P a g e | 47 Jurnal Kesehatan Primer Vol. No. May, pp. P-ISSN 2549-4880. E-ISSN 2614-1310 Journal DOI: https://doi. org/10. 31965/jkp Website: http://jurnal. id/index. php/jkp Storytelling as a Non-pharmacological Intervention in Dementia: Literature Review Elita Halimsetiono Fakultas Kedokteran. Universitas Surabaya. Indonesia Email: elitahalims@staff. ARTICLE INFO Artikel Histori: Received date: February/23/2026 Revised date: March/16/2026 Accepted date: April/07/2026 Keywords: Dementia. Intervention. Storytelling ABSTRACT/ABSTRAK Background: Dementia refers to a group of degenerative diseases of the central nervous system, primarily characterized by impaired cognitive function. Storytelling has the potential to improve cognition, communication, quality of life, psychological well-being, and activities of daily living in people with dementia. Objectives: This article gives a general idea of how storytelling can be used as a non-pharmacological intervention for people with dementia. Methods: This article is a narrative review using the keywords dementia, intervention, and storytelling, which were searched through databases on PubMed and Google Scholar. The inclusion criteria are scientific works published in international journals between 01-01-2017 and 31-01-2026, which are available in full text online. The selection of articles was carried out based on inclusion and exclusion criteria, as well as by paying attention to the title, abstract, and full-text review to see whether it was appropriate to the theme of the article, from which process nine articles were obtained for review. Results: Storytelling fosters productivity, improves cognition and communication, and positively impacts personality, quality of life, and psychological well-being in people with dementia. Storytelling also supports caregiver well-being by reducing stress and distress, and improving the quality of care for people with dementia. Conclusions: Storytelling is a beneficial treatment for people with dementia, their caregivers, and their Kata Kunci: Demensia. Intervensi. Storytelling P a g e | 48 care environment, so storytelling can be considered as one of the non-pharmacological interventions for dementia. Latar Belakang: Demensia mengacu pada sekelompok penyakit degeneratif pada sistem saraf pusat, yang terutama ditandai oleh gangguan fungsi kognitif. Storytelling berpotensi kesejahteraan psikologis, dan aktivitas kehidupan sehari-hari penderita demensia. Tujuan: Artikel ini memberikan gambaran umum tentang bagaimana storytelling dapat digunakan sebagai intervensi nonfarmakologis untuk penderita demensia. Metode: Artikel ini merupakan narrative review dengan menggunakan kata kunci demensia, intervensi, dan storytelling yang pencariannya melalui database pada PubMed dan Google Scholar. Kriteria inklusi berupa karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal internasional antara 01-01-2017 dan 31-01-2026, yang tersedia dalam teks lengkap secara daring. Pemilihan artikel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, serta dengan memperhatikan judul, abstrak, dan full-text review untuk melihat kesesuaian dengan tema artikel, yang mana dari proses tersebut didapatkan sembilan artikel untuk ditelaah. Hasil: Storytelling melatih produktivitas, meningkatkan kognisi dan komunikasi, serta berdampak positif pada aspek kepribadian, kualitas hidup, dan kesejahteraan psikologis Storytelling kesejahteraan pengasuh dengan mengurangi stres dan tekanan, serta meningkatkan kualitas perawatan pada penderita demensia. Kesimpulan: Storytelling merupakan upaya pengobatan yang bermanfaat bagi penderita demensia, pengasuh, dan lingkungan perawatan mereka, sehingga storytelling dapat dipertimbangkan sebagai salah satu intervensi nonfarmakologis pada demensia. CopyrightA 2026 Jurnal Kesehatan Primer All rights reserved Corresponding Author: Elita Halimsetiono Fakultas Kedokteran. Universitas Surabaya. Indonesia Email: elitahalims@staff. P a g e | 49 PENDAHULUAN Demensia mengacu pada sekelompok penyakit degeneratif pada sistem saraf pusat, yang terutama ditandai oleh gangguan fungsi kognitif (Shinan-Altman & Werner, 2. Sindrom dikonseptualisasikan sebagai serangkaian gejala yang berkaitan dengan penurunan daya ingat atau keterampilan penalaran lainnya, seperti bahasa, orientasi, fungsi eksekutif, atensi, dan kalkulasi. Penurunan keterampilan ini berpotensi besar menurunkan kemampuan individu dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan, mandi, dan berpakaian. Penderita demensia seringkali kehilangan kemampuan untuk mengomunikasikan pikiran dan kebutuhan seiring perkembangan penyakit. Hal ini membuat mereka sulit untuk berinteraksi sosial dan menjaga hubungan pribadi dengan pengasuh, keluarga, dan teman, terutama dalam merencanakan kegiatan sehari-hari, serta mengungkapkan kebutuhan dan pikiran dasar kepada orang-orang di sekitar mereka. Pada stadium lanjut, masalah komunikasi menjadi semakin serius dan diperparah oleh hilangnya memori dan defisit intelektual . a Silva et al. , 2. Pada tahun 2023, terdapat 1,1 miliar orang di dunia yang berusia 60 tahun ke atas. Angka tersebut diproyeksikan akan berlipat ganda menjadi 2,1 miliar pada tahun 2050, yang mewakili sekitar satu dari lima orang di seluruh Pada akhir tahun 2060-an, jumlah orang berusia 60 tahun ke atas akan mencapai 2,5 miliar dan melampaui jumlah anak di bawah usia 18 tahun di dunia. Bahkan, jumlah orang berusia 80 tahun ke atas diperkirakan akan meningkat lebih dari tiga kali lipat antara tahun 2023 dan 2060 hingga mencapai 545 juta jiwa (WHO, 2. Dengan populasi global yang menua dan meningkatnya harapan hidup, maka hal ini akan menimbulkan tantangan signifikan bagi sistem layanan kesehatan global (Ma et al. , 2. Studi tentang biaya penyakit demensia menunjukkan bahwa biaya tahunan perawatan demensia sekitar $30. 554, dengan perawatan di rumah jangka panjang menjadi pendorong biaya utama, dan biaya perawatan ini akan meningkat drastis seiring dengan memburuknya demensia (Jynsson et al. , 2. Mengingat salah satu penyebab utama disabilitas dan ketergantungan pada lansia di seluruh dunia adalah demensia, maka terdapat peningkatan dan permintaan akan perawatan dan pengawasan yang konstan (Abreu et al. , 2. Storytelling . , sebagai praktik intervensi terapeutik, telah terbukti membawa manfaat bagi penyandang gangguan kognitif yang sedang menjalani pengobatan penyakit kronis, di mana intervensi ini dapat memfasilitasi pemulihan dengan memungkinkan mereka secara aktif mengidentifikasi kebutuhan dan perbedaan pengetahuan, sekaligus membina hubungan dengan rekan sebaya yang memiliki pengalaman serupa, misalnya intervensi berbasis storytelling menghasilkan perbaikan tekanan darah yang signifikan pada lansia yang didiagnosis hipertensi yang tidak terkontrol (Zhu et al. , 2. Terlepas dari manfaat fisik yang telah terbukti, intervensi storytelling yang dirancang untuk penyandang gangguan kognitif menawarkan berbagai manfaat kesehatan mental dan kesejahteraan umum. Pertama, intervensi ini berfungsi sebagai alat yang ampuh untuk meningkatkan daya ingat, di mana studi empiris menunjukkan adanya peningkatan positif dalam daya ingat jangka panjang dan jangka pendek (Rincon et al. , 2. , serta peningkatan fungsi kognitif melalui pemanfaatan narasi dan visual (Chang et al. , 2. Selain itu, dengan melibatkan pengguna dalam aktivitas P a g e | 50 yang personal dan bermakna, termasuk aktivitas mengedit dan berbagi cerita, intervensi ini berkontribusi pada tujuan dan pencapaian, yang membantu pemulihan psikososial dan kognitif yang positif (Zhu et al. , 2. Storytelling dapat memungkinkan lansia merasa diakui, dikuatkan, berdaya, dan berprestasi, serta dapat membantu membangun Bercerita meningkatkan kesejahteraan psikologis para lansia yang tinggal dalam komunitas ataupun fasilitas perawatan jangka panjang. Mengingat kembali kisah pribadi dapat mendorong keyakinan akan penguasaan diri dan pemecahan masalah, meningkatkan suasana hati dengan memunculkan kenangan indah. Beberapa tinjauan studi menemukan pula bahwa aktivitas yang melibatkan kenangan akan kisah hidup seseorang psikologis, kualitas hidup, suasana hati, kognisi, komunikasi, dan aktivitas kehidupan sehari-hari pada lansia yang hidup dengan penyakit Alzheimer dan demensia (Stargatt et al. , 2. Secara umum, storytelling bermanfaat bagi penderita demensia, namun penelitian mengenai storytelling di Indonesia masih terbatas, sehingga artikel ini bertujuan untuk storytelling sebagai intervensi nonfarmakologis pada demensia. METODE Artikel ini merupakan narrative review dengan menggunakan kata kunci dementia, penelusurannya melalui database pada PubMed dan Google Scholar. Kriteria inklusi berupa karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal internasional antara 01-01-2017 dan 31-01-2026, yang tersedia dalam teks lengkap secara daring. Kriteria eksklusi berupa jurnal internasional yang tidak berbahasa Inggris atau tidak dapat diunduh. Pemilihan artikel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, serta dengan memperhatikan judul, abstrak, dan full-text review untuk melihat kesesuaian dengan tema artikel, yang mana dari proses tersebut didapatkan sembilan artikel untuk HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Hasil telaah artikel yang terkait dengan storytelling sebagai intervensi nonfarmakologis pada demensia dapat dilihat pada Tabel 1. PEMBAHASAN Creative Storytelling (Bercerita Kreati. Meskipun penggunaan obat antidemensia dapat memperbaiki sebagian gejala demensia, namun efek terapeutiknya terbatas, dan hanya mampu mengendalikan perkembangan gejala, selain itu mungkin disertai beberapa reaksi merugikan, serta beban biaya jangka panjang yang tinggi (Tao et al. , 2. Di sisi lain, pengobatan nonfarmakologis menawarkan keamanan dan penerimaan yang lebih tinggi (Ma et al. , 2. Pendekatan nonfarmakologis seperti terapi musik dan terapi seni memiliki banyak manfaat dalam memperbaiki perilaku dan gejala psikologis pasien demensia, meningkatkan fungsi kognitif, meningkatkan kesejahteraan, dan mengurangi beban pengasuh (Letrondo et al. , 2023. Quail et , 2. Perawatan nonfarmakologis yang paling banyak diterapkan terdiri dari intervensi perilaku untuk penderita demensia, pengasuh mereka, dan P a g e | 51 lingkungan perawatan guna perubahan perilaku akibat demensia dan gejala neuropsikiatri (NPS) yang Demensia dan NPS terkait tidak hanya memengaruhi kualitas hidup penderita demensia, namun juga menyebabkan tingkat stres yang lebih tinggi dan kualitas hidup yang lebih rendah bagi pengasuh informal. Stres ini mencakup aspek fisik, emosional, dan ekonomi. NPS merupakan salah satu alasan terpenting untuk masuk ke panti werdha, karena seringkali membuat perawatan di rumah menjadi terlalu berat. Penting agar intervensi perilaku tersebut berpusat pada individu, sehingga dapat memenuhi kebutuhan penderita demensia dan pengasuh informal mereka (Elfrink et al. , 2. Terapi bercerita kreatif merupakan salah satu bentuk perawatan yang berpusat pada individu . erson-centered car. , yang menyediakan layanan dan dukungan jangka panjang kepada pasien demensia secara efektif dalam mencegah dan mengelola perilaku demensia dan gejala psikologisnya (Ma et al. Berbagai perspektif teoretis mendukung manfaat terapi bercerita kreatif, seperti teori kognitif, model perawatan yang berpusat pada hubungan, teori generatif, dan teori selektivitas sosial-emosional (Kim et al. , 2. Meskipun teori-teori ini berbeda dalam konten dan pentingnya faktor kognitif, yang merupakan kunci terapi bercerita kreatif. Terapi bercerita kreatif dapat memberdayakan pasien demensia dengan mengekspresikan diri mereka melalui imajinasi, sehingga mempertahankan peran sosial dan individualitas mereka (Chen et al. , 2. Studi terbaru menunjukkan bahwa terapi bercerita kreatif dapat membantu mempertahankan dan meningkatkan fungsi kognitif pasien demensia dan gangguan kognitif ringan (Fay et al. , 2023. Kim et al. , 2. Sebuah studi dengan metode campuran juga menemukan manfaat terapi bercerita kreatif untuk pasien demensia pada berbagai tahap (Vigliotti et al. , 2. Terapi dikombinasikan dengan perawatan rutin dapat mencegah depresi pada pasien demensia (Ma et , 2. Depresi merupakan faktor penting yang dapat memperburuk kondisi pasien demensia dan mengurangi kualitas hidup mereka (TomasoviN et , 2. Penelitian menunjukkan bahwa hingga 50% pasien demensia Alzheimer mengalami gejala depresi selama perjalanan penyakit mereka. Terapi bercerita kreatif merupakan aktivitas sosial yang efektif dalam mengurangi depresi dengan meningkatkan aktivitas sosial penderita demensia (Ma et al. , 2. Dalam proses ini, pasien demensia dapat secara aktif mengekspresikan pandangan hidup dan nilai-nilai mereka, dan adanya komunikasi timbal balik dapat membantu meringankan emosi negatif dan mengurangi depresi pada pasien. Sebuah tinjauan sistematis menunjukkan bahwa terapi reminiscence, yang mengambil pendekatan kisah hidup sebagai intervensi inti, dapat secara efektif memperbaiki keadaan depresi pasien demensia Alzheimer, dan mereka lebih lanjut mencatat bahwa 30/35 menit setidaknya sekali dalam seminggu selama periode 12 minggu adalah durasi intervensi yang optimal (TomasoviN et al. , 2. Konsisten dengan temuan sebelumnya, hasil penelitian Ma et al. menunjukkan bahwa durasi intervensi terapi bercerita kreatif selama lebih dari 6 minggu memiliki efek yang lebih baik dalam mengurangi depresi pada pasien demensia (Ma et al. , 2. Terapi dikombinasikan dengan perawatan rutin memiliki P a g e | 52 potensi untuk meningkatkan kualitas hidup pasien Di antara empat penelitian yang melaporkan kualitas hidup, dua penelitian menunjukkan efek positif yang signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup pasien demensia (Ma et al. , 2. Fay et al. memberikan terapi bercerita kreatif kepada delapan pasien demensia selama 32 minggu berturut-turut selama pandemi Covid-19, yang mana menghasilkan dampak positif pada area penting kualitas hidup, seperti emosi, tingkat energi, dan fungsi kognitif. Namun. Philip et al. tidak menemukan perubahan signifikan dalam kualitas hidup, yang mungkin disebabkan oleh kecilnya jumlah sampel dan kompleksitas sumber sampel. Selain itu, penelitiannya menunjukkan bahwa manfaat terapi bercerita kreatif hanya terbatas pada durasi intervensi, yang mengisyaratkan pentingnya memperpanjang periode intervensi. Oleh karena itu, diperlukan penelitian tambahan untuk lebih menegaskan dampak terapi bercerita kreatif terhadap kualitas hidup (Fay et al. , 2. Terapi dikombinasikan dengan perawatan rutin juga dapat membantu meningkatkan komunikasi sosial pada pasien demensia, meskipun tidak ditemukan kebutuhan dasar. Dalam sebuah meta-analisis, hanya satu dari dua studi yang melaporkan komunikasi sosial pada pasien demensia menunjukkan efek yang positif, meskipun ukuran efeknya kecil. Lebih lanjut, dua studi melaporkan bahwa komunikasi kebutuhan dasar pada pasien demensia tidak menunjukkan perbedaan statistik dalam hal peningkatan antara terapi bercerita kreatif dan perawatan rutin. Hasil ini dapat dikaitkan dengan terbatasnya jumlah sampel penelitian, sehingga penelitian di masa mendatang harus memprioritaskan pelaksanaan studi yang berkualitas tinggi dengan jumlah sampel yang lebih besar untuk mengonfirmasi dampak terapi bercerita kreatif terhadap komunikasi sosial dan komunikasi kebutuhan dasar (Lin et al. , 2. Life Storytelling (Kisah Hidu. Kisah hidup adalah catatan kehidupan seseorang yang dapat digunakan untuk membantu penderita demensia mengenang masa lalu mereka, merenungkan apa yang penting bagi mereka saat ini, dan mengomunikasikannya kepada orang lain. Penderita demensia sering mengalami masalah dalam hal komunikasi dan Adapun kisah hidup sangat bermanfaat dalam membantu mereka untuk mengingat aspek-aspek penting dalam hidup mereka dan mengomunikasikannya kepada orang lain, sehingga menciptakan peluang untuk terhubung dan berinteraksi (DementiaUK, 2. Intervensi kisah hidup digambarkan berbeda dari intervensi lain dalam perawatan demensia yang mendorong keterlibatan dalam aktivitas, seperti olahraga fisik, karena berfokus pada meluangkan waktu untuk merenung (Sweeny et al. , 2. Berikut ini adalah empat manfaat utama yang umum disebutkan dalam penelitian tentang kisah hidup (Myllergren & Harnett, 2. Manfaat pertama adalah membantu penderita demensia mengingat kembali kenangan. Kegiatan mengenang dengan aktivitas membuat buku kisah hidup, kotak memori, kisah digital, dan lain-lain, dapat dianggap sebagai intervensi terapeutik yang bermanfaat, terlepas dari bagaimana dokumen kisah hidup tersebut nantinya digunakan oleh staf Peneliti lain juga menemukan bahwa menyusun kisah hidup dapat bermanfaat bagi anggota keluarga ketika seseorang yang mereka sayangi hidup dengan demensia P a g e | 53 (Andersson et al. , 2. Manfaat kedua adalah pergeseran fokus 'dari pasien ke individu'. Menyusun kisah hidup dapat membantu mengubah sikap staf keperawatan dan orang lain terhadap penderita demensia karena mendorong mereka untuk mengadopsi 'budaya welas asih' dan menghindari perawatan yang buruk, perlakuan yang merendahkan, untuk mencapai perilaku yang lebih hormat dan toleran terhadap orang yang hidup dengan demensia. Manfaat ketiga adalah pengelolaan kecemasan yang lebih Ketika staf memiliki fakta tentang masa lalu pasien, mereka mungkin terinspirasi untuk berbincang tentang masa lalu pasien, yang dapat memberikan efek menenangkan pada seseorang yang merasa 'tersesat di masa kini' dan dapat memperkuat rasa identitas pada seseorang yang terdampak kehilangan ingatan dan cemas Manfaat menyesuaikan perawatan sehari-hari dengan preferensi dan kebiasaan individu. Semakin parah demensia, semakin fokus penyusunan kisah hidup pada penanganan kehidupan sehari-hari secara pragmatis, termasuk pilihan makanan, rutinitas harian, pakaian, dan lain-lain. Dengan demikian, manfaat keempat dari penyusunan kisah hidup ini berkisar pada perawatan sehari-hari yang praktis. Berikut ini adalah beberapa cara untuk menghasilkan kisah hidup, yang format atau kombinasi formatnya dapat disesuaikan dengan penderita demensia (DementiaUK, 2. Buku: format ini portabel dan mudah diakses oleh pengasuh dan pengunjung. Buku dibuat sesederhana mungkin dengan teks dan foto yang jelas dan mudah dibaca. Warna dan pola yang berbeda dapat membingungkan penderita demensia, jadi sebaiknya gunakan satu jenis huruf dan ukuran, serta tidak lebih dari dua warna Kolase atau papan memori: gambar seringkali efektif untuk mendorong timbulnya kenangan dan bermanfaat bagi penderita demensia stadium lanjut yang mengalami kesulitan membaca. Selain foto orang, tempat, dan acara penting, juga dapat disertakan barangbarang lain seperti kartu pos, tiket, gambar yang dicetak dari internet, dan kliping koran atau Video: merupakan cara yang baik untuk mengumpulkan informasi visual dan audio, seperti film keluarga, pesan untuk dan dari penderita demensia, musik yang bermakna, dan Video memungkinkan keluarga dan teman yang jarang ditemui penderita dapat ikut berkontribusi, seperti kerabat yang tinggal di luar negeri. Aplikasi: terdapat sejumlah aplikasi yang dapat diunduh ke ponsel atau tablet untuk mengumpulkan dan menyimpan foto, video, dan rekaman audio. Aplikasi ini biasanya mudah digunakan, tetapi mungkin lebih cocok untuk penderita demensia tahap awal yang mampu memahami dan menggunakan teknologi. Profil pribadi/profil satu halaman: merupakan versi singkat dari kisah hidup yang berisi ringkasan singkat informasi terpenting tentang seseorang. Aplikasi ini sering digunakan di rumah sakit untuk membantu staf memahami kebutuhan seseorang. Kotak kenangan atau memori: kotak ini dapat sangat berguna bagi individu dengan gangguan sensorik seperti kehilangan penglihatan atau masalah persepsi, atau bagi penderita demensia stadium lanjut yang lebih mengandalkan sentuhan atau penciuman untuk berkomunikasi dan Kotak ini berisikan berbagai obyek seperti foto dan kartu pos, suvenir, barang-barang yang berkaitan dengan pekerjaan orang tersebut, mainan dari masa lalu penderita atau masa lalu anak-anaknya, tiket teater atau olahraga. P a g e | 54 pernak-pernik, perlengkapan mandi atau pakaian. Dalam setiap bentuk kisah hidup, seorang fasilitator biasanya dilibatkan untuk membantu, membimbing, dan ikut menciptakan suatu produk bersama penderita demensia (Hollinda et al. Saat menulis kisah hidup ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu . Bimbing dan libatkan penderita demensia sedapat mungkin, atau sebanyak yang mereka inginkan. Kisah tersebut harus mencerminkan keinginan dan preferensi penderita demensia, misalnya biarkan mereka berkomentar tentang sebuah foto dan gunakan kata-kata mereka sebagai keterangan, penting diingat bahwa itu adalah kisah mereka, bukan kisah kita. Bantulah penderita demensia jika perlu, dan kumpulkan informasi bersamasama agar mereka dapat melihat alur ceritanya, kemudian ikuti alurnya dan biarkan mereka berbicara tentang aspek apa pun dalam hidupnya. Kisah hidup tidak harus dimulai dari awal atau dikerjakan secara kronologis, dan tidak harus memasukkan semua hal tentang hidup penderita . ukup yang paling bermakn. Cobalah mengerjakan satu topik pada satu waktu agar tugas tidak terasa membebani. Usahakan untuk tidak mencecar penderita demensia dengan terlalu banyak pertanyaan spesifik, sebaliknya akan lebih mudah untuk mengajukan pertanyaan yang sifatnya umum, atau memulai percakapan tentang suatu topik dan biarkan mereka mengarahkan jalannya percakapan, misalnya "Dapatkah Anda menceritakan tentang tempat Anda dibesarkan?". Setelah kisah hidup selesai, bagikan pada keluarga, teman, dan pengasuh profesional agar mereka dapat mengenal individu tersebut dengan lebih baik dan mempelajari lebih lanjut tentang cara membantu dan memenuhi kebutuhannya (DementiaUK. Digital Storytelling (Penceritaan Digita. Penceritaan digital adalah proses yang melibatkan penggunaan teknologi multimedia dengan menggabungkan gambar, suara, dan narasi untuk membuat film . ideo pendek biasanya berdurasi 3 hingga 5 meni. yang seseorang (Stargatt et al. , 2. Penceritaan digital dapat difasilitasi dalam kelompok atau satu lawan satu dengan individu. Kisah digital biasanya diceritakan dari sudut pandang orang pertama tentang individu tersebut, suatu peristiwa biografi penting dalam kehidupan seseorang, atau suatu isu yang sangat dikhawatirkan seseorang, misalnya sakit, mengasuh anak, terkurung di rumah, dan lain-lain (Hollinda et al. , 2. Kisah digital dapat menjadi warisan yang dibagikan kepada penyedia layanan, keluarga, dan orang-orang terkasih, serta dihargai ketika individu tersebut tidak lagi dapat berkomunikasi. Dengan demikian, penceritaan digital merupakan salah satu cara untuk memberikan perawatan yang berpusat pada individu dan dapat menjadi alat ampuh yang digunakan oleh lansia untuk mendorong interaksi sosial, merangsang memori autobiografi, meningkatkan komunikasi dengan staf keperawatan dan anggota keluarga, serta memfasilitasi ekspresi diri dan identitas. Manfaat potensial penceritaan digital bagi penyandang demensia, khususnya, meliputi peningkatan kepercayaan diri, hubungan dengan orang lain, rasa memiliki tujuan hidup, komunikasi, dan peningkatan kesejahteraan (Rincon et al. , 2. Penceritaan seorang fasilitator untuk terlibat dalam penceritaan dan merangkai narasi serta makna P a g e | 55 bagi peserta dengan demensia. Fasilitator penceritaan digital adalah orang yang mempertimbangkan semua langkah dan detail cerita digital, dan layaknya pemandu wisata, memandu penyandang demensia melalui sesi-sesi penceritaan digital untuk menghasilkan produk akhir (Hollinda et al. , 2. Pasien biasanya duduk dengan nyaman di kursi di sekitar seorang fasilitator yang akan membimbing mereka dalam bercerita terkait dengan gambar dan petunjuk lainnya, memberikan panduan dan penyesuaian yang tepat berdasarkan kepribadian dan karakteristik setiap pasien, mendorong partisipasi mereka dalam bercerita dan berbagi. Fasilitator tidak mengoreksi isi cerita pasien, namun menciptakan berbagai kondisi agar pasien dapat terlibat dan mengulang cerita tersebut untuk memudahkan komunikasi dan berbagi cerita antar pasien (Swinnen & de Medeiros, 2. intervensi storytelling digital atau tradisional tidak memiliki metodologi yang seragam, sehingga menyulitkan pengukuran kuantitatif yang obyektif mengenai dampaknya terhadap fungsi kognitif. Ketergantungan pada fasilitator, di mana keberhasilan terapi sangat bergantung pada keterampilan fasilitator . eluarga atau sta. dalam mendengarkan secara aktif dan mengarahkan . Keterbatasan skalabilitas, di mana intervensi ini seringkali memerlukan sumber daya intensif . aktu dan pendampingan persona. , sehingga sulit diterapkan secara luas dalam skala besar. Fokus yang terfragmentasi, di mana pasien demensia seringkali mudah teralih fokusnya, sehingga membuat proses bercerita menjadi terputusputus dan sulit mempertahankan alur narasi yang KESIMPULAN Keterbatasan Storytelling Storytelling sebagai salah satu intervensi nonfarmakologis pada demensia menunjukkan dampak positif bagi penderita demensia, pengasuh, dan lingkungan perawatan mereka, namun terdapat beberapa keterbatasan pada intervensi ini berupa . Ketergantungan pada kemampuan komunikasi, di mana seiring berjalannya demensia, kemampuan penderita untuk menyusun dan menyampaikan cerita secara koheren menurun, sehingga menghambat efektivitas intervensi ini terutama pada tahap . Risiko memori yang tidak menyenangkan, di mana mengenang masa lalu dapat memunculkan memori traumatis atau perasaan yang tidak menyenangkan, yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan emosional jika tidak difasilitasi dengan baik. Kurangnya Storytelling pengobatan yang bermanfaat bagi penderita demensia, pengasuh, dan lingkungan perawatan dipertimbangkan sebagai salah satu intervensi nonfarmakologis pada demensia. REFERENSI