Excellent: Jurnal Manajemen. Bisnis dan Pendidikan Vol. No. Juli 2025: 161 - 172 Peran Kepemimpinan Efektif dan Pendidikan Latihan Terhadap Kemampuan Intelejen Prajurit Batalyon 21 Grup 2 Kopassus Septuci Pratama1*. Harries Madiistriyatno2. Nurwulan Kusumadewi3 Universitas Mitra Bangsa1,2,3 Corresponding Author: Septuci Pratama septuci100@gmail. ARTICLEINFO Keywords: Effective Leadership. Education and Training. Soldier Intelligence Ability Received : July 16, 2025 Revised : July 20, 2025 Accepted: July 25, 2025 A2025 The Author. : This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional. ABSTRACT The purpose of this study is as follows To determine the Influence of Effective Leadership and Training Education on the Intelligence Ability of Soldiers. The number of samples studied was 100 respondents of Soldiers of Battalion 21 Group 2 Kopassus. The software used to support this research is the SPSS (Statistical Product and Service Solution. Version 29 the conclusion of the test with this method is the coefficient value of the Effective Leadership variable, namely 0. 315 and the significance value is The coefficient value of the Education and Training variable is 0. 275 and the significance value is This means that the variables studied have a positive and significant impact on Soldier Intelligence Ability. DOI prefik: 10. 36587/exc. ( ISSN-E: 2747-2833 https://e-journal. stie-aub. id/index. php/excellent Septuci Pratama. Harries Madiistriyatno. Nurwulan Kusumadewi PENDAHULUAN Prajurit Kopassus dengan kemampuan integensia yang terpilih adalah salah satu bagian sumber daya manusia yang paling penting di militer. Mereka sangat penting bagi Prajurit Batalyon 21 Grup 2 Kopassus karena unsur sumber daya manusia tidak dapat digantikan oleh teknologi yang canggih. Salah satu sumber daya organisasi yang tidak dapat digantikan oleh teknologi adalah Tidak peduli seberapa besar organisasi dengan semua sarana dan prasarana dan failitas kerjanya, manusia yang mampu mengatur, mengandalikan, mengoperasikan, dan memelihara, merupakan aset bagi Dalam konteks pertahanan negara, kemampuan intelijen prajurit menjadi aspek fundamental dalam menjamin keberhasilan operasi militer, terutama yang bersifat khusus dan berisiko tinggi. Grup 2 Kopassus, sebagai bagian dari satuan elit TNI AD, memiliki mandat untuk menjalankan misi-misi strategis yang menuntut ketepatan, kecepatan, dan kerahasiaan tinggi. Batalyon 21, sebagai unsur pelaksana, memiliki tugas-tugas yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menuntut kecakapan intelektual dan analisis situasi yang tajam. Kemampuan intelijen prajurit dalam mengidentifikasi ancaman, mengolah informasi, serta melakukan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat menjadi penentu keberhasilan suatu operasi. Dalam realitasnya, keberhasilan misi sering kali tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik atau persenjataan, tetapi oleh seberapa dalam dan akurat informasi yang dimiliki oleh prajurit di medan Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan intelijen bukanlah sekadar atribut tambahan, tetapi merupakan inti dari profesionalisme prajurit Kopassus (Wahyudi. Prabowo. , & Setiawan, 2. Kemampuan intelijen bukan hanya terbentuk dari keahlian teknis semata, melainkan juga merupakan hasil dari proses internalisasi nilai-nilai kepemimpinan yang efektif serta sistem pendidikan dan latihan yang Kepemimpinan yang efektif memainkan peranan vital dalam membentuk prajurit yang memiliki semangat juang tinggi, disiplin, serta kesiapan mental dalam menghadapi situasi taktis maupun strategis. Pemimpin yang mampu memberikan arahan jelas, memberi teladan, serta membangun komunikasi yang baik dapat menciptakan iklim satuan yang positif dan produktif (Sutrisno, 2. Dalam proses pembentukan dan peningkatan kemampuan intelijen tersebut, dua faktor utama yang berperan penting adalah kepemimpinan yang efektif dan pendidikan latihan yang berkualitas. Di sisi lain, pendidikan dan latihan yang berorientasi pada realitas tugas dan kondisi operasi akan mempersiapkan prajurit secara lebih komprehensif. Latihan bukan hanya ditujukan untuk membentuk kemampuan fisik, tetapi juga untuk mengasah ketajaman berpikir, kepekaan situasional, dan kerjasama dalam tim yang sangat penting dalam pelaksanaan tugas intelijen (Rizki. , & Susanto. Dengan adanya kepemimpinan dan sistem latihan yang baik, prajurit tidak hanya siap secara teknis tetapi juga siap secara mental dan emosional dalam menjalankan misi yang menantang. Pendidikan dan latihan merupakan media utama untuk menanamkan nilai-nilai profesionalisme, kedisiplinan, serta keterampilan teknis dan taktis kepada setiap prajurit. Proses ini memungkinkan Excellent: Jurnal Manajemen. Bisnis dan Pendidikan Vol. No. Juli 2025: 161-172 prajurit untuk mengalami simulasi berbagai skenario lapangan, memahami cara bertindak dalam situasi kritis, serta mengasah kepekaan terhadap perubahan situasi di medan operasi. Latihan yang dirancang dengan pendekatan realistik akan meningkatkan kemampuan adaptasi prajurit terhadap dinamika medan yang terus berubah. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, penelitian ini merumuskan tiga masalah utama, yaitu . bagaimana pengaruh kepemimpinan efektif terhadap kemampuan intelijen prajurit Grup 2 Kopassus Batalyon 21, . bagaimana pengaruh pendidikan dan latihan terhadap kemampuan intelijen prajurit tersebut, serta . bagaimana pengaruh simultan antara kepemimpinan efektif dan pendidikan latihan terhadap kemampuan intelijen mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis ketiga aspek tersebut, yakni mengkaji pengaruh kepemimpinan efektif, pendidikan dan latihan, serta kombinasi keduanya secara bersama-sama terhadap peningkatan kemampuan intelijen prajurit Grup 2 Kopassus Batalyon 21, guna memberikan kontribusi dalam meningkatkan kinerja satuan tersebut. TINJAUAN PUSTAKA Teori Kepemimpinan Situasional Teori ini menjelaskan bahwa efektivitas kepemimpinan sangat bergantung pada kemampuan pemimpin untuk menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan tingkat kesiapan bawahan. Dalam konteks prajurit Kopassus, khususnya Batalyon 21, pemimpin harus mampu menilai sejauh mana prajurit siap dalam menerima tugas dan tanggung jawab. Seorang pemimpin di lingkungan militer harus tahu kapan menggunakan gaya direktif . , yaitu memberikan instruksi tegas dan rinci, serta kapan menggunakan gaya delegatif . , yakni memberikan kepercayaan penuh kepada prajurit untuk mengambil Penyesuaian gaya ini akan mendukung peningkatan kemampuan individu, termasuk dalam aspek intelejen. Penelitian oleh (Anderson. , & Clark, 2. menunjukkan bahwa kepemimpinan yang disesuaikan dengan kesiapan kognitif prajurit dapat secara signifikan meningkatkan performa intelejen melalui peningkatan motivasi dan kejelasan dalam komunikasi tugas. Teori Pelatihan Kognitif (Cognitive Training Theor. Teori pelatihan kognitif berfokus pada peningkatan kemampuan mental individu melalui program latihan yang terstruktur. Pelatihan ini dirancang untuk mengasah aspek-aspek kognitif seperti memori, pemecahan masalah, konsentrasi, dan analisis situasional. Dalam konteks militer, pendidikan dan latihan yang diterapkan di Batalyon 21 Grup 2 Kopassus bertujuan untuk memperkuat kemampuan intelejen prajurit, sehingga mereka dapat berpikir cepat, tepat, dan strategis dalam situasi operasi. Hal ini menjadikan pelatihan sebagai salah satu faktor penting dalam mendukung kinerja prajurit secara Penelitian (Zhang. , & Thompson, 2. menegaskan pentingnya menyesuaikan pelatihan dengan karakteristik peserta agar hasilnya maksimal dan berdampak langsung pada peningkatan kapabilitas intelektual dan Septuci Pratama. Harries Madiistriyatno. Nurwulan Kusumadewi Teori Kemampuan Intelejen (Intelligence Theor. Menurut teori ini, kemampuan intelejen merupakan kombinasi dari keterampilan kognitif yang meliputi kemampuan berpikir logis, pemecahan masalah, penalaran, dan analisis situasional. Dalam dunia militer, terutama di satuan elite seperti Kopassus, kemampuan intelejen sangat menentukan keberhasilan dalam menjalankan misi. Carroll menjelaskan bahwa kemampuan ini dapat ditingkatkan melalui proses pendidikan, pelatihan, dan pengaruh kepemimpinan yang adaptif dan strategis. Oleh karena itu, peningkatan kemampuan intelejen prajurit tidak dapat dipisahkan dari faktor-faktor tersebut. Penelitian terbaru oleh (Manutila. Santoso. , & Yusuf, 2. juga menemukan bahwa kombinasi pelatihan dan motivasi kepemimpinan memiliki kontribusi langsung terhadap peningkatan kinerja intelejen karyawan sektor Kepemimpinan yang efektif memainkan peran penting dalam membentuk perilaku, pola pikir, dan kinerja anggota dalam organisasi, termasuk dalam konteks militer. Dalam lingkungan militer yang menuntut ketepatan berpikir, kecepatan bertindak, dan kemampuan menganalisis situasi secara cepat, keberadaan pemimpin yang mampu mengarahkan, memotivasi, dan memberi teladan menjadi faktor krusial dalam meningkatkan kemampuan intelejen Menurut (Anderson. , & Clark, 2. , gaya kepemimpinan transformasional yang diterapkan oleh komandan atau perwira militer dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan kognitif dan intelejen prajurit. Peningkatan ini terjadi melalui pemberian motivasi intrinsik, arahan strategis yang jelas, dan pembentukan iklim komunikasi yang terbuka serta produktif dalam satuan tugas. Kepemimpinan yang efektif juga mendorong prajurit untuk berpikir kritis dan mengambil keputusan secara mandiri dalam berbagai situasi taktis di lapangan. Namun, tidak semua studi menunjukkan hubungan yang konsisten. (Smith. , & Johnson, 2. menemukan bahwa dalam beberapa kasus, kepemimpinan tidak memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kemampuan intelejen prajurit, khususnya bila prajurit sudah memiliki tingkat motivasi intrinsik yang tinggi dan kemampuan intelejen yang mapan. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh kepemimpinan dapat bervariasi tergantung pada konteks, karakteristik individu, dan gaya kepemimpinan yang diterapkan. Berdasarkan uraian teoritis dan hasil penelitian terdahulu tersebut, maka hipotesis yang dapat diajukan adalah sebagai berikut: H1: Kepemimpinan efektif berpengaruh positif terhadap kemampuan intelejen prajurit Batalyon 21 Grup 2 Kopassus. Pendidikan dan latihan merupakan elemen krusial dalam pembentukan kapasitas intelektual dan kesiapan operasional prajurit militer. Dalam konteks prajurit Batalyon 21 Grup 2 Kopassus yang menghadapi tugas-tugas bersifat khusus dan strategis, program pendidikan dan latihan bukan hanya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan fisik dan teknis, tetapi juga untuk mengasah aspek kognitif dan intelejen. Penelitian yang dilakukan oleh (Lee. , & Park, 2. menunjukkan bahwa pelatihan kognitif yang dirancang secara sistematis mampu meningkatkan kemampuan intelejen prajurit, termasuk memori kerja. Excellent: Jurnal Manajemen. Bisnis dan Pendidikan Vol. No. Juli 2025: 161-172 pemecahan masalah, serta analisis situasional. Hal ini didukung oleh temuan Manutila et al. yang menyatakan bahwa pendidikan dan pelatihan memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan, yang secara tidak langsung mencerminkan peningkatan aspek kognitif dan kompetensi dalam menghadapi tantangan kerja. Sementara itu. Zhang dan Thompson . memberikan catatan penting bahwa efektivitas pelatihan sangat bergantung pada sejauh mana program tersebut disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan spesifik peserta. Mereka menekankan bahwa pelatihan yang bersifat umum atau tidak kontekstual sering kali tidak menunjukkan peningkatan signifikan terhadap kemampuan intelejen. Dari berbagai temuan ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan dan latihan yang dirancang dengan pendekatan adaptif dan berbasis kebutuhan prajurit memiliki potensi besar dalam meningkatkan kapasitas Oleh karena itu, hipotesis yang dapat diajukan adalah sebagai berikut: H2: Pendidikan dan latihan berpengaruh positif terhadap kemampuan intelejen prajurit Batalyon 21 Grup 2 Kopassus. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan efektif berperan besar dalam membentuk perilaku, sikap, dan pola pikir prajurit. Anderson dan Clark . menyatakan bahwa gaya kepemimpinan transformasional dapat meningkatkan kemampuan intelejen prajurit melalui komunikasi yang baik, inspirasi, dan peningkatan motivasi. Sementara itu, (Bass. , & Avolio, 1. menekankan bahwa pemimpin yang mampu memberikan stimulasi intelektual akan membantu prajurit mengembangkan daya analisis dan pemecahan masalah yang tajam. Di sisi lain, pendidikan dan latihan juga merupakan sarana utama untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan intelejen. Lee dan Park . membuktikan bahwa pelatihan kognitif berbasis militer dapat meningkatkan kemampuan seperti memori kerja, logika taktis, dan kecepatan pengambilan Manutila et al. juga menemukan bahwa pendidikan dan pelatihan memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja, yang erat kaitannya dengan kemampuan berpikir dan intelejen. Lebih lanjut, penelitian Zhang dan Thompson . menunjukkan bahwa dampak dari pelatihan dan kepemimpinan akan lebih optimal bila keduanya diterapkan secara terpadu dan disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan Dengan kata lain, pendekatan simultan yang menggabungkan kepemimpinan efektif serta pendidikan dan pelatihan yang tepat berpotensi besar untuk meningkatkan kemampuan intelejen prajurit secara lebih Berdasarkan kajian tersebut, maka hipotesis yang dapat diajukan H3: Kepemimpinan efektif, pendidikan, dan latihan secara simultan berpengaruh positif terhadap kemampuan intelejen prajurit Batalyon 21 Grup 2 Kopassus. Kerangka pemikiran dalam penelitian ini menggambarkan hubungan kausal antara kepemimpinan efektif dan pendidikan pelatihan sebagai variabel independen terhadap kemampuan intelejen sebagai variabel dependen. Kepemimpinan efektif diharapkan mampu menciptakan lingkungan kerja yang Septuci Pratama. Harries Madiistriyatno. Nurwulan Kusumadewi mendukung pengembangan potensi prajurit, sedangkan pendidikan dan pelatihan berperan sebagai sarana peningkatan kompetensi teknis dan taktis dalam menjalankan tugas-tugas intelejen. Model hubungan antarvariabel ini dapat dilihat pada Gambar 1 menjadi landasan untuk menguji hipotesis penelitian serta menyusun strategi pengembangan sumber daya manusia yang tepat guna dalam konteks organisasi militer, khususnya pada Grup 2 Kopassus Batalyon 21. Gambar 1. Kerangka Konseptual METODE PENELITIAN Penelitian ini mengambil lokasi pada Batalyon 21 Grup 2 Kopassus. Obyek penelitian ini adalah para prajurit yang berada pada Batalyon 21 Grup 2 Kopassus. Batalyon 21 merupakan salah satu satuan operasional di bawah Grup 2 Komando Pasukan Khusus (Kopassu. TNI Angkatan Darat yang memiliki tugas utama dalam pelaksanaan operasi khusus, termasuk kegiatan intelejen dan pengamanan strategis. Satuan ini dikenal memiliki prajurit-prajurit dengan tingkat kesiapan dan keterampilan tinggi, yang diperoleh melalui proses seleksi dan pelatihan yang ketat dan berkelanjutan. Dalam konteks penelitian ini. Batalyon 21 Grup 2 Kopassus dipilih sebagai lokasi sekaligus populasi penelitian karena karakteristik satuan yang sangat relevan dengan variabel yang dikaji, yaitu kemampuan intelejen prajurit. Populasi dalam penelitian ini adalah 166 Prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassu. TNI Angkatan Darat, sedangkan jumlah sampel yang diteliti sebanyak 100 responden Prajurit Batalyon 21 Grup 2 Komando Pasukan Khusus (Kopassu. TNI Angkatan Darat. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kuantitatif dengan menggunakan statistik. Selanjutnya untuk memperoleh dan mempercepat input data, software statistik digunakan untuk mendukung penelitian ini. Software yang digunakan untuk mendukung penelitian ini adalah program SPSS (Statistical Product and Service Solution. Versi 29. Dalam SPSS data mentah yang telah diolah menjadi angka di inputkan ke dalam SPSS, sehingga memudahkan penulis dalam melakukan penelitian ini. Excellent: Jurnal Manajemen. Bisnis dan Pendidikan Vol. No. Juli 2025: 161-172 HASIL PENELITIAN Hasil uji validitas Uji validitas dilakukan berdasarkan hasil perbandingan nilai pearson correlation dengan r tabel produk moment. Dikatakan valid jika nilai pearson correlation lebih besardari r tabel. Nilai pearson correlation yang dikehendaki harus > r tabel. Berikut ini merupakan tabel hasil uji validitas dengan menggunakan software SPSS : Validitas Kepemimpinan Efektif ( X1 ) Variabel kepemimpinan efektif terdiri dari 5 item pertanyaan. Pengujian validitas diperoleh dengan membandingkan r hitung dengan r tabel dan didapatkan hasil pada Tabel 1 berikut : Tabel 1. Hasil Uji Validitas Kepemimpinan Efektif Item Pertanyaan R Hitung R Tabel Keterangan X1_1 X1_2 X1_3 X1_4 X1_5 Sumber : Data Primer yang diolah tahun 2025 0,680 0,703 0,663 0,717 0,387 0,195 0,195 0,195 0,195 0,195 Valid Valid Valid Valid Valid . Validitas Pendidikan dan Pelatihan ( X2 ) Variabel pendidikan dan pelatihan terdiri dari 9 item pertanyaan. Pengujian validitas diperoleh dengan membandingkan r hitung dengan r tabel dan didapatkan hasil pada Tabel 2 berikut : Tabel 2. Hasil Uji Validitas Pendidikan dan Pelatihan Item Pertanyaan R Hitung R Tabel Keterangan X2_1 X2_2 X2_3 X2_4 X2_5 X2_6 X2_7 X2_8 X2_9 Sumber : Data Primer yang diolah tahun 2025 0,285 0,499 0,327 0,383 0,497 0,519 0,407 0,348 0,281 0,195 0,195 0,195 0,195 0,195 0,195 0,195 0,195 0,195 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid . Validitas Kemampuan Intelejen ( Y ) Variabel kemampuan intelejen terdiri dari 5 item pertanyaan. Pengujian validitas diperoleh dengan membandingkan r hitung dengan r tabel dan didapatkan hasil pada Tabel 3 berikut : Tabel 3. Hasil Uji Validitas Kemampuan Intelejen Item Pertanyaan R Hitung R Tabel Keterangan Y1_1 Y1_2 Y1_3 Y1_4 Y1_5 Sumber : Data Primer yang diolah tahun 2025 0,283 0,468 0,492 0,585 0,504 0,195 0,195 0,195 0,195 0,195 Valid Valid Valid Valid Valid Septuci Pratama. Harries Madiistriyatno. Nurwulan Kusumadewi Hasil Uji Reliabilitas Pengujian Cronbach Alpha digunakan untuk menguji sejauh mana reliability suatu alat pengukur untuk dapat digunakan lagi untuk penelitian yang sama. Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode Cronbach Alpha. Variabel reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,60. Hasil pengujian reliabilitas untuk masing-masing variabel yaitu pada Tabel 4 berikut : Tabel 4. Hasil Uji Reliabilitas Variabel Kepemimpinan Efektif (X. Pendidikan & Pelatihan (X. Kemampuan Intelejen (Y) Sumber : Data Primer yang diolah tahun 2025 Cronbach Alpha Keterangan 0,828 > 0,60 0,714 > 0,60 0,704 > 0,60 Reliabel Reliabel Reliabel Hasil Uji Analisis Regresi Linier Berganda Analisis regresi linear berganda berfungsi untuk menganilis hubungan antara variabel Kepemimpinan Efektif, dan variabel Pendidikan dan Pelatihan Terhadap variabel Kemampuan Intelejen. Adapun berdasarkan perhitungan didapatkan hasil sebagai berikut : Tabel 5. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Variabel Bebas Koefisien Regresi t hitung Sig. (Constan. Kepemimpinan Efektif Pendidikan & Pelatihan Sumber : Data Primer yang diolah tahun 2025 4,857 0,315 0,275 1,888 3,434 4,460 0,065 0,001 0,000 Berdasarkan Tabel 5 maka persamaan regresi linear berganda dapat dirumuskan sebagai berikut : Y = 4,857 0,315 X1 0,275 X2 ea . Dari persamaan tersebut dapat di implementasikan bahwa : Nilai konstanta a = 4,857 artinya menunjukkan besarnya nilai dari Kemampuan Intelejen (Y), apabila variabel Kepemimpinan Efektif (X. Pendidikan & Pelatihan (X. , dianggap konstan atau tetap. Koefesien regresi Kepemimpinan Efektif b1 = 0,315 menunjukkan bahwa variabel Kepemimpinan Efektif (X. berpengaruh positif terhadap variabel Kemampuan Intelejen (Y). Artinya apabila kepemimpinan efektif ditingkatkan maka kemampuan intelejen prajurit akan meningkat, dengan asumsi bahwa variabel lain dianggap tetap. Koefesien regresi Pendidikan dan Pelatihan b2 = 0,275 menunjukkan bahwa variabel Pendidikan dan Pelatihan (X. berpengaruh positif terhadap variabel Kemampuan Intelejen (Y). Artinya apabila pendidikan dan pelatihan ditingkatkan maka kemampuan intelejen prajurit akan meningkat, dengan asumsi bahwa variabel lain dianggap tetap Excellent: Jurnal Manajemen. Bisnis dan Pendidikan Vol. No. Juli 2025: 161-172 Berdasarkan model ekonomitri regresi diatas, maka dapat dikatakan bahwa variabel yang paling dominan adalah variabel X1 yaitu kepemimpinan efektif karena nilai koefisien regresinya sebesar 0,315. Hasil Uji Hipotesis Hasil Uji t. Analisis yang digunakan untuk mengetahui signifikasi pengaruh variabel secara parsial antara variabel independen dan dependen. Apabila nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 . ig < 0,. , maka dapat disimpulkan bahwa variabel bebas secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat. Hasil uji t adalah sebagai berikut : Tabel 6. Hasil Uji t Hubungan Variabel Kepemimpinan EfektifIe Kemampuan Intelejen Pendidikan dan Pelatihan Ie Kemampuan Intelejen Sumber : Data Primer yang diolah tahun 2025 T hitung 3,434 Sig. 0,001 Keterangan H1 Terbukti 4,480 0,000 H2 Terbukti Uji t Kepemimpinan Efektif (X. terhadap Kemampuan Intelejen (Y) Hasil statistik uji t untuk variabel kepemimpinan efektif diperoleh nilai t hitung sebesar 3,434 dengan nilai signifikansi sebesar 0,001 lebih kecil dari 0,05 . ,000 < 0,. , dan koefisien regresi mempunyai nilai positif sebesar 0,315 maka hipotesis pertama yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh signifikan kepemimpinan efektif terhadap kemampuan intelejen AuditerimaAy. Uji t Pendidikan dan Pelatihan (X. terhadap Kemampuan Intelejen (Y) Hasil statistik uji t untuk variabel pendidikan dan pelatihan diperoleh nilai t hitung sebesar 3,480 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 . ,041 < 0,. , dan koefisien regresi mempunyai nilai positif sebesar 0,275 maka hipotesis kedua yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh signifikan pendidikan dan pelatihan terhadap kemampuan intelejen AuditerimaAy. Hasil Uji F Hasil uji F diketahui besarnya nilai F = 25,531 signifikansi 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bersama-sama bahwa variabel kepemimpinan efektif, dan pendidikan & pelatihan berpengaruh signifikan terhadap kemampuan intelejen, maka hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh signifikan kepemimpinan efektif, pendidikan dan pelatihan secara simultan terhadap kemampuan intelejen AuditerimaAy. Hasil Uji Koefisien Determinasi (R. Yaitu analisis yang digunakan untuk mengetahui berapa besar kontribusi variabel independen terhadap variabel dependen yang ditunjukkan dengan Dari hasil perhitungan program SPSS diperoleh nilai Adjusted R Square = 0,500 berarti variabel kepemimpinan efektif serta variabel pendidikan dan pelatihan memberikan kontribusi sebesar 50% terhadap kemampuan intelejen prajurit, sedangkan 50% . % - 50%) dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini misalnya variabel disiplin dan Septuci Pratama. Harries Madiistriyatno. Nurwulan Kusumadewi Maka, dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel independen dalam mempengaruhi variabel dependen dalam penelitian ini dapat dikatakan cukup. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis penelitian menggunakan metode statistik, sehingga dapat diketahui makna pengaruh antara variabel bebas yaitu Kepemimpinan Efektif. Pendidikan dan Pelatihan terhadap variabel terikat yaitu Kemampuan Intelejen Prajurit pada Batalyon 21 Grup 2 Kopassus di Lingkungan Satuan Elite. Penelitian ini melibatkan 100 orang responden yakni Prajurit pada Batalyon 21 Grup 2 Kopassus di Lingkungan Satuan Elite. Kemudian untuk menguji hipotesis digunakan uji t dan F. Hasil dari uji t yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kepemimpinan efektif berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan intelejen Artinya apabila kepemimpinan efektif ditingkatkan, maka kemampuan intelejen prajurit akan meningkat secara signifikan, hal ini berarti bahwa ketika gaya memimpin . dalam suatu kesatuan militer menjadi lebih baik, terarah, dan mendukung, hal itu akan berdampak langsung pada peningkatan kecerdasan, keterampilan analisis, dan kinerja prajurit dalam operasi intelejen. Temuan penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Anderson. , & Clark. dimana hasil penelitiannya menyatakan bahwa Kepemimpinan yang efektif, seperti gaya kepemimpinan transformasional, secara signifikan meningkatkan kemampuan intelejen prajurit melalui motivasi, komunikasi, dan pengambilan keputusan yang lebih baik. Kepemimpinan efektif adalah katalisator yang mengoptimalkan potensi prajurit, termasuk dalam bidang intelejen, melalui pendekatan holistik . eknis dan psikologi. Hasil dari uji t yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pendidikan dan pelatihan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan intelejen Artinya apabila pendidikan dan pelatihan ditingkatkan, maka kemampuan intelejen prajurit akan meningkat secara signifikan, hal ini berarti dengan memperbaiki atau menambah program pendidikan serta pelatihan . yang diberikan kepada prajurit, keterampilan dan kecerdasan mereka dalam bidang intelijen akan mengalami kemajuan yang besar. Temuan penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Lee. , & Park, . dimana hasil penelitiannya menyatakan bahwa Program pelatihan kognitif dan pendidikan militer secara signifikan meningkatkan kemampuan intelejen prajurit, termasuk memori, pemecahan masalah, dan analisis Peningkatan pendidikan dan pelatihan secara langsung membentuk prajurit intelijen yang lebih kompeten, siap menghadapi dinamika ancaman, dan berkontribusi besar bagi kesuksesan misi. KESIMPULAN Berdasarkan pada hasil analisa dan pembahasan mengenai AuPengaruh Disiplin Prajurit. Gaya Kepemimpinan, dan Semangat Korps terhadap Kinerja Prajurit Batalyon 22 Grup 2 Kopassus di Lingkungan Satuan EliteAy, penulis akan menarik kesimpulan dari hasil penelitian atau penulisan tesis ini. Adapun kesimpulan dari hasil penelitian ini sebagai berikut: . Terdapat pengaruh Kepemimpinan Efektif terhadap Kemampuan Intelejen Prajurit, terbukti dari Excellent: Jurnal Manajemen. Bisnis dan Pendidikan Vol. No. Juli 2025: 161-172 nilai signifikansi untuk variabel Kepemimpinan Efektif (X. sebesar 0,001, lebih kecil dari 0,05 . ,001 < 0,. maka H0 ditolak dan Ha diterima, dapat dinyatakan bahwa Kepemimpinan Efektif (X. berpengaruh signifikan terhadap Kemampuan Intelejen Prajurit (Y). Terdapat pengaruh Pendidikan dan Pelatihan terhadap Kemampuan Intelejen Prajurit, terbukti dari nilai signifikansi untuk variabel Pendidikan dan Pelatihan (X. sebesar 0,000, lebih kecil dari 0,05 . ,000 < 0,. maka H0 ditolak dan Ha diterima, dapat dinyatakan bahwa Pendidikan dan Pelatihan(X. berpengaruh signifikan terhadap Kemampuan Intelejen Prajurit (Y). Terdapat pengaruh Kepemimpinan Efektif. Pendidikan dan Pelatihan secara bersama-sama terhadap Kemampuan Intelejen Prajurit. Terbukti dari tingkat signifikan sebesar 0,000 karena 0,000 < 0,05, maka dapat dikatakan bahwa Kepemimpinan Efektif (X. Pendidikan dan Pelatihan (X. dsecara bersama-sama atau simultan berpengaruh positif terhadap Kemampuan Intelejen Prajurit (Y). Variabel Kepemimpinan Efektif. Pendidikan dan Pelatihan memberikan kontribusi sebesar 50% terhadap Kemampuan Intelejen Prajurit, sedangkan sisanya sebesar 50% dipengaruhi faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. PENELITIAN LANJUTAN Penulis menyadari masih ada keterbatasan dalam penelitian ini. Oleh karena itu, untuk penelitian berikutnya dapat menggunakan variabel lain seperti budaya organisasi dan motivasi prajurit untuk menambah khasanah ilmu yang lebih luas. DAFTAR PUSTAKA