Vol. 1 No. 1 (AGUSTUS - 2. MOTIVASI KEPALA DESA DALAM PROGRAM JALAN USAHA TANI DI DESA MASEWO KECAMATAN PIPIKORO KABUPATEN SIGI Guril1* Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia RIWAYAT ARTIKEL Diterima: 28-07-2025 Disetujui: 27-08-2025 Dipublikasi: 28-08-2025 Kata Kunci: Kepala Desa. Motivasi. Partisipasi Masyarakat. Pembangunan Desa ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Kepala Desa Masewo. Kecamatan Pipikoro. Kabupaten Sigi, dalam memberikan motivasi terhadap masyarakat dalam rangka mendukung pembangunan desa. Fokus penelitian terletak pada menumbuhkan semangat partisipasi, serta mengarahkan masyarakat agar terlibat aktif dalam proses pembangunan, khususnya pada pelaksanaan program jalan usaha tani. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data diperoleh dari sumber primer, yakni Kepala Desa dan masyarakat Desa Masewo, serta data sekunder berupa dokumen pendukung. Proses analisis dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kepala Desa Masewo memainkan peran sentral sebagai motivator pembangunan melalui pendekatan komunikatif dan Kepala desa memberikan pemahaman bahwa desa merupakan milik bersama yang harus dibangun secara kolektif. Ia juga aktif dalam membina hubungan sosial dan menjadi teladan dalam kegiatan pembangunan fisik maupun sosial. Pendekatan ini berhasil mendorong keterlibatan masyarakat dalam berbagai program pembangunan desa yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan warga. Dengan demikian, kepemimpinan yang bersifat memotivasi dan inklusif terbukti mampu meningkatkan efektivitas pembangunan di tingkat desa. Studi ini merekomendasikan agar model kepemimpinan serupa dapat dijadikan rujukan dalam tata kelola desa berbasis partisipasi masyarakat. PENDAHULUAN Pembangunan desa merupakan bagian integral dari agenda pembangunan nasional yang bertujuan untuk menciptakan pemerataan kesejahteraan masyarakat hingga ke pelosok (Abustan. Salah satu bentuk konkret dari upaya ini adalah pembangunan infrastruktur jalan usaha tani (JUT), yang menjadi program strategis pemerintah dalam meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas masyarakat desa, khususnya para petani (Naekteas et al. , 2. JUT tidak hanya mempermudah distribusi hasil pertanian, tetapi juga mempercepat arus barang dan jasa serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui konektivitas antarwilayah yang lebih baik. JUT berfungsi sebagai prasarana transportasi yang menunjang aktivitas pertanian, mulai dari pengangkutan alat dan sarana produksi ke lahan hingga distribusi hasil pertanian ke tempat penyimpanan, pengolahan, maupun pasar (Hajia et al. , 2. Dengan demikian, keberadaan JUT tidak hanya mempermudah proses produksi, tetapi juga berdampak langsung pada peningkatan PATRIOT e-ISSN: 3109 - 7227 *Korespondensi Guril Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia e-mail: gurilbodja@gmail. Vol. 1 No. 1 (AGUSTUS - 2. pendapatan dan kesejahteraan masyarakat desa. Selain itu, infrastruktur ini turut mendukung efisiensi waktu dan biaya dalam proses pertanian, memperluas jangkauan pasar, serta mendorong pertumbuhan ekonomi desa secara lebih berkelanjutan dan merata. Desa Masewo. Kecamatan Pipikoro. Kabupaten Sigi, merupakan salah satu desa di Provinsi Sulawesi Tengah yang telah mengimplementasikan program Jalan Usaha Tani (JUT) sebagai bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan infrastruktur Program ini diharapkan mampu membuka aksesibilitas antarwilayah dan mempercepat distribusi hasil pertanian dari lahan ke pasar. Namun dalam praktiknya, pelaksanaan program tersebut menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Beberapa di antaranya adalah keterbatasan anggaran pembangunan yang tidak sebanding dengan kebutuhan di lapangan, tingginya harga bahan bangunan yang harus didatangkan dari luar desa, serta sulitnya akses transportasi akibat kondisi jalan yang sempit, terjal, dan sering kali tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Kondisi geografis Desa Masewo yang terletak di daerah pegunungan dan relatif terpencil memperumit proses distribusi material dan mobilisasi tenaga kerja, sehingga memperlambat progres pembangunan. Selain itu, tantangan sosial seperti minimnya tenaga terampil, rendahnya partisipasi awal masyarakat, dan kurangnya pemahaman terhadap manfaat jangka panjang program JUT juga menjadi hambatan tersendiri. Dalam situasi seperti ini, keberadaan kepemimpinan yang adaptif dan partisipatif menjadi sangat krusial. Kepala desa dituntut tidak hanya mampu mengelola sumber daya secara efisien, tetapi juga membangun komunikasi yang efektif, membangkitkan semangat gotong royong, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama di tengah masyarakat. Kepemimpinan yang berhasil dalam konteks ini adalah kepemimpinan yang mampu menjembatani antara visi pembangunan dengan realitas sosial dan geografis yang dihadapi. Seorang kepala desa yang adaptif akan berupaya mencari solusi kreatif atas keterbatasan yang ada, termasuk menjalin kemitraan dengan berbagai pihak seperti LSM, sektor swasta, dan pemerintah kabupaten. Sementara itu, kepala desa yang partisipatif akan melibatkan masyarakat secara aktif dalam setiap tahapan pembangunanAimulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasiAisehingga masyarakat merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap keberhasilan Dengan demikian, pembangunan JUT di Desa Masewo bukan hanya soal fisik infrastruktur, tetapi juga mencerminkan proses sosial yang menuntut sinergi antara kepemimpinan lokal, daya juang masyarakat, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada bagaimana kepala desa mampu mendorong partisipasi aktif warga, memberdayakan potensi lokal, serta menciptakan suasana yang kondusif bagi pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Motivasi merupakan elemen penting dalam proses pembangunan, khususnya dalam konteks partisipasi masyarakat (Kaehe et al. , 2. Secara teoritis, motivasi adalah dorongan internal yang mengarahkan individu untuk bertindak guna mencapai tujuan tertentu. Dalam organisasi, termasuk organisasi pemerintahan desa, motivasi menjadi penggerak utama dalam pencapaian visi dan misi. Seorang kepala desa tidak hanya berperan sebagai administrator atau pelaksana kebijakan, tetapi juga sebagai pemimpin yang bertugas membangun semangat kolektif masyarakat untuk terlibat aktif dalam pembangunan. Perannya dalam memberikan motivasi, mengarahkan sumber daya, dan menjadi teladan di tengah masyarakat sangat menentukan keberhasilan program-program pembangunan desa (Rusyan, 2. Dalam konteks pembangunan berbasis masyarakat, kepemimpinan yang memotivasi mampu menciptakan rasa memiliki, meningkatkan kepercayaan publik, serta memperkuat solidaritas sosial dalam menjalankan program-program yang membutuhkan kerja sama lintas kelompok dan generasi. Menurut Herzberg . , motivasi kerja yang efektif berasal dari faktor intrinsik seperti pencapaian, pengakuan, tanggung jawab, dan kesempatan untuk berkembang. Jika dikaitkan PATRIOT e-ISSN: 3109 - 7227 *Korespondensi Guril Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia e-mail: gurilbodja@gmail. Vol. 1 No. 1 (AGUSTUS - 2. dengan kepemimpinan di desa, maka kepala desa yang memiliki motivasi tinggi akan berusaha menciptakan kondisi yang mendorong kemajuan, baik melalui pendekatan personal, partisipatif, maupun edukatif kepada masyarakat. Dengan kepemimpinan yang inklusif dan komunikatif, kepala desa dapat menjembatani antara keterbatasan sumber daya dengan potensi partisipasi Hal ini memungkinkan terbentuknya iklim kolaboratif yang memperkuat kohesi sosial, mempercepat pencapaian tujuan bersama, serta menciptakan fondasi pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan di tingkat lokal. Sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005, kepala desa dipilih langsung oleh masyarakat desa dan memiliki masa jabatan selama enam tahun, dengan peluang untuk dipilih kembali satu kali masa jabatan berikutnya. Dalam menjalankan tugasnya, kepala desa bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan Dengan demikian, kepala desa menjadi ujung tombak dalam mendorong pembangunan partisipatif berbasis kearifan lokal. Perannya sangat strategis karena berada pada posisi terdepan yang langsung berinteraksi dengan masyarakat, memahami kebutuhan riil warga, dan memiliki otoritas untuk mengelola potensi serta sumber daya desa secara efektif demi mencapai tujuan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam bagaimana peran dan motivasi Kepala Desa Masewo dalam membangun kepercayaan serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pelaksanaan program jalan usaha tani (JUT). Fokus utama penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi strategi kepemimpinan yang digunakan dalam menghadapi berbagai tantangan, baik dari segi keterbatasan sumber daya, kondisi geografis yang sulit, maupun dinamika sosial kemasyarakatan yang kompleks. Penelitian ini penting dilakukan untuk memahami model kepemimpinan desa yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga transformatif dan inspiratif dalam konteks pembangunan berbasis masyarakat. Selain itu, kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan literatur kepemimpinan lokal, khususnya dalam konteks pembangunan pedesaan di wilayah terpencil dan kurang terjangkau. Temuan dari penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi praktis bagi para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, lembaga pemberdayaan masyarakat, dan akademisi dalam merancang pendekatan kebijakan pembangunan yang lebih partisipatif, adaptif, dan sesuai dengan karakteristik lokal. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga memiliki implikasi praktis yang luas dalam upaya memperkuat tata kelola desa dan mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di tingkat akar rumput. METODE Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Masewo. Kecamatan Pipikoro. Kabupaten Sigi. Kegiatan penelitian berlangsung selama satu bulan, terhitung sejak tanggal dimulainya observasi lapangan hingga proses pengumpulan dan analisis data selesai dilakukan. Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Pendekatan ini dipilih untuk mengkaji secara mendalam dan menyeluruh fenomena yang terjadi di lingkungan nyata, yakni pelaksanaan program jalan usaha tani di Desa Masewo. Studi kasus memungkinkan peneliti memahami dinamika program secara kontekstual, berdasarkan pengalaman langsung dari para pelaku dan pihak terkait di lapangan. Teknik Pengumpulan Data Data diperoleh melalui penelitian lapangan . ield researc. , yang dilakukan dengan cara turun langsung ke lokasi penelitian. Teknik pengumpulan data meliputi: PATRIOT e-ISSN: 3109 - 7227 *Korespondensi Guril Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia e-mail: gurilbodja@gmail. Vol. 1 No. 1 (AGUSTUS - 2. Observasi, yakni pengamatan langsung terhadap kondisi fisik, interaksi sosial, dan aktivitas masyarakat terkait program jalan usaha tani. Wawancara, dilakukan secara mendalam kepada pihak-pihak yang relevan, seperti perangkat desa, petani, dan tokoh masyarakat. Dokumentasi, berupa pengumpulan data sekunder seperti laporan, foto kegiatan, dan dokumen administratif lainnya yang berkaitan dengan program yang diteliti. Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: Data Primer, yaitu informasi yang diperoleh langsung dari hasil wawancara dengan informan kunci dan observasi di lapangan. Data Sekunder, yakni data yang diperoleh dari dokumen resmi, arsip, maupun sumber tertulis lainnya yang mendukung analisis. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan melalui tahapan sebagai berikut: Reduksi Data, yakni proses seleksi dan penyederhanaan data mentah sesuai dengan fokus Penyajian Data, dengan menyusun data dalam bentuk narasi deskriptif agar lebih mudah Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi, yaitu tahap akhir untuk merumuskan temuan penelitian berdasarkan pola dan keterkaitan antar data yang telah dianalisis, serta melakukan verifikasi untuk memastikan validitas temuan. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Kepala Desa dalam Memberikan Motivasi Pembangunan Desa Kepemimpinan Kepala Desa Masewo. Kecamatan Pipikoro. Kabupaten Sigi. Provinsi Sulawesi Tengah, memiliki kontribusi signifikan dalam mendorong pembangunan berbasis partisipasi masyarakat. Kepala desa tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga berperan sebagai tokoh yang memberikan motivasi, membangun kepercayaan, dan menjadi teladan bagi masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara. Kepala Desa Masewo. Semuel Bodja, menyampaikan bahwa pembangunan desa harus dilandasi oleh semangat kebersamaan dan pemahaman bahwa desa merupakan milik bersama. Ia menyatakan: AuDi dalam memberikan pemahaman terkait dengan desa kepada masyarakat, saya selalu mengatakan bahwa desa itu milik semua masyarakat yang ada di desa. Untuk pembangunan desa, saya juga memberikan pemahaman terlebih dahulu kepada masyarakat tentang manfaat dari pembangunan yang akan dilaksanakan. Pembangunan itu harus bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat Desa Masewo. Ay Pendekatan kepala desa dalam memotivasi masyarakat dilakukan secara persuasif dan Ia secara aktif menyosialisasikan rencana pembangunan kepada warga sebelum kegiatan Salah satu contoh konkret dari pendekatan ini adalah pembangunan Jalan Usaha Tani yang bertujuan mempermudah akses ke lahan pertanian dan memperlancar pengangkutan hasil Selain itu, program lain yang turut direalisasikan adalah pengadaan bibit ternak sapi, yang diberikan kepada setiap kepala keluarga untuk dikembangkan sebagai sumber penghasilan Keseluruhan program pembangunan yang dijalankan menitikberatkan pada peningkatan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat. Dalam proses perencanaan, kepala desa juga melibatkan berbagai unsur masyarakat, seperti perangkat desa, tokoh agama, dan tokoh adat, melalui forum-forum diskusi dan musyawarah. Hal ini menunjukkan komitmen terhadap transparansi dan prinsip partisipasi aktif dalam tata kelola pemerintahan desa. PATRIOT e-ISSN: 3109 - 7227 *Korespondensi Guril Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia e-mail: gurilbodja@gmail. Vol. 1 No. 1 (AGUSTUS - 2. Respon Masyarakat terhadap Kepemimpinan Kepala Desa Hasil wawancara dengan beberapa warga menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala desa selama ini diterima dengan baik oleh masyarakat. Kepala desa dianggap berhasil membangun kedekatan emosional dengan warga serta menciptakan ruang partisipasi yang terbuka dalam setiap tahapan pembangunan. Okman Cheba, anggota BPD Desa Masewo, menyampaikan: AuMotivasi Kepala Desa kepada masyarakat dalam pembangunan sudah sangat baik. Terlihat dari pembangunan yang ada di Desa Masewo sejak ia menjabat sudah mulai merata. Walaupun belum seluruhnya sempurna, tetapi setiap pembangunan fisik yang prioritas sudah dikerjakan. Tanpa arahan dan motivasi kepala desa, penataan dan pemeliharaan terhadap pembangunan tidak akan berjangka panjang. Ay Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Abner, yang menekankan bahwa kepala desa selalu terbuka terhadap masukan masyarakat dan menghadirkan gagasan-gagasan baru dalam perencanaan pembangunan. Kepala desa tidak bersikap sepihak dalam mengambil keputusan, melainkan tetap mempertimbangkan aspirasi warga. Menurut Nansen, sikap kepala desa yang tidak hanya memerintah tetapi juga terlibat langsung dalam kegiatan gotong royong, menjadi bukti nyata kepemimpinan yang membumi. Ia menyampaikan: AuKepala desa selalu memberikan pemahaman dan motivasi kepada warga bahwa pembangunan itu bermanfaat. Saat gotong royong, beliau turun langsung, memberi contoh, dan menjelaskan pentingnya pembangunan bagi masyarakat. Ay Hal ini diamini pula oleh Delsi, yang menyatakan bahwa kepala desa dihormati karena pengalaman, ilmu, dan sikap kepemimpinannya yang menjunjung partisipasi. Kepala desa dianggap berhasil menjadi motivator karena mampu menyampaikan gagasan secara jelas, membangkitkan semangat masyarakat, dan mendorong keterlibatan aktif warga dalam setiap Yulius juga menambahkan bahwa: AuMotivasi yang selalu disampaikan kepala desa kepada masyarakat dalam pembangunan adalah bahwa masyarakat harus tahu manfaat dari pembangunan yang akan dilaksanakan dan menyadari bahwa desa ini adalah milik kita semua. Karena itu, masyarakat selalu merespons positif setiap ajakan pembangunan. Ay Realisasi Program Pembangunan Respons positif masyarakat terhadap kepemimpinan kepala desa turut mendorong realisasi sejumlah program prioritas di Desa Masewo. Di antara program yang telah terealisasi adalah: Pembuatan drainase saluran air untuk persawahan sepanjang 5 km pada tahun 2022. Pembangunan rumah layak huni sebanyak 20-unit bagi warga kurang mampu, terealisasi pada Pembangunan Jalan Usaha Tani sepanjang 8 km pada tahun 2024, yang memudahkan masyarakat mengakses lahan pertanian dan memperlancar pengangkutan hasil panen. Program-program ini dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Keterlibatan warga memperkuat rasa memiliki terhadap hasil pembangunan, sekaligus mendorong keberlanjutan pemanfaatan dan pemeliharaan infrastruktur desa. Analisis dan Implikasi Berdasarkan data lapangan, dapat disimpulkan bahwa Kepala Desa Masewo menjalankan peran sebagai motivator pembangunan melalui tiga pendekatan utama, yaitu: Energize . : Kepala desa memberi contoh langsung kepada masyarakat, seperti terjun dalam gotong royong dan menyampaikan pemahaman pembangunan secara Encourage . : Kepala desa mendukung penuh upaya pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan desa. Exhort . endesak/inspirati. : Kepala desa menciptakan inspirasi dan semangat kolektif melalui komunikasi yang efektif dan inklusif. PATRIOT e-ISSN: 3109 - 7227 *Korespondensi Guril Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia e-mail: gurilbodja@gmail. Vol. 1 No. 1 (AGUSTUS - 2. Keteladanan, keterlibatan langsung, dan kemampuan komunikasi kepala desa menjadi faktor utama dalam mendorong keberhasilan pembangunan desa. Temuan ini menguatkan teori kepemimpinan partisipatif dan pembangunan berbasis masyarakat, yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan dengan pemerintah desa sebagai fasilitator dan KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa Kepala Desa Masewo berperan strategis sebagai motivator pembangunan desa melalui pendekatan yang partisipatif, edukatif, dan inspiratif. Kepala desa tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga membangun komunikasi yang efektif dengan masyarakat, menyampaikan manfaat dari setiap program pembangunan, serta memberikan keteladanan dalam tindakan nyata seperti keterlibatan langsung dalam kegiatan gotong royong. Peran motivator yang dijalankan mencakup pemberdayaan masyarakat . , dorongan terhadap partisipasi aktif warga . , dan ajakan kolektif untuk memiliki rasa tanggung jawab atas pembangunan desa . Respons masyarakat yang positif menunjukkan adanya kepercayaan terhadap kepemimpinan kepala desa, serta tumbuhnya kesadaran bersama bahwa desa adalah milik bersama yang harus dibangun secara kolaboratif. Realisasi berbagai program pembangunan seperti jalan usaha tani, saluran irigasi, dan rumah layak huni menjadi bukti konkret efektivitas kepemimpinan berbasis motivasi ini. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pembangunan di Desa Masewo tidak lepas dari kapasitas kepemimpinan kepala desa dalam membangkitkan semangat, menggerakkan partisipasi, dan menumbuhkan rasa memiliki di kalangan masyarakat. REFERENSI