1 PROGRAM BACA TULIS AL-QURAN (BTA) DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QURAN SISWA SMP NEGERI 2 BANTUR Eko Yusuf Wahyudi. Romadlon Chotib. Mohammad Fadil. Muhammad Syaluf Munif Universitas Islam Raden Rahmat Malang Email: ekoyusufw@uniramalang. id, romadhon@uniramalang. fadilahmad802@gmail. com, syalufganteng13@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan program BTA di SMP Negeri 2 Bantur serta mengidentifikasi faktor pendukung dan hambatan dalam pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan subjek guru PAI dan guru BTA, serta pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program BTA dilaksanakan sesuai jadwal per kelas dengan pendekatan adaptif dan metode sesuai kemampuan siswa, seperti penggunaan buku IqroAo dan metode Tutor Sebaya. Program ini didukung oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Malang dan mendapat respon positif dari siswa serta keterlibatan aktif guru. Kendala utama yang dihadapi adalah belum optimalnya pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan membaca, yang mempengaruhi efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi dan pengembangan berkelanjutan agar program BTA dapat berjalan lebih efektif dan Kata Kunci: Program. Meningkatkan Kemampuan Baca. Baca Tulis Al-Quran Abstract This study aims to describe the implementation of the BTA program at SMP Negeri 2 Bantur and to identify the supporting and inhibiting factors in its execution. The study employs a qualitative descriptive approach, involving Islamic education teachers and BTA instructors as subjects, with data collected through observation, interviews, and documentation. The findings indicate that the BTA program is carried out according to a class-based schedule, using adaptive learning approaches and methods tailored to students' reading abilities, such as the use of IqroAo books and the Peer Tutor method. The program is supported by the Malang District Education Office and receives positive responses from students, along with active teacher However, a major challenge lies in the suboptimal grouping of students based on their reading abilities, which affects the effectiveness of the learning process. Therefore, ongoing evaluation and development are necessary to ensure the programAos effectiveness and Keywords: Program. Improving Reading Skills. Qur'anic Literacy (Baca Tulis Al-QurAoa. Pendahuluan Pendidikan merupakan kebutuhan esensial bagi setiap individu dan memiliki peran strategis dalam membentuk generasi penerus bangsa. Sebagaimana yang ditegaskan bapak Ki Hajar Dewantara. Pendiri Pendidikan Nasional. Pendidikan adalah proses membimbing potensi anak agar berkembang secara maksimal untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan sebagai manusia dan anggota masyarakat. 1 Salah satu tujuan utama lembaga pendidikan adalah menanamkan nilai-nilai spiritual, kecerdasan intelektual, serta akhlak mulia kepada peserta didik, termasuk dalam aspek pendidikan agama. Sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2007, pemerintah Indonesia memungkinkan pelaksanaan pendidikan agama melalui sistem pendidikan yang mencakup jalur formal, nonformal, dan informal. 2 Dalam situasi seperti ini. Salah satu komponen utama pendidikan agama Islam adalah pendidikan Al-Qur'an, yang dimaksudkan untuk menghasilkan individu yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Setiap orang yang beragama Islam diwajibkan untuk membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur'an, yang merupakan sumber utama ajaran Islam. "Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya" (HR. Bukhar. Namun, banyak siswa yang tidak dapat membaca Al-Qur'an dengan lancar dan sesuai dengan aturan tajwid. Kemajuan teknologi dan kurangnya perhatian dari lingkungan keluarga juga merupakan faktor lain yang berkontribusi pada rendahnya kemampuan siswa untuk membaca Al-Qur'an dengan baik. Sebagai lembaga pendidikan umum. SMP Negeri 2 Bantur membantu meningkatkan pendidikan keagamaan melalui program Baca Tulis Al-Qur'an (BTA). Pemerintah Kabupaten Ki Hajar Dewantara. Pemikiran. Konsepsi. Keteladanan. Sikap Merdeka, (Yogyakarta: Majelis Luhur Taman Siswa, 2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. HR. Bukhari. Kitab Fadhailul QurAoan. Hadis No. Putra. , & Lestari. Pengaruh Perhatian Keluarga dan Kemajuan Teknologi Terhadap Kemampuan Membaca Al-QurAoan Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan dan Teknologi Islam, 3. , hal 45-56. Malang mengusulkan Program Sekolah Plus Ngaji (SPN), yang merupakan implementasi dari program ini. Setiap siswa Muslim di kelas VII. Vi, dan IX wajib mengikuti program BTA, yang dilaksanakan secara teratur setiap hari. Program ini mengajarkan baca tulis Al-Qur'an, hafalan surat Al-Mulk, dan materi PAI tambahan. Program BTA di SMP Negeri 2 Bantur menarik karena menggunakan pendekatan tutor sebaya, di mana siswa yang mahir membaca Al-Qur'an membantu teman-temannya yang masih mengalami kesulitan. Metode ini tidak hanya meningkatkan kemampuan siswa untuk membaca Al-Qur'an, tetapi juga menumbuhkan rasa solidaritas dan kepedulian sesama siswa. Berdasarkan realitas tersebut, penelitian ini dilakukan guna mendeskripsikan implementasi program BTA di SMP Negeri 2 Bantur serta mengidentifikasi faktor pendukung dan hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaannya selama tahun pelajaran 2024Ae2025. Kajian Pustaka Pengertian Program Baca Tulis Al-Quran Program merujuk pada serangkaian aktivitas yang direncanakan dengan sistematis dan terorganisir, bertujuan untuk dilaksanakan dalam bentuk tindakan nyata secara berkelanjutan dalam suatu organisasi. Program melibatkan berbagai pihak yang saling bekerja sama dan berkoordinasi demi mencapai tujuan tertentu secara kolektif. Dalam konteks pendidikan, program adalah wujud implementasi dari kebijakan yang dijalankan dalam bentuk kegiatan yang berlangsung terus-menerus dan melibatkan banyak elemen. Kata "baca" didefinisikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu proses melihat dan mengerti makna tulisan, yang bisa disertai pelafalan atau tidak. Membaca bukan sekadar aktivitas visual, tetapi juga turut melibatkan proses mental, unsur psikolinguistik, serta kemampuan dalam mengelola dan memahami proses berpikir sendiri . Para ahli seperti Tarigan8. Yunus, dan Nurhadi Ramadhan. , & Sari. Efektivitas Metode Tutor Sebaya dalam Pembelajaran Al-QurAoan di Sekolah Menengah Pertama. Jurnal Pendidikan Islam, 7. , hal 78-89. Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Pedoman Penyusunan Program Pendidikan. Jakarta: Kemendikbudristek. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tarigan. Membaca sebagai Proses Psikolinguistik dan Metakognitif. Bandung: Remaja Rosdakarya. mengemukakan bahwa membaca adalah proses kompleks untuk memahami pesan dari teks tertulis, yang juga dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal pembaca. Sementara itu. AumenulisAy KBBI diartikan sebagai Aktivitas mengungkapkan ide dan emosi melalui bentuk tulisan. 10 Menulis merupakan aktivitas aktif dan produktif dalam menyampaikan gagasan sistematis sehingga dapat dipahami oleh orang lain. Menurut para ahli seperti Tarigan11 dan Harmer, menulis adalah ekspresi pemikiran yang dituangkan dalam bentuk simbol-simbol tulisan secara Al-Qur'an merupakan wahyu ajaib yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Karena secara etimologi Al-Qur'an berasal dari kata "qara'a" yang artinya bacaan, maka membaca Al-Qur'an termasuk dalam ibadah. Al-Qur'an memberikan petunjuk hidup bagi umat Islam yang dapat diaplikasikan dalam segala aspek kehidupan. Berdasarkan pengertian tersebut. Program Baca Tulis Al-Qur'an (BTA) adalah kegiatan terstruktur, bertujuan mengajarkan siswa membaca dan menulis Al-Qur'an sejak usia dini. Program ini melibatkan guru, siswa, dan media pembelajaran untuk meningkatkan literasi Al-Qur'an dan kemampuan belajar agama siswa. Kemampuan Baca Al-Quran Pengertian Kemampuan Membaca Al-QurAoan Menurut para ulama. Al-Qur'an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan membacanya merupakan ibadah dan petunjuk hidup bagi manusia . udan li an-na. Kemampuan seseorang membaca Al-Quran berarti mereka dapat membaca kitab suci Allah dengan cara yang sesuai dengan prinsip ilmu tajwid. Yunus. , & Nurhadi. "Faktor Internal dan Eksternal dalam Proses Membaca. " Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 15. , hal 45-58. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tarigan. Menulis sebagai Ekspresi Pemikiran dan Kreativitas. Bandung: Remaja Rosdakarya. Harmer. The Practice of English Language Teaching . th ed. Pearson Education. Al-QurAoan dan Tafsirnya. Pengantar Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir. Jakarta: Pustaka Islam. Ahmad. , & Fatimah. "Implementasi Program Baca Tulis Al-QurAoan di Sekolah Dasar: Studi Kasus dan Strategi Pembelajaran. " Jurnal Pendidikan Agama Islam, 10. , hal 101-115. yang mencakup penguasaan huruf hijaiyah, pelafalan yang benar, dan pemahaman Secara etimologi. Kemampuan' merujuk pada asal kata 'mampu', yang berarti memiliki kecakapan atau kesanggupan, sedangkan membaca adalah aktivitas memahami simbol tertulis untuk menangkap makna di dalamnya. Menurut M. Quraisy Shihab, membaca . araAo. dalam bahasa Arab berarti menghimpun, yang mencakup makna menyampaikan, mendalami, dan menelaah teks, baik tertulis maupun tidak. Membaca Al-Qur'an bukan sekadar tindakan intelektual, tetapi juga ibadah yang membawa pahala dan menjadi bekal hidup, sehingga kemampuan ini harus ditanamkan sejak usia dini. Dasar Perintah Membaca Al-QurAoan Al-Qur'an memberikan pedoman hidup kepada umat Islam yang menekankan pentingnya membaca dan memahami isinya. Perintah membaca tercantum dalam wahyu pertama yang diturunkan pada bulan Ramadhan dikenal sebagai 'bulan iqraAo' sebagaimana termuat dalam QS Al-AoAlaq ayat 1 dan 3. Keutamaan membaca Al-QurAoan dijelaskan dalam QS Fatir: 29Ae30, yang menyatakan bahwa pembacanya akan memperoleh pahala berlipat serta syafaat di hari kiamat (HR Muslim No. Ini menunjukkan bahwa Membaca Al-Qur'an adalah perbuatan baik dengan nilai ibadah yang tinggi. Kriteria Kemampuan Membaca Al-QurAoan Kemampuan membaca Al-QurAoan memiliki beberapa kriteria utama, antara lain: Kefasihan Membaca: Membaca dengan pelafalan yang jelas dan benar, tanpa kesalahan huruf, sehingga bacaan terdengar terang dan mudah dipahami. Fasih Quraisy Shihab. Wawasan Al-QurAoan, (Bandung: Mizan, 2. , hal. Ibid. , hal. Ahmad. , & Fatimah. AuImplementasi Program Baca Tulis Al-QurAoan di Sekolah Dasar,Ay Jurnal Pendidikan Agama Islam, 10. , 2024, hal. Al-QurAoan. QS Al-Alaq :1,3. Kementerian Agama RI. Tafsir Al-QurAoan Tematik, (Jakarta: Kemenag, 2. Said Abdul Adhim. Nikmatnya Membaca Al-QurAoan, (Jakarta: Pustaka Islam, 2. , hal. HR Muslim No. Untuk membaca Al-Qur'an, harus dapat melafalkan huruf hijaiyah dengan benar dan dengan cara yang benar. Penguasaan Ilmu Tajwid: ilmu yang menetapkan standar untuk membaca AlQur'an dengan benar, mencakup sifat huruf, hukum madd, dan aturan-aturan lain yang wajib dikuasai agar bacaan sesuai dengan kaidah syariat. Tajwid hukumnya fardu Aoain, sebagaimana diperintahkan dalam QS Al-Muzzammil :4. Penguasaan Makhorijul Huruf: Kemampuan mengucapkan huruf hijaiyah sesuai dengan tempat keluarnya . dan sifat-sifat hurufnya. Kesalahan makhraj dapat mengubah makna ayat dan mengurangi pahala bacaan. Kelancaran Membaca: Membaca Al-QurAoan dengan cepat, tepat, dan tanpa tersendat, sesuai dengan kaidah tajwid dan makhraj huruf, sehingga bacaan menjadi lancar dan benar. Secara keseluruhan. Kemampuan seseorang membaca Al-Qur'an adalah kemampuan membaca teks suci dengan pelafalan, tajwid, dan makhraj yang benar, yang mencerminkan penguasaan bahasa Arab dan kaidah agama Islam secara Metode Pembelajaran Al-Quran Litbang Kementerian Agama RI . telah menghimpun berbagai Metode pendidikan membaca Al-Qur'an yang saat ini berkembang di Indonesia, antara lain: Metode Baghdadiyyah. Hattaiyyah. Al-Barqi. QiraAoati. IqraAo. Al-Banjari. SAS. Tombak Alam. Muhafakah. Muqoronah. Wasilah. Saufiyah. Tarqidiyah. JamAoiyah, an-Nur. ElFath, 15 Jam Belajar Al-QurAoan, dan A Ba Ta Tsa. 25 Dari sekian banyak metode tersebut, beberapa yang utama dijelaskan sebagai berikut: Metode Baghdadiyyah Ramadhan. , & Sari. AuEfektivitas Metode Tutor Sebaya dalam Pembelajaran Al-QurAoan,Ay Jurnal Pendidikan Islam, 7. , 2022, hal. Kementerian Agama RI. Pedoman Ilmu Tajwid, (Jakarta: Kemenag, 2. , hal. Al-QurAoan QS AlMuzzammil :4. Nurhadi. AuPenguasaan Makhorijul Huruf dalam Pembelajaran Al-QurAoan,Ay Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Islam, 2019, hal. Yuliana. AuPeran Kelancaran Membaca Al-QurAoan dalam Pembentukan Karakter Santri,Ay Prosiding Seminar Pendidikan Islam, 2021, hlm. Ahmad & Fatimah, op. , hlm. Litbang Kementerian Agama RI. Macam-Macam Metode Membaca Al-QurAoan. Jakarta, 1994. Metode Baghdadiyyah merupakan metode tersusun . yang mengajarkan huruf hijaiyah secara berurutan mulai dari alif, baAo, taAo, hingga yaAo. Pembelajaran dimulai dengan pengenalan huruf, tanda baca . , dan pelafalan yang diuraikan secara ejaan, kemudian dilanjutkan dengan membaca Juz Amma. Metode ini memudahkan anak mengenal huruf terlebih dahulu, namun memiliki kelemahan karena prosesnya relatif lama dan cenderung membosankan sehingga banyak siswa hanya menghafal surat pendek tanpa mampu membaca Al-QurAoan secara Metode QiraAoati Metode Qira'ati mengajarkan cara membaca Al-Qur'an secara tartil sesuai kaidah tajwid. Pengajaran jilid awal dilakukan secara individual, kemudian jilid lanjut secara klasikal dengan tetap memberi kesempatan membaca kepada setiap peserta. Materi mulai dari pengenalan huruf, harakat, mad, hingga teknik waqaf dan bacaan tajwid lanjutan seperti izhar halqi. 28 Metode ini menekankan latihan langsung dan pendalaman bertahap sehingga efektif memperbaiki kemampuan membaca AlQur'an. Metode IqraAo Metode IqraAo menitikberatkan pada latihan membaca secara bertahap melalui enam jilid buku panduan yang mengajarkan huruf tunggal berharakat, huruf sambung, bacaan mad, hingga kaidah tajwid dasar. Metode ini tidak memprioritaskan pengenalan nama huruf di awal, melainkan fokus pada kefasihan membaca dan pelafalan sesuai 30 Metode IqraAo pernah dijadikan proyek nasional oleh Departemen Agama RI untuk meningkatkanminat baca Al-Quran. 31 Meski efektif, metode ini juga memiliki kelemahan sehingga perlu modifikasi agar lebih menarik dan menyenangkan. Metode Tutor Sebaya Zarkasi. Metode Baghdadiyyah dalam Pembelajaran Al-QurAoan. Semarang: Pustaka Ilmu, 1990. Ramadhan. , & Sari. AuAnalisis Kelemahan Metode Baghdadiyyah dalam Pembelajaran AlQurAoan,Ay Jurnal Pendidikan Islam, vol. 7, no. 1, 2022, pp. hal 80-85. Zarkasi. , op. Ahmad. , & Fatimah. AuEfektivitas Metode QiraAoati dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca AlQurAoan,Ay Jurnal Pendidikan Agama Islam, vol. 10, no. 2, 2024,. hal 110-115. Departemen Agama RI. Panduan Metode IqraAo. Jakarta, 2018. Ibid. Putra. , & Lestari. AuEvaluasi Metode IqraAo dalam Pembelajaran Al-QurAoan,Ay Jurnal Pendidikan dan Teknologi Islam, vol. 3, no. 1, 2021, hal 50-55. Metode tutor sebaya berbasis pada prinsip pembelajaran kolaboratif di mana siswa yang lebih mahir menjadi tutor bagi temannya. Metode ini meningkatkan pemahaman tutor sekaligus membangun suasana belajar yang santai dan interaktif. Dalam konteks pembelajaran Al-QurAoan, metode ini efektif menumbuhkan semangat kebersamaan dan mempercepat penguasaan bacaan Al-QurAoan secara praktis. Metode Penelitian Dalam penelitian ini kualitatif deskriptif adalah desain yang digunakan. Ini juga dapat disebut sebagai penelitian yang mengumpulkan data untuk menjawab pertanyaan atau hipotesis penelitian tentang kondisi dan peristiwa yang sedang berlangsung. Pendekatan ini dipilih karena data yang dikumpulkan akan disajikan dan dianalisis secara deskriptif, dengan tujuan memperoleh informasi mendalam tentang kondisi gejala atau fenomena pada saat penelitian dilakukan. Penelitian deskriptif dirancang untuk menentukan karakteristik suatu kondisi atau situasi pada saat penyelidikan. Secara umum, penelitian kualitatif terbagi menjadi dua jenis: interaktif dan noninteraktif. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif interaktif, yaitu pengumpulan data langsung dari partisipan dalam konteks alami mereka, sehingga memungkinkan diperolehnya pemahaman yang mendalam dan kontekstual terhadap fenomena yang dikaji. Untuk memperoleh data yang valid dan menyeluruh, digunakan metode pengumpulan data seperti wawancara, dokumentasi, dan observasi. Kegiatan observasi dilaksanakan di SMP Negeri 2 Bantur untuk mengamati langsung jalannya program Baca Tulis AL-Quran (BTA). Wawancara dilakukan dengan metode tanya jawab bersama:, guru pengampu BTA, guru PAI dan siswa SMP Negeri 2 Bantur. Wawancara ini bertujuan untuk mengeksplorasi informasi mendalam tentang Program Baca Tulis Al Quran dirancang untuk meningkatkan kemampuan Anda dalam membaca Al Quran. Dokumen yang dikumpulkan meliputi dokumen sekolah . urikulum, rencana pelajaran, program sekola. , sejarah singkat pendirian sekolah, dan dokumen lain yang terkait dengan Program Baca Tulis Al-Quran di SMP Negeri 2 Bantur. Setelah data dikumpulkan secara komprehensif, dilakukan analisis data kualitatif. Analisis data kualitatif adalah proses yang melibatkan menyusun data menjadi kategori yang Johnson. , & Johnson. Cooperative Learning: Theory and Practice. Boston: Allyn & Bacon. Ramadhan. , & Sari. , op. Widiyono, dkk. Konsep Dasar Metodologi Penelitian Keperawatan (Kediri: Lembaga Chakra Brahmana Lentera, 2. , hal. dapat dikontrol, sistematisasi, identifikasi pola yang relevan, identifikasi aspek penting dan signifikan yang akan diteliti, serta penentuan informasi yang dapat dikomunikasikan atau disajikan kepada orang lain. Analisis ini dilakukan secara berulang dan teliti untuk memastikan bahwa hasil penelitian valid dan dapat diandalkan. Hasil Penelitian Strategi Program Baca Tulis Al-Quran (BTA) di SMP Negeri 2 Bantur Studi ini bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang berbagai pendekatan yang digunakan untuk menerapkan Program Baca Tulis Al-Qur'an (BTA) di SMP Negeri 2 Bantur dan untuk mengevaluasi seberapa efektif program ini dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an siswa. Menurut temuan, program BTA adalah kegiatan yang harus dilakukan oleh semua siswa Muslim di kelas VII hingga IX. Program ini bertujuan untuk membangun karakter religius dan internalisasi nilainilai spiritual selain meningkatkan keterampilan teknis dalam membaca dan menulis ayat Al-Qur'an. Program BTA terintegrasi dengan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), namun memiliki alokasi waktu khusus yang terpisah, yakni 2 jam pelajaran setiap minggu, sebagai respons terhadap keterbatasan waktu dalam jam pelajaran PAI Hal ini dimungkinkan berkat kebijakan Pemerintah Kabupaten Malang pada tahun 2024 melalui program AuSekolah Plus Ngaji (SPN)Ay. Materi yang diajarkan meliputi pengenalan huruf Hijaiyah, pembacaan surat pendek, praktik tajwid dasar, latihan menyalin ayat, dan hafalan ayat pilihan seperti Surah Al-Mulk dan ayat-ayat untuk praktik ibadah sosial seperti tahlil. Pendekatan pembelajaran bersifat klasikal-individual dan disesuaikan dengan tingkat kemampuan awal siswa. Bagi siswa yang belum bisa membaca sama sekali, digunakan metode IqraAo secara bertahap dari jilid satu hingga enam. Strategi implementasi program ini mencerminkan pendekatan yang inklusif dan Guru secara aktif memetakan kemampuan siswa, mulai dari yang belum mengenal huruf hijaiyah hingga yang sudah lancar membaca. Penyesuaian ini memungkinkan terjadinya pemerataan akses pembelajaran keagamaan, terutama bagi siswa dari latar belakang keluarga dengan keterbatasan dalam pendidikan agama. Walaupun baru berjalan selama satu tahun, program BTA telah menunjukkan dampak positif. kini Beberapa siswa yang belum bisa membaca Al-Qur'an mulai mengenali huruf hijaiyah dan menunjukkan minat terhadap pembelajaran Al-QurAoan. Tetapi, pelaksanaan program masih menghadapi tantangan dalam hal sistematika pelaksanaan, pengembangan kurikulum, dan evaluasi pembelajaran. Dengan demikian, program BTA di SMP Negeri 2 Bantur merupakan langkah strategis dalam membangun fondasi literasi Al-QurAoan yang kokoh sekaligus membentuk karakter religius peserta didik. Perlu dilakukan penguatan sistem implementasi, pendampingan guru, dan penyusunan standar evaluasi yang berkelanjutan agar program ini mencapai tujuan secara optimal. Implementasi Program Baca Tulis Al-Quran (BTA) di SMP Negeri 2 Bantur Tujuan dan Dasar Implementasi Program Program BTA dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan pembinaan keagamaan yang kuat bagi siswa, serta sebagai implementasi visi-misi sekolah. Tujuan utama program ini adalah membekali siswa dengan kemampuan dasar membaca Al-Qur'an dan menerapkan prinsip-prinsip agama dalam kehidupan sehari-hari. Seperti disampaikan oleh Guru PAI, program ini bukan sekadar pemenuhan administratif, tetapi merupakan bagian dari pembentukan karakter siswa. Waktu Pelaksanaan Program Program BTA dilaksanakan selama dua jam pelajaran per minggu . y 40 meni. dan terintegrasi dalam jadwal resmi sekolah dari hari Senin hingga Kamis. Penempatan di awal pekan bertujuan agar siswa dapat belajar dalam kondisi fisik dan mental yang masih prima. Hal ini menunjukkan komitmen sekolah dalam menjadikan BTA sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran formal. Strategi dan Metode Pembelajaran Metode pembelajaran yang digunakan bersifat fleksibel dan adaptif. Tidak digunakan metode baku seperti QiroAoati atau YanbuAoa, melainkan pendekatan praktis menggunakan kitab IqroAo untuk siswa pemula. Sementara itu, siswa yang sudah lancar difokuskan pada peningkatan tajwid dan hafalan ayat-ayat tertentu seperti Surah AlMulk. Guru juga mempraktikkan metode tutor sebaya, di mana siswa yang terampil membantu teman sekelas yang masih belajr, dengan pendampingan langsung oleh guru terhadap siswa yang belum bisa sama sekali. Penyesuaian dengan Kondisi Siswa Tingkat kemampuan baca Al-QurAoan siswa sangat heterogen. Terdapat tiga kelompok besar: pemula . elum bisa membac. , sedang . ampu membaca dasa. , dan Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang bersifat diferensiatif. Metode tutor sebaya dinilai efektif dalam menjembatani kesenjangan kemampuan dan meningkatkan pemerataan hasil belajar. Guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing utama. Tantangan dan Peluang Meskipun baru berjalan sekitar satu tahun, program BTA telah menunjukkan dampak positif terhadap keterampilan literasi Al-QurAoan siswa. Tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan waktu dan heterogenitas kemampuan siswa. Namun, dukungan kebijakan daerah dan komitmen guru menjadi peluang besar untuk penguatan dan pengembangan program ke depan. Faktor-faktor Program Pembentukan Karakter dari Lingkungan Sekolah Faktor Pendukung Faktor pendukung utama dalam pelaksanaan program BTA di SMP Negeri 2 Bantur meliputi: Dukungan internal: Seluruh elemen sekolah, termasuk kepala sekolah, komite, dan guru, menunjukkan komitmen tinggi dalam menyukseskan program. Sekolah secara aktif menyediakan fasilitas dan sarana yang dibutuhkan. Dukungan eksternal: Kebijakan Pemerintah Kabupaten Malang memberikan legitimasi dan dorongan kuat terhadap keberlangsungan program. Sarana prasarana memadai: Ketersediaan ruang kelas, masjid, dan media pembelajaran seperti Al-QurAoan dan IqroAo mendukung kelancaran kegiatan. Koordinasi antarguru: Guru BTA dan guru PAI menjalin komunikasi intensif dalam merancang dan mengevaluasi proses pembelajaran. Peran aktif siswa mahir: Siswa yang sudah lancar membaca Al-QurAoan menunjukkan antusiasme dalam membantu teman-teman mereka yang masih belajar melalui pendekatan tutor sebaya. Faktor-faktor ini secara keseluruhan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif bagi pengembangan kemampuan baca tulis Al-QurAoan. Faktor Penghambat Hambatan utama yang ditemukan dalam pelaksanaan program BTA adalah: Heterogenitas kemampuan dalam satu kelas: Siswa dalam satu rombongan belajar memiliki tingkat kemampuan yang sangat beragam, mulai dari pemula hingga mahir. Hal ini menyulitkan guru dalam menyampaikan materi yang seragam dan tepat sasaran. Belum optimalnya sistem pengelompokan berdasarkan jilid: Saat ini, pembelajaran masih mengacu pada struktur kelas formal. Belum ada fleksibilitas untuk menyusun kelompok belajar berdasarkan tingkat penguasaan membaca Al-QurAoan . Keterbatasan fasilitas dan sistem sekolah: Pengaturan jadwal dan ruang belajar belum memungkinkan pelaksanaan model pengelompokan sesuai kemampuan Menurut guru PAI, model pengelompokan berdasarkan tingkat kemampuan membaca merupakan pendekatan ideal yang seharusnya diterapkan agar proses pembelajaran menjadi lebih efisien, terkonsentrasi, dan sesuai dengan kebutuhan Kesimpulan Program Baca Tulis Al-QurAoan (BTA) di SMP Negeri 2 Bantur merupakan salah satu upaya strategis dalam membangun fondasi literasi keagamaan dan pembentukan karakter religius peserta didik. Secara umum, implementasi program ini menunjukkan arah yang positif melalui integrasi ke dalam jadwal pembelajaran formal serta dukungan penuh dari berbagai Dari sisi strategi pelaksanaan, program BTA dilaksanakan secara terstruktur dengan alokasi waktu khusus dua jam pelajaran per minggu. Materi yang diajarkan meliputi pengenalan huruf hijaiyah, tajwid dasar, hafalan surat pendek, dan pembiasaan membaca Al-QurAoan. Pendekatan pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan siswa, dengan penerapan metode klasikal-individual. IqraAo, serta tutor sebaya sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi lapangan. Dari aspek implementasi, program ini berhasil menjangkau seluruh siswa Muslim kelas VII hingga IX. Tingginya heterogenitas kemampuan baca Al-QurAoan di dalam kelas menjadi tantangan tersendiri, yang ditanggapi guru dengan strategi diferensiatif dan pembimbingan secara langsung. Walaupun baru berjalan satu tahun, program ini telah memberikan dampak nyata, terutama bagi siswa yang sebelumnya belum bisa membaca Al-QurAoan. Terkait dengan faktor pendukung, keberhasilan program ini didorong oleh komitmen internal . uru, kepala sekolah, komit. , ketersediaan sarana-prasarana, sinergi antarpendidik, serta dukungan kebijakan Pemerintah Kabupaten Malang. Sebaliknya, faktor penghambat yang masih perlu diatasi meliputi belum optimalnya sistem pengelompokan siswa berdasarkan tingkat kemampuan . , keterbatasan waktu dan fasilitas, serta sistem kelas yang masih formal. Dengan demikian, program BTA di SMP Negeri 2 Bantur merupakan inisiatif penting dalam penguatan karakter keislaman siswa melalui literasi Al-QurAoan. Namun, untuk mencapai efektivitas yang lebih tinggi, diperlukan pengembangan sistem pengelompokan yang adaptif, peningkatan kapasitas guru, serta penyusunan standar kurikulum dan evaluasi pembelajaran secara berkelanjutan. Daftar Pustaka Ahmad. , & Fatimah. Implementasi program Baca Tulis Al-QurAoan di sekolah dasar: Studi kasus dan strategi pembelajaran. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 10. Al-QurAoan dan Tafsirnya. Pengantar ilmu Al-QurAoan dan tafsir. Jakarta: Pustaka Islam. Departemen Agama RI. Panduan metode IqraAo. Jakarta: Departemen Agama RI. Harmer. The practice of English language teaching . th ed. Pearson Education. HR. Bukhari. Kitab Fadhailul QurAoan. Hadis No. Johnson. , & Johnson. Cooperative learning: Theory and practice. Boston: Allyn & Bacon. Kementerian Agama RI. Tafsir Al-QurAoan tematik. Jakarta: Kementerian Agama RI. Ki Hajar Dewantara. Pemikiran, konsepsi, keteladanan, sikap merdeka. Yogyakarta: Majelis Luhur Taman Siswa. Litbang Kementerian Agama RI. Macam-macam metode membaca Al-QurAoan. Jakarta: Litbang Kemenag. Quraish Shihab. Wawasan Al-QurAoan. Bandung: Mizan. Nurhadi. Penguasaan makhorijul huruf dalam pembelajaran Al-QurAoan. Dalam Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Islam. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Putra. , & Lestari. Pengaruh perhatian keluarga dan kemajuan teknologi terhadap kemampuan membaca Al-QurAoan siswa sekolah dasar. Jurnal Pendidikan dan Teknologi Islam, 3. Ramadhan. , & Sari. Efektivitas metode tutor sebaya dalam pembelajaran AlQurAoan di sekolah menengah pertama. Jurnal Pendidikan Islam, 7. Said Abdul Adhim. Nikmatnya membaca Al-QurAoan. Jakarta: Pustaka Islam. Tarigan. Membaca sebagai proses psikolinguistik dan metakognitif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Tarigan. Menulis sebagai ekspresi pemikiran dan kreativitas. Bandung: Remaja Rosdakarya. Widiyono, dkk. Konsep dasar metodologi penelitian keperawatan. Kediri: Lembaga Chakra Brahmana Lentera. Yuliana. Peran kelancaran membaca Al-QurAoan dalam pembentukan karakter Dalam Prosiding Seminar Pendidikan Islam. Yunus. , & Nurhadi. Faktor internal dan eksternal dalam proses membaca. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 15. Zarkasi. Metode Baghdadiyyah dalam pembelajaran Al-QurAoan. Semarang: Pustaka Ilmu.