CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 Penerapan PjBL Berbantuan Media POPINDA untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila di SD 2 Medini Yulinda Munggi Ratna1. Much Arsyad Fardani2. Nurul Hamim3 Universitas Muria Kudus SD 2 Medini Email : yulindamunggi@gmail. com, arsyad. fardhani@umk. nurulhamim85@gmail. Abstrak Hasil pengamatan secara langsung memberikan jawaban bahwa hasil belajar siswa dalam materi AuKeberagaman BudayaAy menunjukkan hasil yang belum optimal. Siswa sulit mendapati pemahaman pada topik dengan konsep abstrak jika hanya diberikan melalui metode ceramah atau hanya bersumber dari buku teks. Metode belajar yang kurang variatif dan media belajar interaktif yang minim digunakan. Media dan model belajar yang begitu-begitu saja menjadi akar masalah terhadap siswa yang pasif saat Maka dari itu, penelitian dilakukan dengan tujuan mendeskripsikan model PjBL berbantuan media POPINDA . op up book Indonesi. dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan pancasila. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan model Kemis dan McTaggart. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD 2 Medini berjumlah 24 siswa. Penelitan ini dilakukan 2 siklus dan setiap siklusnya dilakukan selama 3 pertemuan. Prasiklus menunjukkan angka 52. Pada siklus pertama, siswa mengalami kenaikan hasil belajar yaitu skor rata-rata 71. Setelah melakukan evaluasi dan refleksi, pada siklus kedua, siswa mengalami kenaikan dengan skor ratarata 80,5. Hasil penelitian dari data dan obersvasi dapat diartikan bahwa model PjBL dengan dukungan media POPINDA . op up book Indonesi. dengan pengukuran melalui tes hasil belajar meningkat pada siklus 1 . 8%) dan siklus 2 . 3%). Kata Kunci: Project Based Learning. Pop Up Book. Hasil Belajar Abstract Direct observations revealed that students' learning outcomes on the topic of "Cultural Diversity" were not yet optimal. Students struggled to understand abstract concepts when taught only through lectures or textbook-based instruction. The lack of varied teaching methods and minimal use of interactive learning media contributed to this Repetitive use of the same models and media led to passive learning behavior among students. Therefore, this study aimed to describe how the Project-Based Learning (PjBL) model assisted by POPINDA media (Pop-Up Book Indonesi. could improve students' learning outcomes in the Pancasila education subject. This classroom action research employed the Kemmis and McTaggart model. The research subjects were 24 fourth-grade students of SD 2 Medini. The study was conducted in two cycles, with each cycle consisting of three sessions. The pre-cycle average score was In the first cycle, the average score increased to 71. After evaluation and reflection. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH Email : cessjcessj@gmail. CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 the second cycle showed a further improvement with an average score of 80. The research findings based on test results and observations indicate that the PjBL model supported by POPINDA media significantly improved students' learning outcomes, with achievement increasing from 45. 8% in the first cycle to 83. 3% in the second cycle. Keywords: Project Based Learning. Pop Up Book. Learning Outcomes Pendahuluan Mata Pelajaran Pendikan Pancasila berperan dalam membangun karakter siswa yang cinta pada tanah air, menanamkan sikap toleransi, serta memberikan kesadaran pada nilai luhur bangsa Indonesia. nilai luhur bangsa Indonesia. Berdasarkan UU Nomor 20 Tahun 2003. Pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk menciptakan suasana dan proses pembelajran yang memungkinkan peserta didik aktif dan mengembangkan potensi diri. Salah satu materi penting dalam Pendidikan Pancasila adalah keberagaman budaya, yang mencerminkan kekayaan dan identitas bangsa Indonesia sebagai negara yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras, dan Materi ini bertujuan untuk menanamkan pemahaman tentang pentingnya hidup berdampingan secara harmonis di tengah keberagaman serta meningkatkan rasa nasionalisme peserta didik. Namun, dalam praktiknya, pembelajaran materi keberagaman budaya sering kali menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal minat belajar siswa dan pemahaman terhadap materi yang disampaikan. Hasil pengamatan awal pada siswa kelas IV SD 2 Medini yang dilakukan di lapangan menunjukkan kenyataan bahwa materi AuKeberagaman BudayaAy dalam hasil belajar siswa nampak belum optimal. Terdapat banyak siswa yang mengalami kesulitan untuk memahami konsep abstrak jika hanya diberikan melalui metode ceramah atau hanya bersumber dari buku teks, metode belajar yang kurang variatif dan media belajar interaktif yang minim digunakan, menjadi faktor minat belajar siswa yang rendah. Hal ini juga menyebabkan siswa yang pasif selama proses pembelajaran dan memiliki kemampuan yang kurang dalam konteks mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari mereka. Kondisi ini menjadi fenomena yang memperkuat bahwa inovasi dalam mengajar perlu dilakuan agar materi keberagaman budaya dapat disampaikan secara menarik dan mudah dipahami siswa. Berdasarkan pengamatan awal tersebut, hasil belajar siswa dipengaruhi oleh media dan model pembelajaran yang dirasa membosankan bagi siswa. Maka diperlunya menerapkan model pembelajaran yang dapat mengatasi masalah tersebut dan meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu model belajar yang disebut project based learning (PjBL), menjadi rancangan pembelajaran inovatif dan terbarukan. Melalui model ini, siswa dapat mengembangkan daya pikir kreatif dalam menciptakan suatu gagasan atau bentuk karya, serta mengembangkan kemampuan memecahkan Disamping itu. PjBL Azzahra. Arsih, dan Alberida . , dapat meningkatkan motivasi, kemampuan bekerja sama, bahkan berpikir kritis. Hal ini JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH Email : cessjcessj@gmail. CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 menunjukkan bahwa model ini memiliki peluang untuk meningkatkan hasil belajar Model PjBL dapat didefinisikan sebagai pembelajaran yang dilandasi proyek, siswa menghadapi suatu masalah yang dianggap bermakna, lalu secara kolaboratif menciptakan solusi dari masalah tersebut. PjBL memiliki prinsip belajar yang berpusat pada peserta didik untuk dapat melakukan penyelesaian masalah sehingga dapat menghasilkan suatu produk nyata sesuai kemampuan peserta didik (Aziz dan Nurachadijat, 2. Menurut Bie (Erisa. Hadiyanti, dan Saptoro, 2. , dalam PjBL, menuntut siswa untuk dapat berpartisipasi dalam menemukan solusi terhadap masalah yang ada, kemudian menyelesaikan tugas belajar dengan proses belajar yang bermakna, sehingga kemandirian siswa dapat berkembang dan siswa dapat membentuk proses belajar menuju hasil belajar yang optimal melalui hasil produk/karya yang mereka kreasikan dalam pembelajaran. Model ini menciptakan sikap belajar disiplin, serta menstimulus siswa untuk dapat menjadi siswa yang reaktif dan memiliki kemampuan kreatif ketika Media yang dapat digunakan dalam PjBL adalah pop up book, media ini memiliki bentuk yang menarik dan dapat memvisualisasikan konsep yang abstrak, melalui dukungan media ini, pemahaman materi dapat dengan mudah diserap terutama dalam konteks keberagamamn budaya, bahkan dapat membantu meningkatkan motivasi belajar dan mendorong kreativitas siswa. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Yasmin. Pramono dan Astuti . mendapati hasil bahwa media ini memicu dorongan belajar siswa, memberikan peningkatan daya ingat, serta kemampuan pemahaman siswa terhadap materi (Yasmin. Pramono, dan Astuti, 2. Konsep yang dimiliki oleh pop up book adalah ketika halaman dibuka, maka dapat menampilkan gambar tiga dimensi yang menjadi daya tarik bagi siswa sekolah Media ini memberikan kejutan di setiap halaman yang dibuka, memiliki warna yang indah, dan membuat siswa merasa tertarik karena tiap halaman memiliki unsur tiga dimensi yang penuh kejutan (Winda. Pangestu, dan Malaikosa, 2. Selain itu, penelitian Hamidah dan Citra . mendapati hasil penelitian bahwa PjBL menyediakan suasana belajar yang menyenangkan dan tidak membosankan, sehingga minat belajar siswa dapat meningkat. Model ini juga dapat mempengaruhi hasil belajar siswa dan menuntut siswa untuk memiliki keterlibatan secara langsung dalam kegiatan belajar, dengan begitu, siswa dapat secara mudah memahami materi belajar dan hasil belajar dapat maksimal. Penelitian ini berutujuan melalui bantuan media POPINDA . op up book Indonesi. dalam pelaksanaan PjBL dapat memberikan peningkatan terhadap hasil belajar siswa dalam mata pelajaran pendidikan pancasila. Hasil yang ditemukan pada penelitian ini juga dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi rendahnya hasil belajar siswa pada materi keberagaman budaya sekaligus mendukung tujuan Pendidikan Pancasila sebagai sarana membentuk generasi muda yang berkarakter dan berwawasan kebangsaan. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH Email : cessjcessj@gmail. CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 Pendekatan ini menjadi metode yang diharapkan dapat memberikan siswa dalam kemudahan memahami konsep materi yang abstrak tak hanya secara teori, namun mampu menginternalisasi nilai-nilai toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, dan rasa cinta tanah air sebagai bagian dari karakter mereka. Penelitian ini juga dapat memberikan manfaat positif pada rancanan belajar yang inovatif di jenjang sekolah dasar, serta menjadi referensi bagi guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan Pancasila secara umum. Metode Pada penelitian ini, metode yang diterapkan adalah Penelitian tindakan kelas (PTK), dilakukan di kelas IV SD 2 Medini di semester genap. Subjeknya diantaranya ialah 24 siswa kelas IV mencakup 15 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan. PTK ini dilakukan melalui 2 siklus dan dilakukan setiap siklus dilakukan selama 3 pertemuan. Data hasil tes dianalisis dengan rumus ketuntasan belajar klasikal melalui rumus ycycycoycoycaEa ycycnycycyca ycycycuycycayc y 100%. ycycycoycoycaEa ycyceycoycycycEa ycycnycycyca Ketentuan keberhasilan hasil belajar ditunjukkan jika 75% siswa memiliki nilai diatas 75 (KKTP). Model yang digunakan adalah versi Kemis dan McTaggart dengan dimulai dari tahap merencanakan, lalu melaksanakan dan dibersamai dengan pengamatan, kemudian refleksi. Tahap ini dilakukan berulang sehingga tujuan penelitian dapat tercapai (Machali, 2. Menurut Yanti. Murtono dan Fardani . , metode PTK model Kemis dan McTaggart ini dilakukan melalui siklus ke-1 lalu dapat dilanjut ke siklus ke-2 dan dalam prosesnya, perlu dilakukan melalui empat tahap. Tahap perencanaan dilakukan dengan merancang penelitian untuk memecahkan masalah, pada tahap tindakan, peneliti mengimplementasikan rancangan pada subjek penelitian diikuti pengamatan keaktifan siswa, keterampilan siswa, lalu pada tahap refleksi, peneliti perlu mengetahui hal yang kurang sehingga dapat diperbaiki di pertemuan selanjutnya. Aspek yang diamati di setiap siklus dan pertemuan dalam penelitian ini diantaranya adalah. kesiapan peserta didik dalam memulai pembelajaran, . aktif dan sungguh-sungguh dalam mendengarkan guru saat menyampaikan materi, . peserta didik saling menghargai pendapat teman, . ketertarikan siswa ketika pembelajaran dimulai, . siswa reaktif pada guru, . keterlibatan dan kedisiplinan, . keterampilan peserta didik dalam menggunakan media pop up, dan . tepat waktu dalam mengumpulkan tugas. Penelitian ini dikumpulkan datanya secara kuantitatif dan deskriptif meliputi melakukan pengamatan langsung ketika proses mengajar di mulai. dari prasiklus, siklus 1, hingga siklus 2 serta wawancara. Lalu dilakukan tes untuk menentukan ketuntasan hasil belajar siswa sehingga informasi karakteristik dan kriteria keberhasilan dapat terlihat (Utomo. Asvio. Prayogi, 2. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH Email : cessjcessj@gmail. CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 Hasil dan Pembahasan Penelitian diawali dengan menilai prasiklus, kemudian penelitian tindakan kelas dapat dilakukan melalui siklus ke-1, dilanjut pada siklus ke-2. Tabel 1. Hasil belajar pra-siklus KKTP Nilai Minimum Nilai Maksimal RataRata Tuntas 51,8% Tidak Tuntas Pada tabel 1. AuKeberagaman BudayaAy yang menjadi topik dalam PTK pada siswa kelas IV SD 2 Medini menunjukkan hasil pra-siklus di bawah KKTP 75, dengan hasil rata-rata 51,8% Maka, siswa yang dinyatakan tidak tuntas sebanyak 100%. Penyebab dari hal tersebut karena proses belajar yang dilakukan di kelas tidak bervariatif, guru hanya memberikan ceramah dan hanya menggunakan media buku bacaan, sehingga siswa di kelas tidak mendapatkan pemahaman yang baik sehingga hasil belajar tidak menunjukkan hasil yang memadai. Sejalan dengan perkembangan kognitif anak usia 7 hingga 12 tahun yang menunjukkan perkembangan kognitif operasional konkret, siswa memiliki cara berpikir yang sudah sistematis, tetapi masih terbatas pada aktifitas pembelajaran yang konkrit, maka siswa kelas IV memerlukan metode belajar yang kontekstual dan konkrit. Perkembangan anak operasional konkrit tak hanya dapat mengandalkan sudut pandang penglihatan, namun diikuti oleh pemikiran logika yang sudah berkembang (Marinda. Pengamatan siswa di pra-siklus memperlihatkan pemahaman siswa yang masih Banyak siswa yang merasa bingung dalam membedakan budaya antarprovinsi, rumah adat, tarian daerah, pakaian tradisional, serta alat musik tradisional. Hampir seluruh siswa merasa malas mempelajari materi karena model belajar yang digunakan adalah hafalan, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam memahami bahkan mengingat materi. Karena hal tersebut, rasa antusias dan partisipasi siswa dalam belajar rendah sehingga hasil belajar belum optimal. Hasil pengamatan tersebut didukung oleh penelitian Isti (Nihayah. Fakhriyah, dan Fardani . , bahwa pola pikir kreatif siswa kurang terstimulus jika guru hanya melakukan ceramah yang diakhiri tanya jawab. Hanya dengan media gambar di buku cetak, siswa tidak memiliki pemikiran kreatif dan makna materi tidak sepenuhnya dipahami, bahkan siswa hanya terpaku pada jawaban yang terdapat di buku. Bagi siswa sekolah dasar, belajar bukanlah hanya menghafal konsep dan fakta. Agar proses belajar dapat membangun pemahaman siswa secara utuh dan tidak terlupakan, diperlukan pengalaman belajar yang dapat mengintegrasikan antara konsep dengan pemahaman yang holistik, sehingga materi secara efektif dipahami dan tahan dalam ingatan. Guru memerlukan analisis konsep apa yang sudah dikuasai siswa sehingga pengetahuan baru dapat diintegrasikan dengan mudah dan bermakna. (Jamaludin. Pribadi, dan Mulyawati, 2. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH Email : cessjcessj@gmail. CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 Siswa kelas IV dari pengamatan peneliti, secara dominan menunjukkan gaya belajar visual dan kinestetik. Gaya belajar tersebut nampak dari rasa tertarik siswa ketika mendapati informasi yang diberikan dalam bentuk gambar yang penuh warna atau media visual menarik lainnya, termasuk pop up book. Menurut Azis. Oktaviyani, dan Fardani . , anak dengan gaya belajar visual cenderung suka menulis dan mencatat informasi. Ciri-ciri gaya visual diantaranya adalah memperhatikan gerakan guru dan cara bicara guru, lebih suka kegiatan mengamati lingkungan terlebih dahulu sebelum bertindak, pasif saat diskusi, serta lebih menyukai kegiatan yang diberi contoh daripada dijelaskan. Bagi siswa dengan gaya belajar kinestetik, nampak dari cara belajarnya yang memerlukan aktifitas dengan media yang konkrit sehingga siswa dapat menyentuh, menciptakan, dan medemonstrasikan secara langsung. Menurut Azis. Pramujo, dan Yuwono . , gaya belajar kinestetik mencakup perhatian fisik yang ditanggapi siswa, ketika berbicara mereka berdiri di dekat lawan bicaranya, berpusat pada fisik dan gerak, tertarik belajar ketika banyak melakukan manipulasi dan praktik, jari digunakan sebagai petunjuk ketika membaca, serta tidak bisa duduk diam di waktu yang lama. Maka dari itu, hasil pengamatan ini menjadi penentu bahwa media belajar pop up book dapat diberikan kepada siswa kelas IV karena memiliki elemen visual yang unik, interaktif karena dapat disentuh dan dieksplorasi oleh siswa. Untuk mendukung pembelajaran yang bermakna dan mendorong hasil belajar siswa, model PjBL dipilih sehingga siswa dapat berkelompok dan menciptakan produk pop up book dengan tema keberagaman budaya. Selain itu, model belajar baru ini dapat menjadi salah satu upaya untuk merangsang pengembangan minat kognitif anak. Sebagaimana menurut Piaget (Marinda, 2. , jika anak mengalami pengalaman baru dalam belajar, secara individual, akan menumbuhkan minat dan merangsang pengembangan kognisi di tahap Minat datang dari pengalaman baru sehingga menimbulkan motivasi dalam Tabel 2. Hasil belajar siklus 1 KKTP Nilai Minimum Nilai Maksimal RataRata Tuntas 70,8% 45,8% Tidak Tuntas 54,2% Siklus 1 dilakukan dengan nilai evaluasi yang didapat dari siklus pertama adalah 70,8%. Hasil ini menunjukkan peningkatan sebesar 19%. Jumlah persentase siswa yang tidak tuntas adalah 54,2% dan yang tuntas adalah 45,8%. Maka dari itu, siklus pertama memerlukan evaluasi mendalam sehingga hasil belajar siswa dapat dikatakan tuntas. Pada pertemuan kesatu dan kedua di siklus ke-1, dilakukan pelaksanaan proyek membuat pop up book tentang keanekaragaman budaya Indonesia. Peserta didik diajak JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH Email : cessjcessj@gmail. CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 untuk menggunting, menempel, kemudian mengelompokkan gambar rumah adat, baju adat, dan tarian adat sesuai provinsinya masing-masing. Selama proses, peserta didik dipantau guru lalu setelah 40 menit merancang pop up book, peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Pertemuan ketiga, guru melakukan evaluasi menyeluruh dan mengajak siswa untuk berdiskusi dan meminta siswa menjelaskan kembali. Guru melakukan refleksi bersama dan menyediakan lembar kerja peserta didik (LKPD) yang memuat materi dan proyek yang telah dibuat. Siklus ke-1 masih menunjukkan ketuntasan hasil belajar yang kurang di hari pertama, dan cukup, di hari kedua. Hasil observasi pembelajaran pada siklus 1 menunjukkan bahwa siswa kurang aktif dan tidak mendengarkan guru secara sungguhsungguh saat penyampaian materi, siswa kurang disiplin dan terlibat. Pada pertemuan kedua, siswa mulai dapat mendisiplinkan diri dan turut serta dalam pembelajaran, bahkan mulai mendengarkan guru ketika menyampaikan materi sehingga, pada pertemuan ke-2 siklus 1, mendapati kategori cukup. Pada pertemuan ketiga, siswa dapat dengan baik siap mengikuti pembelajaran, menunjukkan rasa antusias dalam belajar dan mulai menunjukkan keterampilan dalam menggunakan media pop up book. Sebagai evaluasi dari siklus ke-1, beberapa hal yang dapat dicatat adalah bahwa siswa masih merasa AokosongAo atau bingung perihal cara membuat pop up book, beberapa dari mereka merasa frustasi dan menyerah, namun kebanyakan cenderung menikmati proses belajar. Ini yang menjadi penyebab skor di siklus pertama masih masuk ke dalam persentase yang belum tuntas pencapaian hasil belajarnya. Di siklus kedua, guru menampilkan pop up book miliknya dan dijadikan contoh atau referensi proyek lanjutan untuk menstimulasi minat dan ketertarikan siswa, serta merangsang kreativitas dan pola berpikir kritis siswa. Pembuatan pop up book dilakukan selama 40 menit, dengan topik bahasan alat musik tradisional dan senjata tradisional yang ada di Indonesia. Setelah itu, siswa mempresentasiikan hasil kerja dan saling menanggapi satu sama lain. Di pertemuan kedua, guru memberikan LKPD untuk diisi, dan memberikan tugas kelompok pelaksanaan proyek yang ditugaskan di rumah sehingga anak memiliki waktu yang panjang untuk merancang dan berkreasi produk pop up book. Pertemuan ketiga, siswa mempresentasikan dan saling berdiskusi dari hasil kerja kelompok setelah itu, siswa kembali mengisi LKPD dan melakukan refleksi. Tabel 3. Hasil belajar siklus 2 KKTP Nilai Minimum Nilai Maksimal RataRata Tuntas 80,4% 83,3% Tidak Tuntas 16,6% Siklus 2 menunjukkan peningkatan. Dengan persentase angka 80. persentase siswa yang tuntas adalah 83,3% dan yang tidak tuntas hanya 16,6%. Hal ini menunjukkan bahwa evaluasi yang berasal dari hasil pelaksanaan pembelajaran di siklus 1, memberikan peningkatan hasil belajar. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH Email : cessjcessj@gmail. CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 Pertemuan ketiga pada siklus 2 menunjukkan ketuntasan hasil belajar pada kategori baik. Siswa menunjukkan kesiapan dalam memulai pembelajaran, menunjukkan keaktifan dan memperhatikan penjelasan guru, menghargai pendapat teman, terus menerus menampilkan rasa semangat belajar, terlibat aktif dan dapat menanggapi guru, menunjukkan kreativitas daam penggunaan pop up book dan tepat waktu dalam mengumpulkan tugas. Hal yang perlu diperhatikan pada siklus ke-2 hingga di pertemuan ke-3 adalah kedisiplinan dan keterlibatan siswa. Berdasarkan hasil penelitian PTK model PjBL yang didukung media pop up book, menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dapat meningkat. Hasil ini didukung oleh Lifda dan Sari (Nurkumala. Alfi, dan Fatih, 2. , bahwa model PjBL dapat memicu keaktifan siswa dan mendorong siswa untuk mengembangkan kompetensi dalam dirinya sehingga dapat meningkatkan kemampuan yang diperlukan di kehidupan masa kini dan masa depan. Media pop up book meningkatkan hasil belajar siswa karena dalam praktiknya, mereka dituntut untuk praktik dan bereksperimen langsung dalam merancang proyek pop up book mengenai keberagaman budaya, siswa diminta untuk memberi keterangan nama di setiap keberagaman yang mencakup rumah adat, pakaian adat, tarian adat, senjata tradisional, serta alat musik tradisional. Pengaruh pop up book sebagai media pelengkap model PjBL diperkuat oleh Winda. Pangestu, dan Malaikosa . , bahwa media memiliki peran yang berpengaruh besar terhadap proses belajar siswa, karena melalui media belajar yang menarik motivasi siswa, guru dapat lebih mudah menyampaikan informasi, dalam konteks ini adalah topik keberagaman budaya. Hasil belajar dapat merujuk pada kemampuan yang dimiliki setelah melewati proses belajar dan perubahan tersebut mencakup tingkah laku, pemahaman, sikap, pengetahuan serta keterampilan siswa. Perubahan tersebut menuju ke arah yang positif dan lebih baik dari sebelumnya (Winda. Pangestu, dan Malaikosa, 2. Pernyataan tersebut mendukung hasil penelitian pada tindakan kelas bahwa PjBL dengan media pop up book yang sering dilakukan, memberikan pembiasaan belajar siswa yang baru dalam mengerjakan tugas dan sikap menanggapi pembelajaran di kelas semakin Temuan pada penelitian ini sejalan dengan MaAorifah. Rokhmaniyah, dan Susiani . yang menyatakan bahwa PjBL menjadi model belajar yang menarik dan memberikan manfaat pada siswa, karena mereka didorong untuk berpartisipasi aktif dan penuh dalam menciptakan proyek. Secara langsung, siswa terlibat sepenuhnya sehingga mereka dapat memahami apa yang disampaikan dalam pembelajaran. Menurut Yunianto. Hilyana, dan Fardani . , hasil belajar yang positif dapat diperoleh melalui proses belajar yang optimal. Hasil baik dalam belajar, diharapkan dapat diimplementasi di lingkungan masyarakat. Hasil belajar meliputi tiga aspek penting (Irdani dan Santia, 2. Pertama, ranah kognitif yang meliputi memori, pengetahuan, serta kemampuan intelektual. Kedua, ranah keefektifan, mencakup sikap, nilai, emosi, serta minat. Ketiga, ranah psikomotorik yang mencakup keterampilan fisik dan motorik. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH Email : cessjcessj@gmail. CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 Peningkatan ketiga aspek tersebut dalam penelitian ini menunjukkan bahwa model belajar dan media belajar yang dipilih, khususnya untuk siswa dengan gaya belajar visual dan kinestetik, dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir, berkreasi, dan menemukan solusi secara mandiri karena model ini menjadikan siswa sebagai aktor utama dalam pembelajaran. PjBL menurut Muniarti (Prameisthi. Masfuah, dan Fardani, 2. , memiliki ciri khas dalam proses belajar, yaitu berorientasi pada proyek, memberikan siswa kebebasan dalam menciptakan pembelajaran, mendukung kerjasama dalam proyek dan mampu mempresentasikan hasilnya, mendorong motivasi siswa agar dapat belajar secara aktif, serta karya dan produk yang dihasilkan menjadi bukti capaian siswa. Guru dalam model PjBL adalah menjadi pemberi fasilitas dan yang memberi evaluasi. PjBL mendorong siswa untuk memiliki pemikiran yang kreatif. Menurut Muslihasari. Susilo, dan Ibrahim . , berpikir kreatif merupakan bentuk pola pikir yang berbeda, pola pikir produktif dan imajinatif. Kecakapan ini perlu dikembangkan karena dapat menciptakan individu siswa yang dapat mengekspresikan dirinya secara Menurut Forrester (Muslihasari. Susilo, dan Ibrahim, 2. kecakapan berpikir kreatif ini membantu mereka mengeluarkan ide-ide yang baru dan berbeda, berani bertanya, memahami validasi argumen, dan terbuka serta responsif terhadap perbedaan perspektif. Model PjBL juga membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan mempelajari masalah yang menantang, berpartisipasi dalam penyelidikan terkait materi yang dipelajari, menemukan jawaban dari suatu pertanyaan, menyaring proyek, reflektif terhadap proses yang dilalui, mengkritik dan merevisi pekerjaan, serta menciptakan produk (Nuryanto. Prasisti, dan Wiryanto, 2. Hal ini menunjukkan bahwa model belajar tidak hanya membutuhkan pemikiran yang kreatif, tetapi juga pemikiran kritis, sebagaimana menurut Taksonomi Bloom (Wulandari. Mustaji, dan Setyowat. , bahwa kemampuan berpikir kritis mencakup kemampuan dalam mengingat, kemampuan memahami, kemampuan mengaplikasikan dan menganalisa, serta kemampuan dalam melakukan evaluasi dan berkreasi. Maka dari itu, model belajar dan media yang interaktif dan yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, adalah model belajar modern dan perlu dilakukan di abad 21 ini untuk menciptakan generasi bangsa yang memiliki daya saing kompeten di masa depan. Kesimpulan Hasil penerapan model PjBL berbantuan media Pop Up Book Indonesia (POPINDA) pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila di kelas IV SD 2 Medini menunjukkan bahwa dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil data dan observasi selama penelitian. Data prasiklus menunjukkan rata rata 51,8% dengan presentasi ketuntasan 0%, siklus 1 meningkat rata rata 70,8% dengan presentase ketuntasan 45. 8% dan siklus 2 meningkat rata rata menjadi 80,4% JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH Email : cessjcessj@gmail. CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 dengan presentase ketuntasan 83,3%. Jadi Penelitan Tindakan Kelas yang dilakukan pada siklus 2 secara klasikal menunjukkan bahwa hasil belajar siswa telah tuntas. Referensi