POLINOMIAL Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 4 No. 1 May 2025, pp. Online: https://ejournal. org/index. php/jp e-ISSN: 2830-0378 Analisis Self-Concept Matematis Siswa SMP dalam Pembelajaran Matematika Desi Meilawati 1* Universitas Singaperbangsa Karawang. Indonesia *Corresponding Author: 2110631050011@student. Submitted: 23 May 2025 | Revised: 30 May 2025 | Accepted: 31 May 2025 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis self-concept siswa dalam pembelajaran matematika. Selfconcept merupakan pandangan individu terhadap dirinya sendiri yang memengaruhi kepercayaan diri, motivasi, dan sikap dalam belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek 36 siswa kelas Vi di SMPN 2 Karawang Barat yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah angket self-concept matematis terdiri dari 26 pernyataan berdasarkan 9 indikator, dianalisis secara kuantitatif deskriptif berdasarkan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar indikator self-concept siswa berada pada kategori baik, seperti menerima pujian, penghargaan, memandang sikap guru, serta menyadari manfaat matematika dalam Namun demikian, dua indikator utama yaitu rasa percaya diri dalam mengikuti pembelajaran dan keyakinan menyelesaikan soal matematika berada dalam kategori kurang baik. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan peningkatan self-concept siswa terutama dalam menghadapi tantangan akademik. Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pendidik untuk merancang strategi pembelajaran yang lebih mendukung perkembangan konsep diri siswa secara positif. Kata Kunci: Self-Concept Matematis. Siswa SMP, pembelajaran matematika Abstract This research aims to analyze students' self-concept in mathematics learning. Self-concept is an individual's view of themselves that influences their confidence, motivation, and attitude towards This study uses a descriptive qualitative approach with 36 eighth-grade students at SMPN 2 Karawang Barat, selected through purposive sampling technique. The instrument used is a mathematical self-concept questionnaire consisting of 26 statements based on 9 indicators, analyzed descriptively quantitatively based on percentages. The research results show that most of the students' self-concept indicators fall into the good category, such as receiving praise, awards, viewing the teacher's attitude, and recognizing the benefits of mathematics in life. However, two main indicators, namely self-confidence in participating in learning and confidence in solving math problems, fall into the less favorable category. This indicates a need to improve students' self-concept, especially in facing academic challenges. These findings are expected to serve as a reference for educators to design learning strategies that more positively support the development of students' self-concept. Keywords: Mathematical Self-Concept. Siswa SMP, mathematics learning PENDAHULUAN Pendidikan merupakan proses penting dalam membentuk karakter dan kompetensi individu, termasuk kemampuan dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari (Pristiwanti Dkk. , 2. Dalam sistem pendidikan formal, matematika menjadi salah satu mata pelajaran dasar yang diajarkan di setiap jenjang. Matematika tidak hanya menjadi alat pengukur keberhasilan akademik, tetapi juga sarana mengembangkan pola pikir logis dan This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2025 by Author | 178 Jurnal Polinomial. Vol. 4 No. 1 May 2025 pp. 178-185, Desi Meilawati kritis siswa (Saputra, 2. Namun demikian, dalam praktiknya banyak siswa merasa kesulitan dan kurang percaya diri dalam mengikuti pembelajaran matematika. Salah satu faktor yang memengaruhi keberhasilan belajar matematika adalah selfconcept atau konsep diri. Self-concept merupakan pandangan individu terhadap dirinya sendiri, baik secara kognitif, afektif, maupun perilaku, yang terbentuk dari pengalaman pribadi dan interaksi sosial (Sugiarti Dkk. , 2. Menurut Asuro & Fitri . yang menyatakan bahwa siswa dengan self-concept positif akan menunjukkan antusiasme, ketekunan, serta kemampuan untuk menerima tantangan, sedangkan siswa dengan self-concept negatif cenderung mudah menyerah dan menghindari keterlibatan aktif dalam proses belajar. Dalam konteks pembelajaran, self-concept memiliki pengaruh terhadap motivasi, kepercayaan diri, dan sikap siswa dalam menghadapi tugas-tugas akademik (Iki & Hastuti, 2. Menurut Magfirah Dkk . persepsi positif siswa terhadap dirinya berkorelasi dengan keberhasilan mereka dalam pelajaran matematika. Sehingga self concept sangat penting untuk dimiliki oleh siswa dalam pembelajaran matematika Berdasarkan hasil observasi awal di salah satu kelas tingkat SMP, ditemukan bahwa banyak siswa menunjukkan sikap pasif selama proses pembelajaran matematika. Hal ini terlihat dari perilaku siswa yang enggan mengerjakan soal secara mandiri, memilih diam saat diskusi kelompok berlangsung, serta cenderung menghindari menjawab pertanyaan dari guru di kelas. Tidak sedikit pula siswa yang mudah merasa putus asa ketika menghadapi soal-soal matematika yang dianggap sulit. Sebaliknya, hanya segelintir siswa yang menunjukkan kepercayaan diri dan antusiasme dalam mengikuti pembelajaran. Siswa dengan self-concept rendah cenderung meragukan kemampuan dirinya, mudah menyerah dalam menghadapi tantangan, serta kurang termotivasi untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran (Iki & Hastuti, 2. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis self-concept siswa dalam pembelajaran matematika. Tujuannya adalah untuk mengetahui self-concept siswa dalam pembelajaran matematika. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pendidik dalam mengembangkan pendekatan pembelajaran yang lebih humanis dan mendukung perkembangan konsep diri siswa secara optimal. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Menurut Arikunto dalam (Effendi & Marlina, 2. penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis suatu keadaan, situasi, atau aspek tertentu sesuai dengan yang telah ditentukan Adapun subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas Vi di SMPN 2 Karawang Barat, yang berjumlah 36 orang. Pemilihan subjek dilakukan melalui teknik purposive sampling, yaitu metode pemilihan sampel berdasarkan kriteria atau pertimbangan khusus yang ditentukan oleh peneliti (Sugiyono, 2. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan angket self-concept Instrumen yang digunakan merupakan bentuk non-tes, yaitu berupa Pengisian angket dilakukan di bawah pengawasan langsung oleh peneliti dengan terlebih dahulu diberikan petunjuk pengisian agar peserta tidak mengalami kesulitan dalam memahami pernyataan yang ada. Angket tersebut terdiri dari 26 butir pernyataan yang dikembangkan berdasarkan 9 indikator self-concept. Skala pengukuran pada angket ini menggunakan empat Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 179 Jurnal Polinomial. Vol. 4 No. 1 May 2025 pp. 178-185, Desi Meilawati kategori penilaian, dan hasil dari jawaban responden berskala ordinal yang selanjutnya data akan dirubah menjadi data rank. Kemudian data dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif berdasarkan kriteria persentase yang dikemukakan oleh Riduwan dalam Effendi & Marlina . Tabel 1. Kriteria Analisis Deskriptif Persentase 76% - 100% 51% - 75% 26% - 50% 1% - 25% Kriteria Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil yang didapat dari data angket self-concept matematis siswa kelas VIIAndalusia, data tersebut disajikan dalam bentuk tabel. Selanjutnya dilakukan analisis hasil angket tersebut dari tiap-tiap indikator. Tabel 2. Persentase Indikator Dapat Menerima Pujian Tanpa Berpura-Pura Rendah Hati No Pernyataan Indikator 1: Dapat menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati 14 ( ) Jumlah siswa Persentase 24 ( ) Jumlah siswa Persentase Dari tabel 2 hasil persentase pada indikator pertama, didominasi pada rentang 51% 75% yang artinya self-concept siswa berada di kriteria baik. Terlihat dari hampir seluruh siswa tidak malu dalam memenangkan hadiah dalam pelajaran matematika dan sebagian besar siswa ketika memperoleh nilai matematika yang bagus siswa tidak menyembunyikannya. Artinya siswa percaya diri dan cenderung dapat menerima pengakuan positif yang datang dari orang lain. Sejalan dengan penelitian Tyas Dkk . , yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara self-concept dan kepercayaan diri siswa. Tabel 3. Persentase Indikator Dapat Menerima Penghargaan Tanpa Merasa Rendah Diri No Pernyataan Indikator 2: Dapat menerima penghargaan tanpa merasa rendah diri Jumlah siswa Persentase 13 ( ) Dari tabel 3 hasil persentase pada indikator kedua berada pada rentang 51% - 75% yang artinya self-concept siswa berada di kriteria baik. Terlihat dari Sebagian besar siswa merasa senang jika bisa memenangkan hadiah dalam pelajaran matematika. Artinya siswa menunjukkan kepercayaan diri dan cenderung menerima pengakuan positif dari orang lain. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Salim Dkk . yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara self-concept dan kepercayaan diri siswa. Semakin positif konsep diri yang dimiliki siswa, semakin tinggi pula kepercayaan diri mereka dalam menghadapi berbagai situasi termasuk dalam konteks akademik. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 180 Jurnal Polinomial. Vol. 4 No. 1 May 2025 pp. 178-185, Desi Meilawati Tabel 4. Persentase Indikator Memandang Sikap Guru Selama Proses Belajar Mengajar No Pernyataan Indikator 3: Memandang sikap guru selama proses belajar mengajar 7(-) 9( ) 16( ) 20(-) Jumlah siswa Persentase Jumlah siswa Persentase Jumlah siswa Persentase Jumlah siswa Persentase Dari tabel 4 hasil persentase pada indikator ketiga berada pada rentang 51% - 75% yang artinya self-concept siswa berada di kriteria baik. Terlihat dari Sebagian besar siswa berpandangan bahwa guru tertarik dengan kemajuan saya dalam pelajaran matematika. Kemudian Sebagian besar siswa juga berdiskusi dengan guru matematika tentang pekerjaan yang menggunakan matematika. Kemudian Sebagian besar siswa berpandangan bahwa guru beranggapan bahwa siswa serius jika saya memberitahu bahwa saya tertarik bekerja di dunia sains dan matematika. Namun hampir seluruh siswa berpandangan bahwa guru menganggap dia tidak akan mampu menyelesaikan tugas walau telah diberi waktu tambahan. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Ali Dkk . yang menyatakan bahwa terdapat hubungan signifikan antara persepsi siswa terhadap kompetensi guru dan hasil belajar matematika Persepsi positif siswa terhadap kompetensi guru dapat meningkatkan self-concept dan motivasi belajar siswa. Tabel 5. Persentase Indikator Percaya Diri Dalam Mengikuti Setiap Tahapan Proses Belajar Matematika No Pernyataan Indikator 4: Percaya diri dalam mengikuti setiap tahapan proses belajar 1 ( ) 2 (-) 3 ( ) 4 (-) 5 ( ) Jumlah siswa Persentase Jumlah siswa Persentase Jumlah siswa Persentase Jumlah siswa Persentase Jumlah siswa Persentase Dari tabel 5 hasil persentase pada indikator keempat berada pada rentang 1% - 25% yang artinya self-concept siswa berada di kriteria kurang baik. Terlihat dari Sebagian besar siswa merasa sekeras apapun belajar tidak bisa mendapatkan nilai bagus saat tes matematika, kemudian hampir seluruh siswa merasa soal-soal matematika itu membosankankan, dan hampir seluruhnya juga tidak senang saat pelajaran matematika. Namun sebagian besar merasa siswa senang mendapat peringkat teratas dalam pelajaran matematika Sebagian besar siswa merasa senang jika diakui sebagai murid yang cerdas dalam pelajaran matematika. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Batubara & Ananda . yang menyatakan bahwa banyak siswa memiliki pengalaman negatif dengan Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 181 Jurnal Polinomial. Vol. 4 No. 1 May 2025 pp. 178-185, Desi Meilawati matematika, sehingga mereka percaya bahwa matematika adalah topik yang sulit, membosankan, membuat stres, dan menakutkan bagi anak-anak. Akibatnya, banyak siswa tumbuh tidak menyukai matematika dan menghindari segala sesuatu yang terkait dengannya. Tabel 6. Persentase Indikator Memiliki Keyakinan Pada Kemampuannya Untuk Menyelesaikan Permasalahan Matematika No Pernyataan Indikator 5: Memiliki keyakinan pada 12 (-) 15 (-) 25 ( ) Jumlah siswa Persentase Jumlah siswa Persentase Jumlah siswa Persentase Dari tabel 6 hasil persentase pada indikator kelima berada pada rentang 1% - 25% yang artinya self-concept siswa berada di kriteria kurang baik. Terlihat dari siswa hampir seluruhnya merasa sulit mengerjakan soal matematika, kemudian sebagian besar siswa meenganggap tes matematika adalah hal yang menakutkan. Namun sebagian besar siswa merasa tertantang untuk menyelesaikan soal-soal matematika yang tidak mengerti. Menurut penelitian Mahuda Dkk . menunjukkan bahwa self-concept yang negatif terhadap matematika dapat menimbulkan perasaan tegang, cemas, atau ketakutan yang berlebihan, yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap hasil belajar matematika siswa. Hal ini menunjukkan bahwa siswa dengan self-concept rendah cenderung menganggap matematika sebagai sesuatu yang Tabel 7. Persentase Indikator Memiliki Motivasi Tinggi Dalam Belajar Matematika No Pernyataan Indikator 6 : Memiliki motivasi tinggi dalam belajar matematika 11 ( ) Jumlah siswa Persentase 19 (-) Jumlah siswa Persentase Dari tabel 7 hasil persentase pada indikator keenam berada pada rentang 51% - 75% yang artinya self-concept siswa berada di kriteria baik. Terlihat dari hampir seluruh siswa yakin bisa mendapat nilai bagus dalam pelajaran matematika, kemudian hampir setengahnya siswa rajin belajar matematika. Namun sebagian besar siswa jarang belajar matematika. Sejalan dengan penelitian (Nursanti & Sugiarti, 2. di SMP Al-Islam Taman Sidoarjo menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara self-concept dan motivasi belajar siswa. Tabel 8. Persentase Indikator Memiliki Motivasi Tinggi Menyelesaikan Permasalahan Matematika No Pernyataan Indikator 7 : Memiliki motivasi tinggi 17 (-) Jumlah siswa Persentase 21 ( ) Jumlah siswa Persentase Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 182 Jurnal Polinomial. Vol. 4 No. 1 May 2025 pp. 178-185, Desi Meilawati Dari tabel 8 hasil persentase pada indikator ketujuh berada pada rentang 26% - 50% yang artinya self-concept siswa berada di kriteria cukup baik. Terlihat dari hampir setengah siswa tidak senang bila teman memberikan jawaban soal, kemudian hampir setengahnya siswa mampu menangani soal matematika yang lebih sulit. Namun Sebagian besar siswa senang bila teman memberikan jawaban soal dan Sebagian besar siswa juga tidak mampu menangani soal matematika yang lebih sulit. hal tersebut sejalan dengan Penelitian oleh Siti Mufidah . di Universitas Negeri Semarang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara self-concept terhadap kemampuan menyelesaikan soal matematika tingkat tinggi (HOTS). Tabel 9. Persentase Indikator Yakin Bahwa Ilmu Matematika Berguna Dalam Setiap Kegiatan No Pernyataan Indikator 8: Yakin bahwa ilmu matematika berguna dalam setiap kegiatan 8 (-) 10 (-) 23 ( ) 26 (-) Jumlah siswa Persentase Jumlah siswa Persentase Jumlah siswa Persentase Jumlah siswa Persentase Dari tabel 9 hasil persentase pada indikator kedelapan berada pada rentang 51% - 75% yang artinya self-concept siswa berada di kriteria baik. Terlihat dari hampir seluruhnya siswa merasa matematika akan jarang saya gunakan dalam kehidupan sehari-hari saat saya Kemudian Sebagian besar siswa juga menganggap matematika ada kaitannya dengan kehidupan saya sehari-hari, selanjutnya hampir seluruhnya siswa menggunakan matematika dalam segala hal di kehidupan sehari-hari, dan hampir setengahnya siswa menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut sejalan dengan Penelitian (Holilah L, 2. ini menemukan bahwa siswa dengan self-concept tinggi mampu mengaitkan materi matematika dengan pelajaran lain dan kehidupan sehari-hari. Tabel 10. Persentase Indikator Yakin Bahwa Ilmu Matematika Berguna Dalam Kehidupannya Sekarang Maupun Mendatang No Pernyataan Indikator 9 : Yakin bahwa ilmu matematika berguna dalam kehidupannya sekarang maupun 6 ( ) 18 ( ) 22 (-) Jumlah siswa Persentase Jumlah siswa Persentase Jumlah siswa Persentase Dari tabel 10 hasil persentase pada indikator kesembilan berada pada rentang 51% 75% yang artinya self-concept siswa berada di kriteria baik. Terlihat dari hampir setenganya siswa belajar matematika karena saya tahu betapa pentingnya matematika di kehidupan saya kelak, kemudian hampir seluruhnya siswa juga Memahami ilmu matematika akan membantu saya mencari nafkah di masa depan, dan Sebagian besar siswa merasa penting menjadi ahli matematika saat saya dewasa. Sejalan dengan penelitian (MUSTAGHFIROH, n. ) bahwa Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 183 Jurnal Polinomial. Vol. 4 No. 1 May 2025 pp. 178-185, Desi Meilawati Siswa dengan self-concept tinggi mampu memenuhi semua indikator kemampuan koneksi Hal ini menunjukkan bahwa siswa dengan konsep diri yang positif lebih mampu mengaitkan materi matematika dengan kehidupan sehari-hari, sehingga mereka menganggap matematika penting untuk dipelajari. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis yang telah diuraikan sebelumnya diperoleh hasil self-concept matematis siswa SMP berada pada kriteria baik dengan persentase 54%. Indikator selfconcept yang didominasi dengan kriteria cukup baik yaitu memiliki motivasi tinggi menyelesaikan permasalahan matematika. pada indikator self-concept yang didominasi dengan kriteria kurang baik pada percaya diri dalam mengikuti setiap tahapan proses belajar matematika, dan memiliki keyakinan pada kemampuannya untuk menyelesaikan permasalahan matematika. pada indikator self-concept yang didominasi dengan kriteria baik yaitu dapat menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati, dapat menerima penghargaan tanpa merasa rendah diri, memandang sikap guru selama proses belajar mengajar, memiliki motivasi tinggi dalam belajar matematika, dan yakin bahwa ilmu matematika berguna dalam setiap kegiatan DAFTAR PUSTAKA