Indonesian Health Science Journal Vol. No. Maret 2025 http://ojsjournal. Identifikasi Faktor-Faktor Penyebab Stunting pada Balita di Desa Larangan Tokol Kabupaten Pamekasan Elisa Christiana1* | Reny Eka Darma Saputri1 | Hilmah Noviandry1 | Mukhlish Hidayat1 1 Politeknik Negeri Madura * Corresponding Author: elisa. christiana@poltera. ARTICLE INFORMATION Article history Received 12 March 2025 Revised 14 March 2025 Accepted 27 March 2025 Keywords Stunting. Toddlers. Factors causing Kata kunci Stunting. Balita. Faktor penyebab ABSTRACT Introduction: Stunting is a chronic nutritional problem that has long-term impacts on children's development, both physically and cognitively. Data from the Tlanakan Health Center showed that in August 2023, out of 198 toddlers, 68 toddlers experienced stunting. Objective: to determine the factors that influence stunting in Larangan Tokol Village. Pamekasan Regency. Method: is a type of analytic research with a cross-sectional The samples taken were mothers who had stunted toddlers aged 6-24 months as many as 34 toddlers. The sampling method was purposive This study uses two variables, namely economy, education, exclusive breastfeeding and knowledge as independent variables and stunting as the dependent variable. Data were analyzed using the chi square test. Results: Education, economic and knowledge factors are closely related to the occurrence of stunting, while exclusive breastfeeding does not affect the occurrence of stunting in toddlers. Conclusion: Education, economic and knowledge factors are closely related to the occurrence of stunting, while providing exclusive breastfeeding has no effect on the occurrence of stunting in toddlers. ABSTRAK Pendahuluan: Stunting merupakan masalah gizi kronis yang memiliki dampak jangka panjang pada perkembangan anak, baik fisik maupun Data dari Puskesmas Tlanakan didapatkan bahwa pada bulan Agustus 2023 dari 198 balita terdapat 68 balita yang mengalami stunting. Tujuan: untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting di Desa Larangan Tokol Kabupaten Pamekasan. Metode: merupakan jenis penelitian analytic dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang diambil adalah ibu yang memiliki balita stunting berusia 6-24 bulan sebanyak 34 balita. Cara pengambilan sampel dengan purposive Penelitian ini memiliki dua variable yaitu ekonomi, pendidikan. Pemberian ASI eksklusif dan pengetahuan sebagai variabel independen serta stunting sebagai variable dependen. Data dianalisis menggunakan uji chi square. Hasil: faktor pendidikan, ekonomi dan pengetahuan erat kaitannya dengan terjadinya stunting, sedangkan pemberian asi eksklusif tidak berpengaruh terhadap terjadinya stunting pada balita. Kesimpulan: faktor pendidikan, ekonomi dan pengetahuan erat kaitannya dengan terjadinya stunting, sedangkan pemberian asi eksklusif tidak berpengaruh terhadap terjadinya stunting pada balita. Indonesian Health Science Journal Website: http://ojsjournal. E-mail: Pendahuluan Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek . dari standar usianya(Matahari and Suryani 2. Stunting atau pendek hingga saat ini masih menjadi masalah besar di Indonesian Health Science Journal Vol. No. Maret 2025 http://ojsjournal. Indonesia sebagai akibat dari kurangnya asupan zat gizi kronis yang mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan anak tidak mencapai potensi pertumbuhannya secara Sehingga penurunan stunting penting dilakukan sedini mungkin untuk menghindari dampak jangka panjang yang merugikan seperti terhambatnya tumbuh kembang Pada tahun 2020, diperkirakan ada 149,2 juta anak-anak yang mengalami stunting dimana hal itu setara dengan 22 persen anak balita di seluruh dunia(Susilawati 2. Saat ini. Indonesia berada di urutan kelima di antara negara-negara dengan tingkat stunting tertinggi di dunia(Agritubella. Uthia, and Rosy 2. Berdasarkan integrasi hasil Susenas Maret 2019 dengan Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2019, diketahui bahwa persentase balita stunting di Indonesia adalah 27,7%. Angka ini masih lebih tinggi dari standar WHO yang menetapkan ambang batas sebesar 20% (Fadilah et al. Menurut data kemenkes 2021. Jawa Timur memiliki tingkat stunting 23,5% dan tingkat prevalensi balita stunting di Pamekasan adalah 38,7% (Purnamasari et al. Menurut data Puskesmas Tlanakan didapatkan jumlah keseluruhan balita di Desa Larangan Tokol Sebanyak 198 balita dan untuk jumlah balita yang mengalami stunting pada bulan Agustus tahun 2023 di Desa Larangan Tokol sebanyak 68 balita. Hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di Desa Larangan Tokol Kabupaten Pamekasan, didapatkan hasil bahwa 2 keluarga memiliki balita stunting disebabkan oleh tingkat ekonomi mereka yang masih berada dibawah UMR Kabupaten Pamekasan sehingga tidak dapat memaksimalkan atau memenuhi kebutuhan termasuk gizi anaknya dan terdapat 4 keluarga yang memiliki balita stunting disebabkan oleh tingkat pendidikan ibu yang kurang sehingga ibu tidak memiliki tingkat pengetahuan yang cukup termasuk tidak memberikan ASI eksklusif kepada anaknya. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan stunting, diantaranya adalah pengetahuan ibu tentang status nutrisi mereka, pemberian ASI secara eksklusif, dan makanan pendamping ASI (MPASI) (Barus 2. Faktor genetik, perilaku yang kurang memadai untuk pertumbuhan optimal anak, termasuk perilaku pemberian makan pada balita, faktor perilaku pemberian makan, faktor lingkungan, pendidikan ibu, dan faktor ekonomi orang tua juga dapat menyebabkan terjadinya stunting(Eni 2. Stunting pada anak-anak merupakan salah satu masalah yang cukup serius karena dikaitkan dengan risiko angka kesakitan dan kematian yang lebih tinggi. Stunting juga akan menimbulkan dampak atau masalah jangka pendek dan jangka panjang. Dampak jangka pendek yang akan ditimbulkan meliputi gangguan perkembangan otak, kecerdasan, metabolisme tubuh, gangguan pertumbuhan fisik, dan peningkatan biaya kesehatan. Sedangkan dampak jangka panjang meliputi perkembangan yang tidak optimal dari segi fisik dan kognitif, penurunan kekebalan tubuh yang menyebabkan lebih mudah sakit, dan peningkatan risiko terkena penyakit degenerative (Laily and Indarjo 2. Salah satu cara untuk menangani stunting adalah memberi edukasi kepada calon pengantin ataupun keluarga yang sudah memiliki anak terkait terjadinya stunting, mulai dari faktor penyebab sampai dampak yang akan ditimbulkan (Rahmah and Kurniasari 2. Meningkatkan pengetahuan tentang 1000 Hari Pertama Kehidupan . 0 HPK) bersama dengan penyuluhan juga merupakan pendekatan yang efektif untuk mengatasi stunting. Sebagai perawat ataupun tenaga kesehatan, kita harus dapat mengatasi stunting salah satunya dengan cara menurunkan angka pernikahan dini yang masih sering terjadi, mendorong para ibu hamil untuk memenuhi gizinya dengan benar serta melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin dan juga harus mampu mengajak para remaja untuk mengkonsumsi tablet tambah darah untuk meminimalisir terjadinya stunting dikemudian hari. Penelitian ini dilaksanakan Indonesian Health Science Journal Vol. No. Maret 2025 http://ojsjournal. untuk untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting di Desa Larangan Tokol Kabupaten Pamekasan. Metode Penelitian ini menggunakan metode penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki balita stunting di Desa Larangan Tokol Kabupaten Pamekasan sebanyak 68 balita. Cara pengambilan sampel secara purposive sampling dengan jumlah sampel yaitu 34 balita. Kriteria inkulusi yang digunakan adalah seluruh ibu yang memiliki balita stunting berusia 624 bulan serta ibu yang tidak tuna rungu dan tuna netra. Variabeldalam penelitian ini meliputi ekonomi, pendidikan. Pemberian ASI eksklusif dan pengetahuan sebagai variabel independen serta stunting sebagai variabel dependen. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2024 di desa Larangan Tokol Kabupaten Pamekasan. Data dikumpulkan dari kuesioner yang telah di isi responden, kemudian di analisis secara univariat dalam bentuk tabel frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji chi square. Penggunakan uji chi square untuk menentukan apakah perbedaan antara hasil penelitian terjadi karena kebetulan atau karena hubungan antar Hasil dan Pembahasan Data Umum Tabel 1 Karakteristik responden berdasarkan TB balita stunting TB/U Sangat pendek Pendek Total Frekuensi Persentase Berdasarkan tabel 1 dapat diketaui bahwa karakteristik responden berdasarkan tinggi badan balita stunting berusia 6-24 bulan didapatkan hasil bahwa hampir seluruhnya responden memiliki balita dengan tinggi badan pendek sebanyak 30 balita . ,2%) dan sebagian kecil responden memiliki balita dengan tinggi badan sangat pendek sebanyak 4 balita . ,8%). Tabel 2 Karakteristik responden berdasarkan Pendidikan terakhir orang tua Pendidikan SMP SMA Total Frekuensi Persentase Berdasarkan tabel 2 dapat diketaui bahwa bahwa karakteristik responden berdasarkan pendidikan terakhir orang tua didapatkan hasil hampir setengahnya responden berpendidikan terakhir SMP sebanyak 11 responden . ,3%) dan SMA sebanyak 11 responden . ,3%) dan sebagian kecil berpendidikan tinggi (PT) sebanyak 2 responden . %). Tabel 3 Karakteristik responden berdasarkan ekonomi orang tua TB/U Dibawah UMR Diatas UMR Total Frekuensi Persentase Indonesian Health Science Journal Vol. No. Maret 2025 http://ojsjournal. Berdasarkan tabel 3 dapat diketauibahwa karakteristik responden berdasarkan tingkat ekonomi orang tua didapatkan hasil sebagian besar besar memiliki tingkat ekonomi dibawah UMR (< 2. sebanyak 18 responden . %) dan hampir setengahnya memiliki tingkat ekonomi diatas UMR (Ou 2. sebanyak 16 responden . %). Tabel 4 Karakteristik responden Riwayat pemberian ASI Ekslusif. ASI ekslusif Tidak ASI Ekslusif ASI Ekslusif Total Frekuensi Persentase Karakteristik responden berdasarkan riwayat pemberian ASI eksklusif berdasarkan tabel 4 didapatkan hasil sebagian besar responden tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 19 responden . ,9%) dan hampir setengahnya memberikan ASI eksklusif sebanyak 15 responden . ,1%). Tabel 5 Karakteristik responden berdasarkan tingkat pengetahuan terakhir orang tua Tingkat pengetahuan Kurang Cukup Baik Total Frekuensi Persentase Berdasarkan tabel 5 dapat diketaui bahwa distribusi responden berdasarkan tingkat pengetahuan orang tua didapatkan hasil hampir setengahnya memiliki tingkat pengetahuan yang cukup sebanyak 16 responden . %), dan sebagian kecil memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 8 responden . %). Data Khusus Tabel 6 Tabulasi silang hubungan Pendidikan terakhir orang tua terhadap terjadinya stunting pada balita. Balita stunting Sangat pendek Total Pendidikan terakhir orang tua SMP SMA Total Berdasarkan hasil tabulasi silang hubungan pendidikan terakhir orang tua terhadap terjadinya stunting pada balita menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki balita dengan tinggi badan termasuk di kategori pendek dengan hampir setengahnya berpendidikan SMP sebanyak 11 responden . ,3%) dan SMA sebanyak 11 responden . ,3%) dantidak satupun responden yang memiliki kategori tinggi badan sangat pendek dengan Pendidikan SMP. SMA dan PT . %). Tabel 7 Tabulasi silang hubungan ekonomi orang tua terhadap terjadinya stunting pada balita. Balita stunting Sangat pendek Total Pendidikan terakhir orang tua Dibawah UMR Diatas UMR Total Indonesian Health Science Journal Vol. No. Maret 2025 http://ojsjournal. Hasil Tabulasi Silang hubungan tingkat ekonomi orang tua terhadap terjadinya stunting pada balita menunjukkan bahwa hampir setengahnya memiliki balita dengan tinggi badan yang termasuk dalam kategori pendek sebesar 47% yaitu sebanyak 16 responden dengan tingkat ekonomi diatas UMR Kabupaten Pamekasan sebesar 41% dan tidak satupun responden memiliki tingkat ekonomi diatas UMR Kabupaten Pamekasan dengan balita di kategori sangat pendek . %). Tabel 8 Tabulasi silang hubungan Riwayat pemberian ASI Ekslusif terhadap terjadinya stunting pada balita. Balita stunting Sangat pendek Total Tidak ASI Ekslusif ASI Ekslusif ASI Ekslusif Total Hasil tabulasi silang hubungan riwayat pemberianASI eksklusif terhadap terjadinya stunting pada balita menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki balita dengan tinggi badan yang termasuk dalam kategori pendek sebesar 53% yaitu sebanyak 18 responden tidak memberikan ASI secara eksklusif dan sebagian kecil memiliki balita dengan kategori tinggi badan sangat pendek dimana 1 responden tidak memberikan ASI secara eksklusif yaitu sebesar 3%. Tabel 9 Tabulasi silang hubungan Tingkat pengetahuan terhadap terjadinya stunting pada balita. Balita stunting Sangat pendek Total Kurang Tingkat Pengetahuan Cukup Baik Total Hasil tabulasi silang hubungan tingkat pengetahuan orang tua terhadap terjadinya stunting pada balita menunjukkan bahwa hampir setengahnya memiliki balita dengan tinggi badan yang termasuk dalam kategori pendek sebanyak 15 responden . %) memiliki tingkat pengetahuan yang cukup dan sebagian kecil memiliki balita dengan kategori tinggi badan sangat pendek sebanyak 1 responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup yaitu sebesar 3%. Tabel 10 Hasil Uji Statistik hubungan Tingkat Pendidikan orang tua terhadap terjadinya stunting Personal chi-square Likelihood Ratio Linear-by-linear N of Valid Cases Value Asymtotic Significance . Hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square didapatkan hasil sig. -side. 012 atau = 0. 05 artinya H1 diterima dan H0 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pendidikan orang tua terhadap terjadinya stunting pada balita di Desa Larangan Tokol Kabupaten Pamekasan. Indonesian Health Science Journal Vol. No. Maret 2025 http://ojsjournal. Tabel 11 Hasil Uji Statistik hubungan Tingkat ekonomi terhadap terjadinya stunting Personal chi-square Likelihood Ratio Linear-by-linear N of Valid Cases Value Asymtotic Significance . Hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square didapatkan hasil sig. -side. 045 atau = 0. 05 artinya H1 diterima dan H0 ditolak sehinggadapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat ekonomi orang tua terhadap terjadinya stunting pada balita di Desa Larangan Tokol Kabupaten Pamekasan. Tabel 12 Hasil Uji Statistik hubungan Riwayat pemberian ASI ekslusif terhadap terjadinya stunting Personal chi-square Likelihood Ratio Linear-by-linear N of Valid Cases Value Asymtotic Significance . Hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square didapatkan hasil sig. -side. 185 atau = 0. 05 artinya H1 ditolak dan H0 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara riwayat pemberian ASI eksklusif terhadap terjadinya stunting pada balita di Desa Larangan Tokol Kabupaten Pamekasan. Tabel 13 Hasil Uji Statistik hubungan Tingkat pengetahuan orang tua terhadap terjadinya stunting Personal chi-square Likelihood Ratio Linear-by-linear N of Valid Cases Value Asymtotic Significance . Hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square didapatkan hasil sig. -side. 032 atau = 0. 05 artinya H1 diterima dan H0 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan orang tua terhadap terjadinya stunting pada balita di Desa Larangan Tokol Kabupaten Pamekasan. Pembahasan . Hubungan Tingkat Pendidikan orang tua dengan terjadinya stunting Hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square didapatkan hasil sig. -side. 012 atau O 0. 05 artinya terdapat hubungan antara tingkat pendidikan orang tua terhadap terjadinya stunting pada balita di Desa Larangan Tokol Kabupaten Pamekasan. Hal ini juga sejalan dengan Studi yang dilakukan oleh Nurmalasari dalam(Akbar & Ramli, 2. juga mencatat adanya korelasi signifikan antara tingkat pendidikan ibu dan kejadian stunting pada anak usia 6-59 bulan di Desa Mataram Ilir Kecamatan Seputih Surabaya Lampung Tengah, dan didukung oleh penelitian Tiwari, yang menegaskan bahwa pendidikan ibu Indonesian Health Science Journal Vol. No. Maret 2025 http://ojsjournal. berhubungan dengan kejadian stunting pada anak, khususnya di bidang kesehatan(Akbar and Ramli 2. Hal itu juga diperkuat dengan hasil penelitian pada tabel 6 yang menunjukkan hasil bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pendidikan SMP sebanyak 11 responden dan SMA sebanyak 11 responden . dengan tinggi badan balita berada di kategori pendek. Orang tua dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi biasanya lebih mudah menerima informasi tentang gizi dan kesehatan dari luar daripada orang tua yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah. Namuntidak selalu ibu dengan tingkat pendidikan rendah memiliki anak dengan masalah stunting lebih banyak daripada ibu dengan tingkat pendidikan lebih tinggi. Tingkat pendidikan orang tua memang menjadi faktor pemicu utama masalah gizi, tetapi masih ada banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi terjadinya masalah kurang gizi, terutama terkait dengan stunting. Tingkat pendidikan orang tua, terutama tingkat pendidikan ibu, berperan penting dalam menentukan tingkat kesehatan keluarga. Ibu memiliki peran kunci dalam memberikan nutrisi kepada anak, termasuk menentukan variasi makanan dan mengidentifikasi kebutuhan nutrisi keluarganya (Akbar and Ramli 2. Banyak masyarakat yang memiliki pandangan masih menganggap remeh pentingnya pendidikan, dan kurangnya dukungan keluarga dalam mendorong pencapaian pendidikan yang lebih tinggi. Secara tidak langsung, tingkat pendidikan ibu berdampak pada pengetahuan dan kemampuannya dalam merawat kesehatan anak, khususnya pemahaman mengenai gizi. Keterbatasan ini juga menyebabkan kesulitan bagi ibu dalam memilih makanan yang ekonomis namun tetap menyediakan nutrisi seimbang dan berkualitas, mengingat bahwa kualitas gizi tidak selalu sejalan dengan harga makanan(Nurmalasari. Anngunan, and Febriany Hasil temuan Hizni dalam Husnaniyah & Yulyanti . , menyatakan bahwa risiko stunting pada anak meningkat 2,22 kali lipat pada ibu berpendidikan rendah dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan(Husnaniyah. Yulyanti, and Rudiansyah 2. Hubungan Tingkat ekonomi dengan terjadinya stunting Hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square didapatkan hasil sig. -side. 045 atau O 0. 05 artinya terdapat hubungan antara tingkat ekonomi terhadap terjadinya stunting pada balita di Desa Larangan Tokol Kabupaten Pamekasan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nadiyah yang menyimpulkan bahwa ada korelasi positif dan signifikan antara pendapatan keluarga yang rendah dan kejadian stunting pada anak usia 0Ae23 bulan. Temuan serupa juga terdapat dalam penelitian lain, seperti yang dilakukan oleh Rahayu pada tahun 2018 yang mengatakan bahwa faktor ekonomi berkaitan dengan terjadinya stunting(Yanti. Betriana, and Kartika 2. Kondisi ekonomi sosial memiliki dampak pada kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan gizi balita. Selain itu, faktor ekonomi juga memengaruhi pemilihan jenis makanan tambahan, jadwal pemberian makan, dan gaya hidup sehat, yang secara signifikan berkontribusi pada risiko stunting pada balita. Status sosial ekonomi juga berkaitan dengan pendapatan keluarga, dan kesulitan akses pangan di tingkat rumah tangga, terutama akibat kemiskinan, dapat mengakibatkan masalah gizi, termasuk stunting pada anak-anak(Wahyuni and Fitrayuna 2. Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa tingkat ekonomi dapat mempengaruhi banyak hal seperti daya beli bahan pangan yang baik dan berkualitas bagi anak ataupun seluruh anggota keluarga yang erat kaitannya dengan Indonesian Health Science Journal Vol. No. Maret 2025 http://ojsjournal. pemenuhan gizi anak yang tidak tercukupi dan dapat memicu terjadinya stunting, sehingga sesuai dengan hasil penelitian yaitu tadanya hubungan antara faktor ekonomi orang tua dengan terjadinya stunting pada balita. Tingkat ekonomi yang masih berada dibawah UMR sangat mempengaruhi kualitas hidup anak dan keluarga, sebagai contoh dalam pemenuhan kebutuhan sandang dan pangan. Individu dengan kondisi ekonomi yang kurang biasanya memilih makanan yang lebih terjangkau dan memiliki variasi menu yang terbatas. Hubungan Pemberian ASI Ekslusif dengan terjadinya stunting Hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square didapatkan hasil sig. -side. 185 atau Ou 0. 05 artinya tidak terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif terhadap terjadinya stunting pada balita di Desa Larangan Tokol Kabupaten Pamekasan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Aini et al. , 2. yaitu didapatkan hasil bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara riwayat pemberian ASI dengan kejadian stunting pada anak. Pentingnya memberikan ASI eksklusif terletak pada dampak besar terhadap risiko stunting, yang sering kali terjadi ketika bayi diperkenalkan pada makanan pendamping ASI terlalu cepat. Hal ini dapat mengakibatkan bayi tidak lagi mengonsumsi ASI karena sudah merasa kenyang dengan makanan tambahan, sehingga pertumbuhannya terhambat karena kehilangan nutrisi penting yang terdapat dalam ASI. Berdasarkan tabel 5. 4 didapatkan hasil sebagian besar responden tidak memberikan ASI eksklusif . ,9%). Hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap terjadinya stunting pada balita pada hasil tabel 5. 8 menunjukkan bahwa mayoritas tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 19 responden dengan 1 responden yang memiliki balita stunting di kategori sangat pendek dan 18 responden memiliki balita stunting di kategori pendek. Menurut Mufdlilah dalam (Anita et al. , 2. mengungkapkan bahwa Air Susu Ibu (ASI) merupakan cairan nutrisi yang dihasilkan oleh ibu dan mengandung semua zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. ASI eksklusif, seperti yang dijelaskan oleh Kusumayanti & Nindya, merujuk pada praktik memberi bayi hanya ASI tanpa tambahan cairan atau makanan padat selama enam bulan pertama kehidupan. ASI eksklusif memiliki sifat protektif terhadap stunting, meskipun hasilnya tidak signifikan. Pada anak dari keluarga kaya, kurang optimalnya pemberian ASI eksklusif bisa diimbangi dengan makanan bergizi dari sumber hewani yang kaya protein dan mineral penting untuk pertumbuhan. Sebaliknya, bagi anak dari keluarga miskin, kurangnya ASI eksklusif dan kurangnya makanan bergizi menjadi faktor utama risiko stunting, karena ketidakmampuan membeli MPASI berkualitas. Oleh karena itu, optimalisasi pemberian ASI eksklusif sangat penting, terutama bagi anak dari keluarga miskin (Paramashanti 2. Hubungan Tingkat pengetahuan dengan terjadinya stunting Hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square didapatkan hasil sig. -side. 032 atau O 0. 05 artinya terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap terjadinya stunting pada balita di Desa Larangan Tokol Kabupaten Pamekasan. Hal itu dibuktikan dengan jawaban kuesioner yang mayoritas responden menjawab pertanyaan tentang dampak dan penyebab termasuk cara mengatasi stunting dengan salah. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ibrahim dan Faramita pada tahun 2019, hasil studi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dan kejadian stunting. Untuk mencapai asupan gizi yang optimal, pengetahuan ibu dalam menyusun menu gizi yang seimbang menjadi sangat penting. Tingkat pengetahuan ibu mengenai gizi Indonesian Health Science Journal Vol. No. Maret 2025 http://ojsjournal. memiliki dampak pada sikap dan perilaku mereka dalam memastikan pemenuhan gizi melalui makanan(Ibrahim and Faramita 2. Berdasarkan tabel 5 juga dikatakan bahwa hampir setengahnya responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup sebesar 47%. Hubungan tingkat pengetahuan terhadap terjadinya stunting pada balita di Desa Larangan Tokol Kabupaten Pamekasan pada hasil tabel 9 menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan yang cukup sebanyak 16 responden dengan 1 responden memiliki balita stunting yang berada di kategori pendek dan 15 responden memiliki balita stunting di kategori pendek. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian Rahayu et al . yang mengatakan bahwa pengetahuan ibu yang cukup tentang gizi dapat memengaruhi pola makan balita, yang pada gilirannya berdampak pada status gizi mereka. Jika seorang ibu memiliki pemahaman yang baik, ia mampu memilih dan memberikan makanan yang tepat bagi balitanya, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi yang diperlukan(Rahayu 2. Pengetahuan orang tua menjadi peran utama dalam meningkatkan kondisi gizi anak agar dapat mencapai pertumbuhan yang optimal. Terbatasnya pengetahuan, kurangnya pemahaman tentang pola makan yang sehat, dan rendahnya kesadaran terhadap stunting dapat mempengaruhi sikap dan perilaku ibu dalam memberikan makanan kepada anak, termasuk dalam pemilihan jenis dan jumlah makanan yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal. Semakin baik pemahaman seorang ibu tentang stunting dan kesehatan, semakin positif pandangan ibu terhadap pola makan anak. Sebaliknya, pada keluarga yang memiliki pengetahuan terbatas, anak-anak cenderung makan tanpa memperhatikan kebutuhan gizinya. Pemahaman yang memadai dari orang tua juga dapat meningkatkan kondisi gizi anak, yang berperan penting dalam mencapai pertumbuhan optimal. Kurangnya pengetahuan tentang kebiasaan makan sehat dan stunting dapat memengaruhi sikap dan perilaku ibu dalam memberikan makanan kepada anak, termasuk jenis dan jumlah yang sesuai untuk pertumbuhan yang optimal. Pengetahuan ibu yang tinggi tentang stunting dan kesehatan berkaitan dengan penilaian makanan yang baik, sedangkan keluarga yang memiliki pengetahuan rendah cenderung memberikan anak makanan yang tidak memenuhi kebutuhan gizi(Hasnawati. AL, and Latief 2. Berdasarkan hasil penelitian diatas, didapatkan hasil adanya hubungan faktor pengetahuan orang tua dengan terjadinya stunting karena masih banyak responden memiliki pengetahuan yang kurang, hal itu kemungkinan dikarenakan oleh kurangnya informasi, kesalahan pemahaman, dan terkait dengan tingkat Kesalahan pemahaman itu terjadi karena pengetahuan yang terbatas tentang kesehatan anak dan kurangnya info tentang stunting. Meskipun ada orang tua yang tahu banyak, masih ada anak-anak mereka yang stunting. Ini karena meski tahu banyak, cara mereka merawat anak tidak sesuai dengan pengetahuan mereka. Kesimpulan Faktor pendidikan, ekonomi dan pengetahuan berpengaruh terhadap terjadinya stunting, sedangkan riwayat pemberian asi eksklusif tidak berpengaruh terhadap terjadinya stunting pada balita. Pencegahan dan penangan stunting membutuhkan pendekatan yang holistic dan terintegrasi dengan melibatkan berbagai sektor dan tingkatan. Ibu memegang kunci dalam mencegah stunting, sehingga upaya yang bisa dilakukan ibu untuk mencegah Indonesian Health Science Journal Vol. No. Maret 2025 http://ojsjournal. stunting adalah melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin, konsumsi makanan bergizi minum tablet tambah darah dan istirahat yang cukup. Acknowledgments Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Karena berkat, rahmat dan karunia serta mukjizat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan baik. Secara khusus penulis mengucapkan terimakasih kepada Direktur Politeknik Negeri Madura yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian dan melakukan pendampingan selama proses penelitian. Terimakasih juga kepada ibu balita warga Larangan Tokol atas partisipasinya yang telah meluangkan waktunya untuk menjadi responden. Daftar Pustaka