Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 166-173 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Upaya Guru Bk dalam Meminimalisir Perilaku Mencontek Siswa Di SMAN 1 Plumbon this is an open access article distributed under the creative commons attribution license cc-by-nc-4. 0 A2020 by author . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc/4. 0/ ). (Received: Oktober-2024. Reviewed: November-2024. Accepted: November-2024. Available online: Desember-2024. Published: Desember-2. Tushliihatul Amaliyyah1 . Nurul Ainadhynanty2Vany Dwi Putri3 1,2,3 Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam Universitas Bunga Bangsa Email: tushliihatulamaliyyah@gmail. Abstract. Cheating is the behavior of cheating in order to get good results without having to try. Cheating behavior is common among students. This is caused by a lack of awareness within students and a lack of confidence in their abilities. Several other factors that influence students to cheat include parental pressure on them who demand high grades, and fear of facing This research aims to determine the efforts made by guidance and counseling teachers to minimize cheating behavior at SMAN 1 Plumbon. The approach used in this research is a qualitative approach using the case study method. In collecting data, this research used interview techniques. Some of the efforts made by guidance and counseling teachers to minimize cheating behavior among students include providing classical guidance regarding the impact of cheating. This activity aims to ensure that students know and understand the impact of cheating. Keywords: Cheating Behavior. High School Students. Guidance and Counseling Teachers Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran deskriptif Mencontek adalah perilaku berbuat curang demi untuk mendapatkan hasil yang baik tanpa harus berusaha. Perilaku mencontek sudah lumrah terjadi dikalangan pelajar. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran dalam diri siswa dan kurangnya kepercayaan diri terhadap kemampuan yang Beberapa faktor lain yang mempengaruhi siswa berlaku curang diantaranya adalah tekanan orang tua terhadap dirinya yang menuntut untuk mendapatkan nilai tinggi, serta rasa takut untuk menghadapi kegagalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya yang dilakukan guru BK dalam meminimalisir perilaku mencontek di SMAN 1 Plumbon. Pendekatan yang digunakan dalam penilitan ini yaitu pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode study kasus. Dalam pengumpulan data, penelitian ini menggunakan teknik wawancara. Beberapa upaya yang dilakukan oleh guru BK dalam meminimalisir perilaku mencontek pada siswa diantaranya yaitu melakukan bimbingan klasikal mengenai dampak mencontek, kegiatan tersebut bertujuan agar siswa mengetahui dan memahami perihal dampak Kata Kunci: Perilaku Mencontek. Siswa SMA. Guru BK 166 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 166-173 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. PENDAHULUAN Perilaku mencontek dikalangan siswa merupakan masalah serius yang dapat berdampak negatif pada integritas akademik dan perkembangan karakter siswa. Mencontek tidak hanya mencerminkan kurangnya pemahaman siswa terhadap materi pelajaran, tetapi juga menunjukkan kelemahan dalam aspek moral dan etika. Dalam jangka panjang, perilaku manusia dapat menghambat pembentukan karakter yang jujur dan bertanggung jawab, yang sangat diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat dan berkarir. Kecurangan akademik atau mencontek merupakan perbuatan yang dilakukan siswa dengan menggunakan segala cara yang melanggar untuk mencapai tujuan tertentu dan terhormat dalam hal ini yakni mendapatkan keberhasilan akademik dan untuk menghindari kegagalan akademik (Liza & Wahyuni, 2. Faktor-faktor yang mendorong perilaku mencontek dikalangan siswa sangat beragam, mulai dari tekanan untuk mendapat nilai tinggi, kurangnya pemahaman terhadap materi pelajaran, hingga pengaruh dari lingkungan sosial yang permisif terhadap kondisi akademik. Tekanan akademis yang tinggi seringkali membuat siswa merasa terpaksa untuk mencari jalan pintas dalam mencapai prestasi, sementara kurangnya kesadaran akan pentingnya membuat perilaku mencontek dianggap sebagai hal yang wajar (Helmi, 2. Hal ini sejalan menurut (Jannah et al. , 2. Secara garis besar faktor Ae faktor yang dapat menjadi pemicu perilaku mencontek siswa terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal, faktor internal berasal dari dalam diri siswa itu sendiri seperti penyakit jiwa, dorongan nafsu yang berlebihan, penilaian yang keliru terhadap diri sendiri maupun orang lain, serta pandangan negatif terhadap diri sendiri. Adapun faktor lingkungan meliputi: kondisi ekonomi masyarakat, masa peralihan, keretakan dalam rumah tangga, pola pengasuhan anak, pengaruh teman sebaya, dan pelaksanaan hukum yang berdampak Guru Bimbingan Konseling (BK) memiliki peran strategi dalam membentuk karakter siswa dan mencegah perilaku Sebagai pembimbingan dan konselor, guru BK dapat melakukan berbagai upaya preventif dan intervensi untuk meminimalisir perilaku mencontek. Beberapa strategi yang dapat diterapkan antara lain memberikan karakter pendidikan, mengadakan sesi konseling individu atau kelompok, serta menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan bebas dari tekanan yang berlebihan, layanan informasi dan layanan bimbingan kelompok (Saputra & Komariah, 2. Pentingnya peran guru BK dalam menangani perilaku mencontek juga didukung penelitian yang menunjukkan bahwa intervensi yang tepat dapat secara signifikan mengurangi kejadian mencontek di sekolah. Melalui pendekatan holistk dan sistematis, guru BK dapat membantu siswa memahami konsekuensi negatif dari mencontek, serta menumbuhkan sikap jujur dan bertanggung jawab dalam diri mereka (Syibli & Sapari, 2. Melalui peran ini guru BK dapat memberikan informasi sebagai layanan bimbingan kepada siswa tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan yang dapat membahayakan bahkan merugikan bagi diri siswa (Muhyatun, 2. Berdasarkan latar belakang ini, penelitian mengenai upaya guru BK dalam meminimalisir perilaku mencontek menjadi sangat relevan dan penting. Penelitian ini tidak hanya menggali efektivitas berbagai strategi yang digunakan oleh guru BK, tetapi juga memberikan rekomendasi praktis bagi sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang menjunjung tinggi integritas akademik 167 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 166-173 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi kasus, dimana penelitian ini mengharuskan seorang peneliti untuk melakukan analisis yang lebih rinci, teliti, dan mendalam terhadap suatu kasus atau peristiwa, baik yang bersifat individu maupun kelompok. Pada eksplorasi studi pustaka ini, peneliti bertujuan untuk mendalami pembahasan mengenai studi kasus sebagai bagian dari metode penelitian (Hidayat & Purwokerto, 2. Studi kasus merupakan serangkaian kegiatan ilmiah yang dilakukan secara mendalam, terinci, dan intensif terhadap suatu program, peristiwa, atau aktivitas, baik itu pada tingkat individu, kelompok orang, lembaga, atau organisasi. Tujuan dari studi kasus adalah untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang peristiwa tersebut. Umumnya, objek penelitian studi kasus adalah situasi yang aktual dan unik, bukan sesuatu yang sudah terjadi atau berlalu (Hidayat & Purwokerto, 2. Penelitian studi kasus bertujuan untuk mengungkap kekhasan atau keunikan krakteristik yang terdapat didalam kasus yang diteliti (Ilhami et al. , 2. kasus itu sendiri merupakan penyebab dilakukanya penelitian studi kasus oleh karena itu tujuan dan fokus utama dari penelitian studi kasus adalah pada kasus yang menjadi objek penelitian. Kasus itu bisa ada dan ditemukan hampir disemua bidang, oleh karena itu segala sesuatu yang berkaitan dengan kasus seperti sifat alamiah kasus, kegiatan, fungsi, kesejarahan, kondisi lingkungan dan berbagai hal lain yang berkaitan dan mempengaruhi kasus harus diteliti dengan tujuan untuk menjelaskan dan memahami keberadaan kasus tersebut secara menyeluruh dan komprehensif (Hidayat & Purwokerto, 2. Untuk memperoleh informasi yang menyeluruh, peneliti tidak hanya mengumpulkan data dari partisipan dan informan utama melalui wawancara mendalam, tetapi juga merangkul kontribusi dari individu-individu di sekitar subjek penelitian. Selain itu, peneliti memanfaatkan catatan harian yang mencatat aktivitas subjek atau jejak rekam subjek sebagai tambahan sumber informasi (Rahardjo, 2. Selain melakukan wawancara mendalam, terdapat lima teknik pengumpulan data dalam penelitian Studi Kasus, yaitu dokumentasi, observasi langsung, observasi terlibat . articipant observatio. , dan artifak fisik. Setiap teknik ini memiliki peranannya sendiri dan saling melengkapi satu sama lain. Keunggulan Studi Kasus dibanding metode penelitian kualitatif lainnya terletak pada variasi teknik pengumpulan data yang digunakan (Rahardjo, 2. Pendekatan studi kasus lebih disukai dalam penelitian kualitatif karena kedalaman dan detail suatu metode dari berbagai kasus kecil (Assyakurrohim et al. , 2. karena dalam penelitian studi kasus terdiri dari eksplorasi beragam kasus dari waktu ke waktu melalui pengumpulan data secara mendalam dan melibatkan berbagai informasi dari suatu konteks. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Perilaku Menyontek Hasil temuan mengenai perilaku mencontek menunjukkan bahwa tindakan ini tidak bisa dilepaskan dari aspek psikologis individu dan pengaruh lingkungan sosial. Rasa percaya diri yang rendah menjadi titik awal dari banyak kasus mencontek, di mana siswa merasa tidak cukup mampu untuk menyelesaikan soal secara mandiri. Ini mengindikasikan pentingnya penguatan kompetensi intrapersonal siswa sejak dini, agar mereka mampu menghadapi tantangan akademik tanpa 168 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 166-173 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. mengandalkan cara-cara curang. Selain itu, kecemasan akademik yang tinggi merupakan sinyal bahwa banyak siswa yang belum mampu mengelola tekanan dengan baik. Kecemasan ini dapat mengganggu fungsi kognitif, menghambat pemikiran rasional, dan akhirnya mengarahkan pada perilaku negatif seperti mencontek. Oleh karena itu, program pengembangan keterampilan manajemen stres dan penguatan regulasi emosi sangat dibutuhkan dalam lingkungan sekolah. Pengaruh teman sebaya juga memainkan peran signifikan. Ketika mencontek dianggap sebagai bagian dari budaya kelompok, maka siswa yang sebenarnya tidak ingin mencontek pun dapat ikut melakukannya demi menjaga relasi sosial. Ini menunjukkan perlunya pendidikan nilai-nilai kejujuran dan integritas akademik yang ditanamkan secara sistematis dan Guru dan sekolah harus dapat membentuk iklim belajar yang menghargai proses, bukan hanya hasil akhir. Perilaku mencontek juga menyebabkan distorsi dalam evaluasi pembelajaran, karena hasil tes tidak lagi mencerminkan kemampuan sebenarnya dari siswa. Ini tentu merugikan semua pihak, baik siswa itu sendiri, teman yang dicontek, maupun guru yang menjadi kesulitan dalam mengevaluasi keberhasilan proses belajar. Oleh karena itu, perilaku ini tidak boleh dianggap remeh atau dilihat sebagai "kebiasaan yang wajar", melainkan sebagai persoalan serius yang harus ditangani secara sistematis melalui peran aktif guru, orang tua, dan lembaga pendidikan. Upaya Guru BK Dalam Meminimalisir Perilaku Mencontek Pada Siswa Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan guru BK di SMAN 1 Plumbon, diketahui bahwa pihak sekolah, khususnya guru BK, telah melakukan berbagai upaya dalam rangka meminimalisir perilaku mencontek di kalangan siswa. Salah satu strategi yang diterapkan adalah melalui layanan bimbingan kelompok yang membahas secara langsung mengenai dampak dan konsekuensi dari perilaku mencontek. Dalam sesi ini, siswa diberikan ruang untuk saling berbagi pengalaman, memahami dampak perilaku curang terhadap perkembangan akademik dan moral, serta membangun kesadaran akan pentingnya kejujuran dalam belajar. Selain bimbingan kelompok, guru BK juga melakukan konseling individual untuk siswa yang menunjukkan kecenderungan atau memiliki riwayat mencontek secara berulang. Melalui pendekatan personal ini, siswa dapat diajak untuk mengeksplorasi penyebab perilaku mencontek dari sudut pandang psikologis dan emosional yang lebih dalam, serta diberikan strategi untuk mengatasi tekanan dan kecemasan belajar. Dalam rangka menyesuaikan dengan tantangan zaman, pihak sekolah juga mengembangkan inovasi teknologi berupa aplikasi ujian berbasis digital yang dirancang khusus untuk mencegah siswa keluar dari tampilan ujian. Aplikasi ini memungkinkan akses satu kali login, dan akan otomatis log out jika siswa mencoba membuka aplikasi lain atau keluar dari halaman ujian. Hal ini mencegah akses ke mesin pencari seperti Google dan aplikasi lain yang biasa digunakan siswa untuk mencontek saat ujian daring. Guru BK menyampaikan bahwa sejak penggunaan aplikasi ini, terdapat penurunan yang signifikan dalam perilaku Namun, masih ditemukan beberapa siswa yang mencoba mencari celah, seperti menggunakan dua perangkat saat ujian berlangsung. Meskipun begitu, banyak siswa yang mulai menyadari pentingnya kejujuran dan mulai menunjukkan sikap positif dalam mengerjakan ujian dengan kemampuan sendiri. Ini menunjukkan bahwa kombinasi antara pendekatan konseling dan inovasi teknologi mulai memberikan hasil yang positif dalam menekan praktik mencontek. 169 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 166-173 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Pembahasan Perilaku mencontek merupakan isu klasik namun tetap relevan di dunia pendidikan Indonesia. Dalam konteks ini, mencontek diartikan sebagai tindakan curang untuk memperoleh nilai baik saat ujian (Kusrieni, 2. Perilaku ini tidak hanya dilakukan secara individu, tetapi juga dilakukan secara berkelompok, yang menunjukkan bahwa mencontek sudah menjadi kebiasaan atau bahkan budaya di kalangan siswa. Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran karena dapat merusak nilai-nilai integritas akademik. Beberapa faktor yang memengaruhi tindakan mencontek di antaranya adalah kurangnya rasa percaya diri siswa, kecemasan berlebihan terhadap hasil ujian, serta motivasi belajar yang rendah. Ketika siswa merasa tidak mampu atau ragu terhadap kemampuan sendiri, mereka lebih memilih untuk mencari jalan pintas, yakni dengan mencontek. Menurut Pudjiastuti . , mencontek bukan hanya merugikan siswa itu sendiri karena tidak bisa mengukur kemampuan belajarnya secara objektif, tetapi juga merugikan siswa yang dicontek, serta mempersulit guru dalam mengevaluasi keberhasilan proses pembelajaran. Kecemasan juga memainkan peran penting. Menurut Amelia et al. , kecemasan muncul karena adanya tekanan terhadap ekspektasi hasil belajar dan rasa takut gagal. Dalam keadaan cemas, siswa mengalami gangguan konsentrasi dan kesulitan berpikir jernih, sehingga memilih untuk mencontek sebagai cara mengurangi tekanan yang dirasakan. Selain itu, pengaruh teman sebaya menjadi faktor kuat dalam pembentukan perilaku mencontek. Dalam masa remaja, siswa berada dalam fase pencarian jati diri dan membutuhkan penerimaan sosial. Wahyuningtyas & Indrawati . menekankan bahwa pengaruh kelompok sebaya sangat dominan dalam keputusan remaja, termasuk dalam tindakan Fitria . juga menyatakan bahwa beberapa siswa mencontek karena tidak ingin dikucilkan oleh kelompok Mereka merasa bahwa untuk tetap diterima, mereka harus mengikuti perilaku kelompok. Guru BK memiliki peran strategis dalam meminimalisir perilaku menyimpang ini. Tohirin & Pd . menyatakan bahwa guru BK dapat membimbing siswa melalui layanan bimbingan dan pemberian informasi mengenai dampak buruk perilaku Di SMAN 1 Plumbon, upaya seperti bimbingan kelompok dan konseling individual sudah dilakukan. Upaya ini konsisten dengan pendapat Hurlock . bahwa bimbingan kelompok dapat meningkatkan kesadaran sosial dan tanggung jawab moral siswa terhadap perilaku menyimpang seperti mencontek. Namun, tantangan tetap ada. Dalam praktiknya, banyak siswa yang masih menganggap mencontek sebagai hal lumrah. Simkin & McLeod . menunjukkan bahwa banyak siswa tidak menganggap mencontek sebagai tindakan yang salah selama tidak merugikan orang lain, yang mencerminkan penurunan nilai moral akademik. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan yang dilakukan tidak bisa bersifat konvensional saja. Menjawab tantangan tersebut. SMAN 1 Plumbon mengadopsi pendekatan teknologi dengan membuat aplikasi ujian digital Aplikasi ini memiliki fitur keamanan seperti akses satu kali, yang menghalangi siswa untuk membuka aplikasi lain saat ujian berlangsung. Jika keluar dari aplikasi, siswa harus mendapat izin dari guru untuk masuk kembali. Pendekatan ini sangat relevan dengan penelitian Alwi & Hidayati . yang menyatakan bahwa teknologi dapat membantu meminimalisir perilaku tidak jujur siswa selama ujian melalui sistem yang ketat dan membatasi akses informasi. Lebih lanjut. Setiawan dan Rahmawati . menyarankan agar strategi pencegahan perilaku menyimpang harus bersifat holistik, yakni tidak hanya memperhatikan aspek psikologis siswa, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan digital dan 170 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 166-173 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. kebiasaan generasi saat ini. Dalam konteks ini, strategi teknologi yang diterapkan SMAN 1 Plumbon merupakan contoh adaptasi positif terhadap tantangan zaman. Walaupun implementasi teknologi ini cukup berhasil, masih ditemukan celah-celah pelanggaran, seperti penggunaan dua perangkat saat ujian. Namun demikian, kesadaran siswa terhadap pentingnya kejujuran akademik mulai tumbuh. Hal ini sejalan dengan penelitian Retnowati et al. yang menekankan pentingnya pendidikan karakter berbasis kejujuran sebagai bagian integral dari sistem pendidikan agar terbentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki ketangguhan moral. Dengan demikian, upaya meminimalisir perilaku mencontek memerlukan kolaborasi antara pendekatan psikologis, teknologi, dan pendidikan karakter. Guru BK memiliki peran vital sebagai fasilitator pembentukan karakter dan pendampingan psikologis, sedangkan lembaga pendidikan perlu menyediakan sistem yang mendukung lahirnya integritas SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Penelitian ini mengeksplorasi upaya guru Bimbingan dan Konseling (BK) di SMAN 1 Plumbon dalam meminimalisir perilaku mencontek di kalangan siswa. Mencontek adalah perilaku curang yang dilakukan siswa untuk mendapatkan nilai tinggi tanpa usaha yang sesuai, dan telah menjadi masalah umum di dunia pendidikan. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi perilaku ini antara lain kurangnya rasa percaya diri siswa, tekanan orang tua untuk mendapatkan nilai tinggi, kecemasan menghadapi kegagalan, dan pengaruh negatif lingkungan sosial. Guru BK di SMAN 1 Plumbon telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah ini. Upaya tersebut meliputi bimbingan kelompok dan konseling individual, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa tentang dampak negatif mencontek serta menumbuhkan sikap jujur dan bertanggung jawab. Selain itu, inovasi teknologi juga diperkenalkan, seperti penggunaan aplikasi khusus ujian yang membatasi akses siswa ke internet selama ujian berlangsung, sehingga mengurangi peluang untuk mencontek. Secara keseluruhan, peran guru BK sangat penting dalam membentuk karakter siswa dan menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan jujur. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan holistik dan sistematis dalam menangani masalah mencontek, serta perlunya inovasi berkelanjutan untuk mengatasi tantangan yang ada. Implementasi strategi yang tepat dan efektif dapat secara signifikan mengurangi perilaku mencontek dan membantu siswa memahami pentingnya kejujuran dan tanggung jawab dalam pendidikan dan kehidupan mereka. Saran