JURNAL KEDOKTERAN YARSI 30. : 26-36 . p-ISSN : 0854-1159. e-ISSN: 2460-9382 Hubungan infeksi cacing terhadap kejadian stunting pada balita di dua lokus stunting wilayah kerja Puskesmas Kampar. Kabupaten Kampar Relationship of helminth infection to the incidence of stunted children in two locations of working area of Puskesmas Kampar. Kampar Distric Sharfina Anisa Eka Putri1. Wan Nedra2. Muhammad Arsyad3 1Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Jakarta 2Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Jakarta 3Bagian Agama Islam Universitas YARSI Jakarta KATA KUNCI KEYWORDS soil transmitted helminth, stunting, infeksi, cacing soil transmitted helminth, stunted, infection, helminth ABSTRAK Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Menurut Riskesdas 2018, 30,8% anak balita atau satu dari tiga balita di Indonesia mengalami stunting. Infeksi Soil-Transmitted Helminths (STH. adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing parasit usus dari golongan nematoda usus yang ditularkan melalui tanah. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Kartini di Pekanbaru, prevalensi infeksi cacing STHs pada anak balita adalah 12,7%. Penelitian terhadap infeksi cacing pada anak lebih banyak pada anak usia sekolah dasar daripada usia balita. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan infeksi cacing terhadap kejadian stunting pada balita di 2 lokus stunting wilayah kerja Puskesmas Kabupaten Kampar. Penelitian dengan menggunakan metode cross sectional ini dilakukan di desa Ranah Singkuang dan desa Pulau Jambu. Pengambilan sampel dilaksanakan dengan teknik non probality sampling dengan metode purposive Instrumen penelitian yaitu dengan melakukan pemeriksaan antropometri dan pemeriksaan feses metode direct Metode analisis dengan uji Chi-Square. Dari 80 anak yang dapat diperiksa, sebanyak 27 anak menderita stunting . 8%) dan 15 anak positif infeksi cacing . 8%). Jenis cacing yang dominan adalah cacing T. 8%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara infeksi JURNAL KEDOKTERAN YARSI 30. : 26-36 . p-ISSN : 0854-1159. e-ISSN: 2460-9382 cacing dan stunting pada balita. ABSTRACT Stunting is a condition of failure to thrive due to chronic malnutrition within the first 1000 days of life. According to Riskesdas 2018, 30. 8% of children under five . or one in three under five in Indonesia are Soil-Transmitted Helminths (STH. infection is an infection caused by intestinal parasitic worms from the intestinal nematode class which are transmitted through soil. According to research conducted by Kartini in Pekanbaru, the prevalence of STHs infections in toddlers are Researchs about helminth infections in children was more in elementary schoolAos age than toddlers. The purpose of this study was to determine the relationship between worm infection and the incidence of stunting in toddlers in 2 stunting locations in the working area of KamparAos Public Health Center. Kampar District. This research using cross sectional method was conducted in Ranah Singkuang village and Pulau Jambu village. Sampling was carried out by non-probability sampling technique with purposive sampling method. The research instrument was to conduct anthropometric examinations and direct smear stool examinations. The method of analysis is the Chi-Square test. From 80 children who can be examined, the results obtained were 27 children suffered from stunting . 8%) and 15 children were positive for helminth infection . 8%). The most common type of helminth found was T. 8%). Chi-Square test results showed no significant relationship between helminth infection and stunting in toddlers. JURNAL KEDOKTERAN YARSI 30. : 26-36 . p-ISSN : 0854-1159. e-ISSN: 2460-9382 PENDAHULUAN Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Penyebab stunting sekitar 20% bermula dari ibu hamil yang kurang gizi selama kehamilan dan sekitar 80% setelah kelahiran. Stunting dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan pada anak, baik pada jangka pendek maupun jangka panjang. Pada tahun 2017 jumlah balita stunting di dunia sebagian besar berasal dari Asia . %), sedangkan lebih dari sepertiganya . %) Afrika. Menurut Riskesdas 2018, 30,8% anak balita atau satu dari tiga balita di Indonesia mengalami stunting (KEMENKES, 2. Infeksi cacing . merupakan infeksi cacing parasit usus dari golongan nematoda usus yang ditularkan melalui tanah, atau disebut STHs (Soil Transmitted Helminth. Jenis cacing yang termasuk dalam kelompok STHs yang masih menjadi masalah kesehatan, yaitu cacing gelang (Ascaris (Trichuris Strongyloides tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenal. dan cacing (Oxyuris Seseorang dikatakan penderita cacingan apabila hasil pemeriksaan feses terdapat telur cacing/cacing (Sutanto et al. , 2. Prevalensi kejadian kecacingan di Indonesia pada anak masih cukup tinggi, berkisar 2,7 Ae 60,7%. Oleh karena itu, pencegahan infeksi cacing sudah dilakukan sejak anak usia 2 tahun. Contohnya adalah pemberian obat cacing. Hal ini disebabkan karena pada anak usia 2 tahun sudah terjadi kontak dengan tanah yang merupakan sumber penularan infeksi cacing (Santoso. Di Indonesia, infeksi cacing STH lebih umum terjadi pada anakanak usia sekolah dasar, tetapi menurut penelitian yang dilakukan Kartini Pekanbaru, prevalensi infeksi cacing pada anak balita adalah 12,7%. Perhatian peneliti-peneliti terhadap infeksi cacing pada anak lebih banyak pada anak-anak usia sekolah dasar daripada usia balita. Padahal balita juga memiliki potensi untuk tertular infeksi cacing (Kartini et al. , 2. Responden penelitian hubungan infeksi cacing terhadap stunting pada umumnya adalah anak-anak usia sekolah dasar. Yang mana salah satunya adalah Palembang dengan hasil terdapat hubungan signifikan antara infeksi cacing terhadap status gizi anakanak usia sekolah dasar (Annisa et , 2. Pada penelitian ini juga ditemukan jenis cacing terbanyak ditemukan adalah cacing Tetapi berlawanan juga didapat oleh penelitian di Padang, yang mana tidak terdapat hubungan yang signifikan antara infeksi cacing JURNAL KEDOKTERAN YARSI 30. : 26-36 . p-ISSN : 0854-1159. e-ISSN: 2460-9382 terhadap status gizi pada anak usia sekolah dasar (Renanti et al. , 2. Sebuah penelitian yang dilakukan Peru, adanya hubungan infeksi STHs pada anak usia 1-2 tahun dengan panjang, dimana keadaan tersebut termasuk salah satu dampak dari Hasil dari penelitian ini menunjukkan pentingnya kontrol infeksi STHs pada anak-anak usia 1 tahun (Blouin et al. , 2. A APerlu infeksi cacing terhadap kejadian stunting pada balita di 2 lokus stunting wilayah kerja Puskesmas Kampar Kabupaten Kampar. METODOLOGI Jenis dilakukan adalah observasional analitik yang dilakukan di dua lokus stunting wilayah kerja Puskesmas Kampar. Kabupaten Kampar. Rancangan Populasi dan sampel penelitian ini adalah seluruh anak usia balita dari 2 Lokus Wilayah Kerja Puskesmas Kampar Kabupaten Kampar, tepatnya di desa Ranah Singkuang dan Pulau Jambu, yang memenuhi kriteria Kriteria inklusi sampel yaitu berusia 0-59 bulan . engan batas tambahan usia maksimal 14 har. yang mengalami stunting dan tidak stunting, bertempat tinggal di Desa Pulau Jambu atau Desa Ranah Singkuang, serta orangtua anak yang bersedia menandatangani informasi lisan, mengisi biodata secara lengkap, dan bersedia mengambil sampel feses anak setelah diberikan edukasi mengenai cara pengambilan sampel feses dan Kriteria eksklusi sampel adalah usia anak Ou 59 bulan 15 hari, orangtua menolak informed consent dan botol sampel yang tidak dikembalikan. Penetapan sampel dilakukan sampling dengan metode purposive sampling, yaitu sebesar 77 sampel. Pengambilan dengan pengukuran antropometri dan pemeriksaan feses dengan Analisis penelitian ini secara univariat dan bivariat menggunakan uji ChiSquare. HASIL Alat menganalisis data adalah aplikasi IBM SPSS Statistic 23. Teknik analisis univariat adalah analisis deskriptif, dimana semua data yang diperoleh disusun ke dalam tabel melalui perhitungan distribusi frekuensi dan persentasenya, baik secara menggunakan tabulasi silang . ross Dari hasil penelitian, ditemukan 80 anak yang memenuhi kriteria Berdasarkan tabel menunjukkan bahwa sebagian besar JURNAL KEDOKTERAN YARSI 30. : 26-36 . p-ISSN : 0854-1159. e-ISSN: 2460-9382 balita yang dicatat berusia 37-48 bulan, yaitu sebanyak 21 anak . 3%). Data tersebut menunjukkan sebagian besar balita memiliki jenis kelamin laki-laki, yaitu sebanyak 44 . %). Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Balita di 2 Lokus Stunting Wilayah Kerja Puskesmas Kampar. Kabupaten Kampar Karakteristik balita Frekuensi Persentase Laki-laki Perempuan 0 Ae 12 13 Ae 24 25 Ae 36 37 Ae 48 49 Ae 59 Total Jenis Kelamin Usia Tabel 2. Distribusi Frekuensi Kejadian Stunting di 2 Lokus Stunting Wilayah Kerja Puskesmas Kampar. Kabupaten Kampar Berdasarkan tabel 2, jumlah balita yang mengalami stunting adalah sebanyak 27 anak . 8%). Pada tabel 3 menunjukkan bahwa prevalensi balita yang positif infeksi cacing di 2 lokus stunting wilayah kerja Puskesmas Kampar . 8%). Berdasarkan tabel 4, jenis infeksi menginfeksi balita di 2 lokus stunting wilayah kerja Puskesmas Kampar adalah cacing T. acing cambu. , sebanyak 7 anak . 8%). JURNAL KEDOKTERAN YARSI 30. : 26-36 . p-ISSN : 0854-1159. e-ISSN: 2460-9382 Tabel 3. Distribusi Frekuensi Infeksi Cacing di 2 Lokus Stunting Wilayah Kerja Puskesmas Kampar. Kabupaten Kampar Tabel 4. Distribusi Frekuensi Jenis Infeksi Cacing di 2 Lokus Stunting Wilayah Kerja Puskesmas Kampar. Kabupaten Kampar Tabel 5 menunjukkan jumlah balita yang positif infeksi cacing terlihat 13 anak termasuk ke kategori normal . 3%), sementara yang termasuk kategori stunting . 5%). Hasil uji statistik Chi-square menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara infeksi cacing dengan kejadian stunting karena nilai p-value 0. >0. JURNAL KEDOKTERAN YARSI 30. : 26-36 . p-ISSN : 0854-1159. e-ISSN: 2460-9382 Tabel 5. Hubungan Infeksi Cacing dengan Status Gizi berdasarkan TB/U di 2 Lokus Stunting Wilayah Kerja Puskesmas Kampar. Kabupaten Kampar PEMBAHASAN Menurut WHO, dikatakan mengalami masalah gizi kronis bila prevalensi balita stunting lebih dari 20% (Direktorat Gizi Masyarakat et al. Berdasarkan data entry ePPGBM pada tanggal 18 Juni 2019, dari 28. 711 balita ditemukan 581 balita masuk ke dalam kategori stunting atau setara (Diskominfo Kampar, 2. Berdasarkan hasil diketahui bahwa prevalensi anak yang tinggi badan normal masih lebih banyak . 3%) daripada prevalensi anak yang stunting . 8%). Dalam prevalensi infeksi cacing pada anak di 2 lokus stunting didapatkan 15 anak . 8 %). Hasil tersebut tidak sejalan dengan prevalensi infeksi cacing pada anak balita yang didapat dari penelitian Kartini di Pekanbaru, yaitu sekitar 12. (Kartini et al. , 2. Balita di kedua lokus sudah diberi obat cacing Albendazole sejak usia 8 bulan. Hasil penelitian terbanyak yang ditemukan di kedua desa adalah cacing T. trichiura, yakni pada 7 anak. Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian Renanti . , dimana hasilnya jenis cacing terbanyak adalah A. lumbricoides (Renanti et al. , 2. Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Annisa . , dimana jenis cacing terbanyak yang ditemukan dalam penelitian tersebut adalah cacing T. trichiura (Annisa et al. Hal ini terjadi karena kemungkinan obat yang diberikan JURNAL KEDOKTERAN YARSI 30. : 26-36 . p-ISSN : 0854-1159. e-ISSN: 2460-9382 oleh bidan desa tidak efektif atau tidak diminum. Obat Albendazole lebih efektif pada infeksi cacing A. lumbricoides, cacing kremi (O. dan tambang (N. americanus dan A. Obat yang menjadi pilihan utama untuk infeksi cacing T. trichiura adalah Mebendazole. Albendazole alternatif (Atmojo, 2. Hasil uji statistik Chi-Square pada penelitian ini . menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara kejadian stunting dan infeksi cacing karena nilai P >0,05. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Renanti et al. , . , tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Peru (Blouin et al. , 2. Perbedaannya adalah penelitian tersebut berjenis kohort, dilakukan di negara Peru, dan dengan jumlah sampel yang lebih besar. Hasil penelitian ini juga tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Annisa terdapat hubungan yang signifikan antara infeksi cacing dengan status gizi stunting anak- anak usia sekolah dasar (Annisa et al. , 2. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mencari adanya hubungan antara status gizi dan infeksi cacing, terutama jenis STH. Hubungannya pengaruh lingkungan, sosial dan Malnutrisi dan penyakit infeksi mempunyai timbal balik yang sangat erat, sehingga sulit untuk mengidentifikasi mana dari kedua keadaan tersebut yang lebih dulu. Menurut Gandahusada . , kecacingan yang menyerang anak dapat mengganggu dialami sehingga asupan zat gizi berkurang, padahal zat gizi dibutuhkan lebih banyak tubuhnya yang rusak akibat penyakit itu (Annisa et al. , 2. Infeksi cacing STH juga dikaitkan makanan, karena adanya sitokin proinflamasi, gangguan pencernaan dan penyerapan nutrisi yang buruk, yang dapat mengurangi nafsu makan anak. Hilangnya darah akibat infeksi T. kronis, defisiensi zat besi, anemia defisiensi besi dan gangguan pertumbuhan (Soedarto, 2. Seperti dengan sedikitnya ditemukan hasil infeksi cacing positif yang berarti belum bisa dipastikan bahwa infeksi cacing dapat menyebabkan stunting Infeksi berpengaruh terhadap status gizi pada anak balita baik di Desa Ranah Singkuang dan Desa Pulau Jambu, tetapi kemungkinan bisa memberi dampak di masa depan jika penanganan segera. Keterbatasan dalam penelitian yaitu tidak semua botol feses balita dikembalikan pada waktu pengumpulan. JURNAL KEDOKTERAN YARSI 30. : 26-36 . p-ISSN : 0854-1159. e-ISSN: 2460-9382 Infeksi cacing dan stunting adalah dua hal yang harus dihindarkan dari balita. Seperti berbahaya bagi kesehatan, stunting juga perlu dicegah sedini mungkin bahkan sejak masih di dalam Orangtua juga wajib mengajari dan mempraktekkan menjaga kesehatan dan kebersihan dalam kehidupan sehari-hari agar menjadi contoh bagi anak-anak yang menyaksikannya. KESIMPULAN Prevalensi kejadian stunting pada balita di 2 lokus stunting wilayah kerja Puskesmas Kampar 8 %. Prevalensi infeksi cacing pada balita di 2 lokus stunting wilayah kerja Puskesmas Kampar adalah 18. Jenis cacing yang menginfeksi pada balita di di 2 lokus stunting wilayah kerja Puskesmas Kampar adalah A. trichiura, cacing tambang (N. americanus dan A. , dan cacing kremi (O. Jenis cacing yang paling banyak ditemukan adalah cacing T. Berdasarkan penelitian ini, tidak ada hubungan yang signifikan antara stunting dan infeksi cacing pada balita di 2 lokus stunting wilayah kerja Puskesmas Kampar karena nilai p 064 . > 0. SARAN Masih diperlukan penelitian yang lebih banyak mengenai anakanak balita terutama dalam hal stunting dan infeksi cacing. Bagi Puskesmas diharapkan untuk dapat tentang kejadian stunting dan infeksi cacing. Bagi masyarakat memperhatikan tumbuh kembang anak terutama masalah tinggi badan serta pencegahan infeksi cacing sehingga dengan ini bisa mencegah anak dari stunting dan infeksi UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak dari Puskesmas Kampar, pihak dari Desa Ranah Singkuang dan pihak dari Desa Pulau Jambu yang telah membantu dalam pengambilan data penelitian. JURNAL KEDOKTERAN YARSI 30. : 26-36 . p-ISSN : 0854-1159. e-ISSN: 2460-9382 KEPUSTAKAAN