Jurnal Magistra Volume 3 Nomor 1 Maret 2024 e-ISSN : 3026-6572. dan p-ISSN : 3026-6580. Hal. DOI: https://doi. org/10. 62200/magistra. Available online at: https://ejurnal. id/index. php/magistra Analisis Gereja dalam Perjanjian Lama dan Gereja dalam Perjanjian Baru : Kajian Eklesiologi Yuslina Halawa1*. Abad Jaya Zega2 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta. Indonesia Alamat: Jln. Daan Mogot Km 18 Kel. Kebon besar Kec. Batu Ceper . ,63 k. Kota Tangerang 15122 Korespondensi penulis: yuslinahalawa9@gmail. Abstract. This study examines the church's development in both the Old and New Testaments using a descriptive qualitative approach. The aim is to understand how the churchAos structure has influenced contemporary Christianity. In the Old Testament, the church is portrayed as a community of GodAos chosen peopleAiethnically tied to Israel and bound by the covenant and its laws. Leadership was hereditary, involving priests and prophets who served as intermediaries between God and the people. Religious practices, such as festivals, served as covenantal symbols of obedience and identity. In contrast, the New Testament introduces a transformed understanding of the church as a universal and inclusive community of believers in Jesus Christ. This new identity is spiritual rather than ethnic or legal. Leadership is no longer hereditary but based on spiritual gifts, with a collegial and participatory model that emphasizes relational service and Christ as the head of the church. Sacraments are also redefined: baptism and holy communion replace older ritual practices, emphasizing grace and spiritual union with Christ. Rather than discarding Old Testament traditions, the New Testament reinterprets and fulfills them, offering a theological continuity and transformation. The study concludes that the essence of the church evolves from a national-religious institution into a Christ-centered, spiritually unified body that transcends ethnic and ritual boundaries. Keywords : Analysis. Ecclesiology. New Testament Church. Old Testament Church Abstrak. Studi ini meneliti perkembangan gereja baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Tujuannya adalah untuk memahami bagaimana struktur gereja telah memengaruhi Kekristenan kontemporer. Dalam Perjanjian Lama, gereja digambarkan sebagai komunitas umat pilihan TuhanAiyang secara etnis terikat dengan Israel dan terikat oleh perjanjian dan hukum-hukumnya. Kepemimpinan bersifat turun-temurun, melibatkan para imam dan nabi yang bertindak sebagai perantara antara Tuhan dan umat. Praktik keagamaan, seperti perayaan, berfungsi sebagai simbol perjanjian kepatuhan dan Sebaliknya. Perjanjian Baru memperkenalkan pemahaman yang diubah tentang gereja sebagai komunitas umat beriman yang universal dan inklusif kepada Yesus Kristus. Identitas baru ini lebih bersifat spiritual daripada etnis atau hukum. Kepemimpinan tidak lagi bersifat turun-temurun tetapi berdasarkan karuniakarunia rohani, dengan model kolegial dan partisipatif yang menekankan pelayanan relasional dan Kristus sebagai kepala gereja. Sakramen juga didefinisikan ulang: baptisan dan perjamuan kudus menggantikan praktik ritual lama, yang menekankan kasih karunia dan persatuan rohani dengan Kristus. Alih-alih membuang tradisi Perjanjian Lama. Perjanjian Baru menafsirkan ulang dan memenuhinya, menawarkan kesinambungan dan transformasi teologis. Studi ini menyimpulkan bahwa hakikat gereja berevolusi dari lembaga nasional-keagamaan menjadi tubuh yang berpusat pada Kristus, yang bersatu secara spiritual, yang melampaui batas-batas etnis dan Kata kunci: Analisis. Eklesiologi. Gereja Perjanjian Baru. Gereja Perjanjian Lama LATAR BELAKANG Gereja merupakan komunitas orang-orang yang telah dipanggil dari kegelapan menuju terang keselamatan melalui Kristus. Sebagai tubuh Kristus, komunitas ini mencakup mereka yang telah mengalami penebusan dan pengudusan, dipanggil untuk menjalani hidup yang berakar pada kebenaran serta menjauhkan diri dari gaya hidup sebelumnya yang tidak sejalan dengan kehendak Tuhan (Padakari & Gulo, 2. Panggilan ilahi ini tidak hanya mencakup penolakan terhadap dosa, tetapi juga keharusan Received: Februari 28, 2025. Revised: Maret 15, 2025. Accepted: Maret 29, 2025. Published: Maret 31, 2025 ANALISIS GEREJA DALAM PERJANJIAN LAMA DAN GEREJA DALAM PERJANJIAN BARU : KAJIAN EKLESIOLOGI untuk mengasihi, menaati firman Tuhan, dan terlibat aktif dalam memenuhi misi keselamatan yang dipercayakan kepada gereja. Gereja bukan sekadar bangunan fisik, gereja mewujudkan komunitas iman yang hidup yang berfungsi sebagai terang dan garam bagi dunia (Purwoto, 2. Kehadiran gereja di tengah dunia memiliki hakekat utama sebagai garam dan terang, sebagaimana yang diajarkan oleh Yesus dalam Matius 5:13-14. Bertindak sebagai garam, gereja memberikan cita rasa rohani yang meningkatkan pengalaman iman individu, menegakkan integritas ajaran dan nilai-nilai kebenaran sekaligus menjaga dari kerusakan moral yang dapat mengganggu keharmonisan sosial. Gereja juga berfungsi sebagai kekuatan transformatif, mendorong perubahan positif baik pada individu maupun masyarakat dengan mempromosikan kasih, keadilan, dan kebenaran yang didasarkan pada firman Tuhan (Ndruru et al. , 2. Melalui kesaksian pribadi, pelayanan masyarakat, dan partisipasi aktif dalam pengembangan masyarakat, gereja berfungsi sebagai instrumen Tuhan untuk pembaruan dan mewujudkan prinsip-prinsip kerajaan-Nya di semua dimensi keberadaan manusia. Dengan variasi pemahaman yang dipengaruhi oleh tradisi dan pendekatan hermeneutis yang digunakan dalam menafsirkan Kitab Suci, konsep gereja dalam teologi Kristen menunjukkan tingkat yang sangat tinggi. Salah satu perspektif teologis yang berkembang mengatakan bahwa eksistensi gereja telah ada sejak Perjanjian Lama dan telah ada sejak Perjanjian Baru. Menurut perspektif ini, gereja dianggap sebagai representasi dari umat perjanjian Allah yang telah dibentuk sejak zaman patriarkal, dan keberadaannya dianggap sebagai kesinambungan dari Israel sebagai umat pilihan. Pemahaman ini sering dikaitkan dengan gagasan Israel rohani, di mana gereja dalam Perjanjian Baru dianggap sebagai pemenuhan janji-janji Allah kepada Israel dalam Perjanjian Lama (Umboh, 2. Gereja lebih sering dikaitkan dengan bangsa Israel sebagai umat yang dipilih oleh Allah untuk menjadi terang bagi bangsa lain dalam Perjanjian Lama. Perjanjian Allah dengan Abraham adalah awal dari pemilihan Israel untuk menjadi umat-Nya. Allah berjanji kepada Abraham bahwa melalui keturunannya, seluruh bangsa di dunia akan diberkati, dan kepada Yesaya. Ia menegaskan bahwa keselamatan dari-Nya akan tersebar hingga ke seluruh penjuru bumi melalui Israel. Perjanjian Baru kemudian mencatat berbagai upaya dalam memperkenalkan Allah kepada bangsa-bangsa lain (Purwoto, 2. Dalam Perjanjian Baru istilah ekklesia berasal dari bahasa Yunani dalam Septuaginta, yang terdiri dari kata ek . dan kaleo . , sehingga bermakna Audipanggil keluarAy. Sementara itu, kata sunagoge berasal dari sundan ago, yang berarti Auberkumpul bersamaAy. Kata sunagoge secara khusus merujuk pada pertemuan ibadah orang Yahudi atau bangunan tempat mereka JURNAL MAGISTRA - VOLUME 3 NOMOR 1 MARET 2025 e-ISSN : 3026-6572. dan p-ISSN : 3026-6580. Hal. beribadah, sebagaimana disebutkan dalam Matius 4:23. Kisah Para Rasul 13:43, dan Wahyu 2:9. 3:9. Dalam Perjanjian Baru, istilah ekklesia secara umum digunakan untuk menyebut gereja (Kowal, 2. Dalam doktrin Eklesiologi menjelaskan pemahaman tentang gereja sebagai tubuh Kristus yang berperan penting dalam menyampaikan keselamatan kepada umat manusia. Gereja tidak hanya dipandang sebagai sebuah lembaga, namun, juga sebagai komunitas orang-orang beriman yang disatukan dalam iman kepada Kristus serta dibimbing oleh Roh Kudus. Doktrin ini menjadi pedoman utama bagi kehidupan gereja, membantu dalam mengarahkan misi dan peran gereja sebagai sarana penyataan kasih karunia Allah di dunia. Dalam doktrin Eklesiologi, terdapat beberapa aspek penting yang meliputi struktur organisasi gereja, pelaksanaan sakramen, serta otoritas kepemimpinan gerejawi. Setiap denominasi memiliki sistem kepemimpinan yang bervariasi, namun secara umum gereja dipimpin oleh tokoh rohani seperti uskup, pendeta, atau imam yang bertanggung jawab dalam membimbing dan membina jemaat dalam kehidupan spiritual. Sakramen, seperti baptisan dan perjamuan kudus, memiliki peran krusial dalam kehidupan gereja yang berfungsi sebagai simbol dan sarana yang meneguhkan keselamatan yang dianugerahkan oleh Allah kepada umat-Nya. KAJIAN TEORITIS Perbedaan Konseptual antara Gereja dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru Gereja dapat dipahami sebagai suatu komunitas atau j emaat yang dipilih, yakni mereka yang dipanggil oleh Allah untuk meninggalkan kehidupan duniawi, menjauh dari dosa, dan masuk ke dalam anugerah-Nya (Sproul, 2. Dalam Perjanjian Lama, kitabkitab suci dianggap sebagai wahyu Allah yang dihormati dan digunakan sebagai sumber teologis oleh para penulisnya, sebagaimana terlihat dalam Mazmur 78. Yeremia 26:18. Ezra 7:10, dan Nehemia 8:1-8. Hubungan antara Gereja dan umat Allah dalam Perjanjian Lama dapat dilihat dari pemilihan Abraham sebagai nenek moyang bangsa Israel, yang kemudian dikenal sebagai bangsa pilihan Allah. Allah memanggil Abram untuk pergi ke negeri yang akan ditunjukkan-Nya, yaitu tanah perjanjian yang dijanjikan sebagai warisan bagi Abram. Di tanah tersebut. Allah berjanji untuk memberkati Abram dan menjadikannya bangsa yang besar (Kejadian 12:1-. (Steven Tubagus, 2. Tanah merupakan topik sentral dalam Perjanjian Lama, karena Tuhan menghubungkan pemilihan Israel sebagai umat pilihan dengan janji untuk memberikan mereka tanah yang disebut Autanah KanaanAy Janji ini pertama kali diberikan kepada ANALISIS GEREJA DALAM PERJANJIAN LAMA DAN GEREJA DALAM PERJANJIAN BARU : KAJIAN EKLESIOLOGI Abraham dan keturunannya (Kej. , kemudian ditegaskan kembali untuk Ishak (Kej. , serta bagi Yakub dan keturunannya (Kej. Keterlibatan keturunan Abraham. Ishak, dan Yakub sebagai ahli waris tanah perjanjian menunjukkan bahwa pemenuhan janji tersebut tidak terjadi secara langsung dalam kehidupan mereka, melainkan melalui suatu proses yang panjang. hubungan antara bangsa Israel dan tanah perjanjian menjadi aspek yang tidak dapat dipisahkan dalam Perjanjian Lama. Sejarah Israel dalam kitab suci ini sangat berpusat pada tanah yang kelak dikenal sebagai negeri Israel. Kapan pun dan di mana pun mereka berada, bangsa Israel selalu merindukan tanah tersebut, karena di sanalah mereka mengalami keterlibatan Tuhan dalam kehidupan mereka. Bahkan dalam nubuat mengenai pembuangan. Tuhan tetap menjanjikan pemulihan dan kembalinya bangsa Israel ke tanah mereka (Yes. 14:1-. (Madao, 2. Konsep ibadah dalam tradisi bangsa Israel pada masa Perjanjian Lama memiliki akar historis yang dalam, yang dapat ditelusuri sejak peristiwa dari kehidupan manusia sejak awal keberadaannya, dimulai dari tokoh-tokoh pertama dalam narasi kitab suci, yakni Adam dan Hawa. Kain dan Habel juga telah mempersembahkan ibadah kepada Tuhan melalui pemberian persembahan sebagai bentuk penghormatan dan pengabdian mereka (Gulo et al. , 2. Tindakan mempersembahkan korban kepada Allah pertama kali tercatat dalam Kejadian 4:3-4 melalui kisah Kain dan Habel, yang mempersembahkan hasil dari pekerjaan mereka sebagai wujud pengabdian kepada Tuhan. Praktik serupa dilanjutkan oleh tokoh-tokoh seperti Nuh dan Abraham, yang membangun mezbah dan mempersembahkan korban bakaran kepada Allah sebagaimana disebutkan dalam Kejadian 8:20. 12:7-8. dan 13:4. Dalam perkembangan berikutnya. Musa menjadi tokoh sentral dalam membentuk sistem ibadah yang terorganisasi, yang berpusat pada Kemah Pertemuan sebagai tempat pelaksanaan liturgi umat Israel. Pada masa kenabian, arah ibadah mulai terpusat pada satu titik sakral, yaitu Kemah Pertemuan, yang menjadi simbol kehadiran Dalam konteks Perjanjian Lama, ibadah dipahami sebagai sarana perjumpaan antara Allah dan umat-Nya, di mana aspek ritus dan simbolik sangat menonjol. Memasuki era Perjanjian Baru, praktik ibadah mengalami perkembangan signifikan. Tempat pelaksanaan ibadah menjadi lebih beragam, termasuk di Bait Suci, sinagoge, dan rumah-rumah pribadi milik orang percaya (Kisah Para Rasul 2:46Ae. Unsur-unsur utama dalam ibadah meliputi nyanyian rohani (Efesus 5:19. Kolose 3:. , doa pembacaan kitab suci, serta penyampaian Seluruh rangkaian ibadah tersebut dilaksanakan dalam nuansa kesederhanaan namun sarat dengan makna teologis dan spiritual (Roesmijati, 2. JURNAL MAGISTRA - VOLUME 3 NOMOR 1 MARET 2025 e-ISSN : 3026-6572. dan p-ISSN : 3026-6580. Hal. Dalam Perjanjian Baru, terdapat dua istilah yang berasal dari Septuaginta yang memiliki makna teologis yang signifikan. Pertama, ekklesia yang merupakan gabungan dari kata Yunani AuekAy dan AukaleoAy yang secara harfiah berarti Audipanggil keluarAy. Kedua, sunagoge, yang berasal dari kata AusunAy dan AuagoAy yang secara etimologis berarti "berkumpul bersama. " Secara khusus, istilah sunagoge digunakan untuk merujuk pada pertemuan ibadah komunitas Yahudi atau tempat ibadah mereka secara umum (Matius 4:23. Kisah Para Rasul 13:43. Wahyu 2:9. Sementara itu, meskipun dalam beberapa konteks ekklesia dapat menunjuk pada pertemuan atau perkumpulan secara umum, dalam Perjanjian Baru istilah ini lebih sering digunakan untuk mengacu pada gereja . ihat Kisah Para Rasul 19:32, 39, 41 (Sukarman, 2. Hukum Taurat dalam Perjanjian Lama merupakan bagian dari perjanjian Allah dengan bangsa Israel yang bersifat sementara dan memiliki masa berlaku tertentu (Gulo et , 2. Hal ini ditegaskan dalam Injil Lukas 16:16 yang menyatakan bahwa AuHukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes. Ay Dalam kerangka ini, hukum Taurat tidak mampu menyempurnakan manusia, karena sistem kurban yang terkandung didalamnya khususnya pengorbanan darah binatang tidak memiliki kuasa untuk benar-benar menghapuskan dosa. Hukum-hukum yang diberikan melalui Musa dipandang sebagai bayangan atau simbol dari keselamatan yang akan digenapi di dalam Kristus, sebagaimana diungkapkan dalam Perjanjian Baru. Kesaksian mengenai peran Yesus dalam kaitannya dengan hukum Taurat sangat jelas, khususnya dalam Injil-injil Sinoptik. Yesus sendiri menegaskan bahwa Ia tidak datang untuk membatalkan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya (Matius 5:. Sebagai seorang Yahudi. Yesus tunduk pada hukum Taurat, namun Ia tidak hanya menaati secara lahiriah, melainkan juga memenuhi tuntutan hukum tersebut secara sempurna dengan hidup tanpa dosa. Penggenapan tersebut mencapai puncaknya melalui kematian-Nya di kayu salib. Dalam pengorbanan itu. Yesus telah menanggung akibat hukum Taurat atas dosa manusiaAisebuah sistem hukum yang menuntut ketaatan mutlak sebagai syarat untuk memperoleh hidup (Galatia 3:. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, hukum Taurat dinyatakan tidak lagi mengikat umat yang telah masuk ke dalam Perjanjian Baru. Perjanjian yang lama telah digantikan oleh perjanjian yang baru, yakni perjanjian kasih, yang ditandai oleh hukum kasih sebagaimana diajarkan oleh Kristus sendiri. Dalam konteks ini, seperti yang dijelaskan oleh Abraham Park . Yesus dipahami sebagai Imam Besar yang sejati dan sempurna dari Perjanjian Baru. Bait Allah fisik yang didirikan melalui Musa dan sistem keimaman Lewi hanyalah bayangan dari realitas yang sempurna dalam Kristus. Ia menjadi pengganti dari seluruh ANALISIS GEREJA DALAM PERJANJIAN LAMA DAN GEREJA DALAM PERJANJIAN BARU : KAJIAN EKLESIOLOGI sistem ibadah Perjanjian Lama, termasuk korban binatang, karena dalam diri-Nya. Yesus adalah Anak Domba Allah yang mempersembahkan darah-Nya sendiri untuk penebusan umat manusia. Ia juga bertindak sebagai Imam Besar Agung yang tidak hanya melayani di bait duniawi, tetapi di hadirat Allah di surga sebagai tempat kudus yang sejati (Nicolas. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan peneliti dalam menulis karya ilmiah ini adalah metode kualitatif deskriptif. Metode deskriptif adalah metode yang mempelajari kondisi kelompok manusia, objek, sistem pemikiran atau peristiwa terkini dengan tujuan memperoleh gambaran yang sistematis, dan akurat dari data yang dikumpulkan (Ismail. Penulis di dalam penelitian ini pertama-tama membaca buku-buku sebagai sumber Selain itu, membaca artikel ilmiah di jurnal. Teknik pengumpulan data menggunakan pembacaan teks. Kombinasi sumber primer dan sekunder ini memungkinkan peneliti untuk membangun pemahaman yang komprehensif tentang subjek penelitian. Analisis ini tidak hanya bertujuan untuk mendeskripsikan situasi, tetapi juga untuk mencari solusi yang tepat dan relevan bagi komunitas Kristen dalam memahami tranformasi gereja dari perjanjian lama hingga perjanjian baru. Selain itu, penelitian ini akan menjelaskan bagaimana ciri-ciri gereja dalam perjanjian lama dan dalam perjanjian baru. Penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan penting tentang Transformasi struktur gereja saat HASIL DAN PEMBAHASAN Transformasi Struktur dan Kepemimpinan Gereja dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru Dalam Perjanjian Lama. Musa menempati posisi sentral sebagai pemimpin umat Israel yang ditetapkan secara langsung oleh Allah. Namun, kepemimpinannya tidak terlepas dari tantangan internal, terutama berupa ketidakpuasan dan pemberontakan dari umat yang dipimpinnya. Beberapa catatan Alkitab menunjukkan bahwa bangsa Israel sering kali bersungut-sungut, meragukan otoritas Musa, bahkan mendekati sikap penolakan terhadap Allah sendiri . Kel. 14:9Ae12. Dalam situasi krisis. Musa tetap konsisten menjalankan tanggung jawabnya sebagai pemimpin, dengan keyakinan bahwa bangsa itu adalah umat perjanjian Allah yang telah dijanjikan untuk menerima Tanah Kanaan. Keteguhan Musa menunjukkan karakter kepemimpinan yang berakar pada JURNAL MAGISTRA - VOLUME 3 NOMOR 1 MARET 2025 e-ISSN : 3026-6572. dan p-ISSN : 3026-6580. Hal. ketaatan dan kesetiaan terhadap panggilan ilahi (Rannu Sanderan, 2. Imam merupakan figur sentral dalam struktur pelayanan kerohanian umat Israel pada masa Perjanjian Lama. Peran ini mulai terlihat secara nyata sejak masa kepemimpinan Musa, di mana Musa berfungsi sebagai nabi, sementara Harun saudaranya diangkat sebagai Imam Besar yang Dalam perkembangan berikutnya, seluruh keturunan Lewi ditetapkan oleh Allah untuk menjalankan fungsi keimaman bagi bangsa Israel, sebagaimana tertulis dalam Bilangan 35:1Ae8. Penetapan ini sesungguhnya telah dinubuatkan sebelumnya dalam Kejadian 49:5Ae7, yang menyiratkan peran suku Lewi dalam konteks keadilan dan pengabdian religius. Peran utama imam dalam tradisi keagamaan Israel melaksanakan ritual persembahan korban kepada Allah. Fungsi ini bersifat eksklusif, karena hanya para imam yang diberi otoritas untuk melakukan tindakan liturgis ini. Pada masa kepemimpinan Musa, tempat pelaksanaan ibadah ini dikenal sebagai Kemah Suci, sementara pada era Raja Salomo berubah menjadi Bait Suci. Transisi ini mencerminkan perkembangan dalam struktur ibadah umat Israel, namun tetap menegaskan pentingnya otoritas keimaman sebagai mediator antara umat dan Allah, sebagaimana diatur secara eksplisit dalam (Baskoro, 2. Transformasi kepemimpinan gereja tidak dapat dilepaskan dari karya penyelamatan Yesus Kristus yang menandai pergeseran fundamental dari sistem keagamaan Perjanjian Lama menuju paradigma baru dalam Perjanjian Baru. Yesus Kristus dapat dipandang bukan hanya sebagai pembawa pesan perubahan ilahi, tetapi juga sebagai perwujudan nyata dari pesan itu sendiri. Peran-Nya tidak terbatas pada penyampaian ajaran, melainkan juga mencakup tindakan aktif dalam merealisasikan transformasi rohani umat manusia. Dalam hal ini. Kristus menampilkan diri sebagai figur sentral yang menginisiasi dan mewujudkan pembaruan menyeluruh dalam hubungan manusia dengan Allah. Kisah-kisah dalam Injil, terutama catatan Matius dan Lukas, menggambarkan secara jelas peran transformatif Yesus sejak kelahiran-Nya. Pewartaan malaikat kepada Yusuf. Maria, dan para gembala . Mat. 1Ae2. Luk. 1Ae. menandai bahwa kehadiranNya bukan peristiwa biasa, melainkan titik balik sejarah keselamatan. Ucapan malaikat dalam Matius 1:21, yang menyatakan bahwa Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka, memperlihatkan bahwa inti dari transformasi terletak pada misi penyelamatan yang dibawa-Nya. Yesus Kristus dapat dipahami sebagai penggerak utama dalam transformasi struktur dan kepemimpinan gereja. Dalam diri-Nya, otoritas tidak lagi bergantung pada garis keturunan atau sistem hukum Musa, tetapi pada karunia dan panggilan dari Allah melalui Roh Kudus. Kepemimpinan dalam gereja tidak lagi bersifat ANALISIS GEREJA DALAM PERJANJIAN LAMA DAN GEREJA DALAM PERJANJIAN BARU : KAJIAN EKLESIOLOGI eksklusif, melainkan inklusif, menempatkan seluruh orang percaya sebagai bagian dari Auimamat rajaniAy . Ptr. (Simamora, 2. Sakramen dalam Gereja Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru Istilah AusakramenAy berasal dari kata Latin sakramentum, yang berasal dari kata Latin sacro dan are, yang berarti 'dijadikan sakral, didedikasikan kepada penggunaanpenggunaan suci. Pada zaman Romawi kuno, kata sakramen biasanya dipakai untuk menunjuk tiga hal, yaitu . sesuatu yang dengannya seseorang mengikatkan dirinya kepada orang lain untuk melakukan sesuatu kepadanya. Sejumlah uang yang dititipkan di pengadilan sebagai jaminan, yang tidak ditebus akan digunakan bagi keperluan suci. suatu sumpah, khususnya sumpah seorang prajurit yang mau setia mengabdikan diri melayani negaranya (Dominggus, 2. Secara dogmatis, para teolog sepakat bahwa sakramen merupakan tanda dan meterai anugerah Allah bagi orang percaya. Louis Berkhof mendefinisikan sakramen sebagai suatu Auperaturan kudus yang ditetapkan oleh Kristus, di mana tanda-tanda yang bisa dilihat dan dirasa dari anugerah Allah di dalam Kristus, dan keuntungan dari perjanjian anugerah dilambangkan, dimeteraikan, dan diterapkan untuk orang percaya, dan pada gilirannya menyatakan iman dan kesetiaan mereka kepada TuhanAy (Berkhof, 1997, p. Dalam Perjanjian Lama. Tuhan Allah sendiri sering hadir melalui banyak tanda alam, seperti semak duri yang bernyala (Kel . , awan (Kel 19:. Gunung Sinai yang ditutupi asap (Kel 19:. , guruh (Kel 19:. , angin sepoi-sepoi . Raj 19:12-. Pada zaman Hakim-hakim. Allah hadir di tengah umat-Nya melalui simbol Tabut Perjanjian. Kisah yang sangat menarik ialah ketika Tabut Tuhan atau Tabut Perjanjian itu dirampas oleh orang Filistin . Sam . dan dibawa ke Asdod . Sam 5:1-. Tabut Allah adalah simbol kemuliaan Allah . Sam 4:21-. , simbol kehadiran Yahwe. Allah Israel sendiri yang mahakuat sehingga mampu mengalahkan dewa-dewi orang Filistin di Asdod (Dago. dan menggemparkan orang-orang di Gad . Sam 5:9-. Ketika bait suci telah dibangun, maka bait Allah tersebut menjadi simbol dan lambang kehadiran Yahwe sendiri. Allah Israel. Sebab "Tuhan ada di dalam bait-Nya yang kudus" (Mzm 11:4. Hab 2:20. Yeh 43:. Dalam bangunan fisik yang kelihatan yaitu bait suci itu, umat Israel menghayati kehadiran Allah sendiri, yang menyertai dan ada bersama seluruh umat Israel dan dan sejarahnya (E. Martasudjita, 2. konsep mengenai struktur sakramental yang telah ada dalam Perjanjian Lama tetap dilanjutkan dalam iman Perjanjian Baru, yang melihat kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus sebagai pewahyuan definitif Allah. Dalam Kristus, seluruh sejarah penyelamatan JURNAL MAGISTRA - VOLUME 3 NOMOR 1 MARET 2025 e-ISSN : 3026-6572. dan p-ISSN : 3026-6580. Hal. yang berciri sakramental mencapai puncaknya, sehingga Ia diakui sebagai Sakramen Pokok, yakni pribadi yang secara nyata dan utuh menghadirkan Allah di tengah manusia, sebagaimana ditegaskan dalam ungkapan Kitab Ibrani bahwa Ia adalah 'cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah' (Ibr 1:. , dan dalam surat Kolose dan 2 Korintus sebagai 'gambar Allah yang tidak kelihatan' (Kol 1:. serta 'gambaran Allah' . Kor 4:. Ay Yesus Kristus disebut sebagai Sacramentum Fundamentale (Sakramen Poko. karena dalam diriNya, kehadiran Allah menjadi konkrit, historis, dan dapat dijumpai secara langsung oleh umat manusia. Kristus bukan sekadar perantara atau representasi ilahi, melainkan merupakan manifestasi sempurna dari Allah sendiri yang hadir di dunia. Kesaksian Kitab Suci, seperti pernyataan bahwa Ia adalah Aucahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud AllahAy (Ibr 1:. Augambar Allah yang tidak kelihatanAy (Kol 1:. , dan Augambaran AllahAy . Kor 4:. , menggarisbawahi bahwa Kristus adalah bukan hanya saluran pewahyuan, tetapi merupakan pewahyuan itu sendiri dalam wujud yang paling penuh dan Dengan demikian, iman Perjanjian Baru tidak memutus kesinambungannya dengan warisan iman Israel, melainkan merealisasikan dan menyempurnakannya dalam diri Kristus. Seluruh dinamika sejarah keselamatan yang dimulai dalam Perjanjian Lama menemukan makna terdalam dan kepenuhannya dalam misteri Kristus. Pemahaman ini menjadi fondasi teologis bagi sakramentologi Kristen, di mana Kristus dipahami sebagai pusat dan sumber dari seluruh realitas sakramental Gereja, yang menghadirkan karya penyelamatan Allah secara terus-menerus dalam kehidupan umat beriman (E. Martasudjita. KESIMPULAN Secara konseptual. Gereja dalam Perjanjian Lama berfokus pada identitas etnis sebagai umat pilihan Allah, sedangkan dalam Perjanjian Baru. Gereja dipahami secara universal sebagai tubuh Kristus yang mencakup seluruh orang percaya. Sehingga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan mendasar namun saling berkesinambungan antara Gereja dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, baik secara konseptual, struktural, maupun sakramental. Struktur dan kepemimpinan yang semula bersifat hierarkis dan bersandar pada sistem keimaman ditransformasi menjadi kepemimpinan berbasis karunia dan pelayanan dalam komunitas yang dipimpin oleh Kristus. Dalam aspek sakramen, praktik simbolik Perjanjian Lama seperti tabut perjanjian dan kurban diaktualisasikan dalam Perjanjian Baru melalui baptisan dan perjamuan kudus yang mengandung makna ANALISIS GEREJA DALAM PERJANJIAN LAMA DAN GEREJA DALAM PERJANJIAN BARU : KAJIAN EKLESIOLOGI rohaniah mendalam. Sehingga Perjanjian Baru tidak menghapus elemen-elemen Perjanjian Lama, melainkan menggenapinya melalui kehadiran dan karya Kristus. DAFTAR REFERENSI Baskoro. Analisis biografi Zerubabel sebagai imam, pemimpin publik dalam kitab Ezra dan implementasinya bagi pemimpin gereja. Manna Rafflesia, 9. , 282. Dominggus. Di atas dasar yang teguh. LPPM Sekolah Tinggi Teologi Aletheia. Gulo. Silaen. Zai. , & Mbelanggedo. Distingsi teologis antara hukum Musa dan Sepuluh Hukum Tuhan: Sebuah kajian reinterpretatif. Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia, 5. , 86Ae102. https://doi. org/10. 46445/jtki. Ismail. Pengantar metodologi penelitian pendidikan Agama Kristen. Perpustakaan STT Arastamar Wamena. Kowal. Gereja Perjanjian Baru dan pelayanannya. RHEMA: Jurnal Teologi Biblika & Praktika, 5. , 59. Madao. AuPromised LandAy tanah perjanjian dalam kitab PL dan PB serta penggenapannya dalam Yesus Kristus. MAGENANG: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, 5. , 35Ae36. Martasudjita. Sakramen-sakramen gereja. PT Kanisius. Ndruru. Bilo. , & Hia. Teologi praktis dalam gereja untuk mewujudkan moderasi agama berdasarkan Matius 5:13Ae16. Jurnal Christian Humaniora, 7. , 01Ae Nicolas. Analisis Taurat sebagai hukum Allah dan hubungannya dengan kehidupan umat Allah dalam Perjanjian Baru. Syntax Fusion: Jurnal Nasional Indonesia, 1. , 111Ae118. Padakari. , & Gulo. Teologi dan keadilan sosial: Peran gereja dalam merespons ketimpangan global. Jurnal Tumou Tou, 12. , 41Ae52. https://doi. org/10. 51667/tt. Purwoto. Makna proselitisasi di masa intertestamental bagi misi gereja masa kini. EPIGGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani, 4. , 252. Purwoto. Tinjauan teologis tentang gereja sejati dan aplikasinya bagi pelayanan gereja kontemporer. SHAMAYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani, 1. , 46. Ridwan. Gereja dan transformasi Kristen: Suatu tinjauan kritis terhadap misi gerakan transformasi. Missio Ecclesiae, 2. , 100Ae101. Roesmijati. Kajian ekklesiologi: Ibadah gereja rumah di masa pandemi Covid-19. KINGDOM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, 1. , 129Ae130. JURNAL MAGISTRA - VOLUME 3 NOMOR 1 MARET 2025 e-ISSN : 3026-6572. dan p-ISSN : 3026-6580. Hal. Sanderan. Dilema kepemimpinan Kristen. Tuhan atau atasan? Unsur-unsur fundamental bagi pemimpin Kristen demi mengejawantahkan imannya dalam profesi dan pengabdian. SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, 2. , 8. Sukarman. Gereja yang bertumbuh dan berkembang. ANDI. Tubagus. Kajian teologis tentang sejarah gereja dalam Alkitab. Matheteuo: Religious Studies, 2. , 79Ae80. Umboh. , & Kaawoan. Konsep ekklesiologi menurut perspektif Alkitab dan implementasinya bagi orang Kristen. EPIGNOSIS: Jurnal Pendidikan Kristiani dan Teologi, 1. , 55Ae56.