JVK JURNAL VOKASI KESEHATAN http://ejournal. poltekkes-pontianak. id/index. php/JVK GAMBARAN PELAYANAN PALIATIF DI INDONESIA: SYSTEMATIC REVIEW Nikmatul Hidayah1nC. Adang Bachtiar2. Cicilya Candi3 1,2,3 Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Indonesia Info Artikel Abstrak Sejarah Artikel: Diterima 31 Mei 2024 Disetujui AA 2024 Di Publikasi A 2024 Pelayanan paliatif merupakan pendekatan penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien yang menghadapi penyakit mengancam jiwa. Meskipun sudah ada perkembangan dalam pelayanan paliatif di Indonesia, masih banyak tantangan yang perlu diatasi. Penelitian bertujuan untuk menggambarkan kondisi pelayanan paliatif di Indonesia, meliputi aksesibilitas, kualitas layanan, regulasi, dan tantangan implementasi. Metode penelitian systematic review dengan panduan PRISMA untuk mengevaluasi literatur terkait pelayanan paliatif di Indonesia. Pencarian artikel dilakukan dengan metode PICO di database seperti PubMed. Scopus. ProQuest, dan Google Scholar. Dari 493 artikel awal, 12 artikel dipilih setelah proses sintesis dengan diagram flowchart dan kriteria inklusi relevan. Hasil penelitian menunjukkan akses pelayanan paliatif masih tidak merata di Indonesia, dipengaruhi infrastruktur yang terbatas, kurangnya tenaga medis terlatih, dan kendala ekonomi. Kualitas layanan juga dipengaruhi oleh rendahnya kesadaran masyarakat dan hambatan regulasi yang masih berkembang. Implementasi pelayanan paliatif dihadapkan pada berbagai hambatan seperti faktor budaya, sosial ekonomi, sikap tenaga medis, kurangnya pendidikan dan pelatihan, distribusi fasilitas yang tidak merata, kurangnya koordinasi, dan keterbatasan dana. Diperlukan pendekatan komprehensif dan kolaboratif untuk mengatasi tantangan dalam pelayanan paliatif di Indonesia. Dengan meningkatkan akses, kualitas layanan, regulasi yang lebih matang, dan mengatasi hambatan-hambatan implementasi, diharapkan dapat tercipta perubahan positif untuk mendukung peningkatan kualitas hidup pasien yang membutuhkan perawatan paliatif. Keywords: Indonesia. Paliatif. Pasien Kronis. Pasien Terminal OVERVIEW OF PALLIATIVE CARE IN INDONESIA : SYSTEMATIC REVIEW Abstract Palliative care is crucial for improving the quality of life for patients with lifethreatening illnesses. Despite advancements in palliative care in Indonesia, significant challenges remain. This research aims to describe the condition of palliative care in Indonesia, focusing on accessibility, service quality, regulations, and implementation challenges. Using the PRISMA-guided systematic review method, the literature on palliative care in Indonesia was evaluated. Articles were searched using the PICO method in databases such as PubMed. Scopus. ProQuest, and Google Scholar. Out of 493 initial articles, 12 were selected after synthesis with a flowchart diagram and relevant inclusion criteria. The results show that access to palliative care is uneven in Indonesia, influenced by limited infrastructure, a lack of trained medical personnel, and economic constraints. Service quality is affected by low public awareness and evolving regulatory Implementation faces obstacles such as cultural factors, socio-economic issues, medical staff attitudes, lack of education and training, uneven distribution of facilities, lack of coordination, and limited funding. A comprehensive and collaborative approach is needed to address these challenges. Improving access, service quality, mature regulations, and overcoming implementation barriers are expected to enhance the quality of life for patients needing palliative care. A 2017 Poltekkes Kemenkes Pontianak nC Alamat korespondensi: Universitas Indoneisa. Depok Ae West Java. Indonesia Email: hnikmatul52@gmail. Pendahuluan (Times New Roman 10pt Bol. Pelayanan paliatif adalah sebuah pendekatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien . ewasa maupun anak-ana. serta keluarga mereka yang menghadapi masalah terkait penyakit yang mengancam jiwa (WHO, 2. Tujuannya adalah untuk mengurangi penderitaan melalui pencegahan dan pengelolaan gejala fisik, psikologis, sosial, dan spiritual (Jordan et al. Pelayanan ini tidak hanya mencakup perawatan pasien, tetapi juga dukungan bagi keluarga pasien (Zendrato et al. , 2. Pelayanan paliatif dimulai sejak diagnosis dan berlanjut sepanjang perjalanan penyakit, bersinergi dengan pengobatan kuratif untuk memberikan perawatan yang komprehensif (Andriastuti, 2. Pelayanan paliatif merupakan salah satu komponen penting dalam sistem kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien yang mengalami penyakit yang mengancam jiwa (Safrudin et al. , 2. Di Indonesia, pelayanan paliatif telah mengalami berbagai perkembangan sejak pertama kali diperkenalkan. Namun, meskipun sudah ada upaya dan inisiatif untuk memperluas dan memperbaiki layanan ini, masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Akses yang tidak merata, kekurangan tenaga medis terlatih, serta keterbatasan infrastruktur dan fasilitas merupakan beberapa masalah yang menghambat optimalisasi pelayanan paliatif di Indonesia (Wilson et al. , 2. Regulasi mengenai pelayanan paliatif di Indonesia juga masih dalam tahap perkembangan. Meskipun Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan telah memasukkan pelayanan paliatif sebagai salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang harus disediakan, implementasinya di lapangan masih belum sepenuhnya terstruktur dan terstandarisasi (Trisnantoro, 2. Banyak rumah sakit dan pusat kesehatan belum memiliki ISSN 2442-5478 sumber daya yang memadai untuk memberikan pelayanan paliatif yang komprehensif (Arisanti et , 2. Selain itu, kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelayanan paliatif masih rendah, yang mengakibatkan pemanfaatan layanan ini belum optimal (Poerin et al. , 2. Edukasi kesehatan dan peningkatan kesadaran tentang manfaat pelayanan paliatif sangat krusial untuk memastikan bahwa pasien dengan penyakit serius dan keluarga mereka mendapatkan dukungan yang diperlukan. (Faidah et al. , 2. Berdasarkan penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi pelayanan paliatif di Indonesia, termasuk aksesibilitas, kualitas layanan, regulasi, dan tantangan yang dihadapi dalam implementasinya. Dengan memahami gambaran lengkap tentang pelayanan paliatif di Indonesia, diharapkan dapat ditemukan solusi dan rekomendasi yang dapat meningkatkan kualitas dan cakupan layanan ini, sehingga memberikan manfaat yang lebih besar bagi pasien dan keluarga mereka serta memberikan masukan penting bagi pembuat kebijakan untuk memperkuat regulasi dan pendanaan dalam mendukung perkembangan pelayanan paliatif di Indonesia. Metode Penelitian ini menerapkan metode systematic review sesuai dengan panduan PRISMA (Pati D & Lorusso LN. , 2. Penelusuran literatur didasarkan pada formulasi masalah studi PICO (Population. Intervention. Comparison. Outcom. Fokus populasi dalam penelitian ini adalah pasien paliatif di Indonesia, dengan intervensi berupa perawatan paliatif dan hasil yang diukur adalah peningkatan kualitas hidup pasien yang menderita penyakit kronis atau terminal. Kata kunci pencarian literatur mencakup kombinasi Indonesia AND paliatif . OR pasien kronis . ronic patient. OR pasien terminal . erminal patient. Sumber data dicari melalui berbagai database seperti Pubmed. Scopus. ProQuest, dan Google Scholar. Artikel yang diinklusi dalam penelitian ini harus dipublikasikan antara tahun 2014 hingga 2024 dan dapat diakses fulltext secara gratis. Seleksi literatur dibatasi pada publikasi yang tersedia dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian ini menggunakan metode tinjauan sistematik untuk mengkaji literatur mengenai pelayanan paliatif di Indonesia, dengan mengacu pada pedoman PRISMA. Pada tahap identifikasi, sejumlah 493 artikel ditemukan dari berbagai database: PubMed . Scopus . ProQuest . , dan Google Scholar . Dari jumlah tersebut, 15 artikel teridentifikasi sebagai duplikat dan dihapus sebelum proses penyaringan, sehingga total artikel yang disaring adalah 478 artikel. Selanjutnya dari 478 artikel yang disaring berdasarkan judul dan abstrak, sebanyak 162 artikel dikeluarkan karena tidak relevan. Selanjutnya, 316 artikel diajukan untuk proses retrieval, namun 78 di antaranya tidak dapat diambil sehingga tersisa 238 artikel untuk dievaluasi kelayakannya. Dari 238 artikel yang dinilai kelayakannya, 73 artikel dikeluarkan karena tidak ditulis dalam bahasa Inggris atau Indonesia, dan 153 artikel dikeluarkan karena dipublikasikan lebih dari 10 tahun yang lalu. Sehingga, total 226 artikel dikeluarkan pada tahap ini. Akhirnya, 12 artikel yang memenuhi semua kriteria inklusi dimasukkan dalam tinjauan sistematik ini. Gambar 1. PRISMA flow diagram Tabel 1. Hasil Tinjauan Literature No. Judul 1 Gambaran Persepsi Masyarakat tentang Keberadaan Pelayanan Paliatif di Kota Bandung Penulis Tahun Neta Oktriyani 2019 Poerin. Nita Arisanti. Reza Widianto Sudjud. Elsa Pudji Setiawati 2 Gambaran Kualitas Hidup Pasien Paliatif Yayasan IZI Semarang Candra Hadi 2022 Prasetyo. Emilia Puspitasari Sugiyanto. Wijanarko Heru Pramono 3 Pemberdayaan Kader Popy Siti Aisyah, 2020 Kesehatan Shella Febrita. Masyarakat dalam Yayat Hidayat Perawatan Paliatif di Wilayah Kerja Puskesmas Babakan Sari Kota Bandung 4 Gambaran Liberty Oktoriati 2019 Pengetahuan Zendrato. Lidya Keluarga tentang Rheina Theresya Perawatan Paliatif Waruwu. Yuliana Disatu Rumah Sakit Susana Nar. Yenni Swasta di Indonesia Ferawati Barat Sitanggang. Erivita Sakti 5 Peningkatan Pemahaman Perawat Tentang Paliatif Care Saat Discharge Planning pada Pasien Paliatif di RSUD RA Kartini Jepara Noor Faidah. Sri 2023 Hartini. Biyanti Dwi Winarsih. Galia Wardha Alvita 6 Hubungan Perawatan Paliatif Kualitas Hidup Pasien Kanker Payudara Safruddin. Maryunis. Suhermi. Sunartin Papalia 7 Face-validation quality indicators for the organization of palliative care in Indonesia: quality improvement Effendy. Christantie. Vissers. Kris. Woitha. Kathrin. van Riet Paap. Jasper. Tejawinata. Sunaryadi. Vernooij-dasen. Lokasi Hasil Temuan Bandung. Indonesia Hasil bahwa sebagian responden memiliki persepsi positif . %) dan sebagian lagi memiliki persepsi negatif . %) terhadap pelayanan paliatif. Perlu masyarakat mengenai pelayanan Semarang. Penelitian ini menghasilkan enam Indonesia domain yang mempengaruhi kualitas hidup, termasuk domain kognitif, psikologis, fisik, aktivitas dan peran, sosial, dan kesejahteraan. Bandung. Indonesia Memberikan pendidikan kesehatan kepada para kader memiliki dampak perawatan paliatif. Indonesia Mayoritas responden adalah wanita . %), dengan tingkat pengetahuan yang cukup . 9%) dan baik . 8%) secara umum. Responden yang mendapat edukasi kesehatan pengetahuan baik sebesar 63. 8% dan cukup sebesar 83. 8% dari total 170 Jepara. Setelah diberikan materi tentang Indonesia peran perawat dalam edukasi perawatan paliatif, pemahaman perawat meningkat secara signifikan dari nilai rata-rata awal 61. Pendidikan kesehatan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas perawatan paliatif oleh pemulangan pasien. Makassar. Ada korelasi yang signifikan antara Indonesia perawatan paliatif dan kualitas hidup pasien kanker payudara di Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI Makassar, dengan nilai p sebesar 0,001. Indonesia Banyak indikator kualitas (QI) yang digunakan dalam perawatan paliatif di Eropa dapat dianggap relevan dan dapat diterapkan di Indonesia, menunjukkan adanya kesamaan dalam penyelenggaraan perawatan paliatif meskipun di negara-negara dengan perbedaan ekonomi dan budaya yang signifikan. Penggunaan QI di Indonesia adalah langkah awal No. Judul Penulis Myrra. Yvonne Tahun Lokasi Engels. Hasil Temuan dalam pengembangan, pengujian, dan penerapan QI untuk perawatan paliatif di sini. Uji validitasnya sebaiknya juga dilakukan di negaranegara Asia khusus untuk wilayah Asia. Layanan perawatan paliatif di Indonesia didirikan di beberapa rumah sakit. Pekerjaan di masa depan diperlukan untuk membangun kapasitas, melakukan advokasi kepada pemangku kepentingan, menciptakan model perawatan yang masyarakat, dan meningkatkan jumlah tenaga kerja perawatan Pengobatan psikosomatis memainkan peran penting dalam layanan perawatan paliatif. 8 Development palliative care in Indonesia: role of Rudi Putranto, 2017 Endjad Mudjaddid. Hamzah Shatri. Mizanul Adli dan Diah Martina Indonesia 9 Barriers mechanisms to the palliative care in Aceh. Indonesia Fiona Wilson. Wardani. Ryan. Gardiner. Talpur Aceh. Indonesia 10 Implementation palliative care for patients with terminal diseases from the healthcare personnel Nita Arisanti. Elsa 2019 Pudji Setiawati Sasongko. Veranita Pandia. Dany Hilmanto Indonesia 11 IndonesiaAos Unique Social System as Key Successful Implementation Communityand Home-Based Palliative Care Venita Eng. Aru 2023 Sudoyo. Siti A. Nuhonni. Kevin Hendrianto. Indonesia Terdapat menerapkan perawatan paliatif berbasis rumah di Indonesia, namun ada juga kekuatan dan peluang untuk pengembangan di masa depan. Kerja sama antara pemerintah melalui ICF, partisipasi masyarakat melalui CHV, serta komitmen pemerintah untuk mengintegrasikan sumber daya masyarakat adalah model yang berharga dan efektif untuk populasi Indonesia yang besar. Indonesia Perawatan paliatif dan dukungan anak-anak dengan kanker penting untuk meningkatkan kualitas hidup dan kenyamanan pasien serta Layanan ini bekerja 12 Peran Pelayanan Murti Andriastuti Paliatif dan Suportif pada Pasien Kanker Anak Hambatan pelayanan paliatif : . Visi dan kepemimpinan lokal, . Prioritas kebijakan dan pendanaan perawatan paliatif, . Akses terhadap perawatan paliatif di masyarakat dan layanan publik, dan . Dukungan terhadap perawatan paliatif dalam konteks budaya, hukum Syariah, keluarga, dan Beberapa faktor penting untuk implementasi perawatan paliatif. Pasien, anggota keluarga, dan petugas kesehatan mempunyai Penerapan perawatan paliatif secara menyeluruh juga memerlukan peningkatan akses terhadap layanan dan dukungan sistem layanan kesehatan No. Judul Penulis Tahun Lokasi Hasil Temuan perawatan holistik, dengan manfaat positif saat dimulai sejak dini. Kolaborasi termasuk spesialis paliatif pediatrik, kunci dalam merancang model perawatan terpadu. Pembahasan Akses Pelayanan Paliatif Akses pelayanan paliatif bagi pasien penyakit kronis atau pasien dengan kondisi terminal di Indonesia masih belum merata, dan ini merupakan isu krusial dalam sistem (Wilson Beberapa faktor yang menyebabkan ketidakmerataan ini antara lain keterbatasan infrastruktur, kurangnya tenaga medis yang terlatih, serta kendala geografis dan ekonomi. Pertama, infrastruktur kesehatan yang memadai untuk pelayanan paliatif masih terbatas dan cenderung terkonsentrasi di kotakota besar. Banyak daerah pedesaan dan terpencil belum memiliki fasilitas yang mampu komprehensif (Wilson et al. , 2. Hal ini membuat pasien di daerah tersebut harus mendapatkan perawatan yang dibutuhkan, yang sering kali tidak praktis atau bahkan tidak mungkin dilakukan, terutama bagi pasien dengan mobilitas terbatas atau dalam kondisi kesehatan yang buruk. Kedua, tenaga medis yang terlatih dalam bidang paliatif masih sangat kurang. Pendidikan dan pelatihan khusus dalam pelayanan paliatif belum menjadi bagian standar dari kurikulum medis di banyak institusi pendidikan di Indonesia(Giarti, 2. Akibatnya, banyak tenaga kesehatan yang belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk memberikan perawatan paliatif yang berkualitas. Ini menyebabkan perawatan paliatif sering kali tidak optimal, terutama di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas (Aisyah et al. , 2. Selain itu, kendala geografis dan ekonomi juga memainkan peran besar dalam ketidakmerataan akses pelayanan paliatif. Banyak pasien dari keluarga berpenghasilan rendah tidak mampu membiayai transportasi atau biaya lain yang berkaitan dengan perawatan paliatif. Sementara itu, kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau membuat distribusi layanan kesehatan menjadi tantangan tersendiri (Wilson et al. Upaya untuk mengatasi ketidakmerataan akses ini memerlukan pendekatan yang Ini termasuk peningkatan pendidikan dan pelatihan bagi tenaga medis, infrastruktur kesehatan di daerah-daerah yang kurang terlayani, serta kebijakan yang mendukung aksesibilitas pelayanan bagi semua lapisan masyarakat, termasuk mereka yang berada di daerah terpencil dan kurang mampu secara ekonomi (Putranto et al. Dengan langkah-langkah diharapkan pelayanan paliatif di Indonesia dapat lebih merata dan mampu memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi pasien dengan penyakit kronis atau kondisi terminal. Kualitas Pelayanan Paliatif Kualitas pelayanan paliatif di Indonesia sangat dipengaruhi oleh tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya layanan ini. Meskipun pelayanan paliatif bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan penyakit kronis atau terminal melalui perawatan yang komprehensif dan holistik, kesadaran masyarakat tentang pentingnya layanan ini masih tergolong rendah. Rendahnya signifikan terhadap kualitas dan aksesibilitas pelayanan paliatif di berbagai wilayah di Indonesia (Poerin et al. , 2. Banyak masyarakat Indonesia belum sepenuhnya memahami apa itu pelayanan paliatif dan manfaatnya. Ada anggapan umum bahwa pelayanan medis hanya difokuskan pada penyembuhan penyakit, sehingga perawatan paliatif yang berfokus pada pengelolaan gejala dan peningkatan kualitas hidup sering kali diabaikan (Andriastuti. Pelayanan paliatif sering kali dikaitkan dengan akhir hidup, yang membawa stigma dan ketakutan di kalangan masyarakat. Miskonsepsi bahwa perawatan paliatif berarti menyerah pada pengobatan penyakit juga menghambat penerimaan dan pemanfaatan (Nova. Hal mengakibatkan pasien dan keluarga enggan mencari atau menerima perawatan paliatif, meskipun mereka bisa sangat diuntungkan oleh layanan tersebut. Karena kurangnya kesadaran, banyak pasien dan keluarga baru mencari pelayanan paliatif pada tahap akhir penyakit, ketika gejala sudah sangat parah dan kualitas hidup sudah sangat menurun. Keterlambatan ini mengurangi efektivitas perawatan paliatif dalam mengelola gejala dan memberikan dukungan psikososial yang dibutuhkan sejak dini (Eng et al. , 2. Regulasi tentang Paliatif Pelayanan Regulasi mengenai pelayanan paliatif di Indonesia masih berada dalam tahap perkembangan yang signifikan. Meskipun Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan telah secara resmi mengakui pelayanan paliatif sebagai bagian penting dari sistem kesehatan yang harus membutuhkan pembaruan dan penyempurnaan yang lebih lanjut (Trisnantoro, 2. Meski begitu, terdapat langkah-langkah mengembangkan regulasi pelayanan paliatif di Indonesia. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kesehatan, telah mengeluarkan berbagai kebijakan dan pedoman yang bertujuan untuk memperkuat serta mengatur lebih lanjut pelayanan paliatif di negara ini. Salah satu tonggak penting dalam regulasi ini adalah ditemukannya Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 812 Tahun Pedoman Penyelenggaraan Paliatif. Peraturan pentingnya integrasi pelayanan paliatif ke dalam sistem kesehatan nasional. Hal ini mencakup aspek-aspek seperti standar pelayanan, pengadaan obat-obatan, pelatihan tenaga medis, serta tata kelola pelayanan paliatif secara umum. Meskipun masih ada ruang untuk peningkatan dan penyesuaian dengan perkembangan terkini dalam bidang perawatan paliatif, adanya regulasi seperti ini merupakan langkah awal yang penting dalam memperkuat pelayanan paliatif di Indonesia. Dengan kesadaran yang semakin meningkat akan pentingnya perawatan bagi pasien dengan penyakit yang tidak dapat disembuhkan, diharapkan regulasi mengenai pelayanan paliatif akan terus berkembang dan disempurnakan demi memberikan pelayanan yang lebih baik dan menyeluruh bagi pasienpasien yang membutuhkannya (Wilson et al. Hambatan dan Tantangan Implementasi Pelayanan Paliatif Implementasi pelayanan paliatif di Indonesia dihadapkan pada berbagai hambatan yang kompleks. Faktor budaya dan sosial ekonomi menjadi salah satu kendala utama. Budaya penyembuhan aktif dan penolakan terhadap topik kematian seringkali menghambat penerimaan perawatan paliatif. Selain itu, kondisi sosial ekonomi yang tidak merata juga memengaruhi aksesibilitas dan kualitas perawatan, terutama di daerah-daerah yang kurang berkembang (Effendy et al. , 2. Persepsi pasien dan keluarga mereka juga turut memengaruhi implementasi pelayanan Kurangnya pemahaman tentang manfaat perawatan paliatif dan stigma terhadap penggunaannya dapat menghambat pasien untuk mencari dan menerima perawatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka (Faidah et al. , 2. Sikap penyedia layanan kesehatan juga menjadi faktor krusial. Terkadang, kurangnya pemahaman atau kesadaran akan pentingnya perawatan paliatif, serta sikap yang kurang empatik dari beberapa tenaga medis, dapat menjadi penghalang dalam memberikan layanan yang optimal kepada pasien. Kurangnya pendidikan dan pelatihan yang memadai untuk tenaga kesehatan juga menjadi Keterampilan diperlukan untuk memberikan perawatan paliatif yang berkualitas tidak selalu terintegrasi dalam kurikulum pendidikan medis, sehingga mengakibatkan kurangnya pengetahuan dan keahlian di lapangan (Putranto et al. , 2. Distribusi fasilitas perawatan paliatif yang tidak merata juga menjadi tantangan. Banyak daerah, terutama di pedalaman dan daerah terpencil, yang tidak memiliki akses yang memadai terhadap fasilitas paliatif, sehingga menghambat pasien untuk mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan (Wilson et , 2. Kurangnya koordinasi antara berbagai pihak terkait dalam sistem kesehatan juga menjadi masalah. Koordinasi yang kurang baik dapat menghambat alur pelayanan yang efektif dan menyebabkan pasien tidak mendapatkan perawatan yang tepat waktu dan holistic (Eng et al. , 2. Terakhir, hambatan yang tak terelakkan adalah dana yang terbatas. Keterbatasan anggaran untuk pengembangan infrastruktur, pelatihan tenaga medis, dan pengadaan obatobatan paliatif menjadi kendala serius dalam meningkatkan kualitas dan aksesibilitas pelayanan paliatif di Indonesia (Vionalita. Dengan mengatasi hambatan-hambatan ini melalui pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif antara pemerintah, lembaga kesehatan, masyarakat, dan pihak terkait lainnya, diharapkan pelayanan paliatif di Indonesia dapat meningkat dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi pasien yang Penutup Akses pelayanan paliatif di Indonesia masih tidak merata, dengan hambatan seperti keterbatasan infrastruktur dan kurangnya tenaga medis terlatih. Hal ini mempengaruhi kualitas pelayanan, yang juga dipengaruhi oleh rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya layanan ini dan hambatan regulasi yang masih dalam tahap Implementasi pelayanan paliatif dihadapkan pada berbagai hambatan, namun dengan pendekatan komprehensif dan kolaboratif, diharapkan dapat tercipta perubahan positif untuk mendukung peningkatan kualitas hidup pasien yang membutuhkan perawatan paliatif. Daftar Pustaka