Halaqah Journal of Multidisciplinary Islamic Studies Vol. No. 1, . E-ISSN: 3090-5567 https://jurnal. stik-kendal. id/index. php/halaqah/index DISKURSUS PARADOKS AYAT ASMAUL HUSNA DALAM PEMIKIRAN GABRIEL SAID REYNOLDS Nurma MasAoudah masudahnurma@gmail. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Indonesia Abstrak Kajian Al-QurAoan selama ini cenderung menekankan kohesivitas teks . dan menghindari pembahasan paradoks yang tampak kontradiktif antar ayat. Sebaliknya, pada studi Alkitab justru menaruh perhatian besar pada konsep paradoks sebagai strategi retoris dan teologis. Tulisan ini bertujuan mengkaji pemikiran Gabriel Said Reynolds yang menawarkan pembacaan alternatif terhadap ayat-ayat Al-QurAoan yang mengandung paradoks, khususnya terkait asmaul husna. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode studi pustaka, menggunakan karya-karya Reynolds sebagai sumber primer, dan didukung dengan literatur terkait tafsir, linguistik, serta kajian intertekstualitas Al-QurAoan dan Alkitab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Reynolds memandang paradoks dalam Al-QurAoan bukan sebagai kelemahan, melainkan sebuah cara untuk mengungkap kompleksitas sifat Tuhan. Pendekatan ini juga mengangkat sisi intertekstual Al-QurAoan dengan Alkitab, menunjukkan keterlibatan naratif dan teologis yang saling bersinggungan antara keduanya. Kesimpulannya, pembacaan paradoks seperti yang ditawarkan Reynolds dapat memperkaya studi tafsir kontemporer dengan membuka ruang interpretasi multidimensional. Pendekatan ini menantang dominasi pemahaman tekstual yang terlalu menekankan harmoni dan membuka potensi dialog Namun meskipun konsep paradoks ini memberikan perspektif baru yang menarik, masih memerlukan elaborasi lebih mendalam karena beberapa alasan Kata Kunci: Paradoks. Asmaul husna. Al-QurAoan. Alkitab Abstract QurAoanic studies have traditionally emphasized textual cohesion . while avoiding discussions of paradoxes that appear contradictory between verses. In contrast. Biblical studies give considerable attention to paradoks as a rhetorical and theological strategy. This paper aims to examine the thought of Gabriel Said Reynolds, who offers an alternative reading of QurAoanic verses containing paradoxes, particularly those related to asmaul husna . he beautiful names of Go. This is a qualitative study employing a library research method, with ReynoldsAos works as primary sources, supported by literature on QurAoanic exegesis, linguistics, and intertextual studies between the QurAoan and the Bible. The findings show that Reynolds does not view paradox in the QurAoan as a flaw but as a means of revealing the complexity of GodAos nature. His approach also highlights the intertextual dimension of the QurAoan with the Bible, revealing overlapping theological and narrative engagements between the two scriptures. In conclusion, the paradoxical Diskursus Paradoks Ayat Asmaul HusnaA. reading as proposed by Reynolds can enrich contemporary exegetical studies by opening multidimensional interpretive spaces. This approach challenges the dominance of textual understanding that overemphasizes harmony and opens potential for interreligious dialogue. However, while this concept of paradox offers an intriguing new perspective, it still requires further elaboration due to several fundamental reasons. Keywords: paradox, asmaul husna. QurAoan. Bible PENDAHULUAN Studi Al QurAoan selama ini cenderung membahas kohesivitas teks dan menghindari konsep paradoks dalam teks Al QurAoan. Berbanding terbalik dengan studi Alkitab perjanjian baru yang secara mendalam membahas paradoks pada teks Bible, sehingga Reynolds tertarik untuk memberi perhatian lebih pada ayat-ayat Al-QurAoan yang mengandung paradoks untuk diteliti lebih mendalam. Para mufassir klasik sebenarnya menyadari adanya pertentangan dalam beberapa hal, namun mereka memilih untuk bersikap abai atas pernyataan-pernyataan yang sifatnya kontradiktif, atau mereka akan menyarankan untuk bersikap Aubi lA kayfaAy . anpa bertanya bagaiman. , sikap ini dipilih sebagai jalan tengah untuk tidak memperdebatkan halAi hal yang mengarah pada ungkapan antromorfik, seperti yang dilakukan Al-Maturidi. Ibnu Taimiyah dan Imam Al-AsyAoari dalam membahas ayat tentang sifat Tuhan. Selain itu, mufassir klasik dan modern juga membicarakan tentang pergeseran makna dalam tata bahasa yang digunakan Al-QurAoan. Namun kajian tersebut tidak digunakan untuk menggambarkan sisi positif dari paradoks Al-QurAoan, melainkan untuk menjelaskan bahwa kejanggalan diksi yang terlihat sebenarnya adalah bagian dari balaghah dan IAojaz Al-QurAoan. Seperti yang dilakukan Muhammad Amin Al-Shinqiti, ia berargumen bahwa kontradiksi yang dituduhkan itu adalah akibat dari kurangnya pemahaman mengenai ilmu Al-QurAoan. 2 Begitu juga penekanan kohesivitas yang dilakukan para sarjana kontemporer, seperti Toshihiko Izutsu, fazlur Rahman dan Neal Robinson menunjukkan bahwa konsep paradoks dalam Al-QurAoan kurang diperhatikan. Istilah kohesivitas teks dalam kajian islam disebut dengan munasabah Al-QurAoan, yakni keselarasan atara ayat dengan ayat, akhir surah dengan awal surah. Ilmu tentang 1 Binyamin Abrahamov. AuThe AoBi-l? KayfaAo Doctrine and Its Foundations in Islamic Theology,Ay Arabica 42, no. : 365Ae79. 2 AuIs the QurAoan Contradictory? Part 1: Arabic Scholarship & Al-ShinqtiAos Methodology,Ay diakses 23 Juni 2025, https://w. org/is-the-quran-contradictory-arabic-scholarship-alshinqitis-methodology/?b=1750655385113. Nurma MasAoudah munasabah meyakini bahwa tidak ada pertentangan dalam Al-QurAoan. 3 Kajian kohesivitas teks dapat dipetakan menjadi dua: pertama, kajian umum munasabah, beberapa artikel yang membahas munasabah Al-QurAoan diantaranya adalah tulisan Dewi Murni 4. Ahmad Fauzul Adlim 5, dan Umar al-Faruq, dkk 6. Artikel-artikel tersebut sepakat bahwa faedah dari konsep munasabah adalah untuk mendapat pemahaman yang lebih sempurna dari teks Al-QurAoan. kedua, implementasi munasabah dalam Al-QurAoan. Catatan penting yang harus diperhatikan mufassir dalam mengungkap munasabah ayat adalah kehati-hatian tidak memasukkan kepentingan pribadi dalam mengkorelasikan ayat tertentu. Beberapa peneliti yang mencoba menemukan keserasian ayat diantaranya ada M. Yusuf 7. Ahmad Bastari 8, dan Eko Zulfikar, dkk 9. Dari kajian yang telah disebutkan, hampir semua penelitian membahas keterkaitan ayat, belum ditemukan penelitian yang fokus membahas paradoks . yat yang tampak bertentanga. dalam AlQurAoan. Sehingga tulisan ini menemukan celah penting yang harus diisi, yakni kekosongan kajian dalam memahami paradoks ayat Al-QurAoan sebagai pembuka pesan teologis Tuhan yang tidak perlu dihindari. Reynolds memiliki konsep yang menarik dan baru dalam menyajikan paradoks Al-QurAoan. Tujuan dari kajian ini adalah untuk memahami bagaimana diskursus paradoks yang dipahami Reynolds dapat memunculkan pesan-pesan teologis dalam Al-QurAoan. Sebagaimana dikatakan di awal, kajian mengenai paradoks ayat Al-QurAoan tidak untuk dihindari, justru akan menarik jika diteliti lebih dalam seperti kajian yang dilakukan pada Alkitab. Secara lebih detail tulisan ini akan fokus pada tiga hal. Pertama, bagaimana konsep paradoks yang dipahami Gabriel Said Reynolds. Kedua, bagaimana konsep teologis yang dihasilkan dari paradoks ayat-ayat Al-QurAoan. Ketiga, 3 Hasani Ahmad Said. Diskursus Munasabah Alquran: Dalam Tafsir Al-Mishbyh (Amzah, 2. 4 AuKaidah Munasabah | SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-QurAoan dan Keislaman,Ay diakses 14 Januari 2025, http://w. id/index. php/syahadah/article/view/262. 5 Ahmad Fauzul Adlim. AuTeori Munasabah Dan Aplikasinya Dalam Al QurAoan,Ay Al Furqan: Jurnal Ilmu Al Quran Dan Tafsir 1, no. Juni 2. : 14Ae30. 6 Umar Al Faruq dkk. AuAl-Munasabah,Ay Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia 3, no. : 184Ae91. 7 AuPenggunaan Ilmu Munysabah Dalam Istinbyth Hukum | TAJDID,Ay diakses 14 Januari 2025, https://riset-iaid. net/index. php/tajdid/article/view/332. 8 Ahmad Bastari. AuPesan-Pesan Al-QurAoan Untuk Ulul Albab: Studi Tematik Dengan Pendekatan Munasabah,Ay Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran Dan Tafsir 4, no. September 2. : 589Ae606, https://doi. org/10. 19109/jsq. 9 Eko Zulfikar. Abdul Kher, dan Kusnadi Kusnadi. AuMunasabah Al-QurAoan Surah Juz AoAmma: Relasi Antara Kandungan Makna Dengan Nama,Ay Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran Dan Tafsir 4, no. Juni 2. : 41Ae66, https://doi. org/10. 19109/jsq. Diskursus Paradoks Ayat Asmaul HusnaA. menganalisis keterlibatan Al-QurAoan dengan teks Alkitab. Seperti dugaan yang disampaikan Reynolds. Penelitian ini akan mencoba untuk menjawab tiga pertanyaan tersebut, dengan menganalisis konsep pemikiran Reynolds mengenai paradoks, pendekatan yang ia gunakan dalam karya-karyanya, dan kesesuaian argument Reynold dengan kajian Al-QurAoan di masa sekarang. Penelitian ini berawal dari argument Reynold yang mencoba menggunakan konsep paradoks untuk menyingkap makna lebih dalam dari teks Al QurAoan. Konsep paradoks yang ia kembangkan diambil dari konsep paradoks Laura Sweat, dalam bukunya AoThe Theological Role of Paradoks in the Gospel of MarkAo yang membahas paradoks dalam Alkitab. Menurut Reynolds, konsep paradoks akan berhasil ketika diterapkan pada kajian Al-QurAoan, yang memungkinkan kita untuk mengungkap kebenaran teologis yang kompleks dan sulit dipahami secara rasional, hal ini serupa dengan kasus Alkitab. Konsep ini memaksa peneliti untuk menghadirkan nuansa misteri dan keajaiban yang terkadang tidak disadari dari susunan teks Al-QurAoan. Penggunaan konsep paradoks dianggap sesuatu yang baru dan berbeda dengan tradisi studi Al-QurAoan selama ini, yang mana para mufassir klasik hingga kontemporer kebanyakan kajiannya menekankan pada kohesivitas teks. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis kajian kepustakaan . ibrary researc. , bertujuan untuk memberikan gambaran deskriptif dan analisis mendalam terhadap objek material berupa ayat-ayat Al-QurAoan yang mengandung Asmaul Husna, dengan menganalisis aspek linguistik, kemudian menggali pesan teologis dari ayat tersebut dan mencoba mencari teks yang serupa dalam Alkitab. Secara formal, penelitian ini berupaya mengungkap pola pikir Gabriel Said Reynolds melalui metode diskursus. Sumber data primer berasal dari artikel-artikel Reynolds, khususnya dari karya terbarunya mengenai paradoks dalam Al-QurAoan, dilengkapi dengan artikel Reynold lainnya yang membahas hubungan Al-QurAoan dengan Alkitab, kemudian dilengkapi juga dengan artikel serta buku-buku pendukung tentang paradoks dan munasabah Al-QurAoan. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi literatur, dengan seleksi berdasarkan reliabilitas dan validitas, yang dianalisis menggunakan metode analisis isi untuk mengulas makna yang tersurat dalam Nurma MasAoudah HASIL DAN PEMBAHASAN Paradoks merupakan kombinasi antara dua pemikiran yang tampaknya kontradiksi atau bertentangan satu sama lain, namun sebenarnya tidak. 10 Paradoks sendiri diambil dari bahasa Yunani AuparadoksonAy yang berarti Aocontrary to expectation, exiting belief or perceived opinionAy. Paradoks disebut juga gaya bahasa yang mengandung kontradiksi dalam pernyataannya, dalam bahasa Inggris kontradiksi dimaknai Aua lack of agreement between fact, opinion, action, etcAy. 11 Gaya bahasa yang menggunakan paradoks menjadi lebih menarik karena dapat menarik pembaca untuk berpikir lebih luas dan kritis terhadap apa yang disampaikan, yang mana paradoks menyuguhkan kondisi yang tampak kontradiksi namun dibalik itu mengandung kebenaran. 12 Ciri khas unik yang membedakan gaya bahasa paradoks dengan majas lainnya adalah dapat memberi efek kejut, heran dan kagum atas pernyataan tersebut. Melalui pesan tersirat yang terkandung dibalik paradoks pembaca akan menemukan hal berbeda yang tidak diungkapkan sebelumnya. Konsep paradoks sering digunakan dalam doktrin-doktrin Kekristenan, dalam hal ini dibutuhkan dua atau lebih hal yang terlihat kontradiksi, bahkan sesuatu yang kurang bisa diterima logika manusia untuk menciptakan sebuah paradoks. 13 Dalam kajian teologi Kristen, istilah paradoks sering digunakan dalam pembacaan ulang Alkitab yang mengandung kontradiksi. Seperti dalam memaknai kedatangan Roh Kudus, yakni sebagai bukti keterlibatan Allah dalam kehidupan umat. Roh Kudus didatangkan sebagai pemimpin umat yang sedang manantikan kedatangan-Nya. Di saat bersamaan Tuhan memposisikan diriNya terlibat dengan umat namun juga tersembunyi dalam misterinya, tidak menampakkan secara langsung. Kedua hal yang kontradiksi ini dirasa paradoks bagi manusia. 14 Di satu sisi paradoks ini 10 Gabriel Said Reynolds. AuParadoks in the QurAn,Ay Journal of the International QurAoanic Studies Association 9, no. November 2. : 142Ae63, https://doi. org/10. 1515/jiqsa-2024-0007. 11 Albert Sydney Hornby. Oxford Advanced LearnerAos Dictionary of Current English (Oxford University Press, 2. 12 I. Gusti Agung Sri Rwa Jayantini. Ronald Umbas, dan Ni Nyoman Ayu Dewi Lestari. AuParadoks dalam Antologi Puisi Rupi Kaur AoThe Sun and Her Flowers,AoAy Wanastra : Jurnal Bahasa dan Sastra 12, no. September 2. : 142Ae48, https://doi. org/10. 31294/w. 13 Satrya U. Hadiwidjoyo. AuPARADOKS: NAHUM 1:3. AoTUHAN ITU PANJANG SABAR DAN BESAR KUASA. TETAPI IA TIDAK SEKALI-KALI MEMBEBASKAN DARI HUKUMAN ORANG YANG BERSALAH. Ao | GENEVA: Jurnal Teologi Dan Misi,Ay 1 Juli 2022, https://sttiaa. id/ejournal/index. php/geneva/article/view/65. 14 Bernhard Hehakaya. Daud Manno, dan Oral Oko. AuHarapan Kristen: Antara Keterlibatan Ilahi dan Paradoks Ketersembunyian dalam Dinamika Kehidupan Manusia,Ay KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta 6, no. Januari 2. : 281Ae96, https://doi. org/10. 47167/kharis. Diskursus Paradoks Ayat Asmaul HusnaA. memperlihatkan bahwa Allah yang diharapkan kedatangannya itu ada dan nyata, sedang di sisi lain menunjukkan bahwa penantian mereka sudah dekat, karena manusia merasa sudah disertai-Nya. Gabriel Said Reynolds adalah seorang Profesor Studi Islam dan Teologi di Universitas Notre Dame. USA. Ia dikenal sebagai peneliti yang memberikan perhatian besar pada kajian agama-agama dunia terutama Islam dan sejarah kekristenan. Reynolds menyelesaikan program doktoralnya dalam bidang studi Islam di Yale University, ia mendapat penghargaan melalui disertasinya yang membahas sejarah Islam tentang kekristenan, disertasinya ia beri judul AuA Muslim Theologian in the Sectarian Milieu: AoAbd al-Jabbar . /1. and the Critique of Christian OriginsAy. Sebelumnya. Reynolds juga menyelesaikan program B. A nya di Columbia University bidang bahasa dan budaya Timur Tengah. Sebagai profesor yang menekuni bidang lintas keagamaan. Reynolds kerap menjadi profesor tamu di beberapa universitas, diantaranya ia mengisi materi di Lebanese American University. Beirut . Universite de Saint Joseph. Beirut ( 2010-2. dan Universite Libre de Bruxelles . Secara garis besar fokus kajian Reynolds membahas seputar teologi Islam. Teologi Kristen dan Al-QurAoan. Dalam karya-karyanya ia sering menghubungkan antara Islam dan Kristen melalui kitab dan historitas teksnya. Ia memiliki statemen bahwa AlQurAoan memiliki hubungan historis dengan kitab sebelumnya, yakni Alkitab. Pemikiran Reynolds dapat kita baca melalui karya-karyanya yang banyak membahas Al-QurAoan dan Bible seperti bukunya yang berjudul The QurAoan and the Bible: Text and Commentary. The QurAoan and Its Biblical Subtext. The Critique of Christian Origins, dan masih banyak lagi karya-karyanya yang ia tulis dalam buku maupun artikel. (Dame, t. Pada tahun 2012-2-13 ia bersama koleganya. Mehdi Azaiez menjalankan proyek kolaboratif yang diberi judul AuThe QurAoan SeminarAy. Proyek tersebut diharapkan dapat mendorong dialog antara para sarjana Al-QurAoan. Selain aktif menulis. Reynolds juga memiliki saluran Youtube yang menampilkan obrolan seputar kitab suci bersama para sarjana terkemuka. AuParadoks QurAn,Ay Desember https://w. com/document/doi/10. 1515/jiqsa-2024-0007/html?s=09. 16 Marketing Communications: Web | University of Notre Dame. AuGabriel - Reynolds | Department of Theology | University of Notre Dame,Ay Department of Theology, diakses 23 Desember 2024, https://theology. edu/people/gabriel-reynolds/. Nurma MasAoudah Konsep Paradoks Menurut Gabriel Said Reynolds Istilah paradoks diartikan sebagai dua pernyataan yang terbukti valid secara independen namun terkesan berlawanan dengan pernyataan lain. Reynolds menyatakan bahwa gagasan paradoks telah banyak dieksplorasi dalam studi Biblikal, namun tidak dalam studi Islam. 17 Studi Islam terutama Al-QurAoan lebih condong membahas kohesivitas teks, atau dalam pembahasan diawal kita sebut munasabah. Konsep munasabah berusaha menemukan hubungan atau keterkaitan dalan ayat-ayat Al-QurAoan, para ulamaAo yang menggunakan metode munasabah meyakini bahwa ayatayat AL-QurAoan memiliki suatu kesatuan yang utuh, yang menjadi tugas mereka untuk 18 Kecenderungan tersebut dapat dilihat melalui karya-karya mufassir klasik hingga modern, seperti dalam karya Fakhr al-Din al-Razi dengan Mafatih al-Ghaib. Burhan ad-Din al-BiqaAoi dengan Nazhmud Durar fi Tanasubil Ayi was-Suwar. Rasyid Ridha dengan Tafsir al-Manar, juga ulamaAo Indonesia. Quraisy Shihab dengan Tafsir alMisbahnya hingga orientalis Toshihiko Izutsu dengan buku God and Man in The QurAoan. Reynolds menemukan celah dari kecenderungan studi Islam yang telah ada, yang mana para pengkaji studi Islam cenderung mengabaikan paradoks teks ayat AlQurAoan. Alih-alih membahas teks yang kontradiktif, para pengkaji studi Islam lebih memilih untuk menyebutnya sebagai bentuk balaghah atau IAojaz Al-QurAoan yang dapat diterima tanpa bertanya bagaimana. 20 Dalam artikelnya. Reynolds mengomentari karya Fazlur Rahman yang juga dianggapnya sebagai mufassir yang menghindari pembahasan paradoks Al-QurAoan. Menurutnya dalam beberapa kesempatan. Rahman sengaja menghindari pembahasan yang memungkinkan adanya ketegangan dalam teks Al-QurAoan, seperti dalam membahas kekuatan, kekuasaan dan kasih sayang Allah dengan mengutip Q21 6: 1222 dan Q 7:15623. Pada penjelasan Rahman, ia hanya mengutip 17 Reynolds. AuParadoks in the QurAn. Ay 18 Muhammad Alawy Rangkuti dan Milhan Milhan. AuMunasabah Al-QurAoan Menurut Perspektif Ulama,Ay Innovative: Journal Of Social Science Research 4, no. Juli 2. : 42Ae56, https://doi. org/10. 31004/innovative. 19 AuKontinuitas Munasabah Dalam Al-Quran | Shofiana | Mumtaz: Jurnal Studi Al-Quran dan Keislaman,Ay diakses 16 Januari 2025, https://w. com/index. php/mumtaz/article/view/194. 20 Reynolds. AuParadoks in the QurAn. Ay 21 Read AuQurAoanAy 22 AIAaIaIaIOANIaNIeAaNaNIeAaN AaIeaIaIIaNA ca A( aCEeAIaIaIa AaIOacIa OaIAOaaeNaACaEeAIEacNIAENa aENOAIaAeaNIacIaNAaNOaIacEaeAauaNOaIIaeCIOa aaIAaN aIONA. 23 ANaOaIOIAaNIaIANa aAOaaIaIOAOaIaAEaEacAaOsAaNa NEeIIaNa AIEacIaIacCaIaNAOaaIeIIaNAA a AOaEeIAaNaa AaIOA aNINIacIOa aUA aOaIOAaeIaIAuaIac ANIIa AauaNOEaANC ENAA Aa NE NAOacIaIaANIea Iaa AaIeaIaII Na ca . Diskursus Paradoks Ayat Asmaul HusnaA. sebagian ayat, tidak mengutip keseluruhan ayat tersebut yang di dalamnya mengandung dua pernyataan yang terlihat kontradiktif, yakni pada pernyataan Aurahmat-Ku meliputi desala sesuatuAy dengan Ausiksa-Ku akan Ku sampaikan pada siapapun yang Ku kehendakiAy. Reynolds memiliki tawaran alternatif yang berbeda dari studi Islam pada umumnya, ia berargumen bahwa Al-QurAoan tidak sebatas mengandung paradoks, tetapi sengaja melakukannya. 25 Ia menggunakan konsep paradoks yang kerap digunakan dalam teks Alkitab diterapkan kedalam teks Al-QurAoan. dalam hal ini Reynolds mengutip konsep paradoks dari Laura Sweat, yang mengatakan bahwa istilah paradoks tidak lagi dimaknai sebagai sesuatu yang tidak biasa yang bertentangan dengan kepercayaan dan harapan, namun dimaknai sebagai dua pernyataan yang sah secara independen yang secara bersamaan saling bertentangan. 26 Dalam konsep Alkitab. Sweat berpendapat bahwa paradoks merupakan strategi yang bijaksana untuk memberikan hikmah atau pesan mengenai sifat transenden Tuhan. Dengan kata lain, paradoks dalam teks kitab Suci sengaja dibuat untuk memberi kesan bahwa Tuhan memiliki kekuatan diluar kesanggupan manusia. Salah satu tema menarik yang dikaji oleh Reynolds adalah paradoks dari asmaul husna yang jumlahnya ada 99 nama. Asmaul husna merupakan 99 nama agung yang merujuk kepada Allah, jumlah tersebut mencakup seluruh nama-nama yang ditemukan di dalam Al-QurAoan. Diantara banyaknya nama, terdapat nama-nama yang tampaknya kontradiktif, seperti al-Lathif . ang Maha Lembu. dengan al-Qahhar dan al-Jabbar (Maha Memaks. Allah memiliki nama al-Ghaffar . ang Maha Pengampu. dengan alMuntaqim . ang Maha Membala. Secara kasat mata, sudut pandang Reynold melihatnya bukan sebagai sifat Allah, melainkan sebagai tindakan-tindakan-Nya. Kedua pasang nama tersebut memiliki makna yang tampak kontradiktif, dan pada penelitian sebelumya akan dimaknai secara datar, seperti Allah Maha Lembut terhadap orang beriman tetapi tidak kepada orang kafir, atau Allah Maha Pengampun kepada orang yang mentaati perintah-Nya, tetapi Allah Maha Membalas kepada orang yang tidak mau beriman. Karena penelitian terdahulu akan lebih menekankan aspek 24 Reynolds. AuParadox in the QurAn. Ay 25 Reynolds. 26 Laura C. Sweat. AuThe Theological Role of Paradox in the Gospel of Mark,Ay 2013, 1Ae224. 27 Reynolds. AuParadoks in the QurAn. Ay Nurma MasAoudah kohesifitas teks. Pembacaan yang dilakukan Reynolds berbeda, menurutnya ada sesuatu yang lebih rumit dan lebih menarik dari penggambaran asmaul husna yang tampak kontradiktif tersebut. Analisis Keterlibatan Al-QurAoan dengan Teks Alkitab Dalam salah satu pendahuluan artikel Gabriel S. Reynolds, ia menyebutkan bahwa artikel tersebut ditulis untuk membuktikan bahwa ada keterkaitan Al-QurAoan dengan kitab-kitab suci sebelumnya, terutama Alkitab. Reynolds memiliki keyakinan kuat akan keterkaitan tersebut, karya-karya yang ia hasilkan sebagian besar membahas dialog antara Al-QurAoan dengan Alkitab. Pemikirannya yang terobsesi pada hubungan Al-QurAoan dengan Alkitab mendapat kritikan dari beberapa golongan, karena dianggap telah mengabaikan konteks Arab pra-Islam. Jarak diturunkannya kitab Injil kepada Nabi Isa dengan kitab suci Al-QurAoan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad memiliki jarak waktu cukup lama, sehingga konteks historis yang membentuk Al-QurAoan tidak dapat semata-mata dihubungkan dengan Alkitab saja, namun dinamika sosial budaya Arab pra-Islam memiliki peran penting dalam membangun historisitas Al-QurAoan. Melaui karya ilmiah yang Reynolds tulis, peneliti melihat bahwa ia memiliki ambisi untuk mengeksplorasi hubungan antara teks Al-QurAoan dengan teks Alkitab. Seperti dalam tulisannya yang berjudul AuThe QurAoan and the Bible: Text and Commentary. QurAoan TranslationAy 29 ia membahas tradisi lisan yang mempengaruhi penyusunan kedua kitab suci tersebut. Reynolds mengidentifikasi percakapan intertekstual yang mendalam antara Al-QurAoan dengan sumber-sumber Kristen, baik sejarah dan budayanya. 30 Dalam karyanya yang lain, yang berjudul AuThe QurAoan and Its Biblical SubtextAy 31ia mengkaji Al-QurAoan secara kritis dan dengan prespektif baru, yang menentang gaya penafsiran tradisional seperti bergantung pada biografi kenabian Muhammad dan tradisi penafsiran sarjana muslim. Ia lebih menganjurkan pendekatan 28 Reynolds, 13. 29 Gabriel Said Reynolds. The QurAoan and the Bible: Text and Commentary (Yale University Press, 2. 30 Meira Polliack. AuReview: Gabriel Said Reynolds. The QurAn and the Bible: Text and Commentary. QurAn Translation Ali Quli Qarai,Ay Januari https://w. edu/123203873/Review_Gabriel_Said_Reynolds_The_QurAn_a nd_the_Bible_Text_and_Commentary_QurAn_Translation_by_Ali_Quli_Qarai. 31 Gabriel Said Reynolds. The QurAoan and its Biblical Subtext (London: Routledge, 2. , https://doi. org/10. 4324/9780203856451. Diskursus Paradoks Ayat Asmaul HusnaA. sastra dengan menekankan konteks Alkitab sebagai titik balik historisitas Al-QurAoan, sehingga buku ini dinilai provokatif dan memiliki kontribusi besar pada studi Islam. Teks Al-QurAoan yang begitu lengkap berisi hampir seluruh ajaran bagi tatanan hidup manusia di klaim Reynolds sebagai respon atas kisah-kisah yang terdapat dalam Alkitab. 33 Menurutnya Al-QurAoan banyak mengutip teks dari Alkitab, seperti pada kisah Nabi Musa. Reynolds mencoba membandingkan dan mendialogkan kedua teks tersebut dan menemukan kesamaan isi dalam pembahasan kisah Nabi Musa. Hal tersebut juga dilakukan Reynolds pada ayat-ayat yang menyebutkan asmaul husna. Pada salah satu teks AL-QurAoan terdapat kalimat yang berbunyi al-MuAoizz yang artinya Allah Maha Memuliakan . , namun dalam teks Al-QurAoan lainnya disebutkan bahwa Allah memiliki nama al-Mudzil yang bermakna Maha Menghinakan . Kedua asmaul husna tersebut tampak bertentangan, namun di sisi lain Allah ingin memberi pelajaran kepada manusia agar senantiasa beriman kepada Allah, karena Allah behak meminta pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan manusia. al-QurAoan juga banyak menyebut kata at-Tawwab yang bermakna Maha Penerima Taubat bersamaan dengan kata al-Muntaqim. Yang Maha Pemberi Balasan. Paradoks yang terdapat dalam dialog ini menharuskan manusia untuk memiliki sifat takut dan taat kepada Tuhan, meskipun Allah Maha Penerima Taubat, namun tidak semua perbuatan dapat dimurnikan kecuali dengan balasan di akhirat. Kajian Kritis Konsep Paradoks Reynolds Pembahasan mengenai pemikiran Gabriel Said Reynolds Nampak berbeda dengan studi Islam pada umumnya. Reynolds berusaha memaparkan kajian dalam AlQurAoan yang selama ini cenderung diabaikan dalam studi Islam, yakni tentang ayat-ayat yang mengandung paradoks atau tampak kontradiksi dengan bagian teks Al-QurAoan lainnya, berbeda dengan studi Alkitab yang memberi perhatian lebih pada kajian Jika melihat kebelakang, kajian tafsir yang dilakukan para ulama terdahulu, mulai dari periode klasik-pertengahan-modern hingga kontemporer tidak banyak ditemukan kajian yang menyinggung paradoks ayat Al-QurAoan. Para mufassir klasik 32 Vinay Khetia. AuBook Review: The Qur'. an and Its Biblical Subtext by Gabriel Said Reynolds,Ay Januari https://w. edu/24493879/Book_Review_The_Quran_and_Its_Biblical_Subtext_by_Gabriel_S aid_Reynolds. 33 Reynolds. AuParadoks in the QurAn. Ay 34 Reynolds. Nurma MasAoudah seringkali menghindari pembahasan paradoks dengan lebih condong bersikap "bi lA kayfa" atau mengabaikan pertentangan tersebut. Reynolds mengkritisi studi Al-QurAoan yang lebih fokus pada kajian kohesifitas teks tanpa mencoba keluar dari lingkaran Pada artikel ini peneliti fokus mengungkap konsep paradoks pada ayat-ayat yang mengandung asmaul husna, yang menurut Reynolds dari ayat yang sebelumnya tampak kontradiksi memiliki pesan teolgis yang penting ditemukan, diketahui dan dipahami oleh umat Islam. Temuan Reynolds mengenai paradoks Al-QurAoan terbilang sangat baru dan dapat memicu kontroversi. Hal tersebut dikarenakan Reynolds pada akhir artikelnya menyatakan bahwa Al-QurAoan banyak merujuk dari Kitab Suci sebelumnya, yakni Alkitab. Meskipun Reynolds mengklaim bahwa usahanya dalam mengungkap pesan kecenderungannya untuk menjadikan Alkitab sebagai referensi utama dalam memahami Al-Qur'an berpotensi mengabaikan otonomi hermeneutik Islam itu sendiri. Hal ini secara tidak langsung mengimplikasikan superioritas tradisi eksegesis Kristen dalam memahami teks Al-Qur'an, padahal tradisi tafsir Islam telah mengembangkan metodologi yang khas dan mandiri. Namun demikian, kritik utama terhadap pemikiran Reynolds bukan terletak pada pemikirannya yang konstruktif, melainkan pada metodologi yang digunakannya. Pendekatan Reynolds yang terlalu bergantung pada intertekstualitas dengan Alkitab sebagai kunci interpretasi berpotensi mengabaikan kekayaan tradisi hermeneutik Islam yang sebenarnya sudah memiliki konsep-konsep sophisticated untuk memahami kompleksitas makna Al-Qur'an. Asumsinya bahwa tradisi tafsir klasik "menghindari" kompleksitas tampak kurang mempertimbangkan bahwa para mufassir klasik sebenarnya telah mengembangkan berbagai pendekatan hermeneutik yang canggih, termasuk konsep muhkam-mutasyabih, ta'wil, dan berbagai tingkatan makna. Secara tidak langsung Reynolds juga mengklaim bahwa studi Islam selama ini hanya berputar dalam satu poros saja, terlalu menghindari hal-hal yang tampaknya bertentangan tanpa mencoba terlebih dahulu menggali pesannya. Pandangan ini tampak kurang adil mengingat tradisi tafsir Islam sebenarnya sangat kaya dengan diskusi kompleks mengenai ayat-ayat mutasyabih, perbedaan qira'at, dan berbagai pendekatan interpretasi lain yang mengakui adanya kompleksitas makna dalam AlQur'an. Para mufassir klasik bukanlah figur yang monoton dalam mendekati teks. Diskursus Paradoks Ayat Asmaul HusnaA. melainkan memiliki kesadaran metodologis yang tinggi dalam menangani kompleksitas Terlepas dari itu, menurut peneliti konsep paradoks yang dikenalkan Reynolds masih perlu pelajari dan dielaborasi lebih dalam untuk menetralkannya dari embelembel Reynolds yang ambisius dalam mencari keterkaitan Al-QurAoan dengan Alkitab. Menyandingkan kajian yang dilakukan Reynolds dengan kajian-kajian studi Islam sebelumnya memang terasa sangat berbeda. Secara umum, studi Al-Qur'an cenderung menekankan pada munasabah . antar ayat dan menghindari pembahasan paradoks. Reynolds justru menyoroti paradoks sebagai elemen penting yang memperkaya pemahaman teks suci Al-QurAoan, yang sebenarnya sejalan dengan tradisi ta'wil dan pembahasan ayat-ayat mutashabih dalam khazanah Islam. Yang perlu dikritisi adalah klaim Reynolds bahwa mufassir klasik condong menghindari kompleksitas, padahal mereka justru telah mengembangkan metodologi yang sophisticated untuk memahami berbagai tingkatan makna dalam Al-Qur'an. Konsep paradoks yang diperkenalkan Reynold memberikan kontribusi yang signifikan dalam memperkaya pemahaman studi Islam, terutama dalam konteks dialog akademis modern. Pemikirannya kental akan pendekatan interdisipliner dan fokus pada isu-isu kontemporer, menjadikan karyanya relevan dengan akademisi, mahaiswa dan masyarakat umum. Penelitian semacam ini belum banyak ditemukan, maka peluang pembahasan paradoks yang belum dibahas sangat banyak. Namun, agar kontribusinya dapat diterima secara lebih luas dalam komunitas akademik Islam, diperlukan pendekatan yang lebih menghargai dan mengintegrasikan kekayaan tradisi hermeneutik Islam yang sudah ada. SIMPULAN Studi Al-Qur'an, khususnya yang berkaitan dengan Asmaul husna, seringkali terjebak dalam pendekatan tekstual yang menekankan kohesivitas dan menghindari Pendekatan ini, meskipun bertujuan untuk menjaga keharmonisan dan kesatuan makna, justru berpotensi membatasi pemahaman yang lebih mendalam tentang sifat-sifat Tuhan yang transenden. Gabriel Said Reynolds menawarkan perspektif alternatif dengan mengajak kita untuk mengeksplorasi paradoks sebagai pintu masuk untuk memahami kompleksitas dan kedalaman makna Al-Qur'an. Paradoks, dalam konteks ini, bukanlah kontradiksi yang harus dihindari, melainkan cerminan dari keterbatasan bahasa manusia dalam menggambarkan hakikat Tuhan Nurma MasAoudah yang Maha Luas. Reynolds mengkritisi kecenderungan para mufassir klasik yang menghindari paradoks dengan menyerahkan pemahamannya kepada Tuhan . i lA kayf. atau mencari keterkaitan antar ayat . untuk menghilangkan kesan Padahal, paradoks justru merupakan bentuk i'jaz Al-Qur'an yang menunjukkan kedalaman makna dan keindahan retorikanya. Pengkajian paradoks dalam Al-Qur'an, khususnya terkait Asmaul husna, memiliki implikasi penting bagi perkembangan studi Islam kontemporer. Pendekatan ini mendorong para peneliti untuk berpikir kritis dan mengembangkan interpretasi yang lebih berani dan inovatif. Dengan menerima adanya paradoks, kita dapat mengapresiasi keragaman makna yang terkandung dalam teks Al-QurAoan. Lebih lanjut, studi tentang paradoks juga dapat membuka ruang dialog antaragama yang lebih Perbandingan antara pendekatan terhadap paradoks dalam Al-Qur'an dan kitab suci lainnya, seperti Alkitab, dapat menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang konsep ketuhanan dan relasi antara Tuhan dan manusia. Dengan demikian, studi paradoks bukan hanya sebuah pendekatan akademis, tetapi juga memiliki relevansi praktis dalam membangun pemahaman keagamaan yang lebih matang dan inklusif. Konsep paradoks Gabriel Said Reynolds dalam studi Al-Qur'an, meskipun memberikan perspektif baru yang menarik, masih memerlukan elaborasi lebih mendalam karena beberapa alasan mendasar. Pertama, metodologi Reynolds yang terlalu bergantung pada intertekstualitas dengan Alkitab perlu diseimbangkan dengan integrasi yang lebih komprehensif terhadap khazanah hermeneutik Islam klasik seperti konsep muhkam-mutasyabih, ta'wil, dan teori kompleksitas makna yang telah dikembangkan para ulama terdahulu. Kedua, asumsi Reynolds tentang "penghindaran" kompleksitas dalam tradisi tafsir Islam memerlukan verifikasi lebih mendalam melalui kajian historis yang lebih komprehensif terhadap karya-karya mufassir klasik untuk membuktikan apakah mereka benar-benar mengabaikan paradoks atau justru telah mengembangkan pendekatan sophisticated dalam menghadapinya. Ketiga, diperlukan pengembangan kerangka teoritis yang lebih indigenous dalam konteks epistemologi Islam untuk memahami paradoks Al-Qur'an tanpa harus bergantung pada paradigma eksegesis Kristen, sehingga kajian paradoks dapat berkembang sebagai metodologi yang otentik dalam tradisi studi Islam kontemporer. Diskursus Paradoks Ayat Asmaul HusnaA. DAFTAR PUSTAKA