Pewarisan Iman dari Ibu: Peran Ibu dalam Membangun Fondasi Iman Anak menurut 2 Timotius 1:3-8 Raulina* Kristopel Cordiyas Domini Aritonang 1 2 Sekolah Tinggi Teologi HKBP Pematangsiantar Email koresponden: raulina@stt-hkbp. Submit: 15-11-2025 Review: 13, 18-12-2025 Direvisi: 03-01-2026 Diterbitkan: 10-04-2026 Keywords: Mother. Community Service. Faith Inheritance. HKBP Theological Seminary Pematangsiantar, 2 Timothy 1:3-8 Kata Kunci: Ibu. Pengabdian kepada Masyarakat. Pewarisan Iman. STT HKBP Pematangsiantar, 2 Timotius 1:3-8 p: ISSN: 2723-7036 e-ISSN: 2723-7028 A 2026. The Authors. License: Open Journals Publishing. This work is licensed under the Creative Commons Attribution License. https://jurnal. id/index. php/pkm/index Abstract The Community Service Program (PkM) at STT HKBP Pematangsiantar embodies the Tridharma of Higher Education by integrating theological scholarship with social engagement. Centered on the theme AuThe Inheritance of Faith from Mothers . Timothy 1:3Ae. Ay, the program affirms the strategic role of mothers as transmitters of authentic faith within Christian families. Program activities included spiritual formation, structured group discussions, and student mentorship, with students serving as facilitators at HKBP Jati Karya. Resort Tandam District XXi Binjai Langkat. Program impact was evaluated using a qualitativereflective approach through in-depth interviews, participatory observation, and narrative analysis of participantsAo spiritual experiences. The findings indicate increased maternal awareness of spiritual responsibility in faith education, strengthened family devotional practices through more frequent collective worship, and a shift in theological understanding of faith inheritance from ritual observance to lived Exegetical analysis of 2 Timothy 1:3Ae8 confirms an intergenerational model of faith transmission exemplified by Lois and Eunice as a paradigm for contextual faith formation. Overall, the program contributes to practical theology by offering a biblical narrative-based formation model relevant to contemporary congregational contexts, while providing students with meaningful pedagogical experience in research-based ministry. Abstrak Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di STT HKBP Pematangsiantar merupakan implementasi Tridharma Perguruan Tinggi yang mengintegrasikan pengetahuan teologis dengan pelayanan Program ini mengangkat tema "Pewarisan Iman dari Ibu . Timotius 1:3-. " untuk menegaskan peran strategis ibu sebagai pewaris iman autentik dalam keluarga Kristen. Metode pelaksanaan mencakup pembinaan rohani, diskusi kelompok terstruktur, dan pendampingan mahasiswa sebagai fasilitator di HKBP Jati Karya. Resort Tandam Distrik XXi Binjai Langkat. Evaluasi dampak dilakukan melalui pendekatan kualitatif-reflektif dengan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis naratif terhadap pengalaman spiritual peserta. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kesadaran kaum ibu terhadap tanggung jawab spiritual mereka dalam mendidik anak, penguatan praktik devosi keluarga melalui peningkatan frekuensi ibadah bersama, dan transformasi pemahaman teologis tentang pewarisan iman dari sekadar ritual menjadi keteladanan hidup. Analisis eksegesis 2 Timotius 1:3-8 mengonfirmasi model pewarisan iman lintas-generasi melalui figur Lois dan Eunike sebagai paradigma pembinaan iman kontekstual. Program ini berkontribusi pada pengembangan teologi praktis dengan menghasilkan model pembinaan Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 berbasis narasi alkitabiah yang relevan bagi konteks jemaat kontemporer, sekaligus memberikan mahasiswa pengalaman pedagogis dalam pelayanan berbasis riset. Studi ini memperkuat komitmen STT HKBP Pematangsiantar dalam membina keluarga Kristen melalui pendekatan integratif antara refleksi teologis, praksis pelayanan, dan evaluasi akademis. PENDAHULUAN Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) merupakan salah satu pilar penting dari Tridharma Perguruan Tinggi yang dilaksanakan di Sekolah Tinggi Teologi HKBP (STT HKBP) Pematangsiantar. Program ini berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan dunia akademis dengan realitas masyarakat, memberikan kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan pengetahuan teologis mereka dalam konteks pelayanan nyata. STT HKBP Pematangsiantar menunjukkan komitmen mendalam terhadap pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi Pengajaran. Penelitian, dan Pengabdian yang diwujudkan melalui layanan sosial, penguatan rohani, penyuluhan, serta pemberdayaan komunitas yang bertujuan meningkatkan moral dan spiritual masyarakat serta memberi mahasiswa pengalaman praktis (Raulina 2025, . Melalui PkM, mahasiswa tidak hanya memperdalam pemahaman mereka tentang makna pelayanan langsung, tetapi juga menumbuhkan rasa solidaritas dan kekompakan di antara sesama mahasiswa dalam kelompok Dosen Pembimbing Akademik (DPA), sekaligus mengembangkan keterampilan berkomunikasi dan melayani masyarakat secara efektif. Dalam konteks keluarga Kristen kontemporer, pewarisan iman menghadapi tantangan kompleks akibat perubahan sosial, tuntutan ekonomi, dan pengaruh sekularisasi (Susanta 2019, . Keluarga adalah tempat pendidikan pertama bagi anak (Hastuti 2013, . Keluarga juga merupakan gereja mini tempat pewarisan iman dapat bertumbuh (Antak and Beriang 2025, . Keluarga juga turut dikenal sebagai lembaga yang pertama kali membentuk kesalehan hidup seorang anak (Nampar 2018, . Namun era digital dan modernisasi telah menggeser pola komunikasi dan interaksi dalam keluarga, sehingga peran tradisional orang tua, khususnya ibu sebagai pewaris iman primer mengalami redefinisi yang signifikan. Melalui tema "Pewarisan Iman dari ibu di Tengah Keluarga", kegiatan PkM menekankan bahwa peran ibu adalah pusat dalam membangun fondasi iman dan nilainilai spiritual keluarga. Ibu menjadi teladan dalam membagikan kasih, doa, dan pengajaran iman kepada anak-anak, sehingga keutuhan rumah tangga terpelihara dalam penerimaan serta penguatan iman yang berkelanjutan (Layuk 2024, . Namun, di era modern ini, peran tersebut sering menghadapi tantangan signifikan. Perubahan sosial dan tuntutan ekonomi mendorong ibu untuk menghadapi tantangan ganda: tetap menjaga warisan iman sambil menyesuaikan diri dengan dinamika zaman. Banyak ibu menghadapi dilema antara memenuhi tuntutan peran domestik dan profesional (Sinaga and Purba 2025, . , yang sering kali berdampak pada berkurangnya intensitas pembinaan iman anak di rumah. Dalam konteks tersebut, ibu perlu bijaksana mengelola Pewarisan Iman dari Ibu A (Raulina. Kristopel Cordiyas Domini Aritonan. tanggung jawabnya agar tidak mengorbankan tugas mendidik iman keluarga. Fenomena ini menimbulkan keprihatinan akan melemahnya fondasi spiritual generasi muda, yang berpotensi mengancam keberlangsungan iman Kristen dalam keluarga. Berdasarkan konteks tersebut, program PkM ini mengangkat tema "Pewarisan Iman dari ibu . Timotius 1:3-. " yang dilaksanakan di HKBP Jati Karya. Resort Tandam Distrik XXi Binjai Langkat. Pemilihan tema ini didasarkan pada narasi alkitabiah tentang Timotius yang menerima warisan iman tulus dari neneknya Lois dan ibunya Eunike, yang menjadi paradigma teologis tentang peran sentral perempuan dalam transmisi iman lintas-generasi. Tema ini dipilih dengan tujuan menanamkan pemahaman yang lebih mendalam tentang peran sentral ibu sebagai pewaris iman di tengah keluarga, yang melampaui pemahaman ritual semata. Kegiatan ini melibatkan pembinaan rohani, diskusi kelompok terstruktur, dan pendampingan mahasiswa sebagai fasilitator, yang bertujuan untuk mendorong mahasiswa dan masyarakat, khususnya para ibu jemaat, untuk menghayati aspek spiritual secara lebih autentik, sekaligus menginspirasi mereka untuk mewujudkan iman dalam bentuk aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari melalui keteladanan hidup, doa, dan kasih yang nyata. Tujuan dari kegiatan ini adalah menilai peran dan tanggung jawab ibu dalam membangun keluarga yang kuat, harmonis, dan berlandaskan nilai-nilai keagamaan. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman para ibu tentang pewarisan iman berdasarkan 2 Timotius 1:3-8, tetapi juga menginspirasi kaum ibu untuk lebih peduli terhadap penguatan peran keluarga sebagai fondasi utama dalam kehidupan Untuk memastikan dampak jangka panjang dari program ini. PkM juga melibatkan komponen penelitian yang menganalisis pemahaman jemaat dan dampak program terhadap spiritualitas jemaat. Hasil penelitian ini tidak hanya bermanfaat sebagai bahan evaluasi program, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan pemahaman teologis tentang pewarisan iman dalam konteks lokal, serta memberikan dampak positif bagi para ibu yang berpartisipasi dalam memperkuat peran mereka sebagai pewaris iman dalam keluarga Kristen. METODE PELAKSANAAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain reflektif-partisipatoris berbasis studi kasus program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Metode ini dipilih untuk memahami secara mendalam pengalaman spiritual kaum ibu dalam konteks pewarisan iman, serta mengevaluasi dampak program pembinaan terhadap transformasi pemahaman dan praktik keagamaan mereka. Desain reflektifpartisipatoris memungkinkan peneliti dan mahasiswa tidak hanya sebagai pengamat, tetapi juga sebagai fasilitator aktif yang terlibat langsung dalam proses pembinaan, sehingga dapat menangkap dinamika perubahan spiritual secara kontekstual dan Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 Subjek penelitian adalah kaum ibu jemaat HKBP Jati Karya. Resort Tandam Distrik XXi Binjai Langkat. Pemilihan subjek didasarkan pada peran strategis ibu sebagai pewaris iman utama dalam keluarga Kristen. Selain itu, penelitian juga melibatkan mahasiswa STT HKBP Pematangsiantar sebagai fasilitator dan pelayan, serta pengurus jemaat sebagai informan pendukung untuk memberikan perspektif mengenai dinamika spiritualitas jemaat sebelum dan sesudah program dilaksanakan. Teknik Pengumpulan Data Observasi Partisipatif: Peneliti dan mahasiswa mengamati secara langsung keterlibatan kaum ibu dalam setiap rangkaian kegiatan, mencatat pola interaksi, respons spiritual, serta perubahan sikap dan pemahaman selama proses pembinaan berlangsung. Wawancara Mendalam (In-depth Intervie. : Wawancara semi-terstruktur dilakukan terhadap informan kunci . bu jemaat yang aktif berpartisipas. untuk menggali pemahaman mereka tentang pewarisan iman, tantangan yang dihadapi dalam mendidik anak, serta dampak program terhadap kesadaran spiritual dan praktik keagamaan di rumah. Diskusi Kelompok Terarah (Focus Group Discussio. : Dilaksanakan dalam beberapa sesi dengan kelompok ibu yang dibagi berdasarkan usia anak . alita, usia sekolah, remaj. untuk mendorong sharing pengalaman dan refleksi kolektif tentang praktik pewarisan iman dalam konteks kehidupan sehari-hari. Refleksi Tertulis: Para ibu diminta menuliskan refleksi personal mengenai pemahaman baru yang diperoleh dari pembinaan, serta komitmen konkret yang akan dilakukan untuk memperkuat peran mereka sebagai pewaris iman dalam Dokumentasi: Mengumpulkan foto, video, dan catatan lapangan selama kegiatan berlangsung sebagai data pendukung untuk analisis triangulasi. Prosedur Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan PkM ini disusun untuk menjawab kebutuhan jemaat, terutama para ibu, agar semakin sadar akan panggilannya sebagai penanam benih iman di hati anak-anak dan keluarganya. Melalui kegiatan ini, kaum ibu dibimbing untuk memahami bahwa iman yang hidup tidak hanya diajarkan lewat kata-kata, tetapi diwariskan melalui teladan hidup, doa, dan kasih yang nyata di tengah keluarga. Mahasiswa turut ambil bagian sebagai pendamping dan fasilitator, membantu menyediakan materi pembinaan serta mendukung pelaksanaan (Robinson 2001, . Kegiatan secara menyeluruh. Program dilaksanakan selama akhir pekan dengan lima rangkaian kegiatan yang terintegrasi: Pembinaan kepada Kaum Ibu Kegiatan inti dengan materi eksegesis 2 Timotius 1:3-8 tentang peran Lois dan Eunike dalam pewarisan iman kepada Timotius. Tujuan: meningkatkan pemahaman Pewarisan Iman dari Ibu A (Raulina. Kristopel Cordiyas Domini Aritonan. teologis kaum ibu tentang model pewarisan iman alkitabiah dan relevansinya dalam konteks keluarga modern. Indikator capaian: peserta mampu mengidentifikasi prinsipprinsip pewarisan iman dan merumuskan strategi implementasi dalam keluarga masingmasing. Metode: ceramah interaktif, diskusi kelompok kecil, dan sesi tanya jawab. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif dan refleksi tertulis. Pelayanan Sekolah Minggu Mahasiswa mengajar dan melayani anak-anak Sekolah Minggu dengan mengaplikasikan metode pedagogi kreatif . torytelling, musik, alat perag. Tujuan: memberikan mahasiswa pengalaman praktis dalam pelayanan anak sekaligus mengobservasi pola pendidikan iman yang sudah berjalan di jemaat. Indikator capaian: mahasiswa mampu menerapkan metode pengajaran yang efektif dan mengidentifikasi kebutuhan pembinaan iman anak. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara informal dengan guru Sekolah Minggu. Ibadah dan Keakraban Remaja Naposo Bulung Kegiatan mencakup ibadah remaja dan kegiatan fellowship. Tujuan: memahami dinamika spiritualitas generasi muda sebagai konteks penting dalam pewarisan iman dari ibu, serta membangun relasi intergenerasi antara mahasiswa, remaja, dan orang tua. Indikator capaian: teridentifikasinya kebutuhan spiritual remaja dan peran ibu dalam mendampingi iman mereka. Data dikumpulkan melalui observasi dan diskusi informal. Ramah Tamah dengan Keluarga Parhalado (Pelayan Jemaa. Tujuan: membangun relasi personal antara tim PkM dengan pengurus jemaat, serta menggali informasi kontekstual tentang kondisi spiritualitas jemaat dan tantangan pewarisan iman yang dihadapi keluarga-keluarga di HKBP Jati Karya. Indikator capaian: diperolehnya data kontekstual tentang praktik pewarisan iman di jemaat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pengurus jemaat. Ibadah Minggu dan Pelayanan Musik Mahasiswa turut melayani sebagai pemain musik dalam ibadah umum. Tujuan: mengintegrasikan mahasiswa dalam kehidupan liturgis jemaat dan mengobservasi dinamika ibadah keluarga dalam konteks komunal. Indikator capaian: mahasiswa memperoleh pemahaman holistik tentang kehidupan spiritual jemaat. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif. Indikator Keberhasilan Program Keberhasilan program diukur melalui empat indikator utama: Peningkatan pemahaman teologis kaum ibu tentang pewarisan iman, yang ditunjukkan melalui kemampuan mengartikulasikan konsep iman autentik dan keteladanan hidup dalam refleksi tertulis. Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 . Transformasi praktik spiritual keluarga, yang terlihat dari komitmen konkret untuk meningkatkan frekuensi ibadah keluarga, doa bersama, dan pendampingan pembacaan Alkitab anak. Perubahan kesadaran akan tanggung jawab spiritual sebagai ibu, yang diidentifikasi melalui pernyataan reflektif dalam wawancara. Kontribusi terhadap pengembangan kompetensi pelayanan mahasiswa, yang dievaluasi melalui laporan refleksi mahasiswa tentang pengalaman praktis dan pembelajaran yang diperoleh. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di STT HKBP Pematangsiantar mencerminkan kesungguhan institusi ini dalam menghadirkan dampak yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya jemaat gereja. Melalui kegiatan PkM, mahasiswa diberi kesempatan untuk menerapkan ilmu teologi dan keterampilan pelayanan yang diperoleh selama masa studi ke dalam praktik nyata di lapangan. Pendekatan ini selaras dengan semangat Tridharma, yaitu menjembatani teori dan praktik pelayanan, agar mahasiswa tidak hanya memahami iman secara konseptual tetapi juga menghidupi dan mewariskannya melalui tindakan kasih dan pelayanan (Raulina and Sitorus 2025, 303-. Program PkM di HKBP Jati Karya menunjukkan penerapan model pembelajaran berbasis pengalaman . xperiential learnin. Mahasiswa bersama dosen terjun langsung mendampingi kaum ibu dalam kegiatan pembinaan iman bertema "Pewarisan Iman dari Ibu . Timotius 1:3Ae. " Melalui kegiatan ini, mahasiswa belajar memahami tantangan nyata dalam pelayanan keluarga Kristen dan menolong jemaat, khususnya kaum ibu, untuk meneladani peran Eunike dan Lois, dua sosok yang menanamkan iman sejati kepada Timotius melalui ketekunan, kasih, dan teladan hidup (Barclay 2001, . Selain memperkuat dimensi pendidikan, kegiatan PkM ini juga menjadi bagian dari penelitian dan pengembangan teologi praktis. STT HKBP Pematangsiantar mendorong dosen dan mahasiswa untuk meneliti kebutuhan spiritual jemaat serta menyusun publikasi ilmiah yang relevan dengan pelayanan gereja. Salah satu hasilnya adalah laporan dan artikel ilmiah bertema "Pewarisan Iman dari ibu dalam Keluarga Kristen," yang diharapkan dapat memperkaya literatur teologi kontekstual dan memperkuat peran gereja dalam mendukung pembinaan iman keluarga (Bosch 2011, . Sebagai bagian dari pelaksanaan Tridharma, program PkM STT HKBP Pematangsiantar bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi wujud nyata iman dan panggilan STT HKBP Pematangsiantar berkomitmen melayani masyarakat melalui program yang sesuai dengan kebutuhan jemaat. Semua kegiatan ini dirancang untuk memperkuat iman kaum ibu agar mereka menjadi pewaris iman sejati dalam keluarga, sebagaimana diajarkan dalam 2 Timotius 1:3Ae8 (Stott 1973, . Pewarisan Iman dari Ibu A (Raulina. Kristopel Cordiyas Domini Aritonan. Tim pelaksana kegiatan terdiri dari dosen dan mahasiswa yang memiliki kompetensi akademis dan pengalaman pelayanan. Raulina. Th. , sebagai pembimbing utama, memberikan arahan teologis dan spiritual agar kegiatan ini memiliki dampak yang mendalam dan relevan. Secara keseluruhan, pelaksanaan program PkM di STT HKBP Pematangsiantar bukan hanya memberi manfaat akademis bagi mahasiswa dan jemaat, tetapi juga memperteguh peran STT HKBP Pematangsiantar sebagai lembaga pendidikan teologi yang berkomitmen pada pengembangan iman, pelayanan gereja, dan pemberdayaan masyarakat melalui pewarisan iman dari ibu kepada generasi berikutnya. Landasan Teologis: Pewarisan Iman dalam 2 Timotius 1:3-8 1 Konteks Biblis dan Genealogi Iman Timotius Surat Timotius yang ditulis oleh Rasul Paulus kepada Timotius, murid dan rekan pelayanannya yang terkasih, memberikan gambaran yang sangat jelas tentang bagaimana iman Kristen diwariskan secara turun-temurun dalam sebuah keluarga. Dalam konteks 2 Timotius 1:3-8. Paulus sedang berada dalam situasi penjara di Roma menjelang akhir hidupnya, dan ia menulis surat ini sebagai pesan terakhir yang penuh kasih dan nasihat kepada Timotius. Yang menarik dari teks ini adalah penekanan Paulus pada genealogi iman Timotius yang tidak diwariskan melalui garis keturunan biologis semata, melainkan melalui keteladanan dan pengajaran iman yang tulus dari neneknya Lois dan ibunya Eunike (Baskoro 2024, . Latar belakang keluarga Timotius sendiri cukup unik dalam konteks Perjanjian Baru. Ayahnya adalah seorang Yunani yang tidak beriman, sementara ibunya adalah seorang Yahudi yang kemudian menjadi Kristen (Ziraluo 2014, . Dalam budaya Yahudi pada masa itu, pendidikan agama anak sangat bergantung pada peran ayah sebagai kepala Namun, dalam kasus Timotius, ketiadaan figur ayah yang beriman justru membuat peran ibu dan nenek menjadi sangat sentral dan krusial. Eunike dan Lois tidak membiarkan keterbatasan ini menghalangi mereka untuk menanamkan iman yang sejati kepada Timotius sejak ia masih kecil. Mereka mengajarkan Kitab Suci kepada Timotius, bukan hanya sebagai pengetahuan intelektual, tetapi sebagai fondasi kehidupan yang membentuk karakternya. Paulus menggunakan frasa "iman yang tidak munafik" atau "iman yang tulus" . untuk menggambarkan kualitas iman yang ada dalam diri Lois. Eunike, dan kemudian Timotius. Kata "tidak munafik" dalam bahasa Yunani berarti tanpa kepurapuraan, autentik, dan genuine (Manihuruk. Tupamahu, and Siagian 2022, . Ini menunjukkan bahwa iman yang diwariskan bukanlah sekadar ritual agamawi atau tradisi keluarga yang kosong, melainkan sebuah relasi yang hidup dan nyata dengan Allah yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Lois dan Eunike tidak hanya mengajarkan tentang Allah kepada Timotius, tetapi mereka menghidupi iman mereka di hadapan Timotius sehingga ia dapat menyaksikan secara langsung bagaimana iman itu mengubah dan membentuk kehidupan seseorang. Konteks historis juga menunjukkan bahwa pada masa Paulus menulis surat ini, gereja sedang menghadapi berbagai tantangan dan penganiayaan. Paulus sendiri sedang menghadapi kemungkinan hukuman mati, dan ia mengingatkan Timotius untuk tidak Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 malu dengan kesaksian tentang Tuhan atau dengan penderitaan yang mungkin dihadapi karena Injil. Dalam situasi ini, fondasi iman yang kuat yang telah ditanamkan oleh Lois dan Eunike menjadi sangat penting bagi Timotius untuk tetap bertahan dan setia dalam Pewarisan iman dari ibu dalam konteks ini bukan hanya tentang transfer pengetahuan teologis, tetapi tentang penanaman keberanian, keteguhan, dan komitmen yang akan menopang Timotius dalam menghadapi tantangan pelayanan. 2 Prinsip-Prinsip Teologis Pewarisan Iman dari Perspektif 2 Timotius 1:3-8 Analisis eksegetis terhadap 2 Timotius 1:3-8 mengidentifikasi beberapa prinsip teologis fundamental dalam pewarisan iman: pertama, iman autentik . yang diwariskan bukan sekadar pengetahuan doktrinal tetapi relasi hidup dengan Allah yang termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari. kedua, pewarisan iman bersifat lintasgenerasi (LoisIeEunikeIeTimotiu. , menunjukkan bahwa pembinaan iman adalah proses berkelanjutan yang memerlukan konsistensi dan kontinuitas. ketiga, keteladanan hidup . ived testimon. sebagai medium utama transmisi iman. Nilai-nilai spiritual ditanamkan melalui observasi dan imitasi terhadap figur yang dipercaya. keempat, peran ibu sebagai agen spiritual primer dalam konteks ketiadaan ayah yang beriman, mengafirmasi kapasitas perempuan sebagai pewaris iman yang kompeten dan efektif. Peran Ibu dalam Pewarisan Iman: Refleksi Teologis dan Praktis 1 Dimensi-Dimensi Peran Ibu sebagai Pewaris Iman Peranan ibu yang beriman dalam mendidik anak melampaui tugas-tugas domestik atau pengasuhan fisik semata. Dalam perspektif Alkitab, khususnya dari kisah Eunike dalam kehidupan Timotius, ibu memiliki tanggung jawab yang sangat strategis dalam membentuk karakter rohani dan fondasi iman anak-anaknya. Ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi seorang anak, tempat nilai-nilai kehidupan, termasuk iman kepada Allah, pertama kali ditanamkan dan dimodelkan. Kedekatan emosional yang alami antara ibu dan anak menciptakan ruang yang ideal untuk transmisi nilai-nilai rohani yang akan bertahan seumur hidup. Analisis terhadap peran ibu dalam pewarisan iman mengidentifikasi empat dimensi utama: Pertama, keteladanan hidup autentik, anak-anak belajar bukan pertama-tama dari apa yang dikatakan orang tua mereka, tetapi dari apa yang mereka lihat dan alami dalam kehidupan sehari-hari (Oktavianus 2014, . Ketika seorang ibu menunjukkan kehidupan doa yang konsisten, sikap syukur dalam segala keadaan, kemurahan hati kepada sesama, dan ketergantungan kepada Allah dalam menghadapi kesulitan, anakanak akan menyerap nilai-nilai ini secara alamiah. Kedua, pengajaran Kitab Suci kontekstual, ibu berperan sebagai pengajar pertama doktrin iman bagi anak-anaknya, tidak secara kaku atau akademis, melainkan diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari melalui percakapan natural dan ritual keluarga yang bermakna. Ketiga, intervensi doa. Doa seorang ibu memiliki kekuatan transformatif dalam membentuk masa depan rohani anak, menciptakan atmosfer rohani dalam rumah sehingga kehadiran Allah dirasakan dan Keempat, pembentukan karakter moral (Nidin and PAP 2022, . Melalui Pewarisan Iman dari Ibu A (Raulina. Kristopel Cordiyas Domini Aritonan. disiplin yang penuh kasih dan pengajaran tentang benar dan salah berdasarkan prinsip Alkitab, ibu membentuk hati nurani anak. Dalam era modern yang penuh dengan tantangan dan distraksi, peranan ibu yang beriman menjadi semakin kompleks namun tidak kalah penting. Ibu-ibu masa kini harus mampu membimbing anak-anak mereka untuk menavigasi dunia digital, pengaruh budaya sekular, dan tekanan teman sebaya, sambil tetap mempertahankan identitas mereka sebagai anak-anak Allah. Ini memerlukan kebijaksanaan, kesabaran, dan komitmen yang luar biasa. Temuan Empiris: Dampak Program PkM terhadap Kesadaran dan Praktik Pewarisan Iman 1 Transformasi Pemahaman Teologis Kaum Ibu Hasil wawancara dan diskusi kelompok terarah menunjukkan perubahan signifikan dalam pemahaman kaum ibu tentang konsep pewarisan iman. Sebelum program, mayoritas peserta memahami pewarisan iman sebatas mengajak anak ke gereja dan mengajarkan doa rutin. Seorang informan (Ibu R. , 42 tahun, ibu dari tiga ana. menyatakan dalam refleksi : "Selama ini saya pikir sudah cukup dengan membawa anakanak ke gereja setiap Minggu. Tetapi setelah pembinaan ini, saya menyadari bahwa iman tidak diwariskan hanya melalui kehadiran di gereja, tetapi melalui bagaimana saya menjalani hidup sehari-hari di depan anak-anak saya. Ketika saya marah, bagaimana saya merespons, ketika ada masalah keuangan, apakah saya tetap bersyukur itulah yang mereka lihat dan pelajari. Transformasi pemahaman ini menunjukkan pergeseran dari konsepsi ritualinstitusional menuju pemahaman relasional-eksistensial tentang iman. Para ibu mulai mengartikulasikan iman sebagai keteladanan hidup . ived fait. yang termanifestasi dalam respons sehari-hari terhadap berbagai situasi kehidupan. Temuan ini sejalan dengan konsep anhypokritos . man autentik tanpa kepura-puraa. dalam 2 Timotius 1:5. Iman yang diwariskan Lois dan Eunike kepada Timotius bukan sekadar pengetahuan doktrinal tetapi teladan hidup yang konsisten. 2 Peningkatan Pemahaman Akan Kesadaran dan Tanggung Jawab Spiritual Hasil diskusi menunjukkan adanya komitmen peningkatan kesadaran kaum ibu akan tanggung jawab spiritual mereka sebagai pewaris iman utama dalam keluarga. Banyak peserta mengekspresikan refleksi kritis terhadap praktik keibuan mereka sebelumnya, menyadari bahwa mereka terlalu fokus pada penyediaan kebutuhan material dan akademis anak, tetapi mengabaikan pembinaan spiritual yang sistematis. Ibu T. dalam sesi diskusi menyatakan: "Saya sangat menyesal karena selama ini saya lebih sibuk memastikan anak-anak saya les ini-itu, tetapi tidak pernah sungguhsungguh mengajarkan firman Tuhan kepada mereka. Sekarang anak saya yang sulung sudah kuliah, dan saya lihat dia tidak punya fondasi iman yang kuat. Saya tidak mau hal yang sama terjadi pada adik-adiknya. Kesadaran reflektif-kritis ini menunjukkan bahwa program pembinaan tidak hanya meningkatkan pengetahuan tetapi juga memicu proses evaluasi diri dan rekonstruksi prioritas dalam peran keibuan. Namun, refleksi ini juga mengungkapkan dimensi Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 kecemasan dan rasa bersalah . yang perlu diarahkan secara pastoral agar tidak menjadi beban psikologis yang kontraproduktif, melainkan motivasi konstruktif untuk Analisis Kritis: Tantangan dan Keterbatasan Model Pewarisan Iman Berbasis Ibu 1 Risiko Beban Ganda dan Burnout Spiritual Ibu Meskipun program ini berhasil meningkatkan kesadaran spiritual kaum ibu, analisis kritis perlu dilakukan terhadap potensi beban ganda . ouble burde. yang dihadapi ibu dalam konteks modern. Kaum ibu di HKBP Jati Karya mayoritas adalah ibu bekerja yang harus menyeimbangkan tanggung jawab domestik, profesional, dan sekarang ditambah dengan tanggung jawab spiritual yang lebih eksplisit. Beberapa peserta dalam diskusi mengungkapkan kekhawatiran tentang kapasitas mereka untuk memenuhi ekspektasi sebagai pewaris iman utama di tengah keterbatasan waktu dan energi. Temuan ini mengindikasikan perlunya kehati-hatian agar penekanan pada peran ibu dalam pewarisan iman tidak berujung pada idealisasi yang memberatkan atau bahkan mengkultuskan figur ibu tanpa memberikan dukungan struktural yang memadai. Gereja perlu mengembangkan sistem dukungan pastoral yang tidak hanya menekankan tanggung jawab tetapi juga menyediakan ruang untuk istirahat spiritual . piritual res. , mentoring sesama ibu, dan pemberdayaan kolektif. 2 Keterbatasan Model Matrilineal dan Urgensi Kolaborasi Ayah Meskipun kisah Timotius mengafirmasi peran sentral ibu dalam pewarisan iman, analisis kontekstual menunjukkan bahwa model ini muncul dalam situasi ketiadaan ayah yang beriman. Dalam konteks ideal, pewarisan iman seharusnya menjadi tanggung jawab bersama . hared responsibilit. antara ayah dan ibu, bukan hanya beban ibu. Beberapa peserta dalam diskusi kelompok mengungkapkan frustasi karena suami mereka tidak terlibat aktif dalam pembinaan iman anak, sehingga seluruh tanggung jawab jatuh kepada Temuan ini menggarisbawahi pentingnya program pembinaan yang paralel untuk ayah atau program pembinaan pasangan . ouple-based faith formatio. agar pewarisan iman menjadi proyek keluarga yang holistik, bukan hanya tanggung jawab individual ibu. Model yang terlalu terpusat pada ibu dapat secara tidak sengaja melegitimasi ketidakterlibatan ayah dalam pembinaan spiritual anak, yang pada gilirannya memperkuat ketimpangan gender dalam tanggung jawab spiritual keluarga. 3 Tantangan Struktural: Pengaruh Budaya Digital dan Sekularisasi Hasil wawancara juga mengungkapkan tantangan struktural yang dihadapi kaum ibu dalam pewarisan iman, khususnya terkait dengan pengaruh budaya digital dan Banyak ibu melaporkan kesulitan untuk menarik perhatian anak-anak yang lebih tertarik pada media digital daripada kegiatan spiritual keluarga. Ibu M. menyatakan: "Anak-anak saya lebih suka main HP daripada ikut ibadah keluarga. Saya sudah coba berbagai cara, tetapi mereka bilang bosan. Bagaimana saya bisa mewariskan iman kalau mereka tidak mau mendengarkan?" Tantangan ini menunjukkan bahwa pewarisan iman tidak hanya tergantung pada komitmen individual ibu, tetapi juga pada konteks sosio-kultural yang lebih luas. Gereja perlu mengembangkan strategi pembinaan Pewarisan Iman dari Ibu A (Raulina. Kristopel Cordiyas Domini Aritonan. iman yang kontekstual dan relevan dengan budaya digital, serta membekali orang tua dengan literasi digital dan keterampilan komunikasi intergenerasi yang efektif. Implikasi Teologis dan Pastoral 1 Implikasi Teologis: Menuju Teologi Pewarisan Iman yang Kontekstual Temuan dari program PkM ini berkontribusi pada pengembangan teologi praktis tentang pewarisan iman yang kontekstual bagi gereja di Indonesia. Pertama, studi ini mengafirmasi relevansi model pewarisan iman alkitabiah . Tim. 1:3-. dalam konteks keluarga Kristen kontemporer. Iman autentik diwariskan bukan melalui indoktrinasi doktrinal tetapi melalui keteladanan hidup yang konsisten. Kedua, penelitian ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan relasional-eksistensial dalam pembinaan iman. Iman dipahami sebagai relasi hidup dengan Allah yang termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar pengetahuan kognitif atau kepatuhan ritual. Ketiga, studi ini mengungkapkan ketegangan antara ideal teologis . eran ibu sebagai pewaris iman utam. dengan realitas sosial . eban ganda ibu, ketidakterlibatan ayah, pengaruh budaya digita. , yang menuntut gereja untuk mengembangkan teologi pewarisan iman yang tidak hanya normatif tetapi juga realistis dan empatik terhadap kompleksitas kehidupan keluarga modern. Teologi pewarisan iman yang kontekstual harus mampu mengintegrasikan afirmasi terhadap peran strategis ibu dengan pengakuan akan keterbatasan mereka dan kebutuhan akan dukungan struktural dari gereja dan 2 Implikasi Pastoral: Rekomendasi untuk Pelayanan Gereja Berdasarkan temuan dan analisis di atas, beberapa rekomendasi pastoral dapat dirumuskan untuk memperkuat pelayanan gereja dalam mendukung pewarisan iman di keluarga: Pertama, gereja perlu mengembangkan program pembinaan berkelanjutan bagi kaum ibu yang tidak hanya bersifat event-driven tetapi terstruktur dan sistematis, dengan kurikulum yang mencakup dimensi teologis, praktis, dan psikologis dari pewarisan iman. Program ini dapat berbentuk kelompok kecil . mall grou. yang bertemu secara reguler untuk berbagi pengalaman, mutual support, dan pembelajaran bersama. Kedua, gereja perlu mengembangkan program paralel untuk ayah atau pembinaan pasangan . ouple-based ministr. agar pewarisan iman menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya beban ibu. Program ini dapat mencakup workshop komunikasi spiritual dalam keluarga, mentoring ayah oleh ayah yang lebih berpengalaman, dan retreat keluarga yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Ketiga, gereja perlu menyediakan sumber daya praktis yang membantu orang tua dalam pembinaan iman anak, seperti panduan ibadah keluarga yang sederhana dan kontekstual, buku bacaan Alkitab untuk anak dengan berbagai level usia, dan toolkit untuk mengintegrasikan iman dalam aktivitas sehari-hari. Sumber daya ini dapat disebarluaskan melalui platform digital untuk memudahkan akses. Keempat, gereja perlu mengembangkan strategi pelayanan yang relevan dengan budaya digital, seperti program pembinaan iman yang memanfaatkan media digital, konten devosional untuk keluarga yang dapat diakses melalui aplikasi mobile, dan literasi Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 digital bagi orang tua agar mereka dapat membimbing anak menavigasi dunia digital secara bijaksana. Kelima, gereja perlu membangun sistem dukungan pastoral yang holistik bagi keluarga, termasuk konseling keluarga, support group untuk orang tua yang menghadapi tantangan dalam mendidik anak, dan mentoring lintas-generasi. Ibu yang lebih berpengalaman dapat mendampingi ibu muda dalam perjalanan pewarisan iman Bahan Pembinaan kepada Kaum Ibu HKBP Jati Karya: Peran Strategis Perempuan dalam Pewarisan Iman - (Pdt. Raulina. Berbagai ungkapan apresiasi terhadap ibu mulai dari lagu "Tangiang ni dainang" . arya Tagor Tampubolon tahun 2. (Rumapea 2. , dan "Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa," (Tyasrinestu 2. , hingga slogan "Surga di telapak kaki ibu" (Hidayat 2. , menunjukkan pengakuan universal akan peran strategis ibu dalam Tokoh-tokoh seperti Abraham Lincoln dan John Wesley mengakui bahwa keberhasilan mereka tidak terlepas dari peran ibu mereka. Meskipun idealnya ayah dan ibu adalah pasangan yang sama-sama bertanggung jawab (Mendrofa 2022, . Realitas menunjukkan banyak ayah yang tidak melaksanakan peran spiritual mereka secara optimal, sehingga tanggung jawab pewarisan iman sering kali bertumpu pada ibu (Sugiono and Oktaviani 2. Peran seorang ibu adalah melahirkan, mengasuh, memberi rasa aman . , mendidik, dll. Pada kesempatan ini kita akan fokus pada peran dan tanggung jawab ibu dalam mendidik anak. Pendidikan dan pembentukan karakter anak dimulai sejak dalam kandungan. Kedekatan emosional dan fisik antara ibu dan anak terjalin secara alamiah (Sihombing and Sarungallo 2019, . Proses pendidikan ini berlangsung terus-menerus melalui berbagai fase kehidupan anak dari balita yang sepenuhnya bergantung, remaja yang merasa sudah pintar namun belum bijaksana, hingga anak dewasa yang memerlukan pendampingan tanpa intervensi berlebihan (Tafonao 2018, . Salah satu aspek terpenting dari pendidikan ini adalah pengajaran iman. Teks 2 Timotius 1:3-5 memperlihatkan proses pewarisan iman yang dialami Timotius. Di tengah berbagai tantangan pelayanan. Timotius tetap setia karena fondasi iman yang kuat yang diwariskan oleh neneknya Lois dan ibunya Eunike (Ming and Manno Paulus menyebut iman mereka sebagai "iman yang tulus ikhlas" . , menunjukkan kualitas iman yang autentik dan bukan sekadar ritual. Meskipun ayah Timotius adalah orang Yunani yang tidak beriman (Kisah Para Rasul 16:. Lois dan Eunike tidak membiarkan keterbatasan ini menghalangi mereka untuk menanamkan iman sejati kepada Timotius sejak kecil. Iman diwariskan secara turun-temurun dari Lois kepada Eunike, lalu kepada Timotius, membentuk mata rantai yang kuat hingga kini. Abraham Kuyper memperkirakan bahwa meskipun Lois telah meninggal saat surat ini ditulis, pengaruh spiritualnya tetap hidup dalam diri Timotius. Tentu bukan Lois dan Eunike yang Pewarisan Iman dari Ibu A (Raulina. Kristopel Cordiyas Domini Aritonan. menumbuhkan iman, tetapi mereka mau dipakai Tuhan sebagai alat untuk mewariskan iman yang teguh dan tulus ikhlas. Pembelajaran berharga bagi para ibu masa kini adalah kesadaran bahwa meski berbagai ungkapan indah mengagungkan ibu, kita tidak boleh mengabaikan keprihatinan terhadap sejumlah ibu yang mengabaikan peran strategis mereka dalam mewariskan iman. Kesibukan media sosial, gaya hidup sosialita, dan berbagai aktivitas lain tidak boleh mengorbankan tanggung jawab mendidik anak. Anak adalah anugerah berharga yang perlu disyukuri, dijaga, dan dihargai, sehingga melalui mereka kita semakin diberkati dengan menghantar mereka kepada iman yang teguh dan masa depan yang baik. Rangkaian Kegiatan dan Dokumentasi Gambar 1. Tim PkM STT HKBP Saat Ibadah Minggu Gambar 2. Pembinaan Kaum Ibu HKBP Jati Karya Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 Gambar 3. Tim PkM Saat Ramah Tamah Bersama Keluarga Pelayan KESIMPULAN Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di STT HKBP Pematangsiantar merupakan wujud nyata Tridharma Perguruan Tinggi yang mengintegrasikan pengajaran, penelitian, dan pengabdian melalui tema "Pewarisan Iman dari Ibu . Timotius 1:3-. " di HKBP Jati Karya. Analisis eksegetis terhadap 2 Timotius 1:3-8 mengafirmasi bahwa iman autentik . yang diwariskan Lois dan Eunike kepada Timotius bukan sekadar transfer pengetahuan doktrinal, melainkan keteladanan hidup yang konsisten, menjadi paradigma teologis relevan bagi keluarga Kristen Evaluasi program menunjukkan tiga capaian signifikan: transformasi pemahaman teologis kaum ibu dari konsepsi ritual-institusional menuju relasionaleksistensial tentang iman, perubahan praktik spiritual keluarga melalui peningkatan frekuensi ibadah bersama dan pendampingan pembacaan Alkitab, serta peningkatan kesadaran reflektif-kritis akan tanggung jawab spiritual. Bagi mahasiswa, program ini memberikan pengalaman pedagogis berharga dalam pelayanan berbasis riset, mengembangkan kompetensi fasilitasi pastoral dan sensitivitas terhadap pergumulan nyata jemaat. Meskipun demikian, analisis kritis mengungkapkan keterbatasan yang perlu diperhatikan, termasuk risiko beban ganda bagi ibu bekerja, ketidakterlibatan ayah dalam pembinaan spiritual anak, dan tantangan budaya digital serta sekularisasi. Rekomendasi praktis untuk memperkuat pewarisan iman meliputi: bagi gereja, mengembangkan program pembinaan berkelanjutan yang terstruktur, menyelenggarakan pembinaan pasangan . ouple-based ministr. , dan membangun sistem dukungan pastoral holistik. bagi keluarga Kristen memprioritaskan pembinaan spiritual melalui ibadah keluarga rutin dan kolaborasi ayah-ibu dalam pewarisan iman. bagi pelaksanaan PkM masa depan dan memperpanjang durasi program dengan pendampingan pasca-kegiatan, mengembangkan modul yang mempertimbangkan keberagaman konteks keluarga, dan mengintegrasikan dimensi digital dalam strategi pembinaan. Program ini memperkuat Pewarisan Iman dari Ibu A (Raulina. Kristopel Cordiyas Domini Aritonan. komitmen STT HKBP Pematangsiantar dalam membina keluarga Kristen melalui pendekatan integratif antara refleksi teologis, praksis pelayanan, dan evaluasi akademis, berkontribusi pada pengembangan teologi praktis kontekstual Indonesia, serta membangun generasi beriman yang kokoh untuk menghadapi tantangan zaman dengan keteguhan sebagaimana Timotius yang tetap setia dalam pelayanannya. DAFTAR PUSTAKA