PERENCANAAN JARINGAN LONG TERM EVOLUTION (LTE) TIME DIVISION DUPLEX (TDD) 2300 MHz DI SEMARANG TAHUN 2015 Ae 2020 Yusuf Septiawan*). Imam Santoso, and Ajub Ajulian Zahra Jurusan Teknik Elektro. Universitas Diponegoro Semarang Jl. Prof. Sudharto. SH. Kampus UNDIP Tembalang. Semarang 50275. Indonesia Email : yseptiawan@gmail. Abstrak LTE merupakan teknologi release 8 dikembangkan oleh 3rd Generation Partnership Project . GPP). LTE memberikan kecepatan downlink sampai 300 Mbps dan uplink 75 Mbps. Operator mempunyai keterbatasan untuk membangun jaringan LTE. Maka perencanaan diperlukan untuk membuat jaringan yang optimal dengan memenuhi kapasitas dan cakupan sesuai kondisi lingkungan tempat jaringan diimplementasikan. Teknologi LTE menurut division duplexnya ada dua, yaitu LTE FDD dan LTE TDD. Di Indonesia. LTE FDD digunakan pada frekuensi 1800 MHz dan 900 MHz. Sedangkan LTE TDD digunakan pada frekuensi 2300 MHz. Penelitian ini dilakukan perencanaan jaringan LTE TDD frekuensi 2300 MHz di Semarang tahun 2015 sampai 2020. Simulasi perencanaan dilakukan dengan menggunakan software Atoll. Metode yang digunakan yaitu perencanaan cakupan dan perencanaan kapasitas. Parameter masukan yaitu data kependudukan, nilai link budget, serta diperlukan pemetaan berisi clatter class, kontur bumi, dan kepadatan penduduk untuk menentukan daerah urban, suburban, dan rural. Dari hasil perencanaan didapatkan jumlah eNodeB yang dibutuhkan pada perencanaan cakupan yaitu 161 site sedangkan pada perencanaan kapasitas yaitu 46 site. Hasil simulasi menunjukan bahwa jumlah pelanggan sukses tersambung pada perencanaan cakupan sebesar 69,2% sedangkan pada perencanaan kapasitas sebesar 59,2%. Selain itu hasil simulasi menunjukan bahwa perencanaan cakupan memberikan nilai rata-rata throughput tiap pelanggan lebih besar daripada perencanaan kapasitas. Kata kunci : LTE. TDD. Perencanaan Cakupan. Perencanaan Kapasitas Abstract LTE is release 8 technology developed by 3rd Generation Partnership Project . GPP). LTE can deliver speeds up to 300 Mbps in downlink and 75 Mbps in uplink. Operators have limitations to build LTE network. So planning is needed to make optimal network while still meeting capacity and coverage in accordance with environment conditions in which the network is implemented. According to division duplex. LTE technology divided into two. LTE FDD and LTE TDD. At Indonesia. LTE FDD is used at frequency of 1800 MHz and 900 MHz. While LTE TDD is used at a frequency of 2300 MHz. This research is network planning for LTE TDD frequency of 2300 MHz in Semarang in 2015 until 2020. Simulation of the planning is done by using software Atoll. The method used is coverage planning and capacity Input parameters include demographic data, link budget, as well as the necessary initial mapping to determine the urban, suburban, and rural. The result of planning shows eNode number needed at coverage planning is 161 site while at capacity planning is 46 site. The simulation results showed that the number of customers connected at coverage planning is 69,2% while 59,2% at capacity planning. Besides the simulation results show that the coverage planning gives the average value of each customer throughput greater than capacity planning. Keyword : LTE. TDD. Coverage Planning. Capacity Planning Pendahuluan Pada era digital sekarang ini kebutuhan masyarakat akan layanan mobile broadband semakin signifikan. Ini sejalan dengan pesatnya perkembangan teknologi telekomunikasi Saat ini di Indonesia sudah mulai digelar layanan teknologi seluler LTE. LTE mampu memberikan kecepatan downlink sampai dengan 300 Mbps dan uplink 75 Mbps. LTE menyediakan 2 mode operasi, yaitu FDD (Frequency Division Duple. dan TDD (Time Division Duple. FDD menggunakan frekuensi yang berbeda antara downlink dan uplink. TDD menggunakan frekuensi tunggal baik untuk downlink dan uplink. Pada penelitian ini dilakukan perencanaan untuk sistem TDD. Alokasi TRANSIENT. VOL. NO. DESEMBER 2015. ISSN: 2302-9927, 980 frekuensi untuk LTE TDD ini sudah diatur oleh 3GPP. Salah satu range frekuensi yang bisa digunakan yaitu pada 2300 MHz hingga 2400 MHz. Tujuan pelaksanaan pada penelitian ini yaitu mengetahui jumlah eNodeB yang dibutuhkan serta pemetaan peletakan eNodeB untuk mendukung layanan LTE TDD frekuensi 2300 MHz di Kota Semarang pada tahun 2015 sampai dengan 2020 baik dengan metode perencanaan cakupan maupun metode perencanaan kapasitas. Penelitian sebelumnya yang terkait dengan perencanaan jaringan LTE yaitu studi perencanaan jaringan LTE area Jakarta. Bogor. Depok. Tangerang. Bekasi. Pada penelitian tersebut menggunakan metode perencanaan cakupan dan perencanaan kapasitas. Sehingga diketahui jumlah eNodeB yang dibutuhkan dalam menyediakan layanan LTE FDD frekuensi 1800 MHz dan 2100 MHz. Studi yang lain yaitu perencanaan jaringan LTE frekuensi 1800 MHz di jembatan Suramadu dengan Physical Cell Identity (PCI). Studi ini menitikberatkan pada pengaruh PCI terhadap kinerja jaringan. Studi yang lain yaitu perencanaan jaringan LTE FDD 1800 Mhz di Kota Semarang menggunakan software Atoll. Studi ini menggunakan metode cakupan dan melakukan optimasi pada peningkatan power antena eNodeB. Metode Perencanaan Jaringan LTE Pada penelitian ini memliki batasan masalah yaitu perencanaan tidak berdasarkan existing tower . aringan yang sudah tersedi. Perencanaan tidak menggunakan sistem antena MIMO (Multiple Input Multiple Outpu. Tidak membahas mengenai perangkat telekomunikasi. Tidak melakukan analisis mengenai aspek ekonomi. Data trafik yang digunakan yaitu data estimasi calon pelanggan LTE pada tahun 2020 di Kota Semarang dengan asumsi penetrasi penggunaan LTE sebesar 30 % dari jumlah pelanggan seluler dan asumsi pangsa pasar 20 % dari pasar LTE. Layanan yang disediakan yaitu VoIP, video conference, video streaming, web browsing, dan file Pelanggan dianggap memiliki karakter yang sama dalam mengakses layanan yang disediakan. Peta digital yang digunakan berformat shp dan diunduh dari Tidak melakukan analisis yang mendalam mengenai interferensi dan noise. Tidak membahas Tidak memperhitungkan faktor kontur bumi. Tidak melakukan optimasi jaringan. Perencanaan Cakupan Alur Perencanaan Cakupan Salah satu metode yang digunakan pada perencanaan jaringan LTE yaitu perencanaan cakupan. Gambar 1. Alur Perencanaan Cakupan Coverage Dimensioning Coverage Dimensioning merupakan tahap awal dalam Tujuan Coverage Dimensioning yaitu untuk menentukan cell radius dan mengestimasi jumlah eNodeB yang diperlukan dalam suatu wilayah. Untuk menentukan cell radius maka harus dilakukan perhitungan radio link budget yang bertujuan untuk menghitung nilai MAPL (Maximum Allowable Path Los. antara UE dan eNodeB. Nilai MAPL ini dijadikan acuan pada model propagasi, sehingga nilai path loss-nya tidak melebihi MAPL. Pada penelitian ini klasifikasi daerah morfologinya yaitu urban, suburban, dan rural. Tabel 1 berikut adalah tabel perhitungan radio link budget untuk daerah urban. Tabel 1. Perhitungan Radio Link Budget Daerah Urban Link Budget Formula Operating Band (MH. Cell Edge Rate . Allocated RB Allocated Subcarriers Tx RF Power . Tx Antenna Gain . Feeder Loss per m B/. Feeder Length . Feeder Loss/Line Loss B) EIRP . kT . bm/H. Thermal Noise per Subcarrier . Noise Figure . B) Required SINR at Cell Edge . B) TDD 15 MHz 0,05 i=gxh j=e f-i k = 10 log . x T) l = k 10 log. 00 x . -113,6 -102,7 -3,7 -2,77 TRANSIENT. VOL. NO. DESEMBER 2015. ISSN: 2302-9927, 981 Tabel 1. Lanjutan Fast Fade Margin . B) Rx Sensitivity . Rx Antenna Gain . Rx RF Line Loss . B) geometry factor . B) Cell load (%) Interference Margin . B) Body Loss . B) Penetration Loss Cell Area Probability (%) Standard Deviation . B) Shadowing Margin . B) Isotropic Power Required . B) Maximum Path Loss B) p=l m n o u = -10 log . Ae . z = y x 0,67 aa = p Ae q u v w -112,86 5,36 -98,47 5,36 -104,5 -74,1 ab = j Ae aa yang dikirim terhalang oleh lereng dan sebagainya. Peta tata lahan berguna untuk menentukan jenis propagasi yang digunakan sesuai dengan keadaan morfologi suatu Peta mengklasifikasikan suatu wilayah menurut batas Dengan perhitungan yang sama. Tabel 2 berikut ini akan menampilkan nilai MAPL pada daerah urban, suburban, dan rural. Tabel 2. Perhitungan MAPL Menurut Daerah Morfologi Parameter MAPL Uplink MAPL Downlink Urban 127,5 dB 133,1 dB Suburban 137,2 dB 138,4 dB Rural 144 dB 143,4 dB Pada penelitian ini dipilih propagasi COST-231 Hata karena dibandingkan dengan COST Walfish-Ikegami. SUI model, dan ITU-R . , memberikan nilai path loss terkecil pada frekuensi 2300 MHz. Selain itu dibandingkan dengan SUI model dan ITU-R, model propagasi COST-231 Hata memberikan error prediksi yang lebih rendah. Dipilih nilai MAPL terkecil diantara nilai MAPL uplink dan downlink. Pada perencanaan nantinya menggunakan desain heksagonal yang berbentuk clover sehingga radius sel yang dicari itu sama dengan diameter heksagonal. Radius heksagonal merupakan radius sel yang digunakan pada software, besarnya adalah setengah dari radius sel utama karena Atoll menerjemahkan radius heksagonal sebagai jari-jari sel. Pada perhitungan model propagasi ini, diasumsikan tinggi antenna eNodeB sebesar 30 meter dan tinggi UE sebesar 1,5 meter. Tabel 3 terlihat nilai radius sel sesuai daerah morfologi dari perhitungan model propagasi COST-231 Hata. Tabel 3. Nilai Radius Sel Sesuai Daerah Morfologi Parameter Radius Utama Radius Heksagonal Urban Suburban Rural Konfigurasi Parameter Pada Software Peta Digital Pada perencanaan ini, peta dasar yang dibutuhkan adalah peta digital elevasi, peta tata lahan, dan peta administrasi. Peta elevasi atau ketinggian untuk membuat perencanaan seperti pada keadaan di lapangan, yaitu apakah sinyal Gambar 2. Peta Digital yang Digunakan Konfigurasi Parameter Jaringan Konfigurasi parameter jaringan ini dilakukan sesuai dengan dimensioning coverage. Feeder yang digunakan mempunyai panjang 40 meter, berukuran 5/4", dan mempunyai nilai loss per length sebesar 0,05 dB/m. Tabel 4 merupakan konfigurasi untuk frequency band. Tabel 5 merupakan konfigurasi untuk template eNodeB. Tabel 4. Frequency Band Name Duplexing Method TDD Start Frequency (MH. Channel Width (MH. Number of RB 2300 TDD 15 MHz (E-UTRA Band . TDD Tabel 5. Template eNodeB Name 15 MHz Ae Urban 15 MHz Ae Suburban 15 MHz Ae Rural Number Height . Max Power . Main Radius . Hexagon . Untuk radio bearer digunakan konfigurasi seperti pada Tabel 6. Radio bearer merupakan pembawa informasi yang menentukan jenis MCS (Modulation and Coding Schem. yang akan digunakan untuk transmisi uplink maupun downlink. Penentuan nilai indeks radio bearer berdasarkan nilai CINR yang didapat oleh sel atau UE. TRANSIENT. VOL. NO. DESEMBER 2015. ISSN: 2302-9927, 982 Tabel 6. Radio Bearer Radio Bearer Index Name QPSK 1/12 QPSK 1/9 QPSK 1/6 QPSK 1/3 QPSK 1/2 QPSK 3/5 16QAM 1/3 16QAM 1/2 16QAM 3/5 64QAM 1/2 64QAM 1/2 64QAM 3/5 64QAM 3/4 64QAM 5/6 64QAM 11/12 Tabel 7. Proyeksi Jumlah Pelanggan Semarang Tahun 2020 Channel Coding Rate Bearer Efficiency . its/symbo. 0,0761719 0,117188 0,188477 0,300781 0,438477 0,587891 0,369141 0,478516 0,601563 0,455078 0,553711 0,650391 0,753906 0,852539 0,925781 0,1523 0,2344 0,377 0,6016 0,877 1,1758 1,4766 1,9141 2,4063 2,7305 3,3223 3,9023 4,5234 5,1152 5,5547 Bearer terendah adalah indeks 1 dengan batas minimum CINR yang diizinkan adalah sebesar -6,5 dB. Apabila user mendapatkan nilai CINR di bawah batas minimum tersebut maka user tersebut tidak bisa mendapatkan bearer, dengan kata lain user tersebut tidak akan dapat mengakses jaringan. Membuat Peta Trafik Pada penelitian ini digunakan distribusi calon pelanggan tahun 2020 dengan mengolah data yang mengacu pada data BPS tahun 2014. Berikut rumus proyeksi jumlah penduduk metode geometrik. Pt = Po . Dengan Pt = Jumlah penduduk pada tahun t. Po = Jumlah penduduk pada tahun dasar, r = Laju pertumbuhan penduduk, t = Periode waktu antara tahun dasar dan tahun Penetrasi pelanggan seluler pada masyarakat di suatu daerah digambarkan melalui angka teledensitas, yaitu perbandingan antara jumlah sambungan dengan jumlah penduduk di daerah tersebut. Berikut merupakan rumus proyeksi teledensitas seluler indonesia. = 114,31 11,81 Ae . ,29m. /2 . Sehingga nantinya didapat jumlah pengguna seluler dengan mengalikan nilai teledensitas dengan jumlah Pada penelitian ini, diasumsikan penetrasi pengguna LTE pada tahun 2020 mencapai 30% dari total pengguna seluler. Perencanaan jaringan LTE diasumsikan untuk melayani 20% dari total seluruh pengguna LTE. LTE Kecamatan Jumlah Penduduk Jumlah Pengguna Seluler 2020 Banyumanik Candisari Gajahmungkur Gayamsari Genuk Gunungpati Mijen Ngaliyan Pedurungan Smg Barat Smg Selatan Smg Tengah Smg Timur Smg Utara Tembalang Tugu Total Kota Jumlah Pelanggan LTE 2020 . arket share Pada penelitian ini diasumsikan konfigurasi layanan dan karakteristik pelanggan untuk seluruh kecamatan adalah sama yang ditunjukkan pada Tabel 8 dan Tabel 9. Setiap pelanggan diasumsikan menggunakan perangkat UE berupa mobile terminal kategori kelas 3. Tabel 8. Konfigurasi Layanan LTE Name VOIP Video Conferencing Video Streaming Web Browser File Transfer Min (DL) . Min (UL) . Max (DL) Priority . =lowes. Max TD (UL) Tabel 9. Karakteristik Pelanggan LTE 0,218 UL Volume (KByte. DL Volume (KByte. 0,109 0,236 0,589 0,436 Service Calls/hour VoIP Video Conferencing Video Streaming Web Browser File Transfer Peta digital dikelompokkan berdasarkan daerah morfologinya dengan warna tertentu, yaitu daerah rural berwarna biru, daerah suburban berwarna kuning, dan daerah urban berwarna merah. TRANSIENT. VOL. NO. DESEMBER 2015. ISSN: 2302-9927, 983 Gambar 3. Peta Trafik Berdasarkan Daerah Morfologi Selanjutnya memasukkan data kepadatan pelanggan untuk setiap daerah morfologi, dapat dilihat pada Tabel 11. Diasumsikan semua pelanggan bermobilitas pedestrian . km/ja. Tabel 10. Kepadatan Pelanggan Tiap Daerah Morfologi Daerah Morfologi Mobility Density (Subscribers/kmA) Urban Suburban Rural Pedestrian Pedestrian Pedestrian Peletakan eNodeB dilakukan sesuai dengan template berdasarkan daerah morfologinya. Hasilnya didapatkan jumlah site sebanyak 161 buah dan jumlah sel sebanyak 483 buah dan hasilnya ditunjukkan oleh Gambar 3. Gambar 5. Alur Perencanaan Kapasitas Capacity Dimensioning Capacity Dimensioning merupakan tahap awal dalam perencanaan kapasitas yang bertujuan untuk menentukan cell radius dan mengestimasi jumlah eNodeB yang Menentukan cell radius pada perencanaan kapasitas adalah dengan mengetahui nilai luas sel terlebih Luas sel didapat dengan membagi kapasitas satu sel dengan OBQ (Offered Bit Quantit. Setelah diketahui luas sel, bisa diketahui radius sel dengan rumus sebagai berikut. D = (L/2,6 x 1,. 0,5 . Dengan D = radius sel. L = luas sel. Sedangkan rumus OBQ adalah sebagai berikut. OBQ = yua x p x d x (BHCA/3. x BW Dengan yua = kepadatan pelanggan . ser/km. , p = persentase penggunaan tiap layanan, d = durasi panggilan efektif . BHCA/3600 = calls/second. BW = kbps. Tabel 11. Nilai d, p, dan BW Tiap Layanan Jenis Layanan VOIP Video Conference Video Streaming Web Browsing File Transfer d . p (%) BW . Tabel 12. Nilai OBQ Tiap Daerah Morfologi Gambar 4. Peletakan eNodeB Perencanaan Cakupan Perencanaan Kapasitas Alur Perencanaan Kapasitas Metode lain yang digunakan pada perencanaan jaringan LTE yaitu perencanaan kapasitas. Jenis Layanan VOIP Video Conference Video Streaming Web Browsing File Transfer Total (Mbps/km. Urban 4,5745734 OBQ . bps/km. Suburban 2,33692666 Rural 0,722615203 137,1362923 70,05624995 21,66251606 22264,71783 11373,95952 3517,010702 24763,24218 290,6199572 12650,33388 148,4635761 3911,686124 45,90731881 ,34794. ,67690. ,32127. TRANSIENT. VOL. NO. DESEMBER 2015. ISSN: 2302-9927, 984 Selanjutnya dapat diketahui luas sel, dan radius sel Asumsi area terjangkau oleh modulasi 16 QAM, sehingga untuk bandwidth 15 MHz didapat kapasitas sel sebesar 50,4 Mbps. Karena pada perencanaan ini menggunakan sektorisasi 120o atau 3 sektorisasi, maka kapasitas selnya dikalikan 3 menjadi sebesar 151,2 Mbps. Tabel 13. Luas Sel dan Radius Sel Berdasarkan Daerah Morfologi Parameter OBQ total Kapasitas Sel Luas Sel Radius Sel Heksagonal Heksagonal Urban 46,347 Mbps 151,2 Mbps 3,262 km2 Suburban 23,679 Mbps 151,2 Mbps 6,385 km2 Rural 7,321 Mbps 151,2 Mbps 20,652 km2 802 meter 1122 meter 2018 meter Membuat Peta Trafik Peta trafik yang digunakan pada perencanaan kapasitas sama dengan peta trafik yang digunakan pada perencanaan cakupan. Ini terjadi karena proyeksi pengguna LTE, karakteristik layanan, dan distribusi pelanggan LTE juga sama. Cara peletakan eNodeB sama dengan yang digunakan pada perencanaan cakupan. Hasilnya, didapatkan jumlah site sebanyak 46 buah dan jumlah sel sebanyak 138 buah dan hasilnya ditunjukkan oleh Gambar 5. Konfigurasi Parameter Pada Software Peta Digital Peta digital yang digunakan sama seperti perencanaan cakupan. Terlihat seperti Gambar 1. Konfigurasi Parameter Jaringan Konfigurasi parameter jaringan ini dilakukan sesuai dengan capacity dimensioning. Tetapi beberapa parameter yang digunakan sama dengan yang digunakan pada perencanaan cakupan, seperti feeder, frequency band, propagasi, dan radio bearer. Daya antena yang dipancarkan, nilainya disesuaikan dengan radius sel. Tinggi antena eNodeB yang digunakan, nilainya juga disesuaikan dengan radius sel. Tabel 14. Konfigurasi Tinggi Antena dan Daya Pancar Maksimum Parameter Tinggi antena Daya maksimum Urban 75 meter Suburban 40 meter Rural 30 meter 48 dBm 46 dBm 43 dBm Untuk pembuatan template eNodeB sesuai dengan daerah Pada template ini dikonfigurasi juga parameter-parameter yang ada pada perhitungan capacity dimensioning, seperti jumlah sektor, tinggi eNodeB, daya maksimum, dan jenis propagasi yang digunakan. Tabel 15. Template eNodeB Gambar 6. Peletakan eNodeB Perencanaan Kapasitas Hasil dan Pembahasan Simulasi Prediksi Cakupan Sinyal Level Pada Atoll terdapat fasilitas untuk melakukan prediksi cakupan sinyal berdasarkan sinyal level. Cara kerjanya yaitu dengan melakukan prediksi cakupan kekuatan sinyal transmitter pada setiap piksel peta digital. Tabel 16. Hasil Simulasi Prediksi Cakupan Sinyal Level Signal Level . SL >=-70 SL >=-75 SL >=-80 SL >=-85 SL >=-90 SL >=-95 SL >=-100 SL >=-105 SL >=-110 SL >=-115 SL >=-118 % Focus Zone Perenc. Perenc. Cakupan Kapasitas % Population Perenc. Perenc. Cakupan Kapasitas 27,26 25,54 35,91 34,59 43,52 42,66 49,76 48,36 57,53 55,45 67,91 77,45 70,36 87,03 92,74 95,74 93,69 96,61 95,01 Name Number Height . Max Power . Main Radius . Hexagon . 15 MHz Ae Urban Pada Atoll terdapat fasilitas untuk melakukan prediksi cakupan level CINR berdasarkan nilai level CINR atau Carrier to Interference-Noise Ratio. 15 MHz Ae Suburban 15 MHz Ae Rural Simulasi Prediksi Cakupan Level CINR TRANSIENT. VOL. NO. DESEMBER 2015. ISSN: 2302-9927, 985 Tabel 17. Hasil Simulasi Prediksi Cakupan Level DL CINR Tabel 20. Hasil Simulasi Prediksi Service Area Analysis UL Downlink CINR level . B) CINR>=20 CINR>=18 CINR>=16 CINR>=14 CINR>=12 CINR>=10 CINR>=8 CINR>=6 CINR>=4 CINR >=2 CINR>=0 CINR>=-2 CINR>=-4 CINR>=-6 CINR>=-8 Service Area Analysis UL B) 64QAM 11/12 64QAM 5/6 64QAM 3/4 64QAM 3/5 64QAM 1/2 64QAM 1/2 16QAM 3/5 16QAM 1/2 16QAM 1/3 QPSK 3/5 QPSK 1/2 QPSK 1/3 QPSK 1/6 QPSK 1/9 QPSK 1/12 % Focus Zone Perenc. Perenc. Cakupan Kapasitas % Population Perenc. Perenc. Cakupan Kapasitas 1,04 1,04 3,14 3,58 7,14 8,88 11,59 13,74 16,86 18,99 22,78 24,46 30,11 29,87 37,28 35,37 43,46 40,93 50,09 47,07 57,72 65,42 60,97 68,88 63,55 69,61 63,97 69,64 63,98 Tabel 18. Hasil Simulasi Prediksi Cakupan Level UL CINR Uplink CINR level . B) CINR>=20 CINR>=18 CINR>=16 CINR>=14 CINR>=12 CINR>=10 CINR>=8 CINR>=6 CINR>=4 CINR >=2 CINR>=0 CINR>=-2 CINR>=-4 CINR>=-6 CINR>=-8 % Focus Zone Perenc. Perenc. Cakupan Kapasitas % Population Perenc. Perenc. Cakupan Kapasitas 37,63 27,92 61,94 56,47 61,94 56,47 69,31 59,81 69,31 61,51 69,66 63,52 69,66 63,98 69,66 63,98 69,66 63,98 69,66 63,98 69,66 63,98 % Focus Zone Perenc. Perenc. Cakupan Kapasitas % Population Perenc. Perenc. Cakupan Kapasitas 59,23 54,65 61,94 56,47 69,31 59,81 69,66 62,79 69,66 63,98 69,66 63,98 69,66 63,98 69,66 63,98 69,66 63,98 Simulasi Monte Carlo Berikut gambar 7 dan gambar 8 merupakan hasil dari simulasi Monte Carlo. Simulasi Prediksi Service Area Analysis Pada Atoll terdapat fasilitas untuk melakukan prediksi service area analysis yang menunjukan bearer yang digunakan pada suatu wilayah. Bearer ini menggunakan nilai level downlink CINR sebagai acuan. Gambar 7. Simulasi Monte Carlo Perencanaan Cakupan Tabel 19. Hasil Simulasi Prediksi Service Area Analysis DL Service Area Analysis DL B) 64QAM 11/12 64QAM 5/6 64QAM 64QAM 3/5 64QAM 1/2 64QAM 16QAM 3/5 16QAM 1/2 16QAM 1/3 QPSK 3/5 QPSK 1/2 QPSK 1/3 QPSK 1/6 QPSK 1/9 QPSK 1/12 % Focus Zone Perenc. Perenc. Cakupan Kapasitas % Population Perenc. Perenc. Cakupan Kapasitas 3,89 4,71 5,48 6,93 7,99 9,86 12,07 14,26 14,12 16,31 17,44 18,56 20,56 22,78 24,46 35,27 33,77 46,69 43,94 53,83 50,78 61,67 57,97 66,87 61,96 68,88 63,55 69,64 63,98 Gambar 8. Simulasi Monte Carlo Perencanaan Kapasitas TRANSIENT. VOL. NO. DESEMBER 2015. ISSN: 2302-9927, 986 Tabel 21. Jumlah Pelanggan Menginginkan Sambungan Hasil Simulasi Monte Carlo Jumlah Pelanggan Menginginkan Sambungan Perenc. Cakupan Kapasitas Jumlah Pelanggan Tersambung 435 . ,2%) 716 . ,2 %) Jumlah Pelanggan Gagal Tersambung 641 . ,8%) 531 . ,8 %) Tabel 22. Pelanggan Tersambung Hasil Simulasi Monte Carlo Jumlah Pelanggan Tersambung Downlink Uplink Uplink Perencanaan Downlink Cakupan Kapasitas Tabel 23. Pelanggan Tidak Tersambung Hasil Simulasi Monte Carlo Perenc. Jumlah Pelanggan Tidak Tersambung Scheduler Resource Coverage Service Saturation Saturation Cakupan Kapasitas Tabel 24. Distribusi Layanan Hasil Simulasi Monte Carlo Perenc. VoIP Cakupan Kapasitas Jumlah Pelanggan Tersambung Video Video Web Conferenc Streamin Browsin Filer Transfer Tabel 25. Rata-rata Throughput Tiap Pelanggan Layanan VOIP Video Conference Video Streaming Web Browsing File Transfer Throughput Downlink . Perenc. Perenc. Cakupan Kapasitas 15,45 15,37 Throughput Uplink . Perenc. Perenc. Cakupan Kapasitas 15,225 15,02 532,49 379,14 529,21 391,56 1607,78 328,72 589,74 1222,71 24,62 276,92 406,24 640,07 39,02 33,46 Penutup Jumlah eNodeB yang dibutuhkan pada perencanaan cakupan yaitu 161 site sedangkan pada perencanaan kapasitas yaitu 46 site. Hasil simulasi prediksi sinyal level menunjukan bahwa perencanan cakupan memberikan luas cakupan area . inyal level hingga -118 dB. sebesar 97,5 % dari Kota Semarang sedangkan perencanaan kapasitas memberikan luas cakupan area . inyal level hingga -118 dB. sebesar 96,7 % dari Kota Semarang. Hasil simulasi prediksi sinyal level CINR menunjukan bahwa perencanan cakupan memberikan luas cakupan area . evel CINR hingga -6,5 dB) sebesar 81,1 % dari Kota Semarang sedangkan perencanaan kapasitas memberikan luas cakupan area . evel CINR hingga -6,5 dB) sebesar 79,4 % dari Kota Semarang. Hasil simulasi Monte Carlo menunjukan bahwa persentase jumlah pelanggan yang sukses tersambung pada perencanaan cakupan sebesar 69,2 % sedangkan pada perencanaan kapasitas sebesar 59,2 %. Hasil simulasi Monte Carlo menunjukan bahwa perencanaan cakupan memberikan nilai rata-rata throughput tiap pelanggan yang lebih besar daripada perencanaan kapasitas. Untuk penelitian lebih lanjut dengan topik serupa direkomendasikan untuk melakukan penelitian mengenai forecasting penetrasi LTE, forecasting trafik layanan mobile broadband, interferensi dan noise pada suatu jaringan, dan optimasi jaringan. Reference