gereja yang kelihatan bukan sekadar instrumen pragmatis, tetapi manifestasi nyata persekutuan dengan Kristus dan sesama. Dalam kerangka ini, eklesiologi komunio menegaskan bahwa gereja menemukan identitasnya justru ketika umat berkumpul untuk beribadah, mendengarkan Firman, dan merayakan Ekaristi. Di dalam liturgi, umat mengalami diri sebagai tubuh Kristus yang dipanggil, dihimpun, dan diutus, sehingga persekutuan dengan Allah Tritunggal berbuah dalam persekutuan antaranggota jemaat. 28 Pandangan ini memperkuat tesis Zizioulas bahwa gereja dipahami secara ontologis sebagai being as communion: keberadaan gereja sebagai persekutuan yang berakar dalam persekutuan Allah sendiri. Pada saat yang sama, sejumlah teolog mengingatkan bahwa eklesiologi komunio perlu diimbangi dengan kepekaan terhadap Auyang lain. Ay Sebagai contoh. Paul M. Collins menunjukkan bahwa dalam konteks pluralitas dan ketegangan antartradisi, gereja diutus untuk merefleksikan bagaimana relasinya dengan yang berbedaAibaik Auyang lainAy di dalam tubuh Kristus maupun di luar gerejaAiterkait erat dengan pemahaman akan Allah Tritunggal yang membuka diri bagi dunia. 29 Travis Ables juga mengkritisi kecenderungan menjadikan ontologi komunio sebagai dasar eklesiologi tanpa pergumulan serius dengan praksis Aubeing with the otherAy dalam konteks konkret. 30 Kritik ini justru memperkaya eklesiologi komunio dengan mengingatkan bahwa persekutuan bukan sekadar kategori metafisis, tetapi realitas yang harus diwujudkan dalam struktur, relasi, dan praktik gereja. Eklesiologi komunio sebagai fondasi teologis gereja memadukan dua dimensi yang saling terkait. Di satu sisi, gereja berakar pada persekutuan kasih Allah Tritunggal yang dinyatakan dalam perikoresis dan diwujudkan secara sakramental dalam perayaan Ekaristi. Di sisi lain, persekutuan ini menuntut bentuk kehidupan gereja yang dialogis, partisipatif, dan terbuka terhadap Auyang lain,Ay sehingga gereja tidak jatuh pada eksklusivisme institusional, melainkan sebagai komunitas yang mempraktikkan persekutuan, keadilan, dan hospitalitas dalam konteks sosial yang konkret. Fondasi inilah yang selanjutnya menjadi dasar untuk mengembangkan pemahaman tentang perikoresis sebagai paradigma relasional gereja, serta hospitalitas Kristus dan kepemimpinan melayani sebagai wujud praksis eklesiologi komunio dalam konteks gereja di Indonesia. Hansel Augustan. AuEklesiologi Ekaristik: Reorientasi Eklesiologi Evangelikal dalam Terang Pemikiran Alexander Schmemann,Ay Veritas 22, no. 2 (Desember 2. : 337, diakses 1 Desember 2025, https://doi. org/10. 36421/veritas. 27 Ibid. , 340. 28 Ibid. , 342-6. 29 Collins. AuThe Church and the AoOtherAo: Questions of Ecclesial and Divine Communion,Ay 1028. 30 Ables. AuBeing Church: A Critique of ZizioulasAo Communion Ecclesiology,Ay 124. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 24 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 Pemahaman gereja sebagai komunio memperoleh kedalaman relasionalnya melalui konsep perikoresis. Jika eklesiologi komunio menegaskan gereja sebagai persekutuan yang berakar pada Allah Tritunggal, maka perikoresis menjelaskan bagaimana relasi ilahi menjadi pola dasar kehidupan bersama yang saling hadir, saling menerima, dan tidak Perikoresis sebagai Paradigma Relasional Gereja Konsep perikoresis merupakan fondasi relasional dalam memahami Allah Tritunggal dan sekaligus sebagai pola dasar bagi kehidupan gereja. Ortodoksi tentang Allah bukanlah suatu kemewahan bagi gereja dan manusia, melainkan kebutuhan eksistensial. Elizabeth A. Johnson, dalam tulisannya yang berjudul. She Who Is, menekankan pentingnya berbicara tentang Allah secara relasional. Perspektif ini menyentuh pengalaman manusia yang konkret, termasuk pengalaman perempuan yang selama ini sering diabaikan. Dengan demikian, berbicara dengan benar tentang Allah berarti menempatkannya dalam kerangka relasi yang menghormati jejaring kehidupan dan seluruh hubungan yang menopangnya. Pandangan ini menjadi penting dalam eklesiologi komunio karena menegaskan bahwa relasi adalah dasar ontologis, bukan sekadar aspek etis dalam kehidupan gereja. Bordeianu, mengutip perspektif Zizioulas, menyatakan bahwa keberadaan manusia dan gereja hanya dapat dipahami melalui relasi yang saling memberi ruang, saling menerima, dan saling menghidupkan, cerminan dari relasi ilahi itu sendiri. 33 Lebih lanjut. Leonardo Boff, dalam Holy Trinity. Perfect Community menggambarkan Allah Tritunggal sebagai ikon masyarakat yang egaliter: suatu komunitas sempurna yang ditandai oleh kasih timbal balik tanpa dominasi. 34 Pandangan ini sejalan dengan Jurgen Moltmann yang menyebut doktrin Tritunggal sebagai doktrin sosial Allah, sebuah penolakan terhadap segala bentuk hierarki penindasan. 35 Gereja diutus menjadi tanda solidaritas, memperjuangkan keadilan, dan membangun tubuh Kristus yang setara. Pembacaan sosial atas Tritunggal seperti yang dikembangkan oleh Boff dan Moltmann membuka perspektif penting bagi gereja untuk membangun relasi yang nondominatif, partisipatif, dan saling terbuka. Namun demikian, pendekatan ini tidak lepas dari Karen Kilby menegaskan bahwa penggunaan perikoresis sebagai dasar analogi sosial menjadi problematis ketika konsep tersebut terlebih dahulu diisi dengan nilai-nilai relasional yang diidealkan manusia, lalu dikembalikan seolah-olah nilai-nilai itu berasal langsung dari kehidupan Allah sendiri. Artinya, relasi antara Tritunggal dan gereja perlu dirumuskan bukan sebagai penerapan langsung struktur ilahi ke dalam komunitas manusia. Zizioulas. Being as Communion: Studies in Personhood and the Church, 15. Elizabeth A. Johnson. She Who Is: The Mystery of God in Feminist Theological Discourse (New York: Crossroad, 1. , 19-22. 33 Bordeianu. AuRetrieving Eucharistic Ecclesiology,Ay 134-6. 34 Leonardo Boff. Holy Trinity. Perfect Community (Maryknoll: Orbis Books, 2. , 10-1. 35 Jurgen Moltmann. The Trinity and the Kingdom: The doctrine of God (San Francisco: Harper and Row, 1. , 191. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 25 T. Br Tarigan: Kepemimpinan Melayani dalam Perspektif Eklesiologi KomunioA melainkan sebagai perspektif teologis yang bersifat analogis. 36 Dalam tulisan ini, perikoresis tidak dipakai sebagai kerangka sosial yang diterapkan secara literal, tetapi sebagai penajaman relasional atas eklesiologi komunio yang menolong gereja membangun kehidupan bersama secara lebih dialogis, partisipatif, dan terbuka. Sejalan dengan kerangka tersebut. Paul S. Fiddes menegaskan bahwa perikoresis tidak hanya menjelaskan realitas Allah, tetapi juga membuka perspektif relasional bagi kehidupan persekutuan gereja, yakni relasi yang saling terhubung secara personal, melibatkan partisipasi aktif, dan menolak dominasi. 37 Perspektif ini kemudian diperdalam oleh Joas Adiprasetya, yang menekankan bahwa relasi perikoresis Allah Tritunggal tidak dapat diterapkan secara langsung pada komunitas manusia, melainkan dipahami sebagai dasar analogis dan berorientasi eskatologis bagi partisipasi ciptaan dalam kasih Allah yang ekstatik, tanpa meniadakan perbedaan ontologis antara Allah dan ciptaan. 38 Dengan demikian, gereja dipahami sebagai persekutuan relasional yang hidup dari partisipasi dalam kasih Allah, bukan sebagai tiruan langsung dari relasi perikoresis antarpribadi. Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini menantang praktik kepemimpinan gerejawi yang masih cenderung hierarkis dan sentralistik, karena pola perikoresis menekankan distribusi tanggung jawab serta keterlibatan semua anggota jemaat. Pemahaman perikoresis sebagai relasi yang saling mendiami juga diperdalam oleh refleksi teologi kontemporer mengenai pluralitas agama. Perikoresis bukan hanya tentang kehidupan internal Tritunggal, tetapi juga berfungsi untuk membentuk cara gereja memahami kehadiran dan panggilannya di tengah dunia yang plural. Keterhubungan antara perikoresis dan dinamika sosial juga dipaparkan dalam teologi pastoral. Andrew Root menekankan bahwa dalam konteks masyarakat yang semakin tersekularisasi, relasi menjadi pusat pelayanan pastoral karena manusia mengalami krisis kehadiran dan kehilangan ikatan sosial yang bermakna. 39 Pola relasional Tritunggal, yang saling hadir secara mendalam, memberi arah baru bagi pelayanan gereja untuk membangun relasi yang autentik, solider, dan memulihkan. Dengan demikian, perikoresis bukan hanya fondasi konseptual, tetapi juga kerangka praksis bagi pelayanan gerejawi yang relevan pada masa kini. Perikoresis sebagai paradigma relasional menegaskan bahwa kehidupan gereja bergantung pada kemampuan untuk menghadirkan ruang saling menghidupkan. Relasi yang didasarkan pada kasih Allah Tritunggal menghindarkan gereja dari pola relasi yang kaku, dominatif, atau eksklusif. Dengan demikian, perikoresis memberi arah fundamental Karen Kilby. AuPerichoresis and Projection: Problems with Social Doctrines of the Trinity,Ay New Blackfriars 81, no. 957 (November 2. : 433-43, diakses 19 Maret 2026, https://doi. org/10. 1111/j. 37 Paul S. Fiddes. Participating in God: A Pastoral Doctrine of the Trinity (London: Westminster John Knox Press, 2. , 28-9. 38 Joas Adiprasetya. An Imaginative Glimpse: Trinitas dan agama-agama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 174-183. 39 Andrew Root. The Pastor in a Secular Age: Ministry to People Who No Longer Need a God (Grand Rapids: Baker Academic, 2. , xi-xxi. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 26 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 bagi pembentukan komunitas Kristen yang dialogis, partisipatif, dan terbuka terhadap transformasi sosial. Pola relasional ini menjadi jembatan teologis menuju integrasi antara hospitalitas Kristus dan kepemimpinan melayani sebagai bentuk praksis eklesiologi komunio dalam konteks Indonesia. Pola relasi yang ditunjukkan oleh perikoresis tidak berhenti pada tataran doktrinal, tetapi menuntut bentuk hidup bersama yang konkret dalam gereja. Dalam titik inilah hospitalitas Kristus menjadi penting, karena ia memperlihatkan bagaimana relasi ilahi yang terbuka dan menerima diwujudkan dalam praksis penyambutan, pemulihan, dan Hospitalitas Kristus sebagai Jembatan antara Identitas Liturgi dan Praksis Sosial Gereja Hospitalitas merupakan salah satu dimensi fundamental kehidupan gereja yang berakar pada karya Kristus sendiri. Dalam tradisi Kristen, hospitalitas bukan sekadar keramahan sosial, melainkan praktik iman yang menyambut orang asing dan mereka yang rentan ke dalam ruang hidup yang aman, personal, dan bermakna. Christine D. Pohl menegaskan bahwa hospitalitas Kristen berkaitan erat dengan pemberian makanan, perlindungan, dan penerimaan, sekaligus dengan pengakuan atas martabat orang yang 40 Dalam kerangka ini, hospitalitas Kristus tidak dapat dipahami hanya sebagai sikap etis tambahan, tetapi sebagai bentuk praksis gerejawi yang memperlihatkan bagaimana gereja menghadirkan sambutan Allah di tengah dunia. Pemahaman ini menolong gereja melihat bahwa hospitalitas bukan hanya tindakan menerima tamu, tetapi juga kesediaan untuk hidup dalam relasi timbal balik. 42 Dalam kesaksian Injil. Yesus tidak hanya menyambut mereka yang tersisih, tetapi juga menerima sambutan, perlindungan, dan jamuan dari orang lain. Dengan demikian, hospitalitas Kristus dapat dipahami sebagai pola relasional gereja yang menjembatani identitas liturgis dengan praksis sosialnya. Gereja yang merayakan persekutuan dengan Kristus diutus untuk menghadirkan persekutuan itu secara nyata melalui keterbukaan, penerimaan, dan pemulihan bagi sesama. Konsep ini diperdalam oleh Root, yang menyatakan bahwa pelayanan pastoral hanya dapat bermakna jika gereja membangun pola relasi yang menghidupi Aubeing with,Ay bukan sekadar menawarkan program. 44 Hal ini berakar kuat pada perjumpaan Kristus yang senantiasa hadir di tengah realitas manusia yang rapuh. Di sisi lain, tradisi liturgi menunjukkan bahwa hospitalitas ilahi diwujudkan secara nyata dalam Perjamuan Kudus. Ekaristi adalah pintu masuk umat ke dalam kehidupan Pohl. Making Room: Recovering Hospitality as a Christian Tradition, 61-84. Ibid. , 61-2. 42 Ibid. , 18. 43 Ibid. , 90-5. 44 Root. The Pastor in a Secular Age: Ministry to People Who No Longer Need a God, xvi. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 27 T. Br Tarigan: Kepemimpinan Melayani dalam Perspektif Eklesiologi KomunioA Kerajaan Allah, tempat Allah mengundang manusia sebagai tamu-Nya. 45 Dalam tindakan liturgis ini, gereja mengalami identitas sebagai komunitas yang diundang sekaligus diutus untuk menghadirkan keramahtamahan Allah di dunia. Kehadiran Kristus dalam Ekaristi bukan sekadar simbol spiritual, melainkan tindakan memulihkan yang meneguhkan persekutuan dan solidaritas gereja. Dalam konteks gereja di Indonesia, hospitalitas Kristus menjadi semakin penting ketika gereja berhadapan dengan realitas pluralitas agama, budaya, dan sosial. Jeremy Rehwaldt menegaskan bahwa bahasa hospitalitas perlu dipahami bukan sebagai relasi Auorang dalamAy dan Auorang luar,Ay tetapi sebagai perjumpaan setara yang meneguhkan martabat bersama. 46 Dengan demikian, hospitalitas Kristen menantang gereja untuk melepaskan pola eksklusivisme dan membangun relasi lintas identitas secara dialogis serta saling memperkaya. Pemikiran ini diperkuat oleh pendekatan missional yang baru. Dalam kajiannya tentang kesaksian gereja. Fred Liggin menegaskan bahwa gereja adalah komunitas yang diutus untuk mencerminkan karakter Kristus, dan hospitalitas merupakan bentuk kesaksian yang menghubungkan misi dan persekutuan. 47 Liggin menekankan bahwa hospitalitas bukan sekadar strategi pertumbuhan gereja, tetapi kesaksian tentang Allah yang menyambut dunia dalam kasih-Nya. 48 Lebih lanjut, hospitalitas Kristus memberi arah teologis bagi gereja untuk menjembatani liturgi dan kehidupan sosial. Gereja yang merayakan Ekaristi diutus untuk mewujudkan perjamuan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan membangun ruang yang aman, inklusif, dan memulihkan bagi sesama. Hospitalitas menjadi cara gereja menghidupi persekutuan Tritunggal secara nyata, serta menghadirkan wajah kasih Allah bagi dunia. Hospitalitas Kristus tidak hanya membentuk etos persekutuan jemaat, tetapi juga menuntut pola kepemimpinan yang sejalan dengan logika Injil. Dengan demikian, gereja tidak dapat mempertahankan model kepemimpinan yang dominatif, melainkan perlu mengembangkan kepemimpinan melayani sebagai bentuk konkret dari komunitas yang hidup dalam komunio dan keterbukaan terhadap yang lain. Augustan. Eklesiologi Ekaristik: Reorientasi Eklesiologi Evangelikal dalam Terang Pemikiran Alexander Schmemann, 343-8. 46 Jeremy Rehwaldt. AuWelcoming the Stranger? Rethinking Our Language of Hospitality,Ay Journal of Lutheran Ethics, diakses 3 Desember 2025, https://learn. org/jle/welcoming-the-strangerrethinking-our-language-of-hospitality/#. 47 Liggin IV. Hospitality as Witness and Power: The Role of Hospitality in Congregational Engagement and Embrace in a Culture of Displacement, https://missiodeijournal. com/issues/md7/authors/md-7-liggin. 48 Ibid. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 28 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 Kepemimpinan Melayani sebagai Wujud Praksis Komunio dalam Kehidupan Gereja Kepemimpinan melayani dalam gereja berakar pada teladan Kristus dan pada pemahaman gereja sebagai komunio, bukan pada teori organisasi. Dalam kerangka ini, kepemimpinan gerejawi tidak dipahami sebagai penguasaan atas yang lain, tetapi sebagai pelayanan yang menjaga persekutuan, memulihkan relasi, dan membuka ruang partisipasi bagi seluruh umat. Letty M. Russell menegaskan bahwa gereja dipanggil menjadi komunitas yang mempraktikkan kepemimpinan dalam bentuk persekutuan, bukan dominasi, sehingga pelayanan gerejawi perlu dijalankan dalam semangat kebersamaan, saling berbagi, dan keterbukaan terhadap yang lain. 49 Sejalan dengan ini. Henri J. Nouwen menekankan bahwa pemimpin Kristen diutus untuk bergerak dari keinginan mengontrol menuju kerelaan untuk dipimpin, sehingga kepemimpinan dijalankan bukan dalam dominasi, melainkan dalam kasih, kerendahan hati, dan ketaatan kepada Allah. Pemahaman tersebut diperdalam oleh Duane H. Elmer, yang menunjukkan bahwa pelayanan tidak mungkin otentik apabila dijalankan dengan rasa superior. 51 Pelayanan yang sejati menuntut kerendahan hati, kepekaan terhadap konteks, kesediaan untuk mendengar, serta penghormatan terhadap martabat orang lain. 52 Dalam perspektif ini, kepemimpinan melayani tidak dapat direduksi menjadi efektivitas organisasi, tetapi perlu dipahami sebagai cara hadir yang membangun relasi, mengurangi dominasi, dan memberi ruang bagi orang lain untuk bertumbuh dalam kehidupan bersama. Dalam ranah kepemimpinan. Robert K. Greenleaf merumuskan secara lebih praktis bagaimana pola pelayanan tersebut dijalankan dalam kehidupan komunitas. Ia menekankan bahwa kepemimpinan yang sejati diukur dari kemampuannya menolong orang lain bertumbuh, dipulihkan, dan semakin mampu berpartisipasi dalam kehidupan bersama. Oleh karena itu, kepemimpinan melayani tidak bertumpu pada otoritas struktural, tetapi pada kesediaan untuk mendengar, menopang, dan memberdayakan anggota komunitas. Dalam kerangka teologis ini, gagasan Greenleaf dapat dipahami sebagai perumusan praktis atas panggilan gereja untuk menghadirkan kepemimpinan yang selaras dengan komunio dan hospitalitas Kristus. Sebagai pengembangan lebih lanjut dari gagasan Greenleaf. Larry C. Spears merumuskan sejumlah karakteristik kepemimpinan melayani, seperti kemampuan mendengar, empati, pemulihan, kesadaran diri, persuasi, penatalayanan, komitmen Russell. Just Hospitality: GodAos Welcome in a World of Difference, 19-21. Henri J. Nouwen. In the Name of Jesus: Reflections on Christian Leadership (New York: Crossroad, 1. , 55-73. 51 Elmer. Cross-Cultural Servanthood: Serving the World in Christlike Humility, 14-20. 52 Ibid. , 27-34. 53 Ibid. , 155-168. 54 Greenleaf. Servant Leadership: A Journey Into the Nature of Legitimate Power & Greatness, 25260. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 29 T. Br Tarigan: Kepemimpinan Melayani dalam Perspektif Eklesiologi KomunioA terhadap pertumbuhan orang lain, dan pembangunan komunitas. 55 Karakteristikkarakteristik ini menunjukkan bahwa kepemimpinan melayani menuntut kualitas relasional yang kuat. Dalam perspektif eklesiologi komunio, pemimpin gerejawi dipanggil bukan hanya mengatur organisasi, tetapi memfasilitasi kehidupan persekutuan, memperkuat partisipasi umat, dan menjaga relasi yang memulihkan dalam tubuh Kristus. Pelayanan pastoral tidak terbatas pada urusan administrasi atau manajemen gereja, tetapi berfokus pada pembangunan relasi yang solider, pemulihan martabat, dan pendampingan jemaat dalam menghadapi kecemasan zaman. Dalam konteks ini, kepemimpinan melayani menolong gereja merespons tantangan seperti kemiskinan, penyalahgunaan narkoba, ketimpangan sosial, dan konflik antarkelompok melalui program pastoral yang tidak hanya reaktif, tetapi juga transformatif. Lebih lanjut, dalam konteks ekumenis, konsep kepemimpinan melayani menopang upaya gereja dalam menjalin hubungan lintas denominasi, agama, dan budaya. Pendekatan ini berakar pada keyakinan bahwa gereja diutus bukan untuk menguasai, tetapi melayani sebagaimana Kristus memberikan diri-Nya Pemahaman memperlihatkan bahwa kepemimpinan melayani bukan sekadar strategi internal, melainkan paradigma misi yang bersumber dari kasih Allah Tritunggal. Kepemimpinan melayani menjadi wujud praksis konkret dari eklesiologi komunio. Paradigma ini menjembatani doktrin gereja dengan kehidupan sehari-hari anggota jemaat. menghubungkan identitas gereja dalam Ekaristi dengan tindakan pastoral. serta menolong gereja menghadirkan wajah Allah Tritunggal dalam konteks sosial yang terus berubah. Kepemimpinan melayani mengarahkan gereja untuk menghadirkan kasih Allah dalam tindakan nyata, mendampingi anggota jemaat dalam kehidupan sehari-hari, dan membangun relasi yang memulihkan di tengah masyarakat. Dalam kerangka ini, kepemimpinan melayani bukan sekadar konsep normatif, tetapi memiliki relevansi nyata bagi konteks gereja di Indonesia. Tantangan pluralitas, fragmentasi sosial, dan kebutuhan akan pelayanan yang lebih partisipatif menuntut gereja untuk mewujudkan komunio dan hospitalitas dalam bentuk kepemimpinan yang membangun, memulihkan, dan memberdayakan. Implikasi Eklesiologi Komunio dan Kepemimpinan Melayani bagi Gereja di Indonesia Eklesiologi komunio dan paradigma kepemimpinan melayani memberikan implikasi yang signifikan bagi gereja di Indonesia yang hidup dalam konteks sosial, budaya, dan religius yang majemuk. Gereja berhadapan dengan meningkatnya individualisme, fragmentasi relasi sosial, dan melemahnya solidaritas komunal, sementara pada saat yang sama dituntut untuk membangun relasi yang sehat di tengah pluralitas agama dan budaya. Dalam konteks ini, eklesiologi komunio menawarkan visi gereja sebagai persekutuan yang Larry C. Spears. AuCharacter and Servant Leadership: Ten Characteristics of Effective. Caring Leaders,Ay The Journal of Virtues and Leadership 1, no. : 27-9, diakses 25 September 2025. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 30 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 memulihkan relasi, sedangkan kepemimpinan melayani menolong gereja menerjemahkan visi tersebut ke dalam bentuk pelayanan yang dialogis, partisipatif, dan memberdayakan. Dalam terang eklesiologi ini, gereja diutus untuk membangun pola hidup jemaat yang dialogis dan partisipatif. Persekutuan Kristen menciptakan ruang Aumutual indwelling,Ay setiap pribadi dihargai martabatnya dan diundang untuk terlibat dalam kehidupan gereja. 56 Pola persekutuan semacam ini menolong gereja menjalankan perannya sebagai mediator relasi yang sehat dan adil. Lebih lanjut, gereja di Indonesia membutuhkan pendekatan relasional yang membuka ruang bagi perjumpaan dengan tradisi lain tanpa kehilangan identitas iman. Dialog lintas agama merupakan peluang untuk memperluas partisipasi menuju kebaikan 58 Dengan demikian, eklesiologi komunio memberi kerangka teologis bagi gereja untuk terlibat aktif dalam dialog lintas iman, kolaborasi sosial, dan pembangunan kesejahteraan publik. Konteks pastoral di Indonesia juga menuntut gereja untuk menghadirkan kepemimpinan yang melayani secara nyata. Root menekankan bahwa masyarakat modern mengalami ketegangan kehadiran ketika banyak orang tidak lagi menemukan ruang aman untuk membagikan pergumulan hidup. 59 Dalam situasi ini, pelayan khusus . endeta, penatua, dan diake. diutus untuk menghadirkan pelayanan yang mendengarkan, solider, dan memulihkan. Perspektif ini menegaskan bahwa paradigma kepemimpinan melayani merupakan bentuk praksis komunio yang relevan dan kontekstual bagi gereja di Indonesia. Pada tingkat praktik sosial, gerakan hospitalitas Kristen yang inklusif menunjukkan bahwa gereja dapat menjadi ruang pemulihan sosial. Hospitalitas bukan sekadar menerima tamu, tetapi membangun komunitas yang memulihkan: persekutuan yang lebih terbuka, lebih setara, dan menghargai perbedaan. 60 Kemiskinan struktural dan ketegangan sosial di Indonesia masih kuat, sehingga gereja diutus untuk mengembangkan program-program diakonia yang bersifat transformatif. IV. Kesimpulan Tulisan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan melayani bagi gereja di Indonesia dapat dibangun secara teologis melalui eklesiologi komunio Zizioulas. Dalam kerangka ini, gereja dipahami sebagai persekutuan yang berakar pada relasi Allah Tritunggal, sedangkan perikoresis menajamkan dimensi relasional gereja secara analogis sebagai pola hidup bersama yang dialogis, partisipatif, dan non-dominatif. Berdasarkan dasar ini, hospitalitas Fiddes. Participating in God: A pastoral doctrine of the Trinity, 28-9 Ibid. 58 Julio Eleazer Nendissa et al. AuPluralisme Agama-agama: Tantangan. Peluang, dan Perspektif Teologis dalam Membangun Kerukunan Umat Beragama di Indonesia,Ay Sami 2, no. (Desember 2. : 163, diakses 3 Desember 2025. 59 Andrew Root. The Pastor in a Secular Age: Ministry to People Who No Longer Need a God, xixxi. 60 Adiprasetya. An Imaginative Glimpse: Trinitas dan agama-agama, 173. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 31 T. Br Tarigan: Kepemimpinan Melayani dalam Perspektif Eklesiologi KomunioA Kristus berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan identitas liturgis gereja dengan praksis sosialnya, sementara kepemimpinan melayani menjadi bentuk konkret dari kehidupan komunio dalam pelayanan gerejawi. Di tengah konteks gereja di Indonesia yang ditandai oleh pluralitas agama dan budaya, fragmentasi sosial, krisis relasional, serta berbagai tantangan pastoral, kerangka ini menegaskan bahwa gereja dipanggil bukan sekadar mempertahankan struktur dan otoritas, melainkan membangun persekutuan yang menyambut, memulihkan, memberdayakan, dan menghadirkan keadilan Allah dalam kehidupan jemaat maupun masyarakat. Dengan demikian, kepemimpinan melayani yang berakar pada eklesiologi komunio, diperdalam oleh perikoresis, dan diwujudkan dalam hospitalitas Kristus dapat menjadi kontribusi teologis yang relevan bagi pembaruan gereja di Indonesia. Referensi