The Indonesian Journal of Health Science Volume 14. No. Juni 2022 Hubungan Persepsi Ibu Dengan Status Kelengkapan Imunisasi Dasar Balita Usia 9 Ae 24 Bulan Di Posyandu Balita Kelurahan Ketawanggede Kota Malang Silvia Widyatanti1*. Sih Ageng Lumadi1. Risna Yekti Mumpuni 1 Program Studi S1 Keperawatan. STIKes Maharani Malang *Penulis Korespondensi: Silvia Widyatanti. Email: silviawdyt@gmail. Diterima: 19 April 2. Disetujui: 16 Juni 2. Dipublikasikan: 30 Juni 2022 Abstrak Latar Belakang dan Tujuan: Kelengkapan imunisasi merupakan target dalam pembangunan kesehatan yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan, dimana ditandai dengan seseorang yang telah mendapatkan imunisasi dan vaksin yang dibuktikan dengan catatan imunisasi pada buku KIA. Salah satu faktor yang dapat berpengaruh terhadap kelengkapan imunisasi yaitu persepsi ibu. Tujuan dari penelitian ini yakni menganalisis hubungan persepsi ibu dengan status kelengkapan imunisasi dasar balita usia 9-24 bulan di Posyandu Balita Kelurahan Ketawanggede Kota Malang. Metode: Memakai cross sectional dengan besar populasi 71 ibu dan besar sampel 42 responden dimana pengambilannya menggunakan cara teknik simple random sampling. Data dan informasi yang diambil menggunakan kuesioner dan data imunisasi pada buku KIA. Hasil: Berdasarkan uji koefisien kontingensi menunjukkan ( A = 0. = 0,05 . 0,580 ), maka dapat diartikan ada hubungan yang sedang antara persepsi ibu dengan status kelengkapan imunisasi dasar balita usia 9-24 bulan. Ibu dengan persepsi yang positif cenderung melengkapi imunisasi dengan lengkap kepada balitanya daripada ibu yang mempunyai persepsi negatif. Simpulan dan Implikasi: Persepsi ibu akan mempengaruhi perilaku memberikan imunisasi sesuai jadwal yang telah ditentukan dan kelengkapan imunisasi dasar kepada Diharapkan kepada ibu untuk mencari informasi terkait pentingnya pemberian imunisasi agar dapat melengkapi status imunisasi dasar kepada anaknya sesuai dengan jadwal imunisasi pada buku KIA Kata Kunci: Imunisasi. Kelengkapan Imunisasi Dasar. Persepsi Ibu. Sitasi: Widyatanti. Lumadi. A & Mumpuni. Hubungan Persepsi Ibu Dengan Status Kelengkapan Imunisasi Dasar Balita Usia 9 Ae 24 Bulan Di Posyandu Balita Kelurahan Ketawanggede Kota Malang. The Indonesian Journal of Health Science. , 64-74. DOI: 10. 32528/ijhs. Copyright: A2022 Widyatanti, et. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original author and source are credited. Diterbitkan Oleh: Universitas Muhammadiyah Jember ISSN (Prin. : 2087-5053 ISSN (Onlin. : 2476-9614 DOI: 10. 32528/ijhs. The Indonesian Journal of Health Science Volume 14. No. Juni 2022 Abstract Background and Aim: Completeness the immunization be a target in health development which aims to increase the degree of health, which is marked by someone who has received immunizations and vaccines as evidenced by immunization records in the MCH book. One of the factors that can affect the perfection of work is the mother's perception. This research aims to analyze of relationship between mother's perception and completeness status of the basic immunization for toddlers aged 9-24 months at the Integrated Health Post Ketawanggede. Malang City. Method: Applied is cross sectional with a population of 71 mothers and a large of the sample is 42 respondents where the sampling method is simple random sampling technique. Data and information taken using questionnaires and immunization data in the MCH handbook. Results: Based on the contingency coefficient test ( = 0. = 0. r = 0. , it can be interpreted that there is a moderate relationship between mother's perception and completeness status frrom basic immunization for toddlers aged 924 months. Mothers with positive perceptions tend to complete complete immunizations for their toddlers than mothers with negative perceptions. Conclusion: Mother's perception will affect the behavior of giving immunizations according to a predetermined schedule and the completeness of basic immunizations for their children. It is hoped that mothers will search an information related to the importance of immunization so that they can complete the basic immunization status for their children according to the immunization schedule in the MCH handbook Keywords: Completeness of Basic Immunizations. Immunizations. Mother's Perception. PENDAHULUAN Kelengkapan imunisasi merupakan target dalam pembangunan kesehatan yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan, dimana ditandai dengan seseorang yang telah mendapatkan imunisasi dan vaksin HB 0 saat lahir 1x. BCG 1x. Pentavalent (DPT-HBHiB) 4x. OPV 5x. MR (Campa. 2x, dan IPV 1x yang dibuktikan dengan catatan imunisasi pada buku KIA (IDAI, 2. Pemberian imunisasi perkembangan bayi maupun balita, oleh karena itu imunisasi merupakan kebutuhan dasar yang harus terpenuhi (Sulistyoningrum, 2. Menurut (Kemenkes RI, 2. menyebutkan DOI: 10. 32528/ijhs. bahwa sebanyak kurang lebih 12% balita usia kurang dari 11 bulan masih belum lengkap dalam pemberian imunisasi, sedangkan di Indonesia target cakupan imunisasi dasar lengkap sebesar 95%. Maka hal ini merupakan tantangan bagi tenaga kesehatan atau sistem pelayanan kesehatan lainnya. WHO menyebutkan dalam setahun lebih dari 1 juta balita kehilangan nyawa akibat menderita penyakit yang bisa dihindari dengan pemberian vaksin atau imunisasi (Kemenkes, 2. Pada tahun 2018 kurang lebih dua puluh juta balita di dunia kurang dalam pemberian imunisasi khususnya vaksin untuk penyakit difteri dan tetanus bahkan ada juga yang mulai usia 0 bulan tidak The Indonesian Journal of Health Science Volume 14. No. Juni 2022 diimunisasi (WHO, 2. Menurut data dari P2P RI, sejak tahun 2014 sampai 2016 ada lebih dari 1 juta balita yang tidak diimunisasi maupun kurang dalam pemberian imunisasi (Kemenkes RI, 2. Menurut hasil Riskesdas tahun 2018 presentasi IDL (Imunisasi Dasar Lengka. di Indonesia yakni 57,8% lengkap, 32,9% tidak lengkap, dan 9,3% tidak imunisasi (Kemenkes. Di daerah Jawa Timur cakupan imunisasi dasar lengkap menurut hasil Riskesdas Jawa Timur yakni 69,16% lengkap, 26,27% tidak lengkap, 4,57% tidak imunisasi (Dinkes, 2. Menurut Profil Kesehatan Kota Malang tahun 2018 cakupan IDL tertinggi ada di wilayah kerja Puskesmas Gribig . ,11%) dan cakupan IDL terendah ada di wilayah kerja Puskesmas Dinoyo (Dinkes. Menurut Dinkes Kota Malang, di tahun 2020 cakupan imunisasi terendah berada di kelurahan Dinoyo 66,4%, di kelurahan Ketawanggede 47,9% dan di kelurahan Sumbersari 63,2%. Pengetahuan orang tua, sikap, kurangnya motivasi dan informasi terkait imunisasi adalah beberapa faktor yang berpengaruh terhadap imunisasi yang tidak lengkap (Triana. Persepsi tentang imunisasi juga berpengaruh terhadap kelengkapan pemberian imunisasi, 75% ibu setuju dengan pemberian imunisasi karena tidak mau melanggar norma dan aturan yang ada sedangkan sisanya masih menunda atau menolak pemberian imunisasi karena mempunyai persepsi yaitu pemberian imunisasi dapat menyebabkan timbulnya penyakit pada bayi sehingga bayi menjadi demam dan rewel (Daman & Hargono, 2. Menjadi seorang ibu memiliki tanggung jawab mengasuh bayi atau anaknya agar bayi atau anaknya tetap dalam kondisi sehat dan terhindar dari DOI: 10. 32528/ijhs. dibutuhkan dalam hal ini jika persepsi ibu positif terhadap imunisasi maka anaknya berpeluang mendapatkan imunisasi secara lengkap dan begitu pula sebaliknya (Indriyani & Asih. UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 berisi tentang bayi dan balita wajib diberikan imunisasi dasar secara lengkap (IDL) (Tri Anisca, 2. Menurut Permenkes RI No. 42 tahun 2013, pemberian IDL merupakan tindakan preventif untuk meningkatkan serta mempertahankan status kesehatan seluruh masyarakat di Indonesia (Simanjuntak & Nurnisa, 2. Dalam Permenkes RI No. 12 tahun 2017, kegiatan imunisasi dapat dilaksanakan secara individu maupun kelompok di rumah sakit, puskesmas, klinik, serta pelayanan kesehatan dan bisa juga di pos pelayanan imunisasi lainnya (Kemenkes RI, 2. Setelah pendahuluan di Posyandu Balita Kelurahan Ketawanggede pada 12 Februari 2020 di dapatkan 5 balita diimunisasi secara lengkap, 3 balita diimunisasi lengkap namun jadwal mundur dikarenakan orang tua bekerja mulai pagi, dan 2 balita tidak diimunisasi karena ibu tidak mau anaknya demam. Dari data diatas terdapat 8 ibu memiliki persepsi positif dan 2 ibu memiliki persepsi negatif tentang imunisasi dasar. Menurut latar belakang yang tertera, peneliti ingin meneliti tentang hubungan persepsi ibu dengan status kelengkapan imunisasi dasar balita usia 9-24 bulan di Kelurahan Ketawanggede Kota Malang. METODE PENELITIAN Penelitian menggunakan metode pendekatan The Indonesian Journal of Health Science Volume 14. No. Juni 2022 cross sectional, yang mana peneliti menganalisis hubungan persepsi ibu dengan status kelengkapan imunisasi dasar balita usia 9-24 bulan. Populasi yang dapat diambil yakni semua ibu yang memiliki balita dengan usia 9 sampai 24 bulan di Kelurahan Ketawanggede Tahun 2020 yakni sejumlah 71 ibu. Jumlah sampel yang diambil yakni 42 responden yang memiliki balita berusia 9 sampai 24 Untuk sampel yang diambil adalah jenis probability sampling dan teknik simple random sampling. Cara memilih 42 sampel secara acak dari 71 populasi yang mempunyai kesempatan sama besar dalam menjadi sampel Instrumen pengambilan data yang digunakan yakni lembar kuesioner dan data imunisasi pada buku KIA. Pengambilan disetujui oleh Dinas Kesehatan Kota Malang dan Puskesmas Dinoyo dengan adanya surat izin penelitian serta surat kelayakan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan STIKes Maharani No. 023/KEPK. SM-EC/IX/2020 HASIL Jumlah sampel 42 responden yang didapat berdasarkan kriteria inklusi yaitu ibu yang bersedia menjadi responden, ibu yang mempunyai balita berusia 9-24 bulan, dan ibu yang mengimunisasikan anaknya baik di Posyandu Balita Kelurahan Ketawanggede maupun di pelayanan kesehatan lainnya. Adapun kriteria eksklusi yaitu ibu yang menolak menjadi responden. Pada gambaran umum responden yakni pada Tabel 1 diketahui bahwa di Posyandu Balita Kelurahan Ketawanggede Kota Malang hampir separuh 20 . ,6%) responden berumur antara 16 Ae 25 DOI: 10. 32528/ijhs. tahun atau usia remaja akhir maupun dewasa awal, hampir separuh 20 . ,6%) responden berpendidikan SMA, hampir seluruhnya 32 . ,2%) responden berkerja sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT), dan hampir separuh 15 . ,7%) anak responden berumur 9 Ae 13 bulan Persepsi pendapat, penilaian, atau pandangan ibu terkait imunisasi dasar yang diberikan pada balitanya. Berdasarkan Tabel 2 diketahui sebagian besar 25 . ,5%) responden memiliki persepsi negatif tentang imunisasi dasar di Posyandu Balita Kelurahan Ketawanggede Kota Malang dan hampir separuh 17 . ,5%) responden mempunyai persepsi positif terkait imunisasi dasar. Status kelengkapan imunisasi dasar adalah tindakan pemberian imunisasi dasar pada balita meliputi HB 0 saat lahir 1x. BCG 1x. Pentavalent (DPT-HB-HiB) 4x. OPV 5x. MR (Campa. 2x, dan IPV 1x yang dibuktikan dengan catatan imunisasi pada buku KIA. Berdasarkan Tabel 3 diketahui sebagian besar 23 . ,8%) anak responden mempunyai status kelengkapan imunisasi dasar yang tidak lengkap dan hampir separuh 19 . ,2%) anak responden mempunyai status kelengkapan imunisasi dasar Menurut Tabel 4 hasil tabulasi silang didapatkan dari 25 . ,5%) responden yang memiliki persepsi negatif menyebabkan sebanyak 21 . ,0%) anaknya yang berusia 9-24 bulan memiliki status imunisasi dasar tidak lengkap. Penelitian ini mengunakan uji Koefisien Kontingensi menentukan hubungan persepsi ibu dengan status kelengkapan imunisasi dasar balita usia 9-24 bulan di The Indonesian Journal of Health Science Volume 14. No. Juni 2022 Posyandu Balita Kelurahan Ketawanggede Kota Malang, tingkat signifikasi () yang kurang dari 0,05 dapat dijadikan sebagai pengambilan keputusan data. Menurut Tabel 5 hasil yang didapat dari analisis uji Koefisien Kontingensi yakni nilai p = . < . jadi H1 diterima, dengan artian ada hubungan antara persepsi ibu dengan status kelengkapan imunisasi dasar balita usia 9-24 bulan di Posyandu Balita Kelurahan Ketawanggede Kota Malang, 0,580 membuktikan ada hubungan yang sedang antara persepsi ibu dengan status kelengkapan imunisasi dasar balita usia 9-24 bulan, dimana persepsi ibu negatif menyebabkan balita usia 924 bulan tidak mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Gambaran Umum Karakteristik Frekuensi Presentase (%) Usia Ibu 16Ae25 tahun 26Ae35 tahun > 36 tahun Pendidikan Ibu SMP SMA Perguruan Tinggi (S. Pekerjaan Ibu Ibu Rumah Tangga (IRT) Wiraswasta Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pegawai Swasta Usia Balita 9Ae13 bulan 14Ae18 bulan 19Ae23 bulan 24 bulan Total Tabel 2. Distribusi Frekuensi Persepsi Ibu Tentang Imunisasi Dasar Persepsi Ibu Negatif Positif Total Frekuensi Persentase (%) Tabel 3. Distribusi Frekuensi Status Kelengkapan Imunisasi Dasar Balita Usia 9-24 Bulan Status Kelengkapan Imunisasi Dasar Lengkap Tidak lengkap Total DOI: 10. 32528/ijhs. Frekuensi Persentase (%) The Indonesian Journal of Health Science Volume 14. No. Juni 2022 Tabel 4. Tabulasi Silang Hubungan Persepsi Ibu Dengan Status Kelengkapan Imunisasi Dasar Balita Usia 9-24 Bulan Persepsi ibu (X) Negatif Positif Total Status kelengkapan imunisasi dasar (Y) Lengkap Tidak lengkap Total Tabel 5. Hubungan Antar Variabel Persepsi Ibu Dengan Status Kelengkapan Imunisasi Dasar Balita Usia 9-24 Bulan Hubungan antar variabel Persepsi ibu (X) dengan status kelengkapan imunisasi dasar bayi usia 9-24 bulan (Y) PEMBAHASAN Persepsi Ibu Tentang Imunisasi Dasar Hasil menjelaskan bahwa sebagian besar 25 ,5%) persepsi yang negatif terkait imunisasi dasar di Posyandu Balita Kelurahan Ketawanggede Kota Malang dan hampir separuh 17 . ,5%) responden mempunyai persepsi yang positif mengenai imunisasi dasar. Persepsi negatif pada imunisasi dasar seperti vaksin yang disuntikkan dirasa dapat mengakibatkan penyakit lainnya, ada vaksin yang tidak halal dan sesudah imunisasi bisa menyebabkan anak demam atau sakit sehingga tidak mau melanjutkan imunisasi selanjutnya. Persepsi ibu tentang imunisasi dasar merupakan pendapat, penilaian, atau pandangan ibu tentang pemberian imunisasi dasar pada anaknya (Kulsum & Jauhar, 2. Penelitian Ranuh . menjelaskan bahwa persepsi negatif tentang imunisasi dasar memberikan keraguan pada ibu agar patuh dalam pemberian IDL pada DOI: 10. 32528/ijhs. 0,000 0,580 Faktor yang mempengaruhi persepsi negatif tentang imunisasi dasar yaitu usia ibu dan pendidikan. Faktor usia didapatkan sebagian besar responden berusia remaja akhir atau dewasa awal sehingga belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang imunisasi karena tidak ada pengalaman imunisasi, semakin usianya bertambah kemampuan dalam memahami maupun cara berfikirnya, serta wawasan yang didapatnya juga semakin luas. Faktor pendidikan yang didapat hampir separuh responden berpendidikan SMA sehingga tidak sepenuhnya mengetahui manfaat, jenis, jadwal dan dampak imunisasi. Tingkat pendidikan bisa menentukan wawasan dan pengetahuan tentang imunisasi dasar, jika tingkat pendidikan seseorang pengetahuan serta informasi yang didapat juga semakin luas. Hasil penelitian didapatkan hampir separuh 17 . ,5%) responden memiliki persepsi baik tentang imunisasi dasar seperti mengetahui jadwal jadwal, jenis, dan dampak dari The Indonesian Journal of Health Science Volume 14. No. Juni 2022 imunisasi yang diberikan pada anaknya sehingga mendukung kelengkapan pemberian imunisasi. Ibu yang memiliki persepsi positif terkait imunisasi juga bisa mempengaruhi imunisasi sesuai jadwal yang telah kekebalan tubuh dari Menurut opini peneliti persepsi ibu terkait imunisasi dasar itu penting, terutama ibu yang baru memiliki atau melahirkan anak pertama. Responden yang mempunyai persepsi negatif terhadap imunisasi dasar karena tidak mengetahui sepenuhnya jenis-jenis imunisasi, dampak imunisasi, dan jadwal imunisasi. Persepsi negatif menyebabkan ibu masih ragu-ragu untuk memberikan IDL pada anaknya. Status Kelengkapan Imunisasi Dasar Balita Usia 9 - 24 Bulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar 23 . ,8%) responden memiliki status kelengkapan imunisasi dasar tidak lengkap pada balita usia 9 - 24 bulan di Posyandu Balita Kelurahan Ketawanggede Kota Malang dan hampir separuh 19 . ,2%) responden memiliki status kelengkapan imunisasi dasar lengkap. Balita usia 9-24 bulan yang memiliki status kelengkapan imunisasi dasar tidak lengkap seperti tidak mengikuti dijadwalkan seperti HB 0 saat lahir 1x. BCG 1x. Pentavalent (DPT-HB-HiB) 4x. OPV 5x. MR (Campa. 2x, dan IPV 1x. Imunisasi dasar merupakan suatu tindakan pemberian produksi zat kedalam tubuh bayi atau balita dengan cara menyuntikkan vaksin yang tujuannya yakni mengindari penyakit tertentu di masa mendatang (Yuni & Oktami, 2. Manfaat imunisasi DOI: 10. 32528/ijhs. dasar yaitu merangsang sistem kekebalan didalam tubuh yang belum optimal pada balita sehingga bisa membentuk kekebalan tubuh yang melindungi tubuh dari suatu penyakit penyakit berbahaya (Ranuh, 2. Masalah yang paling sering timbul di masyarakat antara lain jadwal imunisasi yang terlambat, tidak lengkap atau belum imunisasi. Dampak dari imunisasi yang diberikan secara tidak lengkap yakni respon imun yang telah terbentuk masih belum optimal untuk perlindungan dalam waktu yang panjang, akibatnya balita masih kurang mendapatkan kekebalan tubuh yang optimal (IDAI, 2. Faktor yang mempengaruhi balita usia 9-24 bulan memiliki status kelengkapan imunisasi dasar tidak lengkap yaitu umur ibu, pendidikan ibu dan umur balita. Faktor umur ibu didapatkan hampir separuh 20 . ,6%) responden berumur antara 16 Ae 25 tahun, sehingga belum berpengalaman dalam mengurusi anak terutama mengikuti kegiatan posyandu. Faktor pendidikan ibu didapatkan hampir separuh 20 . ,6%) responden berpendidikan SMA, sehingga belum memiliki pengetahuan yang luas tentang informasi dan manfaat imunisasi dasar yang perlu diberikan kepada anaknya. Hal ini sesuai Harmasdiyani . menjelaskan jika pendidikan seseorang semakin tinggi maka informasi akan mudah diterima maupun diterapkan dalam kehidupannya. Faktor umur anak didapatkan hampir separuh 15 . ,7%) anak responden berumur 9 Ae 13 bulan, sehingga masih ada pemberian IDL kepada balitanya. Faktor lain penyebab balita usia 9-24 The Indonesian Journal of Health Science Volume 14. No. Juni 2022 bulan memiliki status kelengkapan imunisasi dasar tidak lengkap karena adanya pendemi Covid 19 sehingga pelayanan posyandu tidak beroperasi yang menyebabkan ibu tidak memiliki usaha untuk memberi imunisasi kepada anaknya ke layanan kesehatan terdekat seperti rumah sakit dan puskesmas. Menurut opini peneliti status kelengkapan imunisasi dasar lengkap sangat penting didapatkan oleh anak khususnya bayi dan balita, sehingga kesehatan anak dimasa mendatang agar kebal dari penyakit yang berbahaya. Pentingnya imunisasi dasar lengkap didasarkan oleh presepsi positif dan pemikiran ibu yang cukup tentang pencegahan penyakit dan upaya dalam memelihara kesehatan balitanya serta pencegahan penyakit Hubungan Persepsi Ibu Dengan Status Kelengkapan Imunisasi Dasar Balita Usia 9-24 Bulan Hasil Koefisien Kontingensi dengan nilai p = . < . jadi H1 diterima, dengan artian ada hubungan antara persepsi ibu dengan status kelengkapan imunisasi dasar balita usia 9-24 bulan di Posyandu Balita Kelurahan Ketawanggede Kota Malang, 0,580 membuktikan ada hubungan yang sedang antara persepsi ibu dengan status kelengkapan imunisasi dasar balita usia 9-24 bulan, dimana persepsi ibu yang negatif menyebabkan balita usia 9-24 bulan tidak memiliki imunisasi dasar secara lengkap. Sesuai dengan hasil tabulasi silang didapatkan dari 25 . ,5%) responden yang menyebabkan sebanyak 21 . ,0%) anaknya yang berusia 9 - 24 bulan memiliki status imunisasi dasar yang tidak lengkap. DOI: 10. 32528/ijhs. Persepsi ibu negatif bisa menyebabkan status kelengkapan imunisasi dasar tidak lengkap pada balita usia 9 - 24 bulan seperti beranggapan imunisasi tidak wajib diberikan kepada anaknya sehingga tidak mengetahui jadwal imunisasi dan kecemasan terkait efek samping yang ditimbulkan seperti menyebabkan anak sakit, oleh karena itu ibu tidak mau memberikan imunisasi secara lengkap pada balitanya. Menurut Makamban & Salmah . menjelaskan bahwa imunisasi pada balita didasari oleh persepsi dimana persepsi yang tinggi akan mendukung sikap, dan perilaku seseorang untuk bertindak positif. Penelitian menjelaskan bahwa persepsi pemahaman, sikap dan perilaku. Persepsi meningkatkan perilaku ibu dalam pemberian IDL pada balitanya. Menurut opini peneliti persepsi positif berdampak terhadap tingginya motivasi ibu dalam memberikan imunisasi secara lengkap kepada Persepsi berperan penting dalam meningkatkan kemampuan berfikir yang rasional menyangkut menerapkannya dalam kehidupan kelengkapan imunisasi lengkap kepada Ibu yang mempunyai persepsi positif terkait imunisasi dasar dapat imunisasi sesuai jadwal yang telah ditentukan dan lengkap kepada SIMPULAN Penelitian tentang hubungan persepsi ibu dengan status kelengkapan imunisasi dasar balita usia 9-24 bulan Posyandu Balita Kelurahan Ketawanggede Kota Malang. The Indonesian Journal of Health Science Volume 14. No. Juni 2022 didapatkan kesimpulan yakni sebagian . ,5%) mempunyai persepsi negatif tentang imunisasi dasar, sebagian besar 23 . ,8%) balita usia 9-24 bulan imunisasi dasar yang tidak lengkap dan ada hubungan antara persepsi ibu dengan status kelengkapan imunisasi dasar balita usia 9-24 bulan di Posyandu Balita Kelurahan Ketawanggede Kota Malang, yang ditunjukkan dari nilai p = . < . Bagi perawat, tenaga kesehatan dan kader posyandu balita diharapkan kesehatan atau edukasi secara mandiri kepada ibu yang mempunyai balita kelengkapan imunisasi dasar bagi DAFTAR PUSTAKA