Oxygenius Vol. 8 No. 1: 1-13 ISSN 2686-4649 37033/ojce. Pengembangan LAPD Berbasis Kemampuan Berpikir Kritis dengan Model Pembelajaran Inkuiri yang Memuat Tiga Pertanyaan Keilmuan Andinie Chandra Maulida Pratiwi*a. Suyonoa a Pendidikan Kimia. FMIPA. Universitas Negeri Surabaya, 60231. Indonesia INFO ARTIKEL Diterima 24 April 2026 Disetujui 19 Mei 2026 Key word: LAPD Critical Thinking Inquiry Basic Laws of Chemistry Three Scientific Questions Kata kunci: LAPD Berpikir Kritis Inkuiri Hukum-hukum Dasar Kimia Tiga Pertanyaan Keilmuan ABSTRACT This study aims to develop a feasible Student Activity Worksheet (LAPD) to enhance studentsAo KBK through an inquiry learning model on the topic of basic chemical laws, incorporating three scientific questions. The study focuses on five indicators of critical thinking: interpretation, analysis, evaluation, inference, and explanation. The LAPD was developed using the ADDIE model (Analyze. Design. Develop. Implement, and Evaluat. and was piloted with 28 tenth-grade students at SMA Negeri 16 Surabaya. The validation results for content and construct showed a mode score of 5, indicating a very valid category. Practicality, based on student response questionnaires, reached 96%, indicating a high level of usability. Effectiveness was evaluated through the assessment of critical thinking practices and pretest-posttest results aligned with the five indicators. The results showed a high achievement level of 98. 73% in critical thinking practice. Additionally, improvements in pretest-posttest scores for each indicator were 95. 53%, 71. 42%, 75. 89%, 76. 78%, and 76. The Wilcoxon test indicated a significant difference between pretest and posttest scores . -value = 0. < 0. and a large effect size of 0. These findings demonstrate that the developed LAPD is valid, practical, and effective for improving studentsAo KBK. ABSTRAK *e-mail: suyono@unesa. *Telp: 6281231417346 Penelitian ini bertujuan menghasilkan LAPD yang layak untuk meningkatkan KBK dengan model pembelajaran inkuiri pada konten hukumhukum dasar kimia yang memuat tiga pertanyaan keilmuan. Penelitian ini berfokus pada lima indikator KBK yaitu interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan eksplanasi. Pengembangan LAPD mengikuti model ADDIE (Analyze. Design. Develop. Implement, dan Evaluat. Sasaran pilot implementation dilakukan oleh 28 peserta didik kelas X SMA Negeri 16 Surabaya. Hasil validasi isi dan konstruk memperoleh skor modus 5. Hasil kepraktisan berdasarkan angket respon peserta didik memperoleh skor 96%. Aspek keefektifan ditentukan berdasarkan hasil penilaian praktik kemampuan berpikir kritis yang memuat tiga pertanyaan keilmuan dan pretest-posttest yang telah disusun berdasarkan 5 indikator kemampuan berpikir kritis. Hasil penilaian kemampuan berpikir kritis berdasar isian dalam LAPD memperoleh skor 98,73% dan menunjukkan perangkat pembelajaran efektif digunakan dalam meningkatkan KBK, dengan peningkatan skor pretestposttest masing-masing indikator mencapai 95,53%, 71,42%, 75,89%, 76,78%, dan 76,33%. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan peningkatan signifikan antara skor pretest dan posttest dengan memperoleh nilai p-value= 0,000 (<0,. dengan effect size besar yaitu 0,88. Hasil penelitian menunjukkan LAPD yang dikembangkan layak digunakan. Pendahuluan Memasuki abad ke-21, merupakan abad keterbukaan atau era globalisasi yang artinya kehidupan mengalami perubahan yang berbeda pada abad sebelumnya . Organisasi P21 (Partnership for 21st Century Learnin. Pratiwi,A. Suyono. mengembangkan kemampuan pembelajaran pada abad ke-21 yaitu 4C (Creativity and Innovation. Critical Thinking and Problem Solving. Communication. Collaboratio. Pengembangan kurikulum yang relevan dan efektif menjadi kunci utama dalam memastikan bahwa peserta didik di masa yang akan datang siap untuk menyelesaikan permasalahan pada abad ke-21 . Sistem pendidikan nasional meningkatkan keberhasilan pendidikan. Kurikulum pendidikan, isi materi, bahan ajar, serta metode yang digunakan, serta berperan sebagai pedoman dalam mengatur dan melaksanakan kegiatan pembelajaran . Pemerintah menerapkan perubahan kurikulum sebagai kurikulum sebelumnya. Kurikulum merdeka dirancang karena lebih relevan dengan tuntutan masa kini dan kebutuhan belajar peserta didik . Kurikulum berisikan tujuan pembelajaran yang ditunjukkan melalui penerapan standar kompetensi, yang berfungsi sebagai dasar untuk menilai capaian Capaian Pembelajaran (CP) adalah kemampuan minimal yang harus dimiliki peserta didik pada setiap fase. Capaian pembelajaran pada kurikulum merdeka sesuai dengan tuntutan abad-21 salah satunya yaitu berpikir kritis. Kemampuan (KBK) merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang perlu dimiliki peserta didik karena kemampuan berpikir kritis dapat membekali peserta didik dalam menghadapi permasalahan di masa depan . Kemampuan berpikir kritis memiliki peran penting dalam pendidikan karena memungkinkan peserta didik untuk pengambilan keputusan yang efektif . Berpikir kritis berperan dalam membentuk peserta didik menjadi pelajar yang mandiri dalam memecahkan permasalahan pada abad21. Kenyataan di lapangan tidak sejalan dengan harapan pembelajaran abad 21. Rendahnya kemampuan berpikir kritis peserta didik dibuktikan dari hasil prapenelitian yang menunjukkan hasil kemampuan berpiikir kritis pada indikator interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, eksplanasi, dan regulasi diri berturutturut sebesar 50%, 16,4%, 10%, 21,09%, 33,59%, dan 68,75% . Peningkatan kemampuan pembelajaran yang sesuai untuk membantu dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Perangkat pembelajaran merupakan sarana dipersiapkan oleh pendidik sebelum memulai proses pembelajaran. Jenis-jenis perangkat pembelajaran, yaitu rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), bahan ajar, lembar aktivitas peserta didik, dan instrumen evaluasi . Lembar Aktivitas Peserta Didik (LAPD) merupakan perangkat pembelajaran yang mendukung proses belajar mengajar sehingga terjadi interaksi antara pendidik dengan peserta Perangkat dikembangkan dengan tujuan membangun pembelajaran yang bermakna . eaningfull learnin. dengan memuat tiga pertanyaan LAPD pertanyaan keilmuan yang terdiri dari ontologi, epistemologi, dan aksiologi berperan sebagai perangkat pembelajaran yang bermakna . eaningfull learnin. Pada dimensi ontologi, peserta didik memahami konsep yang dipelajari, hal ini berkaitan dengan kemampuan menginterpretasi, di mana peserta didik mendefinisikan permasalahan secara tepat . Dimensi epistemologi mengarahkan peserta pengetahuan diperoleh melalui kegiatan ilmiah, peserta didik didorong untuk berpikir kritis dengan mencari informasi mengenai kebenaran bukti dan proses yang digunakan sudah tepat dan logis. Dimensi aksiologi mengarahkan peserta didik akan manfaat pada konsep pengetahuan dalam kehidupan nyata, dimensi ini melatih kemampuan menginferensi dari pengetahuan yang diperoleh . Pembelajaran tidak hanya menyajikan teori saja, tetapi juga membekali peserta didik dengan pemahaman proses serta manfaat penerapannya dalam konteks nyata. Hasil ketidaktersediaan perangkat pembelajaran Pratiwi,A. Suyono. Permasalahan di atas dapat diatasi melalui pengembangan LAPD yang mengintegrasikan tiga pertanyaan keilmuan. Keterpaduan pertanyaan keilmuan membutuhkan model pembelajaran yang selaras dengan karakteristik materi dan tujuan pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran yang tepat dapat menentukan keberhasilan belajar . Model pembelajaran inkuiri menjadi model pembelajaran yang menarik bagi peserta didik karena menggeser pendekatan dan aktivitas yang bersifat terarah menuju penyelidikan yang lebih mandiri, terbuka, dan bebas . Peserta didik melakukan kegiatan observasi, klasifikasi, prediksi, mengukur, menyimpulkan, dan mengomunikasikan materi . Hal ini sejalan dengan penelitian tentang pengembangan LAPD dengan pendekatan model pembelajaran inkuiri yang menunjukkan hasil uji lapangan sebesar 83,89% kategori sangat baik sehingga LAPD yang dikembangkan layak digunakan sebagai perangkat pembelajaran . Efektivitas penggunaan LAPD dalam kegiatan pembelajaran memerlukan model pembelajaran yang tepat . Melalui model pembelajaran inkuiri. LAPD dapat menjadi sarana yang efektif dalam membangun rasa ingin tahu dan berpikir kritis. LAPD dapat digunakan jika memenuhi kriteria kelayakan. Kriteria kelayakan terdiri dari valid, efektif dan praktis . Kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan melalui percobaan untuk memahami apa, mengapa, dan bagaimana fenomena alam berlangsung . Hukumhukum dasar kimia berfungsi sebagai landasan untuk memahami konsep-konsep kimia Fakta di lapangan menunjukkan bahwa permasalahan dalam pembelajaran hukumhukum dasar kimia pada penelitian terdahulu, terdapat 46,67% peserta didik tidak paham konsep hukum Lavoisier, 36,65% pada hukum Proust, 23,33% pada hukum Dalton, 77,78% pada hukum Gay-Lussac dan terdapat 68,88% pada Hipotesis Avogadro . Penelitian ini diperkuat hasil pretest KBK peserta didik pada materi hukum-hukum dasar kimia dengan skor 11,71% . Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini bertujuan menghasilkan LAPD yang layak digunakan dalam meningkatkan KBK dengan model pembelajaran inkuiri pada konten hukum-hukum dasar kimia yang memuat tiga pertanyaan keilmuan. Metode Model ADDIE digunakan dalam penelitian Research and Development (R&D) yang meliputi tahapan Analyze (Analisi. Design (Desai. Develop (Pengembanga. Implement (Implementas. , dan Evaluate (Evaluas. Penelitian ini dibatasi sampai tahap develop, dengan pengujian kepraktisan dan keefektifan dilakukan melalui pilot implementation. Fokus penelitian ini untuk memastikan kelayakan . alid, praktis, efekti. dan kualitas perangkat pembelajaran sebelum diterapkan dalam skala yang lebih luas. Subjek pilot implementation yaitu 28 peserta didik kelas X-4 SMA Negeri 16 Surabaya. LAPD mencakup tiga bagian yaitu hukum kekekalan massa (Lavoisie. , hukum perbandingan tetap (Prous. , dan hukum perbandingan berganda (Dalto. Pilot implementation dilaksanakan selama dua pertemuan . x 45 meni. dengan skenario pembelajaran menerapkan model inkuiri, di mana LAPD berbasis KBK yang memuat tiga pertanyaan keilmuan digunakan Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan dan memastikan peserta didik terlibat aktif di setiap kegiatan pembelajaran. Instrumen yang digunakan untuk menilai kelayakan LAPD yaitu lembar validasi, angket respon, lembar penilaian praktik KBK, dan lembar tes KBK. Validasi dilakukan untuk mengetahui kelayakan LAPD berdasarkan aspek validitas. Penilaian dianalisis menggunakan skala Likert yang diolah berdasarkan nilai modus. LAPD dinyatakan valid apabila mendapatkan modus Ou4 dengan kategori valid. Rincian penilaian skala Likert terjadi pada Tabel 1. Tabel 1. Skala Likert Penilaian Validitas Penilaian Kategori Sangat tidak valid Tidak valid Cukup valid Valid Pratiwi,A. Suyono. Penilaian Berpikir Kritis Kategori Sangat valid Keterangan . Aspek kepraktisan dinilai berdasarkan hasil angket respon peserta didik yang berisikan pernyataan positif dan negatif dengan ketentuan skor berskala Guttman dengan pilihan jawaban AuYaAy atau AuTidak. Ay Skor dapat dilihat pada Tabel 2. Salah Skor Kriteria Penilaian Jika peserta didik menjawab pada LAPD tetapi salah Jika tulisan peserta didik pada LAPD sesuai dengan kunci jawaban, tetapi masih ada Jika tulisan peserta didik pada LAPD sesuai dengan kunci Kurang Tabel 2. Skala Guttman Skor Skor Respon Pernyataan Pernyataan Positif Negatif Tidak Data hasil angket respon kemudian dikonversi dalam bentuk persentase dengan ycycycoycoycaEa ycycaycycaycaycaycu "Ya"/"Tidak" ycE= ycu 100% ycycycoycoycaEa ycyyceycyceycycyca yccycnyccycnyco Benar . Data hasil penilaian praktik kemampuan berpikir kritis kemudian dikonversi dalam bentuk persentase dengan rumus: ycycycoycoycaEa ycycaycycaycaycaycu ycE= ycu100% ycycoycuyc ycycuycycayco Skor yang diperoleh dideskripsikan sebagai aspek kepraktisan LAPD dalam kategori seperti pada Tabel 3. Skor yang diperoleh dikonversi dalam kategori pada Tabel 5. Tabel 3. Persentase Kriteria Kepraktisan Tabel 5. Persentase Nilai Rata-rata Penilaian Praktik KBK Persentase (%) Persentase (%) <20 Kategori Sangat tidak praktis Tidak praktis Cukup praktis Praktis Sangat praktis Kategori Sangat kurang efektif Kurang efektif Cukup efektif Efektif LAPD memperoleh persentase Ou81% dengan kategori sangat praktis. Penilaian keefektifan dilakukan dengan melihat peningkatan nilai KBK pada hasil pretest-posttest dan keterlibatan peserta didik dalam aktivitas berpikir kritis selama Hasil penilaian praktik kemampuan berpikir kritis peserta didik dinilai oleh 6 pengamat dengan menggunakan pernyataan AuSalah,Ay AuKurang benarAy dan AuBenarAy sesuai dengan hasil jawaban berpikir peserta didik pada masing-masing LAPD. Rubrik penilaian praktik KBK peserta didik disajikan pada Tabel Hasil pretest dan posttest dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test dan uji effect size r. Uji wilcoxon digunakan untuk mengetahui peningkatan signifikan KBK peserta didik dengan asumsi: A Jika p-value . ne-taile. <0,01 maka H0 ditolak dan H1 diterima, artinya terdapat peningkatan skor antara sebelum dan sesudah penggunaan LAPD. A Jika p-value . ne-taile. Ou0,01 maka H0 diterima dan H1 ditolak, artinya tidak terdapat peningkatan skor sebelum dan sesudah penggunaan LAPD. Uji effect size r digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh penggunaan LAPD terhadap hasil peningkatan KBK dengan menggunakan rumus: Tabel 4. Rubrik Penilaian Praktik Kemampuan yc= ycs OoycA Pratiwi,A. Suyono. Keterangan: A r = effect size A ycs= nilai Z A ycA= jumlah sampel Skor yang diperoleh dikonversi dalam kategori pada Tabel 6. hukum dasar kimia berpotensi sebagai konten untuk meningkatkan KBK peserta didik. Materi ini disajikan dengan tiga pertanyaan untuk kebermanfaatan kimia dalam kehidupan sehari-hari. Evaluasi dan Revisi Tahap Analyze (Analisi. Setelah dilakukan tahap analisis, kemudian masuk pada tahap evaluasi dan revisi untuk mengetahui hasil analisis yang telah dilakukan sudah sesuai atau butuh LAPD berisikan konten kimia yang bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna . Salah satu aspek berpikir yang diperlukan adalah perangkat pembelajaran yang memuat tiga pertanyaan Aspek-aspek ini memberikan pemahaman yang bermakna bagi peserta didik. LAPD yang dikembangkan memerlukan model pembelajaran yang sesuai dalam keterlaksaan belajar di kelas. Model pembelajaran inkuiri mendorong peserta didik terampil dalam memecahkan masalah . Pada Tabel 7 disajikan keterkaitan tahapan inkuiri, indikator KBK, dan tiga pertanyaan keilmuan. Tabel 6. Nilai Effect Size Effect Size Sangat Kecil Kecil Sedang Besar 0,0 O r O 0,1 0,1 O r O 0,3 0,3 O r O 0,5 Ou0,5 . Hasil dan Pembahasan Penelitian menghasilkan LAPD yang layak digunakan melalui penilaian tiga aspek kelayakan yaitu validitas, kepraktisan, dan keefektifan dengan Model ADDIE. Berikut pembahasan lebih rinci mengenai tahapan model ADDIE yang telah Analyze (Analisi. Tahap ini dilakukan dengan mengkaji teori yang relevan dengan tujuan untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan dalam proses pengembangan LAPD yang terdiri dari analisis kebutuhan dan analisis Analisis Kebutuhan Studi literatur yang telah dilakukan memperoleh data hasil prapenelitian yang menunjukkan hasil KBK pada indikator interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan regulasi diri berturut-turut memperoleh persentase kemampuan sebesar 50%, 16,4%, 10,9%, 21,09%, 33,59%, dan 68,75% . Berdasarkan hal tersebut, diketahui bahwa KBK peserta didik masih berada pada kategori penggunaan perangkat pembelajaran. Analisis Kurikulum Tahap ini dilakukan untuk mengetahui Berdasarkan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 menjelaskan pembelajaran berfokus pada kemampuan berpikir tingkat tinggi melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learnin. Materi hukum- Tabel 7. Keterkaitan Tahapan Inkuiri. Indikator KBK, dan Tiga Pertanyaan Keilmuan. Tahapan Fase 1. Memusatkan Indikator KBK Kegiatan Pembelajaran Peserta fenomena dengan pertanyaan yang perbedaan massa kayu sebelum dan sesudah dibakar . ukum kekekalan mass. , hujan di berbagai wilayah . ukum senyawa pada gas buang kendaraan Pratiwi,A. Suyono. Tahapan Indikator KBK Fase 2. Menyajikan inkuiri dan Interpretasi Fase 3. Merumuskan n atau Interpretasi Kegiatan Pembelajaran . imensi Peserta disajikan sebagai dasar percobaan, yaitu: perbedaan dalam reaksi cuka dan soda kue . ukum kekekalan mass. , dan besi . ukum buang kendaraan, dan asap pabrik . imensi - Peserta didik masalah dan . imensi Tahapan Indikator KBK Inferensi Fase 4. Mengumpul kan data Interpretasi Analisis Fase 5. Merumuskan Analisis Evaluasi Inferensi Fase 6. Merefleksika Eksplanasi Kegiatan Pembelajaran - Peserta didik . imensi Peserta rumusan masalah dan teori yang . imensi Peserta fenomena dengan . imensi Peserta menuliskan hasil percobaan pada Peserta menganalisis hasil percobaan dengan pertanyaan yang Peserta hasil percobaan dengan menjawab Peserta hasil percobaan rumusan masalah. Peserta Pratiwi,A. Suyono. Tahapan n situasi masalah dan Indikator KBK Inferensi kebenaran substansi, kebenaran konten, kebenaran isi sesuai dengan indikator KBK, kebenaran isi sesuai aspek tiga pertanyaan keilmuan, dan kebenaran isi sesuai dengan tahapan model pembelajaran inkuiri. Hasil validitas konstruk pada LAPD-1 dan LAPD-2 memperoleh skor modus 5 . angat Penilaian ini mengacu pada KBK, tiga pertanyaan keilmuan, dan tahapan model Pada LAPD-3 memperoleh skor modus 5 . angat vali. pada aspek penilaian KBK dan tahapan model pembelajaran inkuiri, sedangkan aspek tiga pertanyaan keilmuan memperoleh skor modus 4 . Berdasarkan hasil validitas, maka LAPD yang dikembangkan layak digunakan. Revisi Tahap Develop (Pengembanga. Berdasarkan hasil penilaian validasi oleh ketiga validator, tahap selanjutnya yaitu revisi tahap pengembangan. Saran dan masukan oleh tiga validator digunakan untuk perbaikan LAPD. Revisi LAPD diuraikan pada Tabel 8. Kegiatan Pembelajaran pertanyaan yang Peserta didik simpulan yang berkaitan dengan hipotesis dan fenomena awal Design (Desai. Tahap perancangan LAPD berdasarkan hasil analisis Tahap ini dilakukan penyusunan perangkat pembelajaran yaitu LAPD yang diharapkan dapat mendukung kegiatan Kerangka LAPD berisikan halaman sampul, kata pengantar, daftar isi, deskripsi LAPD, informasi indikator KBK, model inkuiri, dan tiga pertanyaan keilmuan, aktivitas pembelajaran, dan daftar pustaka. Instrumen pendukung seperti modul ajar, lembar penilaian praktik, angket respon peserta didik, dan lembar pretest-posttest Evaluasi dan Revisi Tahap Design (Desai. Tahap selanjutnya yaitu evaluasi dan revisi tahap desain. LAPD dan instrumen pendukung akan ditelaah oleh dosen pembimbing untuk mengetahui kekurangan Develop (Pengembanga. Tahap tahapan yang mencakup seluruh kegiatan untuk mewujudkan tujuan yang ditetapkan. Tahap pengembangan LAPD dan pengembangan Jika pengembangan selesai, selanjutnya adalah evaluasi dan revisi tahap pengembangan. Evaluasi Tahap Develop (Pengembanga. Evaluasi memvalidasikan perangkat pembelajaran oleh tiga validator. Validasi perangkat pembelajaran mencakup validitas isi dan validitas konstruk. Hasil validitas isi pada LAPD-1. LAPD-2, dan LAPD-3 memperoleh nilai modus 5 . angat Validitas isi mencakup indikator Tabel 8. Hasil Revisi Tahap Pengembangan No. Sebelum Revisi Fenomena LAPD1 dan LAPD-3 Gambar 2 pada LAPD-1 kurang kayu yang sedang keterangan pada Urutan Setelah Revisi Fenomena disajikan permasalahan yang mendorong peserta Gambar 2 yang ditampilkan yaitu Urutan senyawa dirubah Pratiwi,A. Suyono. No. Sebelum Revisi Setelah Revisi tabel pengamatan menjadi N2O. NO. LAPD-3 tidak NO2 N2O. NO2. perbandingan 7:4. dengan 7:8. 7:16 7:16. Pilot Implementation Tahap ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan LAPD pada aspek kepraktisan dan Instrumen penelitian yang meliputi lembar tes KBK, lembar angket respon peserta didik, dan lembar penilaian praktik KBK telah dilakukan validasi oleh tiga validator yang terdiri dari dua dosen kimia dan satu guru Hasil validasi penilaian praktik KBK dan lembar tes KBK memperoleh nilai modus 5 dengan kategori sangat valid. hasil validasi memperoleh nilai modus 4 dengan kategori Berdasarkan hasil validasi tersebut, maka seluruh intrumen dinyatakan layak dan dapat digunakan untuk pengambilan data dalam penelitian ini. Keefektifan Data penelitian pada aspek keefektifan diperoleh dari hasil pretest -posttest dan penilaian praktik KBK kelas X-4 di SMA Negeri 16 Surabaya. Subjek penelitian hanya 1 kelas tanpa adanya kelas pembanding. Terdapat 10 aktivitas berpikir yang perlu dikerjakan oleh peserta didik. Pertanyaan-pertanyaan tersebut memuat KBK dan tiga pertanyaan keilmuan yaitu 3 pertanyaan interpretasi, 1 pertanyaan analisis dan evaluasi, 4 pertanyaan inferensi, dan 1 pertanyaan eksplanasi. Soal-soal tiga pertanyaan keilmuan terdiri dari 1 pertanyaan dimensi ontologi, 3 pertanyaan dimensi epistemologi, dan 1 pertanyaan dimensi Penilaian praktik KBK telah dinilai oleh 6 pengamat. Pengamatan ini dilakukan dengan melihat hasil jawaban LAPD peserta didik yang akan dinilai sesuai dengan rubrik Pada Tabel 9 dan Gambar 1 disajikan data hasil penilaian praktik KBK peserta didik. Indikator KBK Analisis Evaluasi Inferensi Eksplanasi Rata-rata Interpretasi Persentase Bagian LAPD (%) Kriteria Efektif Efektif Efektif Efektif Efektif Gambar 1. Grafik Hasil Rekapitulasi Indikator KBK Berdasarkan pada Tabel 9, menunjukkan skor persentase yang diperoleh sebesar 97,73% dengan kategori efektif. Diketahui bahwa KBK peserta didik berdasarkan hasil jawaban LAPD tergolong sangat baik, namun indikator ekplanasi memperoleh rata-rata persentase lebih rendah dibandingkan dengan indikator lain yaitu 92,33%. Hal tersebut dapat disebabkan karena indikator eksplanasi menuntut peserta didik memberikan penjelasan atau argumen yang lebih dalam, sehingga relatif lebih sulit dengan indikator lainnya. Pada Tabel 10 dan Gambar 2 disajikan data hasil penilaian praktik tiga pertanyaan keilmuan peserta didik. Tabel 10. Data Hasil Penilaian Praktik 3 Pertanyaan Keilmuan Tiga Pertanyaan Keilmuan Ontologi Epistemologi Aksiologi Rata-rata Tabel 9. Data Hasil Penilaian Praktik KBK Indikator KBK Persentase Bagian LAPD (%) Kriteria Efektif Persentase Bagian LAPD (%) 99,64 99,55 Kriteria Efektif Efektif Efektif Efektif Pratiwi,A. Suyono. Pretest Posttest Peserta Didik Skor Nilai Skor Nilai PD-20 PD-21 PD-22 PD-23 PD-24 PD-25 PD-26 PD-27 PD-28 Ratarata 42,41 79,19 Nilai Berdasarkan pada Tabel 11 menunjukkan kemampuan awal berpikir kritis peserta didik tergolong rendah dengan skor 42,41 yang membuktikan bahwa peserta didik belum memiliki KBK secara optimal. Posttest diberikan setelah pembelajaran dengan menggunakan LAPD selesai. Berikut disajikan grafik hasil pretest dan posttest KBK peserta didik. Hasil Tabel berpikir kritis, dengan memperoleh skor 79,19. Hal ini membuktikan bahwa KBK dapat ditingkatkan dengan menggunakan LAPD pada pembelajaran di kelas. Berikut disajikan grafik hasil pretest dan posttest KBK peserta Gambar 2. Grafik Hasil Penilaian Praktik Tiga Pertanyaan Keilmuan Berdasarkan Tabel menunjukkan skor persentase yang diperoleh sebesar 99,73% dengan kategori efektif. Hasil pengerjaan LAPD menunjukkan bahwa dari ketiga dimensi keilmuan tersebut, dimensi aksiologi memperoleh skor paling rendah dengan dimensi keilmuan yang lain yaitu sebesar 98,66%. Hal ini dapat disebabkan karena dimensi aksiologi membutuhkan kebermanfaatan konsep materi. Pretest-posttest terdiri dari 10 soal dengan masing-masing indikator terdapat 2 soal. Pretest dan posttest bertujuan mengetahui kemampuan sebelum dan sesudah menggunakan LAPD. Data hasil pretest dan posttest disajikan pada Tabel 11. Tabel 11. Hasil Pretest-Posttest KBK Peserta Didik PD-1 PD-2 PD-3 PD-4 PD-5 PD-6 PD-7 PD-8 PD-9 PD-10 PD-11 PD-12 PD-13 PD-14 PD-15 PD-16 PD-17 PD-18 PD-19 Pretest Skor Nilai Posttest Skor Nilai Gambar 3. Grafik Hasil Pretest dan Posttest Peserta Didik Hasil pretest dan posttest diuraian sesuai dengan indikator KBK yang disajikan pada Tabel 12 dan Gambar 4. Pratiwi,A. Suyono. Tabel 12. Hasil Rekapitulasi Indikator KBK Indikator KBK Interpretasi Analisis Evaluasi Inferensi Eksplanasi Pretest Posttest 70,98 29,46 40,62 30,80 39,28 95,53 71,42 75,89 76,78 76,33 Gambar 8. Posttest KBK Analisis Evaluasi Diperoleh skor pretest sebesar 40,62 dan skor posttest sebesar 75,89. Peserta didik diminta untuk mengevaluasi fenomena dengan konsep hukum kekekalan massa dan mengevaluasi hasil perhitungan dengan konsep hukum perbandingan tetap. Berikut disajikan salah satu contoh jawaban pretest dan posttest peserta didik untuk indikator evaluasi. Gambar 4. Grafik Hasil Rekapitulasi Indikator KBK Gambar 9. Pretest KBK Evaluasi Interpretasi Diperoleh skor pretest 70,98 dan skor posttest sebesar 95,53. Peserta didik diminta merumuskan masalah, variabel percobaan, alat, bahan, dan prosedur percobaan. Berikut disajikan salah satu contoh jawaban pretest dan posttest peserta didik pada indikator Gambar 10. Posttest KBK Evaluasi Inferensi Diperoleh skor pretest sebesar 30,80 dan skor posttest sebesar 76,78. Peserta didik diminta untuk menuliskan simpulan yang berkaitan dengan hukum perbandingan tetap dan menuliskan simpulan terkait perbandingan massa dengan hukum perbandingan berganda. Berikut disajikan salah satu contoh jawaban pretest dan posttest peserta didik untuk indikator Gambar 5. Pretest KBK Interpretasi Gambar 6. Posttest KBK Interpretasi Analisis Diperoleh skor pretest sebesar 29,46 dan skor posttest sebesar 71,42. Peserta didik diminta menganalisis perbandingan senyawa yang perbandingan massa pada senyawa yang telah Berikut disajikan salah satu contoh jawaban pretest dan posttest peserta didik pada indikator analisis. Gambar 11. Pretest KBK Inferensi Gambar 12. Posttest KBK Inferensi Eksplanasi Diperoleh skor pretest sebesar 39,28 dan skor posttest sebesar 76,33. Peserta didik diminta untuk menuliskan argumen pada soal yang Gambar 7. Pretest KBK Analisis Pratiwi,A. Suyono. Berikut disajikan salah satu contoh jawaban pretest dan posttest peserta didik untuk indikator eksplanasi. penggunaan satu kelas tanpa kelompok kontrol, sehingga generalisasi hasil masih Hasil penelitian tetap menunjukkan adanya peningkatan KBK setelah penggunaan LAPD. Kepraktisan Penentuan kelayakan pada aspek kepraktisan dinilai berdasarkan hasil angket Angket respon peserta didik terdiri dari 17 pernyataan dengan 15 pernyataan positif pada nomor 1-13, 15, dan 16 dan 2 pernyataan negatif pada nomor 14 dan 17. Pernyataan 1-10 mengindentifikasi respon peserta didik mengenai LAPD yang berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis. Pernyataan 11-16 mengenai tahapan inkuiri selama proses pembelajaran belangsung. Pernyataan 17 mengidentifikasi respon peserta didik terkait kesulitan selama kegiatan pembelajaran LAPD kemampuan berpikir kritis. Berikut disajikan grafik mengenai persentase angket respon peserta didik. Gambar 13. Pretest KBK Eksplanasi Gambar 14. Posttest KBK Eksplanasi Peningkatan signifikan KBK peserta didik dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Hasil analisis data dengan menggunakan uji Wilcoxon disajikan pada Tabel 13. Tabel 13. Hasil Analisis Uji Wilcoxon Signed Ranks Test Sample Wilcoxon N for Test Statistic p-value Post-Pre 406,00 0,000 Pada Tabel 12 diperoleh nilai p-value 0,000 (<0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan skor yang signifikan antara sebelum dan sesudah penggunaan LAPD dan dinyatakan efektif digunakan untuk meningkatkan KBK. Untuk mengetahui besarnya perbedaan pengaruh penggunaan LAPD pada hasil peningkatan KBK dianalisis menggunakan Uji effect size r yang memperoleh nilai sebesar 0,88 dengan kategori besar. Pengaruh terhadap peningkatan KBK sejalan dengan penelitian yang menunjukkan hasil penerapan LAPD dengan model inkuiri mampu meningkatkan KBK dengan kategori tinggi . Hasil penelitian ini juga selaras dengan penelitian lain yang menunjukkan perangkat pembelajaran dengan model inkuiri memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif . Berbeda dengan penelitian sebelumnya, keunggulan penelitian ini terletak pada integrasi tiga pertanyaan keilmuan yang tidak hanya menekankan pada proses inkuiri, tetapi juga memperkuat konsep, proses, dan manfaat pengetahuan secara lebih menyeluruh. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada Gambar 15. Grafik Persentase Angket Respon Berdasarkan hasil angket respon pada Gambar 11 menunjukkan bahwa setiap aspek pernyataan memperoleh persentase Ou81%. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai LAPD yang dikembangkan dengan tujuan meningkatkan KBK, dapat disimpulkan bahwa LAPD yang dikembangkan dinyatakan layak digunakan sebagai perangkat pembelajaran yang dapat meningkatkan KBK yang telah memenuhi kriteria sebagai berikut: . LAPD dinyatakan valid berdasarkan hasil validitas isi konstruk dengan nilai modus dalam rentang 45 dengan kategori valid dan sangat valid. LAPD dinyatakan praktis berdasarkan hasil angket respon sebesar 96% dengan kategori sangat praktis. LAPD dinyatakan efektif Pratiwi,A. Suyono. berdasarkan hasil penilaian praktik KBK yang memuat tiga pertanyaan keilmuan dengan skor 98,73% dan tes KBK yang telah dianalisis menggunakan uji Wilcoxon yang terbukti KBK menggunakan LAPD yang dikembangkan. Penggunaan LAPD pembelajaran inkuiri yang memuat tiga pertanyaan keilmuan berimplikasi positif terhadap peningkatan KBK peserta didik serta penguatan kemampuan berpikir tingkat tinggi sesuai pada tuntutan abad 21. Pada penelitian selanjutnya, disarankan lebih menekankan pada indikator analisis, dengan menambahkan pertanyaan-pertanyaan atau kegiatan yang mendorong peserta didik berpikir analisis sesuai dengan hasil percobaan dan konsep Daftar Pustaka Amalia. , & Asyari. Analisis perubahan kurikulum di indonesia & understanding by design. CaXra: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, 3. https://doi. org/10. 31980/caxra. Amijaya. Ramdani. , & Merta. Effect of guided inquiry learning model towards student learning outcomes and critical thinking ability. Jurnal Pijar MIPA, 13. Anggrawan. Analisis deskriptif hasil belajar pembelajaran tatap muka dan pembelajaran daring menurut gaya belajar Jurnal Matrik. Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi. Jakarta: PT. Rineka Cipta Arikunto. Suharsimi. Prosedur Penelitian. Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. AsyAoari. , & Hamami. Strategi Pengembangan Kurikulum Menghadapi Tuntutan Kompetensi Abad 21. IQ (Ilmu Al-QurAoa. : Jurnal Pendidikan Islam, 3. https://doi. org/10. 37542/iq. Ayunda. , & Azhar. Pengembangan LKPD kesetimbangan kimia berbasis inkuiri terstruktur pada liveworksheet untuk fase F SMA. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7. , 16582Ae16588. Cohen. Statistical power analysis for the behavioral sciences . nd ed. Hillsdale. NJ: Lawrence Erlbaum Associates. Erikko. Qurbaniah. , & Kurniati. Komparasi model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan inkuiri bebas terhadap keterampilan proses sains siswa pada materi hukum kekekalan massa kelas X MIPA SMA Negeri 1 Pontianak Ar-Razi. Jurnal Ilmiah. https://doi. org/10. 29406/arz. Facione. Critical thinking: What it is and why it counts . 5 updat. Insight Assessment. Fitriansyah. Suryani. , & Mulyani. Penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi sistem peredaran darah manusia. Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia, 7. , 45Ae52. Halimah. Astuti. , & Pratiwi. Pengembangan lembar kerja peserta didik (LKPD) berbasis inkuiri terbimbing untuk pembelajaran asam dan basa di kelas XI. Jurnal AlAoIlmi, 11. , 6Ae14. Ishma. , & Novita. Implementasi LKPD inkuiri terbimbing online untuk melatihkan keterampilan berpikir kritis materi faktor laju reaksi. Chemistry Education Practice. Karlina. Budi. , & Astra. The development of the physics practicum worksheet in electricity based on freeinquiry approach. Journal of Physics: Conferense Series. Kemendikbudristek. Dimensi, elemen, dan subelemen profil pelajar pancasila pada kurikulum merdeka. Badan Standar. Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan. Mardhiyah. Aldriani. Chitta, , & Zulfikar. Pentingnya keterampilan belajar di abad 21 sebagai tuntutan dalam pengembangan sumber daya manusia. Lectura: Jurnal Pendidikan, 12. , 29-40. Nieveen. , & Plomp. introduction to educational research. Netherlands: Netzodruk. Enscheede. Pratiwi,A. Suyono. Norjana. Santosa. , & Joharmawan. Identifikasi tingkat pemahaman konsep hukum-hukum dasar kimia dan penerapannya dalam stoikiometri pada siswa kelas X IPA di MAN 3 Malang. Jurnal Pembelajaran Kimia. , 42-49. Nurhafani. Kurniawati. Pranoto. & Nuzulia. The influence of childrenAos gadget use intensity on their social skills. JPUD: Jurnal Pendidikan Usia Dini. https://doi. org/10. 21009/jpud. Paul. , & Elder. The miniature guide to critical thinking concepts and tools . th ed. Foundation for Critical Thinking Press. Peraturan Menteri Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi. Pedoman penerapan kurikulum merdeka. Kemendikbudristek Riduwan. Skala pengukuran variabel-variabel penelitian. Bandung: Alfabeta. Sari. Pengembangan e-lapd learning cycle 7-E untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik pada submateri faktor-faktor yang [Skripsi. Universitas Negeri Surabay. Universitas Negeri Surabaya. Sulistiawati. Gummah. Syukroyanti, , & Hidayat. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Inkuiri Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Jurnal Ilmiah IKIP Mataram. Suriasumantri. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar