Halaman 13840-13856 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Upaya Pemerintah dalam Mendorong Kompetensi Literasi Guru Melalui Program Beasiswa Microcredential di Teachers College Columbia University Meliyanti1. Sani Aryanto2 Direktorat Guru Pendidikan Dasar Kemendikbudristek Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Email : 1meliyantiakbari@gmail. Abstrak Penelitian ini merupakan upaya kongkret Direktorat Jendral Guru dan Tenaga kependidikan (Ditjen GTK) Kementerian Pendidikan. Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudriste. dalam mendukung peningkatan kemampuan literasi bagi guru Sekolah Dasar (SD) melalui program beasiswa Microcredential di Teacher College Columbia University yang sejalan dengan Peraturan Direktorat Jendral (Perdirje. Nomor 0340/B/HK. 03/2022 tentang Kerangka Kompetensi Literasi dan Numerasi Bagi Guru SD. Oleh karena itu, tujuan utama penelitian ini adalah memberikan gambaran komprehensif terkait proses dan hasil pelaksanaan program Microcredential di Teacher College Columbia University yang diharapkan mampu mencapai beberapa tujuan spesifik, diantaranya: . meningkatkan kompetensi literasi guru. membentuk jejaring guru pendamping literasi yang memiliki kemampuan dan motivasi untuk mengimbaskan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya dalam komunitas profesi. membina komunitas guru pendamping literasi melalui program-program yang berkelanjutan dalam rangkaian kegiatan sebelum, selama, dan setelah pelatihan microcredential. Ketiga tujuan penelitian ini diharapkan merepresentasikan kebijakan Perdirjen nomor 0340/B/HK. 03/2022 yang telah ditetapkan. Adapun subjek penelitian ini adalah 25 . ua pulih lim. guru terpilih sebagai representasi dari 16 . nam bela. Provinsi di Seluruh Indonesia dengan harapan dapat menjadi pionir literasi yang menginspirasi guru-guru lainnya dalam mendorong Gerakan Literasi Nasional. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan hasil penelitian yang menunjukan gambaran konseptual dan kontekstual yang terjadi selama pelaksanaan program beasiswa Microcredential di Teacher College Columbia University, meliputi: Pra Pelatihan. Pelatihan. Refleksi. dan Pengimbasan. Dengan memperhatikan Strengths. Weaknesses. Opportunities, and Threats, (SWOT) bahwa pelatihan microcredential yang dilaksanakan oleh Ditjen GTK dan dididanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pada Teacher College dapat mendukung amanat yang tercantum pada Perdirjen Kerangka Kompetensi Literasi. Selain itu, guru-guru yang terlibat dalam penelitian ini menyatakan respon positif terhadap berbagai rangkaian kegiatan microcredential ini dan berharap dapat memberikan pengimbasan pada peserta didik, guru-guru, orang tua, ekosistem sekolah, dan masyarakat Indonesia. Kata Kunci: Literasi. Microcredential. Teacher Collage Abstract This research is a concrete effort of the Directorate Teachers and Education Personnel (Indonesian Term: Direktorat Guru dan Tenaga kependidikan (GTK) Kemendikbud Ristek to support the improvement of literacy skills of Elementary School teachers through the Microcredential scholarship program at Columbia University's Teacher College in line with the Regulation of the Directorate General (Indonesian Term: Peraturan Direktoral Jendral Perdirje. Number 0340 / B / HK. 03 / 2022 concerning the Framework of Literacy and Numeracy Competency for Elementary School Teachers. Therefore, the main goal of this study is to provide a comprehensive overview of the process and results of the implementation Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 13840-13856 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 of the Microcredential program at Columbia University's Teacher College which is expected to achieve several specific goals. , among them: . improving the literacy competence of . forming a network of literacy companion teachers who have the ability and motivation to balance the knowledge and skills obtained in the professional community. fostering a community of literacy companion teachers through continuous programs in a series of activities before, during, and after microcredential training. The three objectives of this study are expected to represent the policy of the Directorate General number 0340 / B / HK. 2022 that has been established. The subject of this study is 25 . wo recovered fiv. teachers selected as representations from 16 . provinces throughout Indonesia with the hope of becoming a literacy pioneer that inspires other teachers in encouraging the National Literacy Movement. This study used descriptive analysis methods with research results that showed a conceptual and contextual picture occuring during the implementation of the program including: Pre-Training. Training. Reflection. and Scaning. By paying attention to Strengths. Weaknesses. Opportunities, and Threats, (SWOT) that microcredential training carried out by the Directorate General of GTK and funded by Indonesia Endowment Fund (Indonesian Term: Lembaga Pengelola Dana Pendidikan LPDP) at the Teacher College can support the mandate listed in the Directorate General of Literacy Competency Framework. In addition, the teachers involved in this study expressed a positive response to this series of microcredential activities and hoped to provide an impact on students, teachers, parents, school ecosystem, and Indonesian community. Keywords: Literacy. Microcredential. Teacher Collage PENDAHULUAN Budaya literasi di Indonesia dianggap sangat memprihatikan apabila merujuk hasil penelitian yang dilakukan Central Connecticut State University (CCSU) di New Britain. Amerika Serikat Tahun 2016. Budaya literasi di Indonesia berada pada peringkat ke-60 dari 61 negara dalam The WorldAos Most Literate Nations (CCSU, 2. Di samping itu. Programme for International Student Assessment (PISA) merilis hasil penelitian yang menunjukan budaya literasi masyarakat Indonesia berada diurutan ke-74 dari 79 negara berdasarkan hasil survei oleh The Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD, 2. Kedua hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa budaya literasi di Indonesia perlu ditingkatkan terutama dalam konteks pendidikan formal khususnya di jenjang Pendidikan Dasar . Secara terminologi, pada mulanya literasi diartikan sebagai melek aksara yang berarti tidak buta huruf (Idrus et al. , 2020. Nopilda & Kristiawan, 2. Sehingga pada fase awal literasi selalu diidentikkan dengan kemampuan membaca saja. Pada fase selanjutnya pemaknaan literasi menjadi jauh lebih berkembang yang tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca saja, namun dimaknai sebagai kemampuan Calistung (Baca. Tulis. Hitun. sebagai bagian dari istilah konsep literasi dasar . asic literac. (Cleovoulou & Beach. Purnama et al. , 2021. Saadati & Sadli, 2. Akan tetapi, dinamika masyarakat dan kemajuan IPTEKS saat ini merekonstruksi pemahaman literasi yang tidak hanya dimaknai kemampuan membaca dan menulis saja. Paradigma dan perspektif dari UNESCO mendefinisikan literasi melalui tiga hal, diantaranya: . Literasi adalah tentang penggunaan yang mana masyarakat menjadikannya sebagai sarana berkomunikasi dan berekspresi, melalui berbagai media. Literasi bersifat jamak, dipraktikkan dalam konteks tertentu untuk tujuan tertentu dan menggunakan bahasa tertentu. Literasi melibatkan kontinum pembelajaran yang diukur pada tingkat kemahiran yang berbeda (Meece & Miller, 2001. Stipek et al. , 2010. Turiman et al. , 2012. Wen & Shih, 2. Ketiga hal tersebut menjadi landasan konseptual secara definitif memaknai literasi secara umum bagi semua kalangan masyarakat terutama bagi guru-guru di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Dasar (Penda. Literasi dianggap sebagai sebuah konsep penting yang dibutuhkan dalam upaya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia dan menjadi komponen utama dalam Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 13840-13856 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 mengembangkan kecakapan hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia (Sari. Literasi juga menjadi tolak ukur negara dikatakan maju. Oleh karena itu, agar Bangsa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju lainnya, perlu adanya upaya keseriusan dalam meningkatkan literasi demi menyokong tercapainya kecerdasan kolektif dan pembentukan karakter masyarakat Indonesia (Ansori, 2020. McGrath & Fischetti, 2019. Nopilda & Kristiawan, 2018. Taufina & Zikri, 2. Literasi dipandang sebagai kebutuhan yang penting dikuasai oleh semua pemangku kepentingan, terutama guru, peserta didik, orang tua, dan ekosistem sekolah (Setyawan & Gusdian, 2. Guru menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih literat. Akan tetapi, masih banyak guru yang memiliki cara pandang dan pemahaman yang keliru dalam memaknai literasi sehingga terjadi berbagai macam miskonsepsi (Saadati & Sadli, 2019. Setyawan & Gusdian, 2. Miskonsepsi yang paling sering terjadi adalah pemahaman guru terkait kemampuan literasi yang hanya diwujudkan dalam kompetensi baca dan tulis serta menganggap bahwa tujuan literasi sebatas untuk melatih keterampilan berbahasa serta hal-hal lain berkaitan dengan aspek linguistik dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia (Arif & Handayani, 2020. Fadhli, 2021. Nahdi & Jatisunda, 2. Padahal menurut International Literacy Association . menyebutkan bahwa literasi adalah kemampuan untuk mengenali, memahami, menafsirkan, mencipta, mengkomputasi, dan berkomunikasi menggunakan simbol visual, auditori, dan digital mengenai topik lintas disiplin dan keilmuan (Wen & Shih, 2. Oleh karena itu, dalam mengantisipasi miskonsepsi pemahaman literasi guru dan berbagai permasalahan literasi yang terjadi, maka Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) Kementerian Pendidikan Kebudayaan. Riset dan Teknologi (Kemendikbudriste. Republik Indonesia mengeluarkan Peraturan Direktorat Jendral (Perdirje. Nomor 0340/B/HK. 03/2022 tentang Kerangka Kompetensi Literasi dan Numerasi Bagi Guru Sekolah Dasar yang diimplementasikan dalam berbagai program terorganisir, salah satunya program Microcredential di Teacher College Columbia University dengan sasaran 25 . ua puluh lim. guru terpilih sebagai representasi dari 16 . nam bela. Provinsi di Seluruh Indonesia. Adapun guru yang terlibat diantaranya: 16 . nam bela. guru Sekolah Dasar (SD), 7 . guru PAUD, dan 1 . guru Sekolah Luar Biasa (SLB). Teacher College menjadi rujukan dalam pengembangan literasi terutama dalam mengembangkan kompetensi profesi di bidang pendidikan dengan hadirnya Teacher College Reading and Writing Project (TCRWP) yang didirikan oleh Profesor Lucy Calkins pada Tahun Selama 40 . mpat pulu. tahun TCRWP telah meningkatkan kapasitas guru, tenaga kependidikan, pengawas, dan praktisi pendidikan dalam mengembangkan program-program literasi yang berbasis individual, sekolah, maupun gugus sekolah. Program-program ini menguatkan kecakapan fundamental membaca dan menulis peserta didik melalui kegiatan literasi berimbang. Program ini merujuk pada kajian empirik di bidang literasi dan dianggap oleh banyak ahli sebagai program pendampingan yang berhasil memadukan berbagai aliran teori literasi . ermasuk fonik, whole language, dan sosiokultira. Pada masa pandemi Covid-19. TCRWP membuka layanan daring yang mengakomodasi partisipasi peserta internasional. Bagi guru-guru di Indonesia mengenal konsep dan strategi literasi, interaksi, dan penjelasan dari fasilitator dalam kegiatan sinkronus daring tentu memudahkan setiap peserta yang terlibat dalam memahami materi pelatihan. Melalui pertimbangan tersebut, pendekatan yang dimiliki oleh TCRWP lebih sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik guru-guru di Indonesia. Oleh karena itu. Ditjen GTK Kemendikbudristek menginisiasi program microcredential dalam upaya meningkatkan kompetensi literasi guru-guru di Indonesia khususnya di jenjang PAUD dan Pendidikan Dasar yang didukung secara langsung oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari segi TCRWP adalah salah satu program internasional peningkatan literasi yang sangat Oleh karena itu, penelitian melalui metode analisis deskiptif diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif secara konseptual dan kontekstual yang terjadi selama pelaksanaan program beasiswa Microcredential di Teacher College Columbia University serta Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 13840-13856 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 keterkaitannya dalam mendukung kebijakan mengenai kerangka kompetensi literasi Berikut beberapa hasil penelitian ini diantaranya: . gambaran konseptual terkait prinsip literasi kontinum sebagai polarisasi pembelajaran literasi yang representatif dengan konteks pendidikan Indonesia. gambaran deskriptif mengenai pemilihan dan pengembangan buku ramah cerna beserta tingkatannya. gambaran komprehensif proses asistensi pengembangan strategi pembelajaran literasi yang lebih kontekstual sesuai kebutuhan anak. Gambaran implementasi tahapan-tahapan program beasiswa Microcredential di Teacher College Columbia University meliputi: Pra Pelatihan. Pelatihan. Refleksi. dan Pengimbasan. Program microcredential yang telah dilakukan diharapkan menjadi cikal bakal lahirnya guru literat yang benar-benar memaknai literasi dalam konteks yang lebih luas dan tidak hanya menganggap literasi sebagai kompetensi baca tulis semata, namun guru-guru yang mengikuti program ini diharapkan mampu menjadi pionir dan penggerak dalam gerakan literasi di Indonesia dengan meminimalisasi berbagai miskonsepsi terkait literasi yang sering terjadi. Oleh karena itu, guru-guru yang terpilih dalam program ini akan menjadi duta literasi yang dituntut untuk dapat memberikan pengimbasan bagi peserta didik, guru-guru, orang tua, ekosistem sekolah, dan masyarakat Indonesia sehingga merepresentasikan kompetensi literasi guru sesuai dengan Peraturan Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan Nomor 0340/B/HK. 03/2022. METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian analisis deskriptif dengan subjek penelitian 25 . ua puluh lim. guru terpilih sebagai representasi dari 16 Provinsi di Seluruh Indonesia. Adapun guru yang terlibat diantaranya: 16 . nam bela. guru SD, 7 . guru PAUD, dan 1 . guru SLB. Metode ini diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif secara konseptual dan kontekstual terkait program Microcredential di Teacher College Columbia University meliputi: Pra Pelatihan. Pelatihan. Refleksi. dan Pengimbasan. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran beberapa hal, diantaranya: . gambaran konseptual terkait prinsip literasi kontinum sebagai polarisasi pembelajaran literasi yang representatif dengan konteks pendidikan Indonesia. gambaran deskriptif mengenai pemilihan dan pengembangan buku ramah cerna beserta tingkatannya. gambaran komprehensif proses asistensi pengembangan strategi pembelajaran literasi yang lebih kontekstual sesuai kebutuhan anak. Gambaran implementasi tahapan-tahapan program beasiswa Microcredential di Teacher College Columbia University. Penelitian ini didasarkan pada kebijakan Perdirjen Nomor 0340/B/HK. 03/2022 tentang Kerangka Kompetensi Literasi dan Numerasi Bagi Guru Sekolah Dasar Berikut prosedur penelitian ini meliputi empat tahapan diantaranya: . persiapan dan proses pengamatan . engumpulan dat. pengolahan data hasil survey. analisis data . eduksi dan inventarisasi dat. menyimpulkan hasil survey (Cresswell, 2. Tahapan tersebut terdapat pada Gambar 1 berikut ini. Gambar 1. Prosedur Penelitian Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 13840-13856 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 Analisis data didasarkan pada Teori Miles dan Huberman . alam Cresswell, 2. dengan tahapan, diantaranya: . Pengumpulan dan kodifikasi data. Inventarisasi data hasil penelitian. Pengelompokan data. Interpretasi Data. Tahap-tahapan ini mereduksi data yang telah terkumpul yang diharapkan memberikan gambaran komprehensif secara konseptual dan kontekstual terkait program Microcredential di Teacher College Columbia University yang telah dilakukan dan didasarkan pada Perdirjen Nomor 0340/B/HK. 03/2022. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini merupakan upaya replektif dan startegis dalam memaknai literasi sebagai salah satu indikator terpenting untuk mewujudkan Pendidikan Indonesia yang semakin maju, sehingga hasil penelitian ini menjadi landasan dan alasan untuk merubah segala miskonsepsi yang terjadi terkait literasi dengan mempelajari konsep dan konteks literasi secara lebih mendalam dari para pakar pusat literasi di dunia melalui program Microcredential di Teacher College Columbia University. Adapun setiap guru yang mengikuti program microcredential ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi literasi guru sesuai dengan Peraturan Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan Nomor 0340/B/HK. 03/2022 melalui program pelatihan yang dirancang secara spesifik untuk menguatkan kemampuan fundamental peserta didik dalam membaca, menulis, dan berpikir melalui teks bacaan, setiap peserta juga diharapkan dapat membentuk jejaring guru pendamping literasi yang memiliki kemampuan dan motivasi untuk mengimbaskan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya dalam komunitas profesinya, serta setiap guru dituntut untuk dapat membina komunitas guru pendamping literasi melalui program-program yang berkelanjutan dalam rangkaian kegiatan sebelum, selama, dan setelah pelatihan microcredential. Adapun beberapa kompetensi literasi guru berdasarkan Perdirjen Nomor 0340/B/HK. 03/2022 dapat diketahui beberapa kategori, aspek, dan cakupan kompetensi literasi guru. Tabel 1. Kompetensi Literasi Guru Kategori Pengetahuan Profesional Praktik Pembelajaran Profesional Aspek Cakupan Pengetahuan/Pemahaman Konsep pembelajaran membaca Teknik Strategi Literasi berbasis riset dari perspektif kognitif, linguistik, sosiokultural, dan apektif. Konsep berbasis riset dari perspektif kognitif, linguistik, sosiokultural, dan afektif. Prosedur perancangan pembelajaran dan asesmen membaca dan menulis sesuai karakteristik dan kebutuhan Pengetahuan berbahasa untuk berkomunikasi efektif secara lisan, tulisan, dan Pembelajaran dan Keterampilan Asesmen Literasi pembelajaran dan asesmen yang kecakapan literasi peserta didik dengan metode yang berpusat pada peserta didik Pemetaan keragaman Keterampilan untuk mengidentifikasi membaca dan dan menulis peserta didik membaca dan menulis peserta didik. Jurnal Pendidikan Tambusai Halaman 13840-13856 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Pengelolaan belajar kaya literasi Pengembangan Profesi Pengembangan Kecakapan Literasi Diri Menata dan mengelola lingkungan fisik dan sosial-afektif agar kelas menyenangkan, bermakna, serta menumbuhkan minat membaca dan Meningkatkan profesional diri secara berkelanjutan melalui kegiatan membaca, menulis, melakukan penelitian baik secara mandiri maupun kolaboratif Kompetensi literasi guru SD yang terdapat dalam Perdirjen Nomor 0340/B/HK. 03/2022 menjadi landasan utama dalam memberikan gambaran prosedur penelitian yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil pengumpulan data yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa program microcredential ini dilakukan secara luring dan daring melalui metode scaffolding dengan memberikan layanan pendampingan pada setiap guru selama melakukan persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam mengikuti pelatihan di Teacher College Reading and Writing Project (TCRWP). Scaffolding adalah suatu metode yang digunakan dalam pembelajaran atau pelatihan dengan memberikan bantuan berdasarkan kesulitan yang dialami (Fuadiah, 2019. Muhonen et al. , 2016. Nuryana et al. , 2018. Sidik, 2. Ada empat tahapan utama program microcredential ini, meliputi: Tahap pra-pelatihan, pelatihan, refleksi, dan pengimbasan. Pra-Pelatihan Pra-Pelatihan program microcredential ini merupakan kegiatan yang diharapkan mampu mempersiapkan para peserta secara konseptual terkait literasi dan hal-hal teknis yang harus dipahami sebelum mengikuti pelatihan di Teacher College Reading and Writing Project (TCRWP). Columbia University. Berikut beberapa rangkaian kegiatan pra-pelatihan dapat dilihat melalui gambar 2. Penyamaan Persepsi Terkait Literasi Pengenalan Teacher College Reading and Writing Project (TCRWP) Diskusi: Peningkatan Pemahaman Prinsip Literasi Kontinum (Learning to Read dan Read to Lear. Diskusi: Memilih Mengembangkan Buku Ramah Cerna Beserta Tingkatannya Diskusi: Strategi Pembelajaran Literasi di Kelas Guru siap Gambar 2 Bagan Pra-Pelatihan Pada kegiatan pra-pelatihan diharapkan setiap peserta mampu berpikir replektif dan kritis dalam memaknai literasi sehingga diharapkan selama kegiatan pelatihan setiap peserta lebih aktif dan selektif dalam mencerna setiap informasi yang akan didapatkan selama program TCRW dilaksanakan dengan mempertimbangkan kontekstualisasi sistem pendidikan di Indonesia. Berikut gambaran pelaksanaan setiap rangkaian kegiatan pra-pelatihan Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 13840-13856 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 . Penyamaan Persepsi Terkait Literasi Pada kegiatan ini, setiap peserta diberikan pemahaman terkait konsepsi literasi sebenarnya yang tidak selalu mengidentifikasi literasi kemampuan berbahasa saja. Pada mulanya secara terminologi mengartikan literasi sebagai melek aksara yang berarti tidak buta huruf. Sehingga pada fase awal literasi selalu diidentikkan dengan kemampuan membaca saja. Pada fase selanjutnya pemaknaan literasi menjadi jauh lebih berkembang yang tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca saja, namun dimaknai sebagai kemampuan Calistung (Baca. Tulis. Hitun. sebagai bagian dari istilah konsep literasi dasar . asic literac. Akan tetapi, dinamika masyarakat dan kemajuan IPTEKS saat ini merekonstruksi pemahaman literasi yang tidak hanya dimaknai kemampuan membaca dan menulis saja. Oleh karena itu. International Literacy Asociation . mengidentifikasikan literasi sebagai kemampuan berpikir untuk memahami, menganalisis, berbagai teks untuk meningkatkan kecakapan berpikir untuk memenuhi kebutuhan hidup. Literasi dapat didefinisikan melalui tiga hal, diantaranya: Literasi adalah tentang penggunaan yang mana masyarakat menjadikannya sebagai sarana berkomunikasi dan berekspresi, melalui berbagai media . Literasi bersifat jamak, dipraktikkan dalam konteks tertentu untuk tujuan tertentu dan menggunakan bahasa tertentu . Literasi melibatkan kontinum pembelajaran yang diukur pada tingkat kemahiran yang (Cleovoulou & Beach, 2019. Wen & Shih, 2. Kontinum pembelajaran literasi dalam konteks program microcredential ini adalah bagaimana peserta memahami learn to read dan read to learn dengan memperhatikan aspek-aspek keterampilan membaca menurut Scallbourgh . Gambar 3. Delapan Aspek Keterampilan Membaca Salah satu poin penting dari delapan keterampilan yang menjadi fokus materi dalam pelatihan TCRWP adalah keterampilan terkait Print Concept atau pengetahuan tentang materi cetak. Setiap peserta akan dibimbing terkait pemilihan dan pemanfaatan buku sebagai langkah yang paling strategis dalam meningkatkan kemapuan literasi karena pada prosesnya, anak-anak . hususnya dalam usia pekembangan konkret perlu memaksimallkan sensor pada indera peraba dan penglihata. Segala pengetahuan terkait pemahaman literasi ini menjadi modal bagi para peserta dalam menjalankan pelatihan TCRWP. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 13840-13856 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 . Pengenalan Teacher College Reading and Writing Project (TCRWP) Pada kegiatan kedua pra-pelatihan setiap peserta dikenalkan dengan TCRWP dan mengenal lebih pendiri program TCRWP Columbia University. Lucy Calkins. TCRWP dibentuk pada tahun 1981. Lucy Calkins memilik latar belakang pendidikan S1 liberal art. S2 pada bidang pendidikan . erikut sertifikat pengaja. S3 (Pendidikan Bahasa Inggri. Calkins adalah seorang "konstruktivis," percaya bahwa anak-anak harus menghasilkan teks mereka sendiri, menggunakan materi dari kehidupan mereka sendiri. Keyakinannya pada ekspresi diri sebagai kunci pembelajaran meluas ke membaca: Auanakanak mengembangkan hasrat membaca ketika mereka diberi kebebasan untuk memilih buku yang bermakna bagi merekaAy. Anak-anak harus diberi AusuaraAy, didorong untuk menemukan dan menyempurnakan gaya penulisan pribadi mereka, saat mereka menyusun cerita yang penting. Untuk penumbuhan literasi anak Lucy Calkins menganjurkan guru secara rutin melakukan konferensi . egiatan literasi terbimbin. dengan anak tentang pengalaman menulis dan membaca mereka. Ide TCRWP didapat dari mentornya. Donald Graves . rogressive educato. Filosofi TCRWP adalah: mengadvokasi suara anak untuk mampu mengkonstruksi kemampuan proses literasi baca dan tulis. Berikut berbagai program TCRWP dapat dilihat melalui Gambar 4. Program TCRWP. Moto struktur Calkins TCRWP adalah simple and predictable . ederhana dan dapat Berikut contoh work . Minilesson: Guru menyampaikan materi secara eksplisit dan mendemonstrasikan . Independent Reading: Belajar mandiri . empraktikan yang sudah didemonstrasikan oleh gur. Conferences dan small group: kelompok kecil guru membimbing proses membaca siswa, menguatkan pendomenstrasian materi yang dilakukan di minilesson. Mid-workshop teaching point: Ketika ada kasus/karya siswa yang bagus contoh, guru menginterupsi sejenak ke kelas. Independent reading . Teaching share: Guru mengenalkan strategi yang berguna untuk penguatan. Partner share: kelompok kecil siswa membaca bersama . anpa mediasi langsung . Reading club: siswa mendiskusikan bacaan yang sama dalam kelompok kecil. Mendialogkan pemaknaan bacaan buku. Diskusi: Peningkatan Pemahaman Prinsip Literasi Kontinum (Learning to Read dan Read to Lear. Pada kegiatan selanjutnya setiap peserta diberikan gambaran mengenai literasi kontinum sebagai muatan penting dalam memahami konsep literasi secara komprehensif yang tidak memaknai literasi sebagai kemampuan yang berjenjang dengan didasarkan pada usia kronologis atau jenjang pendidikan. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 13840-13856 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 Literasi kontinum menyatakan bahwa literasi dipelajari sedini mungkin. Pada tahun 1971 Pemerintah Amerika menyampaikan AuA nation at RiskAy, yang pada tahun 1983 dipublikasikan dan Tahun 1985 diluncurkan AuBecoming a Nation of ReadersAy yang mengubah paradigma dari Reading menuju Literacy dengan pemahaman: Membaca bukan dimulai dari kelas awal saat anak mulai bisa membaca . Membaca dimulai sedini mungkin saat anak memahami interaksi dengan teks. (Goodman. Saat anak baru bisa mengucapkan dua atau tiga kata bukanlah sebuah kekurangan, ada begitu banyak kombinasi makna dalam kata tersebut. Literasi kontinum dapat dimaknai dalam dua hal yaitu Learning to read dan Reading to learn dengan pemaknaan seperti pada gambar 5. Pembelajaran literasi membangun kecakapan siswa dengan bahasa tertulis Karakteristik umum keterampilan literasi dasar adalah learn to red ditandai dengan baca lancar yakni cepat, akurat pemahaman, dan ekspresif Keterampilan ini merupakan pondasi siswa untuk cakap dalam pembelajaran literasi yang berfokus pada read to learn Gambar 5. Bagan Learning to read dan Reading to learn Berikut adalah perbedaan gambaran tahapan dalam literasi kontinum dan tahapan kesiapan membaca (Stages of Readin. terdapat dalam Gambar 6 . Gambar 6. Perbedaan Literasi Kontinum dan Kesiapan Membaca Pada prinsipnya kedua tahapan literasi ini dianggap sudah representatif dan digunakan oleh setiap pendidik dalam mengetahui perkembangan kemampuan literasi anak, namun literasi kontinum lebih menekankan pada pemahaman berliterasi yang tidak didasarkan pada hal-hal yang bersifat kategoris (Wen & Shih, 2008. Yunianika, 2. Sehingga kemampuan literasi dapat diajarkan pada semua jenjang dengan level yang lebih variatif. Diskusi: Memilih dan Mengembangkan Buku Ramah Cerna Beserta Tingkatannya Kurikulum literasi di tingkat dasar didesain bukan sekedar peserta didik menguasai teknik baca dan tulis . enal alfabet, mengeja, lancar baca, menulis sederhan. Yang lebih menantang adalah pembelajaran literasi untuk membangun kemampuan peserta didik untuk memaknai, berpikir, dan bernalar dalam berbahasa, terutama bahasa tulisan . ritten tex. , yang disebut membaca untuk memahami . eading comprehensio. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 13840-13856 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 Inti dari pembelajaran literasi adalah membangun keterampilan peserta didik dengan bahasa tulis dan wacananya (Tek. Secara definitif teks diartikan sebagai objek yang digunakan untuk mempelajari bahasa tulisan termasuk wacananya . ritten language Oleh karena itu, teks adalah sentral atau inti dalam pembelajaran literasi baca dan tulis. Adapun dalam konteks literasi yang dimaksud teks adalah buku atau bahan Oleh karena itu, dalam menguatkan kemampuan literasi anak, sedianya seorang guru di jenjang pendidikan dasar mampu memilah dan mengembangkan buku ramah cerna beserta tingkatannya (Sylyn et al. , 2009. Wen & Shih, 2. Seyogyanya bahan bacaan yang disusun atau dipilih guru harus dapat mendorong pembaca pemula menerapkan pengetahuan mereka yang masih terbangun tentang cara kerja sistem alfabet . Teks yang dapat diurai diurutkan, seperti dalam Bahasa Inggris menggabungkan kata-kata yang terdiri dari pola huruf-bunyi . isalnya, huruf p mewakili bunyi /p/) dan bunyi ejaan . isalnya, pola igh mewakili bunyi i panjang, seperti pada kata-kata light, bright, nigh. berkorespondensi dengan kata-kata penglihatan . ight word. yang sering digunakan . igh frequency word. Prof. Jane Chall merupakan salah satu tokoh penting dalam mengidentifikasi penjejangan buku yang didasarkan pada tahap perkembangan pembaca, berikut . Tahap 0. Pra-membaca: Lahir hingga Usia 6 tahun. Sejak lahir hingga awal pendidikan formal, anak-anak yang hidup dalam budaya literasi dengan sistem penulisan abjad mengakumulasi modal pengetahuan . ultural capita. tentang huruf, kata, dan buku. Anak-anak mulai punya wawasan tentang sifat kata-kata: bahwa beberapa terdengar sama pada akhir atau awalnya, bahwa kata dapat dipecah menjadi beberapa bagian, dan bahwa bagian-bagian itu dapat disatukan . isintesis, dicampu. untuk membentuk seluruh kata. Dalam tahapan iin dianggap belum ada pola untuk penjenjangan buku . Tahap 1. Baca Awal, atau Decoding. Tahap: Kelas 1-2. Usia 6-7 tahun Aspek penting dari Tahap 1 adalah mempelajari rangkaian huruf yang berubahubah dan mencocokan bagian yang sesuai pengucapannya. Pada tahap ini, anak-anak menginternalisasi pengetahuan kognitif tentang membaca, e. , fungsi huruf. Tahap ini juga disebut "guessing and memory game" atau "barking at print. " Siswa mulai memilki pemahaman tentang sistem ejaan dalam bahasa. Pada tahap penjenjangan sudah mulai berlaku dan seterusnya. Tahap 2. Membaca untuk Mempelajari Yang Baru: Langkah Pertama (SD Kelas Tingg. Di tahap ini siswa mulai masuk ke gerbang membaca untuk "mempelajari hal baru" pengetahuan, informasi, pemikiran, dan pengalaman baru. Karena keterbatasan pengetahuan, kosa kata, dan kemampuan kognitif siswa yang masih terbatas, disarankan kegiatan membaca dengan bahan dan tujuan yang jelas . , satu sudut pandang, dan teks yang tidak terlalu rumit. Berbeda dengan tahap selanjutnya yang mana keragaman perspektif, bahasa dan ide yang kompleksitas, serta cara menginterpretasi yang lebih halus . Tahap 3. Berbagai Sudut Pandang: Sekolah Menengah Atas. Usia 14Ai18 tahun. Keragaman sudut pandang adalah kunci utama kemampuan membaca di tahap ini, bobot dan kompleksitas adalah kekhasan bacaan di tahap ini. Kekayaan sudut pandang yang beragam semakin mengemuka. Pada tahap ini membaca pada dasarknya mungkin melibatkan kemampuan untuk menangani lapisan fakta dan konseo yang telah diperoleh sebelumnya. Tahap 4. Konstruksi dan RekonstruksiAiPandangan Dunia: Perguruan Tinggi. Usia 18 Tahun ke Atas. Di tahap ini, siswa sudah terlatih belajar membaca buku dan tulisan dengan detail, utuh, dan lengkap sesuai dengan kebutuhan yang ingin dicapai dari kegiatan membaca. Siswa tahu apa yang perlu dibaca dan yang tidak perlu disesuiakan dengan Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 13840-13856 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 Mereka sangat selektif memilih bahan bacaan informasi dan pengetahuan yang sedang disukai di bidang-bidang pengetahuan yang menjadi perhatian seseorang. Namun kecakapan ini tidak otomatis tercapai, jika di tahapantahapan sebelumnya siswa tidak mendapatkan kesempatan belajar literasi dengan baik. Diskusi: Strategi Pembelajaran Literasi di Kelas Pada kegiatan pra pelatihan kelima, setiap peserta dibekali gambaran strategis pembelajaran literasi di kelas. Berikut adalah hal-hal yang paling fundamental dalam menerapkan strategi pembelajaran literasi (Fahmi et al. , 2020. Sari, 2. , diantaranya: Pembelajar membutuhkan guru yang mampu mendemonstrasikan bagaimana manfaat keliteratan dalam kehidupan dan memiliki kecintaan terhadap membaca . Pembelajar perlu waktu untuk membaca . Pembelajar membutuhkan kesempatan untuk membaca literasi tinggi dan bisa memilih bacaan sesuai minatnya . Pembelajar membutuhkan kejelasan instruksi untuk membaca lanjut . Pembelajar membutuhkan kesempatan untuk bicara dan menulis sebagai respon terhadap hal yang telah mereka baca . Pembelajar membutuhkan penilaian dan feedback untuk dapat mengembangkan kemampuan membaca mereka . Pembelajar membutuhkan guru yang bisa membaca nyaring . Pembelajar membutuhkan pendekatan seimbang antara seni bahasa, yang dapat mendukung untuk kemampuan membaca dan menulis Pelatihan TCRWP Berdasarkan hasil kegiatan Teacher College Reading and Writing Project (TCRWP) terdapat enam ide besar yang dipelajari tentang menulis dan tentang membaca adalah alat untuk mendukung dalam proses membaca, berpindah ke buku catatan, berkembang dan berubah, bersifat pribadi dan pentingnya pilihan, pengajaran nyata, umpan balik dan menilai diri sendiri. Ide besar pertama yaitu menulis tentang membaca adalah alat untuk mendukung dalam membaca, bukan untuk merubah membaca selama berlangsung workshop Ide besar kedua yaitu menulis tentang membaca memungkinkan berpindah ke buku catatan ketika siswa membaca teks dan melampaui bentuk tulisan tentang Ide besar ke tiga yaitu menulis tentang membaca tumbuh dan berubah keseluruh buku, keseluruh teks, keseluruh unit, di sepanjang tahun. Ide besar ke empat yaitu menulis tentang membaca sering bersifat pribadi dan pilihan adalah yang penting. Ide besar ke lima yaitu menulis tentang membaca membutuhkan pengajaran secara Ide besar ke enam yaitu menulis tentang membaca membutuhkan umpan balik dan membutuhkan membaca untuk menilai diri sendiri Gambar 7. Big Ideas About Writting About Reading Menulis tentang membaca tumbuh dan berubah ke seluruh buku, pada awalnya merupakan pemikiran yang terpecah-pecah dan masih tentatif, kemudian terfokus pada Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 13840-13856 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 garis pemikiran dapat ditambahkan dan diperbaiki dalam proses pemiliran tersebut sehingga pada akhirnya memantapkan ide dan membuat klaim dan menemukan Ketika suatu buku dibaca, maka pembaca akan mengubah tulisan mereka tentang apa yang mereka baca dengan cara memberi keterangan dan membuat catatan pada saat membaca. Pembaca menyusun struktur untuk berfikir lintas halaman dan sepanjang waktu serta kembali membaca, memikirkan kembali, menyatukan ide untuk dibagikan dengan orang lain dan memperdalam pemikirannya. Bagaimana mungkin penulis memiliki penafsiran tentang membaca akan tumbuh dan berubah pada keseluruhan unit yaitu untuk memikikan secara mendalam tentang karakter, untuk menyelidiki pengaruh latar pada karakter dan untuk menyelidiki tema dari bacaan tersebut. Pada repertoire Read A Loud, untuk mengerti sebuah cerita, pembaca memberikan perhatian pada karekter seperti ancaman yang terjadi, motivasi, hubungan dan pelajaran yang dapat diperoleh. Kemudian juga dilihat dari bagaimana suatu kejadian yang terjadi nanti dapat dihubungkan dengan kejadian sebelumnya. Bagaimana situasi dapat mempengaruhi karakter, mengapa suatu objek disoroti apakah objek tersebut adalah ditujukan untuk sesuatu. Alat yang dipergunakan dalam poin pengajaran adalah AuApa?. Bagaimana?. Mengapa?, dan Kapan?Ay. Pertama. AuApa?Ay dimaksudkan untuk dapat memberikan perhatian kepada perspektif karakter yang berbeda-beda terhadap suatu masalah. Kedua. AuBagaimana?Ay aksi, reaksi dan kata-kata, bagaiamana masing-masing pembaca berfikir tentang masalah yang terjadi,bagaimana dapat diketahui tentang identitas atau latar belakang dari bacaan tersebut. Ketiga. AuMengapa?Ay karena belajar untuk melihat sesuatu dengan banyak perspektif adalah bagian yang baik, serta keempat. AuKapan?Ay untuk dapat mengetahui konflik yang terjadi. Proses dari menulis adalah dimulai dengan Latihan menulis, membuat draf secara cepat, membuat revisi, merubah dan menghasilkan suatu tulisan Gambar 8. The Writting Process Strategi yang dapat dilakukan dalam merespon teks antara lain joting . , anotating . embubuhkan keteranga. dan membuat literary essay untuk mendukung pemahaman membaca anak khususnya pada kelas tinggi yang dapat dikemas dalam sebuah kegiatan workshop membaca. Membuat kelompok kecil dalam workshop membaca dan menulis. Adanya kelompok kecil pada saat melaksanakan workshop membaca dan menulis adalah untuk mengembangkan keterampilan anak secara mandiri. Tulisan biasanya memberikan gambaran kepada anak akan suatu kalimat yang baru diketahui sehingga guru diharapkan dapat mendemostrasikan kegiatan secara lebih efektif sehingga anak-anak paham bagaimana mengaitkan ataupun membuat koneksi antara apa yang ada pada fikiran mereka dan apa yang mereka temukan dalam bacaan. Jurnal Pendidikan Tambusai Halaman 13840-13856 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Refleksi Kegiatan refleksi dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai hal yang dirasakan, didapatkan, dan diharapkan dapat diimbaskan seperti: . peserta distimulasi untuk dapat menyampaikan berbagai hambatan yang dirasakan selama proses pelatihan. peserta diharapkan mampu mencatat berbagai informasi baru terkait dengan konsep yang mumungkinkan dapat diimplementasikan di Indonesia. peserta diharapkan dapat mengkonseptualisasi dan mengkontekstualisasi pada penyusunan RTL (Rencana Tindak Lanju. Berikut terdapat empat aspek dalam kegiatan refleksi yang dirasakan oleh sebagian peserta dapat dilihat melalui Tabel 2. Tabel 2. Hasil Refleksi Aspek Konten Konteks Kemampuan Komunikasi Waktu Pelaksanaan Gambaran Replektif Peserta menyatakan materi-materi yang dijelaskan selama mengikuti Teacher College Reading and Writing Project (TCRWP) memiliki nilai novelty . dan beberapa diantaranya belum pernah diaplikasikan di Indonesia, seperti pengembangan mini lesson yang belum banyak dilakukan oleh guru-guru di Indonesia. Namun, banyak juga peserta yang mengakui cukup kesulitan dalam penguasaan bahasa Inggris yang cenderung lebih Aunative speakerAy. Sehingga beberapa peserta menyatakan mengalami loss learning dalam beberapa poin. Banyak peserta yang mengakui bahwa beberapa materi yang dibahas lebih ditinjau dalam kontekstualisasi pola pembelajaran di Amerika dan setiap peserta harus lebih selektif dalam menentukan informasi yang memungkinkan dapat dikontekstualisasikan dalam pembelajaran literasi di Indonesia. Peserta yang mengikuti kegiatan abdimas ini merupakan peserta terpilih dari seluruh provinsi di Indonesia. Namun dalam praktiknya, beberapa peserta mengalami kesulitan dan mendapatkan hambatan dalam berkomunikasi serta berinteraksi dengan peserta lainnya. Apalagi sebagian peserta berasal dari benua Amerika dengan aksen dan cara berkomunikasi yang jauh lebih kompleks sehingga menimbulkan pemaknaan yang lebih multi interpretasi. Namun demikian, hal ini dapat dimaklumi karena program pelatihan hanya dilakukan selama 3 kali sehingga beberapa peserta mengalami culture shock dan perlu proses adaptasi dengan budaya akademik selama mengikuti pelatihan TCRWP. Apalagi waktu pelaksanaan pelatihan TCRWP memiliki perbedaan waktu yang sangat jauh antara Waktu Indonesia Barat (WIB) dan Waktu Amerika Serikat dengan selisih waktu Indonesia 15 jam lebih awal dari waktu Perbedaan waktu pelaksanaan TCRWP antara Waktu Indonesia dan USA yang terpaut 15 jam menyebabkan pelaksanaan pelatihan TCRWP di Indonesia dilakukan pada Hal ini mengubah waktu kerja dan waktu tidur setiap peserta. Beberapa peserta menyatakan mengalami lost learning karena tidak kuat menahan rasa Beberapa peserta juga mengakui kesulitan dalam Jurnal Pendidikan Tambusai Halaman 13840-13856 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. beradaptasi mengubah pola tidur dan pola istirahat sehingga berimplikasi terhadap kondisi fisik dan kesiapan belajar para peserta selama mengikuti pelatihan TCRWP Pengimbasan atau Rencana Tindak Lanjut (RPL) Pada kegiatan ini setiap peserta diharapkan untuk dapat membuat pengimbasan atau Rencana Tindak Lanjut (RTL) dari hasil pelatihan TCRWP yang telah dilaksanakan. RTL yang disusun diharapkan mampu memberikan dampak terhadap banyaknya guru yang tergerak untuk melakukan aktivitas-aktivitas peningkatan literasi dalam program TCRWP dalam kontekstualisasi pola pembelajaran di Indonesia. Salah satu kegiatan yang diharapkan mampu dipraktikkan dalam kegiatan RTL ini adalah Aumini lessonAy yang digambarkan melalui pandangan Calkins. Analisis SWOT Berdasarkan gambaran deskriptif terkait tahapan utama program microcredential, meliputi: Tahap pra-pelatihan, pelatihan, refleksi, dan pengimbasan dalam upaya mendukung Perdirjen Nomor 0340/B/HK. 03/2022 yang telah dilakukan, berikut hasil analisis SWOT sebagai upaya replektif dalam mengembangkan dan meningkatkan program literasi Dirjen GTK Dikdas. Tabel 3. Analisis SWOT Analisis SWOT Strengths Weaknesses Opportunities Threats Hasil Analisis Program microcredential memberikan perspektif baru kepada guru dalam mengembangkan kreasi dan inovasi guru melakukan pembelajaran literasi di sekolah. Program TCRWP ini memiliki nilai novelti . bagi para peserta seperti pengembangan mini lesson yang belum banyak dilakukan oleh guru-guru di Indonesia. Oleh karena itu, para peserta diharapkan lebih selektif dalam menginventarisasi berbagai program TCRWP yang lebih adaptif yang dapat diaplikasikan di Sekolah masingmasing. Program TCRWP ini mendapatkan dukungan finansial dari LPDP RI Terjadi kesalahan dalam pemahaman bagi beberapa guru yang mengalami kesulitan berinteraksi dalam menggunakan Bahasa Inggris. Program ini menjadi sarana untuk memahami konteks literasi secara lebih komprehensif mengingat TCRWP ini merupakan salah satu lembaga rujukan literasi di dunia. Program TCRWP menjadi celah untuk memantik Gerakan Literasi Nasional di Indonesia dan berpeluang terhadap pengembangan program literasi di Indonesia yang lebih inovatif dengan dasar hukum Perdirjen Nomor 0340/B/HK. 03/2022 Materi yang diberikan dalam program TCRWP yang lebih ditinjau dalam kontekstualisasi pola pembelajaran literasi di Amerika, sehingga setiap guru perlu mereduksi materi yang didapatkan sesuai dengan konteks pembelajaran literasi di Indonesia. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 13840-13856 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 Berdasarkan hasil analisis SWOT yang telah disusun, ada beberapa rekomendasi yang perlu diakomodir Dirjen GTK Dikdas terkait hasil refleksi program Microcredential TCRWP yang telah dilakukan, diantaranya: Hasil program TCRWP ini perlu didesiminasikan dalam kegiatan ilmiah seperti workshop, webinar, dan beberapa program lainnya agar kebermanfaatan program dapat dirasakan oleh seluruh guru PAUD dan SD di Indonesia Hasil program ini menjadi referensi dalam mengembangkan pedoman maupun modul literasi berbasis TCRWP dengan kontekstualisasi pembelajaran di Indonesia Hasil program TCRWP menjadi cikal bakal pengembangan program literasi lainnya yang lebih mengedepankan konsep literasi secara global namun tetap mengedepankan kontekstualiasai literasi di Indonesia. Program TCRWP diharapkan dapat dilakukan dan ditindaklanjuti pada angkatan kedua dan angkatan berikutnya. SIMPULAN Program Teacher College Reading and Writing Project (TCRWP) merupakan program yang dianggap relevan dengan pengembangan program lilterasi pada jenjang Pendidikan Dasar di Indonesia sehingga dianggap merepresentasikan Peraturan Direktorat Jendral (Perdirje. Nomor 0340/B/HK. 03/2022 tentang Kerangka Kompetensi Literasi dan Numerasi Bagi Guru SD. Setiap peserta merasakan kebermanfaatan dari program asistensi yang telah dilakukan, diantaranya: . meningkatan pemahaman prinsip literasi kontinum secara konseptual sebagai polarisasi pembelajaran literasi yang representatif dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini. mampu memilih dan mengembangkan buku ramah cerna beserta tingkatannya. mampu menyusun pengembangan strategi pembelajaran literasi yang lebih kontekstual sesuai kebutuhan anak. Pada praktinya, para peserta mengalami berbagai pengalaman konstruktif dan menghadapi beberapa hambatan berkaitan dengan konten, konteks, kemampuan komunikasi, dan waktu pelaksanaan. Banyak peserta yang merasakan bahwa program Teacher College Reading and Writing Project (TCRWP) memiliki nilai novelty . dan beberapa diantaranya belum pernah diaplikasikan di Indonesia, seperti pengembangan mini lesson yang belum banyak dilakukan oleh guru-guru di Indonesia. Hasil penelitian ini diharapkan mampu berimplikasi terhadap peningkatan pengembangan program literasi di satuan pendidikan pada setiap jenjang terutama di jenjang pendidikan dasar secara kuantitas maupun kualitas. Program ini dianggap benar-benar merepresentasikan upaya kongkret implementasi (Perdirje. Nomor 0340/B/HK. 03/2022 tentang Kerangka Kompetensi Literasi dan Numerasi Bagi Guru SD dan menjadi cikal bakal pengembangan program penguatan Gerakan Literasi Nasional (GLN) lainnya yang diinisiasi oleh Dirjen GTK Dikdas. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu lancarnya penulisan artikel ilmiah ini, khususnya kepada pihak Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Riset dan Teknologi Indonesia, pihak Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, dan pihak-pihak lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu. DAFTAR PUSTAKA