Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) Vol. 6 No. 4 November 2022 e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 DOI: 10. 36312/jisip. 3667/http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Temperamen. Role. Dan Status Dalam Novel Kartini Karya Abidah El Khalieqy: Tinjauan Sastra Feminis Radikal Perspektif Kate Millet Baiq Inda Chairunissa1. Mahsun2. Johan Mahyudi3 Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Mataram Universitas Mataram Article Info Article history: Accepted: 23 Juli 2022 Publish: 7 November 2022 Keywords: Temperamen. Role. Status. Novel Kartini. Perspektif Kate Millet Article Info Article history: Accepted: 23 Juli 2022 Publish: 7 November 2022 Abstrak The purpose of this study is to describe the forms of temperament, role, and status in the Novel Kartini by Abidah El Khalieqy: A Review of Kate Millet's Radical Feminist Literature. This type of research is qualitative research with data collection method using close reading technique. The data analysis method used in this research is descriptive analysis technique. The results of the study found that in the novel Kartini by Abidah El Khalieqy there are forms 1. Temperament which consists of five components, namely: a. not submissive, b not weak, c. not emotional, d. and e. A role consisting of three components, namely: a. parenting, b. the needs of her husband, and c. undergo seclusion. Status which consists of three components, namely: a. as wife, b. as a child, and c. as a priyayi. Abstract Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk Temperamen, role, dan status dalam Novel Kartini karya Abidah El Khalieqy: Tinjauan Sastra Feminis Radikal Perspektif Kate Millet. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data menggunakan teknik close reading. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian menemukan bahwa di dalam novel Kartini karya Abidah El Khalieqy terdapat bentukbentuk 1. Temperamen yang terdiri dari lima komponen yaitu: a. tidak tunduk, b tidak lemah, c. tidak emosional, d. keibuan, dan e. Role yang terdiri dari tiga komponen yaitu: a. mengasuh anak, b. memenuhi kebutuhan suami, dan c. Status yang terdiri dari tiga komponen yaitu: a. sebagai istri, b. sebagai anak, dan c. sebagai priyayi. This is an open access article under the Lisensi Creative Commons AtribusiBerbagiSerupa 4. 0 Internasional Corresponding Author: Baiq Inda Chairunissa Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Mataram Email :baiqinda29@gmail. PENDAHULUAN Gender adalah perbedaan jenis kelamin berdasarkan budaya, di mana laki-laki dan perempuan dibedakan sesuai dengan perannya masing-masing yang dikonstruksikan oleh kultur setempat yang berkaitan dengan peran, sifat, kedudukan, dan posisi dalam masyarakat (Fakih, 2007: . Perbedaan antara laki-laki dan perempuan dibentuk melalui proses sosial dan budaya yang telah diperkenalkan sejak lahir. Ketika terlahir bayi laki-laki maka orang tua akan mengecat kamar bayi dengan warna biru, dihiasi dengan gambar mobil-mobilan dan pesawat, serta memberikannya mainan seperti bola, robot-robotan, dan tamia. Apabila terlahir bayi perempuan maka orang tua akan mengecat kamar bayinya dengan warna merah jambu, menghiasinya dengan gambar hello kitty, dan menyiapkan boneka-boneka lucu untuk putrinya. Perbedaan gender tidak akan menjadi masalah selama tidak melahirkan ketidakadilan, tapi yang menjadi masalah perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, baik bagi kaum laki-laki dan terutama terhadap kaum perempuan. Ratna . 9: . memandang bahwa wanita adalah mahkluk yang lemah, mudah emosi, menangis, hanya bersolek dan berhias diri, atau dianggap sebagai mahkluk kelas dua dan juga diciptakan oleh Tuhan hanya untuk menyertai laki2295 | Temperamen. Role, dan Status dalam Novel Kartini Karya Abidah El Khalieqy: Tinjauan Sastra Feminis Radikal Perspektif Kate Millet (Baiq Inda Chairuniss. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 laki, seakan-akan menggabarkan bahwa kaum wanita hanyalah pelengkap dari dunia laki-laki, tidak bisa mengembangkan diri dan tidak bisa menempati suatu kedudukan yang lebih tinggi. Namun semakin berkembangnya zaman tidak sedikit wanita sudah mulai mengambil alih tugas-tugas laki-laki. Banyak wanita yang sudah mulai terjun dalam berbagai bidang, diantaranya bidang politik, pendidikan, dan sastra. Dalam bidang sastra, banyak wanita yang ikut berpartisipasi dalam menciptakan sebuah karya sastra, salah satunya yaitu pengarang novel Kartini yaitu Abidah El Khalieqy. Novel yang dihasilkan oleh Abidah El Khalieqy banyak menceritakan tentang perjalanan hidup wanita dan bagaimana perjuangan wanita. Keadaan ini membuktikan bahwa wanita juga bisa melakukan apa yang bisa dilakukan oleh laki-laki. Hal semacam ini biasanya dibahas melalui teori feminisme. Teori feminisme adalah teori tentang persamaan antara laki-laki dan perempuan dibidang politik, ekonomi, dan sosial, atau kegiatan terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta kepentingan perempuan (Sugihastuti, 2002: . Salah satu novel karya Abidah El Khalieqy yang berjudul Kartini, banyak mengandung masalah gender. Novel Kartini ini menceritakan tentang perjuangan tokoh-tokoh perempuan untuk mendapatkan kemerdekaan dan kesetaran. Kaum perempuan di dalam novel Kartini banyak mendapatkan ketidakadilan, contohnya dalam bidang Terlihat pada kutipan berikut: AuDengan tegar. Kartini maju dan menyembah kaki RomonyaAy AuRomo yang penyayang. Izinkan Ni sekolah. Ni janji akan pintar. Kartini mengiba. Ay (Kartini, 2017: . Kutipan di atas menunjukkan bagaimana Kartini ingin sekali melanjutkan sekolahnya setelah lulus dari E. S namun terhalang oleh sistem patriarki yang saat itu sangat mengikat kaum Sistem patriarki hanya ingin kaum perempuan di tempatkan di ranah domestik . umah kaum perempuan pada masa itu sangat sulit untuk mendapatkan pendidikan walaupun ia termasuk golongan Priyayi. Karena pada masa itu anak perempuan hanya mendapatkan pendidikan sampai dengan sekolah dasar sedangkan anak laki-laki bisa mendapatkan pendidikan sampai dengan perguruan tinggi. Dengan keadaan seperti itu lahirlah keinginan Kartini untuk melawan keterbelengguan kaum wanita pada masa itu dengan usahanya yaitu menerbitkan artikelartikel karyanya, isi dari artikel tersebut tidak lain adalah mendorong kaum wanita untuk lepas dari ketertinggalan dan menuntut hak-hak mereka sepenuhnya yang di halangi oleh sistem patriarki yang sudah melekat kuat di masyarakat. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk mengangkat judul tentang AuTemprament. Role, dan Status dalam Novel Kartini Karya Abidah El Khalieqy Tinjauan Sastra Feminis Radikal Perspektif Kate Millet. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang tidak mengadakan perhitungan dan penggabaran dengan angkaangka. Penelitian kualitatif selalu bersifat deskriptif, artinya data-data yang dianalisis dan hasil analisisnya berbentuk fenomena dan tidak berupa angka-angka. Sehingga data yang digunakan sebagai dasar penelitian ini berwujud kata-kata, kalimat-kalimat, dan wacana yang mengacu kepada Temprament. Role, dan Status dalam Novel Kartini Karya Abidah El Khalieqy Kajian Sastra Feminis Perspektif Kate Millet. Metode pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode close reading. Metode ini dilakukan dengan mencari literatur-literatur yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan (Dharma, 2004: . Metode close reading pada dasarnya hanya digunakan pada tahap analisis novel serta pencarian data penguat atau referensi untuk memperkuat atau membantu dalam proses analisis novel Kartini Karya Abidah El Khalieqy. Tahap selanjutnya setelah pengumpulan data yaitu tahap analisis data. Menurut Anggoro . 7: . analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh melalui metode pengumpulan data, sehingga dapat dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Adapun langkah-langkah untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi atau mengumpulkan data yang terkait dengan Temprament. Role, dan Status yang di alami tokoh perempuan dalam novel 2296 | Temperamen. Role, dan Status dalam Novel Kartini Karya Abidah El Khalieqy: Tinjauan Sastra Feminis Radikal Perspektif Kate Millet (Baiq Inda Chairuniss. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 AuKartiniAykarya Abidah El Khalieqy tinjauan sastra feminis Perspektif Kate Millet. Selanjutnya mengklasifikasi data atau mengelompokkan data berdasarkan katagori . Temperament, . Role, dan . Status. Selanjutnya melakukan analisis data dalam novel AuKartiniAy karya Abidah El Khalieqy berdasarkan katagori . Temperament, . Role, dan . Status. Terakhir membuat simpulan dari keseluruhan analisis. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian berikut ini akan membahas secara berturut-turut mengenai temperament, role, dan status berdasarkan perspektif Kate Millet, sebagai berikut: Temprament Berikut adalah hasil identifikasi dan analisis dari konsep Temprament dalam novel Kartini Karya Abidah El Khalieqy Kajian Sastra Feminis Perspektif Kate Millet, sebagai berikut: Tidak Tunduk Konsep Temprament tidak tunduk di perlihatkan oleh tokoh Kartini ketika ia berkeinginan untuk tidak menikah. Kartini memiliki pemikiran bahwa perempuan bisa berdaya tanpa adanya laki-laki. Hal tersebut digambarkan pada kutipan di bawah ini: AuKangmas benar. Kemerdekaan memang harus di mulai dari pikiran. Ay AuAku akan melawan. Kangmas. Ay AuAku tidak akan menikah. Aku akan buktikan, aku bisa jadi diriku sendiriAy AuAku bisa berdaya tanpa laki-laki. Ay (Khalieqy, 2017: . Kutipan di atas menunjukkan ketidak tundukan Kartini ketika ia berkeinginan untuk tidak Menurut Kartini menjadi seorang perempuan tidak di takdirkan selalu menjadi seorang ibu dan istri. Apakah menjadi seorang perempuan yang ditakdirkan harus menikah dengan laki- laki yang tidak dicintai, bahkan wajahnya pun belum pernah dilihatnya saat dinikahkan, apalagi kepribadiannya. Apakah perempuan harus tetap tersenyum saat suaminya menikah lagi dan menggandeng istri kedua, ketiga dan seterusnya. Perempuan dilarang melakukan protes dan hanya boleh diam tehadap semua tindakan suami, meski tindakan itu sangat tidak manusiawi. Kartini tidak ingin bernasib seperti itu, ia ingin merdeka dari sistem patriarki yang mengakar di kalangan masyarakat Jawa saat itu. Tidak Lemah Konsep Temprament tidak lemah di perlihatkan oleh tokoh Kartini. Kardinah, dan Rukmini ketika Busono mencoba menghalangi tujuan mereka untuk menyuarakan kemerdekaan dan kesetaraan kaum perempuan dengan cara menerbitkan artikel yang berisikan semangat juang untuk kaum perempuan yang mengalami ketidakadilan. Hal tersebut digambarkan pada kutipan di bawah ini: Au. Romo sudah memberi kepercayaan kepada kita. Tak ada orang lain yang boleh merampasnya!Ay AuSetuju!Ay AuAku juga!Ay AuKardinah dan Rumini mengikuti ikrar. Ay AuBersatu untuk kemerdekaanAy AuKedua adiknya berucap sama. Ay AuBersatu untuk kesetaraan. Ay Kutipan di atas menunjukkan konsep tidak lemah yang di tunjukkan oleh Kartini dan kedua Dengan adanya keikut sertaan kakak laki-laki mereka yang mengajukan diri untuk ikut serta membantu menjaga mereka. Mendengar hal tersebut Kartini. Kardinah, dan Rukmini menjadi jengkel karena kakak laki-laki mereka selalu menghalangi- halangi mereka untuk mencapai tujuan yang mereka ingin capai, dengan kekuasaan yang mereka miliki. Namun dengan semangat pantang menyerah. Kartini. Kardinah, dan Rukmini mengucapkan ikrar untuk tetap bersatu demi kemerdekaan dan kesetaraan. Tidak Emosional 2297 | Temperamen. Role, dan Status dalam Novel Kartini Karya Abidah El Khalieqy: Tinjauan Sastra Feminis Radikal Perspektif Kate Millet (Baiq Inda Chairuniss. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Konsep Temprament tidak emosional di perlihatkan oleh tokoh Kartini ketika ia tidak menghiarukan sindiran dari ibu tirinya Kanjeng Ayu Wuryan. Hal tersebut digambarkan pada kutipan di bawah ini: AuSaat kucing makan tikus, pantas mendecap, sindir Raden Ajeng Wuryan ketus. Ay AuTangan Kardinah menyenggol paha Kartini dari bawah meja. Kaki Rukmini menginjak jempolnya, memberitahu sindiran ibunya untuk Kartini. Namun Kartini tak merasa perlu untuk menghiraukan Wuryan. Kalau perlu, ingin rasanya dia mendecap sekali lagi dengan sengaja. Namun diurungkannya. Ay (Khalieqy, 2017: . Kutipan di atas menunjukkan konsep tidak emosional yang di tunjukkan oleh tokoh Kartini ketika ia sedang melahap makanan di atas meja makan dan tidak sengaja Kartini mendecap dan di dengar oleh ibu tirinya Raden Ajeng Wuryan. Raden Ajeng Wuryan pun langsung menyindir dengan perumpamaan di hadapan Kartini langsung, namun Kartini enggan untuk menanggapi sindirian dari ibu tirinya tersebut dan menlanjutkan melahap makanan yang sedang di santapnya. Kartini menghindari konflik dengan tidak menghiraukan perkataan dari ibu tirinya, menganggap perkataan ibu tirinya seperti angin lalu. Keibuan Konsep Temprament keibuan di perlihatkan oleh tokoh Kartini ketika ia menyusui bayinya. Hal tersebut digambarkan pada kutipan di bawah ini: AuTiap kali menyusui bayinya, seribu mawar memenuhi hatinya. Hidupnya terasa lengkap Meski capek dan sering terkantuk-kantuk, saat bayinya terbangun dengan tangis karena lapar. Kartini sigap mengambil sang bayi tanpa mengandalkan bantuan Ay(Khalieqy, 2017: . Kutipan di atas menunjukkan konsep keibuan yang ditunjukkan oleh tokoh Kartini, setelah ia melahirkan anaknya. Sifat keibuan yang pertama diperliahatkan adalah ketika ia memberikan si buah hati susu . Walaupun lelah ditambah rasa kantuk yang amat berat Kartini sangatlah amat telaten dalam memperhatikan buah hatinya tanpa meminta bantuan dari emban-emban yang sudah disediakan untuknya. Namun peran suami Kartini disini tidak terlihat, ia hanya menyerahkan urusan kepada emban-emban yang akan membantu Kartini dalam mengurus buah hati mereka. Sehingga terlihat ketidaksetaraan peran dalam mengasuh anak dimana peran laki-laki tidak langsung terlibat banyak dan menyerahkan sepenuhnya pada perempuan saja. Padahal laki-laki juga bisa ikut berperan dalam mengasuh anak . jika saja ada kemauan dari laki-laki. Dengan adanya perbedaan ranah dalam mengasuh anak secara tidak langsung menumbuhkan ketidaksetaraan gender yang dimana perempuan hanya di tempatkan di ranah domestik . umah tangg. sedangkan laki-laki berkewajiban untuk mencari nafkah. Efektif Konsep Temprament keefektifan yang di tunjukkan oleh Kartini ketika tidak bisa melanjutkan tidur sehingga ia memilih untuk melanjutkan menulis artikel. Hal tersebut digambarkan pada kutipan di bawah ini: AuKarna tak bisa lanjut tidur. Kartini memutuskan untuk meneruskan artikel yang tadi belum selesai dituliskanya. Jelang datangnya fajar, pikiran selalu segar dan mudah mencerna apa pun dengan segar dan lancar. Inspirasi datang membajir bak air bah. Dalam beberapa menit saja. Kartini telah menyelesaikan satu artikel agak panjang. Ay Kutipan di atas menjukkan konsep keefektifan yang di tunjukkan oleh Kartini, dimana ia tidak bisa melanjutkan tidurnya dan memilih untuk melanjutkan menulis artikelnya, sehingga keefektifan dalam memanfaat waktu tersebut, dalam beberapa menit saja Kartini sudah bisa menyelesaikan satu artikel. Dengan terselesainya artikel tersebut, menimbulkan rasa bangga tersendiri dalam benak diri Kartini. Kegemarannya membaca dan menulis membuatnya semakin bersemangat untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan yang tertindas pada masa itu. Role 2298 | Temperamen. Role, dan Status dalam Novel Kartini Karya Abidah El Khalieqy: Tinjauan Sastra Feminis Radikal Perspektif Kate Millet (Baiq Inda Chairuniss. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Berikut adalah hasil identifikasi dan analisis dari konsep Role dalam novel Kartini Karya Abidah El Khalieqy Kajian Sastra Feminis Perspektif Kate Millet, sebagai berikut: Mengasuh Anak Konsep Role mengasuh anak di perlihatkan oleh tokoh Kartini ketika ia mengambil anaknya yang menangis terbangun karena lapar. Hal tersebut digambarkan pada kutipan di bawah ini: AuMeski capek dan sering terkantuk-kantuk, saat bayinya terbangun dengan tangis karena lapar. Kartini sigap mengambil sang bayi tanpa mengandalkan bantuan emban. Raden Joyo Adiningrat juga dating oleh tangis bayi. Ay (Khalieqy, 2017: . Kutipan di atas menunjukkan sikap Kartini tanpa lelah mengasuh anaknya walaupun rasa kantuk yang amat berat, namun ia bangun menyusui bayinya yang terbangun karena lapar. Kasih sayang seorang ibu sepanjang masa bagi anaknya. Walaupun ia sudah di siapkan emban untuk membantu mengasuh anak, tidak akan membuat Kartini bergantung pada bantuan emban sepenuhnya, jika ia bisa dan merasa mampu ia akan melakukannya sendiri. Begitulah gambaran kasih sayang Kartini untuk anak yang baru di lahirkannya. Memenuhi Kebutuhan Suami Konsep Role memenuhi kebutuhan suami di perlihatkan oleh tokoh Ngasirah ketika ia harus merelakan suaminya untuk menikah lagi dengan Raden Ayu Wuryan, semata-mata agar suami bisa menjadi seorang Bupati. Hal tersebut digambarkan pada kutipan di bawah ini: AuBagi kalangan bangsawan Jawa saat itu, syarat untuk bisa menjadi bupati, seorang lakilaki mesti menikah dengan perempuan keturunan bangsawan. Maka Raden Sosroningrat menikahi Raden Ajeng Wuryan, putri Bupati Jepara dan keturunan langsung Raja Madura. Meskipun saat masih jadi Wedana dia sudah menikah dengan Ngaasirah, perempuan pilihan hatinya, putri seorang ulama terkemuka bernama Kiai Haji Modirono dari Desa Teluk Awur. Ay (Khalieqy, 2017: . Kutipan di atas menunjukkan bagaimana Ngasirah memenuhi kebutuhan suaminya dengan memberikan izin kepada Raden Sosroningrat untuk menikah kembali dengan Raden Ajeng Wuryan semata- mata agar suaminya bisa menjadi seorang bupati. Adapun syarat untuk menjadi seorang bupati di kala itu adalah laki- laki harus menikah dengan perempuan keturunan bangsawan sedangkan Ngasirah bukanlah keturunan bangsawan ia adalah putri seorang ulama terkemuka yang bernama Kiai Haji Modirono. Menjalani Pingitan Konsep Role menjalani pingitan di perlihatkan oleh tokoh Kartini ketika ia mengeluhkan cara berpakaian dalam proses pingitan, dimana payudara tidak boleh terlihat menonjol. Hal tersebut digambarkan pada kutipan di bawah ini: AuLihatlah. Kangmas. Masa pingitan ini menegaskan bahwa gerak kami sudah dijajah sejak dalam berpakaian. Ay Auapa sebenarnya yang diinginkan dari aturan jahat ini? Jika payudara perempuan tidak boleh terlihat menonjol, bukankah kami sudah menutupinya dengan pakaian dua lapis? Bagaimana memaksa yang menonjol menjadi rata? Mengapa tidak dipotong saja?Au(Khalieqy, 2017: . Kutipan di atas memperlihatkan sikap Kartini yang tidak menyukai proses pingitan yang saat itu harus ia lakukan. Dimana Kartini sedang di bebat oleh mbok Lawiyah dengan stagen, untuk menutupi payudaranya agar terlihat rata. Bebatan di dada Kartini membuat jantungnya seakan akan mau berhenti. Kartini beranggapan bahwa masa pingitan ini sudah menjajah kaum perempuan sudah dijajah sejak dalam berpakaian. Status Berikut adalah hasil identifikasi dan analisis dari konsep Status dalam novel Kartini Karya Abidah El Khalieqy Kajian Sastra Feminis Perspektif Kate Millet, sebagai berikut: Sebagai Istri Konsep Status sebagai istri di perlihatkan oleh tokoh Ngasirah ketika ia meluapkan isi hati kepada suaminya Raden Sosroningrat. Hal tersebut digambarkan pada kutipan di bawah ini: 2299 | Temperamen. Role, dan Status dalam Novel Kartini Karya Abidah El Khalieqy: Tinjauan Sastra Feminis Radikal Perspektif Kate Millet (Baiq Inda Chairuniss. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 AuSaya sudah mengorbaankan hati saya. Saya tidak akan kuat jika nanti ada pertengkaran anak-anak saya dan anak-anak Gusti Ayu. Saya mohon ,berlakulah adil,AyNgasirah menahan perih. Ay (Khalieqy, 2017: . Kutipan di atas memperlihatkan sikap Ngasirah yang tidak berkenan dengan perlakuan Raden Sosroningrat yang dimana malam ini yang seharusnya Raden Ayu Wuryan memiliki waktu bersama dengan Raden Sosroningrat. Dengan sikap Raden Sosroningrat yang tidak adil tersebut. Ngasirah khawatir jikalau nanti akan terjadi keributan di antara anak-anaknya dikarenakan perlakuan ayahnya yang tidak adil pada salah satu isrtinya, antara ia dan Raden Ayu Wuryan. Sebagai Anak Konsep Status sebagai anak di perlihatkan oleh tokoh Kartini ketika ia bersujud di bawah kaki ibunya untuk berpamitan dan memulai hidup baru dengan suaminya. Hal tersebut digambarkan pada kutipan di bawah ini: AuKartini tiba di hadapan Ngasirah. Tanpa peduli semua mata yang melihatnya dengan penasaran, sontak dia bersujud di bawah kaki ibu kandungnya. Ay AuNi pamit. Yu. Ni mau jadi Raden Ajeng. Ay AuNgasirah dicekam haru luar biasa. Air matanya langsung tumpah membanjiri pipi. Dia peluk Kartini dengan segenap perasaan sayang. Ay AuYu ikhlas dan berdoa untuk kebahagiaanmu. Ndoro. Jadilah Raden Ajeng yang penuh bakti pada suami dan keluargamu. Gusti pengeran akan menjagamu. Ay(Khalieqy, 2017: Kutipan di atas menunjukkan bagaimana bakti seorang Kartini terhadap ibunya Ngasirah, walaupun status sosial mereka berbeda namun tidak menghalangi Kartini untuk bersujud sembah di bawah kaki ibu kandungnya. Kartini tidak peduli dengan orang-orang yang melihat saat ia mersujud sembah di bawah kaki ibunya. Kartini berpamitan kepada Ngasirah untuk terakhir kalinya, air mata mereka pecah membanjiri pipi, dengan segenap perasaan sayang Kartini memeluk Ngasirah. Begitu banyak pelajaran hidup yang di torehkan oleh Ngasirah kepada Kartini. Priyayi Konsep Status sebagai Priyayi di perlihatkan oleh tokoh Kartini. Kardinah, dan Rukmini ketika mereka hendak pulang dan bertemua 3 orang anak perempuan. Hal tersebut digambarkan pada kutipan di bawah ini: AuBocah itu mencoba berbahasa kromo sehalus mungkin, mengingat yang sedang dihadapi adalah priayi agung, sembari mengulurkan tiga buah pisang rebus yang sejak tadi digenggamnya. Kartini ingin tertawa mendengar susunan bahasa aneh yang jelas-jelas keliru itu, tetapi tawanya ditelan kembali saat melihat pemberian itu. Ay (Khalieqy, 2017: . Kutipan di atas memperlihatkan bagaimana Kartini. Kardinah, dan Rukmini hendak pulang dan di tengah jalan mereka bertemu dengan tiga orang anak perempuan dengan baju lusuh dan rambut awut-awutan, mereka mengejar kereta kuda tanpa henti sembari berteriak. Memanggil Kartini. Kardinah, dan Rukmini. Karena melihat mereka begitu serius mengejar dan sepertinya tak mau berhenti. Kartini meminta kusir untuk menghentikan kereta kudanya. Begitu kereta berhenti, bocah-bocah dekil itu langsung merapat ke Kartini dan adik-adiknya. Ternyata mereka ingin memberikan tiga buah pisang rebus kepada Kartini. Kardinah, dan Rukmini dan mereka mengucapkan terimakasih kepada Kartini. Kardinah, dan Rukmini karena mereka bertiga. Bapak anak perempuan itu mempunyai pekerjaan, jadi kami bisa makan setiap hari. Dengan adanya perbedaan kelas sosial tersebut terlihat bagaimana masyarakat biasa harus menggunakan bahasa kromo yang halus untuk berbicara dengan kelas sosial priyayi pada masa itu. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang Ketidaksetaraan Gender dalam novel Kartini karya Abidah El Khalieqy Tinjauan Sastra Feminisme Radikal Perspektif Kate Millet 2300 | Temperamen. Role, dan Status dalam Novel Kartini Karya Abidah El Khalieqy: Tinjauan Sastra Feminis Radikal Perspektif Kate Millet (Baiq Inda Chairuniss. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 didapatkan kesimpulan bahwa tokoh- tokoh perempuan dalam novel Kartini karya Abidah El Khalieqy banyak mendapatkan ketidaksetaraan di antaranya ketika Ngasirah harus mengikhlaskan walau hati tak ingin, suaminya Raden Sosrodiningrat menikah lagi dengan Raden Ayu Wuryan semata- mata prasyarat untuk bisa menjadi seorang Bupati. Seharusnya Ngasirah saat itu bisa menyuarakan ketidaksetujuannya, namun demi masa depan anak- anaknya Ngasirah tidak bisa berbuat banyak selain harus ikhlas dan tegar menghadapi takdir yang telah di tetapkan Selain itu juga ketidaksetaran yang di alami tokoh- tokoh perempuan di dalam novel Kartini karya Abidah El Khalieqy adalah ketika anak perempuan tidak mendapatkan haknya untuk memilih sedangkan anak laki- laki boleh memilih. Dimana saat itu Kartini ingin melanjutkan pendidikannya namun terhalang oleh peraturan yang ada dimana anak perempuan yang sudah menginjak umur 14 tahun harus menjalani proses pingitan sampai dengan datangnya pinangan dari seorang bangsawan. Dari tradisi yang sudah mengakar tersebut, langkah kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi sudah di pastikan akan kalah dengan peraturan yang ada, jika melanggar tradisi yang ada maka mereka akan di pandang cacat di mata Dengan melihat keadaan kaum perempuan yang terbelenggu dengan tradisi- tradisi yang ada pada zaman itu, sangat miris mendengarnya. Sehingga dapat di simpulkan bahwa ketidaksetaraan yang di alami tokoh-tokoh perempuan di dalam novel Kartini karya Abidah El Khalieqy sangat merugikan bagi kaum perempuan. Kartini salah satu tokoh yang sangat memperjuangkan kemerdekaan dan kesetaraan bagi kaum perempuan yang tertindas pada masa itu, ia berjuang agar kesetaraan perempuan dan laki-laki dapat di samakan dalam hal mendapatkan pendidikan tidak pandang status sosial. Begitu banyak hambatan yang ia temui namun tak menyrurutkan semangatnya untuk menyuarakan bahwa perempuan bisa berdaya tanpa laki-laki dan perempuan tidak hanya sebagai pelengkap laki-laki. perempuan juga bisa melebihi pencapaian seorang laki-laki. Berdasarkan hasil penelitian Ketidaksetaraan Gender dalam Novel Kartini karya Abidah El Khalieqy Tinjauan Sastra Feminis Radikal Perspektif Kate Millet di harapkan dapat memberikan informasi penting mengenai bentuk-bentuk ketidaksetaraan gender yang di alami oleh tokoh-tokoh perempuan di dalam novel Kartini karya Abidah El Khalieqy. Selain itu, pembaca juga di harapkan mencontoh kepribadian Raden Ajeng Kartini yang semangat juang demi kemajuan dalam bidang pendidikan yang di dapatkan oleh kaum Berdasarkan hasil penelitian Ketidaksetaraan Gender dalam Novel Kartini karya Abidah El Khalieqy Tinjauan Sastra Feminis Radikal Perspektif Kate Millet di harapkan dapat memberikan informasi penting mengenai bentuk-bentuk ketidaksetaraan gender yang di alami oleh tokoh-tokoh perempuan di dalam novel Kartini karya Abidah El Khalieqy. Selain itu, pembaca juga di harapkan mencontoh kepribadian Raden Ajeng Kartini yang semangat juang demi kemajuan dalam bidang pendidikan yang di dapatkan oleh kaum perempuan. UCAPAN TERIMAKASIH Dengan mengucap syukur Alhaamdulillah, kupersembahkan hasil karya sederhana ini kepada orang-orang spesial dalam hidupku. Terimakasih telah membangkitkan semangat dikala sedih dan sedang diuji Allah SWT. DAFTAR PUSTAKA