Jurnal Agroteknologi. Vol. 14 No. Februari 2024: 81Ae 88 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . EFEKTIVITAS BIOCHAR TERHADAP KETERSEDIAAN UNSUR HARA MIKRO PADA ULTISOL (Effectiveness of Biochar on Micronutrients Availability of Ultiso. OKSANA1*. IRWAN TASLAPRATAMA1. MUHAMMAD ALI NOVIA1. YUSMAR MAHMUD1. TIARA SEPTIROSYA1. RAUDHATU SHOFIAH1 Prodi Agroteknologi. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif kasim Riau. Pekanbaru Riau. Indonesia *E-mail: oksana@uin-suska. ABSTRACT Biochar with a high organic matter composition is considered to be an ameliorant for Ultisol. Providing biochar as an ameliorant needs to be studied because it will cause an increase in micronutrients, most of which are excessive in Ultisol. This study aims to determine the effect of several levels of biochar dosage from corn cob as a base material on changes in micronutrients in Ultisol soil. This research was conducted in a greenhouse and in the Laboratory of Agrostology. Feed Industry and Soil Science. State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau. Experiments with several doses of biochar as treatment, , 0%, 5%, 10%, and 15% of the composition of the growing media were arranged in a Completely Randomized Design (CRD) with six replications. The parameters observed were the micronutrient content of Boron (B). Copper (C. Zinc (Z. Iron (F. and Aluminum (A. The experimental results showed that giving corn cob biochar with doses of 0. 5%, 10% and 15% did not significantly change the levels of B. Cu and Zn Ultisol. Biochar at a dose of 10% significantly increased the soil Zn content and decreased Al-dd Ultisol solubility. Keywords: acidic soil, aluminum, boron, copper, iron, zinc PENDAHULUAN Ultisol sebagai jenis tanah yang luas memiliki peran penting dalam pembangunan pertanian di Indonesia. Reaksi tanah yang masam, rendahnya bahan organik dan kelarutan Aluminium yang tinggi merupakan karakter Ultisol yang membatasi produksi tanaman. Ultisol dengan luas sekitar 54,20 juta hektar ini menduduki urutan kedua setelah inseptisol sebarannya di Indonesia. Dikemukan oleh Suwardi . 9 dalam Soil Research Institude 2. bahwa masalah utama Ultisol adalah rendahnya pH dan bahan organik tanah. Pengapuran, teknologi pemupukan, pengelolaan air dan pemilihan tanaman merupakan cara yang dapat diterapkan dalam memanfaatkan tanah masam. Jumlah liat yang tinggi pada horizon B (Saraswati 2. pada Ultisol ini menyebabkan terhalangnya air infiltrasi sehingga tanah cenderung mengalami aliran permukaan yang cukup intensif. Hal ini makin menyebabkan Ultisol kehilangan bahan organik tanah sehingga proses dekomposisi akan berjalan sangat lambat. Hal inilah yang menyebabkan rendahnya kandungan Nitrogen. Fosfor dan Belerang tanah dan sebaliknya tanah didominasi oleh kationAekation masam seperti Al dan Fe. Pemberian bahan organik dan pengapuran sudah diyakini mampu mengatasi masalah kemasaman tanah dan menurunkan kelarutan Aluminium dan Besi pada tanah mineral masam. Penelitian Ifansyah . menjelaskan bahwa kompos kotoran ayam yang diinkubasikan selama tiga minggu signifikan menurunkan Al-dd Ultisol hingga 25,53% dan kelarutan Fe hingga 24,52%. Adanya gugus fungsional karboksil dan hidroksil dari hasil dekomposisi bahan organik akan membentuk senyawa kompleks bersama logam Aluminium dan Besi. Berbagai sumber bahan organik dapat dimanfaatkan dengan tujuan tertentu berdasarkan permasalahan utama pada suatu jenis tanah. Biochar merupakan salah satu sumber bahan organik berbentuk arang steril yang bebas dari patogen karena diproses melalui pembakaran tidak sempurna dengan suhu tinggi . Aplikasi biochar saat ini lebih diutamakan karena beberapa kelebihan yang dimilikinya terhadap reklamasi tanah lebih unggul dibanding sumber bahan organik lain. Penelitian Yan et al. menunjukkan biochar dengan dosis 40 ton/ha yang ditebar merata hingga kedalaman 20 cm tanah Mollisol meningkatkan P-tersedia dan memberikan hasil jagung yang optimal hingga 3 tahun penanaman. Jurnal Agroteknologi | DOI: 10. 24014/ja. Selain itu efek biochar pada penelitian ini mampu meningkatkan proses enzimatis yang terjadi dalam tanah . ukrase dan katalas. , meningkatkan electrical conductivity tanah yang sangat berperan dalam menyangga alkalinitas tanah. Hasil penelitian Yunedi & Perdana . menjelaskan biochar sekam padi dan batok kelapa yang diinkubasi selama 3 bulan belum nyata meningkatkan pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah Ultisol. Penelitian Azadi & Raiesi . yang menginkubasikan biochar ampas tebu selama 4 minggu di tanah menurunkan kadar logam Cd dan Pb, meningkatkan pH, biomassa dan aktivitas mikroba tanah. Namun hasil penelitian tersebut belum mengukur keberadaan unsurAeunsur lainnya terutama unsur hara esensial bagi tanaman di lahanAelahan pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh biochar bonggol jagung yang diinkubasikan pada tanah Ultisol dengan level dosis berbeda terhadap perubahan kadar B. Cu. Zn. Fe dan Al. Bonggol jagung dipilih karena produksi jagung di Provinsi Riau rata Ae rata dari tahun 2020Ae 2023 sebesar 821. 50 ton (Badan Pusat Statistik 2. Hal ini menurut Yuzaria dkk. , . akan menghasilkan potensi limbah sebesar 82,5 ton dan 1,64 ton bonggol jagung kering per tahun. Hasil penelitian ini akan menjelaskan bagaimana dinamika unsur hara mikro pada tanah Ultisol pasca didistribusikan biochar secara merata di dalam tanah. Dimana pada peneliti sebelumnya oleh Gunten et al. menunjukkan bahwa aplikasi biochar dari kayu Tibouchina arborea dosis 20 ton/ha pada tanah Oxisol meningkatkan pH dan konsentrasi K. Ca. Mg. Zn serta menurunkan kejenuhan Al. BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau pada bulan Februari - April 2020. Sampel tanah Ultisol sebagai unit percobaan diambil dari Kelurahan Lembah Damai Kecamatan Rumbai. Pekanbaru. Analisis tanah di lakukan di Laboratorium Ilmu Tanah Universitas Riau. Metode Penelitian Sampel tanah Ultisol diambil dari perkebunan jati di Kelurahan Lembah Damai Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru. Lahan merupakan kawasan perkebunan jati, memiliki topografi datar berbukit dengan warna kuning kecokelatan . ,5 YR) cokelat kekuningan serta tekstur liat berpasir. Sampel tanah terganggu dikumpulkan dari kawasan 1 Ha sebanyak 10 titik random sampling dengan kedalaman 0Ae20 cm. Biochar dari bahan bonggol jagung kering dihasilkan dari proses pembakaran konvensional drum terbuka (Widiastuti & Lantang 2. Biochar yang sudah jadi diayak dengan ukuran 5 mm agar mempercepat proses dekomposisinya di dalam tanah. Percobaan empat taraf dosis biochar bonggol jagung . %, 5%, 10%, dan 15%) diterapkan untuk mendapatkan dosis terbaik berdasarkan konsentrasi hara mikro Ultisol. Biochar dicampur merata pada tanah Ultisol setara berat kering 5 kg kemudian dimasukkan kedalam polibag dan diinkubasikan selama 14 hari. Kondisi tanah yang sudah tercampur biochar dijaga dalam keadaan kapasitas lapang dengan melakukan penyiraman satu kali sehari. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali dan disusun pada rumah kaca menurut Rancangan Acak Lengkap. Parameter yang diamati adalah konsentrasi kandungan Al-dd dan unsur hara mikro B. Fe. Zn dan Cu terlarut. Semua unit percobaan dijadikan sampel untuk dianalisis kadar hara mikronya di laboratorium. Analisis Al-dd dengan metode titrasi, analisis Fe. Zn. Cu menurut metode AAS dengan ekstrak DTPA, dan analisis B dengan Analisis data Analysis of Variance (Anov. digunakan untuk melihat sejauh mana keragaman konsentrasi hara mikro tanah Ultisol pada setiap dosis biochar yang diterapkan. Untuk menentukan dosis terbaik dilakukan uji beda rerata perlakuan Duncan Multiple Range Test (DMRT). Analisis data ini menggunakan program Microsoft Excel. Jurnal Agroteknologi. Vol. 14 No. Februari 2024: 81Ae 88 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Biochar terhadap Al-dd Ultisol Rata-rata kandungan Al-dd tanah Ultisol dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan analisis ragam perbedaan dosis biochar yang di aplikasikan ke tanah Ultisol nyata mempengaruhi kadar Al-dd tanah namun tidak merubah kriteria/ status keberadaannya dalam tanah. Tabel 1. Rata-rata kandungan Al-dd Ultisol pada Beberapa Taraf Dosis Biochar Bonggol Jagung Dosis Biochar Bonggol Jagung (%) Kadar Aluminium . mol/k. Kriteria* Sangat Tinggi Sangat Tinggi Tinggi Tinggi Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT (A=5%) * Kriteria Penilaian Hara Tanah menurut Balai Tenelitian Tanah Bogor . Tabel 1 menjelaskan bahwa pemberian biochar bonggol jagung dengan dosis 5% dari komposisi media tanam belum menurunkan kadar Al-dd ultisol secara nyata. Penurunan Al-dd nyata pada pemberian 10% biochar yang menyebabkan perubahan kriteria dari sangat tinggi menjadi kategori tinggi (Balai Penelitian Tanah 2. , sedangkan penambahan hingga 15% masih menunjukkan kriteria yang sama. Hal ini mengindikasikan Ultisol Lembah Damai Kecamatan Rumbai membutuhkan penambahan bahan organik dalam jumlah besar untuk perbaikan secara kimia. Penelitian Haryanti et . menjelaskan bahwa aplikasi biochar meningkatkan konsentrasi asam humat pada media pembibitan bibit kakao. Dimana asamAeasam humat ini adalah senyawa yang lebih larut pada larutan Biochar yang ditambahkan kedalam media penelitian ini memiliki pH 10 yang memungkinkan terjadinya fiksasi Al dari gugus fungsional asam humat yang terbentuk. Biochar yang memiliki karakteristik ruang/volume pori serta permukaan partikel yang luas (Hossain et al. menyebabkan peningkatan daya retensi hara yang tinggi terutama mengikat kation seperti Aluminium. Ditambahkan Palanivell et al. dan Hidayat . adanya gugus fungsional yang beragam pada biochar akan menurunkan sejumlah logam larut melalui ikatan kompleks dan adanya sifat alkalinitas biochar tersebut. Porositas ini juga memberikan efek kepada mikroba tanah sebagai tempat habitatnya, memperluas ruang bagi proses respirasi disamping daya immobilisasi mikroba terhadap unsurAeunsur hara yang larut. Karakter biochar yang alkalis menyebabkan makin rendahnya kelarutan Aluminium, dimana kenaikan pH akan menurunkan Al-dd tanah. Sesuai pendapat Takahashi et al. dan Gergichevich et al. bahwa kelarutan Al dalam tanah dikendalikan oleh reaksi pertukaran ion H dan Al pada muatan negatif bahan organik tanah, dimana Al akan mudah rilis pada pH tanah 4. 2Ae4. Biochar sebanyak 10% dalam 14 hari inkubasi disini telah dapat menurunkan Al-dd tanah melalui reaksi khelat membentuk kompleks dengan gugus fungsional yang dihasilkan dari biochar. Hasil penelitian (Zhu et , 2. menerapkan 24 ton/ha biochar pada jenis tanah Oxisol dan Ultisol di China meningkatkan ketersediaan P dalam tanah dan penurunan Aluminium dapat ditukar (Al-d. Namun menurut penelitian Vijay et al. dan Premalatha et al. , efek biochar lebih positif responnya terhadap tanah mineral masam dibanding di tanah alkalin, efektivitas biochar sangat tergantung pada jenis bahan biochar, proses pirolisis, dosis dan jenis tanah. Pengaruh Biochar terhadap Kadar Seng (Z. Ultisol Rata-rata kandungan unsur hara Zn pada tanah Ultisol dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan analisis ragam perbedaan dosis biochar yang diaplikasikan ke tanah Ultisol nyata mempengaruhi kadar Zn terlarut dalam tanah. Tabel 2. Rata-rata Kadar Zn Ultisol pada Beberapa Taraf Dosis Biochar Dosis Biochar Bonggol Jagung (%) Kadar Zn . Kriteria* Tinggi Tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi * Kriteria Status kesuburan Tanah Balai Penelitian Tanah . Jurnal Agroteknologi | DOI: 10. 24014/ja. Tabel 2 menjelaskan bahwa pemberian 5%, 10% dan 15% biochar meningkatkan kadar Zn tanah berturutAeturut 3. 7%, 26% dan 32%. Nilai ini merupakan konsentrasi yang melebihi batas kritis kesuburan tanah bagi tanaman. Hal ini sangat wajar melihat tanah dengan perlakuan tanpa biochar sudah menunjukkan nilai konsentrasi Zn pada kriteria tinggi. Peningkatan ini berkaitan dengan properti biochar yang memiliki Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang tinggi yang mana akan menarik unsur Zn dari permukaan liat oleh muatan negatif gugus fungsional asam organik dari biochar. Sehingga Zn yang awalnya immobile menjadi lebih labil di dalam tanah. Penelitian Weber & Peter . menunjukkan bahwa biochar dari proses pirolisis sederhana dibawah suhu 3000C menghasilkan KTK yang lebih tinggi dibanding proses dengan suhu diatas 4000C. Nilai KTK biochar tersebut berasal dari proses pembakaran dibawah 3000C sebesar 51,9 cmol. KG-1 sedangkan pirolisis dengan suhu 6000C menghasilkan nilai KTK sebesar 21 cmol. KG-1. Biochar yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari proses pembakaran anaerob yang sederhana dengan suhu dibawah 3000C. Perbedaan nilai KTK berkaitan dengan perbedaan struktur aromatik dari biochar, yang mana makin tinggi suhu pada proses pirolisis maka struktur biochar akan membentuk susunan kristal . idak amor. yang mempersempit luas permukaan jerapannya . enurunkan nilai KTK). Berdasarkan Tabel 2 diketahui pemberian biochar pada tanah yang berkadar Zn tinggi tidak disarankan jika melihat efek peningkatannya yang bersifat linear seiring bertambahnya dosis biochar. Penelitian Vahedi et al. yang mengaplikasikan biochar kayu apel dengan dosis 1. 5% pada tanah calcareous menunjukkan peningkatan kadar Zn sebesar 8. 6% dan bahan organik tanah sebesar 55% dibanding tanpa biochar. Fakta ini menerangkan Zn yang sangat tidak larut pada tanah alkali masih menunjukkan respon terhadap keberadaan asamAeasam organik dari biochar. Asam humat merupakan bahan makromolekul polielektrolit yang memiliki gugus fungsional seperti AeCOOH. AeOH fenolat maupun AeOH alkoholat sehingga asam humat memiliki peluang untuk membentuk kompleks dengan ion logam seperti Fe dan Zn karena gugus ini dapat mengalami deprotonasi pada pH yang relatif tinggi. Menurut Rajakumar & Jayasree . , biochar dengan dosis 10 ton. ha-1 yang diinkubasikan pada tanah Ultisol memiliki kadar asam fulvat tanah sebesar 6. 40% dan asam humat sebesar 4. Ini menunjukkan biochar lebih banyak menghasilkan asam fulvat dibanding humat pada Ultisol dengan tekstur lempung liat berpasir. Asam fulvat merupakan substansi humus yang larut pada suasana asam maupun basa. Selain itu ditambahkan oleh Eshwar et al. bahwa asam fulvat mengandung gugus karboksil dan fenol masingAemasing 6. 2 me. g-1 dan 3. 2 me. g-1 sedangkan asam humat mengandung gugus karboksil dan fenol masingAemasing 4. 2 me. g-1 dan 3. 0 me. Tingginya kadar asam fulvat ini menyebabkan unsurAeunsur logam seperti Zn pada tanah masam mengalami desorpsi melalui kompleksnya bersama gugus karboksil dan fenol yang terikat pada asam fulvat. Pengaruh Biochar terhadap Kadar Besi (F. Ultisol Kandungan unsur hara Fe rataAerata pada tanah Ultisol dapat dilihat pada Tabel 3. Berdasarkan analisis ragam perbedaan dosis biochar yang di aplikasikan ke tanah ultisol tidak nyata mempengaruhi kadar Fe terlarut dalam tanah. Tabel 3. Kandungan unsur hara Besi (F. rata - rata pada tanah PMK dengan pemberian biochar bonggol jagung Dosis Biochar Bonggol Jagung (%) Besi . Kriteria* Sedang Sedang Sedang Sedang * Kriteria Status kesuburan Tanah menurut Balai Penelitin Tanah . Berdasarkan sidik ragam terhadap rerata kadar Fe terlarut tidak siknifikan pengaruhnya akibat berbagai dosis biochar yang diinkubasikan selama 14 hari. Konsentrasi Fe terlarut tanah sedikit menurun sekitar 4% pada penambahan biochar hingga 15%. Sehingga kriteria Fe tanah ultisol masih dalam kategori sedang baik diberi maupun tidak diberi biochar. Penurunan Fe terlarut dalam tanah ultisol seiring penambahan dosis biochar tidak sebesar penurunan Al-dd. Kadar Al-dd tanah akibat peningkatan dosis biochar hingga 15 % sebesar 69. sedangkan penurunan Fe terlarut hanya 4%. Hal ini mengindikasikan jumlah ion Al lebih banyak teradsorpsi oleh senyawa organik biochar dibanding ion Fe. Hal ini berkaitan dengan karakter fisis dan kimia dari kedua unsur tersebut, dimana Fe memiliki nomor atom yang lebih besar dari Al sehingga memiliki ukuran jariAejari ion yang lebih besar berakibat pada potensial ioniknya. Sesuai pendapat Sari & Rusdiarso . yang menyatakan perbedaan jumlah ion Pb dan Ni yang teradsorpsi oleh asam Jurnal Agroteknologi. Vol. 14 No. Februari 2024: 81Ae 88 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . humat disebabkan dari perbedaan ukuran jari-jari ion dan nilai potensial ionik dari kedua unsur. Makin besar nilai potensial ionik maka semakin kuat molekul terhidrat tersebut terikat pada kation. Hal tersebut mengakibatkan energi hidrasi Fe3 untuk melepas molekul-molekul H2O lebih besar dibandingkan energi hidrasi Al3 sehingga akan lebih sulit mengganti ikatannya bersama molekul H2O dengan gugus aktif biochar. Hal serupa juga dilaporkan oleh Ifansyah . , dimana asam humat 0. 5 gram yang diinkubasikan dalam 1 kg tanah Ultisol menurunkan Fe terlarut sebesar 48. 99 % sedangkan kadar Aldd menurun sebesar 59. Disini terlihat aktifitas ion Al lebih tinggi dibanding ion Fe sehingga lebih reaktif terhadap penambahan senyawaAesenyawa organik. Dinamika kadar logam tanah seperti Fe ini tidak terlepas dari adanya perubahan reaksi tanah menjadi alkalis akibat penambahan biochar. Meningkatnya pH ditandai tingginya gugus hidroksi dalam larutan tanah menyebabkan pembentukan senyawa Al dan Fe hidroksida yang tidak larut atau mengendap dilapisan tanah. Hal inilah yang menjelaskan kekuatan adsorpsi suatu bahan organik terhadap kation dalam tanah akan menurun seiring peningkatan pH, terutama pada pH diatas 8. 2 (Sari & Rusdiarso 2. Pengaruh Biochar terhadap Kadar Boron (B) Ultisol Rata-rata kandungan unsur hara B pada Ultisol dapat dilihat pada Tabel 4. Berdasarkan analisis ragam perbedaan dosis biochar yang diaplikasikan ke tanah Ultisol tidak berbeda nyata mempengaruhi kadar B di tanah tersebut dengan konsentrasi berkisar 0,56 ppm hingga 0,8 ppm. Tabel 4. Rata-rata Kandungan Unsur Boron pada Ultisol dengan Pemberian Biochar Bonggol Jagung Dosis Biochar Bonggol Jagung (%) Boron . Kategori Sedang Sedang Sedang Sedang * Kriteria Status kesuburan Tanah menurut Landon . Tabel 4. menunjukkan bahwa pemberian berbagai dosis biochar bonggol jagung menghasilkan rerata unsur hara B yang relatif sama. Kandungan unsur hara B pada tanah Ultisol 0% biochar dengan 79 ppm, 5% biochar dengan nilai 0. 62 ppm, 10% biochar dengan nilai 0. 56 ppm, dan 15% biochar dengan nilai 0. 80 ppm berada pada kategori sedang, sesuai dengan pernyataan Landon . , bahwa 5 ppmAe5. 0 ppm berada pada kategori sedang. Boron jumlahnya sangat terbatas di dalam tanah terutama pada jenis-jenis tanah tropis. Sifatsifat utama Ultisol berdasarkan kriteria dari Balai Penelitian Tanah . menyatakan bahwa hasil analisis, pH H2O sebesar 3. 9 dan pH KCl 3. 4 tergolong sangat masam. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bondansari dan Susilo . , tanah ultisol mengalami kekahatan unsur hara makro N. Ca, dan Mg serta kekahatan unsur hara mikro Zn. Cu. B dan Mo. Secara umum, ketersediaan unsur hara mikro akan meningkat dengan menurunnya pH tanah (Pradyana 2. Sheng . mengatakan ketersediaan B dalam tanah dipengaruhi oleh bahan organik dan ketersedian unsur hara lain. Kadar bahan organik yang tinggi menyebabkan ketersediaan B rendah dan begitu pula sebaliknya. Unsur B sangat terpengaruh oleh kadar Ca yang ada di dalam tanah, jika kadar Ca dalam tanah rendah maka kadar B juga rendah, begitu pula sebaliknya. Jika kadar Posfat tinggi maka kadar B menjadi tinggi (Stepanus dkk. Pada penelitian ini menghasilkan kandungan boron yang masih rendah hal ini diduga karena pembakaran bonggol jagung menjadi arang hayati belum sempurna sehigga kandungan Ca pada biochar belum tercukupi untuk meningkatkan kadar B pada Ultisol Menurut Lehmann dan Joseph . , biochar diproduksi dari bahan-bahan organik yang sulit terdekomposisi yang dibakar secara tidak sempurna . atau tanpa oksigen pada suhu yang Arang hayati yang terbentuk dari pembakaran ini akan menghasilkan karbon aktif yang mengandung mineral seperti Ca atau Mg dan karbon anorganik. Kualitas senyawa organik yang terkandung dalam biochar tergantung pada asal bahan organik dan metode karbonisasi. Dengan kandungan senyawa organik dan anorganik yang terdapat didalamnya, biochar banyak digunakan sebagai bahan amelioran untuk meningkatkan kualitas tanah (Hunt dkk. Jurnal Agroteknologi | DOI: 10. 24014/ja. Pengaruh Biochar terhadap Kadar Tembaga (C. Ultisol Rata-rata kadar Cu tanah Ultisol dapat dilihat pada Tabel 5. Berdasarkan analisis ragam perbedaan dosis biochar yang diaplikasikan ke tanah Ultisol tidak nyata mempengaruhi kadar tembaga di tanah tersebut, konsentrasi Cu tanah berkisar 11. 73 ppm hingga 14. 06 ppm. Tabel 5. Rata-rata kandungan unsur hara mikro tembaga (C. pada tanah PMK pemberian biochar bonggol jagung Dosis Biochar Bonggol Jagung (%) Tembaga . Kategori Sedang Sedang Sedang Sedang * Kriteria Status kesuburan Tanah menurut Landon . Tabel 5 menunjukkan bahwa pemberian berbagai dosis biochar bonggol jagung menghasilkan rerata unsur hara Cu yang hampir sama yakni 13. 63 ppm hingga 14. 06 ppm, dosis biochar yang diberikan memberi pengaruh nyata terhadap kandungan unsur hara Cu pada tanah Ultisol. Kandungan Cu Ultisol yang dihasilkan dengan pemberian biochar bonggol jagung maupun tanpa pemberian biochar bonggol jagung tergolong sedang, sesuai dengan pernyataan Landon . yang menyatakan bahwa Cu dengan nilai 5. 1 ppm Ae 25 ppm termasuk dalam kategori sedang. Kandungan tembaga total dalam tanah umumnya berkisar antara 1 hingga 140 mg kg-1 di seluruh dunia, tergantung pada sifat bahan induk tanah. Mobilitas dan ketersediaan tembaga tanah diatur oleh proses keseimbangan dinamis dan tidak hanya oleh konsentrasi totalnya. Dalam sebuah studi pada tanah semi-kering tropis yang terpapar limbah tambang yang mengandung logam, ditemukan bahwa Cu terutama berasosiasi dengan karbonat dan oksida besi amorf (RomiN et al. Hal ini menurut Poggere et al. disebabkan karena Cu tidak terlalu mobile di dalam tanah dan cenderung terakumulasi di lapisan atas tanah karena adsorpsi spesifik pada fraksi mineral dan organik tersebut. Tingginya konsentrasi Cu dalam tanah sangat dipengaruhi oleh sumber yang berasal dari tambahan cemaran, sehingga kadar Cu tanah ini lebih tinggi di kawasan pemukiman atau industri dari pada kawasan hutan dan lahan pertanian. Menurut Fu et al. mobilitas Cu tanah lebih dipengaruhi oleh pH dan konsentrasinya dalam tanah. Jumlah bahan organik tanah dan jumlah Al. Si dan Fe tidak nyata mempengaruhi kelarutan Cu. Cu kurang mobile di tanah kaya organik karena tidak mudah termetilasi atau terikat kuat sehingga membentuk kompleks yang stabil. Hal inilah yang menyebabkan penambahan dosis biochar hingga 15% belum merubah status Cu terlarut pada tanah Ultisol. KESIMPULAN Efektivitas biochar sebagai bahan amelioran di tanah Ultisol terlihat pada dosis 10% dari media tanam, dimana dapat menurunkan Al-dd sebesar 65. 60% dan meningkatkan kadar Zn sebesar 26. pasca 14 hari inkubasi. Aplikasi Biochar hingga 15% dari media tanam tidak merubah kelarutan Fe. Cu dan B dalam tanah Ultisol. DAFTAR PUSTAKA