Dawatuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting Volume 1 Nomor 2 . 128-141 E-ISSN 2798-6683 P-ISSN 2798-690X DOI: 10. 47476/dawatuna. Hakikat Pendidikan Karakter Kemandirian bagi Anak Usia Dini Menurut Perspektif Islam Zulkhaidir1. Zahid Mubarok2 1Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor 2Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam Bogor suryasingbar@gmail. com1, mujahidmujahid2016@gmail. ABSTRACT Independence character education for early childhood should receive serious attention from all parties concerned with the development of early childhood. The government, teachers and parents must correctly understand the purpose of self-reliance character education for early How is the method used as a support to achieve the target that children grow and develop to be independent according to their age. Healthy children, comfortable physical environment, availability of educational games, balance of children's social environment, parents who are capable of assisting children in finding solutions they are facing, and parents who set realistic educational goals, are the main assets in realizing independent young children. For example, a man and a woman who want to get married should pay attention to the moral and religious qualities of their respective potential partner. Someone who understands religious teachings will certainly devote all responsibilities to his wife and children's education as early as possible, including teaching independent character as taught by the Prophet Muhammad. Keywords: Independence education, early childhood. Islam ABSTRAK Pendidikan karakter kemandirian bagi anak usia dini seharusnya mendapatkan perhatian serius dari semua pihak yang peduli dengan perkembangan anak-anak usia dini. Pemerintah, guru dan orang tua harus memahami benar apa tujuan pendidikan karakter kemandirian bagi anak usia dini tersebut. Bagaimana metode yang digunakan sebagai penunjang untuk mencapai target agar anak tumbuh dan berkembang menjadi mandiri sesuai dengan usianya. Anak yang sehat, lingkungan fisik yang nyaman, ketersediaan permainan edukatif, keseimbangan lingkungan sosial anak, orang tua yang cakap dalam mendampingi anak dalam mencari solusi yang sedang dihadapi oleh mereka, serta orang tua yang meletakkan tujuan pendidikan yang realistis, adalah modal utama dalam mewujudkan anak-anak usia dini yang Ajaran Islam sesungguhnya telah meletakkan dasar-dasar pendidikan anak usia dini jauh sebelum anak dilahir. Sebagai contoh seorang laki-laki dan perempuan yang ingin menikah agar memperhatikan kualitas akhlak dan agama calon mereka masing-masing. Seseorang yang memahami ajaran agama tentunya akan mencurahkan seluruh tanggung jawab terhadap Istri dan pendidikan anak-anaknya sedini mungkin, termasuk mengajarkan karakter mandiri sebagaimana yang telah dijarkan oleh Rasulullah Saw. Kata kunci: Pendidikan kemandirian. Anak usia dini. Islam PENDAHULUAN Seorang anak harus dibentuk untuk menjadi seorang dewasa nantinya yang mandiri dan bertanggungjawab. Sifat mandiri ini harus senantiasa ditanamkan kepada setiap anak didik. Nawawi . mengatakan bahwa orang yang mandiri merupakan orang yang menggunakan pikiran agar bekerja untuk dirinya, bukan 128 | Volume 1 Nomor 1 2021 Dawatuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting Volume 1 Nomor 2 . 128-141 E-ISSN 2798-6683 P-ISSN 2798-690X DOI: 10. 47476/dawatuna. sebaliknya melawan dirinya. Pada tahap pertama pikiran harus digunakan untuk menumbuhkan kepercayaan pada diri sendiri. Percaya bahwa diri sendiri sama baiknya dengan orang lain, sehingga yakin bahwa jika orang lain dapat melakukan sesuatu kebaikan, maka diri sendiri pun mampu melakukannya, baik untuk kepentingan hidup di dunia yang diridai Allah SWT, maupun untuk kepentingan hidup di akhirat. Berpikir seperti itu bersifat kreatif bukan spekulatif. Pribadi mandiri yang tidak tergantung pada orang lain dan mampu bersaing, sekaligus juga mampu bekerja sama, untuk mencapai sukses, terbentuk melalui proses yang panjang. Sejak masa kanak-kanak terutama setelah interaksinya dengan orang lain di luar keluarga semakin intensif, kepribadian mandiri setahap demi setahap akan terlihat perwujudannya. Dengan demikian berarti kemandirian perwujudannya perlu dilaksanakan dan perlu pula terus dibina dan dikembangkan sepanjang kehidupan masing-masing. Dengan demikian kemandirian itu merupakan kemampuan mengendalikan dan memenej diri (Nawawi, 1. Rasa percaya diri untuk bersikap mandiri pada anak perlu ditanamkan sejak anak berusia dini. Hal ini sangat penting sebagai dasar anak untuk menerobos suatu peluang dan berani mengambil suatu risiko di masa yang akan datang. Akan tetapi, banyak orang tua yang mempunyai anak yang memiliki rasa percaya diri, mandiri dan berani mengambil risiko, malah dianggap anak nakal (Hasan, 2. Abdurrahman an-Nahlawi . menyebutkan, ada beberapa hal yang perlu diketahui dalam memahami makna pendidikan secara umum. Pertama, pendidikan adalah proses yang mempunyai tujuan, sarana dan objek. Kedua, secara mutlak, pendidik yang sebenarnya hanyalah Allah. Ketiga, pendidikan menuntut adanya langkah-langkah yang secara bertahap harus dilalui oleh berbagai kegiatan pendidikan dan pengajaran, sesuai dengan aturan yang telah disusun secara Anak melakukan kegiatan itu fase demi fase. Keempat: kerja pendidikan harus mengikuti aturan penciptaan dan pengadaan yang dilakukan Allah, sebagaimana harus mengikuti SyaraAo dan Din Allah (An_Nahlawi, 1. Secara khusus pendidikan anak usia dini di Indonesia memiliki tujuan . Membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya, sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki kehidupan di masa dewasa. Membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar . di sekolah (Hasan, 2. Oleh karena itu, pendidikan bagi anak usia dini perlu dilakukan secara baik dan sistematis sesuai dengan kebutuhan anak pada tahapan pertumbuhan tersebut, agar tumbuh kembang anak bisa mencapai perkembangannya pada usia emas . olden Serta, untuk mempersiapan anak menghadapi jenjang pendidikan yang lebih tinggi sesuai dengan fase perkembangan usia anak dan menghasilkan anak-anak yang mandiri dan bermutu. Mengingat pendidikan kemandirian kepada anak akan banyak berdampak positif bagi perkembangan mereka, maka sebaiknya pendidikan kemandirian diajarkan kepada anak sedini mungkin sesuai dengan kemampuan mereka. Orang tua jangan sampai terlambat dalam memberikan pendidikan kemandirian ini. Jika hal itu 129 | Volume 1 Nomor 1 2021 Dawatuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting Volume 1 Nomor 2 . 128-141 E-ISSN 2798-6683 P-ISSN 2798-690X DOI: 10. 47476/dawatuna. terjadi maka, dikhawatirkan anak akan selalu merasakan ketergantungan dengan orang tua, tidak memiliki kepercayaan diri yang baik, serta sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. TINJAUAN LITERATUR Istilah pendidikan prasekolah pernah dipakai sebelum terbitnya Undangundang Nomor 20 tahun 2003 Tentang Pendidikan Nasional yang mengganti Istilah pendidikan prasekolah menjadi Pendidikan Anak Usia Dini. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional khususnya pada pasal 12 ayat . menyebutkan AySelain jenjang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat . , dapat diselenggarakan pendidikan prasekolahAy. Pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangkan pribadi, pengetahuan, dan keterampilan yang melandasi pendidikan dasar serta mengembangkan diri secara utuh sesuai dengan asas pendidikan sedini mungkin dan seumur hidup (Patmonodewo, 2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli yang berfokus pada perkembangan otak manusia. seperti yang dilakukan oleh Binet-Simon . , sampai yang dilakukan oleh Gardner . , menunjukkan usia dini memegang peranan yang sangat penting karena perkembangan otak manusia mengalami lompatan dan perkembangan sangat pesat pada usia tersebut, yaitu mencapai 80%. Ketika dilahirkan ke dunia, anak manusia telah mencapai perkembangan otak 25%, sampai usia 4 tahun perkembangannya, mencapai 50%, dan sampai usia 8 tahun mencapai 80%, selebihnya berkembang sampai usia 18 tahun. Ini berarti anak usia dini memiliki perkembangan otak yang sangat dahsyat, dan perlu mendapatkan layanan yang optimal melalui pembenahan manajemen pendidikan dan lingkungan yang kondusif (Mulyasa, 2. Bijou, seorang pakar psikologi mengatakan. AyBanyak ahli psikologi anak mengatakan bahwa tahun-tahun prasekolah, sekitar usia 2-5 tahun, adalah salah satu tahap yang penting, kalau tidak yang paling penting, dalam seluruh tahapan perkembangan dan analisis fungsional. Periode itu adalah periode di mana diletakkan dasar struktur perilaku yang kompleks yang dibentuk di dalam kehidupan seorang anakAy (Hurlock, 1. Selanjutnya adalah pengertian kemandirian. Mandiri dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah keadaan dapat berdiri sendiri atau tidak bergantung kepada orang lain. Sedangkan kemandirian adalah hal yang terkait dengan sikap mandiri itu Abuddin Nata . , mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan kemandirian adalah sikap yang berkaitan dengan kemampuan menentukan pilihan, mengemukakan gagasan dan pikiran, keberanian mengambil keputusan, serta bertanggung jawab atas keputusan itu. Kemandirian juga terkait dengan sikap percaya terhadap kemampuan diri sendiri, siap bersaing, bermental juara, dan tidak mau dikuasai atau disetir oleh orang lain (Nata, 2. METODOLOGI PENELITIAN 130 | Volume 1 Nomor 1 2021 Dawatuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting Volume 1 Nomor 2 . 128-141 E-ISSN 2798-6683 P-ISSN 2798-690X DOI: 10. 47476/dawatuna. Jenis penelitian ini adalah studi pustaka yaitu penelitian yang dasarkan kepada pengumpulan data-data kualitatif yang berkaitan dengan hakikat dari pendidikan kemandirian bagi anak usia dini. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara studi pustaka: mengumpulkan data-data melalui kajian-kajian referensi media cetak: literatur, buku, majalah, koran dan media elektronik seperti internet yang sesuai dengan tema penelitian dan memiliki relevansi dan dapat dipertanggungjawabkan guna penelitian selanjutnya. Teknik analisis yang digunakan dalam kajian ini adalah pendekatan analisis Analisis rasionalistik ini ditempuh melalui berbagai pendekatan, yaitu: Pertama, deskriptif, yaitu menggambarkan berbagai konsepsi dan unsur yang dianalisa dalam sebuah kajian agar menemukan keteraturan sebuah isi gagasan atau Kedua, koherensi inhern, yaitu menganalisis hubungan antara konsep dan aspek satu dengan yang lainnya, yang menghasilkan pemikiran mendasar dari unsur yang dianalisa secara logis dan sistematis. Ketiga, melakukan interpretasi, yaitu menyelami berbagai konsep Pendidikan Kemandirian agar mampu memahami hakikat Pendidikan Kemandirian bagi Anak Usia Dini. PEMBAHASAN Sejarah Pendidikan Karakter di Indonesia Sejarah pendidikan karakter di Indonesia dapat dilihat pada potret pendidikan berbasis karakter yang dipelopori oleh para tokoh-tokoh negarawan maupun agamawan. Seperti halnya tergambar di Sumatera Barat. Lembaga Pendidikan Kayutanam (INS Kayutana. yang dibangun oleh seorang guru yang berpandangan maju dan memiliki hubungan dengan pergerakan nasional, yaitu Mohammad Syafei . Pendidikan model barat hanya menekankan aspek Syafei menginginkan agar peserta didiknya menjadi seorang yang ideal, yakni tertanam cinta kebenaran di dalam hatinya, dalam pengetahuan intelektualnya, dan dalam perilaku sehari-hari. Syafei merupakan tokoh pergerakan politik NIP di Padang. Ki Hajar Dewantara sebagai Pahlawan Nasional memiliki pandangan tentang pendidikan karakter sebagai asas Taman Siswa 1922, dengan tujuh prinsip sebagai berikut: Pertama, hak seseorang untuk mengatur diri sendiri dengan tujuan tertibnya persatuan dalam kehidupan umum. Kedua, pengajaran berarti mendidik anak agar merdeka batinnya, pikirannya dan tenaganya. Ketiga, pendidikan harus selaras dengan kehidupan. Keempat, kultur sendiri yang selaras dengan kodrat harus dapat memberi kedamaian hidup. Kelima, harus bekerja menurut kekuatan sendiri. Keenam, perlu hidup berdiri sendiri . Dan Ketujuh, dengan tidak terikat, lahir batin. Hasyim AsyAoari dalam kitabnya AuAdab Al-AoAlim Wa AoAl-MutaAoAllimAy juga menekankan konsep pada pendidikan karakter bahwa lebih dalam tentang adab, bahkan belajar diartikan sebagai ibadah untuk mencari rida Allah Swt, dalam rangka mengantarkan manusia memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat (Pupu & Mujahidin, 2. 131 | Volume 1 Nomor 1 2021 Dawatuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting Volume 1 Nomor 2 . 128-141 E-ISSN 2798-6683 P-ISSN 2798-690X DOI: 10. 47476/dawatuna. Mohammad Syafei dan K. Dewantara memiliki pandangan yang sama tentang pendidikan karakter kemandirian anak bangsa. Pendidikan yang dibangun harus dapat menghasilkan manusia yang rajin dan ulet, hidup berdiri di atas kemampuan sendiri agar menjadi orang yang mandiri. bangkit dengan kekuatan sendiri tanpa selalu bergantung dengan orang atau bangsa lain. Pendidikan Karakter Kemandirian Bagi Anak Usia Dini Pendidikan karakter kemandirian bagi anak usia dini dimulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yaitu, pada jalur formal terdapat Taman KanakKanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA), dan jalur nonformal terdapat jalur Kelompok Bermain (KB/Kobe. Taman Pendidikan Anak (TPA) dan PAUD sejenis lainnya dengan nama yang bervariasi. Ada beberapa alasan keilmuan yang melandasi pentingnya pendidikan kemandirian pada anak usia dini, diantaranya adalah: Pertama. Hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli yang berfokus pada perkembangan otak manusia. seperti yang dilakukan oleh Binet-Simon . , sampai yang dilakukan oleh Gardner . , menunjukkan usia dini memegang peranan yang sangat penting karena perkembangan otak manusia mengalami lompatan dan perkembangan sangat pesat pada usia tersebut, yaitu mencapai 80%. Ketika dilahirkan kedunia, anak manusia telah mencapai perkembangan otak 25%, sampai usia 4 tahun perkembangannya, mencapai 50%, dan sampai usia 8 tahun mencapai 80%, selebihnya berkembang sampai usia 18 tahun (Mulyasa, 2. Kedua. Bijou. Seorang pakar psikologi mengatakan. AyBanyak ahli psikologi anak mengatakan bahwa tahun-tahun prasekolah, sekitar usia 2-5 tahun, adalah salah satu tahap yang penting. Periode itu adalah periode dimana diletakkan dasar struktur perilaku yang kompleks yang dibentuk di dalam kehidupan seorang anakAy (Mulyasa, 2. Ketiga, priode emas adalah masa dimana otak anak mengalami perkembangan paling cepat sepanjang sejarah kehidupannya. Priode ini hanya berlangsung pada masa anak dalam kandungan hingga usia dini, yaitu 0-6 tahun. Namun masa bayi dalam kandungan hingga anak berusia 4 tahun adalah massa-massa yang paling menentukan, periode inilah yang dikenal dengan priode keemasan AuThe golden agesAy (Mulyasa, 2. Hakikat Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Pandangan Islam Allah SWT banyak memberikan pelajaran tentang pendidikan anak dalam AlQurAoan. Pertama. Allah SWT menegaskan akan pentingnya memperhatikan kualitas anak-anak sebagai generasi yang akan di tinggalkan setelah mereka. Hal ini ditegaskan Allah Swt dalam Al QurAoan Surah An-Nisa ayat 9. AEa eO aN ne eI Aa eEOaacCaO NA a A AU a eOA a UA Eac aOeIa Ea eO aa aE eO aI eI eaE aA aN eI a aOacA aAcEEA a AaO eEOa eA A a eOUA a AaO eEOaCa eOEa eO Ca eO UUEA 132 | Volume 1 Nomor 1 2021 Dawatuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting Volume 1 Nomor 2 . 128-141 E-ISSN 2798-6683 P-ISSN 2798-690X DOI: 10. 47476/dawatuna. Artinya : Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap . oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar. (QS. An NisaAo : . Kedua, peran orang tua sangat menentukan baik dan buruk anak-anak mereka tersebut. Sebagaimana sabda Rasululah SAW dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari, bahwa Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi atau Nasrani atau Majusi. Ketiga, orang tua harus membiasakan anak mereka sejak dini dengan didikan keimanan yang benar serta didikan kemandirian. Karena, orang tua akan berlepas tanggungjawab jika anak sudah menginjak usia balig, dengan terlebih dahulu mengajarkan kebaikan kepadanya, maka anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik dan mandiri di kemudian hari serta akan memperoleh kebahagiaan serta terhindar dari kesengsaraan di dunia maupun di akhirat kelak. Perhatikan firman Allah SWT QS. AtTahrim ayat 6. AEa eO aNA U A aE eI aO a eN aE eO aE eI IA a a AA a ca acOCa eOaNa EIA a aAOeaOac aN Eac aOeIa aIIa eO Ca eeO a eIAA a A aO eE a aA U AaI E aiO aEU aaEA aAcEEa aI e a aI a aN eI aO aO eA aEa eOIa aI Oae aI a eOIA AA eOIa NA a A aaU acUE aO eA Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. penjaganya malaikatmalaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim : . Definisi Kemandirian Definisi kemandirian dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah Aokeadaan dapat berdiri sendiri atau tidak bergantung kepada orang lainAo. Sedangkan kemandirian adalah hal yang terkait dengan sikap mandiri itu sendiri. Abuddin Nata . , mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan kemandirian adalah merupakan sikap yang berkaitan dengan kemampuan menentukan pilihannya, mengemukakan gagasan dan fikirannya, keberanian mengambil keputusan, serta bertanggung jawab atas keputusan itu. Kemandirian juga terkait dengan sikap percaya terhadap kemampuan diri sendiri, siap bersaing, bermental juara, dan tidak mau dikuasai atau disetir oleh orang lain (Nata, 2. Kemandirian . ialah suatu sikap mandiri, yang pada usia 1,5-3 tahun dapat melakukan suatu kegiatan penjelajahan terhadap lingkungan luar (Dario, 2. Tujuan Pendidikan Kemandirian 133 | Volume 1 Nomor 1 2021 Dawatuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting Volume 1 Nomor 2 . 128-141 E-ISSN 2798-6683 P-ISSN 2798-690X DOI: 10. 47476/dawatuna. Tujuan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan, demikian juga dengan menentukan tujuan pendidikan anak. Karena, tujuan inilah dijadikan sebagai acuan ketika seseorang ingin mengukur benar atau salah dari tindakan yang akan dilakukan. Dalam kurikulum pendidikan nasional disebutkan secara umum bahwa tujuan Pendidikan Anak Usia Dini adalah memberikan stimulasi atau rangsangan bagi perkembangan potensi anak agar menjadi Pertama, manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, berakhlak mulia. Ketiga, sehat lahir dan batin. Keempat, memiliki ilmu pengetahuan. Kelima, memiliki kecakapan. Keenam, bersikap kritis konstruktif. Ketujuh, daya kreatif. Kedelapan, berfikir dan bertindak Kesembilan, memiliki kemampuan untuk mandiri. Kesepuluh, percaya diri dan Kesebelas, menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Aspek Kemandirian Anak Usia Dini Menurut Ruslan . , kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja atau pun orang dewasa. Definisi kemandirian anak remaja atau orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain, sedang definisi kemandirian bagi anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan dengan tugas perkembangan. Tugas-tugas perkembangan anak usia dini adalah belajar berjalan, belajar makan, berlatih berbicara, koordinasi tubuh, kontak perasaan dengan lingkungan, pembentukan pengertian, dan belajar moral. Apabila seorang anak usia dini telah mampu melakukan tugas perkembangan tersebut, berarti ia telah memenuhi syarat kemandirian (Ruslan, 2. Aspek perkembangan kemandirian secara umum anak usia 0-6 tahun, dalam buku Bunda Wening Bunda Sekolah Pertamaku, . Usia Usia 0-1 Aspek Perkembangan Kemandirian Mulai minum dengan gelas Usia 1-2 Usia 2-3 Mulai dapat menjaga dan mengurus dirinya Usia 3-4 berlatih untuk menggunakan toilet Mulai dapat makan sendiri membersihkan dirinya dengan bantuan. Misalnya, menggosok gigi, buang air. mengurus dirinya dengan bantuan. Misalnya, makan dan berpakaian. Dapat menunjukkaan kemandirian Menolong dirinya sendiri . akan, minum, kegiatan ke Mampu berpisah dengan orang tua tanpa menangis. 134 | Volume 1 Nomor 1 2021 Dawatuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting Volume 1 Nomor 2 . 128-141 E-ISSN 2798-6683 P-ISSN 2798-690X DOI: 10. 47476/dawatuna. Usia 4-5 Dapat menunjukkan kemandirian Usia 5-6 Memilih kegiatan sendiri Melakukan kegiatan kebersihan diri dan lingkungan sekitar . osok gigi, cuci tanga. Memasang kancing atau resleting sendiri Memasang dan membuka tali sepatu sendiri Mampu makan sendiri Berani pergi dan pulang sendiri . agi yang dekat dengan sekola. Mampu memilih benda untuk bermain Mampu mandi. BAK, dan BAB . oilet trainin. masih dengan bantuan Mampu mengerjakan tugas sendiri Bermain sesuai dengan jenis permainan yang Mengurus dirinya sendiri dengan bantuan, misalnya Dapat menunjukkan kemandirian Memasang kancing atau resleting sendiri Memasang dan membuka tali sepatu sendiri Berani pergi dan pulang sekolah sendiri . agi yang dekat dengan sekolahny. Mampu mandi sendiri. BAK, dan BAK . oilet trainin. Mengerjakan tugas sendiri Bermain sesuai dengan jenis permainan yang Mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan . isalnya, berpakaian, menggosok gigi dan makan Aspek pengembangan ahklakul karimah, sosial emosional dan kemandirian dan pendidikan agama Islam, anak usia 5-6 Tahun. No Tingkat Pencapaian Capaian Indikator Perkembangan Perkembangan Mengenal tata cara Sikap dalam berdoa Terbiasa membaca doa berakhlakul kepada sebelum kegiatan Allah Terbiasa membaca doa sesudah kegiatan Berlatih khusyu dalam Mendengar adzan dan Terbiasa menjawab 135 | Volume 1 Nomor 1 2021 Dawatuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting Volume 1 Nomor 2 . 128-141 E-ISSN 2798-6683 P-ISSN 2798-690X DOI: 10. 47476/dawatuna. Bersyukur kelebihan dan prestasi yang dicapai Memiliki akhlak yang Perilaku baik dan 7. Berbicara yang baik baik dalam diri sendiri sopan dalam berbicara dan sopan dengan sesama berbicara yang baik dan sopan dengan orang mudah meminta maaf dan mau memaafkan Perilaku baik dan 10. Berpakaian yang rapi dalam di rumah Berpakaian yang rapi di sekolah Mudah bergaul/berteman Perilaku yang baik 13. Tidak mengganggu dalam teman bertingkah laku Mudah bergaul/berteman Selalu bersikap ramah Senang bersikap jujur Membedakan 17. Membedakan mana dan yang benar dan salah pada suatu persoalan Menunjukkan perbuatan-perbuatan yang baik dan yang buruk Menyebutkan perbuatan-perbuatan yang baik dan yang Mengenal tata cara Mulai Berlatih berakhlak/berperilaku saling hormat kepada orang tua, guru, terhadap sesama teman atau orang dewasa Mau mengalah Terbiasa mengucapkan salam Terbiasa menjawab Terbiasa Meminta dengan baik 136 | Volume 1 Nomor 1 2021 Dawatuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting Volume 1 Nomor 2 . 128-141 E-ISSN 2798-6683 P-ISSN 2798-690X DOI: 10. 47476/dawatuna. Memiliki toleransi 26. Memiliki terhadap sesama terhadap sesama Memilki Timbulnya Suka tolong menolong Dapat bekerja sama Bersifat kooperatif 30. Melaksanakan tugas dengan teman Mau bermain dengan Menghargai 32. Dapat memuji teman keunggulan orang lain Menghargai hasil karya teman/orang lain Mengenal tata cara Menyayangi ciptaan 34. Senang menyayangi berakhlak/berperilaku Allah terhadap binatang dan Senang merawat Memelihara Menunjukkan sikap Mentaati peraturan Terbiasa mengikuti tata tertib dan aturan Mau menerima tugas dengan ikhlas Tepat waktu saat berangkat dan pulang Terbiasa berhenti bermain pada waktunya Rapi dalam bertindak dan bekerja Bertanggung jawab Tanggung jawab atas tugas yang diberikan Terbiasa mengembalikan mainan Dapat membedakan milik sendiri dan sekolah Menunjukkan sikap Terbiasa mengambil makanan secukupnya dan makan sendiri Berani karena benar dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar 137 | Volume 1 Nomor 1 2021 Dawatuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting Volume 1 Nomor 2 . 128-141 E-ISSN 2798-6683 P-ISSN 2798-690X DOI: 10. 47476/dawatuna. Mengendalikan Menunjukkan rasa percaya diri Terbiasa keperluannya sendiri Mengendalikan Sabar menunggu Dapat dibujuk Tidak cengeng Mengendalikan emosi dengan cara yang wajar Mengekspresikan Senang emosi yang sesuai mendapatkan sesuatu dengan kkondisi yang Antusias ketika melakukan kegiatan yang Menunjukkan rasa 54. Menghibur teman yang sedih Mendoakan teman yang sakit Menunjukkan rasa 56. Berani tampil didepan percaya diri Berani Memiliki sikap gigih 58. Dapat menerima . idak mudah kritik Berani bertanya dan menjawab pertanyaan Ciri-Ciri Kemandirian Anak Usia Dini Menurut Spencer dan Kass dalam Nurhidayah . , orang yang mandiri akan memiliki ciri-ciri: Pertama, mampu mengambil inisiatif. Kedua, mampu mengatasi masalah. Ketiga, penuh ketekunan. Keempat, memperoleh kepuasan dari usahanya dan kelima, berkeinginan mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Menurut Hurlock, bahwa keterampilan dalam makan dan berpakaian sendiri yang dimulai pada masa bayi, kemudian disempurnakan dalam awal masa kanakkanak. Faktor yang Mempengaruhi Kemandirian Anak Menurut Hurlock dikutip oleh Muhyidin dkk . , ada beberapa hal yang direkomendasikan agar anak menjadi mandiri dengan dirinya sendiri. Anak yang sehat dan kuat akan lebih mudah memecahkan masalahnya sendiri bila dibandingkan jika kesehatan mereka buruk. Lingkungan fisik yang bebas risiko. Permainan edukatif. 138 | Volume 1 Nomor 1 2021 Dawatuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting Volume 1 Nomor 2 . 128-141 E-ISSN 2798-6683 P-ISSN 2798-690X DOI: 10. 47476/dawatuna. Lingkungan yang mendukung perkembangan individu. Lingkungan termasuk orang tua harus senantiasa berada di samping anak guna membantu menghadapi masalah yang terlalu sulit untuk dihadapinya sendiri. Meletakkan tujuan yang realistis terhadap anak. Dorothy Rich . mengemukakan bahwa anak usia dini perlu mendapatkan dorongan positif dari orang-orang di sekitar mereka, baik dari orang tua, guru, dan saudara-saudaranya agar anak merasa mampu melakukan segala sesuatu dengan mandiri. Dorongan tersebut berupa: Pertama, rasa percaya diri merasa mampu melakukan. Kedua, motivasi ingin melakukan sesuatu. Ketiga, usaha ingin bekerja keras dengan usahanya sendiri. Keempat, inisiatif: bergerak melakukan tindakan. Kelima, ketekunan: menyelesaikan apa yang telah dimulai. Keenam, kepedulian: menunjukkan kepedulian kepada orang lain. Pendidikan Kemandirian dalam Perspektif Islam Begitu tingginya kedudukan pendidikan dalam pandangan agama Islam, sampai orang yang sedang menuntut ilmu akan tetap berada di jalan Allah swt, selama ia menuntut ilmu sampai ia kembali ke rumahnya. Hal ini telah disabdakan Rasulullah dalam sebuah hadist yang di Riwayatkan oleh Tirmidzi bahwa: AyBarang siapa keluar dalam rangka menuntut ilmu maka ia berada di jalan Allah sampai dia kembaliAy Menurut Nashih Ulwan . , pendidikan anak adalah sebaik-baik hadiah dan merupakan sesuatu yang paling indah, sekaligus sebagai hiasan bagi orang tua. Mendidik anak adalah lebih baik dibanding dunia dan seisinya. Oleh sebab itu, para pendidik hendaknya bersungguh-sungguh dan ikhlas dalam mendidik dan menumbuhkan generasi penerusnya sesuai cara yang ditempuh Rasulullah dalam mendidik mereka. Rasulullah saw menganjurkan kepada sahabatnya agar mengajarkan kepada anak-anak mereka sedini mungkin untuk mendapatkan pelajaran memanah dan berkuda. Memanah melatih untuk konsentrasi dan fokus, sedangkan berkuda melatih kekuatan, kepiawaian, kecakapan, kepercayaan dan kemandirian diri. Rasulullah saw dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Beliau sangat membenci beberapa perilaku buruk, seperti lemah pendirian, sifat malas, penakut, kikir, hidup dalam lilitan hutang dan lain-lain yang menunjukkan sikap tidak mandiri dan menganjurkan menuju sifat-sifat sebaliknya yang positif. KESIMPULAN Seorang anak harus sedini mungkin dibentuk untuk persiapan menjadi orang dewasa yang mandiri dan bertanggungjawab. Sifat mandiri ini harus senantiasa ditanamkan kepada setiap anak didik baik oleh guru maupun orang tua di rumah. Mengingat bahwa anak pada rentang usia 0-6 tahun sedang mengalami perkembangan sangat pesat hingga mencapai 80%. Jika anak mendapatkan stimulasi melalui pendidikan karakter kemandirian yang baik dan benar, maka anak akan tumbuh menjadi anak yang tidak mudah putus asa dan memiliki kepercayaan diri yang baik dalam pergaulannya sehari-hari. Jika pada masa ini anak tidak diasuh 139 | Volume 1 Nomor 1 2021 Dawatuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting Volume 1 Nomor 2 . 128-141 E-ISSN 2798-6683 P-ISSN 2798-690X DOI: 10. 47476/dawatuna. dengan baik, perangsangan yang buruk, kurang mendapatkan perhatian guru dan orang tua, dan aktivitas yang salah, maka akan terjadi banyak masalah pada tahap perkembangan selanjutnya. Karena, bagi keterampilan dasar sebagai manusia normal seperti kemampuan berbicara, berpikir, bersosialisasi dengan orang lain. Anak usia 5-6 tahun seharusnya sudah dapat menunjukkan kemandirian dalam aktivitas mereka sehari-hari. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru dan orang tua, agar anak-anak mereka tumbuh menjadi mandiri dengan diri mereka sendiri: Pertama, anak harus tumbuh sehat, baik jasmani maupun rohani. Kedua, berikan jaminan keamanan dalam lingkungan fisik anak. Ketiga, dukungan dari lingkungan keluarga untuk perkembangan individu anak. Keempat, orang tua harus menetapkan tujuan yang realistis kepada anak-anak mereka. DAFTAR PUSTAKA