FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM DALAM MENDORONG KEMANDIRIAN ANAK MELALUI PENDEKATAN INQUIRYBASED LEARNING DI KB ASSAAoDIYAH TUBAN Ulya Ainur RofiAoah1. Moh Mundzir2. Tining3 Institusi Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban e-mail:1ulyaainurrofiah@iainutuban. id, 2mohamahmundzir71@gmail. arinahidayati77@gmail. 1,2,3 Abstrak. Penelitian ini mengeksplorasi penerapan Inquiry-Based Learning (IBL) dalam membangun kemandirian anak usia dini di KB AssaAodiyah Tuban berdasarkan filsafat pendidikan Islam. Pendekatan ini selaras dengan pemikiran Al-Ghazali dan Ibnu Khaldun yang menekankan pentingnya pengalaman langsung dan kemandirian dalam pembelajaran. Dengan metode kualitatif studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara dengan lima pendidik, observasi terhadap 20 anak, serta analisis dokumen kurikulum dan strategi pembelajaran. Analisis data menggunakan teknik tematik Braun dan Clarke, dengan validitas diperkuat melalui triangulasi sumber dan member Hasil penelitian menunjukkan bahwa IBL efektif dalam meningkatkan kemandirian anak dalam berpikir kritis, mengambil keputusan, serta memahami nilai-nilai Islam secara lebih mendalam. Namun, tantangan dalam penerapannya meliputi kesiapan pendidik, kesesuaian kurikulum, dan keterlibatan orang tua. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan pendidik, fleksibilitas kurikulum, serta sinergi antara sekolah dan keluarga. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan strategi pembelajaran inovatif dalam pendidikan Islam untuk anak usia dini, yang tidak hanya berfokus pada aspek kognitif tetapi juga pembentukan karakter Islami sejak dini. Kata Kunci: Filsafat Pendidikan Islam. Inquiry-Based Learning. Kemandirian Anak Abstract. This study explores the implementation of Inquiry-Based Learning (IBL) in fostering children's independence at KB AssaAodiyah Tuban through the lens of Islamic educational This approach aligns with the thoughts of Al-Ghazali and Ibn Khaldun, who emphasize the importance of direct experience and autonomy in learning. Using a qualitative case study method, data were collected through interviews with five educators, observations of 20 children, and an analysis of curriculum documents and learning strategies. Data analysis followed Braun and ClarkeAos thematic analysis, with validity ensured through source triangulation and member The findings indicate that IBL effectively enhances children's independence in critical thinking, decision-making, and a deeper understanding of Islamic values. However, challenges in its implementation include teacher readiness, curriculum alignment, and parental involvement. Therefore, teacher training, curriculum flexibility, and collaboration between schools and families are essential. This study contributes to the development of innovative learning strategies in Islamic education for early childhood, emphasizing not only cognitive development but also the formation of Islamic character from an early age Keywords: Islamic Educational Philosophy. Inquiry-Based Learning. Child Independence Ulya Ainur RofiAoah. Moh Mundzir, dan Tining PENDAHULUAN Pendidikan Islam memiliki peran fundamental dalam membentuk karakter dan kemandirian anak sejak usia dini. Filsafat pendidikan Islam tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan aspek intelektual anak, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral, spiritual, dan sosial yang membentuk manusia yang beradab dan (Saputra. Usiono, and Siregar 2. menekankan bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah memperoleh ilmu yang benar . rue knowledg. dan membentuk individu yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, serta mampu berkontribusi kepada masyarakat. Hal ini sejalan dengan pemikiran (Kurniawati. Silvya, and Sari 2. yang menegaskan bahwa pendidikan Islam harus membangun kesadaran kritis dan kemandirian agar anak mampu menghadapi tantangan kehidupan dengan kecerdasan. Dalam Al-Qur'an. Allah Subhanahu wa TaAoala SWT berfirman: n aAeaOOacN Eac aOI II Oe ua CA AOEA ca AOE E aE I A ac aOe a E I eE AA aOe OA aA A aA AacEEa E aEI Ou CA a ca a a ca ca AIOe AIOe O A aA AacEEa aa IEaO IA ca AOI aOaOe EaE I eno OA aa aa AOI IIaOe II aEI OEA AacEEa EA nAaOA "Allah Subhanahu wa TaAoala akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat" (QS. AlMujadilah: . Ayat di atas menegaskan bahwa ilmu merupakan faktor utama dalam peningkatan kualitas hidup dan pengembangan kemandirian individu. Pendidikan Islam, sebagai bagian dari pembentukan manusia seutuhnya, harus memastikan bahwa anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berpikir mandiri dan bertindak berdasarkan prinsip moral dan etika Islam. Filsafat pendidikan Islam menekankan bahwa proses pendidikan harus mencakup aspek intelektual, spiritual, dan moral secara seimbang. Konsep ini sejalan dengan prinsip Inquiry-Based Learning (IBL), yang menekankan pada eksplorasi, penemuan, dan refleksi sebagai bagian dari proses pembelajaran. Dalam pendidikan anak usia dini berbasis Islam, penerapan IBL dapat membantu menginternalisasikan nilai-nilai Islam secara lebih mendalam dengan cara yang Ulya Ainur RofiAoah. Moh Mundzir, dan Tining lebih alami dan kontekstual. Dalam konteks pendidikan modern. Inquiry-Based Learning (IBL) menjadi pendekatan yang relevan dalam menanamkan kemandirian Jean Piaget menyatakan bahwa anak-anak belajar paling efektif ketika mereka aktif dalam proses eksplorasi dan penemuan, karena hal ini membantu mereka membangun pemahaman yang lebih dalam tentang dunia sekitar (Nainggolan and Daeli 2. John Dewey juga menekankan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri keterampilan pemecahan masalah secara mandiri, yang merupakan elemen kunci dalam membangun kemandirian (Khasanah et al. Pendekatan ini semakin diperkuat dengan teori Vygotsky tentang Zona Perkembangan Proksimal (Zone of Proximal Developmen. , yang menunjukkan bahwa anak-anak dapat mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi dengan dukungan lingkungan belajar yang kondusif, termasuk bimbingan dari pendidik dan interaksi dengan teman sebaya (Payong 2. Dalam perspektif pendidikan Islam, konsep ini sejalan dengan prinsip ta'dib yang dikemukakan oleh Al-Attas and AlOkail dalam (Sassi 2. , yang menekankan bahwa pendidikan harus tidak hanya mentransmisikan ilmu tetapi juga membentuk akhlak dan kemandirian. Selain itu, gagasan Inquiry-Based Learning memiliki keterkaitan dengan metode pendidikan yang diterapkan oleh para ulama terdahulu. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya mengemukakan bahwa pendidikan yang efektif harus berbasis pada pengalaman nyata dan pemikiran kritis, bukan sekadar hafalan (Afrie 2. Al-Ghazali juga menegaskan pentingnya refleksi dalam pembelajaran agar individu tidak hanya memperoleh pengetahuan tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Zamhariroh et al. Dalam konteks filsafat pendidikan Islam, metode pembelajaran yang berbasis refleksi dan inkuiri ini sangat penting karena dapat membantu anak memahami konsep-konsep Islam dengan cara yang lebih bermakna dan aplikatif. Menurut (Farhan Retnawati Inquiry-Based Learning memungkinkan peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam konstruksi pengetahuan, meningkatkan daya berpikir kritis, serta membangun pemahaman konseptual yang lebih dalam. (Dirgantoro 2. juga menambahkan bahwa Ulya Ainur RofiAoah. Moh Mundzir, dan Tining metakognitif, yang sangat penting dalam proses pembelajaran mandiri. Pendapat ini diperkuat oleh (Hasanah 2. , yang menekankan bahwa pendekatan berbasis inkuiri dapat meningkatkan motivasi belajar dan membantu anak-anak memahami konsep dengan lebih mendalam dibandingkan dengan metode tradisional. Dalam pendidikan anak usia dini berbasis Islam. Inquiry-Based Learning dapat menjadi alat yang efektif untuk menanamkan konsep-konsep Islam dengan lebih interaktif dan kontekstual. Misalnya, anak-anak dapat diajak untuk mengamati fenomena alam dan menghubungkannya dengan ayat-ayat Al-Qur'an, atau melakukan eksplorasi tentang nilai-nilai akhlak dengan studi kasus yang relevan dengan kehidupan mereka. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya menjadi proses transfer pengetahuan, tetapi juga pengalaman yang membentuk karakter dan pemahaman anak tentang Islam secara lebih mendalam. Menurut (Wells et al. Inquiry-Based Learning memungkinkan peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam konstruksi pengetahuan, meningkatkan daya berpikir kritis, serta membangun pemahaman konseptual yang lebih dalam. (Sucipto 2. juga menambahkan bahwa pendekatan ini mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan metakognitif, yang sangat penting dalam proses pembelajaran mandiri. Pendapat ini diperkuat oleh (Yulinda 2. , yang menekankan bahwa pendekatan berbasis inkuiri dapat meningkatkan motivasi belajar dan membantu anak-anak memahami konsep dengan lebih mendalam dibandingkan dengan metode tradisional. Meskipun beberapa penelitian telah membahas IBL dalam pendidikan Islam . , belum banyak yang mengkaji secara khusus penerapannya dalam pendidikan anak usia dini dengan pendekatan filsafat pendidikan Islam. Hal ini menunjukkan adanya celah penelitian yang perlu diisi untuk memahami bagaimana prinsip-prinsip filsafat pendidikan Islam dapat mengarahkan dan memperkaya implementasi Inquiry-Based Learning di lingkungan PAUD berbasis Islam. Lebih lanjut, penelitian yang ada masih berfokus pada penerapan IBL dalam konteks pendidikan umum atau pendidikan Islam secara luas, tanpa menyoroti aspek-aspek khusus yang berkaitan dengan pendidikan anak usia dini. Pendekatan filsafat pendidikan Islam yang menekankan keseimbangan antara akal, spiritualitas, dan nilai-nilai moral belum banyak dikaji dalam hubungannya dengan metode Ulya Ainur RofiAoah. Moh Mundzir, dan Tining pembelajaran berbasis inkuiri pada anak usia dini. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya untuk mengisi gap tersebut dengan mengeksplorasi bagaimana prinsipprinsip Islam IBL mengembangkan kemandirian dan karakter anak sejak usia dini. KB AssaAodiyah Tuban sebagai lembaga pendidikan anak usia dini berbasis Islam berupaya menerapkan Inquiry-Based Learning dalam pembelajaran seharihari. Melalui metode ini, anak-anak didorong untuk bertanya, berdiskusi, dan mencari jawaban atas permasalahan yang mereka hadapi. Pendekatan ini memberikan ruang bagi mereka untuk berpikir kritis, mengembangkan kreativitas, dan belajar mengambil keputusan secara mandiri. Namun, sebagaimana yang dikemukakan oleh Bruner dalam (Agrusti 2. , efektivitas Inquiry-Based Learning sangat bergantung pada kesiapan lingkungan belajar yang mendukung, baik dari segi metode pengajaran, kesiapan guru, hingga keterlibatan orang tua dalam membentuk kebiasaan eksploratif pada anak. Meskipun pendekatan ini menawarkan banyak manfaat, penerapannya di lembaga pendidikan Islam masih menghadapi berbagai tantangan. Di KB AssaAodiyah Tuban, kendala yang muncul meliputi kesiapan tenaga pendidik dalam mengimplementasikan metode berbasis inkuiri, kesesuaian kurikulum dengan pendekatan ini, serta keterlibatan orang tua dalam mendukung kemandirian anak di lingkungan rumah. Menurut penelitian (Aparicio-Ting. Slater, and Kurz 2. Inquiry-Based Learning memerlukan strategi pedagogis yang sistematis agar dapat diimplementasikan secara efektif di dalam kelas. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana filsafat pendidikan Islam dapat mendorong kemandirian anak melalui penerapan pendekatan Inquiry-Based Learning di KB AssaAodiyah Tuban. Selain itu, penelitian ini juga akan mengkaji tantangan serta solusi dalam implementasi metode ini agar dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan pendidikan Islam bagi anak usia dini. Dengan landasan teoritis yang kuat dan analisis kontekstual yang mendalam, diharapkan penelitian ini dapat memberikan wawasan baru dalam pengembangan strategi pendidikan Islam yang lebih inovatif dan efektif. Ulya Ainur RofiAoah. Moh Mundzir, dan Tining METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk mengeksplorasi penerapan Inquiry-Based Learning dalam membangun kemandirian anak di KB AssaAodiyah Tuban berdasarkan filsafat pendidikan Islam. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti untuk memahami secara mendalam fenomena yang terjadi dalam konteks alami tanpa intervensi yang bersifat eksperimental (Iskandar et al. 2023, . Studi kasus dipilih karena memberikan gambaran rinci mengenai penerapan metode inkuiri dalam lingkungan pendidikan Islam yang spesifik (Mulyana et al. 2024, . Data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam dengan lima pendidik, observasi terhadap 20 anak usia dini dalam kegiatan pembelajaran, serta analisis dokumen terkait kurikulum dan strategi pembelajaran yang diterapkan di KB AssaAodiyah Tuban. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur guna mendapatkan informasi yang lebih fleksibel mengenai pengalaman dan persepsi pendidik dalam menerapkan metode inkuiri dalam pembelajaran. Observasi partisipatif dilakukan untuk melihat bagaimana anak berinteraksi dengan lingkungan belajar serta bagaimana pendidik memfasilitasi proses inkuiri dalam Selain itu, analisis dokumen meliputi telaah terhadap silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, serta kebijakan yang diterapkan dalam pembelajaran berbasis inkuiri. Untuk memastikan validitas data, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dengan membandingkan data dari wawancara pendidik, observasi langsung, dan analisis dokumen (Alfansyur and Mariyani 2. Selain itu, triangulasi metode dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik pengumpulan data untuk meningkatkan kredibilitas temuan. Member checking juga diterapkan dengan meminta konfirmasi dari partisipan penelitian mengenai hasil wawancara dan observasi untuk memastikan akurasi interpretasi data. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik analisis tematik menurut Braun and Clarke dalam (Daulay and Nuraini 2. , yang melibatkan proses pengkodean, identifikasi tema utama, serta interpretasi makna data dalam konteks filsafat pendidikan Islam. Dengan pendekatan ini, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan mendalam mengenai efektivitas Inquiry-Based Ulya Ainur RofiAoah. Moh Mundzir, dan Tining Learning dalam membangun kemandirian anak di lembaga pendidikan Islam serta mengidentifikasi tantangan dan strategi dalam implementasinya. Penelitian ini mengedepankan kejelasan metodologi, validitas data yang kuat, serta dukungan referensi terbaru terkait studi kualitatif dan studi kasus dalam konteks pendidikan Islam. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan pendekatan pembelajaran berbasis inkuiri dalam pendidikan anak usia dini berbasis Islam. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan Inquiry-Based Learning (IBL) dalam membangun kemandirian anak di KB AssaAodiyah Tuban, dikaji dalam perspektif Filsafat Pendidikan Islam. Implementasi Inquiry-Based Learning dalam Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Inquiry-Based Learning diterapkan di KB AssaAodiyah Tuban melalui metode yang mengintegrasikan eksplorasi, investigasi, diskusi, dan Hal ini selaras dengan prinsip pendidikan Islam yang menekankan pencarian ilmu sebagai bagian dari ibadah, sebagaimana tertuang dalam QS. Al-Mujadilah: 11 yang menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa TaAoala akan meninggikan derajat orang-orang berilmu. Tabel 1: Implementasi Inquiry-Based Learning di KB AssaAodiyah Tuban Tahapan InquiryBased Learning Eksplorasi Deskripsi Penerapan Contoh Kegiatan Analisis Filosofis Anak diajak mengamati fenomena di sekitar untuk membangun rasa ingin tahu. Mengamati perubahan bentuk awan dan mendiskusikan keagungan ciptaan Allah Subhanahu wa TaAoala SWT. Mencoba menanam biji dan mengamati pertumbuhan tanaman setiap hari. Sejalan dengan konsep Tafakkur dalam Islam, yaitu mendorong refleksi atas kebesaran Allah Subhanahu wa TaAoala. Mengajarkan konsep sebab-akibat . dalam Islam, sebagaimana dijelaskan dalam QS. AlAnAoam: 99. Sejalan dengan konsep Hikmah, bahwa ilmu harus membawa pemahaman mendalam tentang kebijaksanaan Allah Subhanahu wa TaAoala. Investigasi Anak mencari jawaban melalui eksperimen atau observasi langsung. Diskusi dan Refleksi Anak mendiskusikan hasil temuan mereka dengan teman dan guru. Membahas bagaimana air dapat berubah menjadi uap dan turun sebagai hujan . iklus ai. Ulya Ainur RofiAoah. Moh Mundzir, dan Tining Tahapan InquiryBased Learning Aplikasi dan Generalisasi Deskripsi Penerapan Contoh Kegiatan Analisis Filosofis Anak menghubungkan hasil pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Membantu merapikan mainan setelah bermain sebagai bentuk tanggung Mengajarkan konsep Adab dalam Islam, bahwa setiap tindakan harus memiliki nilai Tabel di atas menunjukkan bahwa implementasi Inquiry-Based Learning (IBL) dalam filsafat pendidikan Islam di KB AssaAodiyah Tuban dilakukan melalui tahapan eksplorasi, investigasi, diskusi, serta aplikasi. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pendidikan Islam yang menempatkan pencarian ilmu sebagai bagian dari ibadah. Sebagaimana tertuang dalam QS. Al-Mujadilah: 11. Allah Subhanahu wa TaAoala SWT meninggikan derajat orang-orang yang berilmu, sehingga pembelajaran yang berbasis inquiry tidak hanya berorientasi pada pengembangan intelektual, tetapi juga memiliki dimensi spiritual dan moral. Berdasarkan Tabel 1, tahapan pertama dalam IBL adalah eksplorasi, di mana anak diajak untuk mengamati fenomena di sekitar guna membangun rasa ingin tahu mereka. Misalnya, mereka mengamati perubahan bentuk awan dan mendiskusikan bagaimana awan dapat berubah menjadi hujan. Kegiatan ini tidak hanya mengembangkan keingintahuan ilmiah, tetapi juga menanamkan konsep Tafakkur dalam Islam, yaitu refleksi mendalam terhadap kebesaran ciptaan Allah Subhanahu wa TaAoala. Islam mendorong umatnya untuk merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa TaAoala di alam semesta agar semakin memperkuat iman dan keimanan. Dengan demikian, eksplorasi dalam IBL tidak sekadar membangun kemampuan observasi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual sejak dini. Seorang guru di KB AssaAodiyah. Ustadzah Aisyah, menyatakan bahwa, "Anak-anak sangat antusias saat diajak mengamati lingkungan sekitar, terutama ketika mereka melihat awan bergerak atau hujan turun. Kami mengajarkan mereka bahwa ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah. " Hasil observasi juga menunjukkan bahwa anak-anak aktif bertanya dan berdiskusi dengan teman serta guru terkait fenomena alam yang mereka amati. Tahapan berikutnya adalah investigasi, di mana anak mencari jawaban melalui eksperimen atau observasi langsung. Contohnya, mereka mencoba Ulya Ainur RofiAoah. Moh Mundzir, dan Tining menanam biji dan mengamati bagaimana tanaman tumbuh setiap hari. Kegiatan ini mengajarkan anak mengenai konsep Sunnatullah, yaitu hukum alam yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa TaAoala SWT. Dalam QS. Al-AnAoam: 99. Allah Subhanahu wa TaAoala menjelaskan bagaimana hujan yang turun dari langit menumbuhkan tanaman sebagai tanda kebesaran-Nya. Dengan mempelajari konsep sebab-akibat dalam proses pertumbuhan tanaman, anak memahami bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki sistem yang teratur dan berjalan sesuai kehendak-Nya. Dalam konteks pendidikan Islam, pemahaman tentang sunnatullah penting agar anak belajar menghargai dan menjaga alam sebagai bagian dari amanah dari Allah Subhanahu wa TaAoala. Dalam wawancara dengan Ustadzah Rahma, beliau menyampaikan bahwa, "Melalui kegiatan menanam, anak-anak belajar bahwa tanaman butuh air dan cahaya matahari untuk tumbuh. Mereka juga memahami bahwa semua proses ini terjadi atas kehendak Allah. " Observasi menunjukkan bahwa anakanak sangat antusias melihat perkembangan tanaman yang mereka tanam sendiri, yang membantu mereka memahami konsep sebab-akibat secara Selanjutnya, dalam tahapan diskusi dan refleksi, anak diberikan kesempatan untuk membahas temuan mereka bersama teman dan guru. Misalnya, mereka mendiskusikan bagaimana air dapat berubah menjadi uap dan turun kembali sebagai hujan dalam siklus air. Tahapan ini tidak hanya melatih keterampilan komunikasi dan berpikir kritis, tetapi juga menanamkan konsep Hikmah dalam Islam. Hikmah dalam Islam mengajarkan bahwa ilmu tidak hanya sekadar menghafal fakta, tetapi harus membawa pemahaman yang lebih mendalam mengenai kebijaksanaan Allah Subhanahu wa TaAoala dalam menciptakan alam semesta. Diskusi ini membantu anak memahami bahwa ilmu harus dimanfaatkan dengan baik untuk kehidupan sehari-hari dan bukan hanya sekadar untuk memenuhi rasa ingin tahu. Dalam sesi diskusi, seorang anak bertanya, "Ustadzah, kenapa hujan turun setelah awan hitam muncul?" Guru menjelaskan bahwa ini adalah bagian dari siklus air yang telah diatur oleh Allah. Guru juga menambahkan, "Melalui Ulya Ainur RofiAoah. Moh Mundzir, dan Tining diskusi ini, anak-anak tidak hanya belajar tentang sains, tetapi juga semakin memahami kebesaran Allah dalam menciptakan dunia ini. Tahapan terakhir dalam IBL adalah aplikasi dan generalisasi, di mana anak menghubungkan hasil pembelajaran dengan kehidupan nyata. Misalnya, mereka diajarkan untuk merapikan mainan setelah bermain sebagai bentuk tanggung jawab. Kegiatan ini mengajarkan nilai Adab dalam Islam, yaitu bagaimana setiap tindakan harus memiliki nilai moral. Dalam Islam, adab memiliki kedudukan yang sangat penting, bahkan lebih utama daripada ilmu itu sendiri. Anak-anak yang terbiasa menerapkan adab dalam keseharian mereka akan tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab dan memiliki karakter yang baik. Menurut Ustadzah Zahra, "Kami selalu menekankan bahwa kebersihan dan kerapian adalah bagian dari adab seorang Muslim. Anak-anak diajarkan bahwa merapikan mainan setelah bermain adalah bagian dari tanggung jawab " Hasil observasi menunjukkan bahwa anak-anak yang telah terbiasa dengan kebiasaan ini lebih mandiri dan memiliki kesadaran yang lebih tinggi terhadap tanggung jawab pribadi mereka. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Inquiry-Based Learning bukan sekadar pendekatan pedagogis, tetapi juga memiliki dimensi spiritual dan moral dalam pendidikan Islam. Eksplorasi berbasis Tafakkur membantu anak merenungkan kebesaran Allah Subhanahu wa TaAoala, investigasi berbasis Sunnatullah mengajarkan bahwa segala sesuatu memiliki hukum dan proses yang teratur, diskusi dan refleksi berbasis Hikmah menanamkan pemahaman mendalam tentang kebijaksanaan Allah Subhanahu wa TaAoala, serta aplikasi berbasis Adab membentuk karakter islami anak dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penerapan Inquiry-Based Learning di KB AssaAodiyah Tuban tidak hanya meningkatkan pemahaman kognitif anak, tetapi juga membentuk akhlak mereka sesuai dengan nilai-nilai Islam sejak usia Ulya Ainur RofiAoah. Moh Mundzir, dan Tining Dampak Inquiry-Based Learning terhadap Kemandirian Anak Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ini membawa perubahan signifikan dalam kemandirian anak, terutama dalam berpikir kritis, pengambilan keputusan, dan inisiatif dalam belajar. Tabel 2: Perubahan Kemandirian Anak Setelah Penerapan InquiryBased Learning Aspek Kemandirian Berpikir Kritis Indikator Perubahan Hasil Observasi Analisis Filosofis Anak mulai bertanya dan mencari tahu sendiri sebelum bertanya pada Anak sering bertanya, "Kenapa hujan turun?" atau "Mengapa tanaman butuh air?" Pengambilan Keputusan Anak berani memilih dan menentukan keputusan Kemandirian dalam Belajar Anak dapat menyelesaikan tugas tanpa bantuan langsung. Anak dapat memilih aktivitas yang ingin dilakukan tanpa menunggu instruksi Anak mulai menggambar, menulis, dan bermain tanpa menunggu perintah Inisiatif Anak menunjukkan sikap proaktif dalam kegiatan belajar. Sejalan dengan metode pendidikan Al-Ghazali yang menekankan pemikiran reflektif dan mendalam dalam menuntut Mencerminkan konsep Ijtihad, yaitu kemampuan mengambil keputusan dengan pemikiran yang Mengajarkan nilai Mujahadah . saha kera. , bahwa seseorang harus berusaha sebelum mengandalkan bantuan orang lain. Sesuai dengan nilai Amanah, bahwa setiap individu bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Anak mulai menawarkan ide saat diskusi kelompok dan mencari solusi sendiri. Tabel di atas menunjukkan bahwa penerapan Inquiry-Based Learning (IBL) di KB AssaAodiyah Tuban memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan kemandirian anak. Berdasarkan data yang diperoleh, perubahan terlihat dalam berbagai aspek, seperti berpikir kritis, pengambilan keputusan, kemandirian dalam belajar, serta inisiatif anak dalam kegiatan sehari-hari. Setiap aspek ini tidak hanya meningkatkan kecerdasan intelektual, tetapi juga menanamkan nilai-nilai yang selaras dengan filsafat pendidikan Islam, sehingga anak tumbuh menjadi individu yang mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki kesadaran spiritual yang tinggi. Salah satu perubahan yang paling signifikan adalah peningkatan berpikir kritis. Anak-anak mulai menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi dengan mengajukan pertanyaan secara spontan sebelum menerima jawaban dari guru. Seorang guru di KB AssaAodiyah Tuban mengungkapkan dalam wawancara: AuSaya mulai melihat anak-anak lebih sering bertanya AoKenapa?Ao Ulya Ainur RofiAoah. Moh Mundzir, dan Tining dan AoBagaimana?Ao sebelum saya menjelaskan. Mereka terlihat lebih penasaran dan berusaha mencari jawaban sendiri sebelum bertanya kepada Ay Fenomena ini menunjukkan bahwa anak-anak mulai mengembangkan pola pikir reflektif, sebagaimana yang diajarkan dalam metode pendidikan AlGhazali, yang menekankan pentingnya perenungan dalam mencari ilmu. Dalam Islam, berpikir kritis sangat dianjurkan, sebagaimana Allah Subhanahu wa TaAoala berulang kali mengajak manusia untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran-Nya dalam Al-QurAoan. Dengan menerapkan IBL, anak-anak tidak hanya menjadi penerima informasi yang pasif, tetapi aktif dalam membangun pemahaman mereka sendiri. Selain berpikir kritis, aspek pengambilan keputusan juga mengalami peningkatan yang signifikan. Anak-anak mulai menunjukkan keberanian dalam memilih dan menentukan keputusan sendiri tanpa harus menunggu instruksi dari guru. Salah satu hasil observasi menunjukkan bahwa dalam sesi belajar kelompok, beberapa anak dengan inisiatif sendiri memilih alat dan bahan yang ingin mereka gunakan dalam eksperimen air. Seorang guru mengungkapkan: AuBiasanya mereka menunggu arahan, tetapi sekarang mereka lebih berani memilih sendiri. Saya melihat mereka semakin percaya diri dalam mengambil keputusan. Ay Sikap ini mencerminkan konsep Ijtihad dalam Islam, yaitu kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan berdasarkan pemikiran yang matang dan pertimbangan yang mendalam. Dalam konteks pendidikan Islam, pengambilan keputusan yang baik tidak hanya didasarkan pada keinginan semata, tetapi juga memerlukan keseimbangan antara ilmu dan nilai moral. Lebih lanjut, dalam aspek kemandirian dalam belajar, terlihat bahwa anak mulai menunjukkan inisiatif dalam menyelesaikan tugas tanpa bantuan langsung dari guru. Observasi di kelas menunjukkan bahwa anak-anak mulai terbiasa menggambar, menulis, atau menyusun puzzle tanpa menunggu perintah dari orang dewasa. Seorang guru menyatakan: AuSekarang mereka tidak lagi bertanya AoBu, ini bagaimana?Ao setiap kali mendapat tugas. Mereka mencoba dulu, dan hanya bertanya kalau benar-benar butuh bantuan. Ay Sikap ini mencerminkan nilai Mujahadah dalam Islam, yaitu usaha keras dalam Ulya Ainur RofiAoah. Moh Mundzir, dan Tining mencapai tujuan. Islam mengajarkan bahwa keberhasilan tidak datang secara instan, tetapi melalui usaha yang tekun dan konsisten. Dengan membiasakan anak menyelesaikan tugas sendiri, mereka akan tumbuh menjadi individu yang lebih percaya diri, tangguh, dan tidak mudah menyerah. Selain berpikir kritis dan pengambilan keputusan, inisiatif anak juga mengalami peningkatan. Anak-anak mulai aktif berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, menawarkan ide dalam diskusi, serta mencari solusi sendiri terhadap permasalahan yang mereka hadapi. Salah satu guru berbagi pengalaman: AuSekarang, ketika saya bertanya bagaimana menyelesaikan suatu masalah, mereka tidak lagi diam menunggu jawaban saya. Justru Ay Perubahan mencerminkan nilai Amanah dalam Islam, yang mengajarkan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan lingkungannya. Dengan menanamkan nilai ini sejak dini, anak akan lebih proaktif dalam berkontribusi di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Dari temuan di atas, dapat disimpulkan bahwa Inquiry-Based Learning bukan hanya memberikan manfaat dalam aspek kognitif, tetapi juga membentuk karakter islami yang kuat pada anak. Berpikir kritis dalam Islam adalah bagian dari proses menuntut ilmu yang aktif dan reflektif. Pengambilan keputusan harus berbasis ilmu dan nilai moral, sebagaimana yang dicontohkan oleh para ulama terdahulu. Kemandirian dalam belajar mengajarkan bahwa keberhasilan hanya dapat diraih dengan usaha yang gigih dan konsisten, sedangkan inisiatif merupakan bagian dari tanggung jawab pribadi yang diajarkan dalam Islam. Oleh karena itu, metode Inquiry-Based Learning di KB AssaAodiyah Tuban tidak hanya efektif dalam meningkatkan kecerdasan anak tetapi juga dalam membentuk kepribadian yang bertanggung jawab, mandiri, dan berlandaskan nilai-nilai Islam. DISKUSI Penerapan Inquiry-Based Learning (IBL) dalam pendidikan Islam di KB AssaAodiyah Tuban memberikan dampak yang signifikan terhadap kemandirian anak, terutama dalam aspek berpikir kritis, pengambilan keputusan, inisiatif, serta Ulya Ainur RofiAoah. Moh Mundzir, dan Tining kemandirian dalam belajar. Hal ini sejalan dengan konsep filsafat pendidikan Islam yang menempatkan pencarian ilmu sebagai ibadah dan bagian dari pembentukan karakter yang berlandaskan nilai-nilai moral dan spiritual. Implementasi IBL di KB AssaAodiyah Tuban menunjukkan bahwa metode ini tidak hanya membantu anak dalam memahami konsep akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Islam dalam setiap tahapan pembelajaran. Dalam tahapan eksplorasi, anak diajak untuk mengamati fenomena di sekitar mereka guna menumbuhkan rasa ingin tahu. Hal ini mencerminkan konsep Tafakkur dalam Islam, yaitu proses berpikir mendalam tentang kebesaran ciptaan Allah Subhanahu wa TaAoala. Al-Ghazali menekankan pentingnya refleksi sebagai bagian dari pencarian ilmu, di mana proses ini tidak hanya meningkatkan pemahaman kognitif tetapi juga membentuk kesadaran spiritual (Putra 2. Tahapan investigasi dalam IBL juga memberikan ruang bagi anak untuk menemukan jawaban melalui eksperimen dan observasi langsung. Misalnya, anak menanam biji dan mengamati proses pertumbuhannya, yang selaras dengan konsep Sunnatullah dalam Islam. Ibn Khaldun dalam Muqaddimah menyatakan bahwa pendidikan harus memperkenalkan anak pada hukum-hukum alam sebagai tanda kebesaran Allah Subhanahu wa TaAoala. Dengan memahami bahwa segala sesuatu berjalan dalam sistem yang teratur, anak belajar tentang keteraturan dan kebijaksanaan yang terdapat dalam ciptaan Allah Subhanahu wa TaAoala, yang juga memperkuat rasa tanggung jawab mereka terhadap lingkungan. Lebih lanjut, diskusi dan refleksi menjadi bagian integral dalam pendekatan IBL yang diterapkan di KB AssaAodiyah Tuban. Anak diajak untuk membahas hasil temuan mereka bersama teman dan guru, yang tidak hanya meningkatkan keterampilan berpikir kritis tetapi juga menanamkan konsep Hikmah dalam Islam. Menurut Al-Farabi, pendidikan harus mampu menuntun manusia pada kebijaksanaan dan pemahaman yang lebih mendalam terhadap kehidupan (Erdriani. Mukhaiyar, and Anananda 2. Dengan memberikan ruang bagi anak untuk mengeksplorasi gagasan mereka sendiri, pendekatan ini menciptakan lingkungan belajar yang aktif dan kolaboratif, di mana mereka diajarkan untuk menghargai perbedaan pendapat dan mengembangkan pemikiran yang lebih luas. Ulya Ainur RofiAoah. Moh Mundzir, dan Tining Tahapan aplikasi dalam IBL memastikan bahwa anak tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menghubungkannya dengan kehidupan Ketika anak membantu merapikan mainan setelah bermain sebagai bentuk tanggung jawab, mereka tidak hanya belajar keterampilan sosial tetapi juga nilainilai adab dalam Islam. Ibn Miskawayh dalam Tahzib al-Akhlaq menekankan bahwa pendidikan moral harus menjadi bagian integral dari pembelajaran, karena adab lebih utama daripada ilmu itu sendiri (Maghfiroh 2. Dengan menerapkan konsep ini, anak diajarkan untuk bertindak dengan kesadaran moral yang tinggi, yang kelak akan membentuk karakter islami mereka. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menegaskan efektivitas IBL dalam meningkatkan kemandirian anak. Penelitian yang dilakukan oleh (Hmelo-Silver and Pfeffer 2. menunjukkan bahwa pendekatan berbasis inquiry meningkatkan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kemandirian belajar pada anak. Temuan serupa juga dikemukakan oleh Minner. Levy, dan Century . , yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri memungkinkan siswa untuk mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam melalui eksplorasi aktif (Minner. Levy, and Century 2. Dalam konteks pendidikan Islam, penelitian yang dilakukan oleh Abdurrahman . menunjukkan bahwa pendekatan IBL mampu memperkuat pemahaman konsep Islam melalui pengalaman langsung, sehingga anak lebih mudah menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari (Melina 2. Dengan demikian, implementasi Inquiry-Based Learning di KB AssaAodiyah Tuban tidak hanya efektif dalam meningkatkan pemahaman akademik anak, tetapi juga membentuk karakter islami mereka sejak dini. Metode ini memberikan ruang bagi anak untuk berpikir kritis, mengambil keputusan, bersikap mandiri, dan bertindak dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam. Sejalan dengan pemikiran para filsuf pendidikan Islam seperti Al-Ghazali. Ibn Khaldun. Al-Farabi, dan Ibn Miskawayh, pendekatan ini menjadi model pembelajaran yang ideal dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia dan kesadaran spiritual yang tinggi. Oleh karena itu. Inquiry-Based Learning dapat menjadi pendekatan yang lebih luas dalam Ulya Ainur RofiAoah. Moh Mundzir, dan Tining pendidikan Islam guna membangun kemandirian dan karakter islami anak sejak usia dini. KESIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa penerapan Inquiry-Based Learning (IBL) dalam pendidikan Islam di lembaga PAUD memiliki dampak yang signifikan dalam membentuk kemandirian anak sekaligus menanamkan nilai-nilai Islami. Melalui tahapan eksplorasi, investigasi, diskusi, dan aplikasi, anak-anak tidak hanya mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan mandiri, tetapi juga memahami konsep-konsep Islam secara mendalam. Implikasi praktis dari temuan ini menunjukkan bahwa lembaga PAUD Islam dapat mengadaptasi model IBL dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam secara kontekstual dalam setiap tahapan Dalam eksplorasi, anak diajak merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah (Tafakku. , dalam investigasi mereka memahami aturan dan hukum Allah dalam kehidupan (Sunnatulla. , dalam diskusi mereka mengembangkan kebijaksanaan dalam memahami ilmu (Hikma. , dan dalam aplikasi mereka menerapkan adab yang sesuai dengan ajaran Islam. Dengan pendekatan ini, pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek kognitif tetapi juga pada pembentukan karakter Islami yang kuat sejak usia dini. Untuk memperkaya hasil penelitian ini, studi lanjutan dapat dilakukan dengan meneliti efektivitas IBL dalam aspek perkembangan lain, seperti keterampilan sosial dan emosional anak usia dini di lembaga pendidikan Islam. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat mengembangkan model pembelajaran berbasis IBL yang lebih spesifik untuk kurikulum PAUD Islam, menyesuaikannya dengan karakteristik usia dan lingkungan belajar anak. Peran guru dalam implementasi IBL juga perlu dikaji lebih lanjut, terutama dalam strategi pendampingan dan tantangan yang dihadapi saat mengintegrasikan nilai-nilai Islami dalam pembelajaran. Studi longitudinal dapat dilakukan untuk melihat dampak jangka panjang dari penerapan IBL dalam membentuk karakter Islami dan kemandirian anak hingga jenjang pendidikan selanjutnya. Selain itu, eksplorasi penggunaan teknologi dalam IBL juga dapat menjadi fokus penelitian, seperti pemanfaatan media digital berbasis Islam yang dapat meningkatkan pengalaman belajar anak. Dengan berbagai pengembangan ini, diharapkan penelitian di masa Ulya Ainur RofiAoah. Moh Mundzir, dan Tining depan semakin memperkaya metode pembelajaran Islam berbasis inkuiri serta memberikan kontribusi yang lebih luas bagi pendidikan anak usia dini di lembaga Islam. DAFTAR PUSTAKA