Proceedings Series on Physical & Formal Sciences. Volume 5 Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian dan Perikanan ISSN: 2808-7046 Evaluasi Penggunaan Faktor Produksi pada Usahatani Jagung di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas Agus Suprapto1. Hari Prasetyawadi2. Wasito3 Fakultas Sosial Ekonomi dan Humaniora. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto ARTICLE INFO Article history: DOI: 30595/pspfs. Submited: 05 Mei, 2023 Accepted: 21 Mei, 2023 Published: 04 Agustus, 2023 Keywords: Evaluasi. Faktor Produksi. Usahatani Jagung ABSTRACT Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor produksi terhadap produk jagung serta untuk menentukan kombinasi faktor-faktor produksi sehingga dicapai tingkat keuntungan yang maksimal dari jumlah produk rata-rata yang dihasilkan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai dan teknik pengambilan sampelnya adalah Simple Random Sampling. Dari hasil perhitungan dalam penelitian pendahuluan diperoleh jumlah sampel sebanyak 37 orang petani responden. Hasil analisis fungsi Cobb Douglas menunjukkan bahwa faktor produksi luas lahan garapan dan tenaga kerja berpengaruh nyata dan positif terhadap produk jagung, faktor produksi pupuk berpengaruh nyata dan negatif terhadap produk jagung. Sedangkan faktor produksi bibit dan pestisida tidak berpengaruh nyata. Bentuk hubungan fisik antara faktor-faktor produksi dan produk jagung di daerah penelitian adalah Y = 10,9518 X10,5129 X3-0,2038 X50,5673. Berdasarkan analisis efisiensi pengunaan faktor produksi, ternyata bahwa penggunaan luas lahan garapan, pupuk, dan tenaga kerja belum berada pada tingkat optimal. Penggunaan faktor produksi luas lahan garapan (X. , pupuk (X. , dan tenaga kerja(X. di daerah penelitian akan memberikan keuntungan maksimal jika dikombinasikan dengan perbandingan X1 : X3 : X5 = 0,0015 : 1 : 0,0994. Untuk menghasilkan tingkat produksi tertentu di daerah penelitian (Y = 20,80 kuinta. , kombinasi X1. X3, dan X5 dengan biaya minimal akan tercapai jika digunakan luas lahan garapan (X. 0,62 hektar, pupuk (X. 416,69 kilogram dan tenaga kerja (X. sebanyak 41,43 hari kerja pria. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Corresponding Author: Agus Suprapto Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto Jl. Sultan Agung No. Karangklesem. Purwokerto Selatan. Purwokerto. Jawa Tengah 53144 Email: suprapto. agus5859@gmail. PENDAHULUAN Jagung merupakan salah satu bahan makanan yang menjadi salah satu komoditas prioritas nasional di samping beras, yang sampai saat ini perlu ditingkatkan produksinya. Jagung mempunyai peran penting yaitu sebagai sumber karbohidrat kedua setelah beras, juga merupakan bahan makan ternak dan bahan baku berbagai Industri yang menggunakan jagung sebagai bahan baku antara lain industri minyak goreng, tepung jagung, dan bahan pemanis. Upaya peningkatan produksi jagung dilakukan untuk dapat mengimbangi permintaan yang terus meningkat sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk dan jumlah industri pakan ternak. Upaya ini juga Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 dilakukan untuk mengurangi volume impor jagung dan selanjutnya untuk mencapai tahap swasembada jagung. Berbagai kendala yang dihadapi dalam mencapai swasembada jagung antara lain karena produkstivitas usahatani jagung di Indonesia masih rendah, dan terbatasnya sumberdaya lahan . Produktivitas jagung di Indonesia menurut Michael Reily . , rata-rata hanya 2,81 ton per hektar, lebih kecil daripada Thailand . ,28 ton per hekta. , dan Brazil . ,85 ton, serta Tiongkok . ,76 ton per hekta. Adanya kesenjangan yang cukup besar dalam produktivitas hasil tersebut menandakan bahwa masih terbuka cukup besar peluang untuk meningkatkan produksi jagung di Indonesia. Dengan keterbatasan kepemilikan lahan garapan petani, maka alternatif yang dapat dilaksanakan sebagai upaya peningkatan produksi jagung adalah dengan cara intensifikasi usahatani jagung. Intensifikasi usahatani jagung merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produk jagung pada luasan tanah tertentu dengan menggunakan faktor-faktor produksi secara optimal. Sehubungan dengan hal tersebut perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji apakah para petani sudah menghasilkan produk jagung secara optimal dengan mengalokasikan berbagai faktor produksi yang ada serta apakah petani telah memperoleh pendapatan yang maksimal dari pengelolaan usahataninya. Agar petani dapat menguasai dan menerapkan paket teknologi tersebut, telah dilaksanakan strategi untuk menciptakan kondisi masyarakat pedesaan guna merangsang perubahan perilaku petani dalam berusahatani. Strategi tersebut yaitu dibentuknya perangkat kelembagaan catur sarana di pedesaan yang meliputi penyuluhan pertanian, pelayanan sarana produksi, perkreditan, pengolahan dan pemasaran hasil. Tepat atau tidaknya suatu strategi dapat diketahui dari tingkat partisipasi petani dalam menerapkan teknologi usahatani yang dianjurkan. Faktor-faktor yang menentukan produktivitas dan produk per hektar menurut Partadireja . , adalah keadaan dan kesuburan tanah, varietas yang ditanam, pupuk yang digunakan baik jenis maupun dosis, tersedianya air dalam jumlah yang cukup, teknik bercocok tanam, alat-alat pertanian yang digunakan, dan tenaga kerja. Berdasarkan uraian tersebut di atas pada akhirnya yang perlu dikemukakan adalah apakah petani sudah menggunanakan berbagai aktor produksi secara efisien? Yaitu apakah kombinasi semua faktor produksi yang digunakan sudah memberi hasil produk yang optimal? Sesuai dengan arah dan kebijakan pemerintah yaitu mencapai swasembada pangan, maka jagung sebagai salah satu komoditas prioritas nasional mendapatkan perhatian yang serius. Langkah-langkah operasional peningkatan produksi jagung dilakukan dengan menitikberatkan pada mutu intensifikasi tanpa mengesampingkan usaha perluasan areal pertanaman pada daerah-daerah yang masih memungkinkan. Besarnya produk yang dihasilkan oleh suatu usahatani dipengaruhi oleh jenis, jumlah, dan kualitas tiap faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi yang bersangkutan. Hal ini terjadi hanya apabila sejumlah faktor produksi yang ada digunakan dengan kombinasi tertentu. Bentuk hubungan antara jenis dan jumlah faktor produksi yang digunakan dengan jumlah produk yang dihasilkan disebut fungsi produksi. Menurut Budiono . , tingkat keuntungan maksimal tercapai apabila nilai produk marginal sama dengan biaya korbanan marginal atau ditulis sebagai berikut: NPMXi = BKMXi ycEyaycAycuycn yaAyaycAycuycn ycEyc Untuk itulah penelitian ini dilakukan guna mengevaluasi penggunaan faktor-faktor produksi pada usahatani jagung di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Penelitian ini juga bertujuan untuk menentukan tingkat penggunaan faktor-faktor produksi pada usahatani jagung, sehingga tercapai suatu kombinasi yang Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk : Mengetahui bentuk hubungan fisik antara faktor-faktor produksi luas lahan, bibit, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja dengan produk jagung. Mengetahui pengaruh faktor-faktor produksi luas lahan, bibit, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja terhadap jumlah produk jagung. Mengetahui efisiensi pengunaan faktor-faktor produksi dipandang dari segi ekonominya. Menentukan kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi sehingga dicapai tingkat keuntungan yang maksimal dari jumlah produk rata-rata yang dihasilkan di daerah penelitian. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai : Bahan informasi bagi petani khususnya di daerah penelitian mengenai faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produk jagung. Sumbangan pemikiran penulis kepada pihak yang berkompeten di bidang pertanian khususnya tanaman jagung sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan produksi dan pendapatan petani jagung, yaitu dalam hal menentukan kombinasi optimal penggunaan faktor-faktor produksi. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 SSN: 2808-7046 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode survai di wilayah Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Sasaran penelitian adalah petani yang mengusahakan tanaman jagung hibrida secara monokultur pada musim tanam tahun 2020, sebagai petani pemilik penggarap dan petani penyewa lahan. Petani dimaksud adalah petani yang mengusahakan tanaman jagung tidak lebih dari 1 hektar Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah Simpel Random Sampling. Metode ini dipilih karena di daerah penelitian kondisi agroklimat, dan penerapan teknologi budidayanya relatif seragam serta Dari hasil survai pendahuluan diketahui bahwa jumlah petani jagung sesuai dengan sasaran penelitian ini 560 orang. Jumlah petani inilah yang digunakan sebagai populasi petani dalam penentuan jumlah Dengan mengambil 10 orang petani secara acak pada survai pendahuluan dihitung dan diperoleh besarnya varians populasi relatif sebesar 0,0237 dan besarnya simpangan maksimal yang dapat ditoleransi kan sebesar 0,10. Untuk meningkatkan ketelitian pada tingkat yang lebih tinggi, nilai simpangan maksimal diturunkan menjadi 0,05. Selanjutnya dengan tingkat kepercayaan 95% , jumlah sampel dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : k2 N V2 ________ (Teken. ,1. ND V Dari hasil perhitungan menggunakan rumus tersebut dapat diketahui bahwa jumlah sampel yang harus diambil sebanyak 37 orang. Definisi operasioanal Variabel Penelitian. Luas lahan garapan adalah luas lahan yang digunakan dalam satu musim tanam jagung, satuannya Harga lahan garapan adalah harga sewa lahan per hektar yang harus dibayar petani untuk satu musim tanam jagung, satuanya Rupiah per hektar . Bibit dalah jumlah benih jagung yang digunakan dalam satu musim tanam, satuannya kilogram . Harga bibit adalah harga bibit saat pembelian, satuannya Rupiah per kilogram . Pupuk adalah jumlah pupuk yang digunakan dalam satu musim tanam, satuannya kilogram , untuk menyederhanakan analisis dari berbagai jenis pupuk yang digunakan dihitung setara urea berdasarkan harga masing-masing jenis pupuk. Harga pupuk adalah harga beli pupuk di tingkat petani pada saat pembelian, satuannya Rupiah per kilogram . Pestisida adalah jumlah pestisida dan herbisida yang digunakan dalam satu musim tanam jagung, satuannya Harga pestisida adalah harga pestisida pada saat pembelian, satuaanya Rupiah per liter . Untuk keperluan analisis penggunaan jenis-jenis pestisida dan herbisida yang berbeda-beda dihitung dan disetarakan dengan Roundup berdasarkan harganya. Tenaga Kerja adalah jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam satu musim tanam jagung, satuannya hari kerja pria , untuk tenaga kerja wanita disetarakan dengan tenaga kerja pria berdasarka upah per hari kerja Harga tenaga kerja adalah upah tenaga kerja pria per hari kerja, satuannya Rupiah per hari kerja pria. Produk jagung adalah jumlah produk jagung pipilan kering yang dihasilkan dalam satu musim tanam jagung, satuannya kuintal . Produk fisik marginal untuk faktor produksi Xi adalah tambahan hasil produksi fisik yang disebabkan oleh Xi. PFMxi = Y/Xi = bi Y/Xi METODA ANALISIS DATA Untuk mengetahui bentuk hubungan fisik antara faktor produksi luas lahan, bibit, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja dengan produk jagung digunakan fungsi produksi Cobb Douglas. Y = A X1b1 X2b2 X3b3 X4b4 X5b5 Keterangan : Y = Jumlah produk jagung (K. A = konstante X1 = luas lahan garapan . X2 = bibit . X3 = pupuk . Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 X4 = pestisida . X5 = tenaga kerja . b1, b2, b3, b4, b5, adalah koefisien elastisitas produksi dari faktor produksi X 1. X2. X3. X4, dan X5. Untuk membuat estimasi parameter A dan bi, maka persamaan tersebut diubah menjadi bentuk persamaan regresi linear berganda sebagai berikut : Ln Y = ln A b1ln X1 b2 ln X2 b3 ln X3 b4 ln X4 b5 ln X5 Untuk menguji apakah model persamaan tersebut dapat digunakan untuk menduga parameter-parameter dalam persamaan digunakan uji F dan dilihat nilai koefisien determinasinya (R. Dengan melakukan uji-t terhadap koefisien bi yang juga merupakan nilai elastisitas produksi, dapat diketahui faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produk. t hitung = ycaycn ycIycaycn Apabila nilai t hitung lebih besar dari nilai t tabel 5% berarti signifikan, artinya faktor produksi tersebut berpengaruh nyata terhadap produk yang dihasilkan. Adapun untuk mengetahui efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi dilakukan analisis marjinal dengan menggunakan uji-t, sebagai berikut : Ho = Ha = ycAycEycAycuycn yaAyaycAycuycn ycAycEycAycuycn yaAyaycAycuycn = 1 O 1 = 1, 2, 3, 4, . ( ycOycnOeycOyc. ycIyce Keterangan : Ui = nilai keuntungan rata-rata, yaitu ycAycEycAycuycn yaAyaycAycuycn rata-rata. Uo = nilai keuntungan maksimal hipotesis (= . Se = standar error nilai keuntungan maksimal. Untuk menghitung kombinasi optimal penggunaan faktor-faktor produksi digunakan model : ycEyaycAycu1 yaAyaycAycu1 ycEyaycAycu2 yaAyaycAycu2 = . ycEyaycAycuycu yaAyaycAycuycu di mana PFMXi = bi . ycUycn HASIL DAN PEMBAHASAN Identitas Responden Identitas responden yang akan disajikan antara lain adalah umur, tingkat pendidikan, lama bertani, dan jumlah tanggungan dalam keluarga. Umur petani responden mempunyai pengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam bertani, umumnya petani muda lebih berani berinovasi dalam usahatani. Umur petani responden dalam penelitian ini berada dalam rentang yang cukup panjang, yaitu berkisar antara 35 Ae 80 tahun. Responden termuda berumur 35 tahun dan yang tertua berumur 80 tahun masing-masing seorang petani. Tingkat pendidikan petani di wilayah Kecamata Sumbang masih relatif rendah yaitu kebanyakan hanya tamat sekolah dasar, bahkan ada yang tidak tamat sekolah dasar. Pengalaman dalam bertani dari petani responden umumnya sudah cukup banyak, sejalan dengan Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagia besar petani responden sudah sangat berpengalaman dalam bertani, yaitu lebih dari 30 tahun Jumlah tanggungan keluarga dari petani responden bervariasi antara 2 dan 7 orang. Sebagian besar petani responden yaity 14 orang . ,88%) mempunyai tanggungan keluarga sebanyak 4 orang. Penggunaan Faktor Produksi pada Prose Produksi Jagung Penggunaan faktor produksi pada proses produksi jagung yang dikaji dalam penelitian ini hanya dibatasi dalam lima faktor produksi yaitu : luas lahan garapan (X. , bibit (X. , pupuk (X. , pestisida (X. , dan tenaga Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 SSN: 2808-7046 kerja (X. Luas lahan garapan yang diusahakan petani respoden adalah lahan milik sendiri. Luas lahan garapan petani responden bervariasi antara 0,14 hektar sampai dengan 0,7 hektar dengan rata-rata luas garapan sebesar 0,32 hektar. Harga sewa lahan di daerah penelitian bervariasi antara Rp 3. 000,00 sampai dengan Rp 000,00 dengan rata-rata Rp 4. 000,00 per hektar per musim tanam. Bibit jagung yang ditanam petani responen pada umumnya adalah jenis jagung hibrida. Hal ini disebabkan petani sudah merasakan bahwa bibit jagung hibrida produktivitasnya lebih tinggi dari jagung lokal, meskipun harga bibit jagung hibrida cukup mahal. Penggunaan bibit berkisar antara 2,50 dan 10,50 kiligram sesuai dengan luas lahan garapan, dengan rata-rata penggunaan bibit sebanyak 9,38 kilogram. Harga bibit jagung hibrida berkisar antara Rp 74. 500,00 dan Rp 76. 000,00 per kilogram, dengan rata-rata sebesar Rp 000,00 per kliogram. Jenis pupuk yang digunakan petani responden adalah urea dan ponska. Jumlah pupuk yang digunakan bervariasi dari 92,50 kilogram setara urea sampai dengan 465. 50 kilogram setara urea dan penggunaan pupuk rata-rata sebanyak 198,70 kilogram. Harga pupuk di tingkat petani antara Rp 2. 500,00 dan Rp 2. 600,00. Harga pupuk antar petani dapat berbeda karena ada biaya transpor, meskipun petani membeli pupuk bersubsidi dengan kartu tani. Pestisida yang dimaksudkan di sini meliputi semua obat-obatan yang digunakan dalam usahatani jagung. Jumlah penggunaan pestisida antar petani responden berbeda sesuai dengan laus lahan garapan dan faktor Penggunaan yang paling sedikit sebanyak 0,50 liter dan tarbanyak 2,50 liter, dengan nilai rata-rata sampel 1,50 liter. Harga beli pestisida berbeda antar petani tergantung pada waktu kapan pestisida rtersebut dibeli, meskipun selisihnya tidak terlalu banyak. Harga termurah sebesar Rp 325. 000,00 per liter dan harga pembelian tertinggi sebesar Rp 350. 000,00 per liter. Tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani jagung di daerah penelitian hanya tenaga kerja manusia, tidak ada penggunaan tenaga mesin ataupun tenaga ternak. Jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani jagung di daerah penelitian berkisar antara 9,80 hkp sampai dengan 49,50 hkp, dengan rata-rata per hektar 70 hkp. Penggunaan tenaga kerja relatif rendah karena dalam usahatani jagung di daerah penelitian tidak ada pengolahan tanah. penyiapan lahan hanya dilakukan dengan penyemprotan herbisida. Harga tenaga kerja berkisar antara Rp 65. 000,00 dan Rp 75. 000,00 dengan harga rata-rata sebesar Rp 70. 000,00 per hari kerja pria . Produk jagung adalah jagung dalam bentuk pipilan kering. Produk yang dihasilkan petani responen berkisar antara 9,14 kuintal dan 45,50 kuintal, dengan rata-rata produk sebanyak 22,75 kuintal. Harga jagung pipilan kering berkisar antara Rp 300. 000,00 dan Rp 350. 000,00 per kuintal, dengan harga rata-rata sebesar Rp 000,00 per kuintal. Analisis Fungsi Produksi Berdasarkan analisis fungi produksi Cobb Douglas, dalam hal pendugaan faktor-faktor produksi yang berpengaruh terhadap produk jagung, yang meliputi luas lahan garapan, bibit, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja diperoleh hasil seperti tertuan dalam Tabel 1. Tabel 1. Koefisien Regresi. Kesalahan Baku, dan Nilai t_Hitung pada Usahatani Jagung di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas Tahun 2020 ParaKoef. Kesalahan Nilai No. Variabel Meter Regresi Baku t-hitung Luas Garapan (X. 0,5129 0,1284 3,994 ** Bibit (X. - 0,1561 0,0880 -1,774 Pupuk (X. - 0,2038 0,0938 -2,172 ** Pestisida (X. 0,0516 0,0280 1,842 Tenaga Kerja (X. 0,5673 0,1409 4,027 ** Konstante Ln A 2,3935 Sumber : Analisis Data Primer dengan program SPSS, 2021 Keterangan : ** = Signifikan pada tingkat kepercayaan 95% Pengujian fungsi produksi tersebut dengan mengunakan Uji F (F-tes. pada tingkat signifikansi 5% hasilnya dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Analisis Varians Dari Persamaan Regresi Linear Berganda Sumber Derajat Jumlah Rata-rata F- hitung Variasi Kebebasan Kuadrat Kuadrat Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 Regresi 5,5837 1,1167 Residual 0,1370 0,0044 Total 5,7207 Sumber : Analisis Data Primer,dengan program SPSS, 2021 Keterangan : ** = Signifikan F tabel 0,05 = 2,53 Adjusted R Square = 0,9722 252,602 ** Dari Tabel 2 dapat diketahui bahwa F hitung lebih besar dari F tabel 5%. Ini berarti bahwa persamaan regresi tersebut secara statistik dinyatakan layak . untuk digunakan dalam analisisselanjutnya. Besarnya nilai koefisien determinasi (R. 0,9722 ini berarti bahwa variabel-variabel bebas yang digunakan dalam model fungsi produksi Cobb Douglas mempunyai peluang dalam menjelaskan variasi pada variabel tidak bebas yaitu produk jagung sebesar 97,22 persen. Berdasarkan analisis parsial dengan menggunakan uji-t terhadap koefisien regresi . ilai elastisita. dari fungsi produksi Cobb Douglas diperoleh hasil sebagai berikut : Koefisien regresi luas lahan garapan (X. sebesar 0,5129 dengan nilai t-hitung sebesar 3,994, ini lebih besar dari nilai t-tabel 5% . Hal ini berarti koefisien regresi tersebut secara statistik adalah tidak sama dengan nol dan dinyatakan berpengaruh nyata dan positf terhadap produk jagung. Koefisien regresi juga merupakan nilai elastisitas produksi, yang berarti bahwa setiap penambahan faktor produksi luas ahan garapan sebesar 1% . aktor produksi lain dianggap teta. , maka akan menyebabkan perubahan produk jagung sebanyak 0,5129%. Koefisien regresi bibit sebesar Ae 0,1561, hasil uji-t dari koefisien regresi tersebut pada tingkat kepercayaan 95% adalah nonsignifikan atau tidak berbeda nyata dengan nol. Hal ini berarti bahwa penambahan penggunaan bibit tidak akan memberikan kenaikan produk jagung yang dihasilkan, karena nilai elastisitas produksi dari bibit adalah sama dengan nol. dengan demikian dapat dipahami bahwa penggunaan bibit sudah maksimal. Koefisien regresi pupuk sebesar Ae 0,2038 dengan nilat t-hitung sebesar -2,172 lebih besar dari nilai t-tabel 5% . -tabel 0,05 = 2,. Hal ini berarti koefisien regresi tersebut secara statistik adalah tidak sama dengan nol, sehingga dinyatakan berpengaruh nyata dan negatif terhadap produk jagung. Denngan demikian penambahan pengunaan faktor produksi pupuk sebesar 1% akan mengakibatkan penurunan produk jagung sebanyak 0,2038% atau sebaliknya pengurangan faktor produksi pupuk sebesar 1% akan mengakibatkan penembahan produk jagung sebanyak 0,2038%, jika faktor-faktor lainnya tetap. Koefisien regresi faktor produksi pestisida sebesar 0,516, hasil uji-t dari koefisien regresi tersebut adalah non signifikan . -hitung = 1,842 lebih kecil dari t-tabel 5% = 2,. Ini berart bahwa faktor produksi pestisida tidak berpengaruh nyat terhadap resiko kehilangan produk yang diakibatkan oleh serangan hama dan penyakit. Dengan kata lain bahwa penambahan pestisida tidak dapat menekan resiko kehilangan produk yang diakibatkan oleh serangan hama dan penyakit, sehingga pada akhirnya tidak dapat meningkatkan jumlah produksi jagung. Karena koefisien regresi tidak berbeda dengan nol dan koefisien regresi merupakan elastisitras produksi, maka nilai elastisitas adalah nol. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan pestisida sudah maksimal atau jenuh, karena sebagian besar penggunaannya untuk mematikan gulma dalam persiapan lahan tanam tanpa olah tanah. Koefisien regresi faktor produksi tenaga kerja sebesar 0,5673, hasil uji-t dari koefisien regresi tersebut adalah signifikan atau berbeda nyata denngan nol . -hitung = 4,027 dan t-tabel 5% = 2,. Hal ini berarti bahwa penambahan tenaga kerja akan memberikan kenaikan pada jumlah produksi jagung. Elastisitas produksi untuk tenaga kerja sebesar 0,5673 berarti bahwa penambahan jumlah tenaga kerja sebanyak 1% akan menyebabkab kenaikan jumlah produksi jagung sebanyak 0,5673%. Berdasarkan analisis parsial terhadap koefisien regresi tersebut dapat diketahui bahwa bentuk fungsi produksi jagung di daerah penelitian adalah : Y = 10,9518 X1 0,5129 X3 -0,2038 X5 0,5673 Evaluasi Penggunaan Faktor-faktor Produksi Petani dalam mengelola usahatani pada dasarnya mengharapkan bukan hanya tingkat produk maksimal yang dihasilkan, namun mengharapkan juga adanya perolehan laba atau keuntungan yang maksimal dari penjualan produknya. Untuk mendeteksi perolehan pendapatan petani, apakah sudah maksimal atau belum maksimal, perlu diketahui besarnya nilai produk fisik marjinal, harga masing-masing faktor produksi dan harga Untuk mengevaluasi penggunaan faktor produksi digunakan analisis marjinal, yaiyu untuk mengetahui Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 SSN: 2808-7046 efisiensi penggunaan faktor produksitersebut dipandang dari segi ekonomisnya. Metode analisis tersbut adalah membandingkan nilai produk marjinal (NPMx. dengan biaya korbanan marjinal (BKM x. , apabilanilai relatif tersebutsama dengan satu, maka penggunaan faktor-faktor produksi secara ekonomi adalah efisien. Dalam analisis tersebut di atas, hanya faktor produksi yang mempunyai nilai t-hitung lebih besar dari nilai t-tabel 5% saja yang diperhitungkan. dalam hal ini adalah faktor produksi luas lahan garapan, pupuk, dan tenaga kerja. sedangkan faktor produksi bibit dan pestisida tidak masuk dalam analisis, karena hanya faktor produksi luas lahan garapan, pupuk, dan tenaga kerja yang mempunyai nilai t-hitung lebih besar dari niolai ttabel 5%. Bibit dalam tingkat pepercayaan 95% secara statistik tidak berpengaruh nyata terhadap produk yang Hal ini menunjukkan bahwa penambahan bibit sudah tidak menyebabkan peningkatan produk yang dihasilkan atau dengan kata lain penggunaan bibit sudah maksimal bahkan cenderung berlebih. Faktor produksi pestisida secara statistik juga tidak berpengaruh nyata terhadap produk yang dihasilkan, hal ini menunjukkan bahwa penggunaan pestisida tidak efektif untuk menekan atau menanggulangi serangan hama, penyakit, dan gulma. Penggunaan pestisida di daerah penelitian lebih banyak untuk mematikan gulma/rumput dalam penyiapan lahan tanam tanpa olah tanah, tidak untuk pengendlian hama dan penyakit. Berdasarkan analisis marjinal penggunaan faktor-faktor produksi diperoleh hasil berturut-turut Nilai Produk Marjinal (NPMx. Biaya Korbanan Marjinal (BKMx. , dan nilai rasio antara NPMxi dan BKMxi seperti tertera di Tabel 14. Tabel 3. Nilai Produk Marjinal (NPMX. Biaya Korbanal Marjinal (BKMX. , dan Hasil Bagi NPMXi dengan BKMXi Faktor Produksi (X. NPMXi BKMXi NPMXi / BKMXi Luas Lahan Garapan (X. 090,0000 Pupuk (X. 253,5158 Tenaga Kerja (X. 349,2571 Sumber : Analisis Data Primer, 2021 2,6988 -2,9014 2,5193 Hasil uji-t dari NPMX1/BKMX1 . NPMX3/BKMX3. NPMX5/BKMX5 adalah signifikan . erbeda nyata dengan . pada tingkat kepercayaan 95% . ihat Lampiran I). dengan demikian H 0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti bahwa faktor produksi yang digunakan pada usahatani jagung di daerah penelitian belum menghasilknan keuntungan maksimal. Secara matematis pernyataan tersebut di atas dapat ditulis sebagai ycAycEycAycu1 ycAycEycAycu3 ycAycEycAycu5 O 1 yaAyaycAycu1 yaAyaycAycu3 yaAyaycAycu5 2,6988 O - 2,9014 O 2,5193 O 1 Hasil bagi NPMXi dengan BKMXi dapat diinterpretasikan sebagai berikut : Hasil bagi NPM dengan BKM untuk faktor produksi luas lahan garapan (X. lebih besar dari sau atau NPMX1 lebih besar dari BKMX1. Hal iniberarti bahwa setiap penambahan luas lahan garapan akan memberikan tambahan hasil yang lebih besardari biaya korbanan marjinal luas lahan garapan sampai batas tertentu masih akan mendatangkan keuntungan yang semakin besar. akhirnya keuntungan akan maksimal apabila nilai hasil bagi NPM dan BKM untuk faktor produksi luas lahan garapan sama dengan satu. Hasil bagi NPM dengan BKM untuk faktor produksi pupuk (X . lebih besar dari satu dengan tanda negatif atau NPMX3 lebih besar dari BKMX3 dengan tanda negatif. Hal ini berarti bahwa penggunaan pupuk sudah melampaui batas maksimal, sehingga penambahan pupuk tidak akan memberi tambahan keuntungan tetapi malah mendatangkan kerugian, tambahan hasil yang diperoleh lebih kecil dari tambahan biaya korbanan marjinal pupuk. Pengurangan penggunaan pupuk sampai batas tertentu akan semakin mengurangi kerugian, akhirnya akan tercapai keuntungan yang maksimal pada saat hasil bagi NPM dengan BKM untuk faktor produksi pupuk sama dengan satu. Hasil bagi NPM dengan BKM untuk faktor produksi tenaga kerja (X . lebih besar dari satu, atau NPMX5 lebih besar dari BKMX5. Ini berarti bahwa setiap penembahan tenaga kerja akan memberikan tambahan keuntungan yan lebih besar dari biaya korbanan marjinal tenaga kerja . pah tenaga kerj. Akhirnya keuntungan akan mencapai maksimal apabila batas tertentu tersebut tercapai yaitu pada saat NPMX5 sama dengan BKMX5. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 Kombinasi Optimal Penggunaan Faktor-faktor Produksi Untuk penggunaan tiga buah faktor produksi, yaitu luas lahan garapan (X . , pupuk (X. , dan tenaga kerja (X. , kombinasi optimal akan tercapai apa bila syarat kecukupan terpenuhi. Syarat kecukupan tersebut ycEyaycAycu1 ycEyaycAycu3 ycEyaycAycu5 yaAyaycAycu1 yaAyaycAycu3 yaAyaycAycu5 Dari hasil perhitungan diketahui bahwa kombinasi optimal akan tercapai bila X1 : X3 : X5 = 0,0015 : 1 : 0,0994 atau X 1 = 0,0015 X3 dan X5 = 0,0994 X3. Hal ini berart pula bahwa dengan perbandingan tersebut faktor produksi X 1. X3, dan X5 untuk menghasilkan produk tertentu (Y*) telah digunakan dengan biaya minimal . ihat Lampiran II). Selanjutnya untuk menghasilkan suatu tingkat produk tertentu di daerah peneltian ( Y* = 20,80 kuintal jagung pipilan kerin. , kombinasi X1 . X3 , dan X5 dengan biaya minimal tercapai bila digunakan lahan garapan (X. seluas 0,62 ha, pupuk (X. sebanyak 416,69 kg, dan tenaga kerja (X. sebanyak 41,43 hkp. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan di depan, dapat disimpulkan beberapa hal Bentuk hubungan fisik antara faktor-faktor produksi dan produk jagung di Wilayah Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas adalah : Y = 10,9518 X1 0,5129 X3 -0,2038 X5 0,5673 Faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produk jagung adalah luas tanah garapan (X . , pupuk (X. , dan tenaga kerja (X. Sedangkan bibit (X. dan pestisida (X. secara statistik tidak berpengaruh Bentuk hubungan fisik antara faktor-faktor produksi dan produk jagung di daerah penelitian adalah Y = 10,9518 X10,5129 X3-0,2038 X50,5673 Kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi untuk mencapai keuntungan maksimal di daerah penelitian belum tercapai. Kombinasi faktor-faktor produksi untuk menghasilkan tingkat produksi tertentu di daerah penelitian dengan rata-rata 20,80 kuintal jagung pipilan kering adalah dengan menggunakan luas lahan 0,62 hektar, pupuk sebanyak 416,69 kilogram, dan tenaga kerja (X. sebanyak 41,43 hari kerja pria. Agar kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi pada usahatani jagung di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas lebih menguntungkan maka peneliti menyarankan sebagai berikut : DAFTAR PUSTAKA