Sabilarrsyad Vol. IV No. 01 Januari-Juni 2019 PENGELOLAAN LITERASI DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN Masroma Dalimunthe Penulis adalah Guru SD Negeri 136467 Tanjunbalai Abstrak Dalam dunia pendidikan khususnya, tulisan mutlak diperlukan. Bukubuku pelajaran maupun buku bacaan yang lainnya merupakan sarana untuk belajar para peserta didik di lembaga-lembaga sekolah mulai tingkat dasar sampi perguruan tinggi. Tanpa tulisan dan membaca, proses transformasi ilmu pengetahuan tidak akan bisa berjalan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya tulisan, budaya membaca, serta menulis di kalangan masyarakat. Oleh karenanya, kita harus terus berupaya mendorong serta membimbing para generasi muda termasuk pelajar dan mahasiswa untuk membudayakan kegiatan Literasi. Kata Kunci: Literasi. Mutu Pendidikan PENDAHULUAN Dalam dunia pendidikan khususnya, tulisan mutlak diperlukan. Buku-buku pelajaran maupun buku bacaan yang lainnya merupakan sarana untuk belajar para peserta didik di lembaga-lembaga sekolah mulai tingkat dasar sampi perguruan tinggi. Tanpa tulisan dan membaca, proses transformasi ilmu pengetahuan tidak akan bisa berjalan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya tulisan, budaya membaca, serta menulis di kalangan masyarakat. Oleh karenanya, kita harus terus berupaya mendorong serta membimbing para generasi muda termasuk pelajar dan Literasi. ttp://blog. id/rarassantikadewi/2017/12/02/budaya-literasisebagai-upaya-peningkatan-mutu-pendidikan-di-indonesia/). Literasi merupakan kemampuan membaca dan menulis. Perkembangan literasi menjadi penting untuk diperhatikan, karena literasi merupakan kemampuan awal yang harus dimiliki oleh setiap individu untuk menjalani kehidupan di masa depan. Pembelajaran literasi akan mendapatkan hasil optimal apabila diberikan sejak anak usia dini sehingga disebut literasi awal. Hal ini dikarenakan pada usia dini terjadi masa golden age, yaitu masa keemasan anak dimana pada masa itu anak mengalami suatu perkembangan yang sangat pesat dan masa golden age Masroma Dalimunthe: Literasi. Mutu Pendidikan ini terjadi pada masa prasekolah, menurut Hurlock . prasekolah terjadi pada usia anak 2-6 tahun. Menurut Sulistyo . tujuan umum dari literasi sekolah adalah untuk menumbuh kembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan berbagai macam literasi yang diwujudkan dalam gerakan literasi sekolah, agar menjadi pembelajaran sepanjang hayat. Kegiatan gerakan literasi sekolah tentunya melibatkan semua warga sekolah mulai dari guru, orang tua/wali murid, masyarakat dan khususnya peserta Perlu diketahui karena peserta didik merupakan pelaku utama yang terlibat dalam gerakan literasi sekolah. Tetapi tidak semua peserta didik mempunyai minat gemar membaca dan menulis khususnya peserta didik tingkat sekolah dasar. Tentunya tidak hanya literasi membaca dan menulis saja melainkan literasi tersebut banyak macam-macamnya. Sementara Lerner . kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi. Jika anak pada usia sekolah permulaan tidak segera memiliki kemampuan membaca, maka ia akan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari berbagai bidang studi pada kelas-kelas berikutnya. National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai Aukemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Ay Definisi ini memaknai Literasi dari perspektif yang lebih kontekstual. Dari definisi ini terkandung makna bahwa definisi Literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu. Menurut Kurniawan . peserta didik adalah individu yang akan diberi materi dalam pembelajaran. Pada literasi menulis ini yang intinya akan mengajarkan peserta didik tingkat sekolah dasar membuat karya tulis yang meliputi . erita pendek, puisi, pantun, naskah dram. Dalam pembinaan gerakan literasi di sekolah dasar dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu: 1 tahap pembiasaan: dari tahap pembiasaan ini peserta didik setiap hari di ajak meluangkan waktu membaca buku dari tahap ini peserta tidak di batasi dalam membaca buku. 2 tahap pengembangan: dari tahap pengembangan ini yang awalnya peserta didik dalam satu minggu mampu menyelesaikan baca satu buku selanjutnya dilatih bisa mengkhatamkan dua buku atau lebih dari dua buku dalam waktu satu 3 tahap pembelajaran: dari tahap pembelajaran ini peserta didik mulai di arahkan ke potensinya masing - masing ada yang pandai membaca di bidang puisi, ada yang pandai di bidang cerita pendek Sabilarrsyad Vol. IV No. 01 Januari-Juni 2019 . , naskah drama puisi dan pantun. Upaya ini dilakukan berfungsi untuk melatih peserta didik agar gemar membaca dan menulis. Hasil survei United Nations Educational. Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2011, indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang masih AomauAo membaca buku secara serius . Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Melihat begitu rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia tentu ini akan berdampak pada rendahnya kualitas sumberdaya manusia Indonesia yang tahun ini akan menghadapi MEA (Mayarakat Ekonomi Asea. sehingga masyarakat Indonesia akan sangat sulit untuk bisa bersaing dengan masyarakat dari negara lain di Asean. Untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia biasa kita mulai dari sekolah, yang mana sekolah itu merupakan tempat/lembaga yang dirancang untuk melaksanakan proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa yang tentunya kegiatan itu tidak terlepas dari aktifitas membaca. Maka dari sinilah pentingnya mengembangkan budaya membaca di . ttp://blog. id/rarassantikadewi/2017/12/02/budayaliterasi-sebagai-upaya-peningkatan-mutu-pendidikan-di-indonesia/). Hal ini diperkuat dengan UU. Sisdiknas . 3 No. 20 Tahun 2. pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. KAJIAN TEORETIS Difenisi Literasi Kata literasi disebutkan dalam bahasa Inggris berupa literacy yang berasal dari bahasa Latin littera . yang mempunyai pengertian melibatkan penguasaan sistem-sistem tulisan dan konvensi-konvensi yang (Mike Baynham, 1. Literasi itu sendiri diartikan melek huruf, kemampuan baca tulis, kemelek wancanaan atau kecakapan dalam membaca dan menulis. Sedangkan pengertian literasi berdasarkan konteks penggunaanya dinyatakan oleh Baynham bahwa literasi itu merupakan integrasi keterampilan menyimak, berbicara, menulis, membaca, dan berpikir kritis. Sementara Pendit . , dalam Mutia Masroma Dalimunthe: Literasi. Mutu Pendidikan Yaumi Reza . mengatakan bahwa kata literacy sendiri sebenarnya datang dari bahasa Latin, littera yang kemudian dipakai orang Inggris untuk kata letter dan dengan demikian sebenarnya berurusan dengan aksara atau tulisan. Sementara Samsul Hadi, dkk . menyatakan bahwa literasi Sekolah dalam konteks gerakan literasi sekolah adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. Berdasarkan uraian di atas maka dapat dinyatakan bahwa literasi adalah . kemampuan baca-tulis atau kemelekwacanaan. kemampuan mengintegrasikan antara menyimak, berbicara, membaca, menulis dan . kemampuan siap untuk digunakan dalam menguasai gagasan baru atau cara mempelajarinya. piranti kemampuan sebagai penunjang keberhasilannya dalam lingkungan akademik atau sosial. kemampuan performansi membaca dan menulis yang selalu diperlukan. kompetensi seorang akademisi dalam memahami wacana secara profesional. Literasi merupakan kemampuan yang penting dikuasai oleh siswa. Literasi dapat diperoleh melalui proses pembelajaran melalui dua kemampuan literasi yang dapat diperoleh siswa secara bertahap yaitu membaca dan menulis. Salah satu tujuan utama dari pembelajaran literasi adalah membantu peserta didik dalam memahami dan menemukan strategi yang efektif untuk kemampuan membaca dan menulis, termasuk di dalamnya kemampuan menginterpretasi makna dari teks yang kompleks dalam struktur tata bahasa dan sintaksis. (Axford. Scaffolding Literacy, 2. Ada beragam teknik yang terkait dengan pembelajaran literasi. (Wray. Medwell. Poulson, dan Fox, 2. menjelaskan enam teknik sebagai berikut: Pembelajaran terprogram yang membelajarkan kode-kode bahasa yang merujuk pada fitur-fitur yang ada pada kata, kalimat, dan text Penciptaan `lingkungan melek literasi Penyediaan berbagai model dan contoh praktik keaksaraan yang efektif, baik yang disediakan oleh pendidik maupun peserta didik. Penggunaan pujian dan kritik yang membangun dalam menanggapi karya literasi anak dengan maksud untuk kesalahan,dan meningkatkan kemampuan literasi. Sabilarrsyad Vol. IV No. 01 Januari-Juni 2019 Desain dan penyediaan tugas fokus dengan konten akademik yang akan melibatkan perhatian penuh anak-anak dan antusiasme Pemantauan secara terus menerus kemajuan anak-anak melalui tugas-tugas yang diberikan dan penggunaan penilaian informal. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Pengertian Literasi Sekolah dalam konteks GLS adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai ktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. Gerakan Literasi Sekolah merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik (Kemendikbud, 2. Gerakan literasi sekolah memiliki tujuan yakni secara umum dan Secara umum sebagai berikuT. menumbuh kembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat Sedangkan tujuan khususnya sebagai berikut: menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah, . meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar . menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan dan menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca. Membangun Sekolah sebagai Rumah Literasi Iqra, membaca, merupakan perintah Allah yang pertama kepada nabi Muhammad SAW. Membaca mempunyai banyak makna. Membaca secara tersurat maupun membaca secara tersirat. Secara tersurat, adalah membaca yang memang tertulis dan jelas maknanya karena apa adanya yang tertulis. Sedangkan membaca secara tersirat, adalah membaca makna dari suatu tulisan yang tidak secara jelas menuliskan, namun mengandung makna tertentu yang dituju. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, definisi Masroma Dalimunthe: Literasi. Mutu Pendidikan membaca yaitu melihat dan paham isinya, bisa dengan melisankan atau dalam hati saja. Program Gerakan Literasi Nasional (GSN). Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan juga erakan literasi lainnya. Namun pemahaman terhadap literasi itu sendiri dan bagaimana seharusnya implementasinya masih sangat minim di kalangan pendidik maupun tenaga kependidikan. Literasi, adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Secara bahasa, literasi adalahkeberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca. Berkaitan dengan kegiatan literasi ini dikenal adanya literasi dasar yang ada 6 . Enam macam literasi dasar tersebut adalah. Lterasi baca tulis, adalah literasi yang berkaitan dengan teks dan kemampuan membaca dan menulis. Jenis literasi ini merupakan jenis literasi dasar yang utama dan pertama, karena menyangkut semua sendi kehidupan manusia. Literasi Numerasi mengaplikasikan konsep bilangan dan keterampilan operasi hitung di dalam kehidupan sehari-harikemampuan untuk mengaplikasikan konsep bilangan dan keterampilan operasi hitung di dalam kehidupan sehari-hari. Literasi Digital, adalah kemampuan memperoleh dan mengolah informasi yang didapatkan dari berbagai sumber informasi yang diakses dari perangkat digital/ komputer. Literasi finansial, adalah kemampuan yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi manusia dan keuangan. Literasi ini meliputi bagaimana menaikan nilai suatu benda menjadi benda ekonomi yang mempunyai nilai jual dan kegiatan ekonomi lainnya. Literasi Sains, merupakan pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasar fakta. Literasi Budaya , adalah kemampuan memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas Sedangkan literasi kewargaan adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Pemahaman yang sempit terhadap literasi yang hanya literasi baca tulis, seringkali mengakibatkan pemahaman yang berbeda terhadap Sabilarrsyad Vol. IV No. 01 Januari-Juni 2019 Pada dasarnya sudah banyak jenis literasi yang diterapkan di sekolah, hanya saja belum secara maksimal. Sekolah yang ramah literasi adalah sekolah yang memberi ruang yang cukup untuk keterlaksanaan kegiatan semua jenis literasi. Ruang yang cukup untuk kegiatan semua jenis literasi ini diberikan pada kegiatan pengelolaan kelas dan pengelolaan sekolah. Pada pengelolaan kelas, dapat dilakukan dengan kegiatan pengintegrasian literasi dasar pada pembelajaran di semua mata Hal tersebut merupakan salah satu langkah yang bisa dilakukan untuk menuju pembelajaran yang ramah literasi. Kegiatan pembelajaran yang terjadi di semua kelas dan dilaksanakan semua guru mata pelajaran ini, akan menjadikan peserta didik yang literate, yang familiar dengan kegiatan literasi. Kegiatan mengintegrasikan literasi pada pembelajaran dan pengelolaan kelas ini dapat dilaksanakan pada kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Baik pada salah satu atau yang lebih baik pada ketiga waktu tersebut. Pengelolaan pembelajaran yang mengintegrasikan literasi akan menumbuhkan minat belajar dan rasa ingin tahu lebih tinggi pada peserta didik. Kelas yang terkelola dengan baik integrasi literasinya, akan menyenangkan dan mengasikkan bagi peserta didik untuk belajar. Namun perlu digarisbawahi, bahwa integrasi aktivitas literasi dasar pada pembelajaran bukan berarti melahirkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Literasi, melainkan RPP nya tetap sesuai dengan kurikulum, namun memasukkan unsur dan kegiatan literasi dalam Lebih konkritnya, kegiatan literasi dasar yang enam jenis tadi dilaksanakan ke enam enamnya dalam pembelajaran di kelas, tidak hanya lirerasi baca tulis saja. Pengelolaan sekolah yang ramah literasi, maksudnya adalah menjadikan semua sudut sekolah menjadi area literasi yang enam jenis Hal ini bisa ditempuh dengan memberikan ruang yang cukup di semua titik dan sudut sekolah untuk menjadi sumber bahan literasi. Demikian juga dengan aktivitas pensidik dan tenaga kependidikannya. Bisa ditempuh dengan memanfaatkan semua sudut sekolah untuk menjadi pojok baca dan area literasi di semua jenisnya. Misalnya menyediakan area literasi finansial dan literasi budaya dan kewargaan di ruang tunggu orang tua yang menjemput anaknya. menjadikan area kantin sebagai akses literasi finansial dengan berbagai teknisnya. Menjadikan taman sekolah sebagai are literasi sains, dengan memberikan nama latin semua pohon yang ada berikut deskripsi singkatnya. Masroma Dalimunthe: Literasi. Mutu Pendidikan Masih banyak lagi ide kreatif yang bisa dimunculkan. Intinya adalah bagaimana sekolah dapat menjadi area yang nyaman dan mendapatkan berbagai informasi. Semua dalam rangka menuntaskan dan mencapai hasil maksimal kegiatan Gerakan Literasi kelas maupun Gerakan Literasi Sekolah. Sri Harini . ttps://w. com/riniehanif/5bccac4c43322f4217666a28/m embangun-sekolah-ramah-literasi?page=al. Sebagai kesimpulan, gerakan literasi dasar itu tidak hanya meliputi baca tulis saja. Literasi dasar meliputi berbagai macam, setidaknya enam jenis yang harus diakses dan diterpkan di sekolah. Integrasi literasi dalam kegiatan pembelajaran, tidak melahirkan RPP Literasi, melainkan RPP tetap mengacu pada kurikulum. RPP ini juga dapat dikembangkan oleh masing masing pihak. Penerapan Leterasi dalam Mingkatkan Mutu Pendidikan Literasi telah banyak diterapkan di sekolah-sekolah sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa, serta meningkatkan mutu pendidikan. Bahkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbu. meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai pengembangan dari Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti pada Anak. Awal peluncuran GLS sendiri dilakukan secara simbolis dengan memberikan buku-buku paket bacaan yang didistribusikan di berbagai sekolah sebagai tonggak budaya Prinsip-prinsip yang ditekankan adalah sebagai berikut: Perkembangan literasi berjalan sesuai tahap perkembangan yang bisa diprediksi . Program literasi yang baik bersifat berimbang . Program literasi berlangsung di semua area kurikulum . Tidak ada istilah terlalu banyak untuk membaca dan menulis yang . Diskusi dan strategi bahasa lisan sangat penting . Keberagaman perlu dirayakan di kelas dan sekolah . Membudayakan literasi dengan program 6M . Membudayakan literasi dengan model BATU-BASAH . Membudayakan literasi dengan pendekatan proses KESIMPULAN Dunia pendidikan dengan literasi tidak akan pernah bisa di Untuk sekarang mari kita bersama-sama utuk mengajak Sabilarrsyad Vol. IV No. 01 Januari-Juni 2019 kembali kepada semua pihak khusunya para-para murid kita untuk membuadayakan kembali tentang literasi. Membiasakan kembali tentang bagaiman serunya mebaca, belajar menulis dan lain-lainnya. Anak-anak dibiasakan untuk bisa sejak dini atau awal untuk mengenal tetang literasi. Pembiasaan ini sangat mendukung dan guru ataupun sebagai pendidik untuk memberikan pengajar atau setdaknya di mulai dari ibu guru nya Budaya literasi ini sudah ada perhatian khusus dari pemerintah , jadi sudah tidak ada alasan untuk tidak mengenal literasi lagi. DAFTAR PUSTAKA