JURNAL EMPATHY Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Desember 2024 DOI : https://doi. org/10. 37341/jurnalempathy. Pemberdayaan Satuan Petugas Unit Kesehatan Sekolah Kesehatan Reproduksi Remaja dalam Pemanfaatan Olahan Daun Kelor sebagai Langkah Preventif Anemia Indah Putri Ramadhanti1*. Desri Nova H2. Tika Ramadanti3. Mellia Fransiska4. Ikhtiarina Fakhri5. Puja Robiatul Khaira6 1,2,5,6 Fakultas Kebidanan. Universitas Prima Nusantara Bukittinggi, 26111. Indonesia Fakultas Keperawatan dan KESMAS. Universitas Prima Nusantara Bukittinggi, 26111. Indonesia *Email : indahputriramadhanti1305@gmail. Abstract Background: Anemia is a priority health problem for adolescents with a prevalence of 17% in Bukittinggi City in 2023, the highest case at the Rasimah Ahmad Health Center at 28. Government programs, namely the provision of iron tablets and the existence of school health units, have not optimally reduced the prevalence of anaemia in adolescents. The iron content of moringa leaves increases haemoglobin. The formation of SHU ARH officers to prevent anaemia and training in processing moringa leaves aims to be an innovation in the School Health Service programme to serve reproductive health problems in overcoming anaemia to prevent the impact of non-compliance with iron tablet consumption. Methods: Collaboration partners are SMPN 03 Bukittinggi City and Rasimah Ahmad Health Center Bukittinggi City from June to September 2024. We collect data through interviews, observations, and documentation. Five methods are used: socialization, preliminary studies and formation and training of the SHU ARH Task Force for adolescents. providing education, mentoring and providing processed moringa leaves. and evaluating the sustainability of the SHU ARH. Results: the achievement of the target: . The formation of the SHU ARH consisting of 18 people. Of the 87 young women, 79% have high knowledge of anaemia and the benefits of processed moringa leaves, 78% apply processed moringa leaves at home, and cases of anaemia decreased by 20. Conclusion: The sustainability of the programme by providing moringa leaf seeds and planting in schoolyards as a step to provide raw materials for processed moringa leaves. Keywords: Anemia in Adolescent. Moringa Leaf Processing. SHU ARH. PENDAHULUAN Masa remaja merupakan masa kritis ditandai perubahan cepat baik fisik maupun mental khususnya kesehatan reproduksi. Permasalahan remaja prioritas kesehatan salah satunya anemia. Anemia merupakan suatu kondisi dimana kadar hemoglobin (H. kurang dari nilai normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin mengangkut oksigen yang dibutuhkan untuk regenerasi jaringan. Penyebab utama adalah penyakit infeksi dan faktor gizi. World Health Organization (WHO) menetapkan anemia sebagai masalah gizi di dunia terutama di negara berkembang. Prevalensi anemia wanita Indonesia sebesar 23,9%. Berdasarkan data RISKESDAS tahun 2018, tercatat 26,8% anak usia 5-15 tahun menderita anemia dan 32% pada usia 15-24 tahun. Prevalensi anemia remaja di Kota Bukittinggi pada tahun 2023 adalah 17% dengan kasus tertinggi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Rasimah Ahmad sebesar 28,5%. Tahun 2018 tercatat 26,8% anak usia 5-15 tahun menderita anemia dan 32% pada usia 15-24 tahun. WHO menargetkan penurunan anemia tahun 2025 sebesar 50% pada Wanita Usia Subur (WUS) usia 15-49 tahun. Remaja putri anemia berisiko menjadi wanita usia subur yang anemia, menjadi ibu anemia yang dapat mengalami kekurangan energi kronis saat hamil. WUS merupakan kelompok rentan menderita anemia serta defisiensi zat gizi lainya, sehingga https://jurnaempathy. com/index. php/jurnaempathy/ . memerlukan perhatian khusus. Remaja putri anemia berisiko menjadi wanita usia subur dan calon ibu anemia mengalami kekurangan energi kronis saat hamil. Pencegahan anemia dengan mengkonsumsi zat besi, banyak terdapat di daun kelor yang dapat menggantikan tablet tambah darah. Berbagai olahan daun kelor sebuah pendekatan untuk memperbaiki permasalahan kesehatan khususnya anemia efek ketidakpatuhan konsumsi TTD. Program pemerintah telah berupaya mengurangi angka kejadian anemia melalui tablet Tambah Darah (TTD) namun tingkat patuhan remaja putri dalam mengkonsmsi TTD sangat rendah yaitu 1,4% sesuai anjuran satu minggu 1 kali. Distribusi TTD Puskesmas Rasimah Ahmad tingkat SLTP 4010 tablet dan tingkat SLTA 6690 tablet. Jumlah remaja putri konsumsi TTD hanya 1599 orang dengan persentase mendapatkan skrining anemia 63,13%. Program pemerintah yang telah berjalan dengan pemberian TTD, namun tingkat patuhan remaja putri dalam mengkonsumsi TTD sangat rendah yaitu 1,4% sesuai anjuran satu minggu 1 kali, sedangkan 98,6% tidak patuh. Target cakupan berdasarkan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan RI tahun 2015-2019 menargetkan 90%, namun tidak tercapai. Ketidaktercapaian tersebut perlu adanya usaha dalam membantu peningkatan hemoglobin pada remaja dengan pemberian tindakan preventif lainnya menggunakan sumber makanan yang kaya akan hemoglobin yaitu daun kelor. Daun kelor . oringa oleifer. sebagai tanaman merupakan tanaman herbal sesuai penelitian yang telah dilakukan yaitu pemberian ekstrak daun kelor dalam meningkatkan kadar hemoglobin pada remaja perempuan didapati hasil yang signifikan berpengaruh . -value = 0,. Daun kelor memiliki kandungan zat besi yang dapat menggantikan tablet tambah darah. Pengolahan daun kelor melalui UKS KESPRO remaja merupakan sebuah pendekatan untuk memperbaiki permasalahan kesehatan khususnya anemia. UKS merupakan upaya peningkatan kesehatan anak sekolah yang dilakukan pemerintah sehingga anak berkualitas dan berprestasi melalui promosi kesehatan yaitu edukasi dan preventif. Berdasarkan evaluasi Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi, pelaksanaan Pelayanan Kesehatan peduli Remaja (PKPR) melalui kerjasama UKS belum berjalan optimal sehingga berdampak tidak tercapainya target pencegahan anemia pada remaja putri. Berdasarkan kajian awal melalui metode wawancara yang dilakukan oleh tim kepada pihak Puskesmas Rasimah Ahmad bahwa program edukasi telah dijalankan mengenai pentingnya konsumsi tablet tambah darah baik dari posyandu remaja, maupun dari sekolah-sekolah telah dilakukan secara maksimal, namun kesadaran remaja putri untuk rutin mengkonsumsi sesuai prosedur tergolong rendah. Survey awal yang dilakukan pada remaja putri bahwa rasa tablet tambah darah yang tidak enak, kurangnya partisipasi dari keluarga untuk mengingatkan mereka, serta persepsi mereka yang salah dalam konsumsi tablet tambah darah. Survey yang dilakukan di sekolah adalah sudah terbentuknya Unit kesehatan sekolah namun belum berjalan maksimal dalam penanggulangan anemia dan belum adanya alternatif lain yang mendukung dalam pencegahan anemia pengganti tablet tambah darah melalui olahan daun kelor. Kandungan hemoglobin dan antioksidan daun kelor memiliki yang tinggi sehingga banyak digunakan sebagai bagian dari inovasi terapi herbal komplementer berdampak kesehatan dalam mencegah anemia . Pengenalan dalam bentuk edukasi dan pelatihan pengolahan daun kelor baik pengenalan alat dan bahan pembuatan serta tata prosedur pembuatannya yang langsung https://jurnalempathy. com/index. php/jurnalempathy/ | 131 disampaikan kepada tim UKS KESPRO Puskesmas Rasimah Ahmad dan sekolah yang direkomendasikan sebagai percontohan pembentukan SATGAS UKS KESPRO, serta memfasilitasi penerapan di menu rumah tangga yang dapat diaplikasikan langsung kepada ibu-ibu rumah tangga dan diberikan kepada remaja putri sebagai makanan selingan sehingga dapat memenuhi asupan zat besi yang sangat dibutuhkan demi tumbuh kembang remaja putri sebagai langkah awal mencegah terjadinya anemia. Strategi Pengolahan daun kelor melalui SATGAS UKS KESPRO remaja merupakan solusi yang dapat dilaksanakan dalam penyelesaian permasalahan yang ada di Puskesmas Rasimah Ahmad yang melibatkan langsung pihak sekolah yaitu SMPN 3 Kota Bukittinggi terhadap remaja putri yang notabene memiliki nilai pengaruh keberlangsungan sosial pada siswanya. Berdasarkan latar belakang permasahan diatas, tujuan pelaksanaan pengabdian masyarakat ini adalah terbentuknya kelas pemberdayaan masyarakat, dan meningkatkan peran serta masyarakat melalui UKS KESPRO Remaja di sekolah dalam upaya pemberian sumber zat besi melalui olahan makanan dari daun kelor upaya pencegahan anemia pada remaja putri terhusus yang tidak menyukai TTD secara mandiri dan komprehensif. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan oleh Dosen dan Mahasiswa Universitas Prima Nusantara Bukittinggi bersama mitra kerjasama yaitu SMPN 03 dan Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi dengan intervensi diberikan kepada remaja putri dengan kriteria pemberian olahan adalah putri usia 12-13 tshun, anemia sedang dan ringan, dan tidak alergi daun kelor. Pelaksanaan di SMPN 03 Kota Bukittinggi dari tanggal 15 Juni hingga 20 September 2024. Metode yang digunakan melaksanakan pengabdian masyarakat dengan tahapan: Tahap Persiapan. Melakukan studi pendahuluan ke Puskesmas Rasimah Ahmad dan SMPN 03 Kota Bukittinggi yang dituju dalam menetapkan masalah, sosialisasi perencanaan penanganan masalah anemia, melakukan advokasi sebagai mitra, menginfomfarmasikan kepada mitra proses alur penatalaksanaan pengabdian Tahap Pelaksanaan terdiri dari: . pembentukan SATGAS UKS KESPRO Remaja didampingi Psukesmas Rasimah Ahmad, . melakukan edukasi peningkatan pengetahuan remaja putri sebagai langkah informed choice oleh tim UPN Bukittinggi, . melakukan proses pelatihan kepada SATGAS UKS KESPRO Remaja mengenai pengolahan daun kelor oleh tim UPN Bukittinggi, . penerapan teknologi dengan pengolahan dan pemberian daun kelor oleh tim UPN Bukittinggi dan Puskesmas Rasimah Ahmad. Tahap Evaluasi terdiri dari: . pendampingan edukasi pengenalan kepada remaja putri terkait anemia, solusi pengganti Tablet tambah darah (TTD), manfaat kesehatan konsumsi daun kelor. Mendampingi tim SATGAS UKS pemberian terapi daun kelor, . keberlanjutan program. HASIL Pembentukan SATGAS UKS KESPRO Pembentukan SATGAS UKS KESPRO Remaja melalui 3 rangkaian kegiatan. Pertama, sosialisasi dan advokasi dengan mitra berupa studi pendahuluan ke Puskesmas dan Sekolah dalam menetapkan masalah, sosialisasi perencanaan https://jurnaempathy. com/index. php/jurnaempathy/ . menginfomfarmasikan kepada mitra proses alur penatalaksanaan pengabdian Gambar 1. Pembentukan SATGAS UKS KESPRO Remaja di SMPN 03 Kota Bukittingi Kedua, pembentukan SATGAS UKS KESPRO dan pelatihan dan edukasi tentang Nomor SK: 11/536/SMPN. 3/BKT/TU-2024 pada Tanggal 12 Juli 2024 sebanyak 14 guru dan murid serta dilibatkan 4 petugas Puskesmas Rasimah Ahmad yang dilantik langsung oleh Bapak Kepala Sekolah. Bapak Firman Adhani. Pd. Pembentukan TIM SATGAS dilaksanakan pada Hari Jumat/ 19 Juli 2024 di Aula Luar SMPN 03 Kota Bukittinggi. Melaksanakan edukasi anemia dan pencegahannya serta pengenalan olahan daun kelor menggunakan media booklet terhadap 87 remaja putri dan SATGAS UKS KESPRO Remaja. Kegiatan berikutnya melakukan proses pelatihan kepada SATGAS UKS KESPRO Remaja mengenai pengolahan daun kelor sebagai langkah preventif penanggulangan anemia dengan penyediaan alat dan bahan oleh tim pengabmas menggunakan media x-banner dan video yang telah dikemas rapi tentang tahapan pembuatan olahan daun kelor yaitu: puding daun kelor, teh daun kelor, sayur bening daun kelor dan cookies daun kelor berguna memudahkan para tim SATGAS dan remaja putri untuk mengulang kembali di rumah. Penyediaan tempat dan kontrak waktu dengan melibatkan pihak mitra sebagai fasilitator bertempat di UKS SMPN 03 Bukittinggi dan berkoordinasi dengan menggunakan aplikasi whatsapp. Gambar 2. Pelaksanaan Edukasi dan pelatihan https://jurnalempathy. com/index. php/jurnalempathy/ | 133 Ketiga, menerapkan teknologi kepada remaja putri Tim PMP beserta pihak Penanggungjawab PKPR dari KIA Puskesmas Rasimah Ahmad melakukan pendampingan dalam edukasi pengenalan kepada remaja putri terkait anemia serta pendampingan pendistribusian hasil produk olahan yang telah disiapkan tim PMP bekerjasama dengan pihak Kantin Sekolah di kelas-kelas sebelum jam pelajaran atau jam Puding Teh Cookies Sayur bening Gambar 3. Olahan Daun Kelor Tim Universitas Prima Nusantara Bukittinggi Tim PMP bersama Puskesmas Rasimah Ahmad melaksanakan Skrining Pemeriksaan Kesehatan pada Remaja dan Screening Anemia pada remaja Putri di awal dan akhir kegiatan, menyebarkan kuesioner pengukuran pengetahuan sebelum dan setelah diberikan edukasi dan pelatihan. Terakhir. Bersama mitra melaksanakan penanaman bibit daun kelor sebagai keberlanjutan program di tanam di pekaranag sekolah. Gambar 4. Screening Kesehatan dan Pemeriksaan Kadar Anemia, dan Post test pengetahuan Remaja bersama Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi Gambar 5. Penanaman bibit daun kelor di halaman sekolah https://jurnaempathy. com/index. php/jurnaempathy/ . Adapun Hasil keterlaksanaan program sebagai berikut: Tabel 1. Perubahan status anemia remaja putri pre-post program Status Anemia Remaja Putri Anemia (Ringan dan Sedan. Tidak Anemia Jumlah Pretest 37 42,53% 50 57,47% Posttest 19 21,84% 68 78,16% Selisih Penurunan Anemia 20,66% Berdasarkan tabel 1 diatas, terjadi penurunan kejadian anemia remaja putri. Sebelum penerapan program PMP sebanyak 42,53% . mengalami anemia ringan dan sedang, sedangkan setelah diterapkan program PMP terdapat 21,84% . masih mengalami anemia ringan. Terjadi penurunan kejadian anemia sebesar 20,66% . Tabel 2. Perubahan tingkat pengetahuan remaja pre-post program Status Anemia Remaja Putri Anemia (Ringan dan Sedan. Tidak Anemia Jumlah Pretest 42,53 Posttest 21,84 57,47 78,16 Selisih Penurunan Anemia 20,66% Berdasarkan tabel 2 diatas sebanyak 87 remaja putri mayoritas berpengetahuan rendah terhadap anemia dan manfaat daun kelor serta pengolahannya sebanyak 78% . sebelum dilaksanakan program pengabdian masyarakat pemula, sedangkan mayoritas remaja putri berpengetahuan tinggi sebanyak 79% . setelah terlaksananya program pengabdian masyarakat pemula tersebut. Terjadi peningkatan peningkatan distribusi frekuensi pengetahuan tinggi sebesar 57% pada remaja putri. Tabel 3. Penerapan daun kelor secara mandiri Pengolahan daun Kelor di Rumah Tidak lengkap Lengkap Jumlah Jumlah 18,4% 81,6% Berdasarkan tabel 3 diatas, belum semua remaja putri bersedia menerapkan pengolahan daun kelor di rumah bersama orang tua pada ke-empat olahan yaitu pembuatan puding, teh, sayur bening dan cookies daun kelor. Mayoritas lengkap menerapkan di rumah sebanyak 81,6% . PEMBAHASAN Anemia adalah masalah kesehatan masyarakat global yang ditandai dengan kekurangan sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin, yang mengganggu kemampuan tubuh untuk mengangkut oksigen ke jaringan oleh zat besi. Zat besi merupakan komponen penting dalam hemoglobin yang bertugas mengantarkan oksigen ke seluruh tubuh. Kekurangan zat besi ditandai dengan rasa lelah, pusing, dan sesak https://jurnalempathy. com/index. php/jurnalempathy/ | 135 napas. Dalam upaya untuk mengatasi masalah anemia tersebut perlu dilakukan salah satu upaya preventif yaitu dengan pemanfaatan daun kelor dimana dalam 100 gram daun kelor mengandung Protein 5,1 g = pertumbuhan dan memelihara jaringan tubuh. Zat besi 28,29 mg = mencegah anemia. Kalsium 1. 077 mg = memperkuat struktur tulang dan gigi. Fosfor 76 mg = memelihara ginjal. Vitamin C 22 mg = perkuat kekebalan tubuh. B-karoten 3. 266 yg = kesehatan kulit dan mata. Asam askorbat, karotenoid, dan fenolat. Zat fitokimia seperti flavonoid dan polifenol memiliki sifat, antioksidan . elindungi tubuh dari radikal bebas berbahay. dan anti inflamasi . engurangi peradangan dalam tubu. Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa daun kelor mempunyai kandungan zat besi sebanyak 28,29 mg/100 gr daun kelor. Zat besi terdapat di dalam sel eritrosit, sehingga dengan mengkonsumsi daun kelor dapat meningkatkan kadar hemoglobin, jika kadar hemoglobin di dalam tubuh tercukupi maka tidak akan terjadi anemia. Dalam melakukan upaya pencegahan anemia pada remaja putri maka daun kelor bisa dilakukan dengan berbagai pengolahan diantaranya nya teh daun kelor, puding daun kelor, cookies daun kelor dan sayur bening daun kelor. Pemenuhan zat besi sangat penting dalam pencegahan anemia. Olahan sumber yang mengandung Fe cukup tinggi mampu meningkatkan kadar Hb wanita, dari masa remaja dan masa kehamilan. Survey yang telah dilakukan bahwa belum adanya evaluasi terkait kepatuhan remaja putri dalam konsumsi TTD secara nyata. Sesuai dengan program di Puskesmas, tim yang terbentuk di sekolah merupakan program UKS yang beragam tugas sehingga belum adanya tim fokus mengatasi atau pencegahan masalah anemia, yaitu belum terbentuknya tim UKS khusus di bidang KESPRO yang bertanggungjawab penanggulangan anemia. Sebagian besar remaja putri di SMPN 3 yang diwawancarai secara acak menyatakan ketidaksukaan konsumsi TTD dengan berbagai faktor salah satunya rasa yang tidak disukai dan beranggapan TTD bukan bahan alami yang dapat mempengaruhi kesehatan ginjalnya. Ketidakpatuhan tersebut menjadi penyebab kasus anemia masih tinggi. Hal ini juga di dukung oleh pengabdian masyarakat sebelumnya . yaitu remaja putri tidak patuh konsumsi TTD masih banyak karena karena pengetahuan, sikap, dukungan guru dan orang tua. Selanjutnya dilakukan pelatihan kepada TIM SATGAS UKS KESPRO berupa informasi tentang cara mengenali masalah anemia remaja dengan harapan TIM SATGAS UKS KESPRO mampu memberikan pertolongan pertama berupa pengenalan gejala anemia, pemberian edukasi peningkatan nutrisi melalui olahan daun kelor serta memberikan motivasi memeriksakan kesehatan di Puskesmas terdekat. Hal ini didukung oleh pengabdian masyarakat terdahulu oleh Direktorat SMK. tentang Pemberdayaan Kader Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) Melalui Pembinaan UKS bahwa UKS adalah program kesehatan di sekolah pada umumnya dan di SDN I Kalirejo khususnya, karena minimnya kegiatan sosialisasi/pembinaan dari instansi terkait mengakibatkan pelaksanaan program ini belum optimal. Sehingga perlu adanya sosialisasi/pembinaan bagi kader UKS, agar pelaksanaan program tersebut bisa berjalan secara aktif dan membawa manfaat bagi sekolah. Terjadi peningkatan pengetahuan dan sikap remaja putri terkait anemia dan pengolahan daun kelor, namun belum semua remaja putri mau menerapkan pengolahan daun kelor di rumah pada waktu yang telah ditentukan selama 2 bulan program berjalan. Faktor paling mendukung adalah tingkat pengetahuan yang masih kurang walaupun sudah dilakukan pemberian edukasi. Adanya edukasi sebagai metode pemberi pesan https://jurnaempathy. com/index. php/jurnaempathy/ . merupakan media dalam pendidikan kesehatan yang dapat diartikan sebagai promosi kesehatan untuk memperlancar komunikasi dan penyebaran informasi. Penyuluhan dapat meningkatkan pengetahuan dan mengubah perilaku sasaran. Penyuluhan membutuhkan suatu perangkat yaitu media. Salah satu media yang digunakan adalah media booklet dan video. Media booklet dan video digunaka secara bersamaan mempunyai kelebihan dibandingkan dengan media lainnya yaitu sehingga seseoran lebih mudah dalam memahami penjelasan. Sedangkan kekurangannya yaitu perlu waktu yang lama untuk mencetak tergantung dari pesan yang akan disampaikan dan pesan atau informasi yang lumayan banyak akan mengurangi minat pembaca dalam membaca dan mendengar. Cara kerja otak dalam memproses informasi dengan cara penyuluhan adalah dimulai dari dimulai dari indra . englihatan, pendengaran, penciuman, perasaan, dan Indra-indra ini bekerja untuk mengumpulkan informasi dari lingkungan Misalnya, ketika membaca sebuah tulisan, retina di mata menangkap cahaya yang memicu sinyal saraf menuju otak. Informasi yang diterima oleh indra kemudian diproses dalam tahap sensorik. Otak mengubah sinyal-sinyal tersebut menjadi bentuk yang lebih mudah diinterpretasikan. Contohnya, saat melihat gambar, otak mengurai bentuk, warna, dan tekstur untuk membentuk representasi visual yang lebih kompleks. Selanjutnya, otak menentukan informasi mana yang akan diproses lebih lanjut dengan memperhatikan dan menilai pentingnya informasi tersebut. Faktor seperti kepentingan, emosi, dan relevansi dapat mempengaruhi proses ini. Informasi yang dianggap penting akan masuk ke dalam ingatan jangka pendek. Informasi yang dianggap penting akan disimpan dalam ingatan jangka pendek atau memori kerja. Ingatan ini bersifat sementara dan memungkinkan untuk memanipulasi informasi dalam waktun singkat. Jika informasi terus diperkuat dan digunakan, maka akan masuk ke dalam ingatan jangka panjang. Informasi yang telah masuk ke dalam ingatan. Jangka panjang akan diakses untuk proses kognitif tingkat tinggi, seperti berpikir kritis, memecahkan masalah, atau mengambil keputusan. Selama proses ini, berbagai bagian otak berinteraksi untuk mengolah informasi secara kompleks proses kognitif tingkat tinggi melibatkan pembentukan asosiasi dan koneksi antara informasi yang berbeda di otak. Hal ini memungkinkan untuk membentuk pola, memahami hubungan sebab akibat, dan menciptakan ide ide baru . Oleh karena itu, dengan adanya mekanisme proses meningkatnya pengetahuan remaja putri setelah diberikan penyuluhan dengan media booklet dan video memberikan dampak kenaikan tingkatan pengetahuan yang akan mempengaruhi sikap seseorang menyadari pentingnya menjaga kesehatan sehingga kejadian anemia berkurang. Hal ini didukung dengan pengabdian masyarakat sebelumnya. bahwa peningkatan keterlibatan masyarakat melalui inovasi pembuatan pudding kelor untuk remaja di Posyandu Remaja Desa Bedoyo. Kecamatan Ponjong. Gunung Kidul telah sukses. Dari evaluasi yang dilakukan, terungkap bahwa terjadi peningkatan kadar Hb pada remaja yang mengonsumsi pudding kelor sebagai camilan. Rata-rata kenaikan kadar Hb 8 gr/%. Agar pudding kelor yang inovatif dapat digunakan sebagai terapi pendamping atau pengganti tablet Fe bagi individu yang tidak bisa mengonsumsi tablet Fe. Selama program berlanjut, adanya dukungan berbagai faktor dalam menunjang keberhasilan program pemberdayaan SATGAS UKS KESPRO Remaja terhadap olahan daun kelor sebagai upaya preventif anemia. Mitra kerjasama tim PMP sangat kooperatif https://jurnalempathy. com/index. php/jurnalempathy/ | 137 dalam memfasilitasi kegiatan yaitu pelaksanaan skrining anemia bersamaan dengan program pemeriksaan kesehatan Puskesmas Rasimah Ahmad. Pihak sekolah memfasilitasi tempat pelaksanaan yaitu UKS dan Aula, mengumpulkan remaja putri setiap tahapan, hingga menyediakan lahan tempat penananaman bibit daun kelor ditempat kondusif. Kegiatan ini perlu adanya perbaikan-perbaikan dalam mengurangi hambatan dari partisipasi remaja putri dan orang tua/wali murid sebagai peranan utama program PMP antara lain: . siswa kelas 1 merupakan masa peralihan untuk memahami pentingnya pemeriksaan anemia. Banyak remaja putri salah persepsi dalam prosedur pemeriksaan labor melalui pengambilan darah perifer yang sama dengan suntik imunisasi. Tim PMP beserta guru melakukan tahapan pendekatan proaktif dan edukatif sehingga dari yang tidak mau melakukan pemeriksaan menjadi bersedia. Sebelum dilakukan pelatihan dan edukasi, banyak remaja putri yang menyampaikan ketidaksukaan sayur mayur, sebagian besar tidak mengetahui daun kelor sehingga takut untuk mencoba di rumah serta remaja sebelum nya pernah mencoba mengatakan ketidaksukaan pada olahan daun kelor yang dinilai pahit, setelah diberikan edukasi serta mereka mencoba olahan daun kelor yang telah diberikan pihak PMP beserta SATGAS UKS KESPRO menyatakan kesukaannya melalui olahan yang telah disampaikan pada kegiatan sebelumnya. Olahan favorit adalah cookies dan puding daun kelor. Di awal pemberian, belum semua siswa mau mencoba produk diberikan dikarenakan takut terhadap rasa baru. Melalui pendekatan edukasi intens, sehingga mereka bersedia mencoba produk tersebut dan bersedia mengolahnya di rumah. Belum semua remaja putri mencoba melaksanakan olahan di rumah karena beragam faktor. KESIMPULAN DAN SARAN Setelah dilaksanakan Program PMP dengan judul pemberdayaan SATGAS UKS KESPRO Remaja terhadap olahan daun kelor sebagai upaya preventif anemia bersama mitra kerjasama SMPN 03 Kota Bukittinggi dan Puskesmas Rasimah Ahmad mendapatkan hasil yang positif. SATGAS UKS KESPRO di SMPN 03 Kota Bukittinggi telah lulus pelatihan dan mendapatkan sertifikat. SATGAS UKS KESPRO menunjukkan keaktifan mengemban tugas selama kegiatan pengabdian masyarakat. Adanya peningkatan antusiasme remaja dalam mencoba produk olahan daun kelor dengan tampilan menarik dan rasanya enak, mayoritas lengkap menerapkan di rumah sebanyak 81,6% . Adanya peningkatan pengetahuan dan sikap dalam pencegahan anemia. dengan selisih 57% pada remaja putri. Remaja putri berpengetahuan tinggi sebesar 79% . Tercapainya target penurunan kejadian anemia sebanyak 20,66% . dengan angka kejadian anemia sebesar 21,84% . Beban pemahaman tim UKS terhadap kesehatan remaja beragam sehingga disarankan adanya pembaharuan penanggulangan anemia setara TTD. Puskesmas sebagai pemonitor dan evaluator berkelanjutan pada sekolah-sekolah. Keberhasilan program yang dilaksanakan di SMPN 03 Kota Bukittinggi diharapkan menjadi model percontohan bagi sekolah-sekolah lainnya di Wilayah Kerja Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi. UCAPAN TERIMA KASIH