EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Februari 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational KEMAMPUAN MENULIS AYAT AL-QURAoAN MAHASISWA PAI DALAM MATA KULIAH KHAT IMLAAo DI IAIN PALANGKA RAYA Mahmudi 1. Saiful Lutfi 2. Nurul Hikmah 3 Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya e-mail: Mahmudiaja86@gmail. ABSTRAK Kemampuan menulis ayat Al-QurAoan merupakan salah satu keterampilan penting yang harus dimiliki oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), mengingat banyaknya sumber ajaran Islam yang menggunakan bahasa Arab sebagai medium utama. Salah satu mata kuliah yang mendukung penguasaan keterampilan ini adalah Khat ImlaAo, yang bertujuan membekali mahasiswa dalam menulis huruf hijaiyah sesuai kaidah penulisan yang benar. Namun, berdasarkan pengamatan awal di IAIN Palangka Raya, masih ditemukan mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam menulis ayat Al-QurAoan dengan tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan mahasiswa PAI IAIN Palangka Raya dalam menulis ayat AlQurAoan pada mata kuliah Khat ImlaAo, serta mengidentifikasi kendala yang mereka hadapi selama proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap 38 mahasiswa yang mengikuti perkuliahan Khat ImlaAo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 84,2% mahasiswa telah memenuhi standar penulisan ayat Al-QurAoan sesuai dengan kaidah Khat ImlaAo, sementara 15,8% lainnya masih mengalami kesulitan. Kendala utama yang dihadapi meliputi minimnya pengalaman belajar sebelumnya, kesulitan motorik saat menulis, pemahaman teori yang terbatas, latar belakang pendidikan sekolah umum, serta kurangnya latihan mandiri. Penelitian ini merekomendasikan bimbingan intensif, penggunaan media pembelajaran interaktif, serta penguatan motivasi dan disiplin latihan sebagai solusi untuk meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa secara optimal. Kata Kunci: Khat ImlaAo. Kemampuan Menulis. Mahasiswa PAI ABSTRACT The ability to write QurAoan verses is one of the essential skills that must be possessed by students of the Islamic Education (PAI) Study Program, considering the significant number of Islamic sources that use Arabic as the primary medium. One of the courses that supports the mastery of this skill is Khat ImlaAo, which aims to equip students with the ability to write hijaiyah letters in accordance with proper writing rules. However, based on preliminary observations at IAIN Palangka Raya, some students still experience difficulties in writing QurAoanic verses accurately. This study aims to determine the ability of PAI students at IAIN Palangka Raya in writing QurAoanic verses in the Khat ImlaAo course, as well as to identify the challenges they face during the learning process. This research uses a qualitative descriptive method with a case Data were collected through observation, interviews, and documentation involving 38 students enrolled in the Khat ImlaAo course. The findings indicate that 84. 2% of students met the standard of QurAoanic verse writing in accordance with Khat ImlaAo rules, while the remaining 15. 8% still faced difficulties. The main obstacles encountered include limited prior learning experience, motor difficulties in writing, limited theoretical understanding, general education backgrounds, and lack of independent practice. This study recommends Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Februari 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational intensive guidance, the use of interactive learning media, and strengthening motivation and disciplined practice as solutions to optimally improve studentsAo writing skills. Keywords: Khat ImlaAo. Writing Skills. PAI Students PENDAHULUAN Bahasa Arab memegang peranan penting dalam peradaan Islam, baik itu dari segi bahasa agama maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Menurut Chejne dalam bukunya The Arabic Language: Its Role in History, bahasa Arab digunakan oleh sekitar seratus juta penduduk yang tersebar di wilayah luas dan strategis di Timur Tengah. Bahasa ini berstatus sebagai bahasa nasional di beberapa negara Afrika Utara, termasuk Maroko. Aljazair. Tunisia. Libya. Mesir, dan Sudan. Selain itu, bahasa Arab juga digunakan secara luas di negara-negara Semenanjung Arab seperti Arab Saudi. Yaman. Kuwait. Irak. Yordania. Lebanon, dan Suriah (Ahmadi & Ilmiani, 2. Sebagai bahasa agama, bahasa Arab digunakan dalam berbagai aspek ibadah umat Islam, seperti salat, doa, serta pembacaan ayat suci Al-QurAoan. Selain itu, banyak teks keislaman klasik, seperti hadits, tafsir, fiqih, dan ilmu kalam, ditulis dalam bahasa Arab. Dalam penelitian Saja et al. , . menegaskan bahwa, bahasa Arab merupakan bahasa yang sangat penting dalam peradaban Islam dan memiliki penggunaan yang luas dalam bidang keagamaan, pendidikan, serta komunikasi internasional Di sisi lain, sebagai bahasa ilmu pengetahuan, bahasa arab juga menjadi sarana utama dalam perkembangan berbagai disiplin ilmu, salah satunya filsafat, kedokteran, matematika, dan astronomi yang berkembang pesat di era keemasan Islam. Hal ini diperkuat dengan pendapat Hikmah . , bahwasanya salah satu kitab paling sering terdengar dan terkenal yaitu Kitab Kuning, ditulis dalam bahasa Arab dan menggunakan huruf Arab. Dengan demikian, bahasa Arab bukan hanya sekedar alat untuk berkomunikasi, tetapi juga kunci utama dalam menggali khazanah keilmuan Islam yang telah diwariskan dari generasi ke generasi selanjutnya. Berbicara mengenai bahasa Arab, erat kaitannya dengan Pendidikan Agama Islam (PAI). Sebagaimana yang telah dituangkan ke dalam pendidikan bahasa Arab di ajarkan untuk membangun keterampilan membaca, menulis, mendengar, dan berbicara sesuai dengan yang diamanatkan dalam Peraturan Menteri Agama (Permena. Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 berbunyi AuStandar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab untuk Pendidikan Dasar pada Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah, serta untuk Pendidikan Menengah pada Madrasah Aliyah meliputi struktur mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab, lingkup materi minimal, dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimalAy. Selaras dengan pendapat yang dikemukan Jazuli . di dalam artikelnya bahwa. Bahasa Arab merupakan mata kuliah wajib yang harus dipelajari oleh mahasiswa, dengan tujuan untuk mendorong, membimbing, mengembangkan, dan membina kemampuan berbahasa serta menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa Arab. Hal ini mencakup kemampuan reseptif, yaitu mendengar dan membaca, serta kemampuan produktif, yaitu berbicara dan menulis. Kemampuan reseptif merujuk pada keterampilan memahami ucapan orang lain dan isi bacaan, sedangkan kemampuan produktif mengacu pada keterampilan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, baik secara lisan maupun tulisan. Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran yang menjadi pondasi dalam membentuk pemahaman keagamaan terhadap peserta didik. Dalam pembelajarannya, selain mengajarkan nilai-nilai keislaman. Pendidikan Agama Islam menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa utama dalam sumber ajaran Islam. Seperti halnya bahasa Arab banyak ditemukan dalam kitab suci Al-QurAoan. Hadits-Hadits, serta berbagai literatur keislaman klasik maupun modern. Diperkuat dengan penelitian yang dilakukan Nurul Hikmah yang Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Februari 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational menyebutkan. Ausebagai literatur keagamaan berbahasa Arab, kitab kuning merupakan materi pokok dalam proses pembelajaran di Pesantren dan Madrasah guna mengembangkan pengajaran agama Islam. Kitab ini umumnya dipahami sebagai karya keagamaan berbahasa Arab yang ditulis dengan aksara Arab, disusun oleh para ulama dan pemikir Muslim terdahulu, khususnya yang berasal dari kawasan Timur TengahAy (Hikmah, 2. Ini menunjukkan bahwa hampir semua etentitas Pendidikan Agama Islam, disekolah berbasis Islam khususnya memiliki keterikatan erat dengan bahasa Arab, mengingat hampir semua aktivitas maupun materi ajar berhubungan dengan bahasa tersebut. Oleh karena itu, pemahaman bahasa Arab menjadi salah satu faktor penting dalam mempelajari ilmu-ilmu agama Islam secara lebih mendalam. Dalam proses pembelajaran, bahasa Arab diajarkan dengan berbagai pendekatan, mulai dari aspek pemahaman hingga keterampilan komunikasi. Salah satu aspek yang paling sering menonjol dalam pendidikan bahasa arab adalah keterampilan menulis atau biasa disebut dengan maharah al-kitabah yang mencangkup semua aktivitas menulis baik itu menulis kata, kalimat, hingga teks panjang dalam bahasa Arab. Keterampilan menulis . aharah al-kitaba. merupakan keterampilan berbahasa yang paling tinggi di antara empat keterampilan bahasa Menulis adalah suatu aktivitas yang berkaitan erat dengan proses berpikir serta kemampuan mengekspresikan ide dalam bentuk tulisan. Kegiatan menulis tergolong kompleks, karena menuntut kemampuan untuk menyusun dan mengorganisasikan ide secara runtut dan logis, serta menyajikan tulisan sesuai dengan ragam bahasa tulis dan kaidah penulisan yang berlaku (Munawarah & Zulkiflih, 2. Ditimpali dengan pendapat NisaAo & NiAomah . , bahwa MahArah al-KitAbah merupakan keterampilan yang paling sulit dikuasai, karena menulis memerlukan kemampuan yang bersifat kompleks. Di antara kemampuan yang diperlukan adalah kemampuan berpikir secara teratur dan logis, kemampuan menyampaikan gagasan dengan jelas, penggunaan bahasa yang efektif, serta keterampilan menerapkan kaidah penulisan dengan baik. n Keterampilan ini menjadi fundamental karena hampir seluruh sumber utama dalam Islam, termasuk Al-QurAoan dan kitab-kitab klasik ditulis dalam bahasa Arab. Oleh sebab itu, selain kemampuan membaca, mahasiswa PAI yang notabennya akan hidup di lingkungan masyarakat dan menjadi teladan harus memiliki keterampilan menulis yang baik untuk memahami dan menyampaikan ajaran Islam secara tertulis dengan benar. Pemikiran ini sejalan dengan Tambunan et al. , . yang menyatakan, mahasiswa harus dilatih agar terbiasa menulis huruf dan kata secara tepat, sesuai dengan kaidah penulisan yang telah ditetapkan oleh para ahli bahasa. Hal serupa juga dikemukakan oleh Rohhani et al. , . , untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan menulis huruf dan kalimat dalam bahasa Arab secara benar dan indah. Program Studi Pendidikan Bahasa Arab STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya memasukkan mata kuliah Khath ke dalam struktur kurikulum. Mata kuliah Khath ini bahkan menjadi bagian dari kurikulum wajib institusi yang harus diikuti oleh seluruh mahasiswa pada semester satu. Menunjang keterampilan menulis pada mahasiswa, pembelajaran bahasa Arab dalam PAI umumnya mencakup 2 metode penulisan yaitu, khat dan imlaAo. Istilah AukhatAy dalam bahas arab dikenal dengan kaligrafi, yang memiliki arti tulisan tangan, garis dasar, atau goresan pena (Lutfi et al. , 2. Sedangkan imla. ImlaAo adalah kegiatan menulis huruf sesuai dengan posisi yang benar dalam suatu kata, dengan tujuan menghindari kesalahan makna. Secara singkat, imlaAo merupakan kajian sekaligus penerapan teori penulisan huruf hijaiyah dengan tepat, baik dalam bentuk kata tunggal, kalimat dalam teks, maupun penggunaan tanda baca (Prastyo & Kholisin, 2. Dalam konteks PAI, keterampilan menulis ini sangat relevan, karena banyak materi ajar yang meharuskan mahasiswa untuk memahami ayat-ayat Al-QurAoan. Hadits, serta teks-teks keislaman lainnya. Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Februari 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational Namun, berdasarkan observasi tidak langsung dari pengalaman peneliti saat melaksanakan PPL 1 (Praktik Mengajar . di IAIN Palangka Raya pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), peneliti menemukan bahwa dari 40 mahasiswa PAI di kelas yang mengikuti mata kuliah Khat ImlaAo dan PPL 1, terdapat 15 mahasiswa yang masih dinilai kurang dalam menuliskan ayat-ayat Al-QurAoan, hal ini terlihat dari ketidaktepatan dalam penulisan huruf-huruf hijaiyah. Yang dimaksud dengan "kurang tepat" di sini adalah cara menulis ayat Al-QurAoan yang belum sesuai dengan kriteria penulisan huruf hijaiyah dalam materi pembelajaran. Selain itu, mahasiswa juga belum mampu menulis ayat Al-QurAoan dengan benar, baik ketika didikte maupun saat diperbolehkan menyalin ayat dengan melihat teks. Dari fenomena yang terjadi diatas, peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana kemampuan mahasiswa PAI dalam menulis ayat Al-QurAoan serta kendala apa saja yang mereka alami selama mengikuti perkuliahan pada mata kuliah Khat ImlaAo. Oleh karena itu, peneliti mengangkat judul: AuKemampuan Menulis Ayat Al-QurAoan Mahasiswa PAI dalam Mata Kuliah Khat ImlaAo di IAIN Palangka RayaAy. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data yang diperoleh, baik berupa kata-kata, gambar, maupun perilaku, tidak disajikan dalam bentuk angka atau statistik, melainkan diuraikan secara naratif melalui penjelasan atau deskripsi mengenai situasi atau kondisi yang diteliti (Khadavi et al. , 2. Pendekatan ini bertujuan untuk menggambarkan dan memahami secara mendalam kemampuan mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Palangka Raya dalam menulis ayat Al-QurAoan pada mata kuliah Khat ImlaAo, serta mengungkap berbagai kendala yang mereka hadapi selama proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan fokus pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Palangka Raya yang mengikuti mata kuliah Khat ImlaAo. Pendekatan fenomenologi dipilih untuk memperoleh pemahaman yang mendalam terkait keterampilan menulis ayat Al-QurAoan serta berbagai faktor yang mempengaruhinya dalam konteks dan situasi tertentu. Adapun subjek penelitian adalah mahasiswa PAI Semester 6 IAIN Palangka Raya yang sedang mengikuti perkuliahan Khat ImlaAo. Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan kampus IAIN Palangka Raya, berkisar dari 7 Maret 2025 sampai dengan 20 Maret 2025. Teknik pemilihan informan dilakukan dengan purposive sampling, hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa responden memiliki pengalaman yang relevan dengan penulisan Khat ImlaAo, sehingga data yang diperoleh bersifat lebih representatif dan sesuai dengan kebutuhan penelitian (Putra et al. , 2. Pengumpulan data yang dilakukan melalui beberapa tahap penelitian, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pertama, peneliti melakukan pengamatan langsung terhadap proses pembelajaran Khat ImlaAo, termasuk cara mahasiswa menulis ayat Al-QurAoan, baik melalui kegiatan dikte maupun penyalinan teks. Kedua, wawancara mendalam dilakukan terhadap mahasiswa dan dosen pengampu mata kuliah untuk menggali informasi terkait kemampuan menulis, metode pembelajaran yang diterapkan, serta kendala-kendala yang dihadapi selama proses belajar mengajar. Ketiga. Peneliti mengumpulkan berbagai dokumen hasil tulisan mahasiswa, seperti tugas, latihan, dan ujian yang berkaitan dengan penulisan ayat Al-QurAoan, sebagai bahan pendukung dalam penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Kemampuan Menulis ayat Al-QurAoan Mahasiswa PAI Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Februari 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational Keterampilan menulis Al-QurAoan merujuk pada kemampuan siswa dalam menyusun huruf-huruf hijaiyah menjadi rangkaian kalimat atau ayat-ayat Al-QurAoan dengan tanda baca yang sesuai. Setiap bahasa memiliki aturan dan struktur yang berbeda, termasuk bahasa Arab yang dikenal memiliki pola kalimat yang unik dan kompleks. Bahasa Arab juga dinilai memiliki makna yang mendalam serta kaidah penulisan khusus. Menurut Solihah . , penulisan huruf-huruf Al-QurAoan atau huruf Arab memiliki beberapa ketentuan, yaitu: ditulis dari kanan ke kiri, . beberapa huruf dapat disambung, sementara yang lain tidak dapat disambung, serta . perlu memahami bentuk huruf sesuai letaknya dan bunyinya dalam kata. Penerapan keterampilan ini terlihat dalam mata kuliah Khat ImlaAo, berdasarkan dokumentasi pengumpulan tugas yang diberikan kepada dosen mata kuliah Khat ImlaAo, sebanyak 38 mahasiswa yang mengikuti perkuliahan Khat ImlaAo telah melaksanakan tugas utama, yaitu menulis khat nama sendiri menggunakan kaidah penulisan huruf Arab yang diajarkan dalam mata kuliah tersebut. Setiap tugas mahasiswa dinilai berdasarkan aspek kerapian, bentuk huruf hijaiyah, kesesuaian posisi huruf dalam kata, sambungan antarhuruf, serta penggunaan tanda baca yang sesuai dengan kaidah Khat ImlaAo. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 38 mahasiswa yang mengerjakan tugas, sebanyak 32 mahasiswa atau sekitar 84,2% telah memenuhi standar penulisan Khat ImlaAo. Mereka mampu menulis dengan baik sesuai kaidah yang ditetapkan, menunjukkan penguasaan dalam membentuk huruf hijaiyah secara proporsional, menyusun kata dengan benar, serta menerapkan tanda baca yang sesuai. Namun, masih terdapat 6 mahasiswa . ,8%) yang belum memenuhi standar yang Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya pemahaman terhadap bentuk huruf, kesalahan dalam menyambung huruf, serta penggunaan tanda baca yang tidak Fakta ini di dapat dari hasil wawancara singkat terhasap mahasiswa yang telag mengikuti proses pembelajaran Khat ImlaAo yang dilakukan setelah pembelajaran selesai. Ditemukannya kutipan wawancara singkat dari 6 mahasiswa tesebut sebagaimana berikut ini: Mahasiswa 1 menyampaikan. AuSaya kesulitan membentuk huruf karena tangan saya kurang luwes saat memegang pulpen. Ay Mahasiswa 2 berkata. AuSaya tidak terbiasa menulis ayat Al-QurAoan, jadi masih bingung membentuk hurufnya. Ay Mahasiswa 3 mengaku. AuSaya jarang menulis Arab, jadi tulisan saya masih belum fasih. Ay Mahasiswa 4 menjelaskan. AuTangan saya kaku, dan huruf yang saya tulis belum sesuai kaidah Ay Mahasiswa 5 mengatakan. AuSaya dulu sekolah di sekolah umum, jadi belum pernah diajarkan menulis ayat Al-QurAoan sebelumnya. Ay Sementara itu. Mahasiswa 6 menambahkan. AuSaya kurang berlatih mandiri. Biasanya hanya menulis saat pelajaran saja. Ay Ketidaksesuaian ini menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa masih membutuhkan bimbingan lebih lanjut dalam memahami dan menerapkan kaidah Khat ImlaAo dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang lebih efektif untuk membantu mahasiswa meningkatkan keterampilan menulis ayat Al-QurAoan dengan lebih baik. Berikut ini hasil dokumentasi dari pengamatan terhadap proses belajar Khat ImlaAo : Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Februari 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational Gambar 1. Pembelajaran Khat ImlaAo Kendala Mahasiswa PAI dalam Menulis Al-QurAoan Mata Kuliah Khat ImlaAo Dari hasil yang telah diperoleh oleh peneliti, melalui wawancara mendalam dengan enam mahasiswa yang belum memenuhi kriteria penulisan Khat ImlaAo, ditemukan beberapa faktor utama yang menyebabkan kesulitan dalam menulis ayat Al-QurAoan. Kendala-kendala ini beragam, mulai dari latar belakang pendidikan sebelumnya hingga kurangnya latihan menulis secara mandiri. Faktor pertama yang menjadi kendala adalah keterbatasan pengalaman belajar Sebagian mahasiswa menyampaikan bahwa mereka pernah belajar di Taman Pendidikan Al-QurAoan (TPQ), tetapi pembelajaran yang diterima hanya sebatas pengenalan dan penulisan huruf hijaiyah dasar. Mereka tidak mendapatkan materi lanjutan mengenai kaidah penulisan khat atau teknik penulisan yang lebih kompleks. Akibatnya, ketika mereka diminta menulis ayat Al-QurAoan secara utuh dengan kaidah khat yang benar, mereka mengalami kesulitan dan merasa kurang percaya diri dalam menerapkannya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa keterampilan menulis ayat Al-QurAoan mahasiswa sangat dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, intensitas latihan, dan pemahaman terhadap teori Khat ImlaAo. Mahasiswa dengan pengalaman belajar sebelumnya di TPQ atau madrasah cenderung lebih siap dalam menghadapi mata kuliah ini. Sebaliknya, mahasiswa dari sekolah umum memerlukan adaptasi yang lebih besar. Pendapat ini didukung dengan penelitian Shavira et al. , . yang menyatakan, salah satu faktor yang menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari tulisan Arab adalah keterbatasan akses belajar di luar lingkungan sekolah. Menurut guru pengampu, latar belakang siswa dalam mempelajari bahasa Arab turut memengaruhi hasil belajar mereka dalam mata pelajaran tersebut. Faktor kedua adalah kendala motorik yang dialami oleh beberapa mahasiswa. Beberapa dari mereka mengaku mengalami kekakuan tangan saat memegang dan mengendalikan alat Padahal, penulisan khat membutuhkan presisi dan kelenturan dalam setiap goresan huruf. Khat ImlaAo menuntut presisi dan keluwesan tangan, sehingga kekakuan saat menulis dapat menyebabkan bentuk huruf menjadi tidak sempurna dan tidak sesuai dengan kaidah penulisan. Kondisi ini sejalan dengan pendapat Kesuma et al. , . , keterampilan menulis tidak diperoleh secara otomatis, melainkan melalui latihan dan praktik yang konsisten. Menulis merupakan sarana komunikasi tidak langsung yang harus dikuasai melalui proses pembelajaran, bukan sesuatu yang diwariskan secara alami. Kesulitan ini diperparah oleh minimnya latihan manual dalam menulis huruf Arab, baik selama pendidikan sebelumnya maupun dalam Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Februari 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational Keterbatasan latihan ini menyebabkan mahasiswa sulit menyesuaikan diri dengan tuntutan teknik menulis yang lebih rinci dan sistematis. Mahasiswa yang tidak rutin berlatih di luar jam perkuliahan cenderung mengalami stagnasi kemampuan, sehingga kesalahan dalam penulisan tidak segera diperbaiki dan terus berulang. Selain itu, kesulitan motorik yang dialami sebagian mahasiswa, seperti tangan yang kaku atau kesulitan dalam mengendalikan pena, turut memperburuk kualitas tulisan mereka. Oleh karena itu, latihan rutin yang konsisten serta penguasaan teori yang baik menjadi faktor penting agar keterampilan menulis ayat Al-QurAoan dapat berkembang secara optimal. Faktor ketiga yang ditemukan adalah kurangnya pemahaman mahasiswa mengenai kaidah Khat ImlaAo. Banyak mahasiswa belum memahami aturan bentuk huruf dalam berbagai posisi, seperti awal, tengah, dan akhir kata, serta penggunaan tanda baca . yang tepat. Pemahaman terhadap kaidah Khat ImlaAo sangat penting dalam pembelajaran menulis Al-QurAoan karena kaidah ini berfungsi untuk menjaga keindahan, keterbacaan, dan ketepatan penulisan. Pendapat ini selarasan dengan penelitian Fauziah et al. , . bahwa, dalam mempelajari dan membaca teks berbahasa Arab, seseorang harus mengikuti kaidah yang berlaku. Jika pembacaan tidak sesuai dengan kaidah tersebut, maka dapat menyebabkan disorientasi makna dalam teks yang disampaikan. Ini menunjukkan bahwa kaidah menjadi pondasi utama dalam suatu bidang atau disiplin ilmu tertentu. Namun, dalam penelitian ini, ditemukan bahwa sebagian mahasiswa memiliki keterbatasan akses terhadap referensi tambahan dan kurang inisiatif dalam mencari sumber belajar lain di luar materi yang diberikan oleh dosen. Hal ini menyebabkan pemahaman mereka terhadap Khat ImlaAo kurang optimal dan berdampak pada hasil penulisan yang tidak sesuai dengan kaidah yang ditetapkan. Selain itu, wawasan mereka terkait kaidah penulisan khat ini baru diperoleh saat perkuliahan, sehingga mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi. Faktor keempat berkaitan dengan latar belakang pendidikan mahasiswa. Banyak mahasiswa yang menyatakan bahwa mata kuliah Khat ImlaAo adalah pengalaman pertama mereka dalam mempelajari khat. Sebagian besar dari mereka berasal dari sekolah berbasis umum, bukan dari Madrasah atau Pesantren yang umumnya telah mengenalkan kaidah Khat ImlaAo sejak dini. Hal ini sejalan dengan teori pembelajaran behaviorisme dalam penelitian Anugrah . , yang menyatakan Perubahan perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan jika dilakukan secara berulang dan melalui pelatihan. Dalam konteks ini, mahasiswa yang sebelumnya telah mendapatkan pembelajaran Khat ImlaAo sejak dini di Madrasah atau Pesantren memiliki pengalaman yang lebih matang dan lebih mudah menyesuaikan diri dalam mata kuliah ini, karena mereka telah mengalami reinforcement . dari pembelajaran sebelumnya. Sebaliknya, mahasiswa yang berasal dari sekolah berbasis umum mengalami tantangan lebih besar karena mereka baru pertama kali diperkenalkan dengan sistematika penulisan khat secara Mahasiswa yang berasal dari sekolah umum membutuhkan bimbingan yang lebih intensif dari dosen atau teman sebaya yang lebih mahir dalam Khat ImlaAo agar mereka dapat menyesuaikan diri dengan lebih cepat. Tanpa adanya bimbingan dan latihan yang memadai, mereka akan menghadapi kesulitan dalam memahami dan menerapkan kaidah penulisan dengan benar. Solusi untuk meningkatkan kemampuan menulis ayat Al-QurAoan, disarankan adanya bimbingan intensif, penggunaan media pembelajaran interaktif, serta penguatan motivasi dan disiplin latihan mandiri. Ketersediaan sumber belajar yang memadai juga menjadi kunci dalam mendukung penguasaan Khat ImlaAo secara optimal. Bimbingan intensif sangat diperlukan, terutama bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan, melalui sesi tambahan menulis atau program remedial, agar mereka mendapat pendampingan langsung dari dosen atau tutor dalam Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Februari 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational memperbaiki kesalahan. Di sisi lain, media pembelajaran interaktif seperti video tutorial, aplikasi menulis khat, dan modul digital dapat membantu mahasiswa belajar secara mandiri sekaligus meningkatkan minat mereka dalam melatih keterampilan menulis huruf Arab dengan Penerapan metode pengajaran yang kreatif dan interaktif menjadi kunci untuk meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa dalam mempelajari tata bahasa dan ejaan. Kegiatan seperti latihan menulis, permainan kata, dan diskusi kelompok mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus efektif. Dengan pendekatan ini, guru dapat mendorong partisipasi aktif siswa, sehingga pemahaman dan penguasaan mereka terhadap kaidah imla pun semakin meningkat (Nugraha et al. , 2. Motivasi dan kedisiplinan dalam berlatih secara mandiri memiliki peran penting, karena mahasiswa harus menyadari bahwa keterampilan menulis ayat Al-QurAoan adalah tanggung jawab ilmiah sekaligus religius yang tidak boleh diabaikan. Pembiasaan juga diperlukan dalam hal ini, sebagaimana pendapat Imroatun et al, . , yang menyatakan Pembiasaan merupakan suatu tindakan yang dilakukan secara sengaja dan berulang dengan tujuan membentuk kebiasaan. Inti dari pembiasaan terletak pada pengalaman yang terus-menerus diamalkan. Proses ini merupakan bentuk praktik berulang yang memberikan pengaruh besar dalam proses pembelajaran. Komitmen pribadi untuk terus berlatih menjadi kunci keberhasilan, yang harus didukung oleh ketersediaan sumber belajar memadai, seperti buku pedoman Khat ImlaAo, contoh-contoh tulisan, dan akses ke perpustakaan digital guna memperkuat pemahaman teori sekaligus penerapan keterampilan menulis secara KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Palangka Raya memiliki kemampuan menulis ayat Al-QurAoan yang baik pada mata kuliah Khat ImlaAo, di mana 84,2% mahasiswa dinyatakan memenuhi standar Namun, masih terdapat 15,8% mahasiswa yang belum mampu menulis dengan tepat sesuai kaidah khat dan imlaAo. Kendala utama yang mereka hadapi meliputi minimnya pengalaman belajar menulis huruf Arab secara formal, kesulitan motorik saat menulis, keterbatasan pemahaman terhadap teori Khat ImlaAo, latar belakang pendidikan yang tidak mendukung, serta rendahnya intensitas latihan mandiri. Oleh karena itu, untuk meningkatkan keterampilan menulis ayat Al-QurAoan, diperlukan bimbingan intensif, penggunaan media pembelajaran interaktif, peningkatan motivasi serta kedisiplinan dalam berlatih, serta penyediaan sumber belajar yang memadai. DAFTAR PUSTAKA